Title : My Handsome Nerd
Genre : Romance, Friendship, Drama
Cast : Wang Jackson
Mark Yi En
Lim Hyunsik
Jung Ilhoon
And others
Pairing : Markson/Jark, Hoonsik, Double B, JinKook
Words : 2,2K
WARNING ! BOYS LOVE, MPREG, AU. Bagi yang mau baca silahkan jangan lupa , review kalian itu semangat saya ^^
.
My Handsome Nerd
.
"Hanbin-ah~"
"Hanbinnie~"
"Bobby!"
Ilhoon terus berteriak saat kakinya baru saja menapaki ruang tamu Bobby. Terlalu malas untuk melangkahkan kakinya menelusuri tempat itu, ia lebih memilih Hanbin dan Bobby yang terganggu dan segera menghampiri mereka di ruang tengah.
"Jungkook, aku seperti pernah mendengar namamu." Mark menyandarkan punggungnya ke sofa dengan kaki menyilang.
"Dia pernah menjuarai lomba duet dance tahun lalu dengan Eunji." Sahut Ilhoon. Matanya masih terus memperhatikan teman sebayanya yang setia menundukkan kepala. "Aku sudah bilang aku tidak menyeramkan."
Jungkook mengangkat kepalanya menghadap Jin. Memperlihatkan wajahnya yang sedikit berpeluh dengan menggigit bibir merahnya "H-hyung, aku ingin buang air kecil."
"Tampangmu seperti orang yang ingin di setubuhi saja. Ayo aku antar." Ilhoon menarik Jungkook dengan cepat, meninggalkan dua sahabat yang tertawa kecil. Tidak lama, karena pandangan Jin kini beralih pada Mark. Menyunggingkan sedikit senyum sinisnya sebelum membuka percakapan.
"Jadi… bagaimana hubunganmu dengan si anak baru?"
"Biasa saja."
"Kau yakin?"
"Apa maksudmu?"
"Kau semalam tidur dengannya?"
"Y-ya, hanya tidur biasa.."
"Kau yakin?"
"Kau itu kenapa!"
Jin menunjuk lehernya sendiri sekedar untuk menyadarkan Mark apa yang terdapat di leher putih mulusnya. Tak dapat menahan tawanya kala Mark terlihat panik mencari smartphone putihnya untuk berkaca.
"Aku tidak menyangka akan memiliki sahabat yang menjadi bottom."
"KALIAN SEMUA CEPATLAH!"
Mark bergegas keluar, menutup pintu apartemen dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi debuman yang kencang masih di sertai tawa dari Jin. Bagaimana lagi, pemandangan Mark dengan tampang bodoh bercampur khawatir terlihat lucu. Belum lagi selama ini Mark tidak pernah menunjukkannya. Wajar bukan jika Jin menertawakan sahabatnya itu?
Mark menggerutu sepanjang jalan menuju tempat parkir, merutuki betapa kurang ajarnya si anak baru yang berani menciptakan cupang di lehernya dan betapa bodohnya ia tak menyadari bekas keunguan itu sejak tadi.
Langkahnya terhenti saat menangkap kedua orang yang sudah sangat ia kenal tengah berciuman. Meskipun ia tidak merasakannya, tapi ia tahu betul ciuman mereka begitu lembut. Entah kenapa hatinya terasa sesak. Apa Jackson selalu mencium orang sesuka hati? Apa ciuman mereka bahkan tiak ada artinya bagi Jackson?
Mark menggeleng cepat. Sadar bahwa ia bukanlah siapa-siapa bagi Jackson. Salahkan saja hati dan otaknya yang seolah begitu familiar dengan kehadiran Jackson. Mark terus menatapi mereka tanpa mengalihkan pandangan hingga dehaman Hanbin menyadarkannya.
"WANG!" Namja yang berstatus kekasih Bobby itu menerjang Jackson dengan penuh semangat setelah sebelumnya mengerjab beberapa kali melihat penampilan sahabatnya. Mendaratkan ciumannya berkali-kali di kedua pipi Jackson.
"Sudah, Binnie. Aku tidak ingin berurusan dengan kekasihmu."
"Dia bahkan mencium wanita cantik di depanku berkali-kali."
"Jinjja?"
"Ne." Hanbin mengecup bibir Jackson, kemudian beralih pada kekasihnya. "Aku ingin berangkat sekolah dengan Jackson."
