Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae [HaeHyuk]

Genre: Romance

Rate: T

Length: 2, 057 words [Chaptered]

WARNING! YAOI/Shonen-ai/BL, OOC, AU, EYD Failure, typo(s)-miss typo, GS!Umma, MPREG.


Satu


Do you wanna build a snowman?

Come on let's go and play~!

I never see you anymore

Come out the door—

Hoam~

Seorang pemuda yang tengah bergelung dengan selimutnya diatas kasur dengan hanya mengenakan boxer bergambar nemo meraih ponselnya yang berdering dengan keras sambil menguap, mengangkat panggilan yang masuk tanpa membuka matanya.

Pik!

"Yeoboseyo?"

"Jemput aku dirumah. Sekarang."

Donghae, pemuda bercelana nemo itu menjauhkan ponselnya dari telinganya demi melihat ID si penelpon yang baru saja memerintahnya itu. Damned Wifey. Ah, tentu saja. Siapa lagi yang berani menelpon dan memerintahnya seperti itu? Hanya Hyukjae, berandal cantik yang tengah mengandung anaknya dan sebentar lagi akan menjadi istrinya. Matanya kembali terpejam. Ia menggulingkan tubuhnya kesana kemari, mencari posisi yang nyaman untuk menelpon.

"Ne, Hyuk? Ada apa?"

Donghae kembali bertanya. Nampaknya ia belum benar-benar terbangun saat Hyukjae memerintahnya tadi. Mungkin sekali perintah lagi akan membuat pria itu terbangun."Kubilang, jemput aku dirumah sekarang juga," Ulangnya.

"Oh, jem—APA? Ini masih jam tiga pagi, Hyuk, yang benar saja!" Donghae membalikkan tubuhnya menjadi telentang kemudian meraih gulingnya dan memeluknya erat.

"Ini sudah jam delapan pagi, bodoh. Buka matamu." Perkataan Hyukjae membuat Donghae refleks membuka matanya. Benar. Cahaya matahari sudah bersinar dari balik gorden kamarnya yang tertutup. Kenapa tak ada yang membangunkannya? Lagipula, kenapa juga alarm sialan miliknya tak menyala?

"Astaga—aku terlambat! Aku harus sekolah!" Teriak Donghae sebelum melempar ponselnya tanpa mematikan telepon dari Hyukjae. Ia kemudian menurunkan boxernya dan segera berlari ke kamar mandi.

"Donghae? Ya!—Hey!—Ini hari minggu!"

Suara teriakan yang berasal dari ponselnya membuat Donghae menghentikan langkahnya. Ia melihat kalender digital yang tergeletak manis diatas meja di sisi tempat tidurnya, kemudian menepuk dahinya dengan keras. Ia lalu berjalan menuju kearah kasurnya dengan hanya mengenakan celana dalam dan kembali berbicara pada Hyukjae di telepon, "Maaf, sayang, aku lupa,"Lalu tersenyum bodoh saat dirinya mendengar suara dengusan Hyukjae dari seberang line.

"Ah, ada apa kau memintaku menjemputmu? Kau ingin berkencan?"Tanyanya, mengalihkan pembicaraan tak penting mereka lalu menyalakan televisi. Menonton kartun spongebob yang tak pernah bosan ia tonton berulangkali. "Kau benar-benar ingin mati, huh, Donghae?" Suara Hyukjae lagi-lagi membuat Donghae tersenyum. Baginya, semenyeramkan apapun Hyukjae, tetap saja ia suka. Apalagi pria itu kini tengah mengandung anaknya. Makin bertambah saja manisnya.

"Galak sekali," Cibir Donghae. Sesekali ia tertawa melihat Spongebob yang terus menerus mengikuti kemanapun Squidward pergi meskipun cumi-cumi satu itu sudah berulangkali mengusirnya. Persis seperti dirinya dan Hyukjae. "Ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu,"Balas Hyukjae. Donghae menaikkan sebelah alisnya. Tak biasanya pria itu mau membicarakan hal penting dengannya, apakah keberadaan anak mereka membuat Hyukjae pada akhirnya luluh dan menyerahkan cintanya pada Donghae?

"Sudah kuduga kau akan menyerah—Jadi, kapan kita akan menikah?" Tanya Donghae, membuat Hyukjae lagi-lagi mendengus karenanya.

