Just For You

Cast :

Kim Jong In (25),

Do Kyungsoo (23),

Xi Luhan (26),

Oh sehun (25)

Pairing : KaiSoo slight! KaiLu, HunSoo

Genre : Romace, Drama, hurt/comfort

Rate : T-M

Warning! : Genderswitch for Uke!, DLDR, OOC, Typo(s)

*Just Enjoy Reading*

.

.

Chapter 6

.

.

Sinar matahari mulai naik. Teriknya begitu terasa. Nampak hari sudah menjelang siang hari. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Nampak di dalam rumah mewah keluarga Kim, dua insan sedang berbincang-bincang riang. Seorang lelaki dan seorang perempuan. Dari wajahnya yang cantik, nampak bahwa ia bukan gadis sembarangan.

Jongin terus saja menemani gadis cantik bermata rusa itu. ternyata gadis itu tak lain adalah gadis yang akan menjadi calon istrinya sendiri. Jongin sendiri tak menyangka kalau calon istrinya nanti begitu cantik dan rupawan. Hingga tanpa disadarinya, Jongin terlena kencantikan diri Xi Luhan.

"Luhan?" Tanya Jongin ragu-ragu

"Ne..?" Jawab Luhan dengan begitu lembut, sembari menampilkan senyum cantiknya yang mampu membuat Jongin terkesima.

"Kau sudah pernah kemari, sehingga tau rumahku?"

"Ya. Sekali. Itupun di ajak mama dulu.."

"Lalu, kau kemari bersama siapa tadi?"

"Sendirian.." Jawabnya riang. Jongin menelan salivanya kaku. Dirinya gugup untuk memulai pembicaraan. Meski ragu, Jongin mulai menanyakan seputar pengenalan diri sendiri. Dan dirinya pun pada akhirnya mengetahui, bahwa Luhan ternyata berbeda satu tahun lebih tua darinya.

"Noona sudah tahu, tentang rencana keluarga ku dan keluarga Noona,?" tanya Jongin ragu.

"Justru karena itulah aku kemari Jongin."

"Maksud Noona ?" Jongin mengerutkan keningnya tanda tak mengerti tentang jawaban wanita cantik yang tengah ada di hadapannya itu kini.

"Aku ingin mengetahui lelaki mana yang akan di jodohkan denganku, dan ternyata tampan sekali." Kata gadis itu spontan, membuat ron kemerahan hinggap di wajah Jongin.

"Aku pun tak menyangka, kalau kau secantik ini, Noona.."

"Oh, Ya..?" tanya Luhan tak percaya "Kau kira aku jelek ya?" Tanya gadis itu kembali dengan nada yang mengejek. Membuat Jongin sedikit kikuk dan kemudian tertawa bersama. Mereka menghabisakan waktu-waktu yang menyenangkan. Sebelum kembali terjun pada topik yang sedikit sensitife menurut Jongin.

"Jadi, Noona setuju akan rencaana ini?" tanya Jongin hati-hati. Perasaannya menjadi was-was sendiri mendengar jawaban gadis cantik itu.

"Bagaimana dengan mu?" tanya Luhan santai.

"Aishh.. Ayolah Noona, jawab dilu pertanyaan ku."

"Kalau aku sih, terserah padamu Jongin. bukankah lelaki yang berhak menentukan? Aku hanya seorang gadis. Takkan bisa memilih."

"Baiklah,apa maksuda dari ucapanmu itu Noona?"

"Jika kau setuju, aku pun setuju. Itu semua terserah padamu Jongin."

"Apakah Noona sudah memiliki kekasih,?" Tanya Jongin hati-hati, takut menyinggung perasaannya.

"Sebenarnya aku memiliki seseorang yang aku sayangi. Namun aku tak bisa menolak keinginnan orang tua ku untuk di jodohkan dengan mu.."

"Mengapa Noona tak menentangnya..?"

"Aku telah berusaha Jongin, namun tetap tak ada gunanya.." Mata rusa itu mulai berkaca-kaca, membuat seorang Kim Jongin kelimpungan sendiri.

"Apa pacar Nuona itu mengetahui ini..?" Jongin bergerak mendekati sang gadis, merangkulnya dan mencoba menenagkannya.

"Tidak! Aku tak ingin menyakiti hatinya." Luhan menjawab lirih di tengah rangkulan Jongin.

