Title : My Handsome Nerd
Genre : Romance, Friendship, Drama
Cast : Wang Jackson
Mark Yi En
Lim Hyunsik
Jung Ilhoon
And others
Pairing : Markson/Jark, Hoonsik, Double B, JinKook
Words : 2,2K
WARNING ! BOYS LOVE, MPREG, AU. Bagi yang mau baca silahkan jangan lupa , review kalian itu semangat saya ^^
Mian telattt, aku ngumpulin feel buat lanjut nih FF. Utang FF LINE aku juga belum tuntas dan lumayan banyak yg nagih U,U. Makasih yang udah review, fav sama follow ya ^^
My Handsome Nerd
Double B
Hanbin tak dapat menahan senyumnya kala kembali merasakan kehangatan kekasihnya. Bobby yang beberapa hari ini tidak di lihatnya karena tugas sekolah yang menumpuk, kini tengah memeluknya dari belakang.
Dengan lembut bibir dan hidungnya menempel di pipi Hanbin cukup lama sebelum akhirnya berpindah ke telinga, menimbulkan sensasi geli yang terasa menyenangkan.
"Mianhae." Bisik Bobby pelan. Hanbin bergidik beberapa detik lalu akhirnya tersenyum. Membalik tubuh kecilnya untuk berhadapan, kemudian melingkarkan tangan di leher Bobby. Lagi-lagi ia goyah. Mungkin Hanbin memang di setting untuk tidak bisa marah pada kekasihnya.
"Aku tahu kau lelah, Mianhae, aku egois. Tapi terima kasih."
"Terima kasih?"
"Sudah mencintaiku. Terima kasih."
Hanbin sudah semakin nyaman, terlebih saat Bobby membaringkannya di kasur dengan tetap memeluknya. "Kau tahu? Mungkin tadi pagi aku berada di titik terjenuh menghadapimu."
"Aku tahu."
"Tapi sekarang, seperti biasa kau kembali membuatku luluh." Hanbin tersenyum kecut. "Lalu hanya menunggu hitungan jam akan ada lagi yang datang menggantikanku di tempat ini. Apa akan terus seperti itu?"
Bobby tak menjawab. Tapi pelukannya jauh lebih erat dari sebelumnya. Wajahnya tenggelam dalam rambut hitam Hanbin dengan beberapa kali mengucap 'maaf'. Hanbin tidak mengerti apa yang menyebabkan Bobby jatuh sedalam ini ke dalam dunia seks. Kenapa kekasihnya ini seolah menjadi maniak di kegiatan itu.
"Kau hanya perlu memberitahuku jika menginginkannya."
"Aniya." potongnya cepat. "Kau terlalu berharga untuk itu." Bobby member jarak dalam pelukan mereka, mengusap pipi Hanbin lembut sebelum namja yang lebih kecil itu mencekal pergelangan tangannya.
"Pada kenyataannya definisi berharga milikmu itu menyakitiku." ucapnya. Mengarahkan tangan Bobby untuk menyentuh sesuatu di antara selangkangannya. Hanbin menengguk ludahnya sebelum membalas mata Bobby yang lebih dulu menatapnya tajam.
"Kau mau aku melakukan ini?"
"Ah! Mphhh," Hanbin tak mampu menahan desahannya saat Bobby meremas miliknya dengan keras. Belum lagi bibir kekasihnya itu sudah membungkam bibirnya kasar. Hanbin tidak tahu mengapa, tapi ia sangat tidak menyukai ini. Ia tidak suka Bobby bertindak kasar, tidak seperti biasanya.
Hanbin mendorong Bobby sekuat mungkin, menyebabkan kekasihnya itu hampir terjatuh dari tempat tidur mereka. "Hyung!"
"Apa? kau memintaku memperlakukanmu seperti aku memperlakukan mereka, kan? itu yang aku lakukan."
Selanjutnya, Hanbin hanya menatap kepergian Bobby tanpa berniat mencegah. Ia menyesali kebodohan yang baru saja ia lakukan. Baru kali ini Bobby memperlakukannya dengan kasar, padahal sebelumnya Bobby hampir tidak pernah marah dengannya.
"Mianhae, hyung."
.
.
.
