Always Love You

Main Cast : Lee Hyuk Jae (Eun Hyuk) & Lee Dong Hae

Genre : Sad Romance

Length : Chapter

Rate : T

Summary : Kapan eommeonim bisa memaafkanku?/Apa yang harus kau lakukan? Kembalikan ayahku dan anakku./Kalian sungguh keterlaluan!/Bukan hanya kalian yang merasa kehilangan!/Kau bilang,, Eun Hyuk kenapa?/

.

.

.

Kau tahu apapun yang terjadi aku akan selalu mencintaimu, Hae.

Tidak peduli apapun yang terjadi diantara kita..

.

.

.

Eun Hyuk menatap lelah sarapan yang dibuat menjadi makanan yang siap untuk ia buang. Dan ini sudah terjadi berkali-kali. Eun Hyuk merasa semakin tertekan dengan keadaan ini. Wanita itu berdiri dari duduknya, dengan gerakan yang pelan –entah karena malas atau memang ia merasa lelah- Eun Hyuk membuang semua sarapan yang dibuatnya ketempat sampah. Dengan wajah yang datar, Eun Hyuk segera mencuci peralatan yang ia gunakan untuk sarapan tadi. Setelahnya, wanita itu kembali keruang tengah, dimana Ji Sung sedang sibuk dengan boneka nemo pemberian ayahnya. Bocah itu tersenyum lebar saat melihat ibunya berjalan menghampirinya, Ji Sung bahkan tertawa senang saat tubuhnya diangkat dan digendong oleh ibunya.

"Eommamamama.. " Ji Sung kini mengelus beberapa kali pipi sang ibu. Bocah yang baru berusia satu tahun itu merasa ibunya tidak sedang baik-baik saja.

"Aigoo~ Ji Sung-ie.. kau berhasil membuat eomma semangat lagi.. gomawo~" Eun Hyuk mengecup pipi gembil Ji Sung yang menimbulkan tawa lucu dari putranya.

Belum sempat Eun Hyuk melanjutkan pembicaraannya dengan Ji Sung, bel rumahnya berbunyi. Eun Hyuk mengerutkan kening karena seingatnya dia tidak memiliki janji dengan siapapun. Tapi dengan segera Eun Hyuk melangkahkan kakinya dan membukakan pintu. Dan yang ia lihat adalah, sepasang kekasih fenomenal di Korea Selatan saat ini. Lee Sung Min –sepupunya- dan Cho Kyu Hyun –penyanyi solo terkenal-. Eun Hyuk mengerjapkan matanya melihat sepasang kekasih yang selalu terlihat serasi itu.

"Noona, kau tidak membawa kita masuk?" suara bass Kyu Hyun menyadarkan Eun Hyuk dan langsung menggeser tubuhnya. Mempersilahkan kedua orang itu masuk.

"Eonnie, kenapa eonnie kesini? Ada perlu apa?"

Sung Min cemberut mendengar pertanyaan dari Eun Hyuk yang menurutnya aneh itu. Wanita yang mendapat julukan bunny Ming ini mendengus.

"Memangnya harus ada sesuatu dulu baru aku bisa bertamu kerumah adik sepupuku sendiri? Keterlaluan.." gerutu wanita imut itu.

"Bukan seperti itu.. " sanggah Eun Hyuk "Hanya saja sudah lama sekali eonnie tidak kemari. Dengan Kyu Hyun pula." Lanjutnya sambil menatap bergantian Sung Min dan Kyu Hyun yang sudah duduk nyaman di sofa ruang tengah.

"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh datang kesini, noona?"

"Bukan begitu Kyu. Kau kan sedang sibuk-sibuknya dengan konser solo mu."

"Seberapapun sibuknya aku, aku tetap akan selalu siap menemani kekasihku, noona.."

Eun Hyuk mencibir dengan perkataan Kyu Hyun. Walau didalam hatinya ada perasaan iri melihat kemesraan Sung Min dan Kyu Hyun.

"Ming.. ming.. ming…"

Ketiga orang dewasa kini menatap Ji Sung yang memanggil Sung Min sambil menatap penuh minat kearah wanita mungil itu.

"Aigoo~ Ji Sung-ie ingin bersamaku? Cha~ sini.. sama imo~"

Ji Sung tersenyum lebar, seolah menandakan dirinya bahagia bisa dipangku oleh Sung Min. Salah satu orang yang selalu memanjakannya. Eun Hyuk ikut duduk di sofa didepan Sung Min dan Kyu Hyun yang hanya terhalangi meja berbentuk persegi panjang.