"Dalam mimpimu, bocah! Aku serius, cepat datang ke toilet yang waktu itu dalam waktu 10 menit, atau aku akan—"

"Tunggu!" Donghae segera bangkit dari atas tempat tidurnya lalu dengan panik kembali berlari kearah kamar mandi, "15 menit, okay? Aku janji! Jangan macam-macam dengan kandunganmu atau aku akan memperkosamu sampai kau hamil lagi," Lalu menutup pintu kamar mandinya dari dalam. Saking terburu-burunya, ia sampai lupa bahwa ponselnya masih berada di genggaman tangannya, sehingga ia harus merelakan benda kecil itu terguyur oleh air yang mengucur dari shower.

"SIAL!"

.

Ckiiit—BRAK!

Donghae menepikan—menabrakkan—mobilnya di sisi tembok sebuah bangunan kecil yang merupakan tempat paling bersejarah baginya dan Hyukjae dengan terburu-buru, kemudian segera berlari keluar tanpa mempedulikan nasib mobilnya. Baginya, satu-satunya hal yang penting adalah kelanjutan hubungannya dengan Hyukjae. Ia bisa membeli mobil baru kapan saja. Tapi kalau Hyukjae sampai pergi dari hidupnya, ia tak akan pernah mendapatkan Hyukjae kedua, ketiga, atau Hyukjae-Hyukjae lainnya.

"Kau terlambat sepuluh detik,"Donghae menolehkan kepalanya kearah asal suara, dan langsung disambut pemandangan Hyukjae yang tengah nangkring cantik diatas motornya. Hyukjae kemudian memasukkan ponselnya kedalam celana jeans miliknya yang nyaris tak pernah dicuci—kecuali saat ia keluar dari toilet ini untuk pertama kali dengan celana penuh dengan noda sperma—dan menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

"Sejak kapan kau jadi perhatian dengan waktu?"Hyukjae memutar kedua bola matanya malas mendengar pertanyaan retoris yang bocah dihadapannya ini lontarkan. "Sejak aku menyadari bahwa hidupku selama sembilan bulan kedepan akan terasa sangat berat dan melelahkan."

Donghae mendekati Hyukjae dan meletakkan kedua tangannya disamping tubuh Hyukjae seolah memaksa Hyukjae untuk memberikan seluruh perhatiannya padanya. "Kau masih marah padaku soal itu?" Tanya Donghae dengan nada tak percaya. Ia pikir masalah diantara mereka sudah selesai. Ia pikir keputusannya untuk bertanggung jawab akan diterima dengan senang hati oleh Hyukjae. Ia pikir cintanya sudah dapat diterima oleh pria itu.

"Coba kau bayangkan," Hyukjae berkata sambil mendorong bahu Donghae dengan menggunakan kepalan tangannya, merasa tak nyaman dengan jarak yang mereka ciptakan, "Kau adalah seorang pria normal. Tiba-tiba kau diperkosa oleh seorang pria lain, bocah pula. Lalu tak lama kemudian kau mengandung anaknya. Apa harga dirimu sebagai seorang pria tak terluka?"

Donghae menghela nafas berat mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan dari Hyukjae.

"Coba sekarang kau yang bayangkan,"Ia kembali memperkecil jarak diantara mereka dengan meraih kepalan tangan Hyukjae dan menyimpannya di pundaknya. Posisi Hyukjae yang duduk di tempat yang lebih tinggi dari Donghae membuat tubuhnya condong kedepan, "Misalnya, A dan B adalah sepasang kekasih yang sama-sama pria. Mereka bercinta sepanjang hari, sepanjang malam, selama bertahun-tahun tetapi tak kunjung memiliki anak... Intinya," Tangan kiri Donghae kemudian terangkat untuk meraih pipi Hyukjae, mengelusnya dengan lembut sebelum berkata, "Kau tak akan pernah bisa melawan takdir Tuhan,"

TepatTepat saat Donghae memajukan wajahnya untuk meraup bibir Hyukjae, pria berambut merah itu meninju pipi kiri Donghae dengan tangannya yang bebas. Donghae meringis mendapat serangan tiba-tiba dari pria dihadapannya. Gila. Padahal ia sedang hamil, tetapi kelakuannya tetap tak ada manis-manisnya sama sekali.

