Title : My Handsome Nerd
Genre : Romance, Friendship
Rate : M
Cast : Wang Jackson
Mark Yi En
Jung Ilhoon
Lim Hyunsik
Kim Seok Jin
Kim Jiwoon
Pairing: Markson, HyunHoon (HoonSik), etc.
Warning : BoyxBoy! Rate M. Akan MPreg pada waktunya (untuk Jinyoung)
.
.
.
"Apa yang kau lakukan dengan Jackson?" Ilhoon mengeram, memegang tengkuk Hyunsik sekeras yang ia bisa dengan posisi tubuhnya yang kini berada di pangkuan Hyunsik di dalam bilik kamar mandi sekolah. Tangan kanan Hyunsik melingkar di pinggangnya, sementara tangan satunya mencoba mengambil tangan sang kekasih dengan sedikit kasar-karena cengkraman Ilhoon yang cukup kuat- kemudian menggenggam dan menciumnya lembut, mencoba menenangkan salah satu anak bungsu dari Tn, Jung ini.
"Tidak sejauh aku bersamamu." Jawab namja sipit itu sambil tersenyum. Tampan. Tidak ada yang bisa menolak ketampanan Hyunsik termasuk Ilhoon, apalagi saat ia terseyum dan menunjukkan eye smile kebanggannya. Runtuhlah pertahanan Ilhoon untuk tidak menerima maaf Hyunsik dengan mudah bahkan sebelum kekasihnya itu mengucapkan kata maaf.
Ilhoon mendengus. Membuang pandangannya dari Hyunsik lalu mencoba bangkit untuk melepaskan diri. Sayang, sang kekasih justru semakin erat memeluknya. "Lepas, brengsek! Aku muak melihatmu sekarang."
"Ah, tuan Jung akan sangat marah anak bungsunya mengumpat seperti itu."
Ilhoon mendelik sebal, "Apa maumu, Im?"
"Poppo." Hyunsik memanyunkan bibirnya sambil berkedip genit.
"Ani."
"Ayolah, seperti yang kau lakukan dengan Jackson tadi, chagiya."
"Ani- ya ahahaha gelihyu-ng hahaha andwe hahaha." Ilhoon menggeliat saat jari-jari Hyunsik dengan lihay menggelitik perutnya. Tawa terdengar hingga ke bilik-bilik lain, tapi Hyunsik dan Ilhoon tak peduli. Toh tidak akan ada yang berani menggangu mereka.
Tawanya terhenti kala Ilhoon sadar ada yang tidak beres. Mereka meringis bersama saat junior Hyunsik sudah mulai menegang akibat tubuh Ilhoon yang sejak tadi menggeliat di pangkuannya.
"Jadi, kau yang melakukan sekarang atau aku yang memaksamu?"
.
.
.
Tidak ada percakapan yang berarti hingga mereka tiba kantin dengan membawa makanannya masing-masing. Duduk di samping segerombol anak perempuan yang terlihat sumringah menyambut mereka.
"Mark, kau sudah putus dengan Jennie?" tanya Bobby membuka percakapan antara mereka yang di sambut anggukkan Mark karena mulutnya yang penuh dengan makanan.
"Dengan Misoo?"
Mark mengangguk lagi.
"Dengan Yoojin?"
Lagi-lagi mengangguk.
"Dengan Sana?
Mark menenggak minumnya sedikit, "Belum. Ada apa? tidak biasanya kau bertanya sebanyak itu."
"Aku melihat kemarin kau pergi ke club dengan wanita yang baru. Siapa?"
Agak bingung dengan pertanyaan Bobby yang menurutnya tidak berkesinambungan, Mark menaikkan sebelah alisnya. "Sowon. Kau tertarik?"
"Tubuhnya bagus." Bobby cengengesan.
"Karena itu aku mengajaknya."
"Sudah mencobanya?"
"Tentu saja. Kalau kau mau, aku akan mengajaknya lagi ke club nanti malam."
Bobby mengepalkan tangannya menonjok bahu Mark pelan, "Kau memang paling mengerti aku."
"Lama-lama aku merasa jijik dengan kalian." tentu itu adalah suara Jin. Siapa lagi mulut terpedas di antara mereka berempat jika bukan pangeran satu itu.
Bobby mengalihkan pandangan pada gadis-gadis di sebelahnya sambil tersenyum, "Apa dari kalian ada yang ingin menjadi teman kencan Jin hyung?"
