Helo teman-teman. Saya kembali dengan WBITL Chap 4! Happy reading dan jangan lupa review yah ^^
.
.
"oh! Chanyeol, bukankah itu Baekhyun?"
"oh! Lihat itu. Bukankah itu…laki-laki yang kaya raya itu? Siapa namanya? Mantan ketua OSIS tahun lalu…ck aku lupa!"
"Suho hyung?"
"ah, benar!. Wah..dia cari gara – gara, hyung. Beraninya mendekati Baekhyun mu. Sedangkan aku yang baru saja ingn menjadi fanboy sudah diancam penisku hilang."
"Byun Baekhyun. perempuan yang hanya bisa fokus dengan satu laki-laki yang dicintai. Baekhyun hanya akan bersikap manja, menggemaskan dan manis hanya dengan laki-laki yang dicintai. Dan bersikap dingin dengan laki-laki yang lain."
"coba kau lihat mereka. Baekhyun mengikuti Suho dari belakang."/"mereka meninggalkan Kyungsoo dan Luhan." Ucap Sehun dan Kai bergantian. Balon permen karet Chanyeol meletus. Mengunyah permen karetnya geram. Lensa matanya memperhatikan gerak-gerik Baekhyun hingga punggungnya menghilang.
.
.
Tangannya mengepal erat. Jika memungkinkan siratan dimatanya keluar laser panas. Lensa mata Chanyeol mengikuti kemana arah Baekhyun dan Suho bergerak. Dari arahnya, keduanya akan pergi ke ruang club siswa. Chanyeol yang sudah tidak kuat lagi menahan gemuruh didadanya bangkit. Melangkahi bang kantin mengikuti Baekhyun dan Suho dari belakang.
"Baekhyun!" Chanyeol setengah berlari menghampiri keduanya. Sementara yang dipanggil terus berjalan tanpa memperdulikan suara laki-laki yang sehari lalu membuatnya menangis. Suho, laki-laki berpenampilan rapi dan berperilaku sopan berbalik. Menemukan seseorang yang tidak asing sedang menatapnya tidak suka.
"Baekhyun-ssi, kau mengenalnya?" Suho menyentuh pundak Baekhyun. mencoba menghentikan langkahnya.
"jangan sentuh Baekhyun ku, bocah sok pintar!" Chanyeol menghempaskan tangan Suho dari pundak Baekhyun dengan kasar. Baekhyun memutar kedua bola matanya malas. Menghela nafasnya kasar
"aku pikir kita tidak ada urusan, Chanyeol. Pergi. Jangan ikuti aku." Baekhyun mengusirnya. Dengan punngung yang menghadap Chanyeol.
"Baekhyun. ikut aku." Chanyeol menggapai pergelangan baekhyun cepat. secepat itu juga baekhyun melepaskannya.
"pergilah. Aku juga punya urusan yang tidak perlu kau tahu." Suho melirik Baekhyun dan Chanyeol bergantian. Pasti ada sesuatu diantara mereka, begitu pikirnya. Dengan luwes lengan Suho melingkar di pundak Baekhyun. menuntun perempuan terbaik Chanyeol menjauh. Chanyeol menggeram pelan. Menggigit bibir bawahnya
"sialan kau, Suho."
.
.
"jadi bagaimana? Kau bersedia?" Baekhyun menautkan jari-jarinya. Meletakkannya didepan mulut kecilnya. Tampak berpikir. Suho yang duduk dihadapannya menumpukan sebelah kakinya diatas kaki yang lain. Menatap Baekhyun intens.
"aku pikir aku bisa. Jadi mulai kapan kita latihan?"
"Sabtu minggu ini. Bagaimana? Karena acara ulang tahun sekolah tinggal 2 minggu lagi. Dan vokalis utamanya sedang menjalani operasi tonsillectomy[1]. Jadi semua anggota club sepakat menarikmu sebagai vocal kami. Setelah melihat profile mu di halaman web sekolah, kau sangat berpengalaman di bidang tarik suara"
"baiklah. Kalau begitu bisa aku kembali ke kelas sekarang?" Baekhyun beranjak dari bangkunya. Berjalan mendahului Suho.