"Hanya perasaanku saja atau memang noona semakin kurus?" dugaan Kyu Hyun membuat Sung Min ikut memperhatikan adik sepupunya. Dan Sung Min seolah disadarkan oleh pemikiran Kyu Hyun tadi. Eun Hyuk memang terlihat lebih kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu sekitar tiga minggu yang lalu.

"Kyu benar. Kau makan dengan teratur kan Eun Hyuk-ie?"

"Aku makan dengan teratur, eonnie. Mungkin hanya perasaan kalian. Dan mungkin karena aku memakai pakaian longgar ini jadi terlihat kurus." Ujar Eun Hyuk mencoba untuk memberikan alasan dengan baju kaos longgar yang dia pakai. Tapi sepertinya kedua orang terdekatnya itu sama sekali tidak percaya.

"Jangan berbohong, noona. Kau memang kurus dari dulu, tapi tidak seperti ini. Noona terlihat sakit."

"Eun Hyuk-ie kau yakin kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja." Jawab Eun Hyuk, berbohong. Tentu saja berbohong. Siapa yang bisa baik-baik saja jika berada dalam posisinya?

"Terus saja kau berbohong. Kau pikir aku akan percaya?! Apa suamimu itu masih bersikap seperti itu?"

"Apa maksud eonnie? Dong Hae tid-"

"Jangan mencoba membelanya Eun Hyuk-ah. Suamimu hanya menutup mata karena kepergian ayahnya dan calon anaknya. Dia tidak pernah melihat kenyataan bahwa kau juga kehilangan. Bahkan kau yang paling merasa kehilangan disini."

"Tapi memang itu semua kesalahanku.." ujar Eun Hyuk, wanita itu berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis didepan Sung Min dan Kyu Hyun, juga didepan Ji Sung yang kini terdiam menatapnya bingung.

"Karena keinginan konyolku membuat appa meninggal."

"Itu bukan salahmu, noona! Itu kecelakaan! Siapa yang akan tahu bahwa kalian akan mengalami kecelakaan waktu itu?" mata Kyu Hyun terlihat emosi. Pria yang menjadi penyanyi papan atas itu memang tidak menyukai pikiran dangkal Lee Dong Hae.

"Kyu Hyun benar. Tidak ada yang bisa disalahkan disini. Suamimu hanya-"

"Jika kalian hanya ingin menyalahkan Dong Hae atas sikapnya padaku. Sebaiknya kalian pulang saja." Ucapan Eun Hyuk membuat Sung Min membulatkan matanya, tidak percaya atas apa yang didengarnya. Eun Hyuk berjalan menghampiri Sung Min dan mengambil Ji Sung. Mata wanita itu memerah tapi raut wajahnya terlihat datar.

"Noona, kami bukannya-"

"Pulanglah. Lagipula aku ingin istirahat sekarang. Pulanglah, jebal."

Sung Min mendengus kesal. Tanpa bicara apapun, wanita itu menarik Kyu Hyun untuk keluar dari rumah yang terasa menyesakkan ini. Baru saja berbalik, Sung Min dan Kyu Hyun terpaku melihat Nyonya Lee bersama Dong Hae sedang berdiri didekat mereka. Hanya sebentar, karena setelah itu Sung Min kembali menarik Kyu Hyun untuk meninggalkan rumah megah itu.

Eun Hyuk juga tidak kalah terkejut melihat ibu mertua dan suaminya sudah ada disini. Dengan menekan perasaan sesaknya, Eun Hyuk segera menampilkan senyum terbaiknya. Segera Ji Sung didudukkan disofa dan diberikan pada anaknya boneka nemo.

"Ah, Dong Hae, eommonim.. aku pikir kalian tidak disini. Eommonim ingin minum apa? Biar-"

"Seperti itukah pandangan saudaramu pada anakku?"

"Ne? A-apa.. maksud eommeonim? Aku.. tidak mengerti-"

"Jangan pura-pura tidak mengerti!" sentakan keras Nyonya Lee membuat Eun Hyuk terlonjak, terkejut.

"Mereka menyalahkan Dong Hae atas sikapnya padamu? Tanpa memikirkan siapa dalang dibalik sikapnya padamu?" lanjut Nyonya Lee. Eun Hyuk hanya bisa menundukkan kepalanya, mencoba sekali lagi menekan semua perasaan sesaknya, mencoba menerima semuanya tanpa ada keinginan untuk membela diri.

"Bagus sekali, Eun Hyuk-sshi." Tubuh Eun Hyuk bergetar saat mendengar suara dingin Dong Hae.

"Bagus sekali. Kau yang membuatku seperti ini, tapi aku yang disalahkan? Kau benar-benar hebat! Apa lagi yang kau bicarakan tentangku pada saudaramu?"

