Note: Halo, halo readers-nim hihi.
Aduh seneng banget ada yang review walau ya nggak banyaaak tapi makasih banyak udah mau baca&review T_T
aku sangaaat menghargai kalian T_T)b
nih, aku kasih fast update. lumayan panjaang dan banyak part gak penting (HUHUHUHU)
Happy reading! ^^
.
.
.
.
"Eeeh?" Luhan menggaruk kepalanya. "Karyawan baru?"
BUK. Rasanya Jongin baru saja terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam.
Luhan memiringkan kepalanya sehingga dia tampak imut, "Setahuku, kami tidak menerima karyawan baru. Apalagi—berapa umurmu?"
.
"Delapan belas."
"W-what?!" Luhan terkejut, tapi tidak lama kemudian dia membuang nafasnya. "Sepertinya kamu salah tempat. Perusahaan kami sudah menutup lamaran kerja dari tahun kemarin." Jelas Luhan, mencoba memberitahu Jongin yang hampir sekarat dihadapannya.
"Ta—tapi—" Jongin gagap. Ya, dia baru saja mengalami stroke mendadak. Jantungnya langsung lepas dan jatuh ke perutnya. Ia mual dan muak. Jongin bahkan tidak bisa bicara sama sekali. Apa Chanyeol mengerjainya? Ini lebih buruk dari candaan apapun. Jongin bersumpah.
"Luhan, dia memang karyawan baru disini."
"Oh, Chanyeol?" Luhan menoleh lalu berjalan mendekati pria sejuta gigi itu, "Bagaimana bisa? Perasaan, tahun kemarin lamaran kerja sudah ditutup." Tanya Luhan, ingin mendapat kepastian.
Chanyeol tertawa bahagia. Ia melompat kemudian merangkul Jongin yang sudah tidak dirangkul Sehun, "Hari ini Jongin mulai bekerja disini."
"Nah, Jongin," Chanyeol mendorong Jongin lebih masuk ke dalam ruang kerja dimana para Karyawan menganalisis sesuatu hal. Ada beberapa orang didalamnya, tidak banyak.
"Disini nanti ruanganmu bekerja." Kata Chanyeol. "Disana ada Yixing, tapi kamu bisa memanggilnya Lay. Lalu si rambut coklat tua, Baekhyun namanya. Disebrangnya ada Minseok, tapi kamu juga bisa memanggilnya Xiumin. Lalu—ada Chen, yang disebelah Xiumin itu."
Jongin menanggapinya sembari nyegir tidak jelas. Bagaimana tidak, Chanyeol sedang menjelaskan orang-orang yang akan menjadi teman kerjanya—tapi tidak ada satu pun yang melihatnya. Mereka sibuk masing-masing, apalagi si Baekhyun. Baekhyun sibuk memainkan PSP.
"Lalu," Chanyeol membawa Jongin kehadapan Luhan dan Sehun. Luhan memandangi Jongin datar, berbeda sama Sehun—dia tersenyum senang. "Disini ada Luhan dan Sehun. Mungkin tidak semuanya akan ku perkenakan hari ini, tapi—ya begitulah, nanti kamu akan tahu siapa saja yang akan jadi rekan kerja." Chanyeol tersenyum, menepuk-nepuk bahu Jongin bangga.
"Ini tidak bisa, Chanyeol." Luhan protes secara tiba-tiba. Tangannya terlipat diatas dada, "Aku bukannya melarang dia bekerja disini. Tapi, nanti dia mau menjadi bagian apa? Semua sudah punya patner dan posisi masing-masing."
Chanyeol bergumam, "Kamu benar juga."
Luhan menepuk jidat, setelah itu dia memijat-mijat kepalanya pelan. Wajahnya bergetar karena tidak tahan dengan kebiasaan Chanyeol.
"Ah, tidak apa apa." Suara Jongin memecahkan suasana dikantor. Sembari menggerakan kedua tangannya, mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja ia tersenyum canggung, "Kalau memang nggak ada tempat, aku bisa keluar. Aku ta—"
"Ada apa ini?"
Astaga, siapa lagi dia. batin Jongin dalam hati.
Seorang pria yang tubuhnya tidak terlalu tinggi masuk ke dalam ruang dimana Luhan, Sehun, Chanyeol dan Jongin mengumpul didekat pintu masuk. Pria itu berusaha memasuki ruangan yang mungkin sudah sempit—kemudian ia duduk dikursi paling pertama. Ia duduk sambil memijat pelipisnya, "Sehun berulah lagi?" Tanyanya.
