CHAP 3 UP!

Selamat menbaca teman – lupa review habis baca yaa ^^ dan mulai chap ini bakal ada additional scene *ceilah* haha buat lucu-lucuan aja si. Kalau di film film kan di endingnya pasti ada scene pendek yang lucu gitu kaya "dibuang sayang" nah saya bikin gituan juga ceritanya haha.

Happy reading~

Chanyeol, Sehun, Kai = namja

Baekhyun, Kyungsoo, Luhan = yeoja

.

.

Satu tangan Chanyeol memegang kemudi. Sesekali ia menengok kearah Baekhyun. ia bingung apa yang harus di lakukan setelah ini. meminta maaf? Menyatakan cinta kembali? Hell, Chanyeol terlalu tidak punya malu.

"berhenti. Aku mau turun." Pandangannya lurus kejalanan. Baekhyun sama sekali tidak dalam mood yang baik kali ini. berada di satu mobil dengan orang paling jahat selama hidupnya. Laki – laki yang pernah ia cintai dan pernah menyakitinya.

"kita tidak bisa berhenti begitu saja."

"aku bilang berhenti, brengsek. Aku tidak mau disopiri oleh seorang amatir."

"aku sudah professional. Aku sudah punya surat ijin mengemudi, Baek."

"kalau begitu liat jalanan. Jangan tengak-tengok kearahku." Chanyeol menelan ludah kasar. Membenarkan posisi duduknya. Fokus kejalanan. Tidak lama Chanyeol menepikan mobilnya. Memberhentikan kendaraan roda empatnya tiba – tiba. meletakkan satu tangannya di sandaran kursi Baekhyun.

"kau berubah, Baek." Chanyeol menatap Baekhyun yang masih saja memandangi jalanan.

"kau masih sama saja."

"dulu kau sangat manis dan manja terhadapku." Tangan yang satunya diberanikan untuk mengenggam tangan Baekhyun yang diletakkan di atas paha.

"dulu kau berandalan dan brengsek."

"sekarang sikapmu kasar. Dingin."

"sekarang kau masih saja berandalan dan brengsek." Chanyeol menghela nafas kasar. Begitu sulit mengajak Baekhyun bicara kali ini.

"aku minta maaf atas perbuatanku dua tahun lalu." Baekhyun hanya diam. Hanya poni yang menutup keningnya bergerak sedikit akibat pendingin mobil. "aku sangat menciintaimu, Byun Baekhyun. bahkan sampai saat ini." genggaman ditangan baekhyun semakin erat. "sampai aku tidak tahu aku harus berbuat apa saat aku bertemu denganmu. Selama dua tahun setelah kau pergi, hidupku dipenuhi rasa bersalah. Rasa takut kehilanganmu. Aku telah menyakiti perasaan perempuan sebaik dirimu. Baek, aku minta maaf. Seharusnya aku tidak mengajarkanmu perbuatan yang seharusnya tidak kita lakukan. Aku terlalu bodoh untuk memanfaatkan kepolosanmu. Meski kau sangat ingin tahu apa itu seks. Tapi seharusnya aku tidak melakukannya kepadamu. Baekhyun, aku melakukannya terhadap orang lain karena aku mencintaimu. Aku tidak ingin menyakitimu juga. Kau tahu aku laki-laki yang tidak baik. aku khilaf, Baek. aku terlalu terobsesi padamu sampai hasratku tidak bisa aku tahan." Chanyeol mengambil jeda. Menarik nafasnya dalam-dalam. Bahkan ia tidak sadar air mata telah mengalir di pipi kanannya. Pantas saja Chanyeol merasa sangat sakit di bagian dada kirinya. Chanyeol kehabisan kata-kata. Persis seperti dua tahun lalu saat ia berlutut dihadapan Baekhyun. "aku minta maaf. Benar-benar minta maaf. Percayalah. Aku mencintaimu sampai sekarang, Baekki." Chanyeol menuntun kepalanya bersandar di pundak kiri Baekhyun. air matanya jatuh diseragam dan lengan perempuan yang ia cintai.

"aku mau pulang." Hanya itu yang keluar dari mulut mungil baekhyun. kembali chanyeol lihat baekhyun hanya menggigit bibirnya keras. Lensa matanya bergerak – gerak tidak teratur. "sebentar saja." Chanyeol memeluk baekhyun tiba – tiba. tanpa ada suara dari keduanya.

"sudah cukup. Buka pintunya. Aku mau turun."

"tidak. Biarkan aku yang mengantar pulang." Chanyeol kembali ke posisi duduknya semula. Mengusap jejak air mata dipipinya.

