Daily Lives

The Story by Kadalbotak

Characters by Masashi Kishimoto

Humor (Hopefully XD)

Rated T


Liburan Musim Panas Part 3

Tumpukan tas dan alat-alat lainnya tertata rapi di bagasi mobil van saat Naruto membukanya. Ia edarkan pandangannya pada kurang lebih 6 tas dengan ukuran yang beragam itu. Alisnya berkerut. Dengan sedikit menghela nafas, ia ambil tas-tas itu dan mulai menurunkannya.

"Hap!" Kiba berdiri di samping Naruto dengan sikap tangan yang seolah-olah menangkap. "Kau akan kehilangan kebahagiaanmu jika mengeluh."

Ia lalu bersender di samping badan van yang berwarna hitam pekat, persis seperti mobil-mobil yang dipakai oleh para penculik di banyak film Hollywood. Ujung matanya melirik kearah Naruto.

"Kau memang pengertian Kiba." Naruto menatap Kiba dengan terharu, lelehan ingus sedikit terlihat di ujung hidungnya dan tidak keluar semua karena terhalang upil yang sepertinya sudah membatu.

Ia berpikir bahwa Kiba tidak akan membiarkannya mengangkat koper-koper itu sendirian, meskipun Naruto tahu bahwa ia kalah permainan janken dan harus mengangkat semua koper itu sendirian. Betapa setia kawannya Kiba.

Kiba lalu mendekatinya dengan wajah penuh perdamaian dan senyum simpul yang menenangkan.

"Kalau begitu, aku kembalikan kebahagiaanmu kawan. Ini!" ia lalu menjejalkan tangannya ke mulut Naruto dengan paksa sambil memasang ekspresi tak berdosa.

Tangannya bergerak naik dan turun, bergerak ke kiri dan kanan, menggosok wajah Naruto dengan penuh cinta kasih dari seorang sahabat. "Bagaiamana? Sudah berapa banyak kebahagiaan yang kembali padamu?"

"Kuwrangg ahjar gau Giba! Buwgan ihni yag agu maghsud, godoh!" Sambil berbicara tidak jelas, Naruto mencengkeram tangan Kiba dan mencoba melepaskannya. Namun ia sedikit kesulitan, Kiba rupanya cukup tangguh kalau masalah kekuatan fisik.

"Apa? Kurang? Kalau begitu sini, aku tambah ya..."

Kiba menyeringai. Memperlihatkan deretan giginya yang bertaring. Namun seringai itu terlihat semakin lebar dan lebar saja dari waktu ke waktu, lalu mata Kiba perlahan terlihat memerah. Air mata mulai mengalir tetes demi tetes.

"Aaa...!" Kiba berteriak. "Sakit, kau Naruto bodoh!"

Rupanya untuk membalaskan dendamnya pada Kiba. Naruto memutuskan untuk menggigit tangan Kiba yang dari tadi mondar-mandir di wajahnya seenaknya. Dengan kekuatan penuh, dan bahkan sudah melebihi tahap Dragon Force, ia lalu menggigit tangan Kiba dengan sepenuh hati. Dan voila! Kiba akhirnya meringis kesakitan.

Naruto hanya tertawa-tawa melihat Kiba yang menggenggam tangannya dengan erat. Meniup-niup tangannya agar bisa merasa baikan.

"Bodoh, kenapa kau gigit tanganku?!" Kiba meringis.

"Suruh siapa menjahiliku?" Naruto tersenyum-senyum penuh kemenangan sambil berkacak pinggang dan menaikkan sedikit dagunya.

"Suruh siapa mengeluh terus. Aku jadi bersemangat menjahilimu tahu." Kiba mendengus.

"Aku mengeluh karena setiap bermain janken, aku pasti kalah. Aku sebal tahu." Singkat Naruto. Ia lalu memulai aktifitas yang tadi sempat terhen- ralat, belum di kerjakan, yaitu mengangkat koper-koper yang ada di dalam van, ke dalam penginapan.

