Title: Daily Lives

Disclaimer: Masashi kishimoto

Rate: T

Author: Kadalbotak

Summary: Sebuah kumpulan cerita sehari-hari yang tidak jelas tentang Naruto dan teman-temannya. AU, OOC, and anything else. Enjoy.


Menguping

"Ino, apa yang sedang kau lakukan?" Kiba terlihat bingung saat mendekati Ino yang berada di depan pintu kamar Hinata.

"Ssshhh!" Ino memperingati Kiba dengan suara yang pelan sambil terus menempel telunjuknya di bibir. Ia lalu memberi kode pada Kiba untuk mendekat.

"Apa yang sedang kau lakukan, kenapa tidak kembali ke bawah, di bawah saat ini sedang seru-serunya bermain game, kau tahu?" Kiba menurunkan suaranya sambil menatap Ino yang sedang menguping di depan pintu berwarna putih itu dengan antusias.

Kiba menggelengkan kepalanya melihat Ino. Kambuh lagi

Ino tersenyum kecil. "Ada permainan yang lebih seru daripada yang di bawah."

"Haa.." Kiba mengerutkan dahinya. Ia berpikir permainan apa yang lebih seru daripada permainan raja. Entah sudah berapa tahun ia berteman dengan Ino namun tetap saja ia tak bisa memahami sifatnya. Terkadang Ino memang sedikit aneh dan sulit di tebak.

Ino lalu menjewer telinga Kiba. "Dengar!"

"Hinata, apa kau yakin?"

"Ya, aku sangat yakin, Naruto."

Kiba menatap Ino namun tak mengeluarkan suara apapun, namun dari tatapannya terlihat ia seperti ingin mengatakan, "Ino! Situasi apa yang sedang terjadi saat ini?"

Ino hanya menaruh telunjuk di bibirnya, memberi tanda untuk tidak berisik.

"Tolong Pelan-pelan ya Naruto, ini baru pertama kalinya untukku."

"Ini pertama kalinya untukmu? Benarkah?"

Sakura celingak-celinguk mencari kemana sahabat-sahabatnya pergi. Ia heran di tengah-tengah permainan, mereka hilang satu-persatu dengan berbagai alasan. Mulai dari Hinata, Naruto, kini Kiba dan Ino. Dan sebenarnya ia pun tidak enak hati meninggalkan Shikamaru sendirian dibawah.

Ia lalu melihat Ino dan Kiba di depan pintu kamar Hinata. Ia lalu bergegas mendekati mereka. Pikiran jahil Sakura pun melintas dan membuatnya ingin sedikit mengerjai mereka. Ia kemudian merubah strateginya dengan cara mendekati mereka dengan sangat pelan, begitu perlahan, benar-benar seperti tak mempunyai hawa keberadaan.

Ia lalu memakai topeng putih bertaring dengan corak merah yang tergantung di dinding. Kalau Sakura tidak salah, topeng itu adalah salah satu topeng milik ayah Hinata –Hyuuga Hiashi. Setelah beberapa langkah, ia lalu mendekati Ino dan berbisik di tengkuknya.

"Aku butuh darah segar."

Ino merinding. Tuhan, suara apa tadi!.

Ia lalu memberanikan diri berbalik kearah suara itu. Dan saat ia mengetahui siapa yang berbisik di telinganya, wajahnya pucat seketika dan berniat berteriak sekencang-kencang.

Kiba yang menyadari hal itu langsung menutup mulut Ino dengan tangannya. Namun naas, Ino menggigit tangan Kiba sekuat tenaga. Kiba berusaha keras menahan dirinya agar tak berteriak. wajahnya benar-benar menunjukan ekspresi yang sebelumnya belum pernah terlihat, yaitu sebuah perpaduan antara ekspresi orang menahan buang air besar selama 3 hari dan ekspresi orang yang sedang mabuk sabu-sabu bercampur pil KB kadaluwarsa. Benar benar sebuah keajaiban yang diperlihatkan tuhan.

Sakura melepaskan topeng dan langsung jongkok menahan tawa karena menyaksikan kejadian itu. Ino yang akhirnya sadar kalau itu Sakura langsung mendekatinya dan menarik pipinya denga kedua tangan.

"Apa kau tahu rasanya jantung yang hampir lepas, hah? Bagaimana kalau aku mati seketika, hah? Kalau aku mati, sudah pasti kau yang akan aku hantui pertama, kau mengerti"

"Go-Gomuuenn," Pipi Sakura ditarik keatas dan kebawah. "Aku hanyuuwa suweedikit terbawa suasaNa!." Sakura meringis karena Ino menarik pipinya lebih keras.

"Takkan terjadi lagi. Janji" Sakura memberi senyum terbaiknya bahkan mengalahkan senyuman sekelas miss universe sekalipun. "Jadi, apa yang sedang kalian lakukan?" Sakura penasaran.

Kiba terdiam.

Perubahan suasa macam apa ini! Benar-benar cepat. Seperti tak pernah terjadi apa-apa. Berarti, satu-satunya yang menderita disini adalah aku dan tanganku. Baiklah kalau begitu, fine.

"Hei Kiba, apa-apaan wajah penuh kekecewaanmu itu," seru Sakura.

Karenamu! Semua karenamu kau tahu. Andai saja aku bisa mengigitmu dan Ino. Tuhan! Kesalnya hatiku.