Sehun berkacak pinggang tidak suka, "Oh God. Aku selalu disalahkan."
Junmyeon, itulah nama yang ada dinametagnya—pria kecil yang memiliki senyuman khas dan rambutnya pirang menyala itu tertawa. "Aku ha—Ah, ada manusia baru sepertinya. Siapa dia?" Junmyeon menaikan sebelah alisnya, cukup penasaran dengan penampilan Jongin yang apa adanya untuk masuk ke dalam kantor.
"Hyung, kenalkan. Dia jongin, yang aku bicarakan beberapa hari lalu." Chanyeol menjawab cepat. Suho mengangguk-anggukan kepalanya dan mimiknya mengatakan not bad lah. "Baguslah. Suruh dia pakai seragam."
Jongin pun meneguk ludahnya kasar. Dia benar-benar bekerja disini?!
.
.
Jongin terdiam memandang dirinya dicermin. Setelah berganti pakaian dengan seragam—seragam yang sangat baru untuknya. Jas berwarna putih dan sisinya ada garis berwarna biru tua yang mendekati hitam dan celana putih polos. Jongin pikir, ia bisa menjadi seorang pelaut sehabis ini.
Jongin menarik nafasnya sangat dalam kemudian menghembuskan berat. Pekerjaan ini sulit—menurutnya. Masalahnya, baru saja masuk dan memperkenalkan diri, Jongin sudah dibuat stroke mati-matian. Entah apa yang ada dibenaknya tapi cara pekerja disini agak kasar—entahlah, mungkin ia belum terbiasa.
Setelah itu, Jongin memberanikan diri pergi dari ruang ganti dan kembali masuk ke dalam kantor. Dimana ia bertemu dengan orang-orang aneh.
"Ah, akhirnya dia datang." Ucap Junmyeon, bibirnya melengkung hangat. Menyapa Jongin yang mulai gugup, lagi.
Jongin nyegir, "Maaf kalau aku terlalu lama." Ujarnya mendekati Junmyeon.
Meja diruangan kerja itu berbentuk panjang dan dibagi beberapa bagian. Tiap satu sisi dijadikan tempat untuk komputer bagi karyawan yang bekerja. Satu komputer berhadapan dengan satu komputer lagi tanpa penghalang, jadi para patner bisa saling berkomunikasi tanpa harus teriak-meneriaki. (bisa bayangin? T_T)
Selagi itu ada dua tempat berhadapan yang kosong. Apa salah satunya tempat duduk Jongin?
"Huh," Luhan mendegus. "Jadi apa yang kamu ketahui soal perusahaan kami, Jongin?" Tanya Luhan, wanita langsing itu duduk dimeja kecil disamping rak buku didalam ruangan. Posisi duduknya agak membuat jongin risih. Apalagi Cuma Luhan yang memakai stocking seperti itu—
"Uhm, Seoul National R merupakan perusahaan yang melayani soal barang dan jasa. Itu saja yang aku ketahui."
Lagi-lagi Luhan memijat pelipisnya karena harus berhadapan sama orang asal-asalan seperti Jongin. Ia merasa jengkel, "Aku bingung. Kenapa kamu bisa diterima disini." Ucap wanita judes itu.
"Ma—"
"Jongin diterima karena Kris yang mengajaknya bergabung." Junmyeon memotong perminta maaf-an Jongin dengan santai. Membuat Luhan kembali tidak percaya, "Kris? Kok bisa?"
"Kamu terlalu banyak bertanya hari ini. Tumben sekali," Junmyeon tertawa. "Yang penting sudah ada alasan yang tepat kan, kenapa Jongin bisa masuk kesini." Lanjut Junmyeon.
Luhan membanting tangannya ke meja dimana ada Junmyeon dekat disitu. Luhan memang orang yang sembarang, for your information.
"Baiklah, ini pertanyaan terakhirku! Siapa yang akan menjadi patner nya?"
"Selamat sore. Tehnya sudah jadi."
Suho bangkit dari posisi duduknya lalu tersenyum pada gadis mungil yang membawa nampan berisikan beberapa cup isi teh yang wanginya menyeruak.
