Title : My Handsome Nerd
Genre : Romance, Friendship, Drama
Cast : Wang Jackson
Mark Yi En
Lim Hyunsik
Jung Ilhoon
And others
Pairing : Markson/Jark, Hoonsik, Double B, JinKook
WARNING ! BOYS LOVE, MPREG, AU. Bagi yang mau baca silahkan jangan lupa , review kalian itu semangat saya ^^
Buat yang kemarin nanya Markson ukenya siapa, kayaknya terjawab di part ini. Buat Double B shipper yang dari kemarin nunggu, aku ikut sertain juga di chapter ini walau gak terlalu banyak hehehe :v
Dan aku seneng pake banget karena akhirnya ketemu temen Hoonsik shipper :3
.
.
My Handsome Nerd
.
.
Seoul, 09 Dec 2015.
06.00 KST
Bobby
Bobby terbangun di ruangan yang sudah sangat ia kenali dengan seorang yeoja memeluknya erat. Sedikit meringis sambil memegangi kepanya yang terasa pusing, Bobby menyingkirkan lengan sang yeoja dengan sedikit kasar. Bobby meliriknya sejenak, kemudian mendesah keras saat sadar yeoja di sampingnya sudah segar.
"Pulanglah, aku akan sekolah."
Sang yeoja mengerucutkan kedua bibirnya, jarinya yang lentik ia mainkan di sekitar dada Bobby, "Kau tidak ingin lagi? morning sex bagus untuk mengawali hari."
"Tidak, terimakasih. Kepalaku terlalu pening." Jawabnya. Tanpa peduli dengan reaksi teman kencannya ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
Suara bising dari dapur membuat Bobby yang baru saja selesai dari acara mandinya tersenyum senang. Dengan semangat ia melangkah kaki menuju dapur yang sudah diisi namja yang lebih kecil darinya dengan seragam sekolah yang berbeda dari seragam Bobby.
Hanbin. Seorang rapper underground Korea yang membuat Bobby akhir-akhir ini rajin mengunjungi acara-acara mereka, tengah memanggang roti bakar. Bobby kembali tersenyum, dengan sigap memeluknya dari belakang kemudian mengecup area wajah Hanbin yang dapat di gapai bibirnya.
"Pakai bajumu baru memelukku."
"Sejak kapan kau ada disini, Chagi?" tanpa menunggu jawaban Hanbin, Bobby membalik tubuh Hanbin agar menghadapnya. Di tangkupnya kedua pipi Hanbin hingga bibir merah namja manis itu mengerucut. Kemudian ia kecup berkali-kali dengan lembut sampai Hanbin memukul kepalanya cukup keras.
"Sejak wanita itu keluar dari sini." Ia kembali mengambil roti lain untuk memanggangnya, "cepat pakai baju lalu sarapan. Aku tidak ada waktu lagi."
Bobby mengangguk. Segera kembali ke kamar untuk memakai seragam sekolahnya. Efek terlalu merindukan Hanbin, ia sampai lupa keadaannya yang hanya di lilit dengan handuk di pinggangnya.
Lain Bobby, lain Hanbin. Namja manis itu menggigit bibirnya menahan air mata yang sepertinya siap keluar. Ia tak tahu mengapa masih sesakit ini saat melihat yeoja atau namja yang silih berganti di hari-hari kekasihnya, padahal seharusnya ia sudah terbiasa, ia harusnya sudah kebal menghadapi kekasih yang memang terkenal mesum itu.
Sejujurnya ia sudah sangat lelah. Tidak jarang Hanbin mencoba untuk menyerah dan mengabaikan semua tentang Bobby, tapi hatinya menolak. Entah karena kakinya berjalan di luar kendali otaknya ke apartemen Bobby, tangannya yang dengan seenak jidat mengangkat panggilan Bobby, atau wajah brengsek Bobby yang tak tahu malu terus berada di pikirannya.
Hanbin tahu, sejauh manapun langkah yang di ambil Bobby, dengan siapa ia berjalan nantinya, Hanbin akan jadi tempat terakhirnya untuk berhenti. Katakan Hanbin terlalu percaya diri, namun itulah kennyataannya. Tapi tidak menjamin ia tahan banting dengan sikap Bobby yang seenak jidat menyuruhnya untuk menjaga tubuhnya dengan baik sampai mereka menikah sedangkan ia membawa teman kencan sesukanya.
Bukan berarti Hanbin tidak menanyakan kapan Bobby akan menyelesaikan petualangan ranjangnya, Hanbin sudah sering kali menanyakan dan di jawab dengan jawaban yang sama setiap saatnya, Hingga menikah denganmu.
