Kingdom of Love

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

SasukexSakura, SaixIno and the others pairings

.

Warn : please read the summary first, then if you don't like, don't ever try to read.

.

Chapter 2 : Storm

.

.

.

"Ibu!"

"Sakura …"

Sakura melompat ke dalam pelukan ibunya, menerima kehangatan sang Ibu dengan senyum manjanya.

"Salam, Permaisuri." Sasuke menunduk hormat, ah, sepertinya ia mulai terbiasa menjadi seorang pengawal.

"Kau … pengawal yang tadi malam." Haruno Mebuki menatap lembut Sasuke. "Terimakasih telah menyelamatkan Tuan Putri. Kami berhutang banyak padamu." Mebuki menundukkan kepalanya pada Sasuke.

"Heeehhh … tidak usah berterimakasih, Ibu. Dia sekarang pengawalku!" ujar Sakura yang langsung saja ditatap sweatdrop oleh Sasuke. Sungguh, putri yang tidak tahu terimakasih. Dia pikir dia bisa bergerak dengan bebas sekarang kalau Sasuke tidak ada di sana? "Tapi Ibu, dia pengawal yang kurang sopan. Dia belum cukup dewasa untuk menjadi pengawalku."

'Kau yang kekanak-kanakan, Putri Bodoh!' Sasuke menjerit dalam hati, kesal dengan Putri yang mempunyai warna rambut aneh itu. Lagipula, dia juga senang 'kan saat tahu Sasuke jadi pengawalnya! Dia bahkan ingin Sasuke menjadi pengawalnya selama-lamanya!

"Hihihi … berarti, dia sangat mirip dengan kepribadianmu, Sakura." Sasuke ingin tertawa dalam hati saat mendengar ucapan sang Permaisuri, apalagi saat melihat Sakura menatap ibunya itu dengan tatapan protes. "Kalau dia mirip dengan kepribadianmu, baguslah. Walau masih bersifat bocah, tapi … kau sangat penyayang."

Sasuke tertegun saat Mebuki mengucapkan kalimat terakhirnya. Ahh … benar juga, walau putri yang dijaganya itu cukup membuat emosinya terkuras, tapi setidaknya dia adalah putri dengan watak yang baik. Walau sedikit egois, tapi Sasuke mengerti apa yang menjadi penyebab keegoisannya itu. Permaisuri itu benar, dia dan Sakura mempunyai kepribadian yang mirip. Tidak suka dengan peraturan, ingin kebebasan, dan sedikit egois.

"Oh ya, Ibu … ada apa memanggilku?" tanya Sakura dengan wajah heran. Mebuki menghela napas.

"Aku mendapat laporan dari Shizune, bahwa kau tidak pernah menuruti perintahnya." Mebuki menatap Sakura dengan wajah tegas. "Kau putri yang nakal. Dengarlah ucapan pelayanmu itu, dia satu-satunya pelayan yang bertahan dengan sifatmu itu."

Sakura menggembungkan pipinya, menatap Sasuke dengan tatapan ingin meminta tolong. Namun, Sasuke segera mengalihkan tatapannya ke arah lain, pura-pura tidak menangkap maksud tatapan Sakura, membuat Sakura kesal. "Baiklah Ibu, mulai sekarang aku akan menurutinya," janjinya dengan nada seyakin mungkin. Sasuke yang mendengarnya mendengus.

"Benarkah?" tanya Mebuki lagi. Sakura mengangguk mantap.

"Benar, Ibu."

"Hmm, baiklah. Pengawal, jika Sakura menolak perintah Shizune, segera laporkan padaku." Kini pandangan Mebuki beralih ke Sasuke.

Sasuke tersenyum. "Tentu saja, Permaisuri."

.

.

.

"Sasuke, bagaimana kalau kita mengikat Shizune di suatu tempat?"

Sasuke mendelik pada Sakura. Usul bodoh calon ratu itu menggelitik telinganya. "Bagaimana, Sasuke? Dengan itu, dia tidak akan menyuruhku untuk melakukan hal yang aneh lagi. Kau pengawalku, jadi kau harus membantuku menjalankan misi ini." Sakura mengangkat tangannya yang telah ia kepalkan itu, berucap dengan semangat walau hal itu terdengar seperti lelucon di telinga Sasuke.

