Always Love You

Main Cast : Lee Hyuk Jae (Eun Hyuk) & Lee Dong Hae

Genre : Sad Romance

Length : Chapter

Rate : T

Summary : Bagaimana keadaan Hyuk-ie?/Bagus kalau kau sadar. Keadaan Eun Hyuk yang seperti ini memang salahmu. Sepenuhnya salahmu./Eun Hyuk-ie, sayang, kau belum mau bangun juga, hm?/Pesankan aku tiket ke Seoul sekarang juga./

.

.

.

Aku masih dan akan selalu mencintaimu, Hae..

Apapun yang terjadi, dan apapun yang kulakukan..

Aku akan selalu mencintaimu..

.

.

.

Lee Dong Hae memperlambat langkahnya saat melihat Sung Min yang sedang menimang Ji Sung. Wanita mungil itu berjalan mondar mandir didepan ruang rawat Eun Hyuk. Dong Hae bisa melihat Ji Sung terus merengek –hampir menangis-, meronta dengan tubuh yang tidak bisa diam. Dan saat mata bulat Ji Sung yang memerah menatap mata Dong Hae, bocah menggemaskan itu semakin meronta dengan kedua tangan yang terus mengarah pada ayahnya. Sung Min melihat Dong Hae berjalan cepat kearahnya, dan mengambil alih Ji Sung. Meski tidak rela karena rasa kecewa yang Sung Min rasakan pada Dong Hae, tapi wanita itu tetap sadar bahwa Dong Hae adalah ayah Ji Sung. Dan dalam keadaan ini, Ji Sung memang membutuhkan Dong Hae.

"Aigoo~ baby Ji Sung-ie kenapa, hm?"

Hanya rengekan tidak jelas yang keluar dari bibir mungil Ji Sung. Bocah itu kini terlihat lebih tenang, terbukti dari tubuhnya yang diam dipelukan ayahnya. Seolah merasakan kenyamanan yang sangat dari pelukan Dong Hae. Kepala Ji Sung berada dibahu kiri Dong Hae, tangan mungilnya menggenggam erat kerah kemeja Dong Hae.

"Ji Sung pasti sangat merindukan ibunya.." kalimat Sung Min membuat Dong Hae mengalihkan pandangannya dari Ji Sung, menjadi kearah Sung Min.

"Bagaimana keadaan Hyuk-ie?"

"Hhh.. seperti yang bisa kau duga. Keadaannya tidak memburuk dan tidak membaik. Masih sama seperti dua hari yang lalu."

Dong Hae menghela napas, tangannya tidak berhenti mengusap punggung Ji Sung. Bocah itu kini telah tertidur lelap. "Ini semua salahku." Gumam Dong Hae yang masih bisa didengar Sung Min.

"Bagus kalau kau sadar. Keadaan Eun Hyuk yang seperti ini memang salahmu. Sepenuhnya salahmu." Dong Hae tidak akan menyangkal kalimat penuh penekanan yang diucapkan Sung Min untuknya. Karena semua yang dikatakan Sung Min benar.

"Kalian sungguh keterlaluan. Tidak kau, tidak juga ibumu." Nada suara wanita itu merendah. Mencoba untuk menekan semua perasaan marah dan kecewa pada Dong Hae dan ibunya.

"Harusnya kau sadar, bukan hanya kalian yang merasa kehilangan! Eun Hyuk, istri mu lebih kehilangan daripada kau, Dong Hae-ya. Aku tidak pernah melihat Eun Hyuk seterpuruk itu. Bahkan saat dia kehilangan ayah dan ibunya, dia tidak semenderita ini. Karena apa? Karena dia masih memilikimu, memiliki keluargamu. Dia berpikir, masih ada yang akan menemaninya setiap saat. Tapi, saat kalian justru menyalahkan Eun Hyuk atas kepergian ayahmu dan anakmu. Coba pikirkan bagaimana perasaan adikku?"

"Aku tahu, noona. Aku tahu. Aku minta maaf karena itu."

