N: Makasih buat kalian yang udah review :3
Mungkin aku balas di chapter berikutnya yaa~
maaf kalau ceritanya bosen sampe bikin ngantuk karena sempet buntu :'3
.

.

.

.

Happy reading!

"Kejam." Ucap Jongin, matanya menerawang pemandangan diluar.

"Iya, memang. Tuntutan pekerjaan memang kejam." Tutur Luhan membalas.

"Jadi pekerjaan yang dimaksud itu mengambil Giftia yang waktu kontraknya sudah habis? Memang ada apa?"

"Sebelum memesan, client harus tahu kapan batasan hidup Giftia yang dipesan. Setelah dipesan dan masa kontrak/hidupnya habis—Giftia harus segera dibawa kembali oleh perusahaan, dengan metode kontrak yang harus ditanda tangani terlebih dahulu. Pekerjaan pengambilan Giftia ini disebut Terminal Pelayanan." Luhan menjelaskan—karena sebenarnya tidak tega.

Jongin segera mengubah posisi duduknya menjadi tegak, terpancar aura kemarahannya. "Kenapa? Mereka tampak baik-baik saja. Bahkan Nayeon Ahjumma bilang, beliau belum ikhlas melepas Paul."

"Sudah aku bilang, Giftia itu ada batasan waktu hidup. Mereka bisa hidup sekitar 81.000 jam, sekitar 9 tahun."

"Kalau tidak diambil segera, apa yang akan terjadi?"

"Mereka akan berubah menjadi Giftia tipe jahat. Mereka akan merusak apapun, tidak peduli apakah yang diserang Giftia atau manusia. Setting yang kami buat seakan sudah macet dan tidak akan berfungsi. Mereka akan hilang kendali. Mereka berbahaya Kai, kalau dibiarkan." Kai diam mendengarnya.

Seakan tahu Kai ingin penjelasan lebih lanjut, Luhan pun melanjutkan. "Setelah pengambilan kontrak tadi, Giftia secara otomatis lupa ingatan. Mereka tidak akan punya ingatan sama sekali. Kalau ingatan mereka tidak dihapus, program pemulihan akan berat dan membuat Giftia susah dipulihkan. Karena—ya, kamu tau, banyak orang yang inign memiliki Giftia kami yang terbatas. Kami harus menginstall ulang Giftia agar orang lain bisa menggunakannya kembali."

Kai berdecak, "Kejam." Katanya, tidak mau banyak bicara lagi. Karena Kyungsoo yang tidak bicara lagi, Kai menoleh ke Kyungsoo. Gadis itu masih diam dan tidak mau menunjukan apa yang ia rasakan.


dan Jongin tidak tidur semalaman itu. Tubuhnya yang diselimuti kain tebal hingga sudut bibirnya membuat ia terlihat seperti ulat yang akan selamanya diam disitu sebelum menjadi kupu-kupu.

Sial, Jongin butuh Americano panas supaya matanya bisa menutup sempurna dan tubuhnya bisa istirahat dengan tenang. Tapi bukan hanya tubuhnya yang tidak tenang malam ini, otaknya pun mengalami hal yang sama. Mereka tidak tenang dan tidak bisa fokus untuk membuat si Jongin—yang notabene manusia setengah kerbau, tukang tidur, jadi susah tidur.

Jongin melirik ke jam dinding yang ada dikamarnya, waktu sudah menunjukan jam 1 pagi dan dia belum tidur sama sekali. Setelah kejadian pengambilan Giftia dan penjelasan Luhan kemarin, Jongin terus memikirkan sesuatu.

Bagaimana rasanya jika hidup seseorang sudah ditentukan? Bagaimana perasaan mereka?

Lelaki itu merinding memikirkan kalimat tadi.

Dan pada akhirnya ia memilih keluar dari zona nyamannya, ia duduk dipinggir kasur. Matanya sayu menatap keluar jendela. "Kyungsoo sedang apa ya?" Gumam Jongin. Ia banyak berpikir setelah hari pertama kerjanya itu. Masih banyak yang membuatnya bingung.

Dengan rambutnya yang berantakan, Jongin melangkah keluar kamar—gerakan kakinya tidak teratur, mungkin dia sakit kepala karena belum tidur. Dia menyeret kakinya turun dari tangga dan berakhir di dapur. Pria berkulit tan itu agak linglung mencari sekotak bubuk Americano yang ia sukai, tangannya meraba-raba rak bumbu yang ada didapur karena ruangannya gelap, lampunya dimatikan.