Sasuke menghentikan langkahnya, membuat Sakura juga menghentikan langkahnya dengan wajah bertanya. Pemuda itu kemudian menjulurkan tangannya pada Sakura, menarik hidung gadis itu. "Kau lakukan saja sendiri."

"—aw! Aw! Sakit!" Sasuke melepas tangannya. Sakura menatap pengawal barunya itu dengan tatapan tak percaya. "Kau … kau menyakitiku! Kau menyakiti seorang Tuan Putri!" Sakura membalikkan badannya dengan cepat, membelakangi Sasuke yang menatapnya dengan tatapan datar. "Hwaaaa! Pengawal tidak sopan! Kau harus dihukuuum! Hwaaaa!"

"Kalau begitu, hukum aku." Sasuke berucap dengan nada mengejek. Ia tahu bahwa Sakura hanya berpura-pura menangis.

Sakura membalikkan badannya, menatap Sasuke dengan pandangan seorang gadis yang baru saja terdzalimi. "Kau harus membantuku mengikat Shizune."

"Haaahh—!" Sasuke hendak protes. Namun Sakura menunjuk hidungnya yang memerah dan menatap Sasuke dengan pandangan meminta pertanggung jawaban, membuat Sasuke menghela napas berat. "Ck. Kau putri yang merepotkan. Aku menyesal menjadi pengawalmu."

"Ahhh sekarang kita harus mencari tempat untuk mengikatnya!" Sakura tak menghiraukan omongan Sasuke dan berucap dengan mata berbinar.

"Kenapa kau sangat dendam pada Shizune? Dia pelayan yang baik. Malah kau yang jahat," imbuh Sasuke yang sekali lagi tidak ditanggapi oleh Sakura.

"Hahh?! Benarkah?!"

"Ssstt … jangan berisik! Aku cuma tidak sengaja mendengarnya!"

"Ahh … baiklah, baiklah. Jadi, Raja ingin menikahkan Putri Ino dengan Raja dari Kerajaan Pasir?"

"Hum! Aku dengar tadi Raja berucap seperti itu!"

Tatapan berbinar Sakura langsung sirna saat mendengar bisikan dua orang pelayan yang lewat di belakangnya. Sepertinya kedua pelayan itu tidak melihat Sasuke dan Sakura.

"A-apa?" Mata Sakura melebar. Gadis itu segera berlari, menghadang kedua pelayan tadi.

"S-Sakura-sama!" Kedua pelayan tadi sangat terkejut melihat Sakura yang menatapnya dengan pandangan tajam.

"Katakan padaku! Apakah semua itu benar? Apakah Ino-nee-san benar-benar akan dinikahkan dengan Raja Kerajaan Pasir?!"

Kedua pelayan tadi saling berpandangan dengan wajah ketakutan, keringat dingin membanjiri pelipis mereka.

"Jawab aku!" bentak Sakura.

"I-iya … a-aku mendengar Yang Mulia Raja berkata seperti itu …" Sakura memandang mereka dengan tatapan tidak percaya.

"Ayah …" lirihnya. Ia sangat syok dengan berita ini. Gadis itu segera berlari ke ruangan ayahnya, diikuti oleh Sasuke di belakangnya. Gadis itu tidak peduli dengan kesulitannya yang berlari menggunakan gaun, ia sangat ingin segera sampai di ruangan ayahnya dan menentang pernikahan itu sebelum kakaknya mengetahui rencana ayahnya.

~kingdom of love~

"Yang Mulia … kau memanggilku?"

Ino memasuki ruangan, di sana telah ada Danzo dan Kizashi yang menunggu kedatangannya. Sai berdiri tepat di belakang Ino.

"Aku sudah menantimu dari tadi," ucap Kizashi. Ino mengerutkan alisnya, ada yang sedikit berbeda dengan ayah tirinya itu. Tapi, sudahlah. Ia juga tidak terlalu peduli.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ino langsung.

"Begini, Ino. Kau sudah delapan belas tahun, kau sudah dewasa." Ino mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud dari perkataan Kizashi. "Maka dari itu, demi kepentingan politik, kau akan dinikahkan dengan Raja Kerajaan Pasir."