"Hae, ini tidak seperti yang kau pikirkan.."

"Lalu seperti apa, huh? Seperti apa Lee Hyuk Jae?" kali ini, bukan hanya Eun Hyuk yang terlonjak karena mendengar bentakan keras Dong Hae. Tapi Ji Sung, bocah itu kini menatap takut ayahnya. Dong Hae terlihat menyeramkan dengan mata yang menatap tajam kearah Eun Hyuk, rahangnya mengeras, tanda bahwa Dong Hae sedang berada dipuncak emosinya.

"Mereka menyalahkanku atas sikapku. Tapi tidak menyalahkanmu atas sikapmu?! Kau yang membuatku seperti ini! Kau yang membuatku kehilangan ayahku yang sangat kucintai! Kau juga yang membuat ibuku kehilangan pegangannya! Kau juga yang membuatku kehilangan anakku! Dan sekarang, aku yang disalahkan atas semua ini?"

Tubuh Eun Hyuk bergetar hebat. Baru pertama kali dirinya mendengar Dong Hae berteriak seperti itu. Eun Hyuk takut, sangat takut. Dong Hae bukan lagi suaminya. Pria didepannya ini bukan lagi Hae nya yang dulu. Dadanya terasa sesak karena sakit yang terus-menerus berdatangan tanpa henti. Eun Hyuk tidak tahan lagi dengan perasaan sesak yang seolah bisa membuatnya mati seketika.

"Lalu apa yang harus aku lakukan, Hae?" tanya Eun Hyuk, lemah.

"Kembalikan ayahku. Kembalikan ayah dan anakku padaku!"

"Kalau aku bisa aku sudah melakukannya dari dulu, Dong Hae!" jerit Eun Hyuk tertahan. Ji Sung yang melihat ibunya seperti itu, perlahan mengeluarkan airmatanya. Dia tidak suka melihat ibunya seperti itu.

"Kau pikir hanya kau yang kehilangan, huh? Kau pikir ini semua keinginanku? Aku juga kehilangan! Aku juga kehilangan ayah dan anakku! Apa kau tidak memikirkan perasaanku sedikit saja? Bahkan aku sudah kehilangan orang tuaku!"

Nyonya Lee dan Dong Hae terdiam, sedikti terkejut mendengar jeritan dari wanita didepannya.

"Hiks,, aku juga Hae,, hiks, aku juga merasa kehilangan sepertimu, seperti kalian.. bahkan,, hikss,, bahkan,, aku kehilangan anak yang kukandung. Apa kau bisa merasakannya? Anak yang kukandung, pergi karena keinginan konyolku! Jika aku bisa, lebih baik aku ikut mati bersama appa dan anakku, Lee Dong Hae!"

DEG

Seolah seperti terkena tusukan ribuan paku dijantungnya, Dong Hae maerasa ada perasaan tidak menyenangkan saat mendengar kalimat terakhir Eun Hyuk. Eun Hyuk ikut mati bersama ayah dan anaknya?

"Aku sudah kehilangan banyak orang yang kusayangi! Kedua ayahku, eomma, dan anakku! Aku kehilangan semuanya! Apa kalian pikir aku tidak tersiksa dengan semua itu? Aku,, hiks,, jika tidak ingat memiliki Ji Sung, aku sudah pasti berdoa pada Tuhan agar mencabut nyawaku saat ini juga!"

Dong Hae merasa sakit saat mendengar semua jeritan Eun Hyuk. Bukan jeritan atau teriakan marah, tapi jeritan putus asa yang membuat perasaan menyesal perlahan melingkupi hatinya. Dia melihat istrinya menangis histeris dengan wajah pucat dan mata yang memerah. Bahkan Dong Hae baru sadar istrinya terlihat begitu kurus.

"Aku, hiks, aku tidak pernah ingin semua ini terjadi, eommonim.. aku tidak pernah ingin membuatmu kehilangan orang yang sangat kau cintai, aku tidak pernah ingin membuat Dong Hae dan Dong Hwa oppa kehilangan ayah mereka. Jika bisa, jika saja bisa, aku minta pada Tuhan untuk menukarkan nyawaku dengan appa, agar kalian bisa kembali bahagia."

Ji Sung kini sudah menangis keras melihat ibunya yang terlihat sangat menderita. Berkali-kali mulut kecilnya memanggil sang ibu. Tapi ibunya tidak menanggapi panggilannya, ibunya juga tidak melihatnya. Dan tangisan Ji Sung semakin keras bahkan meraung-raung saat melihat ibunya terjatuh begitu saja.