Dahinya mengerut, dapurnya terasa berbeda. Biasanya Victoria tidak menggabungkan bumbu dapur dan bubuk kopi—dan, hey, sejak kapan kakak perempuannya punya mesin dapur yang canggih?

Jongin menyipitkan matanya untuk memfokuskan apa yang ia lihat. Si pria linglung menggaruk tekuknya malas, "Noona pasti gila. Berapa kali dia harus cicilan beli alat secanggih ini." Komentar Jongin. Tanpa banyak pikir lagi akhirnya ia membuat Americano—wajahnya yang kusut, rambut berantakan dan mata yang belum tentu terbuka sepenuhnya itu pasti bisa membuat orang mengiranya dia orang gila.

Sembari menggaruk bokongnya, Jongin membuat Americano dimana orang-orang masih terlelap. Hanya suara mesin yang menemani keheningan tengah malam Jongin dan Americanonya.

"Jongin?"

Lelaki yang dipanggil namanya menyahut, "Ya?"

"Apa yang kamu lakukan?"

"Tentu saja membuat kopi, noon," Jongin terkekeh mendengar kakak perempuannya yang terdengar bingung. "Kenapa? Kau mau?" Tawar Jongin.

Sunyi sejenak, tapi Jongin masih melanjutkan pekerjaannya. Namun terdengar ada helaan nafas dibelakangnya, "Aku kurang suka kopi."

"Ha?" Jongin terkekeh sembari menambahkan creamer ke kopinya, "Sejak kapan? Kamu kan coffee addict." Lanjut Jongin—lelaki itu hampir saja menghancurkan mesin didepannya karena pengakuan kakak perempuannya yang aneh. Sejak kapan Victoria kurang suka kopi? Jelas wanita itu sangat menyukainya. Setiap pagi pasti ada vanilla latte di meja makan, pasti ada victoria yang duduk tenang disampingnya.

Jongin membalikan tubuhnya dan bersadar dipantry, dia tersenyum sambil menyeruput kopi yang masih panas-panasnya itu. Matanya melirik ke depan, pandangan masih sedikit buram. Ia menyipitkan matanya untuk melihat objek yang ada didepannya ini—agak jauh, sekitar 3meter dari posisi ia sekarang.

Postur itu kecil—tidak, mungil. Rambut hitamnya di ikat kuda,

"Wa—wait," Jongin sedikit memajukan kepala berusaha menangkap objek yang sama sekali bukan postur kakak perempuannya.

Perempuan tadi masih menatap dirinya dengan wajah datar dan entah kenapa Jongin risih. Dihadapannya ada perempuan mungil memakai kemeja putih kebesaran. Ck, apa jongin sedang mimpi? Tak pikir banyak, Jongin menyeruput lagi Americanonya santai.

"Sepertinya aku butuh aspirin." Ucap Jongin seraya memijat kepalanya. Satu tangannya memegang cangkir kopi dan satu lagi memijat kepala—berusaha menghilangkan rasa sakit, pusing yang dia rasakan sekarang.

"Kyungsoo," Ucap perempuan disebrang.

"Ha?" Jongin menunjukan mimik heran. Alih-alih memastikan apa yang terjadi. Dia meletakan cangkir kopinya kemudian berjalan mendekati perempuan itu.

"Kyungsoo." Ulangnya.

Dan kedua bola mata Jongin benar-benar terbuka. Tubuhnya seperti disentak benda berat sampai akhirnya ia berdiri didepan sosok mungil tadi, yang mengulang namanya, atau mungkin memperjelas sesuatu. Jongin benar-benar ada dihadapan Kyungsoo yang mungil itu, perempuan yang menangis di lift, perempuan yang kini jadi patner kerjanya untuk mengambil Giftia yang kontraknya sudah habis—dia Kyungsoo.

Ya Tuhan, matamu. Jongin membatin. Ia tidak bisa berhenti meneliti apa yang ada diwajah Kyungsoo. Pesona apa yang perusahaan ciptakan sampai Kyungsoo bisa sesempurna ini? Lihat, matanya bulat sempurna—dan, dan, Oh God, didalam matanya Jongin bisa melihat ada Galaxy Milky Way yang cantik dan indah. Siapa yang tidak akan bosan kalau memandangi gadis kecil bernama Kyungsoo? Jongin orangnya.

