Phoenix yang Kesepian
Yaay, akhirnya UTS ane selesai juga!(padahal selesainya kamis kemarin) Sampai manakah kita kemarin? Apakah sampai... Hmm... Ane lupa... Yaaah, nanti juga ingat sendiri. Eniwei, mari kita lanjutkan apa yang sudah ane tinggalkan selama beberapa hari. Let's go!
Chapter 3
10 tahun sudah berlalu semenjak pertemuan antara Ling Tong dengan Wen Ying. Mereka pun tumbuh dewasa dan menjadi prajurit yang dihormati dan ditakuti oleh semua musuh.
"Apakah hanya segitu kemampuan kalian?!", teriak Ling Tong. "Kau tidak perlu memprovokasi mereka Gongji! Mereka sudah kehilangan pimpinan mereka", balas Wen Yin kalem.
Para musuh pun akhirnya mundur karena tidak bisa melawan mereka dan karena mereka sudah kehilangan pimpinan mereka. Mereka berlari sejauh mungkin agar tidak bisa dikejar oleh Ling Tong dan Wen Ying.
"Dilihat dari tampang mereka, mereka hanya orang biasa yang dipaksa oleh pimpinan mereka menjadi prajurit secara tiba – tiba...", ucap Ling Tong. "Itu benar! Lagipula, tidak ada gunanya kita membunuh mereka setelah kita berhasil membunuh pimpinan mereka", kata Wen Yin yang berjalan menuju ke kudanya. "Kau mau pulang?", tanya Ling Tong. "Urusan di sini sudah selesai. Ayo pulang!", kata Wen Yin sambil menaiki kudanya. "Baik, nona muda!", jawab Ling Tong dengan girang.
Ling Tong dan Wen Yin selalu bertarung bersama semenjak mereka beranjak ke umur 15 tahun, di mana semua anak laki – laki ataupun para gadis ingin menjadi prajurit boleh masuk ke dunia perang.
Sesampainya Ling Tong dan Wen Yin di rumahnya Sima Yi, Wen Yin langsung mengajak Ling Tong latihan lagi. Wen Yin memang tidak tahu kapan harus istirahat... (author dibunuh sama Wen Yin)
"Haruskah kita latihan, Yin? Biarkan aku istirahat! Kita habis bertarung dengan musuh 'kan tadi? Anggap saja yang tadi itu adalah latihan secara langsung...", rengek Ling Tong. "Kita tidak akan tahu kapan musuh akan datang, jadi lebih baik kita bersiap sebaik mungkin agar kita tidak kewalahan dalam menghadapi musuh di perang selanjutnya. Tadi aku lihat kalau kau hampir saja diserang dari belakang oleh musuh. Itu karena kau kurang memperhatikan belakangmu", ceramah Wen Yin. "Tapi 'kan ada kau di belakangku, Yin! Ehehehe!", balas Ling Tong. "Aku tidak selamanya bisa berada di sampingmu untuk melindungimu, Gongji. Kita berbeda kerajaan, dan kita memiliki kondisi yang berbeda. Menurut sejarah, 'Yang' mengorbankan dirinya demi 'Yin' karena dia tidak mau kekasihnya berada di dalam kegelapan selamanya. Lalu-" . "Yin, sudah jangan bicara tentang hal itu! Aku tidak ingin mendengar hal itu!", potong Ling Tong. "Tapi, kalau aku tidak akan mengatakan hal ini, kau akan mengorbankan nyawamu demi diriku...", jelas Wen Yin. "Siapa peduli aku kehilangan nyawaku kalau aku harus melindungi orang yang kusayangi? Aku sama sekali tidak peduli! Apa yang benar harus dilindungi apapun yang terjadi walaupun itu akan merenggut nyawamu. Ayahku selalu berkata begitu padaku. Melindungi apa yang benar adalah hal yang ingin kulakukan semenjak aku masih kecil", kata Ling Tong sambil memandang langit.