"Tidak." Sahut Bobby cepat. Matanya menatap Jackson dengan pandangan sinis. Terlihat sekali ia tidak menyukai kedekatan mereka.
"Aku ingin naik mobil."
"Kau pikir aku tidak punya mobil?"
"Kau tidak pernah mau mengendarai mobil."
"Sekarang aku mau."
"Ya ya ya, terserah kau tuan kelinci." Final. Jackson tersenyum kecil melihat sahabatnya ditarik oleh sang kekasih memasuki sebuah mobil.
Sementara yang lain entah sejak kapan sudah menghilang dari sana, bersiap di mobilnya masing-masing,-terkecuali Jin yang masih setia dengan motornya— Mark dan Jackson masih tetap pada posisi semula. "Jadi, kau atau aku yang menyetir?"
.
.
.
Bobby
Bobby menarik kekasih tercintanya menuju mobil Mercedes Benz miliknya. Sebenarnya ia tidak terlalu pede menggunakan mobil, mengingat mobilnya tidak sepadan-bahkan jauh di bawah mobil-mobil mewah milik Hanbin. Karena itulah ia selalu membawa motor. Toh motornya termasuk motor berkelas. Suasana hening mendominasi perjalanan mereka hingga Bobby membuka suaranya.
"Apa hubunganmu dengan Jackson?"
"Teman?" Jawab Hanbin agak ragu, "Teman sangat dekat, mungkin."
"Jangan terlalu dekat."
"Aku dan dia bersahabat sejak kami masih sama-sama belajar berjalan. Kau tidak berhak menyuruhku seperti itu."
"Aku berhak, aku kekasihmu."
"Oh ya, harusnya aku juga mengatakan itu setiap kau menghabiskan one night stand-mu." ucapan sarkasme Hanbin membuat sang lawan bicara menepikan mobilnya dengan tiba-tiba –mulai emosi.
"Kita sudah pernah membahasnya."
"Apa? tentang kau yang memintaku agar tetap utuh sementara kau sendiri dengan brengseknya menebar benihmu pada orang lain?"
Bobby menatap namja yang lebih kecil darinya itu dengan datar. Hanbin tahu itu adalah ekspresi marah kekasihnya. Ia memilih membuang muka, melihat pemandangan luar jendela lebih menarik untuk saat ini.
"Kau tidak pernah seperti ini."
Karena aku sudah lelah.
Sayang, kata-kata itu seolah tercekat di tenggorokannya. Hanbin tidak bisa mengatakan itu dengan gamblang. Tidak untuk saat ini. Mungkin nanti saat mood kekasihnya sedang bagus ia akan mengatakannya. Mungkin. Karena sampai sekarang, Hanbin belum berani mengutarakan isi hatinya. Percaya atau tidak ini adalah perdebatan serius pertama mereka.
"Aku mengantuk. Katakan padaku jika sudah sampai sekolahmu."
.
.
.
Hyunsik
Bukan hal aneh lagi bila melihat Ilhoon berlagak seperti penguasa jalan raya. Ia sering menjadi bulan-bulanan kakak kembarnya saat sang kakak mendengar ia kembali mengemudi dengan kecepatan gila seperti kali ini. Hyunsik bahkan sudah beberapa kali menyuruhnya untuk mengurangi kecepatan. Namun sayang kekasihnya tak menggubris sama sekali.
"JUNG ILHOON!"
CKIIIT
Mobil terhenti tiba-tiba hanya beberapa meter dari sekolah mereka. Gerbang sekolah pun sudah dapat mereka lihat dengan jelas. Hyunsik menyandarkan punggungnya dengan keras pada jok mobil sambil menetralkan nafas.
Ia mengusap wajahnya kasar kemudian menatap sang kekasih yang sejak tadi memang sudah memberikan pandangan mematikan padanya. "Kita bisa membicarakannya, Sayang."
"Aku tidak suka kau melakukan itu meski dengan Jackson sekalipun. Kau harusnya tahu, brengsek."
"Ya, aku tahu."
"Lalu kenapa kau melakukannya?"
"Kau juga sering melakukan itu dengan Jackson, Hanbin, Ho-."
"Aku. Tidak. Suka. Bagian mana yang tidak kau mengerti, Im?"