"Wah, wah. Kyungsoo sudah datang." Kata Junmyeon menjadi orang periang. Ia mengabil satu cup dari nampan yang dibawa gadis mungil—namanya Kyungsoo. "Kebetulan sekali, aku sedikit sakit kepala. Untung kamu datang diwaktu yang tepat. Terima kasih." Puji Junmyeon sambil mengelus puncak rambutnya.
"Uhm, you're welcome." Kyungsoo menjawabnya datar kemudian berjalan menuju meja dimana karyawan sedang bekerja. Membagkian teh yang ia buat sendiri dan menjawab rasa terima kasih mereka dengan wajah datar.
"Ya ampun," Tubuh Junmyeon tersentak mengingat suatu hal. Ia buru-buru menyimpan cangkir tehnya dimeja. "Kyungsoo belum ada patner kan?" Ungkap Junmyeon memandangi Kyungsoo yang sedang mengelap meja.
"Kyungsoo bisa menjadi patner Jongin." Usul Junmyeon, sontak membuat beberapa pekerja kaget termasuk Kyungsoo.
Luhan diam mendengarnya, begitu pun dengan yang lain.
"Daripada Kyungsoo hanya diam didapur dan menyiapkan teh, dia bisa bekerja lagi dikantor. Bagaimana? Kyungsoo? Apa kamu mau?" Tawar Junmyeon tanpa ragu.
Mata bulat Kyungsoo berbinar tapi dia tetap diam.
Dan tidak ada yang tahu bahwa tubuh Jongin sudah beku. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Meskipun tubuhnya dirasa beku, namun wajahnya berkata lain. Wajahnya mendadak panas, menjadi merah seperti kepiting rebus. Tidak ada yang menyadarinya.
.
.
Jongin duduk dibangku kerjanya untuk pertama kali. Ia terus berdehem karena asing dengan siatuasi seperti ini. Dihadapannya ada Kyungsoo—gadis mungil yang sudah jelas adalah gadis yang menangis tadi pagi di lift. Kyungsoo tampak serius melihat komputer canggih tanpa alat, hanya mengeluarkan programnya saja. Komputer tanpa alatnya, kalau dibilang tahun sekarang.
"Hey, Jongin."
Jongin menoleh ke samping, terdapat Baekhyun yang sedang menatapnya dengan mata polos seperti puppy. "Y-ya?" Jongin tersenyum canggung.
"Patner kamu tuh Kyungsoo, lho. Kamu harus menjaganya baik-baik, dia kesayangan kami." Ucap Baekhyun memperingatkan.
"Ah," Jongin mengangguk mengerti. Matanya mengintip Kyungsoo yang fokus ke komputer lalu kembali menatap Baekhyun. "Begitu. Tapi, maaf sebelumnya. Aku tidak mengerti apa yang dimaksud patner dan position kalian—rasanya asing dimata dan telingaku."
"Pertama," Baekhyun membetulkan kursinya, ia putar kesamping agar bisa berhadapan dengan Jongin. "Kamu ini bekerja dimana kesabaran akan diuji." Jongin mendengarkan serius.
"Kedua. Kami disini melayani barang dan jasa. Barang yang kami berikan bukan barang biasa—oh, aku tidak suka menyebutnya ini barang. Barang yang kami maksud adalah Giftia. Giftia adalah robot yang di isi oleh nyawa, masuk ke dalam program Android dan hanya perusahaan kami yang berhasil menciptakannya. client bisa memesan sifat yang mereka inginkan untuk Giftia-nya. Dan untuk position, aku tidak bisa menjelaskan banyak—soalnya nanti kamu harus melaksanakan test, jadi bakal lebih tahu."
"Giftia? Contohnya?"
"Ketiga. Giftia sama seperti manusia, Jongin. Mereka berbicara, bergerak dan berpikir secara alami karena di isi nyawa. Tapi sebelumnya kami sudah setting apa yang di inginkan client. Setelah diatur, kami mengirimkan Giftia ke rumah client dan akan terus seperti itu."
"Lalu, apa yang dikerjakan karyawan dikantor? Kan tadi kamu bilang, untuk mengirimkan ba—maksudku, Giftia—" Jongin merutuki kesalahannya dalam hati. Ini bisa jadi masalah besar, apalagi kalau bertemu lagi dengan Luhan.