"Bukankah dengan begitu dia akan semakin sakit hati jika kelak Noona menikah denganku?" Jongin bertanya lirih, sambiil membayangkan bagaimana kelak perasaan Kyungsoo nantinya.

"Ya. Aku tahu itu, namun biarlah aku terima semuanya dengan lapang dada."

"Kau mencintainya, Noona..?"

"Ya.." Luhan menjawab dan mengangguk pasti dalam rangkulan jongin. membuat Jongin sedikit merasa miris.

"Jadi Noona tak mau dengan ku.." pancing Jongin sembari menampilkan raut wajah sedihnya

"Bukan begitu Jongin. siapa yang tak ingin menikah dengan lelaki setampan mu Jongin? namun aku masih belum sanggup bila harus meng khianatinya."

"Bukannya dengan adanya Noona disini, itu sudah menghianatinya?"

"Aku tahu Jongin, namun apa yang harus aku lakukan lagi.. aku putus asa.." Luhan semakin tenggelam dalam dekapan erat tubuh Jongin. mencurahkan segala kegelisahannya, yang perlahan keluar dalam butiran air mata.

Jongin hanya terdiam. Luhan sama seperti dirinya, yang tak mampu menolak keinginan orang tuanya. Hatinya benar-benar iba dengan keadaan gadis yang berada dalam rangkulannya ini. Namun ia sendiri tak ubahnya seseorang yang tak bisa menentukan pilihannya sendiri. Hatinya rapuh.

"Noona, kau sama seperti diriku." Luhan bergumam lirih. Luhan yang mendengar nya langsung menghentikan tangisnya.

"Kau pun memiliki kekasih?"

"Ya. Dan aku pun sama dengan mu. Tak mampu menolak permintaan orang tua ku." Jongin menatap kosong tak tentu arah, membuatnya nampak sangat menyedihkan. "Noona mencintai pacar Noona bukan..?"

"Ya.. benar.."

"Baiklah, Jika Noona ingin menikah dengannya, maka menikahlah dengannya. Biarlahaku yangberkatakepada kedua orang tua kita nantinya untuk membatalkan perjodohan kita.." Luhan bangkit menatap mata Jongin yang sedang menatapnya dalam tanpa melepas rangkulan mereka. Luhan mau tak mau merona karena perbuatan Jongin.

"Tapi.. Jongin,"

Belum sempat Jongin berkata-kata lagi, dirinya sudah di kejutkan oleh sosok gadis mungil yang tengah berdiri memandang tajam kearahnya yang sednag merangkul erat Luhan. Seketika Jongin terpenjarat menyadari arti tatapan tajam Kyungsoo pada rangkulannya. Secepat mungkin, Jongin mencoba melepaskan rangkulannya dan memandang Kyungsoo yang masih tetap berdiri kaku dan menatapnya nanar.

"Kyungsoo.." Seru Jongin

"Bagus.. bagus Oppa.. Teruskan saja. Oh! Apakah aku mengganggu acara kalian..?" kata Kyungsoo sinis, lengkap dengan wajahnya yang menampilkan gurat-gurat kesedihan. Raahangnya mengeras menahan emosinya sendiri.

"Dengarkan aku dulu Kyungsoo, kau jangan salah paham." Jongin mencoba membujuk Kyungsoo untuk mendengarkannya. Namun naas.

"Tidak! Aku tak salah paham! Dan aku tak mungkin salah paham. Teruskan lah kemesraan kalian.."

"Kyungsoo ku harap kau mau mengerti sayang.." Jongin berdiri dan berbicaralembut, berusaha mengambil hati Kyungsoo.

"Ya, aku mengerti! Kau tak ubahnya buaya darat Oppa! Begitu hinakah dirimu Oppa,,?" air mata mulai menitik dari mata indah Kyungsoo. Membuat Jongin berdiri mematung dengan rasa bersalah yang menghujam pelung hatinya. "Aku tak menyangka, kalau kau begitu kejam padaku Oppa. Aku kira, kau adalah lelaki baik yang aku kenal. Namun kenyataannya, kau tak ubahnya seorng bajingan! Aku telah salah menilaimu selama ini. Bahkan aku telah salah memilihmu.." linang air mata itu semakin banyak. Dan Jongin semakin tak mampu mengendalikan perasaannya. Ia ingin sekali memeluk tubuh mungil itu, menghapuskan air mata yang berlinang, dan mengecup bibirnya, membisikkan kata-kata penenang untuknya.

"Kami benar-benar tak ada apa-apa agashi.."