Mata Ino membulat, ia seperti telah tertampar keras. "Y-Yang Mulia … apakah kau bercanda?" Ino berusaha untuk tersenyum, namun yang ada, air matanya keluar. Gadis itu menoleh kepada Sai yang juga tampak sangat terpukul dengan keputusan Raja. Pemuda itu memasang wajah syok.

Braaak!

"Ayah!" Sakura memasuki ruangan ayahnya dengan wajah tergesa-gesa, napasnya tak teratur. Hatinya mencelos saat melihat Ino dan Sai yang telah berada di ruangan itu. Hatinya terasa lebih sakit lagi saat melihat air mata yang telah jatuh dari kelopak mata Ino. Ia segera memandang ayahnya marah. "Ayah! Hentikan! Batalkan pernikahan itu!"

"Tidak bisa. Pernikahan ini telah diterima oleh Raja Kerajaan Pasir. Kalian tidak boleh menolaknya." Kizashi menatap Sakura dingin.

"Yang Mulia … kenapa—" Ino jatuh terduduk. Sakura langsung menghampiri kakaknya itu dan merangkulnya. Ino terus menangis, membuat Sakura juga menitikkan air matanya.

"Ini perintah Raja." Kizashi berdiri, berjalan keluar dari ruangan.

"Yang Muliaaa! Kumohooon! Jangan perlakukan aku seperti ini! Kumohooon!" Ino menjerit, namun Kizashi tidak menghiraukannya. "Yang Muliaaa! Kumohon … kumohon jangan nikahkan aku! Yang Muliaaa!" Ino meraung-raung, ia ingin menyusul ayah tirinya, namun kakinya terlalu lemas untuk berdiri, akhirnya ia hanya dapat menangis meraung-raung di pelukan Sakura. "Yang Muliaaaaaaa!"

Sakura memeluk kakaknya dengan erat, ia sangat terpukul melihat kakaknya seperti ini. Kenapaa? Kenapa ayahnya tega melakukan hal seperti itu? Kenapa ayahnya tega menyakiti perasaan kedua anaknya? Kenapa-?

Sasuke mengalihkan pandangannya, tidak ingin menatap pemandangan pilu itu. Ia lebih memilih menatap Sai yang masih terlihat syok itu. Ia tahu Sai sangat sedih, ia tahu perasaan Sai juga sangat sakit.

Hati Sai tercabik-cabik. Apa … apa yang bisa ia lakukan?

"Kenapaaa … hiks … kenapa dia melakukan iniiii?" Air mata terus membanjiri pipi Ino. Walau tenggorokannya sangat sakit karena menangis, namun rasa sakit itu tidak dapat memungkiri rasa sakit hatinya. Raja telah menciptakan luka menganga di hati itu. "Sakuraaa …"

Sakura memeluk kakaknya lebih erat saat kakaknya itu melirihkan namanya. "Kenapa, Sakura? Kenapa nasibku seperti ini? Kenapaaaa?!" Ino terisak, Sakura menatapnya dengan sedih. "Kenapa? Kenapa aku dilahirkan seperti ini? Jawab, Sakura! Jawab aku! Kenapa aku tidak ditakdirkan untuk bahagia?! Kenapa aku dilahirkan di lingkungan seperti ini! Aku … aku terima, aku terima ayah dan ibuku dipisahkan. Aku terima semua cibiran yang dilontarkan padaku. Aku terima kalau aku dikucilkan di istana ini! Tapi aku sungguh tidak bisa menerima hal ini! Aku tidak terimaaaa!"

Sai menatap sendu pada Ino. Ia ingin menenangkannya, tapi … apa yang harus dia katakan? Sedangkan hatinya juga sangat sakit. Ia tidak bisa menenangkan Ino dengan keadaan hati seperti ini.

Bruuk!

"Ino-nee-san!"

Sasuke segera menghampiri Sakura. Ino pingsan. Pingsan dengan air mata yang masih tergenang di matanya.

.

.

.

Sasuke, Sakura dan Sai menatap sendu pada Ino yang terbaring di ranjangnya. Ia masih belum sadar. Gadis itu pasti lelah menangis.

"Sai -nii-san …" lirih Sakura saat melihat pandangan Sai. Ia tidak tega melihat Sai dan Ino. Ia tidak kuat melihat cinta mereka yang sedang diuji.