Baekhyun tertawa melihat Jongin yang terlalu serius, "Disini ya kami menerima job yang akan diberi oleh Luhan dan mengatur strategi dengan partner. Oh ya, patner disini dipasangkan berdua saja. Harus terdiri dari manusia dan Giftia agar saat pengembalian Giftia sendiri, bisa dinamis."
Pipi Jongin bersemu merah mendengar kata 'berdua'. Oh tidak—Jongin membayangkan yang tidak-tidak.
"Dan kamu tahu, Jongin? Lay, Chen, Sehun dan Kyungsoo adalah Giftia. Perusahaan kami awalnya hanya membuat percobaan untuk client, tapi akhirnya mereka dijadikan karyawan. Aku dengar dari Junmyeon sih begitu."
Kyungsoo—robot?
"Junmyeon itu wakil direktur, lho. Dia memang kalem dan dia berani ambil resiko." Ujar Baekhyun yang sebenarnya cemas. "Jadi, jaga baik-baik Kyungsoo, ya? Aku mempercayaimu."
Jongin tersenyum, membagi lengkungan matanya yang indah. "Pasti." Katanya tegas.
"Sudah kah bergossipnya?" Rrr—bulu kuduk Jongin berdiri semua saat mendengar suara itu lagi- Suara cempreng Luhan yang bisa nyelekit dihati. "Kyungsoo, coba kamu ajak Jongin berkeliling gedung. Cuma setengah jam ya. Hmm—" Luhan mengecek jamnya kemudian berbicara, "Setelah itu kita ada test buat Jongin."
"Iya." Ucap Kyungsoo datar.
Luhan melotot ke Jongin, menggerakan kepalanya ke samping, mengatakan Jongin harus mengikuti Kyungsoo yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kantor.
Hening, itulah yang Jongin rasakan sekarang. Suara langkah kaki sama seperti suara detik jarum jam yang bergerak menghitung waktu. Jongin tidak tahu bagaimana rasanya sekarang. Ia senang karena akhirnya mendapat pekerjaan yang tetap. Tapi….sesuatu mengganjal hati kecil Jongin.
Disampingnya ada gadis mungil dengan mata bulat yang membuatnya terpesona. Gadis yang sebenarnya rapuh. Jadi beginikah Giftia? tidak ada yang beda, mereka seperti manusia kok—
"Kyungsoo." Panggil Jongin disela-sela langkah mereka.
Kyungsoo yang lebih pendek dari Jongin yang jangkung membuat dirinya harus mendongak keatas, mata indahnya itu menerawang mata tajam Jongin. Lelaki itu hampir saja muntah kupu-kupu kalau ia sedang sendirian. "Uhm," Jongin mengedarkan pandangannya ke arah lain, dia tidak mau meledak.
"Kamu—ingat aku tidak?"
"Tidak."
Tolong, tolong Jongin sekarang. Jantungnya baru saja ditusuk oleh pisau tajam. Biasanya Jongin biasa saja kalau ada orang jutek dengannya. Tapi tidak dengan gadis ini—hatinya sudah tersayat.
Jongin kembali tertawa canggung seperti biasa, "aha-ahahaha! Aku serius, kita baru saja bertemu dilift tadi pagi. Masa kamu lupa?" Tanya Jongin.
Langkah Kyungsoo berhenti saat mendekati lift. Dia masih memandangi wajah simetris Jongin, dagunya tajam dan kulitnya hitam manis—"Aku tidak ingat. Pertanyaan berikutnya." Astaga! mendengar jawaban Kyungsoo seperti itu membuat Jongin harus sabar. Benar apa kata Baekhyun, yang petama harus dipelajari disini ada kesabaran.
"Ah, okay, okay." Jongin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Terima kasih sudah mengantarku keliling gedung. Kita belum berkenalan kan?" Jongin mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan dirinya.
Sementara itu, Kyungsoo menggigit bibirnya kasar. Melihat tangan besar Jongin ragu-ragu, kepalanya bergerak seperti robot.
"E-e-error 404. Pertanyaan berikutnya."
"Eh?"
"E-e-error 404!" Teriak Kyungsoo, sontak Jongin terkejut dan memegang kedua bahunya.
Jongin panik, "E-error? Oh gosh, kamu tak apa?!" Baru pertama kali dalam hidupnya ia begitu cemas dengans seorang wanita—maksudnya gadis kecil. Jongin tampak mengguncang-guncangkan bahu Kyungsoo.
