Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae [HaeHyuk]
Genre: Romance
Rate: T
Length: 1. 957 words [Chaptered]
WARNING! YAOI/Shonen-ai/BL, OOC, AU, EYD Failure, typo(s)-miss typo, GS!Umma, MPREG.
Tiga
Bagi Hyukjae, setiap hari adalah sama. Ia berangkat ke kampus pada pukul 10, lalu selesai pukul 2 siang dan langsung menuju apartemen Kyuhyun tanpa pulang kerumahnya terlebih dahulu. Hal tersebut sudah terjadi selama setahun terakhir bagai sebuah rutinitas yang tak mungkin hindari, hanya saja kali ini tanpa motor kesayangannya. Motor besar berwarna sama dengan rambutnya hasil modifikasi yang ia beri nama Choco itu masih berada di rumah Donghae. Entah apa yang mendasari Hyukjae untuk memberinya nama Choco, tak ada juga yang mau tahu. Ada yang lebih penting dibandingkan memikirkan hal tersebut—bocah tengik itu belum menghubunginya lagi setelah kemarin siang, padahal ia memegang motor Hyukjae beserta kuncinya.
Kalau siang-siang begini, yang Hyukjae lakukan hanya numpang makan dan tidur-tiduran di depan televisi sambil menonton hingga ketiduran. Tak banyak yang dapat ia lakukan, mengingat sang pemilik rumah sedang sibuk mengerjakan tugas di kamarnya. Walaupun termasuk dalam genk motor Hyukjae, namun urusan akademis bagi Kyuhyun masih nomor satu. Hyukjae? Jangan ditanya, semua urusan tugas ia serahkan pada Kyuhyun. Beruntung, pria itu cukup baik untuk tak melempar Hyukjae dari jendela lantai 11 apartemennya. Sebagai sahabat yang baik, Kyuhyun sangat mengerti bahwa Hyukjae jauh lebih mengandalkan kekuatan otot dibandingkan otaknya.
Diatas sebuah sofa empuk, Hyukjae berbaring dengan kepala berada di salah satu sisi sofa dan kaki berada di sisi sofa yang lain. Ia terus mengganti channel televisi tanpa menemukan acara yang menarik. Musik, drama, berita, olahraga, drama lagi, drama lagi, drama lagi—arghh, lama-lama Hyukjae bisa mabuk drama kalau begini caranya. Ia heran, kenapa orang-orang suka sekali menonton drama, sih?
"Kyu, aku pinjam DVD player!"
Suara lengkingan Hyukjae memang terdengar sampai ke kamar Kyuhyun, namun pemuda berambut merah itu tak perlu menunggu persetujuan sahabatnya untuk menggunakan segala fasilitas dalam apartemennya. Baginya, milik sahabatnya adalah miliknya juga. Dalam urusan wanita saja mereka sering berbagi, kenapa hanya DVD player saja tidak?
Tanpa banyak bicara lagi, Hyukjae segera mengganti mode televisi Kyuhyun kemudian mengeluarkan sebuah DVD yang baru saja ia pinjam dari Sungmin, temannya yang merupakan seorang bandar video ena ena.
Backsound baru terputar, layar masih menunjukkan warna hitam dengan tulisan putih berisi nama-nama pemeran dalam video tersebut ketika ponselnya bergetar tiga kali, tanda adanya sebuah panggilan masuk. Ponselnya memang selalu dalam mode getar atau diam, tak seperti Donghae yang terang-terangan memutar lagu anak-anak sebagai nada deringnya. Cukup menunjukkan bahwa dirinya adalah orang dewasa yang sibuk, tak bisa diganggu kecuali penting.
Tanpa repot-repot mempause video yang tengah ia tonton dan melihat caller ID sang penelpon, iapun menggeser ikon terima di layarnya dan segera menempelkan benda kecil berwarna putih itu di telinganya.
"Halo?"
"BABY!"
Hyukjae mengernyit. Sial, ia tak memperkirakan bahwa bocah yang belum menelponnya sejak kemarin siang inilah yang menghubunginya. Pelajaran penting bagi Hyukjae, lain kali ia akan benar-benar memastikan bahwa bukan bocah sialan itu yang menghubunginya.
"Maaf, dengan siapa?" Tanya Hyukjae, berpura-pura tidak mengenali Donghae agar bocah itu tak berteriak kegirangan karena dirinya terima-terima saja dipanggil dengan sebutan menjijikkan itu. "Baby, aku sedang dalam keadaan serius."
Hyukjae bungkam.
"Baiklah, apa maumu?" Tanya pria itu sebelum memposisikan dirinya kembali pada posisi bersantainya sambil menyaksikan seorang pria yang sedang mencumbu gadis berseragam khas Jepang yang terlihat ganjil.