"Sakura … apa yang harus kulakukan?" Sai mengepalkan tangannya. "Haruskah … aku melarikan diri bersamanya? Haruskah kami mati bersama?"

"Sai-nii-san! Jangan kata-"

Bugh!

Emerald Sakura melebar saat Sasuke tiba-tiba meninju pipi Sai. "Apa yang kau katakan, Bodoh?!" bentak Sasuke pada Sai yang terjatuh ke lantai akibat pukulannya. "Kau pikir dengan mati bisa menyelesaikan segalanya?!"

"Lalu apa yang harus kulakukan?!" Sai berteriak, meneriakkan keputus asaannya. "Apakah kami harus kawin lari, hah?! Apakah aku harus melakukan apa yang dilakukan Pengawal Inoichi pada Permaisuri?!"

Sakura dan Sasuke menunduk. "Kalau aku melakukannya, ini hanya benar-benar mengulang sejarah! Tidak apa-apa jika aku harus dihukum mati, tapi … apakah langkah itu bisa menjamin kebahagiaan Ino? Apakah Ino akan bahagia setelahnya?!" Sasuke dan Sakura bungkam, tidak dapat membalas perkataan Sai.

"Kenapa … kami diberi takdir seperti ini?" Sai menutup matanya menggunakan tangannya. Pemuda itu masih terduduk di lantai. Sasuke melangkah mendekatinya.

"Cukup. Kau tidak usah menahannya lagi," ucap Sasuke. Setelah ucapan Sasuke, terdengarlah isakan Sai,membuat Sasuke memandangnya dengan pilu. Sakura membuang tatapannya ke arah lain, gadis itu juga menangis dalam diam. Mereka tidak berdaya. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka tidak bisa melangkah mundur, namun mereka juga tidak bisa lari.

"Sai …" Sasuke, Sakura dan Sai langsung menoleh ke arah Ino yang mengigau. Air mata di pipi Sai masih terlihat, namun pemuda itu segera mengusapnya dan mendekat ke sisi Ino. "Sai …"

"Aku di sini, Ino. Aku di sini." Sai menggenggam tangan Ino, mencium telapak tangan gadis itu. Perlakuan Sai membuat Ino terbangun. Gadis itu melirik Sai.

"Sai-!" Ino segera terbangun, gadis itu mendudukkan dirinya. Ia mulai menangis lagi, walau masih kelelahan, namun air matanya terus mendesak keluar.

Ino memeluk Sai dengan erat, Sai juga demikian. Mereka tak berkata apapun, mereka tetap bungkam sambil berpelukan erat, seolah tak ingin kehilangan satu sama lain.

~kingdom of love~

"Cinta itu menyakitkan, yah …" Sakura berlirih pelan seraya berjalan di samping Sasuke. Ia menatap tanah yang dipijaknya dengan pandangan sendu. "Aku yang melihat mereka berdua saja tidak dapat menahan tangis, apalagi mereka berdua yang merasakannya."

Sasuke terdiam. Hening. Hanya suara langkah kaki mereka dan suara jangkrik malam yang terdengar. Sinar bulan menerangi mereka, angin malam berhembus tenang, memasuki pori-pori mereka. Namun mereka tidak memedulikan itu, terus berjalan walau diselimuti rasa dingin.

"Aku masih harus meyakinkan Ayah." Sakura berucap tegas. "Aku akan ke ruangan Ibu. Aku yakin Ibu bisa berbicara pada Ayah mengenai hal ini."

Sebagai seorang Raja, Sasuke tahu, walau pun Sakura berbicara pada siapapun, keputusan Raja tidak bisa ditentang. Seorang Raja harus mengeluarkan perintah yang mutlak, tidak bisa diubah walau oleh Raja itu sendiri.

Dengan insting yang tajam, Sasuke tahu bahwa Raja Kizashi itu bukan dirinya yang biasanya. Ia belum tahu apa penyebabnya, apa penyebab mengapa sang Raja menjadi sedingin itu bahkan kepada anak-anak yang dicintainya. Ia berkata pada Sasuke bahwa ia sangat menyayangi anak-anaknya, bahkan Ino. Apakah saat itu Raja hanya bersandiwara?

