Various instruments sound a harmony (united as one).

It can tell a story, but without the lyrics,

It's the same as a single melody (we won't understand).

So, I'll sing,

a Happy Birthday,

(as a present,

as a promise).

From me to you, from you to me.

And when the song is born,

you hear, My Dear.

Beautifully awaken.

Shout out your trully will

to those who stand as a fighter.

And when the song is born,

it will never disappear.

It may be forgotten—

but it will remain still

in the heart of a true lover.

(It's a present,

It's a promise).


BIRTH OF A SONG

Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

I don't gain any commercial advantage by publishing this fanfic. This exactly is just for fun.

Story © Sukie 'Suu' Foxie

Warning: AU.

For SIFD 2015—ShikaIno Fan Days, September 22nd-23rd.

Happy ShikaIno Fanday~! Spread the love of ShikaIno~!

Long live ShikaIno!


Ino menatap layar ponselnya sebelum menggeletakkanya begitu saja di atas meja. Sesaat, ia ingin menyesali perbuatannya. Untuk apa ia mengirim pesan yang pada akhirnya tak akan berbalas?

Terlebih lagi, bukankah ia sudah mengucapkan selamat tinggal?

Napas panjang meluncur lirih. Ino sungguh sedang bersedih.

"Hari ulang tahun yang buruk," gumamnya sambil menjatuhkan tubuh ke atas kasur. Dipejamkannya kedua matanya, berharap agar ia segera tertidur—dan terbangun setelah September usai.

Pemikiran itu malah membuatnya tersenyum geli. Bebannya sesaat terangkat. Betul, hanya sesaat.

Selanjutnya, mimpi buruk yang membuatnya enggan tidur kembali menghantui. Ingatan itu begitu jelas baginya—ingatan yang dilupakan oleh Shikamaru setelah kecelakaan itu.

Sampai sekarang pun, kenyataan bahwa ia telah melontarkan kata-kata itu masih membuatnya ingin meneriakkan penyesalan. Untuk kali itu, ia sempat berharap bahwa Tuhan tak pernah mendengar kata-katanya jika kemudian kata-kata itu dijadikan sebagai doa. Dan dikabulkan.

Ino meringis. Mati-matian ia memaksakan diri agar tak menangis lagi. Namun, sia-sia. Ia akan merelakan matanya kembali terlihat bengkak di keesokan paginya. Mungkin make-up bisa membantunya menyamarkan bengkak di mata—itu pun kalau dia berniat pergi ke kampus nanti siang.

Air matanya kini sudah membasahi bantalnya untuk kesekian kali. Namun, Ino belum akan berhenti.

"Kenapa … aku bisa me-mengucapkan kata-kata seke-kejam itu padanya …?" ujarnya sembari terisak. "Kenapa aku—"

.

.

.

"Mengertilah, Ino! Aku ini sibuk!"

"Sibuk, heh?" Ino memasang senyum sinis. "Sesibuk apa, sih, sampai-sampai kau tidak bisa menyempatkan diri untuk datang? Kau kan sudah janji!"

"Aku tahu, aku kan sudah minta maaf," Shikamaru terdengar mulai sedikit kesal.

"Kau tahu kalau acara di kampusku bisa menjadi kesempatan besar bagiku, 'kan? Kau tahu kalau aku sudah menantikannya, membawakan lagu itu berdua denganmu di atas panggung—berharap ada pencari bakat yang melihat aksi kita dan kemudian—"

"Berhentilah mengomel, Ino!" ujar Shikamaru setengah membentak. "Apa kau tidak bisa paham posisiku? Aku sudah menjelaskannya padamu, 'kan? Aku harus membantu Profesor di kampusku untuk menyelesaikan penelitiannya!"

"Tapi kau sudah janji duluan padaku, Shikamaru!"

"Sampai kapan kau mau bertingkah seperti anak kecil begitu, Ino? Merepotkan!"

Seharusnya Ino sudah terbiasa mendengar Shikamaru mengucapkan kata-kata tersebut. Namun, sekali itu, harga dirinya yang terluka membuatnya tak bisa berpikir tenang. Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa ia cegah, bersama kata-kata penuh amarah ….

.

.

.