"Apakah kau makan dengan baik hari ini? Bagaimana kabar anakku? Kenapa aku mendengar suara desahan disana? Kau tidak sedang selingkuh, kan?" Sederet pertanyaan tak penting yang Donghae lontarkan hanya Hyukjae balas dengan sebuah dengusan tak bersahabat. Waktunya tak banyak, jadwalnya setiap hari sangat padat—menonton, pergi ke bar, balapan, mabuk-mabukkan dan berkencan dengan para wanita, tentu saja. Memangnya jadwal yang seperti apa yang kau harapkan?
"Jika yang kau maksud serius adalah hal semacam itu, lebih baik jangan menelpon."
Tut.
Hyukjae memutus sambungan telepon mereka secara sepihak. Sangat tidak penting jika ia harus menanggapi ucapan Donghae yang seperti seorang mertua yang baru akan memiliki cucu. Ia meletakkan ponselnya di meja kemudian melanjutkan menonton videonya yang sempat terlantar.
Adegan yang terputar saat ini adalah adegan dimana sang model pria mulai membuka pakaian wanitanya satu-per-satu, sementara sang model wanita yang entah kenapa terlihat sangat agresif menggeliat dengan sepenuh hati dibawah cengkeraman si pria.
Ponselnya bergetar lagi, namun dengan segera ia abaikan.
Hyukjae menggigit bibir bawahnya saat tangan kekar si model pria mulai melepas rok dan celana ketat yang membungkus paha seksi sang model wanita. Kemudian, dengan penuh penghayatan—masih sambil berciuman, ia melepas celana dalam si model wanita dan—
"KYAAAA—"
Yang barusan itu suara pekikan Hyukjse yang langsung turn off ketika melihat benda yang mirip dengan miliknya terpampang di layar televisi Kyuhyun. Dengan refleks, ia langsung melemparkan remote televisi sehingga mengenai layar yang untungnya tak sampai pecah.
Shock. Hyukjae sangat shock.
"Video homo busuk penipu sialan! Akan kuhajar Sungmin besok,"
"HYUKJAE, JANGAN MACAM-MACAM DENGAN BARANG MILIKKU!"
Hyukjae terkejut mendengar teriakan Kyuhyun. Tak ia sangka, suara bantingan remote sekecil itu bisa terdengar sampai ke telinganya.
"Jangan berlebihan. Aku tahu kau bisa membeli sepuluh televisi baru, Kyu," Sahut Hyukjae, yang langsung Kyuhyun balas dengan;
"Bukan televisi, tapi Sungmin!"
Oh, rupanya ia tak tahu bahwa televisinya baru saja menjadi korban kekerasan Hyukjae.
Tapi—tunggu. Hyukjae dapat merasakan perutnya terguncang saat mendengar perkataan Kyuhyun barusan. Apa katanya tadi? Sungmin? Barang miliknya? Lelucon konyol macam apa ini?
Untuk saat ini, Hyukjae rasa menjawab panggilan Donghae jauh lebih baik ketimbang mendengar ocehan Kyuhyun yang malah semakin menghancurkan moodnya.
"Apa lagi?" Tanyanya setelah memutuskan untuk meraih ponselnya setelah sebelumnya bergetar tanpa henti.
"A—ku—ingin bicara," Kegugupan terdengar selintas dari nada bicara Donghae, sangat tidak biasanya. Hyukjae jadi curiga, jangan-jangan Donghae telah melakukan kebodohan lainnya?
Astaga, aku tak tega mengatakan padanya bahwa jawabannya adalah iya.
"Bicara saja,"
Tanpa Hyukjae ketahui, Donghae menelan kasar ludahnya sendiri di seberang sana.
"Tidak bisa disini. Temui aku di cafe X dekat kampusmu sore ini, aku akan bicarakan hal ini sekaligus mengembalikan motormu disana."
.
"Henry—kurasa aku dalam bahaya,"
"Itu bukan hanya perasaanmu saja, bodoh! Kau benar-benar dalam bahaya, bahkan sejak dia datang ke sekolah waktu itu. Kau saja yang terlambat menyadarinya!"
Henry hanya bisa menggelengkan kepalanya saat sahabatnya menceritakan semua kebodohan yang baru saja ia lakukan. Donghae adalah orang yang sangat terbuka, ia tak perlu repot-repot merahasiakan semuanya dari sahabatnya. Atau mungkin, justru sebagian besar masalah yang dimilikinya diselesaikan oleh Henry.
Namun kali ini, pemuda keturunan China itu menolak untuk ikut campur terlalu jauh. Terlalu beresiko. Ia tak tahu tindakan anarkis macam apa yang bisa saja Hyukjae lakukan kepada dirinya jika ia mencampuri urusan mereka.