Tidak mungkin. Saat itu Kizashi mengatakan hal itu dengan perasaan tulus. Tapi, mengapa?

Apakah ini adalah rencana para musuhnya? Apakah Raja sedang diancam sehingga mengeluarkan titah seperti ini? Atau jangan-jangan—

"Sasuke?" Sasuke tersentak saat Sakura memanggil namanya. Ia menoleh dengan alis terangkat pada Sakura. "Kau melamunkan apa?"

Sasuke menggeleng sebagai jawaban. Mana mungkin ia memberitahu Sakura tentang apa yang ia lamunkan. "Aku tidak melamun. Kau ingin pergi ke ruangan permaisuri, bukan?"

Sakura mengangguk. "Aku harap Ibu bisa mengatasi hal ini."

.

.

.

"Ibu! Aku ingin bi—Ibu?"

Langkah Sakura terhenti saat melihat punggung ibunya yang bergetar. Ibunya berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap rembulan yang menyinarinya. "Ibu?" Sakura memanggilnya lagi.

Kali ini ibunya menoleh, memperlihatkan air matanya dan pandangan sedihnya. Sakura tercenggang dan segera menghampiri ibunya. "Ibu, ada apa? Kenapa Ibu menangis?"

"Ibu … tidak berguna, Sakura." Mebuki mengusap air matanya. "Padahal, Ibu sangat tidak ingin anak-anakku mengalami hal yang sama denganku. Tapi, apa yang bisa aku lakukan? Gelar Permaisuri bahkan tidak bisa menolak perintah Raja."

Sakura memandang sendu pada ibunya. Sasuke yang mendengar dari luar menunduk, seperti yang ia duga. Tidak semudah itu untuk menentang keputusan Raja.

"Ibu … Ibu sudah berbicara pada Ayah?"

"Ya. Dia bahkan tidak mendengarku, Sakura. Dia tidak menghiraukan ucapanku walau aku menangis memohon padanya." Ibu Sakura memijit keningnya. "Ino … anakku yang malang …"

Cukup. Hati Sakura sangat teriris melihat ibunya seperti ini. Sebenarnya … apa yang terjadi pada keluarganya? Kenapa tiba-tiba seperti ini?

Sakura keluar dari ruangan ibunya dengan tatapan sedih. "Situasi tambah memburuk. Orang-orang dari Kerajaan Pasir akan datang besok."

"Secepat itu?" Sasuke agak terkejut mendengar ucapan Sakura. Sakura mengangguk pelan. Mereka berdua kembali terdiam, memikirkan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

.

.

.

"Ini pesta penyambutan, Anda harus terlihat cantik."

Sakura hanya termenung saat Shizune mengikat korsetnya dengan kencang, membuat Shizune sedikit heran dengan tingkah Sakura. Tapi setelah beberapa menit berpikir, ia mendapatkan jawabannya. Ini pasti menyangkut kakaknya.

"Sakura-sama, kau jangan menyerah menghadapi hal ini." Shizune membantu Sakura memasang gaunnya. Gaun itu tidak berlengan panjang seperti yang biasa Sakura pakai, namun berlengan sangat pendek, namun ia menggunakan kaus tangan panjang berwarna senada dengan gaunnya, putih tulang.

Sakura sedikit menunjukkan pergerakan saat Shizune mengucapkan kalimat itu. "Jika Ino-sama dan Permaisuri terpuruk, Anda jangan ikut terpuruk." Sakura tertegun. "Bersemangatlah. Cairkan suasana."

Sakura tersenyum, kemudian mengangguk semangat. "Hum! Terimakasih, Shizune! Maaf telah berniat untuk mengikatmu!"

"—haaa?"

.

.

.

Bruk!

"Aaarrgghh! Kenapa aku selalu menabrak orang kalau sedang ada acara seperti ini!" omel Sakura pada dirinya sendiri. Ia mendongak, menatap seorang pemuda berambut merah dengan senyum canggung. "Maaf. Aku tidak sengaja," ucapnya.

Pemuda berambut merah itu tersenyum. "Putri Sakura, bukan?"

