Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae [HaeHyuk]

Genre: Romance

Rate: T

Length: 1. 093 words [Chaptered]

WARNING! YAOI/Shonen-ai/BL, OOC, AU, EYD Failure, typo(s)-miss typo, GS!Umma, MPREG.


Dua


Kalau boleh dibilang, Donghae merupakan orang paling bahagia di dunia saat ini. Lihatlah dia. Sebuah senyum lebar terus terulas di bibir tipisnya, langkahnya ringan seakan ada sepasang sayap yang menopang berat tubuhnya di belakang, rambut hitamnya berkibar tertiup angin disertai sebuah efek dramatis yang membuat wajahnya bercahaya. Sorot matanya seakan meneriakkan 'Hai, namaku Donghae. Cuacanya cerah, apa kau ingin pizza?' dan bunga-bunga seakan mengikuti setiap langkah tegap tanpa bebannya kemanapun. Pemuda berusia 17 tahun itu senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian di toiletnya siang tadi.

Kejadiannya kira-kira seperti ini..

.

Flashback

.

Siang yang cukup terik setelah perjanjian yang telah mereka buat dan sepakati bersama. Donghae yang tak mau menyia-nyiakan kesempatannya untuk kembali mencicipi bibir Hyukjae yang selalu ia rindukan lantas meraup bibir Hyukjae menggunakan bibirnya, dan tersenyum dalam hati karena alih-alih melakukan perlawanan, Hyukjae justru mulai membalas ciumannya dan berusaha untuk memimpin jalannya permainan. Namun, meskipun ia mengakui bahwa Hyukjae sangat hebat dalam berciuman, ia tak akan membiarkan pria yang 2 tahun lebih tua darinya itu mendominasi dirinya. Ia mengimbangi kecupan Hyukjae dengan kecupan lain yang tak kalah hebatnya, terus seperti itu hingga ia tiba-tiba merasakan tubuhnya didorong dengan keras kebelakang.

"What's wrong, baby?" Donghae bertanya dengan raut wajah dipenuhi oleh kebingungan. Namun pertanyaannya segera terjawab ketika ia melihat Hyukjae membekap mulutnya sendiri dan berlari kedalam toilet umumnya.

"HOEKKK~"

Donghae melongo mendengar suara yang berasal dari dalam toilet. Ia tak menyangka akan menangani gejala kehamilan seorang pria untuk yang pertama kalinya di tempat ini. Namun, daripada memikirkan hal itu—ia lebih baik segera menyusul kekasihnya itu masuk, bukan?

Iya, Donghae bodoh. Tunggu apalagi. Kenapa kau malah berdiam diri disitu dengan mulut terbuka lebar dan air liur yang menetes dari dalam sana?

Tik Tok Tik Tok

Suara detik jarum jam terdengar, namun Donghae masih terdiam ditempatnya.

Ugh, Donghae—berpikirlah dengan cepat.

Donghae!

DONGHAE!

Donghae tersentak saat suara-suara alam memanggil namanya, berusaha menyadarkan dirinya yang mendadak menjadi amat-sangat-lamban. Ia segera berlari kedalam, memastikan bahwa Hyukjae baik-baik saja, dan menghela nafas lega saat dilihatnya Hyukjae tengah membersihkan bibirnya dari sisa muntahannya barusan. Ia menghampiri Hyukjae, menepuk pundak pria tersebut dan mengelusnya perlahan.

"Bagaimana rasanya?"

Donghae bertanya dengan nada setenang mungkin, ingin terlihat seperti seorang calon suami tampan yang justru membuat Hyukjae naik darah. "Kau bertanya bagaimana rasanya? Huh? Kenapa kau tak hamil saja dan kau akan tahu sendiri bagaimana rasanya." Hyukjae menggeser tubuhnya, membuat tangan Donghae tak lagi menyentuh pundaknya dan berbalik menghadap Donghae.

Buk!

Ia menendang tulang kering Donghae, membuat bocah itu mengerang kesakitan setelahnya.

"Minggir,"

Perintahnya tanpa basa-basi. Donghae yang masih berusaha menghilangkan rasa sakit di kakinya dengan menghentakkannya ke lantai hanya mengernyit, entah karena sakit atau bingung, "Demi Tuhan, Hyuk, toiletku bukan tempat kumuh yang hanya bisa dilalui oleh satu orang. Kau kenapa lagi, sih?"

Hyukjae mendengus kesal. Entah karena apa dia merasa kesal, yang jelas ia sedang benar-benar kesal. Mungkin—hanya mungkin. Si bodoh Hyukjae masih terlalu bodoh untuk menyadarinya—ia masih menikmati ciumannya dengan Donghae tadi ketika sesuatu dalam perutnya memaksanya untuk mengeluarkan isi perutnya, membuatnya tak bisa menikmati bibir milik pria itu lebih lama. Dan ia terlalu gengsi kalau harus meminta Donghae untuk melakukannya lagi.

"Memangnya siapa yang ingin dicium seperti tadi lagi, sih?!"

Teriak Hyukjae, semakin kesal karena dituduh menginginkan ciuman dari bocah itu hingga dirinya tanpa sadar meneriakkannya terlalu kencang. Donghae menatap Hyukjae, bingung, dan sedetik kemudian tersenyum. "Apa? Kau ingin—"

Hyukjae merutuki kebodohannya dalam hati.

"Aku tak berbicara padamu. Minggir, kubilang!" Ia kembali menendang kaki Donghae, membuat pemuda itu sangat ingin menangis karena terus-menerus disiksa secara tidak wajar oleh pria dihadapannya. Donghae menyingkirkan tubuhnya, membiarkan Hyukjae melewati dirinya yang masih berusaha menghilangkan rasa sakit yang berlipat ganda di kakinya. Setelah rasa sakit itu mulai mereda, iapun segera menyusul Hyukjae yang sudah keluar lagi dari toiletnya. Donghae melihat Hyukjae tengah duduk diatas motornya sambil memijat keningnya yang berdenyut. Wajahnya terlihat pucat, membuat Donghae tak tega untuk meninggalkannya sendirian di tempat ini.