Selama perjalanan pulang keduannya hanya diam. Tenggalam dalam pikirannya masing – masing.

"hiks" chanyeol menoleh. Ia yakin betul Baekhyun baru saja terisak. "liat kejalanan! Jangan tengok-tengok!" lagi Chanyeol menepikan mobilnya.

"menangislah bila itu harus. Kau tidak perlu menahan rasa sakitnya. Lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku. Jika kau ingin membunuhku sekarang, itu tidak masalah. Karena aku yakin kau tidak akan melakukannya." Baekhyun menangis semakin keras. Membungkukkan punggungnya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"aku malu menangis! Tapi aku tidak sanggup lagi menahan air mata ini selama dua tahun! Sudah aku coba untuk memerintahkan kelenjar air mataku tidak memproduksi cairan sialan ini! berhenti melihat aku! Aku membecimu! Jalan saja tidak perlu berhenti!" Chanyeol merengkuh tubuh Baekhyun kedalam pelukannya. Mengusap lembut rambut perempuan terbaiknya.

"kau hanya perlu menangis. Tidak perlu marah – marah."

"hikss sejak hari itu tidak ada air mata yang keluar untukmu! Perasaan membenciku kepadamu lebih besar. sangat sulit untuk memaafkan mu! aku membencimu hingga keubun-ubun" Chanyeol mempererat pelukannya.

"maaf. Kalau begitu..apa kau masih membenciku hingga sekarang? Kau menumpahkan semua air matamu hari ini."

"ya. aku masih membencimu. Jangan berharap banyak aku akan mencintaimu lagi seperti dulu."

"paling tidak ada sedikit harapan untukku. aku akan berusaha membuatmu kembali padaku." Chanyeol mendorong bahu Baekhyun untuk menatap matanya. "aku. Park chanyeol. Akan membuatmu kembali mencintaiku lagi. Dan aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi." Baekhyun menatap chanyeol diam. Cukup lama.

"terserah. Aku mau pulang sekarang."

.

.

"benarkah?" seru Sehun dan Kai bersamaan. Chanyeol menceritakan kepada dua sahabatnya tentang kejadian selama dirinya bersama Baekhyun. ketiganya berbaring menghadap langit. Menumpukan kepala masing – masing diatas tangan yang dijadikan bantal.

"sudah aku putuskan. Aku menjadi fans pertama byun Baekhyun noona."

"hey, sehun. Kalau begitu aku yang kedua."

"tidak ada yang boleh menjadi fanboy Baekhyun. atau aku buat kekasihmu tidak bisa menghisap penismu nanti." Sehun dan Kai spontan menutup penisnya dari luar celana dengan kedua tangan mereka.

"ah ya, Chanyeol hyung. Baekhyun, Kyungsoo dan satu orang temannya..mereka satu kelas denganmu?" Sehun membalikkan badannya. Menumpukan berat badannya dengan kedua siku.

"ya. kenapa?"

"aku tahu yang namanya Baekhyun dan Kyungsoo. Tapi yang satu itu…perempuan yang paling tinggi dan paling putih dari ketiganya. Siapa namanya?"

"anak cina itu?"

"mana aku tahu, hyung. Siapa namanya."

"Luhan. Xi luhan. Kau menyukainya?" Chanyeol bangkit dari posisi berbaringnya. Duduk bersandar di bawah pohon tempat favorit mereka.

"bisa iya bisa tidak. Mungkin karena dia yang paling putih dari ketiganya. aku jadi tertarik."

"jadi kau menyukai perempuan dari fisiknya dulu begitu? Ck kau harus mengenal perempuan dari pribadinya. Bukan dari fisiknya saja."

"hey, Kai. Cara bicaramu seperti orang yang paling benar saja. Tidak perlu munafik. Jika kau menyukai seseorang pasti tertarik dari penampilannya terlebih dahulu. Baru perlahan-lahan mengenal pribadinya. Kecuali kau sudah berteman dengannya sejak lama." Kai mengernyit. Baru kali ini bicara sehun ada benarnya.

"baiklah..baiklah..Sehun. Kai. Kalian sebaiknya kembali kekelas. Bel sudah berbunyi." Chanyeol memejamkan matanya. Menyumpal kedua telinganya dengan earphone kesayangannya.

"lalu kau?"

"aku mau bolos 2 jam pelajaran. Sana pergi. Aku mau tidur. Jangan ganggu."

"dasar manusia galau."/"sekarang dia menjadi melankolis" kai dan sehun melanggang pergi sambil berbisik bisik.