Tentu saja di jawab anggukkan suka rela dari 7 orang gadis cantik disana. Bobby menebak mereka adalah siswi popular di kelas atau angkatannya karena sejak tadi banyak namja yang mencuri pandang pada mereka.
"Kami akan mengadakan pesta kepulangan Hyunsik hyung dan Mark hyung, aku kasihan pada Seok Jin hyung yang selalu sendirian saat pesta. Jadi kalau kalian ingin datang, kalian hubungi aku atau Mark hyung saja. Aku rasa hampir semua orang tau ID kami."
"Bolehkah?" sahut salah satu dari mereka.
"Tentu saja. Rumah kami terbuka untuk gadis cantik seperti kalian."
Mark tertawa pelan mendengar penuturan sahabat termudanya. Ya terbuka, terbuka untuk siapapun yang rela memberikan sesuatu berharga untuk mereka berdua. Sedangkan Jin yang menjadi perbincangan awal dengan mereka justru sibuk menghabiskan makannya. Tak terusik sama sekali dengan sahabatnya yang menjadikan dirinya objek percakapan.
Namun tak lama Jin menatap Mark dengan pandangan yang sulit di artikan. Ia menanyakan hal yang mampu membuat Mark tersedak makanannya sendiri. "Mark, kau tertarik pada anak baru itu ya?"
Tentu saja ini tak di lewatkan Bobby begitu saja, ia tertawa keras saat melihat wajah Mark yang memerah karena tersedak sekaligus kesal. "Kenapa kau berkata seperti itu, hyung?"
"Saat aku dan Hyunsik masuk kelas Mark, ada yang bilang Mark terus memperhatikan anak baru itu."
"Tidak." Mark menyangkal dengan cepat. Matanya memperhatikan seisi kantin yang terlihat memperhatikannya. Tentu saja, tawa Bobby tidak bisa di bilang pelan.
"Benarkah? Kalau begitu ayo kita bermain." Hyunsik tiba-tiba datang dan mengambil tempat di samping Mark
"Apa?"
"Pacari dia."
Hening
Bobby bahkan tidak mengeluarkan suara saking terkejutnya sementara Hyunsik sendiri masih menatap Mark dengan senyuman mengejek yang sangat di benci Mark.
"Ada apa ini? balas dendam?" tanya Jin penasaran.
"Tidak juga. Hanya permainan."
"Tidak, aku hanya suka hal yang menguntungkan untukku." Mark menatap malas Hyunsik yang di balas senyuman miring sahabatnya satu itu.
"Bagaimana dengan penawaran?"
.
.
.
Mark kembali ke kelas saat jam istirahat makan siang hampir habis. Kembali memperhatikan Jackson yang saat ini tengah menulis entah apa itu di bukunya. Ia dapat melihat tiga yeoja yang mendekat ke arahnya dengan dua orang tersenyum manis sementara satu orang di antaranya tersenyum masam membuat Mark terkekeh kecil.
"Oppa, pulang sekolah kau ada waktu? Ayo berkunjung ke café-ku, ajak Bobby oppa juga. Atau kalau kau mau mengajak ketiganya juga tidak apa."
"Aku tidak bisa, mungkin lain kali." Sahut Mark dengan senyum manisnya. Mark dapat melihat wajah dua yeoja itu seketika berubah murung.
"Minah, Juniel, sudahlah, kenapa kalian menjijikan sekali? Oppa? Kalian bahkan lebih tua dari Bobby dan beberapa bulan di atas Mark!"
Ucapan Eunji sukses membuat Jackson mengalihkan perhatian pada yeoja manis dengan kuncir kuda itu. Mark bisa melihat senyum yang tersungging di bibir Jackson ketika Eunji menatap kedua sahabatnya dengan pandangan 'malas'.
"Ayo kembali ke kelas! Selanjutnya pelajaran Ahn Saem." Ujarnya lagi. Namun sayang kedua sahabatnya masih berwajah muram, tak merespon perkataan Eunji sama sekali. "Terserah." Sambungnya lagi lalu berjalan lebih dulu mendahului Minah dan Juniel yang mau tidak mau tetap mengekor di belakang. Lagi-lagi ekor mata Mark menangkap pandangan Jackson kepada Eunji saat yeoja itu keluar kelasnya.