"Arra, maafkan aku." Hyunsik menangkup pipi kekasihnya, mencium kening dan bibir Ilhoon secara bergantian kemudian tersenyum kecil. Ilhoon sadar itu bukan senyuman Hyunsik yang biasa. Senyuman kali ini terkesan di paksakan.
Mengerti kekasihnya sedang tidak baik, Ilhoon akhirnya melunak. Pandangan matanya yang tadi tajam kini mulai menyendu menatap kekasihnya. "Ada masalah apa?"
"Tidak ada."
Seakan tidak puas, Ilhoon menghembuskan nafasnya kasar. Siap kembali mengendarai mobil dengan tampang tak bersemangat. "Sembunyikan saja dariku. Aku bukan siapa-siapamu." Mobil pun berjalan dengan kecepatan normal.
"Setiap orang memiliki privasi, sayang."
"Katakan itu pada Jackson." Dan Hyunsik tidak bisa menahan tangannya untuk mencubit pipi sang namjachingu yang merajuk.
.
.
.
Markson
"Tidak berubah." Gumam Jackson. Iris beningnya memperhatikan mobil Ilhoon yang semakin jauh meninggalkan mobilnya. Kini ialah yang mengambil alih kemudi setelah Mark –katanya- tiba-tiba pusing dan ingin bersantai saja.
"Kau senang ya sahabatmu bertengkar?"
"Tidak juga."
"Kau sudah tahu Ilhoon posesif, tapi malah melakukan itu dengan Hyunsik."
"Aku ingin melakukan itu denganmu, tapi kau terlalu lama."
"Apa?"
"Apa?"
Mark berdecak keras. "Kau itu selain suka mencium orang ternyata juga suka mengabaikan pertanyaan ya?"
"Aku tersanjung kau memperhatikanku. Jadi, kapan kita berkencan?"
"Apa?"
"Aku akan menjemputmu besok."
"Aku yang mengajak, jadi aku yang tentukan."
"Oke, besok satu jam setelah pulang sekolah aku akan menjemputmu."
Fakta baru Jackson di pikiran Mark; tukang paksa.
"Dan satu lagi, Mark. Itu bukan perintah."
Mark tak habis pikir dengan namja di sebelahnya ini. Ia tidak bisa membaca Jakson dengan baik dalam jangka waktu satu hari. Kadang Jackson bersikap dingin padanya, kadang menghangat. Kadang berkata cuek, kadang melembut. Kadang menyeringai, kadang tersenyum tulus. Tapi satu hal yang tidak berubah dan membuat Mark semakin tertarik padanya. Ketenangannya.
Ia seperti melihat Hyunsik dan Jin versi berbeda dalam diri Jackson. Hanya saja, Jackson terkesan lebih baik di matanya. Entah karena apa.
.
Jackson mengalihkan pandangan pada Mark saat mereka sudah tiba di lahan parkir sekolah. Sedikit menyunggingkan senyum sinisnya, ia memberikan perintah pertama dalam taruhan mereka.
"Perintah pertama. Kau harus berangkat sekolah denganku setiap hari."
"Aku bukan wanita. Aku bisa berangkat sekolah sendiri, tidak usah kau jemput."
" .tah." tagasnya. Nyali Mark ciut seketika, "Lagipula kau yang menjemputku. Aku tidak ingin melakukan hal merepotkan seperti itu." Mark membulatkan matanya, tak sempat menolak karena Jackson kembali menyela. "Kedua, cium bibirku setiap kita berpisah."
"Apa?"
"Jangan berlagak tuli."
"Kaca ini tembus pandang, Jack!"
"And than?" Jackson mengangkat sebelah alisnya. Memperhatikan Mark yang kini tengah mengacak rambutnya frustasi. Tersenyum kecil, ia merasa hatinya menghangat saat ini. Ia senang dapat melihat berbagai macam ekspresi namja yang sudah lama ia sukai.
"Okay!" Mark mengecup bibir Jackson lalu segera membuka mobil sebelum akhinya tangan Jackson kembali menahannya, "Fuck! Apa lagi?"
"Pulang bersamaku."
Dan suara pintu mobilah yang membalas perkataan Jackson.
.
.
.
Jungkook
Jungkook terdiam di kelasnya saat jam istirahat sudah berbunyi. Entah mengapa kata-kata Ilhoon tadi pagi sukses merusak konsentrasinya. Walaupun ia senang karena namja Jung itu bilang ia siap membantu Jungkook kapan saja, ia jadi merasa malu sendiri pernah menuduh Ilhoon namja yang kejam.
