Title: Daily Lives

All characters by: Masashi kishimoto

The Story by: Kadalbotak

Rate: T (mungkin?)

Warning: Alternative Universe, Out of Character, Typo

Summary: Sebuah kumpulan cerita sehari-hari yang tidak jelas tentang Naruto dan teman-temannya.


Liburan Musim Panas Part 1

Tiga orang pemuda itu duduk di sebuah meja cafe dengan raut wajah lesu. Jus yang mereka pesan hanya dimainkan, sambil sesekali diminum dengan malas-malas.

"Eto, Uzumaki-san," Kiba memulai. Ia meletakkan wajahnya di atas meja dengan di topang kedua tangannya. Wajahnya terlihat malas, bahkan hanya untuk sekedar berkedip. "Menurutmu, kegiatan apa yang harus kita lakukan untuk menghabiskan liburan musim panas ini?"

"Hoi, Hoi, Kiba. Apa-apaan gaya bicaramu yang formal itu." Naruto menaikan alisnya. Ia menjawab tak kalah malas dengan posisi bibir masih mengulum sedotan. "Yang ada dalam pikiranku saat ini hanya pantai atau gunung."

"Standar sekali,"jawab Kiba sambil meniup-niup rambut yang menjuntai diatas dahinya.

"Mau bagaimana lagi," jawab Naruto pasrah. Ia lalu memainkan sedotan di dalam mulutnya ke kiri dan kanan.

Kiba mendongak. "Jorok seperti biasanya."

Naruto membiarkan komentar Kiba menguap ke udara dan tetap memainkan sedotannya.

"Hoi, kalian berdua, apa-apaan sikap malas itu. sungguh potret anak muda yang gagal. Tak bisakah kalian sedikit bersemangat?" seru Shikamaru.

"Misalkan," lanjutnya. "Bersemangat seperti seorang anak muda yang bercita-cita ingin menjadi raja bajak laut di masa depannya, mungkin." Shikamaru menunjukkan sebuah gambar pemuda dengan wajah yang di sensor. Pemuda itu mengenakkan topi jerami dan memakai kemeja merah dengan celana jins pendek.

"Tunggu, tunggu, Shikamaru." Naruto menaikan alisnya. "Apa-apaan sensor itu. kita tahu itu One Piece, bukan?" Ia menunjuk. "Dan sensor itu benar-benar buruk, kau tahu. Apa kau membuatnya menggunakan spidol?"

"Tidak juga." Shikamaru melemparkan sebuah spidol ke arah belakang dengan kecepatan tinggi.

"Hoi! Siapa yang melempar spidol ke arahku?" seorang pria berdiri sambil memegangi kepalanya lalu melihat ke sekeliling. Wajahnya menyeramkan, seperti Mike Tyson yang baru saja di hajar habis-habisan lalu tercebur ke dalam selokan dengan wajah yang mendarat terlebih dahulu.

Shikamaru berdehem. "Atau mungkin,"

Naruto mengetukkan gigi-giginya dengan mata yang melebar. "Shikamaru!" jeritnya. "Apa kau tidak mempunyai rasa bersalah sedikit pun?"

"Kurasa ikut terbuang saat tadi aku buang air kecil," singkatnya.

"Astaga." Naruto menutup wajah dengan kedua tangan.

"Baiklah." Shikamaru melanjutkan. " Kenapa kalian tidak coba mencontoh semangat seorang pemuda yang tiba-tiba berubah menjadi shinigami karena ingin menyelamatkan keluarganya." Ia menunjukkan sebuah gambar pemuda berambut oranye dengan wajah yang kembali di sensor. Pemuda itu memakai jubah panjang berwarna hitam sambil memanggul pedang besar di bahunya.

Kiba menyeruput jus di depannya dengan perlahan. "Shikamaru, kita sudah tahu kalau itu Bleach, bukan?" Kiba menunjuk. "Tapi yang aku heran," ia lalu menghela nafas. "Kenapa sensornya berupa kumis? dan terlebih lagi, kenapa berbentuk kotak, serta tepat berada di tengah? Kupikir Bleach tidak memakai setting perang dunia kedua, bukan? "

"Tak ada alasan khusus. Hanya sebagai estetika saja," singkat Shikamaru.

"Atau," Shikamaru kembali melanjukan. "Bersemangat seperti seorang pemuda yang mempunyai kekuatan rubah ekor sembilan yang berusaha menjadi pemimpin desanya." Ia lalu menunjukkan sebuah gambar.