Wajah Kyungsoo merah padam, tapi bibirnya terus mengatakan "error! e-error!"
Dan sebelum Jongin berteriak minta tolong, Luhan sudah berada disamping Kyungsoo secara tiba-tiba bersama Baekhyun. Luhan memandang Jongin dengan tatapan sinis, "Jangan sentuh Kyungsoo!" Larang Luhan. Jongin pun segera melepas tangannya dari pundak Kyungsoo—ajaibnya Kyungsoo sudah berhenti error.
"Ish, Jongin!"
PLETAK!
"Aw!" Jongin meringis kesakitan. Baru saja Luhan memukul kepalanya dengan map yang dia bawa, sial.
"Baru saja ku tinggalkan sebentar. Kamu sudah buat masalah. Ayo, kita ada kerjaan untukmu."
.
.
.
Baekhyun yang tertawa memecahkan keheningan didalam mobil. Baekhyun melihat ke belakang, memerhatikan rasa canggung antara Jongin dan Kyungsoo yang duduk bersebelahan.
"Maafkan Luhan." Ujar Baekhyun masih tertawa kecil. Gadis itu kelihatan sangat lembut, pikir Jongin.
"Luhan sebenarnya merasa senang kamu masuk ke kantor dan posisinya dibawah dia." Kata Baekhyun yang mendapat putaran mata dari Luhan. Tapi dia tetap saja melanjutkan, "Sudah dua tahun ini Luhan jadi junior di kantor. Dia ingin sekali menjadi senior—tapi, walau begitu, posisi Luhan sudah jadi Hero loh. Padahal Sehun duluan yang duluan bekerja disini. Luhan terlatih banget. Aku saja yang sama seperti Sehun belum tentu sesabar Luhan."
"Yak! Jangan sebar informasi orang!" Protes Luhan, dirinya sedang fokus menyetir dikala itu.
Baekhyun terkikik, "Jadi, sabar-sabarlah dengan Luhan yang cerewet ini. Ngomong-ngomong, ada yang ingin kamu tanyakan, Jongin?"
"A-anu, kita mau pergi kemana?"
"Uhm, kita akan pergi ke rumah client. Semoga saja berhasil."
"Aku masih tidak mengerti apa yang harus dikerjakan." Ucap Jongin pelan.
"Kita akan membuat orang sedih," Jongin segera melirik ke samping, dimana Kyungsoo duduk. Wajahnya murung. "Pekerjaan ini akan menyita habis rasa sabarmu daripada tenaga. Aku bersungguh, ini bukan pekerjaan yang dihargai." Lanjutnya tanpa melirik Jongin yang bisu, terkejut Kyungsoo bicara padanya.
"Begitu?" Respon Jongin singkat. Kyungsoo hanya mengangguk, dipeluklah kedua kakinya dijok mobil. Kalau posisinya begitu, Kyungsoo semakin terlihat seperti anak kecil. Gemas.
"Ngomong-ngomong, namamu terlihat seperti nama dinasti zaman dulu," Kritik Luhan ketus. Baekhyun terlihat greget parah sama Luhan karena ucapannya yang sembarangan, ia memukul pelan bahu Luhan, menyuruh Luhan untuk berhenti bicara.
Sambil membelokan stirnya, Luhan memerhatikan Jongin lewat spion tengah mobil. "Nametagmu belum ada kan? Setiap anggota kantor juga bisa punya nickname sendiri. Coba ganti namamu." Sarannya.
Jongin menggigit bibirnya, "Contohnya?"
"Kai," Bisik Kyungsoo pelan.
"Kai." Seakan mengerti maksud Kyungsoo, Jongin menyebutkan nama itu lantang. Kyungsoo terkejut dengan ucapan Jongin yang tegas.
"Kai? Apanya?" Tanya Luhan dan Baekhyun kompak.
"Aku punya nickname. Namaku sekarang adalah Kai." Jongin tersenyum melihat Kyungsoo yang diam-diam mengintip dari sela-sela tangannya.
"Iya, Kai." Ulangnya bangga.
.
.
.
"Selamat malam, Yuto Ahjussi dan Nayeon Ahjumma." Sapa Luhan hangat. Sungguh, Jongin bersumpah demi apapun—Luhan sungguh berbeda daripada dikantor. Ini mengerikan. Luhan yang sekarang mirip dengan Golden Puppy yang baru saja diberi makan. Matanya berbinar-berbinar, bibirnya melengkung sekali- aduh, Luhan, serem.