Well, Ilhoon memang kejam. Ia tak segan-segan mem-bully siapapun yang kedapatan menyukai kekasihnya. Mulai menguncinya di kamar mandi, melemparnya dengan bola, menceburkan ke kolam renang, hingga menenggelamkan wajah lawannya ke dalam closet.
Jungkook bahkan tidak pernah berani bertatapan langsung dengan Ilhoon walau kelas mereka bersebelahan. Ia hanya berani dengan Eunji, kakak kembar Ilhoon yang sifatnya jauh berbeda. Eunji termasuk anak yang ramah dan mudah bergaul meskipun sedikit galak. Entahlah, mungkin itu termasuk ciri khas keluarga Jung?
"Jungkook-ah!" Jungkook tersentak saat namja yang ia lamunkan sejak tadi ada di hadapannya. Memperhatikan seisi kelas yang terlihat menintimidasinya seolah bertanya, apa yang kau lakukan padanya, Jeon Jungkook.
Padahal Jungkook tidak melakukan apa-apa. Ia hanya tidur dengan Jin semalam, lalu melakukan -ugh. Jungkook tak mau membahasnya. Pasti semua orang iri. Ia saja tadi pagi harus menjawab pertanyaan banyak orang tentang 'bagaimana kau bisa di bonceng Jin?'
"Ya! kau tidak menjawabku lagi, bocah!"
Jungkook membulatkan mata saat Ilhoon sudah duduk di kursi depannya. "M-Mian."
Ilhoon memutar bola matanya malas. Sudahlah, ia sudah lelah memaksa Jungkook agar tak takut padanya. "Ayo makan siang, aku lapar sekali."
"H-Hyunsik sunbae?"
"Siapa itu Hyunsik?" tanya Ilhoon balik. Tangannya mengapit lengan Jungkook untuk menuntunnya menuju kantin sekolah. "Andai Hanbin satu sekolah denganku. Aku tidak perlu mencari teman untuk makan."
Ilhoon berdecak sebal. "Ah!" dan Jungkook pasrah saat tanganya di tarik paksa menuju koridor para sunbae mereka. Ia membulat saat tahu tujuannya adalah kelas namja culun yang tadi sempat berciuman dengan Hyunsik.
Apa Ilhoon mau mengerjainya? Menamparnya? Manjambak? Mencakar? Jungkook menggedikkan bahunya ngeri. Ia tidak siap melihat kesadisan Ilhoon, lebih baik melihat Tom&Jerry pukul-pukulan. Iya, Tom & Jerry 'kan, lucu.
"I-Ilhoon-ah, lebih,-"
"Wang, ayo makan." tangan Ilhoon yang satu lagi menarik namja itu tanpa persetujuan.
"Kakiku masih berfungsi dengan benar, Jung. Lepas!"
Jungkook mengerjabkan matanya berkali-kali. Apa ia sudah negative thinking lagi pada Ilhoon? "Eh? Kau tidak marah dengannya? Tidak mau mengerjainya?"
Ilhoon menghentikan langkahnya yang otomatis membuat kedua namja di kanan dan kirinya ikut berhenti. "Kenapa?"
"Dia berciuman dengan Hyunsik sunbae kan? aku kira kau akan mengerjainya. Maaf aku sudah berpikiran buruk." Jungkook menunduk sedih.
Ilhoon dan Jackson saling bertatapan sebelum akhirnya tertawa bersama.
"Kau lucu ya, pantas Jin menyukaimu."
Dan Jungkook tak bisa menahan rona merah di wajahnya mendengar perkataan Ilhoon.
"Tapi jangan lupakan perkataanku tadi pagi."
.
.
.
Jackson, Ilhoon dan Jungkook duduk di meja pojok yang cukup jauh dari Hyunsik dan kawan-kawannya. Ilhoon bahkan jelas-jelas mengabaikan Hyunsik yang tersenyum padanya saat tatapan mereka bertemu.
"Tidak biasanya kau mengabaikan Hyunsik." Jackson sadar ada yang tidak beres dari kedua sahabatnya membuka suara.
"Dia menyebalkan. Dia bercerita padamu tentang masalahnya, tapi padaku tidak."
"Kau tidak cocok dengan masalahnya."
