Phoenix yang Kesepian

Yo!Kita bertemu lagi,minna-san! Maaf karena lama updatenya karena saya sibuk sama tugas SMA dan juga karena terkadang tidak mau connect sama wifi makanya lama...Karena saya masih baru dan apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, mohon dimaafkan! Mulai saja yuk ceritanya!

Chapter 2

1 minggu setelah kejadian tersebut, Sun Ce yang memiliki rencana berangkat menuju ke rumahnya Sima Yi akhirnya tercapai juga. "Ling Tong,apa kau siap?", tanya Sun Ce pada Ling Tong. Ling Tong sedikit gugup karena ini pertama kalinya dia keluar dari kerajaannya sendiri. Semenjak ayahnya meninggal karena sakit, Ling Tong menjadi anak yang penyendiri. Setelah dia bertemu dengan Lu Meng, dia mulai bisa membuka dirinya pada orang lain."Aku tidak yakin tentang hal itu, Ce gege...", kata Ling Tong kecil. "Tidak apa, Gongji!Kau pasti bisa melakukannya! Kau hanya perlu berbicara dengannya,kok...", sahut Lu Meng untuk menyemangati murid kesayangannya selain Lu Xun. "...", Ling Tong terdiam. Dia memikirkan apa yang akan dikatakannya nanti saat orang itu bertanya sesuatu pada dirinya. Dia... Bisa dibilang sangat canggung saat bertemu dengan orang baru. Sesaat setelah pemakaman ayahnya,dia yang tidak pernah bertemu dengan Sun Jian, langsung bersembunyi di belakangnya Lu Meng. "Akan kucoba...", jawab Ling Tong ragu-ragu. "Bagus!", puji Lu Meng. "Um,Tuan Lu Meng... Apakah Boyan gege juga ikut?", tanya Ling Tong dengan wajahnya yang imut itu (author langsung melting lalu pingsan) "Tentu saja dia ikut! Dia yang akan menemanimu saat kau bertemu dengan temanmu itu, Gongji! Iya, 'kan, Boyan?", tanya Lu Meng pada Lu Xun. Dari dulu, setelah Ling Tong kenal dengan Lu Meng, dia dikenalkan oleh Lu Meng pada Lu Xun. Karena Lu Xun adalah orang yang hangat dan punya masa lalu yang sama makanya Ling Tong menganggap Lu Xun adalah kakaknya dan dia selalu menempel pada Lu Xun (tidur pun juga sama Lu Xun) "Tentu, Gongji! Aku ikut denganmu!", kata Lu Xun sambil mengusap rambutnya Ling Tong. "Kalau begitu, aku ingin menaiki kuda yang sama dengan Boyan gege! Boleh, 'kan, Tuan Lu Meng?", rengek Ling Tong dengan mata yang bersinar-sinar (author langsung kejang-kejang di lantai) "Ehem! Begini... Karena Boyan masih berumur 13 tahun, dia masih belum boleh untuk menaiki kuda sendiri...", jelas Lu Meng. "Baiklah...", ucap Ling Tong dengan nada tidak rela ditambah sedih karena dia tidak bisa satu kuda dengan Lu Xun. Tapi apa boleh buat karena ini demi kebaikan Lu Xun juga. Ling Tong tidak ingin Lu Xun terluka lagi karena dulu, setengah tahun yang lalu, Ling Tong sedang bermain petak umpet bersama Lu Xun. Tapi karena Ling Tong tidak menyadari adanya ular berbisa di belakangnya, Lu Xun yang terkena gigitan ular berbisa tersebut. Jika Lu Xun tidak segera ditolong maka dia sudah tidak ada di dunia ini sekarang. Beruntung, karena Ling Tong pernah diajar tentang medis oleh ayahnya dan Lu Meng, maka dia bisa langsung menyelamtakan Lu Xun.

Mereka pun akhirnya berangkat menuju Kerajaan Jin setelah semua persiapan telah selesai. "Tuan Lu Meng,apakah Tuan Lu Meng pernah bertemu dengan orang yang akan kita temui sekarang?", tanya Ling Tong pada Lu Meng. "Tidak pernah, yang pernah itu Tuan Putri Shangxiang karena mereka adalah teman dekat...", jelas Lu Meng. "Ooh... Aku penasaran seperti apa orang yang akan kita temui nanti...", kata Ling Tong. Lu Meng hanya diam saja, tidak tahu apa yang harus dikatakannya karena rasa ingin tahu anak kecil lebih besar dibanding dengan orang dewasa.