"Bantu aku berpikir, Hen, berikan aku jalan keluarnya!"
"Aku sudah berusaha, kenapa tidak kau cari saja jalan keluarnya sendiri? Jika kau berani untuk bertanggung jawab, maka kau harus berani untuk ambil resiko. Masalah seperti ini adalah bagian dari tanggung jawabmu, Donghae,"
"IYA—IYA, AKAN KUSELESAIKAN SENDIRI!"
"Kau marah padaku?"
"TIDAK!"
"Aish, tunggu—aku akan berpikir sekali lagi, dasar pemarah."
Donghae menelungkupkan kepalanya diatas meja—membuat Henry yang sedang sibuk berpikir menatapnya sekali lagi lantas bertanya, "Apa yang kau lakukan?"
"Tidur."
"Kau menyuruhku berpikir sementara kau sendiri malah tidur?"
"Kau kan sudah melakukannya untukku."
PLETAK!
"BUKAN BERARTI KAU MENYERAHKAN TANGGUNG JAWAB SEPENUHNYA PADAKU, BODOH!"
Donghae meringis merasakan tinju Henry—yang ia rasa dilayangkan pemuda itu dengan sepenuh hati—dikepalanya. Ia membenarkan posisi duduknya menghadap Henry, kemudian mencengkram pundak sahabatnya dengan erat.
"Sekarang apa yang kau lakukan?"
"Mentransfer seluruh pikiranku padamu,"
Henry menghela nafas pasrah.
"Kurasa lebih baik kau tidur saja—kalau perlu selamanya."
Donghae menjitak kepala Henry sebelum kembali ke posisinya semula, menelungkupkan kepalanya dan bersiap untuk tidur selagi jam pelajaran terakhir mereka sedang kosong. Namun, belum sampai 5 menit ia tenggelam dalam mimpinya, Henry sudah mengguncang-guncangkan lengannya.
"Donghae bodoh!—aku tahu apa yang harus kau lakukan!"
"Apa? Cepat beritahu padaku!"
Henry menarik kepala Donghae untuk mendekat, kemudian membisikkan rencananya. Mata Donghae membulat sempurna.
"Kau gila? Siapa yang akan melakukan itu untukku?" Tanya Donghae, menyangsikan rencana Henry walaupun ia tak memiliki rencana yang lebih baik dari itu.
"Korban-korban sebelum Hyukjae?" Henry membalas dengan tak yakin. Rencananya memang terdengar bodoh, namun apa salahnya dicoba? Daripada Donghae kehilangan benda keramatnya akibat dikebiri oleh ibunya sendiri?
"Kalau begitu caranya, ibuku justru akan menikahkanku dengan mereka."
Benar juga. Henry kembali berpikir.
"Ah! Kenapa kau tak minta Hyukjae saja untuk melakukannya?"
"Huh?"
Henry tersenyum lebar kearah Donghae, sangat ganjil, entah apa yang berada di dalam pikirannya saat itu.
.
Sore itu, Donghae nekat menemui Hyukjae seperti kesepakatan yang telah mereka buat tadi siang. Ia berjanji akan mengembalikan motor kesayangan Hyukjae disana. Namun, sesampainya Hyukjae di parkiran cafe yang dimaksud, ia tak dapat menemukan motornya dimanapun. Pria tampan itu segera memasuki pintu cafe, mencari keberadaan Donghae kemudian menghampirinya.
"Dimana motorku?"
Donghae yang saat itu sedang sibuk bermain game di ponselnya melirik kearah Hyukjae yang berdiri di hadapannya sambil bersedekap. Ia mempause gamenya kemudian menyesap kopi hitamnya dengan hikmat. "Aku kesini bukan untuk menyaksikan kau minum kopi."
"Kau baru datang, duduklah dulu."
"Tak ada waktu."
"Kosongkan semua jadwalmu setelah ini, urusan ini akan sangat menyita waktumu."
"Sebenarnya hal penting apa, sih, yang ingin kau katakan? Cepat katakan, aku tak suka basa-basi."
"Kuharap kau tak mematahkan leherku setelah ini.." Gumam Donghae, membuat Hyukjae mengernyit. Ia mendudukkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan Donghae kemudian menopang dagunya dengan tangan kanannya, "Cepat. Katakan. Sekarang."
"Baik, aku katakan—sial, setelah ini aku akan mati—ibuku mengetahuinya. Ia menemukan test pack milikmu di kamarku, kemudian mendesakku untuk mengatakan siapa wanita yang tengah mengandung anakku saat ini."
BRAK
Hyukjae menatap Donghae dengan tenang, namun kepalan tangannya menghantam keras meja yang berada di tengah-tengah mereka. "Kau ceroboh,"
Sudah? Hanya itu?