"Diam kau pelacur murahan!"

"Kyungsoo jaga mulutmu.." Jongin membentak tak menyangka akan ucapan Kyungsoo.

"Punya hak apa kau menyuruhku diam? Ini mulutku sendiri. Kau kejam Oppa. Tak kusangka kau mengecewakanku.." ucap Kyungsoo seraya berlalu meninggalkan mereka berdua yang masih terdiam kaku.

Jongin mulai mengejar Kyungsoo yang telah pergi berlari menuju halaman depan rumahnya, dimana mobilnya terparkir elok disana. Sebelum Kyungsoo sempat membuka pintu mobilnya, Jongin sudah terlebih dulu mencekallengannya. Menghalangi niatnya untuk segera angkat kaki dari rumah kekasihnya itu.

"Tunggu dulu. Kuharap kau mau mendengarkanku.."

"Terimakasih. Ternyata aku telah melihat sendiri kebaikanmu Oppa. Dia cantik. Amat cantik.."

"Kyungsoo, kau salah paham.."

"Salah paham..?" Kyungsoo tertawa sinis mendengar ucapan Jongin

"Ya sayang. kau salah paham. Dan ku harap, kau mau mendengarkannya. Aku akan menjelaskan semuanya padamu.." Jongin berujar lembut seraya menatap lekat wajah kekasihnya itu yang pucat pasi. Jongin berharap, Kyungsoo melihat keyakinan dan ke juuran di matanya, sehingga Kyungsoo luluh dan akan mendengarkan semuanya.

"Tak perlu! Aku muak.." lalu dengan sekali hentakkan, tangan Jongin yag sedang memegang tangannya itu terlepas.

Seketika, Kyungsoo meluncur bersama mobilnya. Dan Jongin masih berdiri di sana. Menatap terpaku pada kepergian gadis tercintanya yang telah ia sakiti hatinya. Dengan langkah goyah, Jongin kembali memasukki rumahnya.

"Bagaimana Jongin?" Luhan bertanya penuh harap ke arah Jongin yang berjalan lemah. Dan Jongin hanya menggeleng pelan sebagai jawabannya.

"Dia salah paham Jongin.."

"Ya, aku tahu."

"Dan kau tak berusaha menjelaskannya..?"

"Aku telah berusaha menjelaskannya Noona, namun nampaknya ia masih di liputi nafsu amarah, sehingga tak mau memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya.." Kata Jongin lemah.

"Aku hanya akan berdosa, bila kau sampai berakhir dengannya Jongin.." Luhan menunduk merasakan perasaan bersalah itu seakan menusuk relung jiwanya.

"tidak.. Noona tak salah dalam hal ini.."

"Tapi, karena aku ada disini, dalam rangkulan mu, ia seperti itu bukan..?"

"Sudahlah Noona. Lupakan saja. biar nanti aku yang akan menjelaskannya.."

Luhan tak lagi meneruskan kata-katanya. Ia sungguh merasa bersalah karena telah meregangkan hubungan Jongin dengan kekasihnya itu tadi. Hatinya benar-benar sedih.

Sementara itu, terik matahari begitu menyengat. Menandakan hari semakin siang. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Langit nampak biru terbentang cerah. Dan mega-mega nampak begitu indah bergelayut di langit biru.

Dengan segala kesedihan hatinya, Jongin teriam dengan sorot pandangan matanya yang meredup. Hatinya sungguh benar-benar sedih dengan apa yang sedang di alaminya saat ini. Sungguh menyakitkan.

"nampaknya kau sangat mencintainya, Jongin" Luhan membuka suaranya di tengah sepi yang merajang

"Memang. Aku bahkan telah berjanji akan menikahinya Noona.."

"Ah, Sungguh kasihan dia telah salah paham."

"Aku akan berusaha menjelaskannya nanti.." hening sejenak setelah Jongin berkata demikian, sebelum Luhan kembali berbicara.

"Lalu bagaimana dengan masalah kita, Jongin?" Tanya Luhan ragu-ragu

"Noona ingin menikah dengan pacar Noona?"

"Ya!"

"Memang, Noona berani menentang orang tua Noona?"

"Jika kau pun akan menikah dengan kekasihmu, mengapa aku tak berani?" Jongin menatap kedua mata rusa Luahan yang memancarkan semangat yang meyakinkannya. Jongin menghela nafas ragu

"Noona tak kecewa bukan, karena aku tak menginginkan perjodohan kita ini..?"