"Aku tidak perlu, dan tidak membutuhkan permintaan maafmu. Karena Eun Hyuk yang membutuhkannya." Ujar wanita mungil itu cepat. Sung Min memang kecewa dan marah pada Dong Hae. Tapi, saat melihat wajah lelah dan frustasi yang tampak pada wajah tampan Dong Hae, membuat Sung Min merasa kasihan juga. Karena, walau bagaimanapun, Dong Hae adalah sahabatnya, Dong Hae sudah dianggap adik oleh Sung Min. Dari awal bertemu Dong Hae, Sung Min tidak pernah bisa benar-benar marah pada pria dihadapannya itu.

"Aku bukannya benci padamu, aku juga tidak marah padamu, Hae. Aku hanya menyayangkan sikapmu. Itu saja." Sung Min menggenggam tangan Dong Hae yang kini berhenti mengusap punggung Ji Sung. Seolah memberi keyakinan pada pria itu bahwa dia masih akan selalu mendukungnya.

"Aku harus bagaimana, noona? Kondisi Hyuk-ie tidak ada perubahan apapun. Aku takut terjadi sesuatu padanya." dan air matapun lolos dari mata indah Dong Hae. Pria itu bahkan mulai terisak membuat Ji Sung menggeliat karena merasa terganggu.

"Aku juga khawatir, Hae-ya.. tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Sekarang, lebih baik kau masuk kedalam. Mungkin, mm.. mungkin dengan adanya kau disana, bisa membuat Eun Hyuk membaik."

"Ne. Tapi noona, Ji Sung, apa harus kubawa?"

"Ji Sung-ie biar bersamaku saja dulu. Aku tidak ingin melihat wajah kecewa anakmu lagi karena ibunya yang seperti itu."

Setelah memastikan Ji Sung tidak terbangun dipelukan Sung Min. Dong Hae berjalan masuk ke kamar rawat istrinya. Didalam sana, terbaring seorang wanita yang masih belum membuka matanya sejak tidak sadarkan diri dua hari yang lalu. Dokter menyatakan bahwa kondisi fisik Eun Hyuk baik-baik saja, semua normal. Yang terganggu hanya psikis wanita itu. Eun Hyuk mengalami depresi karena berbagai tekanan yang menimpanya, sehingga dia memilih untuk tenggela dalam ketidaksadaran dirinya. Dokter juga mengatakan bahwa tidak ada yang tahu kapan Eun Hyuk akan bangun, karena itu tergantung pada Eun Hyuk sendiri.

Dong Hae menggenggam tangan kanan Eun Hyuk, menggenggam tangan yang terasa dingin itu erat. Matanya kembali memanas melihat kondisi istrinya. Pria itu benar-benar menyesal dengan semua sikap yang telah ia lakukan pada Eun Hyuk.

"Eun Hyuk-ie, sayang, kau belum mau bangun juga, hm?"

"….."

"Aku merindukanmu, Hyuk-ie. Baby Ji Sung juga, dia sering menangis karena merindukanmu. Kau tidak khawatir pada baby Ji Sung, Hyuk-ie?"

"…."

"Aku.. aku.. aku minta maaf.. aku benar-benar menyesal.. maaf Hyuk-ie.. maafkan aku…"

Dong Hae ciumi jemari yang berada dalam genggamannya berulang kali dengan air mata yang tidak dapat dihentikan. Tangan kiri Dong Hae terangkat, mengusap pipi Eun Hyuk.

"Bangunlah Hyuk-ie.. jangan hukum aku dengan cara seperti ini.. bangunlah dan maki aku. Pukul aku sepuasmu, asal kau bangun Hyuk-ie. Aku akan melakukan apapun yang kau mau untuk menebus semua kesalahanku. Jadi aku mohon, aku mohon.. bangunlah sayang.."

Tidak ada respon apapun dari wanita yang terbaring itu. Hening menyapa pendengaran Dong Hae setelah pria itu menyelesaikan kalimatnya. Dan hal itu semakin membuat perasaan sesak melanda hatinya. Dong Hae takut jika dia tidak bisa mendengar suara Eun Hyuk lagi. Dong Hae takut, jika istrinya tidak mau bangun lagi. Jika seperti itu..

"Apa yang akan terjadi padaku, Hyuk-ie?"

.

.

.

Tokyo, Jepang.