"Kalau memang aku sebegitu merepotkan bagimu, lupakan saja aku dan cari perempuan lain yang tak merepotkan!"

.

.

.

Tangis Ino semakin deras mengucur tatkala otaknya juga seakan hendak menyalahkannya dengan terus memutar kata-kata yang sudah terlontar dari mulutnya. Bagaikan rekaman yang tak ada tombol mati, kata-kata itu terus bergema dan menyayat hatinya—membuatnya kembali rapuh meski ia telah bertekad untuk tegar.

Ini … yang terbaik bagi mereka.

Bukankah demikian?

"Tidak. Aku tidak ingin berpisah—aku—tidak seperti ini—"

Ino tak pernah menyangka bahwa setelah mengucapkan kata-kata kejam itu dan lari dari hadapan Shikamaru, ia akan mendengar kabar dari ibu Shikamaru bahwa laki-laki itu mengalami kecelakaan. Ibu Shikamaru berkata bahwa tiba-tiba saja, Shikamaru keluar dengan sepeda motornya lalu beberapa menit berlalu dan beliau mendengar kabar bahwa sang putra mengalami kecelakaan. Memang, saat itu Shikamaru tidak mengenakan helm. Masih beruntung bahwa kecelakaan tersebut tidak berujung maut, tetapi … kepala Shikamaru mengalami benturan dengan keras setelah ia terlempar dari motor.

Dari posisi tempat ditemukannya tubuh Shikamaru yang terluka waktu itu, Ino menduga bahwa pemuda itu sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Posisinya tidak jauh dari halte bus yang ada di depan kompleks perumahan Ino.

Rasa takut dan kengerian bahwa waktu itu ia nyaris kehilangan Shikamaru kembali menjalari hati Ino. Ia nyaris kehilangan Shikamaru untuk selamanya waktu itu meski kenyataannya—

—ia pun sudah kehilangan Shikamaru yang merupakan kekasihnya sekarang.

Ino ingat, waktu Shikamaru pertama kali terbangun di rumah sakit setelah dokter menyatakan bahwa selain gegar otak ringan, tak ada yang bermasalah dengan diri kekasihnya—atau ia harus menyebutnya mantan kekasih sekarang.

Laki-laki itu tidak mengenalinya. Hanya Ino yang tidak ia kenali!

Lalu, saat Ino mendesak karena tak ingin dilupakan begitu saja, laki-laki itu terlihat kesakitan dan akhirnya kembali tak sadarkan diri. Dokter bilang, reaksi itu timbul dari sisi psikologisnya. Dan Ino menarik kesimpulan … Shikamaru memang ingin melupakannya.

Keberadaan Ino … dihapuskannya begitu saja.

"Shikamaru …."

Meninggalkan Ino sebagai satu-satunya pihak yang mengingat segala kenangan tentang mereka.

Ino tak mau ambil risiko dan memaksa Shikamaru untuk mengingat. Ia tak ingin melihat Shikamaru kesakitan lagi—karena secara tidak langsung, penolakan Shikamaru pun akan menyakitinya.

Biarlah, biarlah hanya lagu mereka yang abadi.

Lagu yang mereka ciptakan dengan segenap hati sebagai hadiah ulang tahun bagi mereka masing-masing ….

o-o-o-o-o

Pukul sepuluh pagi, Ino akhirnya memutuskan untuk berangkat ke kampus. Hari itu, ia mengenakan sebuah topi rajutan yang diharapkannya bisa sedikit memberi bayang di wajahnya hingga menyamarkan bengkak dan make-up yang tak sempurna.

"Aku pergi dulu!" teriak Ino setelah ia mengenakan sepatu boots hijaunya.

Dalam hati, ia bersyukur bahwa ia tidak satu kampus dengan Shikamaru. Ia tidak perlu takut berhadapan dengan laki-laki itu di saat yang tidak ia kehendaki. Meski jauh di dasar hatinya, Ino sangat ingin bertemu.

Karena itulah, kemarin-kemarin ini ia sengaja mengecek jadwal check up Shikamaru, lalu datang terlebih dahulu dan menantinya di halte. Diam-diam, Ino pun merasa senang sendiri dengan keberadaan laki-laki tersebut di sampingnya. Meskipun, pada awalnya Shikamaru seolah tak menyadari kehadirannya.