"Tidak Jongin! justru aku sangat berterimakasih padamu. Kau telh menunjukkan kesetiaan pada calon Istri pilihanmu sendiri. Hal itu menyadarkan ku. Aku harus membela cintaku. Aku seorang perempuan. Dan aku mengerti bagaimana perasaan kekasihmu itu."

"aku takkan bisa hidup tanpa dia, Noona."

"Ya aku tahu. Dan betapa sungguh beruntungnya dia.."

Pembicaraan mereka berhenti. dan suasana menjadi hening seketika. Keduanya terdiam, memikirkan sesuatu tentang pemecahan masalah diantara mereka berdua.

"Sebaiknya kita berpura-pura dahulu kepada keluarga masing-masing, bagaimana?" Jongin mencoba memberikan usulnya.

"Maksudmu Jongin?"

"Kita pura-pura setuju dengan perjodohan ini. Setidaknya sampai aku menemukan cara yang tepat, bagaimana Noona?"

Luhan berpikir sebentar sebelum pada akhirnya mengangguk mengerti.

"Baiklah aku mengerti."

"Bagus.." Jongin bergumam lemah di antara diamnya. Luhan pun mulai merasa risih akan suasana hening yang mencekam ini.

"Baiklah, sebaiknya aku pulang dulu. Hari sudah semakin siang."

"Baiklah. Mau ku antar?" Jongin berdiri dan menawarkan tumpangannya.

"Tak perlu. Biar ku panggil taksi saja." Luhan tersenyum singkat ke arah Jongin yang kini terlihat lemas dan kacau.

"Benar tak apa, bila tak aku antar?" Jongin bertanya sekali lagii setelah di beri tahu Luhan bahwa taksi panggilannya sudah sampai.

"Ya! Tak perlu Khawatirkan aku. Khwatirkan saja dirimu sendiri." Luhan tersenyum lembut seraya memasuki taksi, dan membuka kaca jendelanya

"Baiklah, hati-hati di jalan Noona."

"Terimakasih atas perhatianmu Jongin. dan Oh iya.. tolong sampaikan salam dan permintaan maafku kepada kekasih mungilmu itu." Jongin mengangguk sesaat seraya tersenyum.

"Baiklah akan aku sampaikan."

"Pastikan ia menerima salam dan permintaan maafku. Bailah, sampai jumpa lagi.."

"Ya tentu! Sampai bermesraan lagi.." sindir Jongin. dan Lhan hanya tersenyum menanggapinya.

Jongin masih berdiri mematung menatapi kepergian sosok gadis cantik itu. tiba-tiba hatinya terasa perih menyiksa saat mengingat hal apa yang telah terjadi padanya, dan kekasih mungilnya itu. Jongin merasakan perih menyusuri hatinya karenna telah membuat kekasih tercintanya menangis dan terluka. Membuat hati Kyungsoo tersakiti.

Jongin memasuki kembali rumahnya, menaiki satu persatu anak tangga yang akan membawanya ke kamarnya. Setibanya di kamar, Jongin membaringkan tubuhnya yang terasa begitu lelah di atas kasir king size nya. Matanya berkaca-kaca. Pikirannya menerawang, ke angkasa nirwana. Bayangan Kyungsoo yang terluka dan menangis sendu, kembali menghiasi kelopak matanya yang tajam. Hatinya benar-benar gelisah. Perasaannya nyeri. Rasa takut kehilangan begitu kuat menyeruak didalam dadanya. Rasa takut kehilangan sang pujaan hatinya. Do Kyungsoo.

.

.

.

.

TBC

Yeaayy.. akhirnya uupdate juga. Maaf ya atas keterlambatan saya yang meng update FF ini *deepbow

Sebenarnya sih, pingin update cepet, tapi sibuk banget. Banyak halangannya. Jadi buat nulis ide-ide kelanjutan cerpennya jadi tersendat dan terhalang deh. tapi di usahain deh, nanti bakalan update kalo lagi ada waktu senggang. Sekali lagi maaf yah..

Ohoho.. adakah yang menunggu ff ini? Ohh kayaknya udah pada lupa yahh -_- maafkan saya ne.. :'(

Gak bakalan banyak omong deh, yang penting maksih banyak buuat review, foll, sama favo-nya.. itu saya jadikan sebagai semangat saya untuk melanjutkan ff ini

Di tunggu komentar, kritik, dan sarannya yahh..

Riview juseyeoo~~

*deepbow