"Yong Saem tidak bisa hadir, kerjakan esai halaman 52." Ucap ketua murid di depan kelas. Mark medesah malas, manjatuhkan kepalanya pada lipatan tangan menghadap Jackson. Otaknya berputar tentang bagaimana ia harus mendekati Jackson, apa yang harus ia katakan sekarang, bagaimana mengajak Jackson jalan, apa saja yang harus ia lakukan.
Mark merutuki kebodohannya karena masalah yang tidak bisa ia lakukan dengan mudah. Padahal ini bukan pertama kalinya ia mengajak orang lain berkencan. Ia pernah mengajak Jinyoung dulu walau sudah sangat lama. Yang lain? tentu saja mereka yang menawarkan kencan buta pada Mark, karena Mark sama sekali tidak pernah tertarik pada siapapun selain Jinyoung. Ia mengangkat kepalanya lalu menjatuhkan lagi dengan cepat, terus begitu hingga mengusik namja di sampingnya.
"Berhentilah."
Mark menoleh saat mendengar suara Jackson yang entah mengapa terdengar sangat maskulin di telinganya. Ia menghela nafasnya berat ketika pandangannya terpaku pada mata tajam Jackson. Walaupun di bingkai dengan kacamata min yang besar, tapi entah mengapa pandangan Jackson seolah mampu mengintimidasinya.
"Mm, Jack, Jackson." Mark lagi-lagi merutuk. Kali ini karena suaranya yang tersendat saat mencoba memanggil Jackson. Ia kembali menarik nafasnya panjang, "Kaumauberkencandenganku?" Mark meringis. Kenapa ia terlihat sangat bodoh saat mengatakannya? Dia merasa orang paling bodoh hari ini, apalagi ketika melihat Jackson tertawa kecil padanya.
Tunggu
Jackson tertawa?
Terlihat seperti anak kecil bagi Mark, tapi ia menyukainya. Tawa Jackson bahkan mampu membuatnya ikut tertawa tanpa sadar.
"Hyunsik?"
"Ye?"
"Hyunsik yang menyuruhmu kan?" tanya Jackson masih dengan senyum yang terpatri di wajahnya yang di jawab dengan anggukkan Mark. Kini Mark mulai menebak bahwa sebenarnya Jackson sebenarnya adalah namja yang hangat.
"Jangan di dengarkan." ucap Jackson kembali mencoret-coret bukunya.
"Tapi,"
"Tidak, terima kasih. Apapun permainan kalian, aku tidak ikut"
"Tapi kartu ASnya ada padamu."
"Apa?"
.
.
.
Jungkook berlari kecil dengan setumpuk buku di tangannya setelah jam istirahat ia habiskan di perpustakaan. Sebenarnya ia bukanlah tipe orang yang suka membaca, tapi hasil ujian terakhirnya kemarin tidak memuaskan sama sekali. Ia bahkan harus mendapat hukuman dari sang hyung karena nilainya yang menurun drastis.
Langkahnya seketika terhenti kala melihat namja yang merupakan favoritnya berdiri di depannya sambil menaikkan sebelah alisnya. Kim Seokjin, atau yang biasa di sapa Jin adalah sunbae favoritnya semenjak ia menginjakkan kaki di sekolah ini. ia juga tidak mengerti mengapa dan sejak kapan ia mulai menyukai Jin, yang jelas ia tak pernah berani menyapa Jin atau hanya sekedar bertatap muka walau ia dan Jin berada di eskul yang sama.
"Kenapa berhenti?" Jin memecah keheningan antara mereka.
-Jungkook POV-
"Kenapa berhenti?" suaranya! Apa katanya tadi? Ah kenapa jantungku berdetak secepat ini? wajahku memanas, kakiku lemas, bibirku kelu. Tidak. Ini berlebihan. Tapi ini yang aku alami sekarang. Bagaimana ini? gawat. Ia tetap di depanku masih dengan mengangkat sebelah alisnya. Kenapa ia tidak pergi saja sih? kenapa ia harus berhenti?
"Ya!"
BRUK
Yah, bukuku jatuh. Kenapa Jin hyung harus mengejutkanku seperti itu?
-Jungkook POV END-
Jin memperhatikan adik kelasnya yang saat ini membungkuk mengambil buku-bukunya dengan bibir yang mengerucut lucu. Agak malas, Jin ikut membantu mengumpulkan buku-buku yang berserakan di kakinya.
"Kenapa berhenti?" tanya Jin lagi, "Aku sudah memberi jalan agar kau tidak menabrakku." Sambungnya sambil menaruh tumpukkan buku yang dipungutnya di atas tumpukkan buku yang di kumpulkan Jungkook di tangannya.