"Aku ini kekasihnya. Walaupun aku tidak bisa menyelesaikan masalahnya, setidaknya ia harus memberitahuku. Iya kan, Kookie?" Jungkook yang sedang minum mengangguk cepat. Walaupun ia tidak mengerti karena tidak mendengar dengan jelas, tapi ia tidak ingin membuat Ilhoon marah.
"Pasti ada alasan."
"Mungkin karena emosimu yang suka meledak?" Jungkook terdiam saat dua pasang mata itu kini menatapnya. "W-Waeyo? A-ku salah bicara? Mian-"
"Kau benar." Jungkook tidak bisa tidak memeluk Ilhoon yang duduk di sebelahnya. Jungkook menyesali perkataannya hingga membuat Ilhoon murung seketika. Harusnya ia tak mengatakan itu pada teman barunya ini.
.
.
.
Bobby
Bel pulang sekolah menandakan bertemunya kembali mereka. Jackson dan Mark sudah pulang lebih dulu, sementara Hyunsik, Jin dan Bobby masih menunggu sambil mengobrol kecil hingga Ilhoon dan Jungkook datang. Hyunsik tersenyum pada sang kekasih sebelum akhirnya berpamitan pulang pada Bobby, Jin yang memberikan helm pada Jungkook lalu melambaikan tangannya pada sahabatnya. Sedang namja kelinci itu mulai berjalan ke depan gerbang sekolah menunggu kekasihnya.
Satu lagi yang tidak ia sukai saat membawa mobil. Menunggu. Hanbin selalu memintanya agar tidak usah mengantarkan sampai sekolah. Ia akan membawa mobil sendiri setelah Bobby sampai sekolahnya. Berbeda saat mereka pergi dengan motor, Bobby mengantar-jemput kekasihnya diiring sahabatnya yang lain –walau tidak setiap hari Hanbin bersamanya.
Mereka tidak setiap hari bertemu. Hanbin memiliki jadwal yang super sibuk sebagai pelajar. Satu-satunya pewaris Choi yang masih sekolah ini harus mengikuti berbagai macam bimbingan belajar, dan waktu luangnya selalu ia isi dengan kegiatan dikomunitas rapper-nya.
Bobby kesepian, tentu saja. Walau terkadang ia ikut menemani kekasihnya itu saat tampil, tapi tak dapat di pungkiri itu tidak cukup. Cara bersenang-senang mereka jauh berbeda. Bobby tak mau membawa Hanbin ke dunianya, dan ia tak cukup puas berada di dunia Hanbin. Mungkin itulah yang mengganjal di hubungan mereka hingga membuat kekasihnya marah tadi pagi.
Hah! Ia menarik nafas panjang mengingatnya. Andai ia dapat mengendalikan dirinya.
Bibirnya menunjukkan senyum kecil kala melihat mobil miliknya mendekat dan berhenti di depannya. Seseorang keluar dari kursi kemudi lalu berpindah ke tempat berlawanan pertanda ia menginginkan Bobby mengemudi.
"Bagaimana sekolahmu?" tanyanya sambil menyalakan kembali mobilnya.
"Membosankan."
"Bisakah kau menginap di rumahku malam ini?"
Hanbin mendesah. Ia tahu keadaan hati Bobby sedang tidak baik saat ini, kekasihnya pasti akan meminta maaf. Dan tentu saja Hanbin tidak kuasa menolaknya.
.
.
.
Mark
Jackson menepikan mobilnya di sebuah rumah dua lantai bergaya minimalis. Dengan warna gold yang mendominasi dan dua pilar besar di bagian depan membuatnya terlihat lebih elegant. Jackson perkirakan halaman Mark mampu menampung 7 mobil.
"Besok kau yang harus menjemputku." ujar Jackson.
"Motorku masih ada di club."
"Aku tidak tanya."
"Ya!" Mark baru saja ingin memukul Jackson, sebelum akhirnya bibir namja tampan itu sudah lebih dulu mendarat di bibirnya.
Segera keluar dari mobil setelah Jackson melepas ciumannya. Tanpa mengucap salam atau sekedar terima kasih, Mark berjalan membuka gerbang rumahnya dengan cepat. Namun ucapan Jackson sebelum pergi mampu membuatnya membeku di tempat.
"Selamat malam, Dimsum."
.
.
.
TBC