Setelah 1 jam perjalanan, mereka sampai di tujuan. Sun Ce dan kawan-kawannya menyerahkan kuda mereka kepada para pengawal Kerajaan Jin. "Sima Yi!", teriak Sun Ce dari luar rumah Sima Yi. "Ada apa?", tanya Sima Yi sambil membuka pintu. "Aku ingin bertemu dengan Wen Yin! Apa aku boleh menemuinya?", tanya Sun Ce dengan bersemangat. "Ada apa, Ce gege?", tanya Wen Yin yang tiba – tiba muncul dari belakang Sun Ce. "Ah, Wen Yin! Aku ingin mempertemukanmu dengan seseorang! Kau mau?", jelas Sun Ce. Wen Ying hanya diam, berpikir sejenak apakah orang tersebut berniat jahat atau tidak. "Di mana orang itu?", tanya Wen Yin. "Dia ada di belakangnya Lu Meng! Tenang, dia seumuran denganmu, kok!", kata Sun Ce sambil mengelus kepalanya Wen Yin. Wen Yin yang dingin itu hanya menatap Sun Ce dengan tatapan dingin sekaligus curiga. Apakah benar itu? Tapi Sun Ce tidak pernah berbohong kepadaku, pikir Wen Yin. "Gongji, ini teman barumu! Ayo, sapa dia!", perintah Lu Meng. Ling Tong yang pemalu tidak berani maju ke depan sendirian. Lu Xun yang melihat hal tersebut langsung mengambil tindakan, yaitu menemaninya untuk berkenalan dengan Wen Yin. "Ayo, Gongji! Aku akan menemanimu!", kata Lu Xun. "I,iya...", jawab Ling Tong sambil menggandeng tangannya Lu Xun. Wen Yin yang melihat Ling Tong langsung terkejut, karena dia bisa meihat aura dan juga kekuatan setiap orang yang dia temui. Wen Yin pun bertanya pada Ling Tong ,"Apa kau juga seorang Phoenix?". "Eh? Itu... Mungkin saja iya...", jawab Ling Tong gugup. "Berarti dia Yang!", sela Sima Yi. "Berarti dia adalah pasangan hidupku...", kata Wen Yin pelan. "Pasangan hidup?", tanya Ling Tong yang mendengar tentang hal itu. "Aku akan jelaskan tentang hal itu di ruang tamu", kata Wen Yin sambil pergi ke ruang tamu.

Di ruang tamu, Sima Yi dan Wen Yin mendengarkan semua penjelasan yang dikatakan oleh Sun Ce dan Lu Meng. "Jadi seperti itulah kejadiannya kenapa tiba – tiba Ling Tong bisa menjadi Yang...", kata Wen Yin yang mengerti akan situasi tersebut. "Apa kejadian yang sama terjadi padamu, Wen Yin?", tanya Lu Xun. "Tidak, dari lahir aku sudah ditakdirkan untuk menjadi Yin karena kalung ini sudah kupakai saat aku masih kecil. Tapi aku benci menjadi diriku yang sekarang...", keluh Wen Yin. " Kenapa?", tanya Ling Tonh penasaran. "Aku dijauhi oleh temanku setelah mereka tahu kalau aku adalah Yin. Dalam sejarah, Yin akan jatuh ke dalam kegelapan dan membunuh kekasihnya sendiri di hadapan para makhluk kegelapan yang dinamakan yaoguai...", jelas Wen Yin. Wajahnya Wen Yin yang parau tersebut dapat menjelaskan kejadian tersebut, karena Wen Yin sudah bisa merasakan hal itu akan datang saat dia dan Ling Tong tumbuh menjadi orang dewasa. "...", Ling Tong hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. Suasana di ruang tamu itu menjadi canggung. "Anu... Bolehkah aku bertanya satu hal?", tanya Ling Tong untuk memecahkan keheningan yang tidak mengenakan itu. "Apa itu?", balas Wen Yin. "Kalau kau tidak ingin membunuhku, kenapa kau tidak menolak permintaan dari yaoguai-yaoguai tersebut? Kau bisa menolaknya, bkn?", saran Ling Tong. "Mudah untuk dikatakan tapi sulit untuk dilakukan...", kata Wen Yin. "Ya... Bagaimana, ya... Bukannya aku akan memarahimu atau apa, tapi setidaknya kau harus bisa melindungi dirimu sendiri baru kau bisa melindungi orang lain yang kau sayangi", nasehat Ling Tong. Wen Yin yang mendengar hal itu langsung sadar. Selama ini, kenapa dia tidak sadar akan hal yang begitu penting untuk bertahan hidup di dunia perang ini? "Aku terima saran dan nasehatmu, Ling Tong. Tapi kau sendiri juga harusa bisa melakukan hal itu!", perintah Wen Yin. "Tentu saja!", sahut Ling Tong senang. Wen Yin terkesima dengan senyumannya Ling Tong yang cerah itu. Memang benar, dia memang cocok untuk menjadi Yang, pikirnya. Kalau di dunia ini tidak ada Yang, maka hal ini pun tidak akan pernah terjadi dan cahaya pun tidak akan ada untuk memerangi kegelapan yang ada. Jika Yin ada, maka Yang pun juga ada di sana karena mereka berdua saling melengkapi. Tidak ada yang dapat memisahkan mereka, kecuali kegelapan yang ada di dunia tersebut.

-TBC-

Bagaimana? Apa masih kurang bagus? Mohon maaf kalau masih kurang bagus karena ide yang ada di kepala hanya itu... Gan Ning belum mendapatkan peran sampai di chapter 4, mohon maaf, Gan Ning.

Gan Ning : "Apa-apaan itu?! Kenapa lama sekali?!"

Author : "Hanya 2 chapter lagi, kok... Tenang! Dan jika kau ingin mendapatkan peran nanti, kuharapkan kau bisa diam sekarang!"

Gan Ning : "Maafkan aku..."

Author : "Baiklah, sampai jumpa di chapter selanjutnya jika tidak bermasalah lagi laptop ane!"