"yap. Jangan sungkan untuk meminta bantuan jika kau memerlukan sesuatu. Mulai hari ini kau bagian daripada club pasuan suara, Baekhyun-ssi." Suho berjalan mendampingi Baekhyun. mengantarkan anggota club barunya sampai kepintu depan dan membuka pintunya untuk Baekhyun. tidak kurang dari dua detik Suho dan Baekhyun terkejut. Chanyeol berdiri tepat didepan pintu club paduan suara. Baekhyun menghela nafasnya kasar.
"sampai jumpa akhir pekan, Suho-ssi" Baekhyun membungkuk kecil dihadapan Suho. Suho tersenyum. Balas membungkuk kearah Baekhyun.
"akhir pekan, Baekhyun-ssi."
.
.
Baekhyun berjalanan dua meter didepan Chanyeol. Keduanya saling diam. Chanyeol memperhatikan dari belakang. Menyembunyikan kedua kepalan tangannya disaku celana. Memeriksa dengan pasti bahwa tidak ada yang lecet sedikitpun dari tubuh Baekhyun.
"kau. Apa yang kalian lakukan didalam sana?"
"bukankah kau menguping pembicaraanku dengannya? Kenapa tanya lagi?" Baekhyun menjawab pertanyaan Chanyeol tanpa menoleh. Hanya punggung baekhyun yang setia menemaninya mengobrol.
"kau bilang aku tidak perlu tahu. Jadi aku hanya berdiri dan bersiap didepan kalau – kalau kau berteriak atau membutuhkan pertolongan jika manusia tadi macam-macam denganmu."
"dia menawarkan posisi vocal untuk menggantikan lee jieun yang baru saja operasi amandel."
"soal akhir pekan. Apa yang akan kalian lakukan?" langkah Baekhyun berhenti. Melipat kedua lengannya didepan dada.
"latihan."
"kenapa harus akhir pekan? Apa kalian hanya latihan berdua?" Baekhyun berbalik. Raut mukanya keras. Jika mungkin, asap mengepul dari ubun-ubunnya sekarang.
"mana aku tahu! Yang namanya latihan ya melibatkan banyak orang! Memangnya bisa latihan vocal tanpa pemain music atau backing vocal yang lain? Kenapa kau harus peduli?! Kenapa aku harus memberi tahu?! Kenapa!"
"karena aku mencintaimu, Bodoh! Apa aku harus menangisimu semalaman? Berlutut dihadapanmu seharian? Apa kau mau aku menjadi homoseksual jika bukan kau wanita yang akan menjadi istriku? Aku mencintaimu, Byun Baekhyun!" keduanya saling menatap dengan mata yang basah. Terengah – engah karena terlalu banyak kata yang diucap dengan emosi yang meluap-luap.
"kalau begitu. Jadilah homoseksual! Aku tidak peduli!" Baekhyun menggigit birbinya keras. Seperti menggigil bibirnya bergerak-gerak menahan tangis. Kelopak matanya berkedip sekali menumpahkan cairan penuh rasa sedih dan benci. Chanyeol mendekat. Begitu dekat hingga Baekhyun bisa merasakan hembusan nafas laki-laki brengsek dihadapannya.
"kau. Keras kepala." Chanyeol melewati tubuh Baekhyun yang sedikit bergetar. Seolah tidak peduli. Tapi sesungguhnya ia merasa sangat sakit melihat Baekhyun kembali menumpahkan air matanya.
"kau. Masih sama seperti yang dulu." Baekhyun berbalik mendahului Chanyeol. Berlari menuju kamar mandi sekolahnya yang berada disamping kelas mereka. Dari belakang Chanyeol tahu Baekhyun tidak henti-hentinya mengusap matanya dengan punggung tangannya yang kecil.
.
.
