Title: Daily Lives
All Characters By: Masashi Kishimoto
Story By: Kadalbotak
Rate: T
Liburan Musim Panas Part 2
Ino melirik ke arah Hinata yang sedang asyik membaca majalah fashion kegemarannya dengan serius. Ia mendekati Hinata dengan perlahan dan mulai mengikuti arah pandangan Hinata yang bergerak ke kiri dan kanan dengan intens. Di majalah itu, ia melihat sebuah pakaian renang dua bagian berwarna biru tua dengan bagian samping yang bertali. Tinggal kau lepas tali pengikat sampingnya, maka, voila! Seluruh mimpi laki-laki ada disana. Menunggu untuk di telusuri.
"Naruto pasti suka jika kau memakai pakaian renang itu." Ino berbicara tepat di samping Hinata dengan nada datar. "Ya, dia pasti suka." Ino Menyeringai. Mata Hinata melebar dengan sempurna dan jantungnya serasa di cengkram dengan kuat. Ia benar-benar terkejut dengan perkataan Ino, yang tiba-tiba mengatakan bahwa Naruto akan menyukai pakaian renang yang sedang di lihatnya.
Ino tersenyum jahil. "Kau tidak perlu berpikir keras tentang baju renang itu. Naruto pasti menyukainya –tidak, aku kira, ia pasti menyukai apapun yang kau kenakan," tukasnya.
Hinata berlalu sambil membuang mukanya yang terlihat memerah.
Ino tertawa kecil sambil menatap Hinata denga pandangan jahil. "Ada yang malu rupanya."
"T-Tidak, aku tidak malu," bantah Hinata sambil memajukan wajahnya mendekat ke arah Ino. Dengan otomatis, Ino memundurkan tubuhnya kebelakang.
"Baik, baik, aku menyerah. Tidak ada yang bisa mengalahkan Hinata Ojousama," jelas Ino dengan ekspresi menyerah di wajahnya dan tangan yang diangkat ke udara. Hinata tersenyum penuh kemenangan dengan tangan yang dilipat di dada.
Ino menyenderkan badan ke tembok yang tepat ada di belakangnya sambil melirik ke sekeliling kamar Hinata. Ia pandangi rak buku berwarna coklat tua yang kokoh itu. Rak itu penuh dengan berbagai macam buku, mulai dari buku pelajaran, buku memasak, buku menjahit dan yang terakhir, novel. Seingatnya, Hinata memang sangat suka membaca novel, apalagi dari pengarang wanita yang bernama Natsuo Kirino.
Entah karena terlalu terekspos atau matanya yang memang terlalu jeli. Foto Naruto dan Hinata yang ada di atas meja belajar terlihat dengan jelas. Berbingkai hitam, tepat di samping tempat alat tulis. Di foto itu, terlihat Naruto yang sedang menggenggam tangan Hinata erat dengan wajah jahilnya. Sedangkan Hinata, ia tersenyum simpul dengan ekspresi tersipu malu. Latar belakang sebuah kuil tua dan pohon sakura menambah romantis suasana.
"Apa kau mengambil foto itu di kuil dekat sekolah?" tanya Ino penasaran.
"Hah?" Hinata melirik. Ada sedikit jeda sebelum ia mulai mengerti apa yang Ino bicarakan.
"Foto. Foto itu." Ino memberi tanda dengan wajahnya.
Hinata melihat keatas meja belajarnya. "Ahh.. yang itu. y-ya, kau benar, aku mengambilnya di kuil dekat sekolah." Dengan sedikit tergesa-gesa ia lalu menyimpan foto itu ke dalam laci sambil memasang senyum kikuk.
Ino terdiam, wajahnya sedikit memerah dengan mulut yang terkatup. Hinata mengerutkan kedua alisnya.
"Kau kenapa Ino?"
Ino tak menjawab. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia lalu menundukkan wajahnya, dan saat itu pula tawanya pecah tak terbendung.
"Aku kira sifatmu memang takkan berubah. Hinata si pemalu. Apalagi menyangkut Naruto. Sungguh, hal itu selalu membuatku tak bisa menahan tawa."
Ino menyeka air mata yang sedikit menetes dari sudut matanya, sambil sesekali memperhatikan Hinata yang terdiam dengan mata yang membulat dan alis yang terangkat. Hinata lalu menjulurkan lidahnya mengejek Ino.
Tak berapa lama, handphone Hinata yang tergeletak di atas meja berdering dengan cukup keras. Ia pandang nama yang tertera di layar.
Hinata berjalan sedikit menjauh sebelum akhirnya mengangkat telpon. "Moshi-moshi, Naruto-kun."
"Ya, Hinata. Sedang ada dimana sekarang?"