Wen Yin hanya bisa diam setelah mendengar ceramah dari Ling Tong. Apakah dia berniat untuk mengorbankan dirinya supaya 'Yin' tidak tertelan oleh kegelapan? pikir Wen Yin. "Tapi ada satu hal yang sangat ingin kulakukan selain melindungi!", kata Ling Tong tiba – tiba. "A-apakah itu?", tanya Wen Yin. "A-aku ingin menikahi 'Yin'!", kata Ling Tong terus terang dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus.
Hening... Tidak ada satu suara pun yang keluar dari dua insan di sana...
Apa kalian masih hidup? (author ditabok oleh para readers)
Tiba – tiba wajah Wen Yin memerah. Aku tidak mengira kalau dia akan mengatakan hal itu... pikir Wen Yin. "Ma-maaf kalau aku mengatakan hal itu secara tiba-tiba di hadapanmu...", kata Ling Tong. "Eh? I-itu... Aku... Aku tidak masalah dengan hal itu, tapi ini masih terlalu cepat. Kita baru berumur 20 tahun..." , kata Wen Yin. "Nah, itu masalahnya! Dan satu masalah lagi! Kita harus memusnahkan kegelapan itu dulu baru kita bisa hidup dengan tenang! Iya, 'kan?", tanya Ling Tong. Lagi – lagi... Wen Yin hanya bisa diam mendengar kata – kata tersebut. "Kegelapan yang dari tadi kau bilang itu bernama yaoguai. Mereka hanya bergerak di malam hari. Tapi ada juga yang bisa bergerak di siang hari tapi mereka harus meminjam tubuh manusia agar mereka bisa bergerak leluasa di siang hari...", jelas Wen Yin panjang lebar. Ling Tong hanya bisa mendengarnya. "Kau tahu semua tentang kegelapan itu, ya...", balas Ling Tong. "A-aku hanya membaca buku yang disimpan oleh paman Sima Yi...", jawab Wen Yin dengan wajah memerah. Ling Tong hanya bisa memandang Wen Yin.
"Nona muda, saatnya untuk makan siang", kata sang pelayan. "Aku akan segera ke sana!", jawab Wen Yin. Sang pelayan pun pergi meninggalkan dua sejoli ini sendirian. "Ayo makan!", pinta Ling Tong. "Kau makan saja dulu, aku akan menyusul", kata Wen Yin. "Aku akan makan jatahmu, lho!", peringat Ling Tong. "Makan saja tidak apa!", kata Wen Yin. Apa dia marah? pikir Ling Tong. Ling Tong pun tidak memikirkan hal itu dan langsung pergi ke ruang makan.
Wen Yin hanya bisa berdiam diri di tengah taman itu. Aku tidak pernah melihat pelayan itu sebelumnya... Apa dia pelayan yang baru masuk hari ini? Tapi tidak mungkin karena kalau misalkan ada orang baru di rumah, paman Sima Yi pasti akan memperkenalkannya pada semua orang di sini... Lalu siapa sebenarnya dia? pikir Wen Yin. Hening... Tidak ada satu suara pun yang didengar oleh Wen Yin. Tiba – tiba...
Buuk!
Wen Yin jatuh tersungkur ke tanah setelah dipukul dari belakang oleh seseorang. Sial, aku lengah! Pelayan itu... Dia sebenarnya adalah... yaoguai... Gongji... Setelah mengatakan hal itu di dalam hati, Wen Yin pun pingsan.
-TBC-
Apakah yang akan terjadi pada Ling Tong dan Wen Yin selanjutnya? Penasaran? Stay tune, ya!
Gan Ning : Thor, kapan aku keluar?
Author : Di chapter selanjutnya!
Zhu Ran : Aku? Bagaimana dengan aku?
Author : Setelah chapter 4
Zhu Ran pundung di pojokan...
Lu Xun : Bagaimana dengan aku?
Author : Sama dengan Gan Ning...