"Makanya, bergurulah padaku, agar kau bisa menjadi pemain janken terhebat." Kiba berkata dengan mantap sambil mengangkat jempolnya ke arah Naruto. "Kau bisa memanggilku Sensei mulai sekarang."

Naruto mengerahkan semua tenaganya dan mengangkat dua koper sekaligus, ia lalu membantingnya ke arah Kiba."Dalam mimpimu, bodoh!"

xxx

Kipas angin yang tergantung di langit-langit kamar penginapan itu bergerak dengan konstan dan memberikan sensasi sejuk pada tiga orang pemuda yang sedang tidur-tiduran di lantai itu.

Naruto merebah sambil memasang tangannya sebagai bantal. Ia pandang kipas angin itu dengan intens seolah itu adalah penemuan baru.

Ia heran, bagaimana orang jaman dahulu bisa bertahan dari serangan udara panas tanpa menggunakan kipas angin ataupun pendingin ruangan. Beruntunglah ia lahir di jaman yang serba modern ini, jadi ia tak perlu mengalami kesulitan semacam itu.

Ia lalu menoleh ke arah Shikamaru yang sedang memeriksa barang bawaannya di pojok ruangan.

"Shikamaru, apa ada yang hilang?"

"Untungnya sih tidak." Singkatnya sambil menoleh ke arah Naruto.

"Membosankan sekali, hilangkanlah sesuatu, agar aku bisa melihat wajah panikmu." Naruto menyeringai.

"Aku bukan kau." Singkat Shikamaru.

"Jadi, kau menilaiku sebagai orang ceroboh, hah...?" Naruto terduduk sambil mengejek.

"Akhirnya..." Shikamaru tersenyum puas sambil menaruh kedua tangannya yang saling menggenggam di samping kepala."Naruto mengenali dirinya sendiri."

Kiba terbahak melihat dialog antara Naruto dan Shikamaru. Sambil menahan perutnya, ia lalu mengusap sedikit air mata di sudut matanya.

"Tak kusangka, Shikamaru akhirnya membawa pencerahan pada Naruto." Kiba menimpali.

"Apa katamu?!" Naruto memperlihatkan deretan giginya yang bergemeletuk pada Kiba.

Kiba menggeser badannya mundur beberapa kali sambil memasang wajah ketakutan."Shikamaru, lemparkan tali padaku."

Shikamaru menyilangkan tangannya di dada sambil mencoba berpikir."Tidak-tidak, sebaiknya kurungan saja." Ia lalu menunjuk ke arah Kiba. "Ya! Kurungan saja, itu lebih efektif."

"Kalian kira aku anjing apa?!" Naruto kesal.

Shikamaru dan Kiba lalu mendekat dan saling mengobrol.

"Aku lebih suka menggunakan pentungan." Singkat Kiba.

"Apa, pentungan? Kuno sekali. Kau seharusnya menggunakan stun gun, itu lebih menghibur." Saran Shikamaru.

"Wah... kau benar-benar hebat kalau soal begini." Kiba kagum, matanya berbinar. "Tapi kalau dikombinasi dengan cambuk sepertinya akan menarik."

Mata Shikamaru berbinar."Wah... kau benar-benar satu pemikiran denganku Kiba."

"Tapi, bolehkah aku mengikatnya juga." Kiba menoleh ke arah Naruto.

"Tidak..." Shikamaru melarang.

"Apa?" Kiba kecewa.

"Kau seharusnya lebih dari sekedar mengikatnya, mungkin kita harus menyeretnya juga." Shikamaru menoleh ke arah naruto.

Naruto hanya bisa menelan ludahnya mendengar perbincangan kedua sahabatnya yang sudah berubah menjadi psikopat ini.

"Gila kalian, mana mungkin aku mau seperti itu." Naruto melangkah keluar ruangan.

"Kalau kau menolak, lalu untuk apa kau menyediakan semua barang-barang yang kami sebutkan tadi." Shikamaru lalu memperlihatkan pentungan ke arah Naruto.