"Kau sakit? Mau kuantar pulang?" Tanya Donghae, yang hanya dibalas dengan sebuah gumaman singkat oleh Hyukjae. Ia masih sibuk memijat pelipisnya ketika Donghae menarik kepalanya dan menyandarkannya di dadanya. Hyukjae sempat terkejut mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu, namun rasa sakit di kepalanya membuatnya tak bisa bertindak banyak. Mau tak mau ia menuruti kemauan Donghae, memeluk tubuhnya sendiri dan menelusupkan kepalanya ke dekapan Donghae layaknya seekor anak kucing yang tengah mencari kehangatan dari induknya. Donghae tersenyum. Kalau sedang manja begini, Hyukjae jadi terlihat sangat lucu. Ia yang biasa menghajarnya hingga babak belur kini menyamankan diri dalam pelukannya.

Ah, betapa Donghae sangat ingin menyerang wajahnya dengan ribuan kecupan saat ini.

"Kita pulang, okay? Kau harus banyak beristirahat. Nanti aku yang akan mengambil motor ini dan mengantarkannya ke rumahmu." Donghae dapat merasakan Hyukjae mengangguk dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala Hyukjae, senang melihat kekasihnya menjadi seorang penurut seperti ini.

"Tapi kalau sampai terjadi apa-apa dengan motorku, aku akan memotong kepalamu," Desis Hyukjae, pelan namun menusuk. Donghae menelan ludahnya lantas tertawa canggung. Ia menarik pergelangan tangan Hyukjae, membukakan pintu mobil untuknya dan menyuruhnya masuk sementara dirinya berlari kearah kursi kemudi.

Dan tak lama kemudian, mobil itupun melaju kearah sebuah kompleks perumahan tempat Hyukjae tinggal.

.

End of Flashback

.

Bukan hanya itu yang membuat Donghae merasa senang, namun juga sebuah kecupan terimakasih yang sempat Hyukjae daratkan di pipinya sebelum pria itu keluar dari mobilnya. Oleh karena itulah ia merasa seperti diatas awan. Hyukjae sudah berada dalam genggamannya untuk saat ini.

"Sedang bahagia, Lee Donghae?"

Donghae yang masih berada dalam mode bahagia akutnya hanya menjawab pertanyaan Heechul dengan, "Yes, mom,"

"Rasanya sangat menyenangkan, bukan?"

"Yes, Mom,"

"Bahagia karena telah menghamili anak orang, ya?"

Lagi, Heechul bertanya dan Donghae menjawab, "Yes, mom,"

Heechul melotot.

"Siapa wanita itu, Lee Donghae?!"

"Ye—?"

Ekspresi wajah Donghae berubah dalam waktu sepersekian detik. Bunga-bunga yang sedaritadi mengikutinya langsung menghilang terbawa angin, begitupun dengan cahaya surga disekitarnya. Semua berubah menjadi suram saat ia melihat Heechul berdiri dari tempat duduknya, menghampiri dirinya dengan membawa sesuatu di tangannya.

"Kau memiliki penjelasan atas ini?" Tanpa basa-basi lagi, Heechul bertanya sambil mengacungkan sebuah test pack tepat dihadapan anaknya. Kini giliran Donghae yang melotot—bukan tipe melotot seperti ingin menelan Heechul bulat-bulat karena telah mengambil test pack itu tanpa seizinnya—namun melotot disertai mulut terbuka lebar dan keringat dingin membasahi pelipisnya.

"I—Itu—" Donghae berusaha mengatakan sesuatu, namun tenggorokannya seakan tercekat. Ia benar-benar belum siap jika harus menjelaskan semuanya kepada keluarganya, terutama ibunya. Ia tahu jelas bagaimana mengerikannya ia ketika sedang marah. Rumah mereka beserta isinya bisa saja terbakar di detik itu juga.

Dan lagi, kesepakatan yang telah dibuat oleh Hyukjae—

Donghae mengusap wajahnya kasar.

Bisa-bisanya kebahagiaannya hancur secepat ia mendapatkannya.

.

TBC

.

Pertama, gue mau ngucapin selamat ulangtahun yang ke 30 buat baby. Gue punya banyak wishes yang gamungkin gue tulis semuanya disini, dan kali ini gue gak bikin bday fic karena gue (sok) sibuk banget. Jadi, sebagai gantinya, gue update fic ini dengan words seadanya (sumpah, ini dibuatnya ngebut banget karena target publishnya hari ini) jadi maaf kalo berantakan.

Gue nyadar sebagai author gue lalai banget, seenaknya aja bikin fic dan gantungin readers yang mungkin udah bosen liat permintaan maaf gue. Tapi serius, gue udah jarang megang hp yang gue pake buat nulis fic, dia bahkan nyelip dan baru gue temuin hari ini.

Anyway, tanggal 28 Januari kemarin akun ini resmi berusia 2 tahun. YAY!

Gue harap kalian bisa kasih kritik, saran dan masukan terhadap tulisan gue. Silahkan timpukin gue karena jarang update dan sekalinya update malah gajelas, tapi tolong jangan pake bahasa kasar ya. Hidup gue kan gak di FFn doang, jadi gue harap as smart readers kalian bisa mengerti. Gue bakal berusaha nulis dan gak ngecewain kalian lagi. So, jangan bosen-bosen nungguin gue ya~

Best regards,

Nim

4th April 2015.