Title : My Handsome Nerd

Genre : Romance, Friendship

Rate : M

Cast : Wang Jackson

Mark Yi En

Jung Ilhoon

Lim Hyunsik

Kim Seok Jin

Kim Jiwoon

Pairing : Markson, HyunHoon (HoonSik), etc.

Warning : BoyxBoy! Rate M. Akan MPreg pada waktunya (untuk Jinyoung)


.

.

.

"Jack, kau mengejutkan!" Hyunsik masuk tanpa permisi ke dalam salah satu kamar di rumahnya dengan masih menggunakan seragam sekolahnya. "aku tidak menyangka secepat ini. Aku kira kau mulai besekolah besok."

"Aku juga." ujar Jackson seraya memilih baju di dalam lemarinya. Ia sudah tiba lebih dulu dan memutuskan untuk segera mandi mengingat hari ini Hyunsik bilang akan mengajaknya ke suatu tempat. "Ngomong-ngomong, kau akan membawaku kemana?"

"Club." jawab Hyunsik cepat seolah tanpa beban sama sekali.

"Bukankah di Korea ada batasan umur?"

"Saat itulah relasimu di gunakan." paham maksudnya, Jackson menganggukkan kepalanya sekali.

"Aku tidak tahu kau akan seliar ini. Jauh sekali dengan adikmu yang sekarang mungkin sedang frustasi mengurus bisnis ayahmu dan keluarganya."

Hyunsik mendaratkan tubuhnya di kasur empuk Jackson, memandang langit-langit kamar yang entah mengapa menjadi lebih menarik di banding apapun. Hyunsik sadar ia tak seharusnya seperti ini, ia harusnya ikut belajar bisnis serta menyelesaikan pendidikannya secepat yang ia bisa. Bukan terus menerus menyusahkan sang adik yang saat ini tengah berkeluarga.

Jaebum memang tidak pernah mengeluh, appa mereka juga tidak pernah memaksa Hyunsik untuk segera mengikuti adiknya. Orangtua mereka membebaskan mereka untuk memilih, walaupun sang appa tetap ingin kedua puteranya dapat menjadi penerus perusahaan. Tapi toh semuanya kembali pada keputusan mereka masing-masing. Dan Hyunsik dan Jaebum sudah memilih. Jaebum akan meneruskan perusahaan sang appa dan belajar mengurusnya segera setelah ia lulus SMA dengan syarat ia boleh menikahi Jinyoung, sedangkan Hyunsik akan menyusul nanti.

Sebenarnya ia juga bisa mengikuti kelas akselerasi, tapi Hyunsik tak mau. Ia lebih memilih menikmati masa remaja dengan sewajarnya tanpa tumpukkan tugas yang akan mengganggu kesenangannya. Egois? Memang. Karena itulah Hyunsik sangat menyayangi adiknya yang terkesan sangat memahami keinginannya tanpa banyak mengeluh.

"Jack, kau harus segera mendapatkan Mark. Buat dia mencintaimu juga, tanpa tau kau sudah mencintainya lebih dulu."

"Kenapa?"

"Karena dengan begitu dia tidak akan meninggalkanmu."

Jackson mengangguk dengan senyum. "Oh iya, Im." Jackson memandang Hyunsik dengan tatapan tajam, "Aku ingin sekali menghajarmu."

.

.

.

Wang Jackson. Pemuda asal Hongkong yang sudah lama tinggal di Amerika bersama orangtuanya kini memutuskan untuk tinggal di salah satu sahabat keluarganya di Korea. Bukan tanpa alasan, ia ke sini karena permintaan Hyunsik sekaligus ingin bertemu kembali dengan Mark. Sayang sekali Mark tidak mengenalinya.

Ya, keluarga Wang, Lim (Im), Choi dan Jung memang sudah bersahabat sejak sekolah dulu. Namun sayang, orangtua Jackson yang kala itu bertemu di Korea harus berpindah ke Hongkong untuk menikah dan menetap di sana. Mereka selalu menyempatkan waktu paling tidak satu kali dalam sebulan untuk berkumpul bersama empat keluarga, yang berbuntut persahabatan baik mereka kini menurun ke anak-anak yang beberapa bahkan sudah menjalin kasih –Hyunsik-Ilhoon dan Eunji-Howon-.