Markson
Mark harus berangkat pagi-pagi sekali untuk mengambil motornya lalu menjemput Jackson. Seperti biasa, mereka berkumpul di apartement Bobby sebelum akhirnya berangkat bersama menuju sekolah. Berbeda dari hari kemarin yang kebanyakan menggunakan mobil, hari ini mereka kembali memakai motor masing-masing. Bobby sendiri sudah bersiap di depan gedung dengan tampang sangat masam. Mungkin karena tidak ada Hanbin di boncengannya?
Hanya Mark dan Jin yang membawa tumpangan, sedang Ilhoon yang semalam tidur bersama Hyunsik, lebih memilih menaiki mobilnya dibanding harus berboncengan dengan sang kekasih. Jujur saja Jackson juga tidak terlalu suka motor, apalagi ia harus menjadi yang di bonceng. Terbukti ia tidak menanggapi gerutuan Mark selama perjalanan.
Jackson berdecak saat hampir semua mata tertuju padanya. Ia cepat-cepat membuka helm agar dapat segera pergi, sebelum tangan Mark mengcekalnya, "Jack?"
Jackson bergumam malas.
"Tentang semalam."
"Bisa kita bahas nanti? Aku tidak nyaman menjadi pusat perhatian."
"Kita sudah menjadi pusat perhatian sejak kemarin. Ini sudah sangat terlambat."
"Nanti. Aku malas."
"Baiklah." Mark mengecup bibir Jackson dengan cepat kemudian melenggang pergi bersama ketiga temannya yang sudah tertawa lebar. Menyisakan Jackson yang mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum kecil.
.
Jackson melesat pergi ke kamar mandi setelah bel pulang sekolah berbunyi. Menemukan salah satu sahabat Hyunsik yang tengah mencuci tangannya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin westafel. Dari pandangannya, terlihat sekali pikirannya tengah terganggu. Jackson yang memang berniat mencuci muka berdiri di sampingnya kemudian menyalakan keran.
"Ada masalah dengan Hanbin?"
Ia mendengus kasar, "Bukan urusanmu."
"Apa menurutmu virgin sangat penting?"
Bobby mengerutkan keningnya, "kau tahu?"
"Aku lebih mengenalnya di bandingkan denganmu." Bobby melengos. Terlihat sekali ia tidak menyukai perkataan Jackson. "Dia banyak bercerita tentangmu. Kau bajingan brengsek." Baru saja Bobby hendak menarik kerah Jackson, namja itu kembali melanjutkan "yang mencuri hatinya."
"Jadi, jaga Hanbin baik-baik."
.
Mark sudah rapi dengan setelan kemeja biru dan jaket hitam dipadu celana levis panjang. Tidak membuat Mark menunggu lama di depan rumahnya, Jackson sudah datang dengan membawa mobil Ferrari yang Mark tahu hak milik Ilhoon. Beruntung bagi Jackson karena kekasih Hyunsik itu menginap kembali di rumah keluarga Im, sehingga ia dapat meminjam mobilnya. Toh Ilhoon dan keluarganya tidak akan mempermasalahkan itu.
"Kau meminjam mobil Ilhoon?" tanya Mark sambil memakai self belt-nya. Matanya terpaku pada Jackson yang mulai menjalankan mobil.
"Hm."
"Sebenarnya apa hubungan kalian? aku tidak pernah melihatmu sebelumnya di rumah Hyunsik. Aku dan Hyunsik sudah bersahabat sejak sekolah dasar."
"Kerabat."
"Sejak kapan?"
"Kau lebih suka makanan China atau Western?"
Mark bedecak, "China. Jawab dulu pertanyaanku!"
"Yang mana?"
"Sejak kapan kau, Hyunsik dan Ilhoon kenal?"
"Sejak Hyunsik resmi menjadi anak keluarga Im."
"Maksudmu? Sejak Hyunsik lahir?"
"Tidak." Jackson tersenyum masam, "Kau benar-benar tidak mengenal sahabatmu dengan baik ya?"
"Apa? maksudnya, Hyunsik?"
"Ya. Hyunsik dan Jaebum anak angkat."