"Hoi, Shikamaru. Kita tahu itu cerita Naruto, bukan?" seru Naruto.

"Benar," singkat Shikamaru.

"Aku bersyukur kali ini tak ada sensor." Naruto terdiam sejenak. "Tapi, kenapa kau menunjukkan gambar durian yang memakai ikat kepala dengan tulisan 'Hokage is my dream' di bawahnya!? Dan juga, dari mana kau mendapatkan semua gambar-gambar tidak jelas itu!?"

Naruto geram. Ia menatap tajam ke arah Shikamaru sambil mengepalkan tangannya. Ia ambil gelas yang ada di depannya dengan kedua tangan lalu memakannya perlahan-lahan. Suara kriuk-kriuk terdengar di dalam mulutnya. Ia tertawa lalu membuka mulutnya dan menunjukan pecahan-pecahan kaca yang telah berubah menjadi serpihan kecil. Sesaat kemudian, darah mengucur dari sela-sela giginya dan membasahi meja mereka. Ia lalu terbaring karena pusing, darah mengucur lebih deras dari mulutnya. Sesaat kemudian, ia mati kehabisan darah di tempat itu.

Maaf, ilustrasi tadi hanya imajinasi tidak jelas dari author yang sedang lapar karena belum makan. Saking laparnya author, hingga membayangkan bisa memakan beling yang jelas-jelas Cuma bisa di makan kuda lumping. Baik, lupakan itu. Dialog di bawah adalah jawaban sesungguhnya.

"Aku mendapatkannya dari anak di belakang yang sedang membaca Shounen Jum*" jawab Shikamaru dengan malas

"Hoi! kenapa kau mensensornya! Kita tahu kalau itu Shounen Jump, bukan?" Urat-urat bermunculan di kepala Naruto.

"Dan juga," Naruto melanjutkan. "Nara-san." Ia memelankan suaranya. "Bisakah kau tidak berbicara pada kami hanya menggunakan tanganmu? Dari tadi kau melakukannya. Dan itu sangat mengganggu, tahu!" jeritnya.

"Baiklah." Shikamaru berbicara sambil membentuk tangannya menjadi tanda 'Ok'sementara wajahnya masih tertutup jaket.

Naruto dan Kiba saling memandang.

"Naruto, kau pilih kaki atau kepala?" tanya Kiba.

"Kepala," singkat Naruto.

Shikamaru bangkit dan meletakkan jaketnya di samping sambil memandang Naruto dan Kiba dengan mata setengah terbuka.

Aura merah berada di se keliling Naruto. "Kiba, aku sudah ada di Gear Second," seru Naruto pada Kiba.

Aura hitam mengelilingi tubuh Kiba. "Aku sudah dalam posisi Bankai," jawab Kiba. "Aku siap kapan saja."

"Kekerasan tidak pernah menyelasaika masalah, bukan?" Shikamaru menjawab sambil meletakkan kedua tangannya di samping kanan dengan posisi menempel.

"Berapa lama Kamehame-mu bisa di keluarkan?" tanya Kiba.

"Hanya beberapa detik," singkat Shikamaru dengan wajah polos.

"Tunggu! Tunggu! Kau bilang kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, bukan?" urat-urat kembali muncul di pelipis Naruto.

"Benar, kegiatan ini tidak akan menghasilkan apapun." Shikamaru duduk dan meyeruput jus yang ada di depannya. Naruto dan Kiba duduk mengikuti Shikamaru. Wajah mereka kembali seperti saat pertama. Lesu.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Naruto kembali.

"Kurasa kita harus menanyakannya pada para gadis," jawab Shikamaru.

"Benar, mereka selalu tahu apa yang harus di lakukan saat liburan musim panas," timpal Kiba.

Mereka bertiga lalu mengeluarkan handphone masing-masing.

"Halo, Hinata." Naruto menjadi orang pertama yang menelpon.

"Halo, Ino." Kiba kedua.

"Halo, apa ini rumah sakit Konoha?" Shikamaru ketiga.

"Benar, ada yang bisa di bantu?"

"Apa aku bisa memesan kamar? sepertinya aku akan membutuhkannya saat liburan musim panas ini berakhir."

TBC


Author's Note: Ok, chapter tiga bagian satu selesai. Chapter tiga ini akan di bagi jadi beberapa bagian. tapi belum tahu berapa-berapanya. hehehe.

Terus, gimana? cukup lucu gak? kalo gitu, review ya.

Jaa.