Hidung kecilnya menambah kesan imut, itu yang sekarang Jongin sedang pelajari. Bibir yang tebal juga menambah aksen keimutan Kyungsoo yang bisa membuat Jongin muntah kupu-kupu. Struktur rahang, wajah—semua mungil. Persetan dengan Giftia, detak jantung Jongin tidak bisa beraturan.

Tekanan yang dirasakan tidak seirama. Jantungnya terlalu cepat untuk berpacu. Sampai-sampai rasa deg-degan itu terasa keluar, dadanya terasa agak sakit.

Satu manusia dan satu Giftia. Sama-sama punya nyawa dan perasaan. Pagi yang sunyi masih menemani mereka hingga lamunan Jongin terbangun, "Maaf." Katanya, melangkah mundur dan tiba-tiba tubuhnya memendek—dan akhirnya jongkok. Satu tangan kekarnya ia gunakan untuk memahami Jantung yang sedang berpacu itu. Berusaha menenangkan sambil memegang dadanya.

"Jongin tidak apa-apa?" Tanya Kyungsoo, raut wajahnya terlihat khawatir. Gadis itu berjalan mendekati Jongin yang masih jongkok. Lalu, ia memilih ikut berjongkok dihadapan Jongin. Alhasil terlihat jelas perbedaan ukuran tubuh dirinya dan lelaki itu. Kyungsoo bersumpah, Jongin lebih baik bekerja sebagai model daripada harus beremosi-ria disini, iya kan?

"Tak apa." Jawab Jongin pelan, hampir seperti bisikan. Jongin mengambil jawabannya agak lama—siapa yang tidak apa-apa kalau jantungnya mau keluar dari tempatnya. Damnit.

"Selamat tidur."

"Selamat ti—" Jongin berhenti bicara saat kepalanya tidak lagi mengumpat, wajahnya benar-benar dekat dengan Kyungsoo. Ia pikir Kyungsoo udah pergi, ternyata- tidak. Kyungsoo ada dihadapannya sekarang.

Kyungsoo tersenyum tipis, "Besok pagi sudah harus bekerja." Kemudian Kyungsoo bangkit dan berjalan ke sudut ruangan. Ada pintu berwarna cream yang akhirnya Kyungsoo masuki.

Suara pintu tertutup akhirnya membuat Jongin sadar.

.

.

.

.

Kalau Jongin bukan tidur dirumahnya.


"Ck," Luhan berdecak tidak suka. "Si wajah mesum benar-benar seperti kerbau!" Olok Luhan kesal. Dia membanting cangkir tehnya seperti kesetanan, matanya melirik keatas dimana Jongin tidur.

Dan disampingnya ada Kyungsoo yang nyegir, "Luhan unnie, jangan marah-marah." Pinta Kyungsoo halus. Mendengar ucapan Kyungsoo, wanita judes yang emosi pun mulai meleleh. Berdehem dan mulai menyeruput kembali teh paginya, Luhan memandangi wajah polos Kyungsoo.

"Dia nggak aneh-aneh sama kamu kan, Soo? Wajah dia mesum banget," Ungkap Luhan tidak peduli apakah Jongin akan mendengarkannya atau tidak. "Apalagi kamu itu polos, Soo. Kamu jangan terbodohi sama manusia mesum mirip Jongin, kay?" Kata Luhan sambil mengelus puncak rambut Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk seperti anjing yang sedang dilatih, "Eung!"

Dan pagi itu menunjukan pukul 8 pagi. Kyungsoo dan Luhan sudah berseragam rapi dan sedang bercengkrama di meja makan. Sementara si kerbau—Jongin atau Kai masih bergelut didalam mimpi. Sudah berapa kali Luhan ingin mematahkan si hitam tapi Kyungsoo menghentikannya—katanya "Jongin masih ngantuk. Dia tidur jam tiga pagi." Begitu kata Kyungsoo.

Laki-laki ini payah, menurut Luhan. Biasanya manusia tipe Jongin yang mudah shock akan sesuatu membuat kesan Jongin nggak gentle sama sekali. Bisa dilihat juga karakter Jongin yang sekarang, si pemalas.

"Huft." Luhan manyun. "Aku sebenarnya nggak setuju sama pendapat Xiumin kemarin, Soo. Masalahnya Jongin itu laki-laki dan kamu perempuan. Tapi, dia keras kepala sekali—akhirnya lihat sendiri kan? Kamu jadi seapartemen sama Jongin."

"Lulu juga perempuan kan? Sehun juga begitu, bukan?"