Dan satu lagi kenyataan yang membuat Hanbin membenci namja dengan gigi kelinci itu. Bobby berhasil membuatnya menjadi namja melankonis yang siap menangis kapanpun berita tentang kebrengsekan kekasihnya sampai di telinganya.
Kelinci sialan!
.
.
.
Jin
Jin membuka mata saat indra pendengarannya menangkap suara isak tangis namja di sebelahnya. Matanya mengedip berusaha memulihkan kesadarannya. Tidak ada raut terkejut yang berlebihan saat menemukan dirinya dan Jungkook tertidur bersama tanpa busana-karena Jin sadar betul apa yang di lakukannya semalam. Walaupun ia sendiri tak tahu kenapa Jungkook mampu membuatnya Horny dalam sekejap.
Ia membalikkan tubuh Jungkook yang semula memunggunginya. Tangan panjangnya mengusap punggung Jungkook dengan lembut, bibirnya mencium lalu menjilat bekas air mata yang sangat kentara di wajah namja manis itu. "Uljima."
Entah mendapat dorongan dari mana, namja manis itu mulai membenamkan wajahnya di dada bidang Jin, menangis melampiaskan seluruh emosinya disana tanpa sepatah katapun. Hanya isakkan yang menggema di ruangan itu hingga Jungkook lelah dengan sendirinya.
"Mianhae," ucap Jin lalu mengecup kepala Jungkook berkali-kali.
Jungkook mengangguk pelan. Dalam pikirannya, ia mengerti inilah konsekuensi dalam pekerjaannya. Seharusnya ia beruntung Jin yang menggagahinya semalam, bukan ahjussi mesum yang biasa ia layani. Tapi jujur ia malu. Harus taruh di mana wajahnya jika bertemu Jin? Walaupun sekolah mereka bukan sekolah yang kecil, tapi selalu ada moment di mana Jungkook melihat sunbae-nya ini.
"Ayo mandi, kita berangkat bersama."
Jungkook ingin menyahut andai saja tenggorokannya tidak terasa tercekat karena Jin yang membopong tubuh polosnya menuju kamar mandi. Entah mengapa sesuatu menggelitik hatinya, membawanya kembali membenamkan wajah di leher Jin.
.
"S-Sunbae?" ucap Jungkook yang akhirnya membuka suara. Suara lembut Jungkook di padu dengan serak karena ulahnya semalam terdengar sangat… mempesona? Jin bahkan sempat terpana beberapa saat.
"Panggil aku hyung."
"A-ah, nde, hm… dari mana kau mendapat seragam, tas dan bukuku, hyung?"
"Aku Kim Seok Jin."
Jungkook hanya mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. "Aku juga Jeon Jungkook." Dan Jungkook tidak tahu kenapa Jin tertawa terbahak-bahak setelahnya.
.
.
.
Jackson
Jackson memutuskan untuk menyandarkan punggungnya di headboard tempat tidur setelah mandi. Memandang wajah Mark yang sudah sangat lama ia rindukan, meskipun agak miris dengan kenyataan bahwa hanya dirinya yang menyimpan ini, Mark bahkan tak mengingatnya sama sekali.
Suara lenguhan menyudahi aksinya. Ia beralih menatap jendela yang membiaskan cahaya pagi cukup menyengat. Mendesah saat tiba-tiba Mark lari ke kamar mandi diiringi suara muntahan. Tak ambil pusing, Jackson mengambil handphone-nya, menerima pesan Hyunsik yang bersedia mengantarkan barang-barangnya ke apartemen.
"Kau… Jackson?" tanya Mark setelah kembali dari kamar mandi. Memperhatikan seseorang yang tengah bersandar pada headboard tempat tidur.
"Ya."
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Menurutmu?"
"Kalau aku tahu, kenapa aku harus bertanya padamu, bodoh. Kemana pakaian culunmu?"
"Mandi dan bersiap. Aku siapkan sarapan."
Mark berdecak saat Jackson sudah menghilang dari pandangangannya. Dia sempat menyesal sudah menduga Jackson adalah orang yang hangat sebelumnya. Namja itu bahkan tidak tahu cara menjawab pertanyaan.
.
"Nasi goreng Beijing? Bukankah kau dari Amerika?" ujar Mark setelah menelan satu sendok penuh nasi goreng.
"Aku asli Hongkong."
Mark menghentikan gerakan tangannya, "Pantas wajahmu Asia sekali. Aku juga pernah tinggal di Hongkong walau tidak lama."
Jackson tersenyum kecut. Kembali melanjutkan makannya tanpa niat merespon ucapan Mark sama sekali hingga sarapan mereka di penuhi keheningan.