Naruto lalu lari terbirit-birit, takut jika ia akan disantap oleh kedua orang itu. Shikamaru dan Kiba lalu saling bertatapan dan akhirnya tertawa terbahak-bahak. "Tsundere."

xxx

Yang paling tepat memang pergi menikmati pantai seperti ini, daripada bersama dua penjahat psikopat itu. Bisa-bisa aku masuk koran, bersok pagi. Ya... meskipun baru jam 3 kurasa tidak ada salahnya. Kenapa aku tersenyum? Apa karena kelakuan dua orang gila itu? Ya, meskipun kelakuan mereka seperti orang gila, tapi aku menikmatinya. Kurasa mereka tak jauh beda sepertiku. Tunggu, apa itu berarti aku juga orang gila? Sudahlah, itu tak penting.

Aku susuri pinggiran pantai berpasir putih itu. Beberapa kelomang bergerak lambat ke arah laut. Aku berjalan terus dan terus sampai menemukan sebuah karang di pinggir pantai. Sambil berdiri di atanya, aku melihat warna laut yang biru bening, membuatku bisa melihat apa yang ada di dasarnya. Ikan-ikan kecil berkejaran menghindari pemangsa, kepiting bergerak lambat diantara tanaman laut. Kuda laut, bintang laut? Kurasa mereka bersembunyi.

Entah berapa lama aku tidak menikmati keadaan sekitar seperti ini. Dua tahun, tiga tahun? Aku lupa.

Kalau dipikir-pikir, dari tadi aku juga tidak melihat para gadis. Kira-kira kemana ya perginya mereka? Sejak pertama sampai, mereka langsung saja menghilang, apa mereka punya jubah yang tak terlihat? Kalau mereka punya, seharusnya aku juga punya tongkat ajaib dan batu bertuah. Sial, kurasa saat pulang, aku terlalu banyak menonton film anak dengan bekas luka bentuk petir di dahinya.

xxx

"Ino-chan, kenapa kita tidak kembali ke penginapan? kukira, para lelaki sudah menunggu kita." Hinata berbicara sambil duduk di atas sebuah karang.

"Kau rindu Naruto ya...?" Ino menatap jahil.

"B-Bukan begitu..." Hinata mengelak."Ini sudah sore, sudah jam lima, mungkin lebih baik kita segera kembali."

"Aku rasa juga begitu." Temari menimpali.

"Ya, mau bagaimana lagi. Aku kira, Temari juga sudah rindu dengan Shikamaru." Singkat Ino.

"A-Apa maksudmu." Temari membuang muka. "Aku tidak tertarik dengan si ikan kurus itu. Lagipula aku ikut kan diajak oleh kalian."

Hinata dan Ino saling bertatapan dan tersenyum, mereka seolah-olah bicara,"Tentu saja kau mau ikut karena kau tahu Shikamaru akan ikut."

"Ka-Kalau begitu ayo pulang." Hinata Mengkomando.

xxx

Ino berlari dengan tergesa-gesa ke arah penginapan. Nafasnya tinggal satu-satu saat ia berada di depan kamar para lelaki. Naruto, Shikamaru, dan Kiba otomatis menoleh ke arah Ino yang baru saja tiba.

Melihat Ino yang datang dengan nafas tersengal dan pakaian Ino yang kotor, Kiba bergerak dengan otomatis. Ia pegang bahu Ino dan mencoba menenangkannya.

"Ada apa?" tanya Kiba. Matanya lurus ke arah mata Ino. Ino tak menjawab. Dengan tiba-tiba, ia peluk Kiba dengan sekuat tenaga. Kiba hanya terdiam sambil terkejut.

"Kau sudah tenang?" tanya Kiba lagi. Ia belai lembut rambut pirang Ino.

"Hinata dan Temari hilang." Singkat Ino. Wajahnya masih ia benamkan di dada Kiba.

Ketiga orang yang mendengar hal itu terkejut bukan main. Naruto melesat dan berdiri di samping Ino. Ia khawatir dengan keselamatan Hinata.