= diakhir pekan =
To : Sehun
Cepat kemari. Your today cafe. Aku jenuh dirumah. Ajak Kai sekalian. Aku coba menghubungi nomornya sedang sibuk.
Matahari sudah lelah meninggi. Langit diatas kepalanya mulai menguning. Matanya yang lebar memandang jauh keluar dari kaca kedai kopi dan tea dimana ia duduk sekarang. Rambutnya hitam cepak. Poni yang semula menutup keningnya kini sudah dibabat hampir habis. Menyisakan beberapa senti di kulit kepalanya. Rambut dibagian atas keningnya diberdirikan. Kacamata besar tanpa lensa dengan frame hitam lebar menghias wajahnya. Chocochino Bubble tea yang ia pesan sudah habis setengahnya.
30 menit setelah ia mengirim pesan ke sahabat terbaiknya, Lonceng yang tergantiung diatas pintu pengunjung berdering. Dua laki-laki menyapanya dengan rahut muka yang sulit dijelaskan. Sehun, sahabat yang paling muda menganga lebar sambil menutup mulutnya tidak percaya. Bola matanya tenggelam di balik kelopak matanya yang menyipit. Menahan tawa mungkin. Kai, sahabat yang terhitam yang pernah ia miliki mengumpat pelan. Sesekali menggebuk bahu Sehun tidak percaya.
"apa yang kalian lihat? Ha!" Chanyeol. Laki-laki berambut hitam dan berkacamata tanpa lensa berdiri. Menyambut kedua sahabatnya.
"kau..ini benar kau, Park Chanyeol yang selama dua tahun ini hidup berantakan dibalik bayang –bayang Baekhyun noona?!" Sehun mencengkram pundak seniornya. Membolak-balik tubuh jangkung Chanyeol beberapa kali.
"kau pikir aku siapa, bodoh. Duduk. Pesan apa saja yang kalian mau. Aku yang bayar."
"kalau begitu ini baru Park Chanyeol." Sehun dan Kai menepukkan satu telapak tangan mereka sambil tertawa menang.
"kemana larinya rambut perakmu?"
"terbawa angin?"
"dibawa terbang burung elang?"
"tersangkut di ranting pohon? Kau kan sangat tinggi."
"atau selama ini kau menggunakan wig?" Sehun dan Kai menebak-nebak alasan Chanyeol berganti gaya rambut bergantian. Chanyeol memutar kedua bola matanya malas.
"ini semua karena Baekhyun."
"dia lagi."/"sudah cinta mati." Cibir kedua sahabatnya.
"aku pernah bilangkan Baekhyun sekarang berubah. Ia berubah kasar karena sikapku." Sehun dan Kai mengangguk-angguk."tapi kemudian aku berpikir, aku begitu egois." Chanyeol melempar pandangannya kembali kejalanan.
"menyalahkan Baekhyun berubah sedangkan kau masih sama saja seperti terakhir kali ia meninggalkanmu?" Sehun menyela Chanyeol. Kai melongo. Entah setan apa yang merasuki Sehun sejak kemarin inti kalimatnya ada benarnya. Sehun melirik sinis kea rah Kai "apa?! Ada masalah, hitam?"
"awesome…yang seperti ini baru sahabatku." Kai menepuk-nepuk pundak Sehun bangga.
"benar. Seperti itulah yang aku pikirkan, Sehun-ah. Aku merasa aku sudah merubah perilakuku. Berhenti bermain perempuan. Jarang menyentuh rokok tidak sesering dulu. Tidak menginjakkan kakiku ke club malam. Meski aku masih suka menonton film pornno bersama kalian. Menurutku itu tidak cukup. Penampilanku juga perlu dirubah. Karena seperti katamu beberapa hari lalu. Seseorang akan menilai dari penampilan luarnya terlebih dahulu, baru perlahan-lahan mengenal pribadinya. Jadi aku pikir aku perlu merombak penampilanku."