.

.

Chanyeol mengerjapkan matanya. Mencoba fokus dengan sekitarnya. Suara hyorin personel SISTAR hingar bingar di earphonenya.

"sudah berapa jam aku tidur disini. Eenngghh~" Chanyeol meregangkan otot-otot punggungnya. Ia rasa sudah cukup membolos kelas hari ini. saatnya kembali duduk di bangku sialnya.

Chanyeol membuka pintu kelas 3-1. Suara pintu yang berat menyita seluruh perhatian murid dan guru Jung selaku guru matematika nya. Chanyeol melangkahkan kakinya mendekat ke guru jung.

"maaf pak, saya terlambat." Badannya membungkuk dihadapan guru jung.

"maaf, chanyeol. Saya datang duluan."

"saya tahu, pak."

"darimana ha?!" guru Jung menutup buku modul ditangannya dengan kasar. Hingga menimbulkan suara.

"dari luar, pak."

"kau ini! orang tuamu sudah mengeluarkan banyak uang dan kau sama sekali tidak memiliki rasa tanggung jawab di sekolah! Sudah banyak pelanggaran, berpenampilan seperti preman, tukang bolos, bodoh dalam-"

"guru Jung." Baekhyun tiba-tiba berdiri. Memotong kalimat guru matematikanya. Bangkunya terhempas kebelakang hingga berdecit. "maaf saya memotong kalimat bapak. Tapi Chanyeol tidak membolos kelas bapak di satu jam pertama. Saya melihat saat bel istirahat Chanyeol dipanggil oleh guru Kim untuk masuk keruang bimbingan konseling." Chanyeol melongo. Ditatapnya baekhyun lekat-lekat.

"benar begitu, Park Chanyeol?" yang ditanya mengangguk kecil. "duduk. Besok lagi ijin dulu."

.

.

= di kantin =

Seperti biasa Baekhyun, Kyungsoo dan Luhan duduk di sudut kantin menikmati makan siang mereka.

"baekhyun-ah, kami ingin menanyakan sesuatu. Tapi kami takut menyinggung perasaanmu." Luhan dan Kyungsoo saling meliri dan menyenggol siku.

"kau saja yang tanya, kyungsoo-ah."

"kau saja." Baekhyun menatap keduanya bingung.

"sudahlah. Mau tanya apa cepat katakan aku tidak akan tersinggung." Baekhyun mengaduk –aduk sup di mangkuk kecilnya.

"sebenarnya..hubungan mu dengan Chanyeol itu apa?" Baekhyun berhenti dengan sup nya. Bola matanya bergerak tidak teratur. Menyelipkan helai-helai rambutnya dibalik daun telinga. "kau tidak perlu menceritakannya jika kau keberatan."

"yah..seperti yang kalian lihat." Luhan dan Kyungsoo mengernyit. Saling memandang. "aku dan Chanyeol sebenarnya memiliki hubungan yang rumit." Baekhyun menumpukan dagunya di tangan kirinya.

"kalian..pacaran?" Luhan mencondongkan kepalanya ingin tahu.

"hm…dulu?" Baekhyun menatap langit – langit.

"sekarang?" kini giliran Kyungsoo yang maju.

"hm…entahlah. Bahkan aku tidak tahu kami masih bisa disebut pacaran atau tidak. Karena tidak ada yang memutuskan hubungan kami."

"bagaimana bisa?"/"pasti sangat rumit." Ujar keduanya hampir bersamaan. Baekhyun menghela nafas.

"baiklah. Karena kalian teman yang paling dekat denganku disini, aku akan menceritakannya pada kalian tentang aku dan Chanyeol."

.

.

"Chaneooll hyung~!" teriak Sehun dan Kai bersamaan di depan pintu kelas 3-1. Yang dipanggil hanya diam. Meletakkan kepalanya malas diatas meja. Sehun dan kai saling memandang. Tidak seperti biasanya Chanyeol tidak berselera dengan jam istirahat.

"hey senior. Ada denganmu? Lelah terlalu lama sendiri?" Kai menepuk – nepuk punggung Chanyeol. Kemudian meletakkan pantatnya di bangku Baekhyun.

"HEY BERDIRI DARI BANGKU ITU, HITAM!" Kai spontan terkejut. Pantatnya yang hampir menyentuh bangku Baekhyun kini menjauh.

"apa-apaan kau ini, Hyung! Mengagetkan!."

"itu bangku Baekhyun ku!."

"astaga." Sehun dan Kai menghela nafasnya malas.