Mark terpaku beberapa saat. Setelahnya, ia lebih memilih mengalihkan pandangan pada jalan di depannya. Kenyataan yang baru ia dengar seolah menghantamnya tepat di ulu hati. Kenapa Hyunsik merahasiakan ini darinya? Bukankah mereka sahabat? apa Hyunsik belum terlalu mempercayainya? Tapi jujur saja Mark merasa gagal menjadi sahabat.
"Aku tiba-tiba tidak nafsu makan."
"Jadi, kau mau ke mana?"
"Ke tempat sepi."
"Kita ke apartemenku."
.
.
.
JinKook
"Hyung tidak ingin masuk lebih dulu?"
"Tidak."
"Besok menjemputku?"
"Ya."
"Ya sudah, hati-hati di jalan."
"Hm. Ingat pesanku. Jangan pernah kembali ke tempat itu."
"Kau mengatakannya berulang-ulang, hyung. Aku mengerti." Jungkook tersenyum sambil mengangkat dua ibu jarinya. Jin mengangguk kecil, mencium kening Jungkook kemudian mulai memakai helm-nya. Kembali menyalakan motor dan pergi meninggalkan rumah itu dengan kecepatan yang membuat Jungkook meringis. Ia akan menelpon Jin setelah beberapa menit untuk menanyakan apa Jin selamat sampai rumahnya.
Hubungannya semakin baik dengan salah satu flower boy di kampusnya itu. Meskipun terbilang singkat, tapi Jungkook yakin bahwa Jin memperlakukannya dengan tulus. Ditambah Ilhoon yang berulang kali mengatakan Jin menyukainya. Ngomong-ngomong, Jungkook dan Ilhoon sekarang sudah lumayan akrab, bahkan Ilhoon sudah mengajak ia menginap di rumahnya bersama Hanbin jika Hanbin memiliki waktu luang.
Sebenarnya Jungkook bingung tentang kelanjutan sekolahnya jika ia menuruti perkataan Jin untuk tidak lagi mendatangi tempat itu. Biaya sekolahnya jauh dari kata murah dan uang yang dikirim dari appa-nya tidak lagi mencukupi. Ia tidak tega mengatakan bahwa iuran sekolah bertambah mahal dan meminta tambahan uang pada orangtua-nya mengingat kondisi keuangan mereka yang sedang terpuruk.
"Mungkin nanti aku ke sana."
.
.
.
Markson
Mark melenggang masuk ke dalam apartemen sederhana milik Jackson. Di perjalanan, Jackson mengatakan ia sempat membeli apartemen untuk dirinya sendiri selama di Korea. Namun dilarang keras oleh orangtua Jackson, terlebih ibunya. Jadilah apartemen ini tidak berpenghuni. Lagipula tempatnya cukup jauh dari sekolah.
"Kau mau vodka, wine atau tequila?"
"Kau memilikinya?"
"Ya. aku juga sempat membeli beberapa bahan makanan. Mungkin masih segar dalam kulkas."
"Sangat di sayangkan tempat ini menganggur. Aku ingin vodka saja."
Jackson tersenyum kecil, "Ibu memang pengancam terhebat." Setelahnya ia meninggalkan Mark yang masih setia melihat-lihat isi apartemen itu. Tidak ada yang spesial. Hanya ruang santai kecil di lengkapi sofa panjang berwarna abu-abu menghadap TV 29inc yang hanya dihalangi meja persegi berwarna hitam, ornament-ornament cantik yang Mark yakini merupakan property tambahan dari penjual apartemen, dan beberapa lukisan.
Mark mendudukan dirinya di sofa, menyandarkan punggungnya lalu menyalakan TV. Ia tersenyum kecil saat Jackson kembali dengan dua gelas dan satu botol vodka. Duduk di sampingnya kemudian menuangkan cairan bening itu ke dua gelas yang sudah bertengger di meja.
"Hyunsik tidak pernah mengatakannya padaku." ucapnya sendu lalu menghabiskan minuman dalam sekali tenggak.
"Jangan terlalu di pikirkan. Hanya beberapa orang yang tahu rahasia itu."
"Aku memang bukan sahabat yang baik."
"Miris sekali." Mark mengalihkan pandangan pada Jackson. Menunggu namja Hongkong itu melanjutkan, "Hyunsik berkata seperti itu setahun yang lalu padaku."