Sakura terheran, kemudian mengangguk pelan. "Ah, apakah kau melihat seorang pemuda dengan rambut aneh? Rambutnya berwarna biru dongker, style rambutnya seperti pantat ayam. Dia pengawalku. Aku mencarinya dari tadi dan aku tidak menemukannya sampai sekarang. Sasuke bodoooh!"

Pemuda itu menatap Sakura dengan pandangan kaget, namun terkekeh. Namun, ia melihat pria yang dideskripsikan oleh gadis itu menghampiri mereka. "Dia kah?"

Sakura membalikkan badannya, kemudian tersenyum sumringah. "Sasuke!"

"Kau di sini rupanya." Sasuke memandang Sakura dengan wajah kesal. Ia sudah berkeliling mencari Sakura, sampai membuatnya lelah.

"Kau dari mana saja?!" Sakura menunjuk batang hidung Sasuke.

"Kau yang dari mana saja!" Sasuke menarik kedua pipi Sakura, membuat Sakura menjerit kesakitan. "Kau membuatku berkeliling di sini. Bukankah kita sudah berjanji akan bertemu di ruanganmu, hah? Saat aku ke sana, yang kudapatkan hanyalah ruangan kosong."

"—aw! Aw! S-sakit!"

"Err … apakah dia benar-benar pengawalmu?" Pemuda berambut merah yang menyaksikan adegan mereka memandang mereka dengan tatapan heran.

Sakura menepis tangan Sasuke dengan kasar. "Ya. Dia pengawal yang kurang ajar! Seharusnya dia tidak memperlakukan seorang Tuan Putri seperti ini!"

Perempatan siku-siku muncul di dahi Sasuke. "Heeh? Kau mau aku menarik pipimu sejauh lima meter?" Sakura sontak memegang kedua pipinya, berniat melindungi pipi tersebut dari serangan Sasuke.

"Kalian lucu." Sasuke dan Sakura menatap pemuda yang terlupakan itu. "Namaku Rei Gaara, Pangeran dari Kerajaan Pasir."

Oh.

"…"

"—APA?!" Sakura membulatkan matanya. "J-jadi kau—"

"Salam kenal, Tuan Putri Sakura." Sakura menatap Gaara dengan tajam.

"Kau! Batalkan pernikahanmu dengan kakakku!" perintah Sakura cepat. Sasuke dan Gaara terkejut mendengar perintah Sakura.

"Sakura bodoh!" ucap Sasuke yang langsung ditatap kesal oleh Sakura.

Gaara tersenyum kecil melihat tingkah putri itu. "Aku memang tidak akan menikah dengan Tuan Putri Ino."

"Kau—apa? Tidak menikah?"

"Bukan aku. Tapi, ayahku."

"A-APA?!" Sakura dan Sasuke terkejut setengah mati. Sasuke baru mengingat, Ino akan menikah dengan 'Raja' Kerjaan Pasir, bukan 'Pangeran' Kerajaan Pasir. "Y-yang benar saja! Kakakku akan menikah dengan—"

"Sayangnya, ayahku tidak bisa menghadiri pesta ini. Dia mengirimku untuk melihat calon istrinya." Gaara berkata dengan tenang. Namun Sakura sama sekali tidak bisa tenang!

"Kenapa kau setuju saja kalau ayahmu ingin menikah dengan gadis muda!" amuk Sakura, ia sangat marah. Kenapa ayahnya sungguh tega kepada Ino?

"Aku tidak bisa menentang perintah Raja."

"Memangnya kau tidak sakit hati melihat ayahmu menikah lagi?!"

Gaara tersenyum sendu. "Tentu saja aku sakit hati melihatnya. Tapi, Tuan Putri, inilah resiko terlahir di keluarga kerajaan. Aku yakin kau juga mengerti tentang hal itu."

Sakura terdiam dengan hati yang berkecamuk. "Tapi … ini keterlaluan …" lirih Sakura.

"Walau kau mengamuk, tidak akan ada perubahan. Sebaiknya kau bersikap tenang, Tuan Putri." Gaara tersenyum miring. "Kau bertingkah seperti bocah."

"A-apa?!" Sasuke menahan tawa saat melihat ekspresi Sakura. Namun saat melihat Sakura menggeram, ia langsung menahan Sakura dari belakang. "Aku bukan bocah! Kemari kau, Pangeran jelek! Suruh ayahmu membatalkannya! Tua Bangka tidak pantas disandingkan dengan kakakku yang cantik!"