"Aku baik-baik saja, tak perlu di cemaskan," singkat Kiba.

"Baguslah," sela Ino. "Sakura, cepat pasang kupingmu." Mereka bertiga lalu melanjutkan kegiatan mereka.

"Naruto, kau bisa memasukannya sekarang."

"B-Benarkah, apa tidak terlalu cepat."

"Tapi, lakukan dengan lembut."

"T-Tentu saja."

Wajah Sakura memerah. Ia lalu melirik Ino. "Ino. Ini.."

"Sssshhh. Sudah, diam saja dan dengarkan."

"Sudah masuk, Hinata."

"Ya, aku tahu.

Naruto terkekeh. "Kau ini."

Wajah Kiba, Ino dan Sakura benar-benar merah saat ini.

"Kiba, cepat geser, aku tidak jelas mendengarnya," bisik Sakura. Ia lalu mendorong Kiba sedikit ke kiri.

"Sakura, apa-apaan kau itu, " bisik Kiba. Ia lalu balas mendorong Sakura.

"Apa kalian tidak bisa diam, kalau begini kita bisa ketahuan," bisik Ino. Namun ia benar-benar tidak di hiraukan. Karena kesal, ia lalu ikut mendorong mereka berdua. Suasana dorong-mendorong semakin panas diantara mereka bertiga.

Suara pintu bergemeretek terdengar samar, sebelum akhirnya tidak bisa menahan beban berat ketiga orang itu dan akhirnya terbuka. Ketiga orang itu jatuh kelantai saling menindih dengan posisi Kiba yang berada paling bawah.

Suasana hening sejenak sebelum akhirnya.

"Aku tidak melihat apa-apa Naruto, silahkan kau lanjutkan," teriak Kiba. Ia memalingkan wajahnya sambil menggerakan tangannya ke kiri dan kanan.

"Aku pun sama Naruto," singkat Ino. Ia pun memalingkan wajahnya yang merah.

"Begitu pun aku," singkat Sakura. Ia menundukkan wajahnya.

Suasana kembali hening untuk sesaat. Sebelum akhirnya tawa Naruto pecah.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" Naruto tertunduk sambil tertawa di samping tempat tidur. Hinata yang sedang diam disampingnya masih berusaha mencerna situasi yang terjadi.

Mereka bertiga lalu memandang kearah Naruto dan Hinata.

"J-Jadi kau tidak sedang-" Ino menggantung kalimatnya. Pikirannya dipenuhi tanda tanya sekarang. "Ya, begitulah."

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan?" Naruto menopang dagunya diatas tempat tidur dengan wajah yang merah sehabis tertawa. Ia tatap wajah ketiga sahabatnya yang sedang kebingungan.

"J-jadi yang tadi itu-" Sakura pun menggantung kalimatnya. Situasi apa yang terjadi saat ini, benar-benar berbeda dengan apa yang ia pikir sebelumnya.

"Naruto," singkat Kiba.

"Hm," singkat Naruto.

"Kau tadi tidak sedang 'begituan' kan dengan Hinata?" Hinata yang mendengarnya terlihat sedikit kaget namun tidak berkata apa-apa.

"Ya, tadi aku sedang 'begituan' dengan Hinata," singkat Naruto.

"APA!" Kiba, Ino, Sakura dan –juga- Hinata berteriak bersamaan.

"Maksudku 'begituan' adalah game, kau tahu, game. Jadi maksudnya aku sedang 'begituan' dengan Hinata adalah aku sedang bermain sebuah permainan dengan Hinata, jelas." Naruto menggelengkan kepalanya.

"Jadi, game macam apa yang bisa membuat Hinata berkata, 'Naruto, kau bisa memasukannya sekarang' begitu." Ino berbicara sambil menunjukkan ekspresi sexy.

"Dan juga, 'Sudah masuk, Hinata' begitu." Sakura menimpali. Ia coba pasang ekspresi macho, namun benar-benar tidak sesuai.

"Tapi, lakukan dengan lembut." Kiba coba mencontohkan dengan suara yang lembut namun sebenarnya menjadi terdengar sangat mengerikan.

Hinata yang mendengar semua itu hanya bisa terdiam dengan wajah yang luar biasa merah. Memang sih apa yang di pikirkan teman-temannya salah, tapi jika kejadian itu benar-benar terjadi, apa yang akan ia lakukan. Apakah ia akan menolaknya, apakah ia akan melakukannya. Apa yang akan ia lakukan.

"Jadi, tadi aku sedang bermain billiard kau tahu. Itu adalah pertama kalinya Hinata bermain billiard, jadi dia memintaku untuk melakukannya dengan lembut, memasukan bola, memasukan bola."

"O...!" Ketiga orang itu berbicara bersamaan.

"Hei apa yang sedang kalian lakukan?" Shikamaru muncul di depan pintu yang terbuka itu. ia tutup mulutnya yang sedang menguap. "Cepatlah, aku sudah tidak kuat ingin 'begituan'"

"Apa!" Mereka berbicara serempak sambil menatap Shikamaru.

Mereka lalu melempar Shikamaru dengan barang-barang yang ada di dalam kamar. "Makan, maksudku makan. Aku sudah tidak kuat ingin makan."

Dan hari pun berjalan sedikit kacau.

END


Gimana ceritanya, bagus, jelek, ancur, lanjut, stop? kalo gitu, review aja :D