"Eommaaaamaamaa…. " Ji Sung ikut menjerit bersama Dong Hae dan Nyonya Lee saat melihat Eun Hyuk jatuh pingsan dihadapan mereka.

Dong Hae tercekat saat melihat sang istri tidak sadarkan diri. Pria itu seolah disadarkan oleh sesuatu. Bahwa, bukan hanya dirinya yang kehilangan. Ada istrinya yang juga sama sepertinya.

"Hyuk-ie, bangun.. Eun Hyuk-ie maafkan aku.. bangun sayang.. buka matamu.."

Tangan Dong Hae bergetar saat menepuk pelan pipi Eun Hyuk, sama bergetarnya dengan suaranya. Tanpa berpikir panjang lagi, Dong Hae segera membawa Eun Hyuk ke rumah sakit. Dan satu lagi yang baru Dong Hae sadar..

Kenapa kau ringan sekali, Hyuk-ie.. maafkan aku…

.

.

.

Dong Hae menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pikirannya tidak lepas dari kejadian yang baru saja dia lihat. Eun Hyuk tidak sadarkan diri setelah meluapkan semua perasaan mengganjal dalam hatinya. Dong Hae merasa menjadi manusia terbodoh didunia. Bagaimana mungkin pikirannya sedangkal dan sepicik itu. Dong Hae tidak menyadari bahwa ada orang lain yang lebih tersakiti dan tersiksa karena meninggalnya sang ayah dan anaknya. Dan itu adalah istrinya sendiri, Eun Hyuk, orang yang sangat dicintainya. Orang yang telah menerima semua sikap dinginnya selama ini.

"Hae-ya.."

Dong Hae menatap pria yang lebih tua darinya kini duduk disampingnya. Mereka berada dikursi taman rumah sakit ternama di Seoul. Dong Hwa menghela napas, sedikit terkejut karena satu hal yang pernah terlintas dikepalanya kini terjadi. Dong Hwa yang menjadi saksi betapa tersiksa dan tertekannya Eun Hyuk pernah memikirkan bahwa kejadian ini akan terjadi.

"Hyung, ini semua salahku.."

Dong Hwa hanya bisa terdiam. Dia tidak mau menyanggah kalimat adiknya, karena memang sikapnya selama inilah yang membuat Eun Hyuk tertekan begitu dalam. Tapi, Dong Hwa juga tidak bisa untuk terlalu menyalahkan Dong Hae. Karena, rasa kehilangan yang dirasakan oleh Dong Hae atas kehilangan ayahnya memang bisa dipahami.

"Sudahlah, Hae.. semua sudah terjadi. Yang penting sekarang, kau harus menjadi Dong Hae yang dulu. Untuk Eun Hyuk, untuk kesembuhan istrimu.."

Benar, yang dikatakan kakaknya benar. Semua sudah terjadi, Dong Hae memang menyesal, amat sangat menyesal karena sikap dinginnya selama ini pada Eun Hyuk. Tapi, hanya merasa menyesal tidak bisa merubah keadaan apapun. Yang harus dia lakukan adalah, menjadi Dong Hae yang dulu, Dong Hae yang begitu perhatian dan begitu pengertian terhadap istrinya.

TBC

Note dari aku:

Terima kasih yang udah review dichapter kemarin..

1. she3nn0 :jahat banget ya Hae nya? gak cocok banget sama muka anak kecilnya. hehe.. gak oneshot kok, ini udah ada chapter dua nya.. cuma ya gak mau panjang2 ceritanya.. terima kasih udah review..

2. rani . gaem. 1 : iya, pikiran mereka sempit banget *siapa juga yg nulis nih cerita* tapi tenang, pikiran sempit mereka tdk akan berlangsung lama kok.. bisa kelihatan kan di chapter 2.. terima kasih sudah review..

3. baechus : Hae cuma merasa kehilangan, tapi gak mikir sama istrinya.. oke ini chapter 2 nya.. ditunggu review an nya lagi..

4. Arum Junnie :orang ketiga? ada gak ya? gak kepikiran sama orang ketiga, kepikirannya sama orang keempat #eh? #abaikansajaini terima kasih sudah review..

5. el : terima kasih sudah baca dan memberi review.. iya, kasihan banget sama Eun Hyuk-ie.. *peluk2hyukie*

sekali lagi terima kasih karena udah bersedia memberi komentar ttg ff ini...

Gimana, apakah ceritanya membosankan? Apakah feelnya tidak terasa? Maklum lah, masih belajar.. hehe…

Mau nebak apa yang terjadi dg Eun Hyuk-ie? Pasti pada udah bisa nebak kan?

Satu lagi,, review juseyeooooo~~ *bow*