Ino nyaris merasa bahwa masih ada harapan saat Shikamaru mengenali lagu milik mereka berdua, tapi … sudahlah. Ia sudah harus merelakan.

Manusia bisa merencanakan, tapi kehendak Tuhan-lah yang menentukan. Ino memang sudah bertekad hendak merelakan Shikamaru demi kebahagiaan laki-laki itu, tapi entah mengapa, begitu matanya beralih dari jalan ke sosok seseorang yang tengah berjalan ke arahnya, semua tekadnya langsung terkhianati. Di hadapannya, Ino melihat sosok pemuda yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya. Ia sampai tercengang karena mengira bahwa ia baru berhalusinasi.

Shikamaru tidak mungkin ada di sini.

Ino pun memilih mengabaikan penampakan yang menyerupai Shikamaru tersebut. Sembari menurunkan topi rajutannya dan menunduk, ia melewati sosok pemuda yang entah mengapa malah bergeming di tengah jalan.

"Ino?"

Apa kali ini pendengarannya yang bermasalah? Apa dunia sedang bersekongkol untuk tidak membiarkannya melepas Shikamaru begitu saja?

Ino terdiam. Tubuhnya bergetar. Bukan karena angin samar yang menjadi penanda kedatangan musim gugur. Tapi, karena kesedihan yang tak terbendung.

"Kau … ingat?"

Karena berdiri membelakangi Shikamaru, Ino tidak bisa melihat bagaimana ekspresi pemuda itu. Namun, tiba-tiba saja ia merasakan tangannya digenggam dan tubuhnya diputar lalu dipeluk dengan hangat.

"Wasurerareru kamo shirenai keredo, hontou no koibito nara kokoro no naka ni nokoru," bisik Shikamaru tepat di telinga Ino. "Ya—aku sudah mengingatnya, Ino. Maafkan aku."

Tangis Ino semakin deras. Di pelukan Shikamaru, semua emosi yang mati-matian ditekannya beberapa hari belakangan ini, tumpah tanpa bisa terbendung lagi.

"Ti-tidak. Aku yang—yang harus minta maaf … padamu," ujar Ino di sela isak tangisnya. "Aku … tak pernah bermak—sud … mengatakan h-hal sekejam itu …."

Ino bisa merasakan kepala Shikamaru yang menunduk dan mengecup puncak kepalanya sementara tangan laki-laki itu mengelus kepala Ino dengan sayang. Selama beberapa saat, tak ada yang bersuara. Hanya semilir angin dan gesekan daun pada jalan yang menjadi orkestra samar.

Sekonyong-konyong, Ino melepaskan diri dari pelukan Shikamaru.

"Padahal aku—sudah mau merelakanmu …," ujarnnya dengan senyum yang dipaksakan. Beberapa tetes air mata masih lolos dan semakin membasahi pipinya.

"Memangnya kau bisa?" jawab Shikamaru sambil tersenyum. Ibu jarinya kemudian menyentuh sudut mata Ino—dengan lembut membantu Ino menghapus air matanya. "Semalam pun kau masih menangisiku, 'kan?"

Mata Ino terbelalak. Ia kemudian tertawa kecil. "Jangan besar kepala," ujar Ino setengah bergumam.

Dari sudut matanya, Ino bisa melihat Shikamaru yang ikut tersenyum. Betapa hati Ino menghangat saat ia melihat senyuman kekasihnya tersebut.

"Ngomong-ngomong, Ino … ini." Shikamaru mengambil sesuatu dari saku jaketnya dan memberikannya pada Ino.

Tangan Ino menerima CD lagu yang sedikit berbeda dari yang sebelumnya ia berikan pada Shikamaru. Tak ada kertas putih yang sudah mati-matian ia tempel untuk menutupi kebenaran dari lagu tersebut.

"Pantas," gumam Ino lirih. "Kau benar-benar … jenius, Shika—"

Ino tak sempat mengatakan apa-apa saat mendadak Shikamaru mengecup bibirnya. Hanya ciuman singkat—yang mengandung banyak arti dan luapan emosi. Kerinduan, kasih sayang … permohonan maaf, dan ….