Seperti menjadi target sasaran empuk, wajah Luhan mendadak merah padam. Wanita berumur 20tahun itu tidak lagi menatap wajah polos Kyungsoo. "N—no."

Kyungsoo tersenyum. Posisi sedang duduk dan kaki pendeknya diayun-ayunkan karena tidak bisa menyentuh lantai membuat dirinya seperti anak kecil.

"Hooaaam," Terdengar suara berat dari seorang Jongin. Luhan dan Kyungsoo langsung mengamati objek yang sedang berjalan menuruni tangga—oh Tuhan, Jongin jorok sekali. Satu tangannya ia pakai untuk menggaruk bokong.

"Eh?" Jongin terhenti saat membuka matanya. Ia bisa melihat wajah judes Luhan dan wajah polos Kyungsoo yang sedang duduk dimeja makan dekat jendela. "Se—selamat pagi." Sapanya ragu-ragu.

"Jongin." Panggil Luhan, ucapannya sedingin es batu.

"I-iya?"

"Duduk disini." Perintah Luhan tidak neko-neko. Telunjuknya mengarahkan Jongin duduk disebrang bangkunya dan ajaib, Jongin menurut.

Jongin cengar-cengir melihat Luhan sudah tersulut api pagi-pagi begini.

"To the point deh. Aku dengar dari Xiumin kalau kamu menetap di apartemen Kyungsoo—Uh, aku tidak setuju."

Jongin tersenyum kikuk, "Aku juga awalnya begitu—"

"Dengar ya. Apartemen ini khusus pekerja di SNR (Seoul National R) dan kamu pasti tahu itu kan. Apartemenku ada disebelah, jadi—" Tiba-tiba dari tubuh Luhan keluar aura hitam. Menyeramkan. "Jangan macam-macam sama Kyungsoo!"

"Anu—tenang saja. Waktu sehabis pulang dari rumah Nayeon Ahjumma, Xiumin menghampiriku dan bilang setiap patner harus tinggal bersama di apartemen khusus. Dan aku tahu ini kan hanya sekedar pekerjaan. Lagipula aku punya kakak perempuan, aku menghargai perempuan." Jelas Jongin percaya diri, duduknya pun sangat tegak.

Luhan menyipitkan kedua matanya, masih belum percaya. "Bohong. Memang orang tuamu ke—"

"Permisi, aku mau ke toilet dulu." Potong Kyungsoo. Ia segera berlari ke toilet disamping dapur.

Luhan menghela nafas, "Memangnya orang tuamu kemana? Kerja diluar kota?" Tanya Luhan, jari-jarinya sibuk memainkan cangkir dimeja.

"Bunuh diri."

Luhan diam. Jari-jarinya tidak lagi bermain. Matanya lah yang sekarang sedang melihat Jongin yang masih saja tersenyum tipis. Luhan sepertinya salah bertanya. Jadi, wanita bawel itu tidak banyak bicara. Hanya suara jam dinding yang berbunyi.

"Santai saja," Luhan mendongak mendengar kalimat Jongin yang terkesan ringan. "Orang tuaku meninggal saat aku masih kecil. Aku sudah menganggapnya berlalu." Jongin mencoba mencairkan suasana.

"Omong-omong, Kyungsoo itu robot kan? Sama saja seperti Giftia?"

"Uhm, ya begitulah."

"Aku pernah melihatnya di lift—" Jongin terdiam, matanya memilih mengamati pemandangan diluar. "Dia terlihat sangat terpukul. Bahkan dia menangis. Aku bisa merasakan hawa yang sama saat orang tuaku bunuh diri—aku tahu ini berlebihan, tapi pernahkah kau, merasakan kalau Kyungsoo—kesepian?" Jongin menurunkan volume suaranya saat bicara tadi. Ia tampak berhati-hati, takut Kyungsoo mendengarnya.

"Kamu khawatir?"

"Eum—mungkin."

Luhan menumpu kepalanya ditelapak tangan. Ia menunjukan ekspresi yang berbeda dari biasanya pagi itu.

.

.


Kim Jongin atau yang nicknamenya sudah berubah jadi Kai, seorang pria berumur 18tahun dan bekerja di Seoul National R, dimana perusahaan melayani pengiriman Giftia dan adanya pengambilan Giftia atau yang disebut Terminal Pelayanan (Service). Jongin dan patner kerjanya, Kyungsoo, melayani Terminal Pelayanan di regional selatan, dimana kantor ini berada.