Sadar akan sesuatu, wajah Jungook seketika memerah hingga ke telinga. Kotras sekali dengan kulit putihnya. Cepat-cepat menyusul Jin yang sudah berdiri lalu membungkukkan sedikit badannya. "Mian-hae, Sunbae." Ucapnya cepat sambil berlalu begitu saja tanpa menatap Jin.
Tanpa sadar Jin mengulas senyumnya, "Lucu juga."
.
.
.
"Ya Wang Jackson!" teriak Mark sambil berlari menyusul Jackson yang langsung pergi dari kelas setelah kelas selesai. Menutup pintu mobil namja berkaca mata itu dengan cepat kemudian berdiri tepat di depan pintu mobil.
"Minggir." sahut Jackson datar. Terlihat Mark yang tengah menggertakan bibir dan mengepalkan tangannya kesal.
Hyungsik brengsek! Sunggut Mark dalam hati. "Dengar, Jack. Jika bukan karena ancaman Hyunsik, aku bahkan tidak sudi memintamu."
Jackson tersenyum sinis membalasnya, "kau benar-benar ingin bermain rupanya." Hanya seperkian detik tubuh Mark sudah terhimpit antara Jackson dan mobilnya. Tak hanya itu, jarak wajahnya yang tidak sampai 5 centi dengan Jackson membuatnya membulatkan mata.
"Balas aku, aku akan terima ajakanmu."
Dan Mark tidak bisa untuk tidak terkejut saat bibir Jackson mulai menempel di bibirnya. Ia panik saat Jackson sudah mulai menggerakkan bibirnya untuk melumat bibir bawah Mark. Tangan kanan namja itu bahkan sudah melingkar di pinggangnya sedangkan tangan kiri Jackson berada di belakang tengkuk Mark untuk lebih menekan ciuman mereka.
Sadar di perhatikan seluruh penghuni sekolah—yang entah sejak kapan sudah melingkari mereka, Mark tentu saja tidak mau kalah. Mulutnya yang semula pasif kini mulai balas melumat bibir atas Jackson dengan bringas. Jackson tersenyum dalam ciumannya saat tangan Mark kini meligkar di lehernya, ia melepas tautan kemudian menempelkan kembali bibir mereka, kali ini bibir atas Mark yang menjadi sasarannya, menyedotnya hingga bunyi kecipak jelas terdengar antara mereka.
Mark membuka mulutnya, menantang lidah Jackson berperang untuk beberapa saat sampai akhirnya Jackson keluar sebagai juara. Mark meronta tak terima yang sayangnya malah memudahkan Jackson untuk menginvasi isi mulutnya dan memperdalam ciuman mereka.
"Ngh!"
Brengsek
Mark kembali merutuk karena suara yang keluar dari mulutnya. Kepalanya mulai merasa pening kala lidah Jackson dengan liar menyapu mulut bagian atas dan seluruh gusi-gusinya. Tubuhnya lemas karena oksigen yang semakin menipis, tapi sensasi aneh juga dirasa dengan jelas. Sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sadar Mark yang sudah tak lagi bertenaga, Jackson melepaskan pangutan hingga terlihat benang saliva yang menyambungkan bibir mereka. Menjilat bibirnya sambil menyeringai penuh kemenangan.
"Aku terima kencanmu." Jackson mendorong Mark yang masih shock untuk bersandar di mobil sebelah mobilnya kemudian pergi tanpa peduli pandangan para murid lain –bahkan Mark sendiri- padanya. Ia bahkan yakin banyak siswa yang merekam aksinya barusan.
Jackson menggeleng tak habis pikir. Di hari pertamanya dan ia sukses membuat keributan dengan mencium kedua bintang sekolah.
Gila.
Ia harus menghajar Hyunsik setelah ini.
.
.
.
TBC
Hai haiiiiiii maaf baru bisa update, terkendala sama kuota nih. Karena banyak yg milih Double B sama JinKook jadi aku buat mereka. JinKook mungkin di chap depan lebih banyak. Oh ya, penulisan aku 1,6K disini tuh banyak gak ya? Aku mau banyakin tapi takut ngebosenin hehehew '-')v jadi mending di tambahin words/tetep segini.
Banyak yg komen gak pake akun,, aku jd bingung balesnya, mianhaee /bow/
Oh iya...
MIAN YANG BIASANYA GUE NISTAIN DI FF INI