Sehun dan Kai saling pandang. Senior sekaligus sahabatnya kini hampir 95% berubah. Gaya bicaranya seperti orang normal. Ada inti di setiap kalimat yang diucapkan. Mungkin pengaruh kehadiran Baekhyun.
"memangnya kapan aku pernah bilang begitu, hyung?" Sehun mengusap-usap dagunya sebelum jitakan keras dialamatkan dikepalanya.
.
.
Baekhyun berbaring diranjang cantiknya. Rambut coklat gelapnya terurai menutup hampir seluruh permukaan bantal. Berselimut tebal dengan warna pink pastel yang menghangatkan tubuhnya hingga batas dada. Lengannya terangkat diatas wajahnya yang mungil. Mengotak-atik handphone kesayangannya. Membuka galeri foto mengamati bingkaian wajahnya dan Chanyeol yang dulu sempat berbahagia. Ia sentuh layar handphonenya yang menampilkan wajah mantan kekasihnya. Tidak. Belum mantan, batin baekhyun mantab. Jauh dari rasa bencinya sesungguhnya Baekhyun merindukannya. Sikap Chanyeol yang begitu memanjakannya membuatnya tidak ingin berpisah berlama-lama dari tubuh kekasih raksasanya. Chanyeol sangat penyayang dan gentleman. Memperlakukan Baekhkyun penuh kasih dan penuh kehati-hatian. Baekhyun tahu Chanyeol bukan laki-laki yang baik. mata lebarnya tidak bisa menghentikan Chanyeol untuk tidak hanya melihat Baekhyun sebagai perempuan. Didepan Baekhyun, Chanyeol terang-terangan menggoda perempuan lain. Bersiul, menatap pantat seksi yang lewat, bahkan menyeringai nakal kearah wanita lain yang melihatnya. Tapi setelah itu ia meminta maaf pada Baekhyun dan berkata bahwa hanya Baekhyun perempuan terbaik yang ia miliki. Baekhyun memaluminya. Sikap laki-lakinya tidak bisa dihentikan. Tidak jarang keduanya tidur diranjang yang sama. Saling berpelukan menyalurkan rasa sayang masing-masing. Kadang Chanyeol yang menginap di rumah Baekhyun atau Baekhyun yang menginap di rumah Chanyeol.
PChanyeol : Sudah tidur? -22.01-
Baekhyun mengerjapkan matanya. Satu pesan Chanyeol masuk di chat room line nya.
Byun B : belum -22.01-
PChanyeol : besok hari minggu. Aku akan mengajakmu kesuatu tempat. Tolong luangkan waktu satu hari saja..aku mohon -22.02-
Ingatan Baekhyun terlempar ke dua tahun lalu. Dimana ia berdiri dengan hati yang kacau dan Chanyeol berlutut di ujung kakinya. "aku mencintaimu. Maafkan aku..aku mohon" kalimat itu sungguh menohok hati Baekhyun. ia tidak suka seseorang memohon-mohon seperti pengemis kepadanya. Tapi Chanyeol, laki-laki ini telah memporak porandakan perasaannya. Ia sangat mempercayainya tapi diakhir cerita Chanyeol berkhianat. Pergi meluapkan nafsunya dengan perempuan bayaran karena tidak terpuaskan oleh Baekhyun.
Byun B : jam 9 am -22.05-
PChanyeol : terimakasih. Aku akan menjemputmu tepat jam 9. Sampai besok, Baekki. Aku mencintaimu.
.
.
Tiupan angin menerbangkan ujung dress biru gelap Baekhyun. Alunan piano dari seorang pianist ternama Yiruma merambat ke gendang telinganya melalui earphone. Menunggu kehadiran Chanyeol di halte dekat rumah Baekhyun. Dress biru gelap melekat hingga tepat diatas lututnya. Dengan kerah kecil berwarna putih yang menghiasi lehernya. Menggendong tas kecil berwarna hitam dengan rantai bewarna perak di bahu kanannya. Sepatu sneakers putih dengan kaos kaki menghiasi kaki mungilnya. Rambut coklat gelap digulungnya keatas tinggi-tinggi menyisakan rambut-rambut kecil di dahi dan sekitar pelipisnya.