"Wow, morning kiss darimu terasa—perih," Donghae mengelus pipi kirinya yang baru saja mendapat kecupan manis dari Hyukjae sambil tetap tersenyum. It's okay, Donghae. Kau harus membuktikan padanya bahwa kau pantas menjadi suaminya. Kau adalah laki-laki yang dia inginkan. Kau adalah ayah dari anaknya. Kalau sebuah pukulan ringan saja sudah membuatmu menyerah, bagaimana bisa kau mendapatkan hatinya?

"Donghae, dengar. Aku ini straight. Dan kuyakin kau juga straight. Iya, kan?" Donghae mengedarkan pandangannya kearah lain, menatap bangunan yang berada dibelakang mereka, mencoba mengenang semua hal yang terjadi dalam hidupnya. "Tentu saja aku straight. Kalau aku seorang gay, aku tak akan pernah mendirikan tempat seperti ini dan bisa jadi kita tak pernah bertemu," Tukasnya.

Donghae ingat saat ia mendapatkan korban pertamanya. Waktu itu tangannya benar-benar bergetar hingga korbannya yang sudah terangsang berat itulah yang menyerahkan dirinya sendiri pada Donghae. Donghae juga pernah mendapatkan korban seorang gadis yang putus asa karena tak ada seorangpun lelaki yang mau menjadi kekasihnya. Gadis itu bahkan mengancam akan bunuh diri jika Donghae tak memperkosanya. Dan Donghae bukannya tak pernah mendapatkan korban seorang wanita cantik. Berpuluh-puluh wanita cantik telah keluar-masuk toiletnya, bahkan banyak diantara mereka yang pada akhirnya kembali lagi karena merindukan Donghae. Namun tak ada seorangpun yang membuatnya jatuh cinta seperti yang Hyukjae lakukan. Dan ia memutuskan bahwa tak akan ada korban lain setelah Hyukjae. Pria itu akan menjadi yang terakhir baginya.

"Lalu kenapa kau masih mengejarku?!" Hyukjae mengerang frustasi. Ia mengacak-ngacak rambutnya, bingung dengan perkataan Donghae yang terlalu berbelit-belit. Tadi dia mengatakan bahwa ia straight, tapi ia menolak untuk berhenti mengejarnya. Itu sama saja dengan kau hamil, lalu melabrak orang yang telah menghamilimu namun kau tak ingin orang itu bertanggung jawab, kau tahu?

'Tunggu. Sepertinya aku tahu siapa orang yang dimaksud,' Batin Hyukjae, merasa mengenali orang yang berada dalam narasi author. Namun, sebelum ia sempat menyadari bahwa orang itu adalah dirinya sendiri, Donghae segera membalas perkataannya.

"Karena kau adalah orientasi seksualku sejak saat itu, Hyuk. Aku menginginkanmu. Menginginkan anak kita, dan masa depan yang telah menanti kita berdua." Perkataan puitis Donghae—yang entah ia dapatkan darimana—terdengar sangat menggelikan di telinga Hyukjae. Menikah dengan seorang pria menye-menye seperti Donghae tak pernah masuk dalam daftar mimpinya selama ini. Hyukjae tak pernah menginginkan sesuatu yang romantis. Kriteria calon istrinya hanya satu; seksi dan menggairahkan. Hyukjae rasa ia akan segera meninggalkan seluruh wanitanya demi orang yang seperti itu.

Dan orang itu jelas bukan Donghae. Kecuali dirinya kembali menjadi Donghae yang waktu itu memperkosanya—bukan berarti ia minta diperkosa lagi, hanya saja, Donghae yang waktu itu terlihat keren dan sangat mendominasi, kenapa sekarang jadi begini?

"Kita buat kesepakatan," Gumam Hyukjae. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangannya yang ia letakkan diatas kepala motor, "Kita akan menjalani sebuah hubungan rahasia selama dua bulan. Peraturannya adalah, kau tak boleh memberitahukan kehamilanku pada siapapun, terutama orangtua dan teman-temanku. Kita berdua boleh menjalin hubungan dengan orang lain, karena status kita adalah sepasang kekasih hanya jika sedang berdua. Keuntungan untukmu adalah, mungkin setelah itu aku akan berubah pikiran," Donghae bersiul pelan. Menarik. Dia akan lihat sejauh mana Hyukjae dapat bertahan dengan pendiriannya untuk tidak membalas perasaannya.