-JACKSON POV-

Hyunsik dan aku kini berangat menuju sebuah Club setelah sebelumnya bebohong pada umma-ibu Hyunsik yang sudah aku anggap orangtua sendiri- Walau tak sepenuhnya berbohong, karena Hyunsik bilang ia akan mengajakku berjalan-jalan di Seoul. Tak lagi mengenakan pakaian culun tadi, aku kini menampilkan diriku yang biasa. Kaos oblong putih yang di balut jaket merah dengan celana jeans hitam panjang.

Tidak ada percakapan yang berarti hingga kami tiba di tempat tujuan dengan Ilhoon yang sudah menunggu sambil menyilangkan tangannya bersender pada mobil. Aku tak bisa menahan senyuman ketika ia menatapku dengan pandangan sebal yang tidak menyeramkan sama sekali.

"Kalian terlambat tiga menit." sambutnya kesal.

Tanganku terulur mengacak rambutnya dengan gemas, "Hanya tiga menit, oke?"

"Time is gold." dengusnya. Hyunsik mengambil alih kekasihnya dengan merangkul dan membiarkanku sendirian di belakang mereka.

"Kau tidak mengajak kakak kembarmu itu?" tanyaku ketika kaki kami memasuki pintu club yang mulai menyuarakan hingar bingar dunia malam walau tak terlalu kentara.

"Dia akan langsung menjambakku keluar dan mengunciku di gudang sampai aku memohon padanya." Jawab Ilhoon. Ia sukses membuat aku dan Hyunsik tertawa.

-JACKSON POV END-

Alunan musik yang keras mendominasi setelah mereka masuk lebih dalam. DJ Seungcheol - begitu yang bisa Jackson baca dari layar besar di belakang DJ—sukses mengalunkan musik yang mampu membuat penghuni club hilang kesadaran di dance floor.

Jackson sedikit mengerutkan keningnya, melihat DJ yang sepertinya masih sangat belia. Mungkin club ini bisa saja di tutup paksa oleh polisi mengingat beberapa penghuninya merupakan anak di bawah umur. Ia juga dapat melihat beberapa yeoja dengan pakaian minim berlalu lalang di hadapannya dengan bergelayut manja pada namja yang ia yakin bukan kekasihnya. Beberapa di antara mereka bahkan tersenyum padanya dengan senyum menggoda. Prostitusi berkedok club pikirnya dalam hati.

Ilhoon menarik Jackson agar berjalan agak cepat menuju tampat di pojok ruangan yang sepertinya sudah ramai. Matanya seketika menangkap seseorang yang tadi ia permalukan di parkiran sekolah tengah mengenggak vodka dengan cepat. Di sebelahnya, terdapat yeoja cantik yang asik berciuman panas dengan Bobby. Tangan Mark bahkan sudah mulai meraba paha dalam sang yeoja.

Sadar ada yang datang Bobby melepas pangutannya, "Waw, kau anak culun sekolah kita kan?" tanya Bobby setelah menyadari pasangan kekasih itu tidak datang berdua. Jackson mengangguk singkat sebagai jawaban sedangkan Mark mengalihkan pandangannya pada Jackson, mata tajam Jackson bertemu dengan mata sayu milik Mark yang entah mengapa mampu membuatnya panas.

Tak melepas pandangannya, bibir Mark bahkan kini sudah mendesis keras entah karena apa. Jackson menengguk ludahnya kasar kemudian memalingkan wajah menghindari tingkah Mark yang membuatnya semakin horny.

"Dia Jackson, kerabat kami." sahut Hyunsik sekaligus mengenalkan Jackson pada sahabatnya yang lain yang kini ikut duduk bersama mereka. Jackson memandang wajah mereka satu persatu dengan tersenyum kemudian terpaku pada satu orang yang tak asing lagi baginya.

"Hello, I'm Peniel."

"Hai, aku Ray."

"I'm Rome."

"Aku rasa pernah melihatmu sebelumnya." Ujar seorang yeoja dengan rambut cepak dan gaya pakaian yang terlihat lebih mirip namja antara mereka dengan pose berpikir di buat seimut mungkin.