"Apa maksudmu Ino?"tanya Naruto. Ia menatap intens ke arah Ino.

"Tadi kami sedang dalam perjalanan pulang ke penginapan, tapi di pinggir hutan di dekat pantai, kami mendengar suara jeritan orang. Kami lalu memutuskan untuk masuk dan memeriksanya. Namun, saat itu kami-"

"Naruto, ayo bergegas!" Shikamaru mengambil tas dan berlari dengan sekuat tenaga.

"Tu-Tunggu." Ino menahan. Tapi Shikamaru sudah terlebih dahulu berlari keluar ruangan. Dan beberapa saat kemudian, terdengarlah benturan keras.

Naruto, Kiba dan Ino bergegas keluar. Mereka lalu melihat Shikamaru dan Temari yang sudah terjengkang. Rupanya kepala mereka bertabrakan saat Shikamaru keluar dengan tergesa-gesa.

"Hinata?!" Naruto terkejut.."Bukankah kata Ino kau hilang?"

"Itu bohong, kami hanya mengarang cerita." sela Ino. Hinata hanya tersenyum jahil ke arah Naruto.

"Dasar kalian ini, apa sih maksudnya membuat kami khawatir?" tanya Kiba.

"Itulah cara wanita menilai seorang lelaki, apakah dia peduli, sayang, ataukah dia tak acuh." Jawab Ino dengan bangga. "Dan kurasa aku sudah menemukan jawabannya."

xxx

Beberapa jam setelah acara penipuan para wanita. Para lelaki sedang merencanakan rencana balas dendam mereka. Mereka sedang menyusun strategi untuk dapat mengintip acara mandi para perempuan.

"Kurasa kita ada harapan. Tadi aku bertanya pada kakek penjaga penginapan, rupanya tempat pemandiannya ada di wilayah terbuka." Naruto melirik bergantian ke arah Shikamaru dan Kiba yang ada di depannya.

"Kalian yakin?" tanya Shikamaru.

"Mengintip harga mati." seru Kiba dengan pelan. Ia arahkan kepalannya ke atas.

"Sudah diputuskan. Ayo bergerak." Naruto mengkomando.

Setelah bergerilya beberapa lama, mereka akhirnya sampai di tempat pemandian air panas. Naruto memimpin perjalanan di depan. Ia menoleh ke belakang.

"Kalian siap?" tanya Naruto.

"Ya, taichou!" seru Kiba dan Shikamaru dengan suara pelan.

"Di depan adalah pagar yang memisahkan antara kita dan surga dunia. Kita harus dapat melewatinya." perintah Naruto sambil menunjuk ke arah pagar. "Ayo!"

Derap langkah mereka bagaikan tiga ratus pasukan sparta yang siap menghadapi pasukan persia dengan gagah berani. Sebagai yang terkuat, Kiba menjadi pondasi untuk Shikamaru dan Naruto berada di atasnya.

"Kau bisa mengandalkanku." Kiba memberi tanda oke dengan jempolnya. Ia lalu berjongkok dengan tangan yang menempel pada tembok kayu pemandian.

Shikamaru lalu menjadi orang kedua yang berasa diatas Kiba.

"Kiba, jangan bergerak, oke." Ia lalu memanjat ke atas tubuh Kiba dan memberi tanda oke pada Naruto.

Naruto terdiam untuk beberapa saat.

"Naruto, cepatlah!" teriak Kiba. Naruto tak menjawab.

"Naruto!." Shikamaru memanggil. Naruto masih tak menjawab.

Setelah beberapa saat, Naruto akhirnya mendekat. "Aku tadi sedang berdoah bodoh."

"Hah? Kau berdoa?" Kiba heran.

"Tentu saja, aku berdoa pada dewa Yato agar acara pengintipan kita berhasil." Naruto tersenyum bangga."Kalau begitu, aku naik." Ia lalu memanjat tubuh Kiba dan Shikamaru.

"Cepatlah bodoh, mereka akan segera selesai." perintah Kiba.

"Tenang, aku sedang berusaha." jawab Naruto.