"Deal," Donghae berkata dengan mantap, membuat Hyukjae tersenyum puas.

"Tapi ingat," Pria itu kembali berkata dengan suara rendah dan hati-hati, membuatnya terdengar menakutkan meskipun Donghae tak pernah sedikitpun gentar dalam menghadapinya. "Jika orangtua dan teman-temanku sampai mengetahui kondisiku, maka salah satu peluru dalam derringerku akan menembus kepalamu." Donghae menelan ludahnya yang mendadak terasa mengganjal. Itu berarti, kalau sampai ia melanggar perjanjian itu, maka bukan hanya kehilangan Hyukjae, tapi ia juga akan kehilangan nyawanya.

"Jadi—mulai sekarang kita pacaran, kan?" Donghae bertanya demi menghilangkan hawa tak mengenakkan disekitarnya. Ia kembali meraih pipi Hyukjae, berniat untuk mengambil morning kissnya—kali ini versi nikmatnya. Hyukjae mengangguk, lalu tersenyum sok malu-malu. Mau tak mau, ia juga harus memerankan perannya sebagai seorang ibu hamil dengan baik. Toh, hanya dua bulan, dan dirinya akan terbebas dari Donghae untuk selamanya.

Donghae mendekatkan wajahnya kearah Hyukjae yang langsung memejamkan matanya, lalu meraih bibir Hyukjae dengan bibirnya. Menghisap bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan, membuat Hyukjae pada akhirnya terbuai dalam ciuman mereka. Ah, betapa Hyukjae sebenarnya merindukan bibir pria itu. Ia mulai membalas kecupan Donghae dengan kecupan lain yang tak kalah hebat, membuktikan padanya bahwa ia adalah seorang good kisser. Mereka berdua saling menyesap bibir satu sama lain, mencari posisi yang nyaman untuk diri mereka masing-masing, hingga Hyukjae mendorong tubuh Donghae dengan keras kebelakang.

"What's wrong, baby?" Tanya bocah itu bingung. Namun pertanyaannya segera terjawab saat ia melihat Hyukjae membekap mulutnya sendiri dan berlari kedalam toilet umumnya.

"HOEKKK~"

Dan suara itupun terdengar dari luar. Nampaknya, perannya sebagai ibu hamil bukan hanya sekedar akting.

Rasa mualnya benar-benar nyata!

.

Seorang wanita berusia nyaris setengah abad menghela nafas berat saat ia membuka pintu kamar anaknya. Kasur berantakan dengan bantal dan guling yang berserakan di lantai, bola-bola kertas yang berada di hampir setiap sudut ruangan, boxer bergambar nemo, baju bergambar singa, dan barang-barang bermotif kartun disney lain yang tergeletak sembarangan di atas lantai, benar-benar tipikal tuan muda childish yang jorok dan hobinya menghamburkan uang orangtua.

Wanita itu, Heechul, memasuki kamar ajaib tersebut dan memungut seluruh bantal dan guling yang berserakan. Sebenarnya tak sulit baginya untuk menyewa jasa beberapa orang pelayan untuk membersihkan kamar anaknya. Namun karena sekarang adalah hari minggu dan ia sedang tak ada kerjaan, maka ia yang menggantikan tugas para pelayan itu untuk sementara.

"Astaga, apa anak itu betah tinggal di tempat sampah seperti ini?" Gumam wanita itu sebelum mulai merapikan kasur milik anaknya. Ia menepuk dahinya saat melihat noda putih di sprei biru milik anaknya. Tak salah lagi, itu adalah noda sperma. Ia tak menyangka bahwa ternyata anaknya mesum juga. Untung saja ia tak mengetahui bahwa selama ini anaknya memiliki sebuah tempat terkutuk yang ia sebut sebagai toilet—bisa mati jantungan kalau ia sampai mengetahuinya!