"Itu menjijikan, Amber."

Yang dibalas tawa dari beberapa orang di sana. Amber pernah tinggal di Las Vegas dan Hongkong, jadi bukan hal mustahil bagi Jackson mengenalnya.

Ilhoon mengambil satu gelas yang berisi minuman entah apa itu, menenggaknya cepat, membiarkan tenggorokkannya terasa terbakar. "ngomong-nomong dimana Jin?"

"Bersenang-senang."

.

.

.

Jungkook berjalan dengan perasaan was-was menuju salah satu ruangan di sebuah club yang hampir 4 bulan ini menjadi tempatnya bekerja. Sampai di depan kamar yang di maksud, tak langsung membuatnya memasuki kamar itu. Ia terdiam sesaat setelah akhirnya mengetuk pintu lebih dulu. Jungkook terdiam lagi saat suara namja yang ia dengar menyuruhnya masuk terasa sangat familiar.

Ini bukan pertama kali Jungkook 'melayani' namja, tapi biasanya ia hanya di sewa dengan waktu 15 menit, tidak lebih. Jungkook hanya memuaskan dengan mengoral di waktu sesingkat itu, namun kali ini clientnya justru menyewa semalaman. Jungkook tidak bisa menolak, ia hanya patuh pada perintah atasan yang selama ini sudah membiarkannya bekerja. Ia meyakini satu hal, -atasannya tak mungkin menjebaknya-, tanpa ia sadar uang bisa mengubah segalanya.

"Aku bilang masuk!"

Dan Jungkook tersentak mendengar kalimat menuntut dari dalam. Ia segera membuka ruangan yang ia ketahui sebagai ruang VIP karena isinya yang seperti apartement kecil hanya ada beberapa di club ini. Ruang tamu kecil di lengkapi TV, DVD dan beberapa keping CD yang Jungkook yakini adalah CD porno, dapur, kamar mandi dan kamar tidur yang kedap suara. Jungkook meringis mengingat yang terakhir.

"P-permisi?"

"Masuk kamar!" Jungkook bisa mendengar suara gelas yang beradu dari dalam dapur.

"Tapi,-"

"Masuk!"

Perasaannya mulai tidak karuan saat lagi-lagi namja yang belum ia lihat menyuruhnya masuk kamar dengan nada menuntut. Kakinya mulai memasuki kamar dengan gemetar, di dudukinya ranjang King size dengan bad cover hitam bergaris putih horizontal itu. Ia memperhatikan seisi kamar, hanya terdapat meja kecil dan kursi di dekat jendela.

"Hai."

Dunia Jungkook seakan berhenti seketika menyadari namja yang sejak tadi ia tunggu berada di hadapannya dengan membawa satu botol soju dan dua gelas kecil. Dengan ekspresi minimnya ia menggerakkan kepala seakan menyuruh Jungkook untuk mengikutinya yang kini berjalan menuju kursi dan meja dekat jendela tadi.

Jungkook duduk setelah lagi-lagi di perintahkan namja tadi. Menunduk, ia bahkan tak ingin menatap tamunya yang ia tahu kini tengah menatapnya. Bukan, bukan karena ia takut, tapi Jungkook malu. Mengetahui tamunya adalah Jin. Sunbae favorite-nya.

Jungkook ingin menangis, ia ingin pergi sejauh-jauhnya tanpa kembali ke sekolah, ia tidak ingin bertemu dengan namja di depannya ini lagi. Sunbae yang ia idolakan selama ini kini mengetahuinya sebagai 'namja bayaran'.

"Aku menyewamu bukan untuk melihat rambutmu." Jungkook mengangkat kepalanya, memperlihatkan matanya yang mulai berkaca-kaca. Jin mengalihkan perhatian pada botol soju, menuangkan ke dalam dua gelas yang ia bawa kemudian menyerahkan yang satunya pada Jungkook.

"Minum."

Tidak ingin banyak berpikir, Jungkook menenggak satu gelas soju dengan cepat, menampilkan smirk di wajah tampan Jin.

"Maksudku minum bersama." Jin kembali menuangkan soju ke gelasnya.

"Mi-mian."