Seorang pria tinggi dengan tubuh atletis yang dibalut setelan jas berwarna silver. Pria tampan itu menggertakkan giginya, mengatupkan mulutnya rapat-rapat mencoba untuk menghalangi sumpah serapah yang sudah siap keluar. Sebelum akhirnya, pria tampan itu menarik napas panjang dan mengeluarkan perlahan.

"Pesankan aku tiket ke Seoul sekarang juga."

"Baik, Tuan." Sesuai perintah atasannya, pria yang lebih muda dari atasannya itu membungkukkan tubuhnya dan mulai meninggalkan ruang kerja direktur tampan itu.

Setelah mendengar pintu yang tertutup, pria tampan itu memukul meja kerjanya. Mencoba meluapkan perasaan marah dan kecewa atas informasi yang dia dapatkan malam itu. Informasi dari kampung halamannya –Korea Selatan- yang membuatnya hampir hilang kendali.

"Lee Dong Hae, kau telah melanggar janjimu. Tunggu saja, Eun Hyuk-ie, aku akan menjemputmu. Aku akan mengeluarkanmu dari semua tekanan yang dia berikan padamu."

Gumaman yang penuh dengan penekanan karena perasaan marah itu keluar begitu saja. Tanpa menyadari ada seorang wanita yang duduk disofa ruang kerjanya. Seorang wanita yang kini menatap gelisah kearah pria tampan itu, seolah ada sesuatu yang akan menimpanya.

.

.

.

Seoul, South Korea.

Dong Hae tertegun saat dirinya sedang memakai sandal rumah berbentuk nemo. Sebuah kenangan dimasa lalu menyeruak kedalam pikirannya. Dong Hae masih ingat, saat dia dan Eun Hyuk sedang berbulan madu Swiss, Eun Hyuk memberikan sandal rumah berbentuk ikan nemo ini. Senyum kecil terpatri indah diwajah tampan Dong Hae sebelum kembali melangkahkan kakinya. Dong Hae mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru rumah megahnya yang kini terasa dingin, seolah perasaan hangat yang melingkupi rumahnya menghilang tanpa bekas. Pria tampan itu kembali mengingat semua sikap konyolnya pada Eun Hyuk.

"Diamlah! Jangan mengajakku bicara! Aku malas mendengar suaramu!"

Dong Hae mengepalkan tangannya menahan emosi saat mengingat kalimat itu pernah terlontar dari mulutnya untuk Eun Hyuk, saat istrinya itu mengajaknya makan malam. Kalimat yang penuh kebencian, kalimat yang kini membuahkan penyesalan. Dong Hae juga masih ingat bagaimana wajah terluka Eun Hyuk saat mendengar makian darinya, bagaimana mata istrinya memerah menahan tangis.

"Kau, tidur diluar. Aku tidak mau tidur bersamamu."

"Kenapa kau cerewet sekali? Pergi dari hadapanku!"

"Aku pernah bilang, jangan mengajakku bicara Lee Hyuk Jae! Apa kau tuli?"

"Aku tidak tahu kenapa aku mau menikah dengan wanita sepertimu?"

"Kembalikan ayah dan anakku! Apa kau bisa melakukannya?!"

Emosi Dong Hae tidak terbendung lagi, pria itu berteriak sekencang yang dia bisa. Pria itu mendorong kursi makan sampai terguling, membanting semua benda yang terlihat, bahkan membuat guci besar yang berada diantara ruang tengah dan dapur terguling dan pecah. Air mata Dong Hae ikut mengali seiring dengan semua ingatan tentang makian, cemoohannya pada Eun Hyuk terlintas dikepalanya. Akhirnya, pria itu terduduk diantara barang-barang yang berhasil Dong Hae jatuhkan. Pria itu bahkan tidak peduli dengan tangan kanannya yang berdarah karena pecahan guci besar itu.