"Aku tak akan membunuhmu hanya karena ibumu tahu. Itu urusanmu, bukan urusanku. Tapi, kalau sampai ibuku tahu, maka kau selesai."
"Masalahnya," Donghae meletakkan ponselnya diatas meja kemudian menatap Hyukjae dengan serius. Ia mencondongkan tubuhnya kearah Hyukjae lantas berkata, "Ibuku minta bertemu denganmu, paling lambat akhir minggu ini. Kalau aku tak berhasil mempertemukanmu dengan ibuku, maka orang kepercayaannya akan mencari identitasmu dan menyeretmu kehadapannya."
Hyukjae tersenyum manis mendengar ucapan Donghae, kemudian—
BUG
—meninju pipi kiri Donghae hingga membuat bocah itu tersungkur ke lantai.
"Kau pikir aku takut, hm? Tidak sama sekali. Bahkan kepada orang suruhan ibumu sekalipun." Ujarnya dengan tenang. Ia berdiri dari tempat duduknya, bersiap untuk pergi meninggalkan Donghae, namun bocah itu keburu mencegahnya.
"Aku belum selesai bicara. Dengarkan dulu."
"Kurasa aku sudah tak memiliki urusan apapun..." Hyukjae menatap Donghae yang kembali ke tempat duduknya dengan sangsi. "Tapi baiklah, akan aku dengarkan."
"Bagus." Lirih Donghae. Ia memanggil seorang pelayan sekali lagi untuk meminta es batu—darah di sudut kiri bibirnya perlu ditangani segera—sementara Hyukjae memesan makanan untuk dirinya. Bersantai sedikit tak ada salahnya, toh mereka sudah membuat kesepakatan bahwa mereka adalah sepasang kekasih mulai saat ini.
"Wow, seleramu," Donghae terkekeh melihat pesanan Hyukjae. Segelas milkshake vanilla dan strawberry shortcake. Terlalu feminim untuk ukuran seorang preman.
"Jangan membuat moodku turun lagi, bocah." Balas Hyukjae kemudian menyenderkan tubuhnya sepenuhnya pada sofa. "Jadi—apa lagi?"
"Aku memiliki sebuah rencana soal permintaan ibuku. Aku hanya membutuhkan sedikit bantuan darimu," Ujar Donghae memulai pembicaraan serius mereka siang itu. "Hanya agar ibuku tak bertanya macam-macam soal kehamilanmu. Aku yakin kau akan menolak rencanaku. Kalau kuancam, tak akan mempan. Kau tak takut pada siapapun. Tapi, kau masih sayang dengan motormu, kan?"
Skakmat. Kalau sudah menyangkut soal motornya, ia tak bisa berbuat banyak. Ia bukannya tak bisa membeli yang baru, hanya saja Choco sudah bersamanya sejak pertama kali ia memutuskan untuk balapan sekitar 5 tahun lalu. Dan bocah sialan ini mengetahui kelemahannya dengan tepat.
"Apa maumu?"
Hyukjae mengepalkan tangannya. Tahan. Ia harus pintar-pintar mengendalikan emosinya jika berurusan dengan Donghae. Bocah itu telah menguras habis tenaganya, mengetahui kelemahannya dan pintar memanfaatkan peluang. Seharusnya Hyukjae tahu itu.
"Kau—" Donghae menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya perlahan. "Hanya perlu menjadi seorang wanita. Sehari saja, setelah itu kau tak perlu menemui ibuku lagi. Keberadaanmu sebagai seorang wanita tak akan terlacak."
Nafas Hyukjae langsung tercekat.
Sekelebat bayangan tentang video ena ena yang ditontonnya tadi tiba-tiba melintas di benaknya.
Dirinya?
Yang sangat manly itu?
Menjadi seorang wanita?
.
TBC
.
I doubt if there's still one that wait for this story but only if you wanna know, one of the reason of my very late update (beside real life that's getting hard) is you guys the readers.
Oh, ya, jangan ngarepin konflik yang terlalu berat dari cerita ini, because i'm so fluffy, you already know. Tapi kalo suatu saat gue mutusin buat bikin cerita yang berat, well that's progress then, i'm gonna be proud of myself lol. Segini udah cukup panjang belum? Kalo kali ini responnya positif, gue bakal update cepet. Tapi kalau nggak, ya mohon maaf. Gue bakal hiatus (lagi) sampe gue bisa nulis cerita yang bener-bener punya kualitas buat dishare ke kalian.
Makasih banget buat orang-orang yang ngehargain keputusan gue. Reviewnya jangan nyakitin ya, lagi bulan puasa. Hehehe. Bantuin gue buat belajar jadi author yang lebih baik lagi ya;)
Best regards,
Nim