Mata kecilnya menangkap gerakan mobil sedan berwarna putih yang mendekat kearahnya. Kaca mobilnya terbuka tepat didepan Baekhyun berdiri.
"maaf aku terlambat sedikit." Ucap laki-laki sambil memegang kemudinya. Kemudian melepas seatbeltnya untuk menjemput Baekhyun masuk kedalam mobilnya. Ini pertama kalinya BAekhyun melihat Chanyeol berpenampilan rapi seperti orang dewasa. Rambut hitam cepaknya di jambul keatas diatas dahinya. Wajahnya lebih terlihat segar daripada biasanya. Menggunakan kemeja dengan warna gradasi biru langit dari kerah kemejanya kemudian memutih hingga ujung kemejanya. Celana jins hitam dan sepatu vans merah maroon dengan sol berwarna putih. Sempurna dimata Baekhyun. "kau menunggu lama?" Baekhyun hanya diam. Mata bulan sabitnya kini menjadi purnama. Pandangannya menyapu wajah Chanyeol. "Baekki?"
"lumayan." Chanyeol tersenyum tipis. Ia tahu balasan Baekhyun akan seperti ini
.
.
"kau sangat cantik, Baek." yang dipuji memalingkan wajahnya kearah jendela. Berusaha keras menyembunyikan rona merah muda di pipinya. Chanyeol membuka satu telapak tangannya. Mengajak tangan Baekhyun untuk menautkan jari-jari mereka. Baekhyun hanya melirik. Logika dan perasaannya bergemuruh. Logika berkatatidak untuk menyambut telapak tangan Chanyeol, sedangkan perasaannya berkata sebaliknya. Chanyeol berdecak. Menarik paksa tangan kiri Baekhyun untuk menyapa genggamannya. Dengan erat Chanyeol menautkan jari-jarinya.
"aku merubah penampilanku. Bagaimana menurutmu?" Baekhyun hanya diam. Masih setia menatap jalanan dari balik kaca mobil. "Baekhyun?" yang ditanya seperti orang tuli. "ah iya, soal kejadian kemarin di kelas guru Jung. Terima kasih telah membelaku."
"aku tidak membela mu. Aku hanya tidak ingin guru jung banyak bicara. Terlalu berisik." Chanyeol menghela nafasnya pelan.
"sampai kapan kau akan bersikap dingin seperti ini terhadapku? Waktuku tidak banyak, Baek." Baekhyun menaikkan sedikit alisnya. Apa maksud Chanyeol berkata demikian? "aku mencintaimu, Byun Baekhyun." Baekhyun kembali mengulangi hobby barunya. Menggigit bibir bawahnya keras, menahan tangis. "Baekki?" rahang bawah Baekhyun bertemu. "tatap aku, Baekki." Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali. Menghilangkan genangan airmatanya. Kepalanya menengok kearah Chanyeol. Mata mereka bertemu. "aku mecintaimu,Byun Baekhyun"
'sialan!' batin Baekhyun mengumpat. Akhir – akhir ini kelenjar airmata Baekhyun tidak pernah menurut. Ia terus menumpahkan cairan penuh kesedihan dan emosinya dihadapan Chanyeol dengan tidak sopan.
"jangan menangis." Chanyeol tersenyum. Mengusap air mata baekhyun di pipinya pelan. "aku menunggu kau mengatakannya juga. tapi aku tidak bisa menunggu lama."
"kau akan membawaku kemana?"
"kebun stoberi. Milik pamanku dulu. Kau masih ingat?" Baekhyun mengangguk. Sewaktu sekolah menengah pertama Chanyeol sering membawa Baekhyun berlibur ke rumah pamannya dan memanen buah stoberi bersama paman, bibi dan saudara Chanyeol. Dan mulai saat itulah Baekhyun menyukai buah stoberi.
.