"Maafkan aku, Hyuk-ie.. maafkan aku, sayang.. "

Pintu rumah megah itu terbuka, Dong Hae mendengar itu tapi pria itu memilih diam ditempat. Dia tidak peduli siapa yang datang. Bahkan dia tidak peduli dengan teriakan cemas dari Sung Min yang melihat keadaannya saat ini. Memang wanita mungil itulah yang mendatangi rumah Dong Hae. Setelah empat hari Eun Hyuk tidak sadarkan diri, Sung Min jadi mengkhawatirkan keadaan Dong Hae yang terlihat semakin menyedihkan. Jadi, saat Dong Hae mengatakan bahwa dia akan pulang sore ini, Sung Min memilih untuk mengikuti pria itu. Sung Min hanya khawatir Dong Hae melakukan hal-hal yang bodoh. Dan apa yang dia lihat saat pertama kali menginjakkan kaki didalam rumah ini, dugaannya benar. Sung Min bersama Kyu Hyun dengan cepat menghampiri Dong Hae, meski harus berhati-hati agar tidak terkena pecahan guci.

"Hae, kenapa seperti ini?" suara Sung Min bergetar saat menanyakan hal itu. Dong Hae tidak menjawab, hanya matanya yang perlahan mengarahkan pandangannya pada Sung Min. menatap wanita itu seolah meminta pertolongan.

"Kenapa Hae seperti ini? Lihat, tangan Hae jadi terluka kan?" Sung Min seolah melihat Dong Hae kecil yang manja ada dihadapannya. Sung Min memegang tangan Dong Hae yang terluka dan memberikan tiupan untuk luka itu.

"Noona, bagaimana ini? Eun Hyuk-ie tidak mau bangun juga.. bagaimana jika.. jika.. dia tidak ingin melihatku lagi? Bagaimana jika Hyuk-ie tidak bangun lagi? Apa yang akan terjadi padaku? Apa yang akan terjadi pada Ji Sung, noona?"

Sung Min tidak tahan lagi melihat Dong Hae seperti ini. Segera ditariknya pria itu dalam pelukannya. Membiarkan adiknya ini menangis dibahunya, membiarkan pria itu menangis mengeluarkan semua perasaannya. Wanita itu juga menangis, Sung Min menangis karena merasa takdir yang melingkupi kedua adiknya ini begitu menyedihkan. Sung Min menangis karena wanita itu juga berpikiran sama dengan Dong Hae. Wanita itu juga takut Eun Hyuk tidak membuka matanya lagi. Jika itu terjadi, bagaimana dengan pria yang dipeluknya ini, bagaimana dengan nasib Ji Sung.

Kyu Hyun, penyanyi itu menengadahkan kepalanya. Berusaha menghalau air mata yang mendesak ingin keluar. Perasaannya juga sesak saat melihat orang-orang yang dia sayangi menderita seperti ini. Dia juga ingin menangis melihat Eun Hyuk tidak juga sadarkan diri sampai sekarang, melihat Dong Hae dengan keadaan yang menyedihkan karena penyesalannya, dan melihat Sung Min yang terlihat menderita karena keadaan ini. Tapi Kyu Hyun tidak bisa membiarkan emosinya mempengaruhi dirinya. Dia harus menjadi orang yang bisa berpikiran tenang disini.

"Ehm.. sebaiknya kita pindah dari sini, noona.."

Kalimat itu membuat Sung Min melepaskan pelukannya, mengangguk menyetujui ajakan Kyu Hyun. Sepasang kekasih itu membantu Dong Hae mendudukannya disofa ruang tengah.

"Kyu, bisa kau ambilkan kotak P3K?"

"Dimana?"

"Kalau tidak salah ada dilantai atas. Kyu cari disana ya?"

Kyu Hyun mengangguk dan melangkahkan kakinya kelantai atas.

"Hae.." Dong Hae tidak merespon panggilan Sung Min. Matanya hanya menatap kedepan, kosong.

"Hae, dengarkan noona. Hae tidak bisa seperti ini terus. Hae, satu-satunya yang bisa membuat Hyuk-ie kembali bangun, kembali sembuh."

Kini, Dong Hae menatap Sung Min.

"Aku?"