"hey, siluman tiang ayo kekantin. Daripada kau menyesali hidup tanpa seorang kekasih." Sehun duduk di meja Chanyeol. Tepat disamping kepala Chanyeol diletakkan.

"mau apa kekantin?"

"buang air besar." Kai menoleh kearah Sehun. Chanyeol spontan mendongak. "jelas mau makan siang. Mau apa kekantin kalau bukan makan dan minum, kalian berdua ini begitu saja dipikir." Sehun meloncat dari meja Chanyeol. Melangkahkan kaki jenjangnya dan berhenti di ambang pintu kelas. "ayo, cepat. Siapa tahu bertemu jodoh"

.

.

Ketiga berandal sekolah menempatkan pantatnya di meja paling sudut dikantin. Warna rambut ketiganya yang menyala tidak menyulitkan pegawai kanti untuk mengantarkan makanan atau meninman ke meja mereka.

"oh! Chanyeol, bukankah itu Baekhyun?" Kai menggerakkan tangannya untuk memberi tahu Chanyeol. Tapi gerakan tangannya justru tepat mengenai muka Chanyeol.

"sialan. Hentikan tanganmu, bodoh." Chanyeol memicingkan matanya. Seperti biasa, matanya rabun jauh.

"oh! Lihat itu. Bukankah itu…laki-laki yang kaya raya itu? Siapa namanya? Mantan ketua OSIS tahun lalu…ck aku lupa!" Kai mengetuk-ketuk kening nya dengan telunjuk.

"Suho hyung?" timpal Sehun.

"ah, benar!. Wah..dia cari gara – gara, hyung. Beraninya mendekati Baekhyun mu. Sedangkan aku yang baru saja ingn menjadi fanboy sudah diancam penisku hilang." Chanyeol memalingkan wajahnya. Mencoba untuk tidak mengetahui yang terjadi antara Baekhyun dan Suho.

"sudahlah. Biarkan saja. Aku tahu Baekhyun masih mencintaiku. Meski tidak seperti dulu."

"kau terlalu percaya diri, hyung."

"Byun Baekhyun. perempuan yang hanya bisa fokus dengan satu laki-laki yang dicintai. Baekhyun hanya akan bersikap manja, menggemaskan dan manis hanya dengan laki-laki yang dicintai. Dan bersikap dingin dengan laki-laki yang lain." Chanyeol meniup permen karetnya menjadi bulatan berisi udara yang cukup besar. Sedangkan Sehun dan Kai masih memperhatikan Baekhyun.

"jika Baekhyun yang sekarang tidak seperti itu, apa yang akan kau lakukan?"

"dia tidak akan."

"coba kau lihat mereka. Baekhyun mengikuti Suho dari belakang."/"mereka meninggalkan Kyungsoo dan Luhan." Ucap Sehun dan Kai bergantian. Balon permen karet Chanyeol meletus. Mengunyah permen karetnya geram. Lensa matanya memperhatikan gerak-gerik Baekhyun hingga punggungnya menghilang.

.

.

TBC

Yap. Chap ini segini dulu ya hehe. Saya masih ada perlu nih nyicil TA hoho. Yah meski ga banyak yang penting saya update untuk teman-teman sekalian daripada nunggunya lama kan? Hehe *alesan(?)*

Terimakasih untuk teman-teman yang udah review *BOW* jangan lupa review lagi ya. komen aja apa yang dirasain(?) mau nebak-nebak buah manggis soal alur FF ini juga monggo.

See you next chap everybody~^^

.

.

= ADDITONAL SCENE =

Ketika Baekhyun pergi dengan Suho dan Kyungsoo meninggalkan Luhan kekamar mandi.

Sehun : Hai noona. Boleh aku duduk sebentar? *duduk*

Luhan : eh? Kau sudah duduk. *mengerjapkan mata*

Sehun : hehe. Aku Sehun. Oh Sehun dari kelas 2-2. Kau..teman Baekhyun noona, 'kan?

Luhan : *mengangguk* *mengerjapkan mata*

Sehun : Xi Luhan? Keturunan Cina?

Luhan : *mengangguk* *mengerjapkan mata*

Sehun : boleh aku minta kontakmu? Aku ingin lebih mengenalmu kalau boleh. *tersenyum semanis mungkin*

Luhan : *merona* oh? Boleh. *mengerluarkan handphone*

Sehun : terimakasih noona. Aku akan menghubungimu setelah sekolah. Sampai jumpa *tersenyum manis lagi*

Luhan : *merona* *mengipas-kipas wajahnya dengan telapak tangan*