Jongin lebih sering dipanggil pemula daripada Jongin/Kai. Persetan dengan nickname sebagus apapun, dia tetap dipanggil pemula. Wajar, Jongin sendiri masih belum paham dengan pekerjaan ini. Lagipula melakukan Terminal Pelayanan baru sekali dilakukan, itu pun di bimbing Luhan dan Baekhyun.

Tapi, Jongin jarang melihat Chanyeol dan Sehun. Begitu juga dengan Junmyeon—yang sering dikantor hanya Luhan, Kyungsoo, Xiumin, Lay—lalu siapa lagi? Dirinya mungkin. Kalau di ingat-ingat Sehun itu seorang defender dan soal Chanyeol, Jongin belum tahu.

"Yoohoo~" Tiba-tiba ada suara yang tidak asing ditelinga Jongin, menggema dikantor. Lama-kelamaan suara itu mendekat dan tadah! Ada Sehun yang memakai baju santai dikantor. Jangan lupa soal Junmyeon yang ada disebelahnya.

"Astaga, apa aku terlalu sering datang ke rapat?" Junmyeon mengeluh tidak jelas. Wajahnya kelihatan lesu, "Bisulku kambuh lagi."

"Woa, tak ku sangka, bisul pun mau menempel di bokongmu." Ucap Sehun sambil tertawa kencang.

"Bokongmu, bokongmu." Sehun pun berhenti tertawa dan melirik pelan ke samping. Ada Luhan yang sedang berapi-api, tapi wajahnya sedang tersenyum—entah ada apa dibalik senyum maut itu. "Darimana saja kamu, Oh Sehun?" Tanya Luhan, tangannya mengelus pipi Sehun penuh kasih sayang.

"Ah, kamu pasti tahu, Luluku sayang. Biasa deh, bisnis wisata atau kerja sampingan."

Senyum Luhan terus melebar, "Oh, good."

"Kenapa? Kamu kangen aku?" Sehun mengerling nakal.

"Cih," Luhan mengambangkan kedua lubang hidung mungilnya. Wajahnya berubah masam, aura hitamnya muncul lagi. "Jadi, maksudmu, bisnis wisata itu main ke rumah cewek?"

"Ya ampun, Lulu. Kamu khawatir sekali ya sama si tampan ini?"

"What the—"

"Oi, Oi. Karyawan baru yang disana." Teriak Sehun,mendapati Jongin yang sedang terkejut dengan keakraban Sehun dan Luhan.

Matanya sudah tak melotot lagi ketika diteriaki, "Kim Jongin imnida!" Teriaknya lantang kemudian membungkuk sopan.

"Nice to meet you." Balas Sehun santai, tangannya melambai-lambai.

"Sehun, jangan terlalu santai begitu. Urusi dulu kekasihmu yang sedang mengamuk." Sindir Baekhyun tertawa.

"Aku bukan kekasihnya!" Luhan menolak habis-habisan. Ia pun mulai geram dengan Sehun, "Jangan seenaknya meninggalkan pekerjaan! Aku jadi harus melakukan terminal sendirian. Apa ini perbudakkan?" Protes Luhan didepan pria kurus itu.

"Jangan marah. Kamu kelihatan lucu kalau marah." Puji Sehun. Tangannya menarik Luhan keluar dari kantor—sepertinya untuk membuat patnernya itu tenang.

Kembali ke dalam kantor, suasana agak risih karena Junmyeon yang terus-menerus mengeluh karena bisul. So gross, right?

"Kyungsoo-ya, Kyungsoo-ya," Panggil Junmyeon, memulai aktingnya. "Bisa buatkan aku teh? badanku pegal sekali." Kyungsoo mengangguk sebagai persetujuan kemudian melangkah keluar dari kantor.

Jongin memandangi punggung Kyungsoo dalam diam. Kemudian ia tersadar, "Dinametag Kyungsoo tidak tercatat position. Aku pun begitu," Ungkap Jongin sambil memerhatikan nametag para pekerja.

Baekhyun mendongak, "Ah, iya. Sepertinya Luhan terlalu sibuk sampai lupa memberikan position padamu." Wanita kecil itu kemudian berdiri berjalan ke rak berlaci. Tangannya mencari-cari sesuatu, setelahnya ia mendekati Jongin sambil membawa nametag.

"Ini, pasang disebelah kanan dada." Suruh Baekhyun, menyodorkan nametag yang sudah di laminating.