"Sakura, tenanglah!" Sasuke memeluk Sakura dari belakang, menahan gadis itu agar tidak menyerang Gaara.

"Heehh … bocah tetaplah bocah." Gaara berucap seraya membalikkan badannya, membuat Sakura semakin mengamuk.

"Sasuke! Lepaskan aku!"

"Tenang! Kau harus melihat situasi!"

"Kubilang lepas—"

Duagh!

"—kan." Sakura langsung menghentikan gerakannya saat tangannya tidak sengaja memukul Sasuke karena mengamuk. Sasuke memegang hidungnya dan menatap putri itu dengan tatapan tajam.

"Kau lihat ini?" Sasuke bertanya dengan nada marah yang ditahan. Ia menunjuk hidungnya yang mengeluarkan darah.

Sakura meneguk ludahnya, merasakan aura hitam yang menguar dari tubuh Sasuke. "Hehe … darah …" Sakura tersenyum canggung, menanti apa yang akan dilakukan Sasuke padanya.

.

.

.

"Sakura … Sasuke …" Ino dan Sai menatap Sakura dan Sasuke. Pandangan keduanya agak terkejut saat melihat tangan Sakura.

"Ino-nee-san …" Sakura tersenyum, kemudian senyumnya luntur seketika dan menangis. "Hwaaa! Lihat! Sasuke sangat jahat kepadaku!" Sakura menunjukkan tangannya yang terikat itu. Sasuke yang berada di belakang Sakura hanya mendengus. "Dia bilang dia adalah pengawalku! Pengawal seharusnya melindungi putrinya, bukan? Tapi dia malah mengikatku seperti ini! Hwaaaa!"

Sai dan Ino melihat mereka dengan tatapan heran, kemudian keduanya terkikik geli melihat tingkah konyol Sasuke dan Sakura. Melihat senyuman Sai dan Ino, membuat Sasuke dan Sakura menaikkan sebelah alisnya.

"Kalian … baik-baik saja?" tanya Sasuke hati-hati. Jangan sampai pertanyaannya mengingatkan mereka berdua tentang masalah mereka.

"Ya. Kami baik-baik saja." Ino tersenyum lembut. "Kami belum menemukan solusi atas permasalahan kami. Tapi, kami akan menghadapinya."

"Walau pun itu sakit, kami akan menahannya. Kami akan membuktikan bahwa cinta kami akan memenangkan segalanya," ucap Sai. "Jujur saja, kami masih bersedih saat ini."

Sasuke dan Sakura tersenyum melihat mereka berdua. Sai tertawa kecil dan berkata, "ada saat di mana, cinta kami sedang diuji."

"Jika kalian memang ditakdirkan bersama, mau sesulit apapun rintangannya, sesakit apapun kalian, kalian pasti akan bersatu kembali." Sasuke berucap dengan senyuman yang masih menghias wajahnya.

"Sasuke … saat kau berkata seperti itu, kau terlihat menyeramkan." Sakura berkata dengan nada polos, membuat Sasuke menatapnya dengan tatapan galak, yang disambut tawa oleh Sai dan Ino.

"Baiklah. Kami permisi dulu." Sasuke segera mendorong Sakura pergi.

"S-Sasuke? Aku hanya bercanda! Ino-nee-san! Sai-nii-san! Tolong akuuuu!" Sedetik kemudian, sosok Sasuke dan Sakura tenggelam di kerumunan para tamu.

"Mereka lucu," komentar Sai saat mereka benar-benar menghilang. "Pasangan yang unik."

"Walau pun Sasuke bersikap jahat pada Sakura, tapi aku yakin dia hanya ingin melindunginya." Ino menatap Sai dengan lembut, selembut tatapan Sai yang menatap Ino. "Tetaplah berada di sisiku, Sai," ucap Ino pelan.

Sai mengangguk. "Tanpa kau bilang pun, aku akan selalu ada di sisimu, Ino. Sampai kapanpun. Walau nanti kau menikah dengan Raja Kerjaan Pasir, aku tidak akan meninggalkanmu. Karena aku telah bersumpah untuk selalu bersamamu."