Jin mengangkat gelasnya, di sambut gelas Jungkook kemudian mereka tenggak bersama-sama. "Apa yang di lakukan anak kecil di tempat seperti ini?" tanya Jin, sebenarnya ini bukan dirinya mengingat ia tidak pernah peduli dengan apa yang di lakukan orang lain kecuali sahabatnya.

"A-aku, b-bekerja."

"Siapa namamu?"

"J-Jungkook, sunbae." Seperkian detik tubuhnya serasa melayang karena tarikan Jin yang membawanya menuju ranjang. Mendorongnya hingga punggungnya menyentuh permukaan empuk yang entah mengapa terasa sedikit menyakitkan. Nafasnya tercekit kala Jin menindih tubuhnya dengan dua tangan di antara kepala Jungkook.

Belum selesai keterkejutannya, Jin justru menambah dengan menempelkan bibir mereka berdua. Menyesap bibir tipis itu penuh nafsu untuk beberapa detik karena berontakan Jungkook yang cukup kuat. Tangan Jungkook berusaha mendorong tubuh Jin sedangkan kakinya yang sebagian menjuntai di lantai turut serta menendang kaki Jin.

Jin mendecak keras kemudian duduk di paha Jungkook, tangan kanannya menarik kedua pergelangan tangan Jungkook, menaruh di sebelah kiri kepala namja manis itu sedang tangan kirinya menekan rahang Jungkook hingga bibirnya mengerucut.

Kembali ia mencium bibir yang menggiurkan di depannya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, lidah Jin sudah berada di dalam mulut Jungkook dengan liar, menyapu gigi dan gusi juga membelit lidah Jungkook lihay.

"Nghh," Jungkook pasrah, memejamkan matanya walau air mata jelas mengalir dari sana. Sadar Jungkook yang tak melawan, Jin mengangkat tubuhnya tanpa melepas cengkraman kedua tangannya.

Tangan kiri Jin beralih mengusap kedua sudut mata Jungkook, menghapus air mata yang terlihat mengalir disana. "Aku tidak tahu kenapa aku benar-benar menginginkanmu."

"AKH!"

.

.

.

Jackson berdecak kesal saat Hyunsik dengan enteng menyuruhnya mengantar Mark yang mabuk berat ke apartement yang sengaja di beli oleh empat sekawan itu sebagai base camp. Bukan karena ia tak menyukainya, tapi siapa jamin dalam kondisi Mark yang seperti ini Jackson dapat menahan libidonya?

Belum lagi saat ia harus menggendong Mark hingga memasuki apartemen. Bibir Mark dengan tidak tahu diri mengecup-ngecup lehernya, sesekali menggumamkan betapa brengseknya ciuman Jackson. Mark mendesah saat Jackson membaringkan tubuhnya di atas kasur, membenarkan letak bantal di kepalanya kemudian menyelimutinya.

"Aku ini manly, brengsek!" Mark menggerutu yang hanya di balas gumaman dari Jackson.

"Kau mempermalukanku."

Lagi-lagi Jackson bergumam. Ia mengambil bantal dan selimut yang ada di lemari berniat tidur di sofa panjang dan satu-satunya yang ada di kamar itu.

"Aku memikirkanmu terus menerus, bajingan. Bagaimana bisa aku ketagihan dengan ciumanmu? aku bahkan tidak pernah semabuk itu saat dengan Jinyoung."

Ucapan Mark membuat Jackson yang tengah berbaring di sofa tersenyum dengan lengan kanan yang menutupi wajahnya. Bukankah secara tidak langsung Mark menyatakan ketertarikan padanya?

"Jinyoung mungkin sedang membutuhkanku, temannya bilang Jaebum sering menyakitinya. Ah, si brengsek itu."

Jackson membatalkan niat untuk tidur di sofa. Ia beranjak membaringkan tubuhnya di samping Mark, menarik pinggang Mark untuk merapat ke arahnya yang dibalas pelukan yang lebih erat oleh Mark. Bibir Mark mendarat di lehernya untuk kembali mengecupi leher putih Jackson. Tidak membalas, Jackson justru mengusap punggung Mark dengan pandangan kosong.

"Kau tidak mengenal Jaebum dengan baik."

.

.

.

TBC