"Cepatlah!" perintah Shikamaru.

"Jangan bergoyang-goyang bodoh." Naruto kesulitan untuk menjaga keseimbangan.

"Siapa yang bergoyang!" Kiba kesal.

"Aku sudah tidak tahan." Shikamaru bergetar.

"Nee... Hinata, apa kau mendengar sesuatu." Suara Ino terdengar. Naruto, Shikamaru dan Kiba terdiam mematung. Mata mereka melotot.

"Jangan bergerak!" bisik Naruto.

"Yang ada kau!" bisik Kiba.

"Cepatlah, aku tidak kuat!" bisik Shikamaru.

"Suara 'kretek-kretek' apa itu?" tanya Naruto.

"Hanya perasaan." Bisik Kiba.

"Kenyataan kok." Bisik Shikamaru."Itu suara kayu yang hendak patah.

"Apa?!" pekik Kiba dan Naruto.

"Nee... Hinata kau yakin tidak mendengar apa-apa?" suara Ino kembali terdengar.

"Aku dengar." Hinata menjawab."Tapi dari mana ya?"

"Aku juga dengar." Temari mengikuti."Kenapa papan itu aneh ya?"

"Yang mana?" tanya Ino.

"Yang itu." Temari menunjuk.

"Kau benar, seperti suara 'kretek-kretek' akan patah." Timpal Hinata.

Dalam hitungan detik papan yang disenderi Naruto,Shikamaru dan Kiba patah dan membuat mereka bertiga tersungkur. Mereka tepat berada dalam jangkauan ketiga gadis itu. Mata mereka bertautan satu-sama lain dan akhirnya ketiga gadis itu berteriak.

"Tenang, kami tidak berniat jahat, kami hanya kebetulan lewat." kata Naruto dengan senyum gugup.

"Ia benar, kami sedang kebetulan lewat saja." Timpal Kiba.

"Idem." jawab Shikamaru. Ia benar-benar menghemat perkataannya.

"Kalian pikir kami akan percaya, hah?!" Ino maju dengan badan berselimut handuk."Hinata, Temari. Ayo!"

"Dengan senang hati." Temari tersenyum. Hinata tak menjawab, namun hanya tersenyum jahil.

"Kau tahu Naruto, senyum wanita itu punya banyak arti." Kata Kiba.

"Ya. Lalu?" tanya Naruto.

"Kurasa aku tahu arti saat ini." kata Kiba.

"Ya, aku pun tahu." Jawab Naruto."Kematian."

"Naruto, Kiba, ini aneh, kurasa ada keringat keluar dari mataku." Kata Shikamaru.

Naruto dan Kiba menoleh.

"Itu air mata bodoh!." Mereka berdua menjawab serempak.

"Tapi kurasa, aku juga sama, tapi keringatku keluar dari hidung." Kata Naruto

"Itu ingus, bodoh!" pekik Kiba."Kurang ajar, kurasa aku juga berkeringat, tapi dari telinga."

Naruto dan Shikamaru hanya terdiam, mereka berpura-pura tidak tahu, lalu sedikit demi sedikit menjauh sambil menutup hidungnya.

"Woi... kurang ajar kalian! Kenapa kalian menjauh?!" pekik Kiba. Ia lalu menoleh ke arah para gadis, seluruh badannya bergetar."Apa Ino membawa zanpakuto?! Lalu Temari membawa... pedang Muramasa?! Dan Hinata...?"

Mata Naruto terbelalak, badannya bergetar"Dia tidak perlu pedang, cukup mengucapkan 'Shinra Tensei'" bisik Naruto." Kurasa keringatku mengucur lagi dari hidung.

"Sudah kukatakan bodoh, itu ingus." Kata Kiba. Mereka bertiga lalu berpelukan.

Para gadis berlari semakin dekat. Wajah haus darah mereka terlihat.

END


Ceritanya mau bikin drabble, tapi ternyata yang judulnya 'liburan musim panas' malah jadi threeshot. yare-yare, sudahlah. selamat menikmati.