Kalimat Sai membuat Ino terharu. Mata gadis itu berkaca-kaca. Cinta Sai padanya sangat tulus, itulah yang membuat ia tidak ingin melepas Sai. "Terimakasih, Sai. Terimakasih …"

.

.

.

"Sasuke. Mereka akan berpikir aku aneh!"

"Kau memang aneh."

Sakura memanyunkan bibirnya. "Tidak pernah ada seorang Tuan Putri yang diikat seperti ini oleh pengawal pribadinya!"

"Berarti aku menciptakan sejarah baru." Sakura menatap Sasuke dengan pandangan aneh. Memangnya dia tidak takut, hah? Dia tidak takut pada Sakura?!

"Cih." Sakura mendecih. Sasuke orang terjahat yang pernah ditemuinya. Dan sekaligus orang terberani yang pernah ditemuinya. "Hei, Hei, Sasuke."

"Hn?"

"Aku … sangat senang melihat senyum Ino-nee-san dan Sai-nii-san." Sasuke terdiam, namun pemuda itu tersenyum. "Mereka tegar. Kalau aku ada di posisi mereka, aku tidak tahu apa yang terjadi."

"Heeh … memangnya kau tahu bagaimana cara jatuh cinta?" Sasuke memandang Sakura dengan tatapan mengejek.

"T-tentu saja!"

"Memangnya kau pernah jatuh cinta?"

"B-belum sih." Sakura kemudian menatap Sasuke dengan tatapan menantang. "Tapi aku sudah remaja! Aku yakin tahun ini akan ada seseorang yang membuatku jatuh cinta!"

"Heehh …" Sakura menggembungkan pipinya. "Kau sendiri? Kau pernah jatuh cinta?"

"Tentu saja—" Sasuke menjeda perkataannya. "—tidak."

"Kau pun belum pernah merasakannya!" tuding Sakura, Sasuke hanya terkekeh.

"Tapi, aku berencana menikah di tahun ini." Sakura membulatkan matanya.

"Haah? Menikah? Secepat itu?" Sakura menunjukkan protesannya. "Kalau kau menikah, kau pasti akan berhenti menjadi pengawal pribadiku!"

"Tentu saja." Sasuke tertawa dalam hati. Tentu saja ia tidak bisa menjadi pengawal gadis itu terus-terusan, atau kerajaannya bisa tamat karena digilas oleh Itachi.

"Huh. Baiklah. Kalau kau akan menikah di tahun ini, maka aku juga akan menikah di tahun ini!" ucap Sakura dengan nada tak mau kalah.

"Huh, bersemangat sekali kau." Sasuke menatap Sakura dengan pandangan sweatdrop.

"Memangnya bersemangat itu buruk?" ucap Sakura dengan nada jutek.

Sasuke tersenyum tipis. "Tidak. Malah, aku suka sifatmu yang bersemangat itu."

Deg!

"B-benarkah …" Jantung Sakura berdetak tak karuan saat melihat senyum Sasuke, ucapannya yang dipadukan senyum itu membuat wajahnya merona merah. Darahnya berdesir hebat, ia merasa wajahnya memanas. Ia ingin menutup wajahnya yang memanas itu, namun ia sadar bahwa tangannya sedang diikat saat ini.

"Hei, kenapa wajahmu memerah?"

"Tidak ada apa-apa …" Sakura menunduk, kemudian mendongak kembali. "Lepaskan ikatanku!"

"Tidak."

"Lepaskaaaann!"

"Tidak."

"Kubilang lepaskaaaaannnn!"

"Tidak. Hei, kau berisik. Kita sedang berada di pesta."

Sakura memanyunkan bibirnya, kemudian ia tersenyum lembut saat melihat punggung Sasuke.

.

.

.

To be Continued

Maaf yah, saya membuat beberapa kesalahan pada chapter 1 wkwkwk hasyeemm malu banget ingatnya.

Pertama, salah kasih masuk genre. Plis, fatal pulaaakkk :'( maaf yah

Kedua, nulis 'the end' buset dah. Tapi udah aku edit sih wkwkwk

Makasih yah yang review, sini aku kasih civokan :* #plis

Well, tuangakan tanggapan kalian di kota review.

Sankyuu.

HanRiver