Mark memperhatikan Jackson yang tengah membereskan piring-piring untuk di cuci. Sudah ia duga, Jackson namja yang tampan, jauh berbeda dengan di sekolah. Tubuhnya sedikit berbentuk dipadu kaos putih polos dan celana panjang. Belum lagi matanya yang tajam dan bibirnya yang...
…Lupakan.
Mark tidak mau mengingatnya. Sayangnya, otak dan hatinya tidak sejalan. Tanpa sadar Mark mendekat dirinya pada tubuh Jackson, memeluknya dari belakang lalu mulai mengecup rahang namja tampan itu.
Merambat ke pipi, sudut bibir, dan berakhir di bibir Jackson. Mengecupnya berkali-kali dengan lembut kemudian terjadi aksi saling memangut satu sama lain.
Jackson mencuci tangannya saat pangutan keduanya terlepas kemudian mengambil tengkuk Mark hingga jarak bibir mereka kurang dari 5 centi. "Kita taruhan."
"Apa?"
"Yang kalah harus menuruti 5 permintaan yang menang." Mark mengangguk dengan cepat, mempertemukan lagi bibirnya dengan bibir sang lawan untuk kembali bertautan lebih panas.
Suara kecipak terdengar jelas saat lidah mereka mulai bertarung memperebutkan posisi pemenang. Mark tentu saja tidak mau kalah lagi, sedangkan Jackson tidak mudah untuk di kalahkan. Tangan Jackson yang satunya mengusap punggung Mark dengan gerakkan memutar yang entah mengapa membuat Mark semakin bergairah.
Lidah mereka saling membelit satu sama lain sehingga bongkahan daging tak bertulang milik Jackson berhasil masuk untuk memperlancar aksinya.
"Nghh,"
Desahan Mark menentukan kemenangan Jackson yang tengah menginvasi isi mulutnya. Ia yakin Jackson tengah tersenyum meremehkan di tengah ciuman mereka. Ingin mendorong Jackson, namun tubuhnya seolah berkhianat. Mark semakin merapatkan tubuh mereka dan entah sejak kapan tangannya berada di perut six pact Jackson, mengusap-usapnya dengan sedikit menekan.
Kaki Mark semakin tak bertenaga saat bibir Jackson kini mulai merambah lehernya. Menjilatnya hingga bunyi 'slurrp' terdengar jelas.
"Jackson ini perlengkapan-" ucapan Ilhoon terhenti saat menyadari dirinya menjadi pengganggu. "-mu. Ah, aku taruh disini saja." Cepat-cepat ia menaruh seragam dan antek-anteknya di meja makan kemudian berlari kecil menemui kekasihnya di ruang tengah.
"Urghhh," Jackson mengakhiri ciumannya di leher Mark dengan isapan kuat, menyisakan bekas merah keunguan yang kentara di kulit putihnya. Kembali ia mengecup bibir Mark dengan cepat.
"Thanks. Aku menang."
Mark memukul udara ketika Jackson pergi dengan senyuman merendahkan membawa setumpukan perlengkapan untuk sekolahnya. Emosinya berkali-kali lipat kala menyadari sesuatu di bagian selatan tubuhnya sudah terbangun.
Adik kecilnya turn on.
Good Jackson. Kau membuat pangeran Mark kalah telak.
.
.
.
Hyunsik
"Chagi." Ilhoon menghampiri sang kekasih yang tengah duduk sambil memainkan handphone-nya.
"Hm?"
"Mereka berciuman."
"Kita juga sudah melakukannya tadi." jawabnya cuek. Tidak mengalihkan pandangn dari handphone kesayangannya.
"Aku membicarakan mereka!"
"Biarkan saja."
"Ini sangat hot. Apa mereka semalam juga melakukan seks?"
"Kita juga melakukannya."
"IM!" bentak Ilhoon. "Responmu selalu membuatku emosi."
"Karena itu kau tidak bisa berhenti memikirkanku, kan?"
Dan Hyunsik hanya meringis saat bantal sofa mendarat di wajahnya dengan keras. Sementara Ilhoon—sang pelaku kini sudah beralih menatap Jackson malas. "Kenapa kau bergaya seperti itu lagi? aku bersumpah lebih baik melihat bulu kucingku basah kuyup di banding gaya rambut jadulmu di belah dua seperti itu."
"Sayang, kau tidak punya kucing."
"Diam, bodoh!"
.
.
.
Selesai dengan perdebatan kecil Ilhoon Hyunsik yang entah kenapa selalu ada setiap hari, juga menunggu Mark dengan urusannya di kamar mandi, you know what I mean. Mereka berempat mulai menuju apartemen Bobby yang memang paling dekat dengan sekolah.
Mark dan Jackson menggunakan mobil Ferrari merah milik Hyunsik, yang ia gunakan semalam untuk pergi ke club dan mengantar Mark dengan Mark yang mengambil kendali, sedangkan sepasang kekasih menggunakan Lamborghini Veneno berwarna kuning yang Jackson yakini milik orangtua Ilhoon.