"Masalahku dan Jaebum?"
"Ya." Lagi-lagi Jackson menjeda. "Hyunsik dan Jaebum adalah saudara kandung. Mereka di adopsi karena sama-sama bermarga Im oleh Dujun Appa sejak kecil. Junhyung eomma tidak seperti umma-ku dan Ilhoon, dia namja tulen." ujar Jackson disertai tawa kecil.
"Keluarga Hanbin?"
"Dia juga anak angkat."
Mark melongo "Tapi mereka benar-benar harmonis."
"Ya, tidak ada yang menyangka. Karena itu Hyunsik menyayangi Jaebum lebih dari apapun, tapi Hyunsik sangat menghargai persahabatan kalian." Mendengarnya, Mark tertawa miris. Ia ingat betul bagaimana usaha Hyunsik untuk selalu menenangkannya saat ia teringat Jinyoung. Bagaimana Hyunsik selalu menempatkan dirinya di sebelah Mark setelah kejadian itu.
"Kau tahu segalanya."
"Dibandingkan yang lain, akulah yang paling dekat dengan mereka." Jackson menghela nafas sejenak, "Mark?"
"Hm?"
"Kau masih mencintai Jinyoung?"
"Mungkin."
"Bisakah aku meminta satu hal padamu?"
"Seperti aku bisa menolak saja."
"Ini permintaan, bukan perintah. Aku tidak bisa memaksamu soal ini."
Mark mengernyit, "Baiklah. Apa?"
"Jangan ganggu mereka. Meskipun Jinyoung mendatangimu lebih dulu, jangan pernah menanggapinya."
Mark kembali menuangkan vodka dalam gelasnya, meminumnya sebelum menjawab permintaan Jackson, "kau berlebihan."
"Kalau begitu jangan pernah katakan pada Hyunsik bahwa Jaebum menyakiti Jinyoung."
"Kenapa? Aku akan mengatakan pada Hyunsik saat aku memiliki bukti nanti."
"Dia tidak akan percaya padamu."
"Kau tau Hyunsik tidak percaya, tapi memintaku jangan mengatakannya?"
"Itu akan menambah beban Hyunsik dan Jaebum."
"Kau terlalu membela Jaebum."
Jackson menghela nafasnya keras, mencoba sabar menghadapi sikap Mark yang satu ini. Ia mengusap rambut Mark, mencium kening namja itu lalu kembali berucap, "Kau tidak mengenalnya dengan baik."
Mark tidak tahu kenapa ia benar-benar tidak menyukai ini. Ia memang tidak pernah menyukai pembahasan yang mengandung Jaebum sejak dulu. Karena itu tidak pernah ada yang berani menyinggung Jaebum atau Junior di hadapannya.
Jackson yang sadar perubahan mood teman kencannya ini, menangkup pipi Mark kemudian mulai mempertemukan bibir mereka. Melumat benda kenyal itu pelan namun dalam. Berbeda dari ciuman Jackson sebelum-sebelumnya, Mark seakan dapat merasakan ketulusan Jackson lewat tautan mereka kali ini. Tidak ingin menolak, ia membiarkan Jackson sesuka hati memainkan bibirnya, dan menginvasi seluruh isi mulutnya.
"Nghh," Mark mendesah, membangkitkan gairah Jackson untuk melakukan hal yang lebih lagi. Ciuman lembut penuh perasaan berganti dengan ciuman kasar dan menuntut. Entah sejak kapan posisi Jackson sudah menindih tubuh Mark hingga tangannya dengan mudah meraba titik-titik sensitive namja di bawahnya. Membuka satu persatu kancing kemeja Mark lalu memainkan dua tonjolan yang sudah mulai menegang.
"Ahhh. Ahh, Jack. No! shh..." Desahan keras saat Jackson melepas tautan bibir mereka bertambah panjang ketika bibir itu kini berada di lehernya, menghisap beberapa bagian dengan kasar hingga menimbulkan bekas kemerahan yang sangat kentara.