Jongin menurut, ia memasang nametag tersebut. Matanya menelurusi setiap kata yang ada disana. "Aku? Spotter?" Tanyanya sambil melihat Baekhyun, meminta jawaban.

"Hm, ya. Kyungsoo sebagai Defender, dulu dia spotter juga kok,"

"Apa gunanya position?"

Baekhyun terlihat menggeledah map-map kertas dimeja kerjanya kemudian menyodorkan secarik kertas, "Maaf, aku malas membahasnya. Kamu bisa lihat disitu apa maksud position."

"Oh, tak apa. Makasih."

Jongin pun membaca secara baik-baik apa yang ada dikertas.

(Apa yang ada dikertas bakal dijelasin dibawah ini wkwkw. yang suka game MMORPG pasti ngakak kalau baca wkwkwk)

Position: Posisi untuk anggota yang bekerja.

· Hero

Pemimpin atau anggota yang tingkatannya paling atas karena sangat paham soal perusahaan dan terminal service. Pekerjaannya bisa mengatur job karyawan lain dan melakukan terminal service.

· Defender

Pelindung atau anggota yang tahan banting ketika client sulit menandatangani kontrak dengan cara yang tidak di inginkan.

· DPS

Anggota yang bekerja untuk meminta client memberikan Giftia setelah menandatangani kontrak.

· Spotter

Bisa dibilang sebagai support, biasanya diam dibelakang ketika terminal service dilakukan, biasanya membantu jika ada kelebihan masalah atau Anggota yang bekerja dikantor – bisa juga mencatat profile client dan giftianya.

Setelah membaca selembar kertas itu, Jongin menggaruk tekuknya. Tidak disangka perusahaan dimana ia bekerja sekarang sangat detail. Pantas pekerjaan ini terkenal sekali.

"Jonginie. Noona jadi sendirian dirumah. Maka itulah, kalau kamu kasihan sama aku, bekerja lah yang benar. Jangan kecewakan aku, okay?"

Jongin hampir saja menangis mengingat ucapan Victoria ditelfon—saat Jongin memberitahu kalau dia harus menetap di apartemen khusus. Alasann lainnya juga karena Jongin tidak tinggal dikota, jarak dari rumahnya ke Seoul bisa memakan waktu—dan, ya begitu lah. Jongin sempat cemas dengan keputusannya, dia takut satu-satunya keluarga yang ia punya bisa saja celaka. Tapi mendengar Victoria yang mendukung dirinya, Jongin jadi semangat.

"Oi, Oi, Oi!" Luhan berteriak dari pintu kantor. Tangannya membawa lembaran kertas. Wajahnya masih saja judes- pikir Jongin. "Hey, dinasti zaman purba."

"Siapa?" Jongin linglung.

"Kau, bodoh." Luhan memutar kedua bola matanya. "Kalau Kyungsoo sudah kesini, segera bergegaslah ke distrik daerah Gangnam. Ada client yang harus kalian urusi."

"Hanya kami berdua?"

Luhan mengerang, "Berhenti lah bertanya dan lakukan saja. Adanya aku atau tidak kamu bisa melihatnya nanti."

"Ya ampun, Lulu. Kamu galak sekali," Timpal Yixing sambil tertawa manis, dua buah lesung pipinya menambah kesan manis untuk Yixing.

"Aku nggak galak, tapi si hitam ini yang sulit di urusi." Ucap Luhan, menatap sinis Jongin yang tersenyum canggung.

"Apa aku sangat rumit untuk diurus?" Tanya Jongin membuat hening kantor.

"Bu-" Luhan salah tingkah. Apa dia keterlaluan?

"Aku merasa tidak enak," Ungkapnya sambil tersenyum tipis. "Sepertinya pekerjaan ini tidak cocok untukku."

"ada Kim Jongin? Kita butuh bicara."

Suara seseorang dari pintu kantor membuat suasana dikantor lebih hening.

Keringat dingin meluncur dari dahi Jongin.

A/N: Halo, aku udah update nih. banyak yang bingung kan? sekarang udah dijelasin di chapter ini ^^

Aku agak bingung bikin kata-katanya jadi hasilnya gini deh maaf mengecewakan :3

Karena disini ceritanya emang Kyungsoo nya nggak banyak bicara , jadi aku jelasin pekerjaannya dulu baru ke KaiSoo:3

Maaf kalau terburu-buru, semoga kalian suka dan jangan lupa REVIEW. thanks! ^^