"Kita disini melakukan negoisasi dengan client. Jadi, kita harus hati-hati." Jelas Kyungsoo, dibalas anggukan dari Jongin.
Jongin dan Kyungsoo diam didepan mobil dan juga dibelakang gerbang rumah keluarga Pak Yuto. Mereka berdua memandangi Luhan dan Baekhyun yang sedang bekerja dengan seksama.
"Selamat malam," Jawab pria dan wanita paruh baya itu. Mereka tersenyum melihat Luhan datang kembali.
Luhan tersenyum manis, "Bagaimana keadaan Paul hari ini?" Tanyanya sopan.
"Paul hari ini cerah sekali. Kami senang melihatnya." Ujar Nayeon Ahjumma.
"Syukurlah." Kata Baekhyun ikut tersenyum. "Dimana paul sekarang?" Tanya Baekhyun, sedikit mengintip ke pintu rumah yang terbuka.
Nayeon Ahjumma pun ikut mengintip ke dalam, dan tersenyum mendapati Paul—Giftia yang berparas tampan dan jangkung sedang berjalan keluar rumah. "Ah, halo Luhan, Baekhyun." Sapa Paul santai.
"Halo, sudah berpamitan dengan orang tuamu?"
Paul tersenyum tipis, "Belum." Katanya, mendekati Nayeon Ahjumma dan Yuto Ahjussi yang sudah berlinang air mata. Paul memeluk kedua orang tuanya erat. "Jaga dirimu baik-baik, bu, ayah. Aku akan selalu mengenang kalian, dihati."
"Kami akan selalu menanggapmu sebagai anak kami, Paul."
Pemandangan ini membuat Jongin kembali bisu. Mimiknya berubah jadi sedih.
Setelah perpisahan itu, Luhan mengajak Paul untuk duduk disebuah tabung yang sudah disiapkan dibagasi mobil. Paul tersenyum melihat Luhan yang tampak ragu-ragu memasangkan belt untuk dirinya, "Tidak apa. Pasangkan saja." Suruh Paul lembut. Luhan mengangguk serius lalu memasangkan belt tersebut.
Sebelum akhirnya terpejam, Paul melambaikan tangannya sebagai ucapan perpisahan. Secara otomatis—ketika belt terpasang, sang Giftia langsugn terpejam dan berhenti beroperasi. Mereka diam seperti robot. Luhan menghela nafas sebelum menutup tabung besi itu dan memasukannya ke dalam bagasi khusus.
Disisi lain, Baekhyun sedang menunggu Nayeon Ahjumma untuk menandatangani kontrak yang sudah dijanjikan. Tangannya bergetar hebat, air matanya tidak dapat berhenti mengalir. "Oh Tuhan, maafkan aku." Katanya dengan tawa yang terpaksa.
"Tanda tangan saja s-susah, ma-maafkan aku." Nayeon Ahjumma terisak. "Aku belum bisa melepas anak baik seperti dia. Aku belum ikhlas." Jelasnya, langsung menandatangi kertas yang disodorkan Baekhyun.
Baekhyun tersenyum, "Terima kasih sudah mau menandatangani kontraknya, Nayeon ahjumma dan Yuto Ahjussi. Terima kasih selama sudah mempercayai kami."
Yuto Ahjussi mengangguk sebagai jawaban, tangannya masih mengelus bahu sang istri. Mencoba menenangkan.
"Kalau begitu, kami pergi dulu. Terima kasih atas kerja samanya!" Baekhyun, Luhan, Kai dan Kyungsoo membungkuk terima kasih dan didapati lambaian tangan.
.
.
Setelah kejadian itu, Jongin—maksudnya Kai lebih banyak diam dimobil. Kyungsoo sempat melirik pria itu, wajahnya beda dari sebelumnya. Mungkin Kai belum terbiasa dengan situasi kacau yang tadi terjadi.
"Kejam." Ucap Jongin, matanya menerawang pemandangan diluar.
TBC
Note: Makasih banyaak yang udah review, aku seneng banget ^^
yang udah follow, favs my story juga, semoga nggak mengecewakan dan ga bikin bingung ya T_T
aku mengusahakan supaya alurnya tidak terlalu cepat hihi
Jangan lupa review! supaya fanfic gaje ini tetep continue T_T)/
salam kecuuuup ^o^