Puas dengan leher Mark, bibirnya kini beralih pada nipple yang sejak tadi ia kerjai. Menjilat, menggigit lalu menghisapnya secara bergantian. Belum lagi posisi Jackson yang menindih tubuh Mark hingga penis mereka bergesekkan membuat Mark mendesah tanpa henti.
"J-Jack, Touch my dick,"
Jackson mengangkat wajahnya, melihat namja dibawahnya yang saat ini tengah merona parah dengan bibir yang tengah meraup udara sebanyak-banyaknya. Mata mereka bertemu sebelum Jackson meletakkan kepalanya di samping kepala Mark, memposisikan bibirnya tepat di depan telinga Mark.
"What do you want?" bisiknya seduktif kemudian menjilat telinga Mark.
"Shhh, touch my dick, please."
"Like this?"
"A,AAH." Mark tidak dapat menahan desahannya saat Jackson meremas-remas kejantanannya yang masih di balut celana lengkap. Baru saja tangan Mark bergerak turun untuk melepas celananya, namun Jackson dengan cepat menepis. Ia membuka celana Mark beserta dalamannya hanya sebatas lutut dengan satu kali tarikan.
"Wow, you're already hard here."
"Cepat, brengsek!"
.
.
.
Hoonsik
Hyunsik meraba meja sebelah kasurnya saat di suara dering terdengar dari handphone miliknya. Agak sedikit sulit karena terhalang sang kekasih yang beberapa malam ini tidur dengan memeluknya. Tanpa melihat layar, tangannya langsung menggeser untuk mengangkat panggilan.
"Hm?" suara kekehan di seberang membuat Hyunsik mendesah malas. "Kau tidak ada kerjaan lain selain menggangu kakakmu di pagi buta, eoh?" ucapnya serak khas orang bangun tidur. Ya, memang itu kenyataannya
Pekerjaanku pagi ini membangunkanmu tidur.
"Sejak kapan pekerjaanmu menjadi tidak penting begini?"
Sekedar mengingatkan, akulah yang dulu selalu membangunkanmu setiap pagi
"Ya ya, baiklah. Ada apa?"
Aku pulang.
"Aku tahu, kau sudah mengatakannya kemarin."
Jinjja? Aku berada di depan kamarmu sekarang.
"Ye-Mwo?!" Hyunsik terlonjak dari tempat tidurnya, membuka pintu dengan cepat hingga memunculkan figure dongsaeng yang selama satu tahun tidak ia temui tengah melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum ceria.
Melupakan keterkejutannya, Hyunsik balas tersenyum kemudian memeluk namja yang memilliki mata yang sama dengannya itu dengan erat. "Kapan kau tiba?" tanyanya sambil melepas pelukan.
"Kemarin. Saat aku mengatakan aku akan pulang sebenarnya aku sudah pulang ke rumahku."
"Rumah?"
"Ne. Kami memiliki rumah sendiri di sekarang."
"Kau benar akan tinggal di Korea?"
"Hm." Sahutnya mengangguk mantap. "Aku tidak nyaman disana, hyung."
"Jinyoung?"
"Tentu saja denganku. Tapi sekarang dia sedang tidur di rumah. Mungkin kelelahan. Ia mencari rumah temannya semalaman di sekitar gangnam, tapi temannya tak ada di rumah."
Hyunsik tersenyum miris, namun tak menunjukkannya secara gamblang. Ia lebih memilih mendorong Jaebum dan mengatakan untuk menunggunya saja di meja makan. "Aku ingin membangunkan princess-mu, hyung."
"Tidak. Pergi kau!"
"Arra arra. Tidak usah mendorongku."
Hyunsik kembali tersenyum miris saat Jaebum sudah tak terlihat oleh pandangannya.
Teman.
Teman katanya?
Hyunsik mendengus keras. Bagaimana jika Jaebum tahu yang di maksud Jinyoung teman adalah Mark? orang yang selama ini berusaha ia jauhkan dari kehidupannya. Namja bermata sipit dengan abs sempurna itu mondar-mandir tidak jelas setelah masuk dalam kamarnya. Ia kembali mengambil handphone yang tadi sempat ia taruh sembarangan di kasur karena Jaebum, berniat untuk menghubungi seseorang.
"Jack, kau bersama Mark?"
.
.
.
TBC.