Bukan rahasia lagi jika keluarga Jung dan Choi senang mengoleksi mobil-mobil mewah. Jackson bahkan beberapa kali berdecak kagum saat Ilhoon dan Hanbin selalu membawa mobil yang berbeda saat jamuan makan keluarga.
Mereka menepikan mobil di sebuah apartemen mewah. Jackson bahkan sudah tidak bisa-dan tidak mau- menebak berapa tinggi bangunan itu. Ia hanya melihat dua orang namja sudah menunggunya. Jackson melihat jam di pergelangan tangannya.
07.30 KST
Pantas. Satu setengah jam lagi sampai jam masuk sekolah, masih sangat lama mengingat jarak dari apartemen ke sekolah hanya kisaran 10 menit. Atau kurang?
Jackson berdecak malas saat mau tak mau ia ikut turun. Melihat mereka bertiga menyapa temannya yang sepertinya bingung karena kehadirannya.
"Kalian bersahabat?" tanya Jin. Suaranya mungkin terdengar terkejut, tapi ekspresinya tidak menunjukan demikian. Terlalu flat bagi Jackson.
"Bahkan sebelum aku lahir." Jawab Ilhoon malas. Pandangannya beralih pada namja di sebelah Jin yang sejak tadi menunduk. "Nuguya? Tidak biasanya kau membawa tumpangan."
"J-Jeon Jungkook imnida."
"Ah, kau anak di sebelah kelasku, kan?"
"N-ne."
"Bilang pada namja kecil ini, aku tidak semenakutkan itu." Ilhoon menghentakkan kakinya menuju tempat tinggal Bobby diiring sahabatnya yang lain.
"Tidak tahu diri, kau lebih kecil darinya." Jawab Jin, tangannya merengkuh pundak Jungkook untuk menenangkan.
Jin tahu, Jungkook pasti malu saat ini. Sejak awal Jungkook selalu menolak untuk pergi bersama Jin, tak pantas, katanya. Tapi Jin mana peduli? Yang ia inginkan, itu yang mutlak terjadi. Tidak boleh ada yang melawannya. Ya mungkin beberapa kesepakatan bisa. Labil.
"Aku dan Jackson menunggu disini." ucap Hyunsik yang di balas acungan jempol Mark dan anggukkan Hyunsik. Ilhoon? Mana mau ia susah-susah membalas.
.
"Jadi, bagaimana malammu dan Mark?" Hyunsik memantik api untuk rokok yang sudah bertengger di mulutnya.
"Nothing special." Jackson ikut melakukan yang Hyunsik lakukan. Menyandarkan punggungnya ke tembok samping Hyunsik menghadap mobilnya.
"Setidaknya pagimu spesial, kan?"
"Sangat spesial jika saja kekasihmu tidak mengganggu."
Terdapat jeda sejenak sebelum Hyunsik kembali melanjutkan "Jaebum akan pulang satu minggu lagi atau bahkan lebih cepat."
"Seriously, Im, ini bukan marathon. Lagipula aku tidak mungkin memaksanya jika ia tak menyukaiku. Tapi poin pentingnya," Jackson menghisap batang rokoknya, "ku rasa ia semakin tertarik padaku."
"Kenapa kau tidak mengatakannya, Jack? Mungkin dia mengingatmu."
"Sudah ku coba, tapi gagal. Aku tidak membekas untuknya, Im."
Hyunsik memijat keningnya frustasi. Sedang Jackson mengusap bahu sahabatnya pelan, ia mencoba menenangkan sahabatnya yang ia yakini tengah khawatir. Hyunsik hanya terlalu menyayangi adiknya. Jujur saja ia ingin mengatakan apa yang Mark utarakan semalam tentang Jaebum yang menyakiti Jinyoung, tapi Jackson tidak tega.
"Jika kau seperti ini, terlihat bahwa kau tidak percaya dengan cinta Jinyoung pada adikmu."
"Aku memang tidak mempercayainya sejak awal."
"Jaebum sangat mencintainya."
"Aku tahu." Ia menunduk sedih, "Aku harus berada di tengah adik dan sahabatku yang secara tidak langsung sedang berperang dingin."
"Aku tak tahu harus berkata apa. Tapi yang aku tahu, kau sudah menempatkan dirimu dengan tepat."
Selanjutnya, entah siapa yang memulai bibir mereka sudah bertautan satu sama lain.
.
.
.
TBC
Oh iya, kayaknya aku bakal Hiatus seminggu, aku lagi Ujian. Mungkin setelah itu aku baru post lagi hehehe: v