"Selamat ulang tahun, Ino," ujar Shikamaru setelah ia menjauhkan wajahnya dari Ino. Kini Ino bisa melihat bagaimana Shikamaru memberikan suatu seringai yang membuat wajahnya semakin memanas.

"K-kau!" Ino menoleh ke kanan dan kirinya. "Bisa-bisanya kau—kalau ada yang lihat bagaimana?" cerocos Ino panik sambil menyentuh pipinya yang menghangat. Bahkan sentilan angin musim gugur tak sanggup mengurangi hangat yang menjalar sampai di telinganya.

"Ya, ampun. Kepala yang terbentur membuat kepribadianmu sedikit berubah, ya?"

"Masa?"

Tangan Shikamaru langsung meraih tangan Ino dalam genggamannya seolah tak memedulikan protes Ino sebelumnya. Ino hanya bisa merengut meski ia tak mau menampiknya.

"Ngomong-ngomong, kau mau ke kampus, Ino?"

"Tsk. Jangan mengalihkan pembicaraan seperti itu—tapi, iya. Aku mau ke kampus."

"Bolos saja hari ini. Kita ke rumahku dulu. Ibuku pasti senang kalau bisa melihatmu lagi."

Ino terdiam tapi kemudian, ia hanya bisa bergerak mengikuti langkah Shikamaru yang membawanya. Senyum merekah menghiasi wajahnya. Kali ini—senyum kebahagiaan.

"Eh, Shika …."

"Hm?"

"Kau tidak membawa motormu hari ini?"

Diam-diam, Ino bersyukur bahwa ia—mereka—masih diberi kesempatan untuk bersama. Berbagi kehangatan melalui jemari yang saling bertautan, berbagi tawa di atas tangis yang menyesakkan. Mungkin terlalu cepat waktu Ino mengatakan bahwa ini adalah ulang tahunnya yang terburuk.

"Ah …," jawab Shikamaru malas-malasan, "kupikir kau bisa menduga. Semenjak kecelakaan itu aku dilarang mengendarai motor oleh orang tuaku. Dan aku rasa, aku juga masih sedikit trauma."

"Berarti ke mana-mana untuk sementara kau akan menaiki kendaraan umum?"

"Begitulah. Ada pilihan lain?"

"Tidak," jawab Ino sambil tertawa lembut. "Ngomong-ngomong, nanti di halte, sembari menunggu bus, kita dengerin lagu Birth of a Song, ya?"

Nyatanya, ulang tahunnya kali ini menjadi sangat, sangat spesial baginya—pun bagi Shikamaru. Bagi keduanya.

"Terserah kau saja."

Ino tertawa lagi. Lalu, dalam benaknya, alunan musik Birth of a Song sudah mulai bergema bahkan sebelum diputar.

Lagu itu … lagu yang akan menjadi lagu tema bagi keduanya.

Selalu—dan untuk selamanya.

.

.

.

"And when the song is born, it will never disappear. It may be forgotten—but it will remain still in the heart of a true lover."

.

.

.

.

.

.

***THE END***


Tamat! Tamat! Tamat! Happy ending, 'kan?

Gimana, udah cukup berasa dramanya? Feel-nya berasa nggak? Maaf kalau kurang berasa yah, terutama untuk bab 2 yang dikerjainnya ngebut. :')

Syukurlah, masih kekejar namatin cerita ini. Sempet panik juga pas tetiba tumbang. Satu harian sempet nggak megang laptop sama sekali. Mana tidur juga lagi nggak enak, sempet mikir, kalau gini gimana bisa sembuh? Gimana aku bisa beresin bab 2-nya? T_T *nangis darah*

However, thank God I can finish it on time! XD

Oh, yah, mau ngejawab review yg non login. Untuk yg login, aku langsung bales ke PM yah. Thank you! :"D

xoxo: hihi, di chap ini udah kejawab ya :")

Sekarang … selamat ulang tahun my baby girl, Yamanaka Inoooo~! I will always adore you and forever you'll be my inspiration! X"D

Happy SIFD 2015, Guardians!

Without further ado, reviews are always welcomed and appreciated.

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie.

~Thanks for reading~