"Ne. Hae tahukan Hyuk-ie sangat mencintaimu, apapun yang terjadi Hyuk-ie hanya akan mencintaimu. Hae juga sudah dengarkan dari dokter, kalau Hae satu-satunya orang yang memiliki pengaruh besar terhadap kondisi Eun Hyuk-ie? Hae yang bisa menyembuhkan psikis Hyuk-ie. Hae tenang saja, noona juga akan membantu. Ada Kyu Hyun-ie juga. Kami akan membantu Hae. Asal Hae jangan seperti ini. Hae harus kuat demi Hyuk-ie.. Hae mengerti kan?"

Benar. Dong Hae tidak bisa seperti ini, dia tidak bisa terus menerus tenggelam dalam penyesalannya. Saat ini, Dong Hae harus berusaha sekuat tenaga untuk membuat Eun Hyuk sembuh, membuat Eun Hyuk kembali seperti dulu.

"Ne. Hae mengerti." Dan senyum mengembang dari mulut mungil Sung Min saat mendengar jawaban Dong Hae.

.

.

.

Sepasang mata terbuka tiba-tiba, mengerjapkannya beberapa kali sebelum memusatkan pandangannya pada langit-langit kamar yang berwarna putih. Tubuhnya terasa lemas sekali, bahkan wanita itu terlihat susah untuk mengangkat tangannya. Wanita itu –Eun Hyuk- sadar dia ada di rumah sakit saat melihat selang infus ada ditangan kirinya. Eun Hyuk mencoba mengingat kenapa dia ada disini. Dan setelah wanita itu mengingat alasan kenapa dia ada disini, air mata langsung menggenangi mata Eun Hyuk dan meluncur dari pinggir matanya. Eun Hyuk mencoba untuk bangun dari posisi berbaringnya sekuat tenaga.

"Apa Hae masih marah padaku? Hae pasti masih marah, hiks.. bagaimana ini?" akhirnya Eun Hyuk menangis dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Selang beberapa detik pintu kamarnya terbuka tiba-tiba membuat Eun Hyuk terperanjat kaget. Dan wanita itu semakin terkejut saat melihat siapa yang datang.

"Si- Si Won?"

.

.

.

TBC

.

.

.

Udah lanjut…. Terima kasih yang udah review, jangan lupa review lagi ya untuk chapter ini..

polarise lee : ya ampun, sampe nangis *cup cup cup* , iya kasian banget sama hyuk-ie, kenapa juga aku bkin hyuk-ie begitu ya?

choi Sara : chapter 1 emang nanggung ya? haha.. tenang kok, ff ini berchapter…

susan haehyuk : Hae kayak gitu karena ego nya yg mikir semuanya karena Hyuk-ie, jadi kayak gitu deh.. nah, salah satu dugaan mu ada yg benar, gak 100% benar sih #gimanasih? Yaudahlah, tetep pantengin ff ini ya..

rani . gaem. 1 : Hyuk-ie baik2 aja kok, fisiknya baik2 aja, Cuma yah psikis aja yg keganggu akibat sikap Dong Hae dan ibunya..

Arum Junnie : nah, cabe nya bisa dikumpulin tuh, kan mahal cabe sekarang tuh.. hehe.. tetep pantengin ff ini ya…

isroie1006 : ini bakal happy ending kok, karena aku juga gak suka sama yg sad ending..

fine : jgn terlalu sedih, Cuma ff kok..

el : selalu ada kesempatan yg diberikan pada Hae.. Hyuk-ie Cuma butuh Hae, tapi.. ya gitu lah, baca aja ff nya.. haha… ini udah dilanjut dan diperpanjang..

syuku : kurang nyiksa Hyuk-ie ya? gak tega aku nyaaa… dan gak bisa bayangin Hae lebih kejam lagi, soalnya tiap lihat muka innocent nya itu lhoo jadi berasa gak cocok sama yg kejam2, haha…

nanaz : yooo udah lanjut…

she3nn0 :aigooo~ ini aku kasih tisu.. penderitaan Hae mulai terjadi.. haha..

baechus : Aigoo~ cup cup cup uljimaa.. sebenarnya aku juga gak tega bikin hyuk-ie menderita.. oke ini chapter selanjutnya…

semuanyaaa, terima kasih yang udah nyempetin review setelah baca.. terima kasih sekali lagi…

jangan lupa review lagi yaaa.. haha.. *bow*