Setelah mengganti sprei, merapihkan bantal dan memungut kertas yang berceceran, iapun segera mengambil keranjang untuk menyingkirkan pakaian kotor yang menumpuk. Selera anaknya memang aneh. Ia yakin bahwa anaknya adalah seorang pria yang sudah mulai dewasa, namun ia tetap mengoleksi benda-benda berbau bocah dan menumpahkan spermanya diatas sana. Iya, beberapa boxer bergambar tokoh kartun yang Heechul temukan di lantai memiliki noda yang nyaris sama. Ia tak mungkin mengidap kelainan apapun, bukan?

Heechul memungut pakaian kotor yang berceceran di lantai satu persatu dan memasukkannya kedalam keranjang. Terus, hingga keranjang yang dibawanya nyaris penuh dan sebuah benda terjatuh pada saat ia memungut celana seragam anaknya.

Puk!

Awalnya, ia berniat untuk mengabaikan benda itu karena ia pikir itu hanya sebuah kertas berisi contekan milik anaknya atau benda tak berguna lain. Namun, betapa terkejutnya ia karena ketika ia memutuskan untuk mendekatinya, ia baru menyadari bahwa benda yang ditemukannya tak lain dan tak bukan adalah sebuah—

"TEST PACK?!"

Kaget. Tentu saja. Orangtua mana yang tak kaget saat menemukan sebuah test pack di kantong celana anaknya? Saking kagetnya, Heechul sampai merasakan kepalanya berputar. Pandangannya kabur, dan akhirnya..

Bruk

Benda yang diketahui sebagai test pack itu terjatuh bersamaan dengan dirinya yang tak sadarkan diri diatas lantai kamar anaknya.

Astaga, sepertinya ini tak akan mudah.

.

TBC

.

Special thanks to:

Meonk and Deog | mamazzhyukimuach | isroie106 | vynyuk | 69912052 | Zhouhee1015 | rani. gaem. 1 | Tyahra Lau | ChientzNimea2Wind | anchofishy | Bluerissing | sarti | Haru54 | minmi arakida | hyejinpark | Neng | Anonymouss | imNari | Lee Hyuk Nara | nemonkey | rsming | haehyukkido | HAEHYUK IS REAL | MingMin | Eunfa Lee | FN | pumpkinsparkyumin | nurul. p. putri | narty2h0415 | lee ikan | cho ri rin | raera | gaem | NicKyun | NovaPolariself | Lee Haerieun | HelviHhsJjang | HaeHyuk Love | faridaanggra | sukacipokhyukkie | nit | lyndaariezz | yhajewell | shfly9 - Kim | megajewels2312 | NamXena | Keyla | hyunfujoshipper | Depi haehyuk | putri polariself | Lstories | LeeDiah | ren | fine | baby boo | BekiCoy0411

Dan 3 orang Guest yang udah review di prolog kemarin. Ini chapter pertamanya, maaf ya kalo gak sesuai sama apa yg kalian harapkan. Maaf juga kalo gue terkesan gak bertanggung jawab banget. Gue baru nyaris pulih dari masa-masa shock gue sama kehidupan SMA. Kemarin gue sempet sakit, nyaris dirawat dua kali tapi untung gak jadi. Terus kehilangan waktu dan mood nulis, semacam WB gitudeh. Sebagian besar waktu gue dihabisin diluar rumah, jadi pas nyampe rumah gue udah capek banget dan gabisa nyempetin buat nulis. Maaf banget ya.

Umm ada yang sempet mikir kalo Hyukjae seems too easy to get? Ah, gue gabakal bikin Donghae seneng secepet itu, kok. *ketawajahat* Misi gue disini kan buat bikin Donghae menderita. Jadi perjalanan dia buat ngedapetin Hyukjae masih panjang, meskipun cerita ini gak bakalan panjang-panjang. Bahahaha.

Anyway, gue mau ngucapin makasih banyak sekali lagi buat readers yang udah nunggu FF ini dan FF lain dengan sabar, dan buat yang udah review, follow, favorite, atau yang cuma baca, numpang lewat, dan yang ngefollow atau ngejadiin gue sebagai author favorite, makasih banyak ya. Tanpa kalian gue gabakal bisa nulis nih, hehe.

Jangan lupa review lagi ya^^

P.s: Gue anak baik, sumpah. Jadi jangan panggil gue author, thor, apalagi author mesum, ya, panggil nim aja kalo bingung mau panggil apa T^T