.
Baekhyun setengah berlari menghampiri ladang stoberi dihadapannya. Chanyeol menyusul Baekhyun dari belakang. Memandang perempuannya dengan senyum tergantung di kedua telinganya.
"masih sama seperti yang dulu, 'kan?" Chanyeol berbisik tepat di telinga Baekhyun.
"pamanmu merawatnya dengan baik."
"tidak. Kebun ini bukan lagi milik paman. Ia sudah pindah ke Selandia Baru bersama anak tunggalnya disana dengan bibi. Sekarang kebun ini milikku. Aku namakan kebun ini kebun 'Stro-baekki'." Baekhyun menoleh kaget. "ayo memetiknya sebanyak yang kau mau."
.
.
Baekhyun menjinjing dua keranjang kecil penuh stroberi di tangnnya. Menghampiri Chanyeol yang duduk santai di pinggiran jalan sambil mencuri-curi foto Baekhyun melalui kamera handphonenya.
"aku sudah selesai."
"tidak ingin mengambil lebih banyak lagi?" Baekhyun menggeleng lucu. Chanyeol tidak tahan untuk mengucap-usap kepala Baekhyun sayang. "kalau begitu ayo kita cari tempat makan." Baekhyun mengangguk. "ah iya!" Chanyeol mengarahkan kamera depan di handphonenya 45 derajat diatas kepalanya. Dengan senyum yang sangat gembira Chanyeol menunjukan dua jari telunjuk dan jari tengahnya. Sedangkan Baekhyun mengerjapkan matanya bingung menatap Chanyeol. "senyuuuummm~"
CKRIKK~ **
Chanyeol mengambil selca secara sepihak. Mengirim fotonya ke Sehun dan Kai
"dikebun 'Stro-Baekki' ku bersama Baekhyun3" -13.05-
.
.
Segini dulu yah chap 4 nya teman-teman sekalian. Untuk ff ini saya sengaja update dikit-dikit biar cepet update kan buat nyenengin kalian wkekeke *alesan lagi* untuk adegan NC nya pasti ada kok namanya juga rate M tapi entaran yah sabar…hehe
Terimakasih buat reviewer yang dengan rajin meluangkan waktu sebentar untuk komentar soal bagaimana sih FF ini..meski saya tetep terima kasih sama yang udah follow/fav FF ini, saya mengharapkan komentar kalian dikolom review :((( semoga kali ini teman-teman sekalian mau meluangkan waktu sebentar buat komentar tentang FF ini kaya gimana di otak kalian. Gausah ragu mau komen gimana aja. saya terima syukur2 bisa membangun..^^ review kalian juga bikin saya makin semangat lanjutinnya hoho
Big thanks buat yang udah review di chap sebelumnya:
alfianisheila NopwillineKaiSoo rain park edifa Su Hoo parkeunrinn27 ChanHunBaek luphbepz byunyeolliexo parkbaekyoda92 cola baekk kimkyungsoogirl yeollo Rly. oshbaek neli amelia ChanHunBaek sugarlight parkeunrinn27 ruixi1 bebe fujo amelia68hzt seogogirl parklili kimkyungsoogirl ayuayuyua baekmay Yulyul BubbleYoung Luhanssi
.
.
= ADDITIONAL SCENE =
Kai : *menggandeng tangan kyungsoo* bagaimana film Minnion nya? Kau suka?
Kyungsoo : *merona* *mengangguk kecil*
Kai : Bagaimana denganku? Kau suka?
Kyungsoo : e..engg…*menggigit bibir*
Kai : kenapa kau sangat menggemaskan? *tersenyum* *mencubit pelan pipi Kyungsoo*
Kyungsoo : E-entahlah… *menunduk*
Kai : aku menyukaimu, noona. Mau jadi pacarku?
Kyungsoo : *mendelik* *menatap mata Kai* ngg…ya. aku mau, Kai. *merona hebat*
Kai : *mangkup pipi Kyungsoo* *mencium bibirnya*