"Di rumah. Aku sedang bersama Ino juga." Kedua alis Hinata saling bertautan. " Kenapa suaramu seperti tersengal-sengal?"
"Benarkah? Aku hanya sedang memainkan sebuah permainan bersama Shikamaru dan Kiba."
"Permainan seperti apa?" Hinata lalu berjalan kearah cermin di dekat jendela dan duduk di kursi di depannya.
"Bisa dibilang," Naruto memberi jeda. "permainan ketangkasan."
"Permainan ketangkasan? Permainan ketangkasan seperti apa?"
Naruto terdiam sejenak. Hening terasa untuk beberapa saat sebelum akhirnya Hinata kembali bersuara.
"Naruto. Kau masih disana kan?"
"Ya. Aku masih."
"Jadi, permainan seperti apa?"
"Umm.. Nama permainannya adalah 'Ganggu Anjing Itu Sampai Marah Lalu Berlari Sekuat Tenaga Sampai Pingsan.' Tapi sayang, aku kalah, Shikamaru dan Kiba sudah pingsan lebih dulu."
"Kau tidak serius kan Naruto?" Mata Hinata membulat.
"Tentu saja."
"Naruto!" Suara Hinata sedikit meninggi.
"Tidak serius."
"Kau membuat orang lain bisa terkena serangan jantung tahu." Hinata menghembuskan nafasnya pelan.
"Makanya jangan suka memotong perkataan orang, itu tidak baik." Naruto terkekeh.
"Kau tahu, aku itu-" Suara Hinata terdengar sedikit pelan.
"Aku itu?" Naruto mengulangi kata-kata Hinata.
"Sudahlah, wanita itu tidak suka terang-terangan, tahu."
"Terang-terangan apanya?"
"Ok, cukup." Hinata tersenyum. "Jadi apa yang membuatmu menelponku?"
"Rindu," singkat Naruto.
"Bohong."
"Iya, aku bohong."
"Kau ini!" Hinata geram.
"Aku bohong, kalau tidak rindu."
"Gombal." Hinata merona. "Aku serius, apa yang membuatmu menelponku?"
"Aku ingin mengajakmu ke cafe biasa. Umm, ada yang ingin aku bicarakan."
"Malas. Kenapa kau tidak datang kesini saja?"
"Ayahmu, ada di rumah?"
"Memangnya kenapa kalau dia ada di rumah?"
"Apa kau ingat terakhir kali aku datang ke rumahmu?"
"Ya, aku ingat. Bukankah kau mengobrol santai dengan ayahku?"
"Jika yang kau maksud santai adalah interogasi ala kepolisian, maka seperti itulah adanya. Saking santainya, aku jadi ingin berlari keluar, berlutut, lalu berteriak,'Mama! aku sudah bisa membayangkan neraka itu seperti apa!' seperti itulah."
"Hiperbola." Hinata mengejek.
Naruto terkekeh pelan. "Mungkin saja."
"Mungkin hari ini hari keberuntunganmu, ayah sedang tidak ada di rumah sekarang. Jadi, kau saja yang datang kesini."
"Baik, baik, aku kesana Tuan Putri. Aku juga akan mengajak Shikamaru dan Kiba."
"Ok."
Hinata lalu menutup telponnya sambil menghembuskan nafas pelan. Ia lalu duduk di dekat Ino yang sedang memberinya tatapan, "Apa yang terjadi?"
"Apa?" singkat Hinata.
"Naruto?" tanya Ino.
"Ya." Hinata mengangguk.
Mata Ino membulat. "Kencan?"
"Tidak." Jawab Hinata tegas.
"Tidak salah lagi, saatnya kencan?" Ino menggoda.
"Tidak pergi kencan" jawab Hinata mantap.
"Tidak pergi kencan saat ini, tapi nanti?" Ino kembali menggoda.
"Benar-benar tidak pergi kencan." Hinata mulai kesal.
"Ahh..!. aku tahu." Ino mengangkat telunjuknya tepat disamping kepalanya.
"Cukup..." Hinata menaruh telunjuknya di bibir Ino. "Aku saat ini tidak akan pergi kemana pun."
Dengan telunjuk Hinata yang masih menempel di bibirnya, Ino menjawab dengan sedikit tidak jelas, "Baik. Aku mengerti, aku mengerti."
TBC
Orait, setelah sekian lama, baru sekarang update lagi, hahahaha. part 2 untuk chapter ini. semoga gak pada bosan nunggu, hhaaha. chapter ini kemungkinan besar akan berakhir di part 3.
bagi yang mau review, boleh banget. Di tunggu sekali. sampai jumpa lagi, jaa nee :D
