Title : My Handsome Nerd
Genre : Romance, Friendship, Drama
Cast : Wang Jackson
Mark Yi En
Lim Hyunsik
Jung Ilhoon
And others
Pairing : Markson/Jark, Hoonsik, Double B, JinKook
Words : 2,193
WARNING ! BOYS LOVE, MPREG, AU, Typo. Bagi yang mau baca silahkan jangan lupa reviewnya, review kalian itu semangat saya ^^
.
My Handsome Nerd
.
"Jangan terlalu lama, aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Jungkook mengangguk cepat kemudian memasuki kamar mandi yang di beritahu Ilhoon. Tak ingin membuat namja itu marah karena menunggunya terlalu lama, Jungkook dengan segera menyelesaikan urusannya di kamar mandi.
Ia menunduk dalam, tak berani membalas tatapan tajam Ilhoon padanya. "Sejak kapan kau mengenal Jin?"
"Se-semalam."
"Naikkan kepalamu. Aku sedang bicara."
"Mianhae…" jawabnya pelan, masih dengan menundukkan kepalanya.
"Ya!" Ilhoon berdecak keras. "Jawab pertanyaanku dengan benar."
"Aku benar-benar baru mengenal Jin hyung semalam."
"Dimana?"
"Club."
"Untuk apa kau disana?"
"K-kerja."
Ilhoon diam sejenak, seolah memikirkan sesuatu. "Kerja? Kerja apa?"
"A, aku… aku,"
Melihat lawan bicaranya yang seolah terpojok, Ilhoon berdecak malas, "Sudahlah. Apa kalian melakukan sesuatu?"
"Y-ye, tapi aku tidak niat melakukannya, sungguh. Jin hyung yang memaksaku. Jadi aku-"
"Tidak apa, aku mengerti."
"Gomawo,"
"Kenapa kau bekerja di sana?"
"Masalah keluarga. Maaf aku tidak bisa menceritakannya, hyungku tidak membolehkan."
"Ah…" Ilhoon mengangguk kecil, "Sepertinya Jin menyukaimu. Jika kau tidak menyukainya, lebih baik mundur dari sekarang."
"W-wae? Kau tidak suka aku dengan Jin hyung?" Jungkook bertanya takut.
"Bukan." Ilhoon menangkup pipi Jungkook. "Aku bahkan bisa menolongmu kapanpun kau mau. Tapi Jungkook," tangannya beralih mengusap pipi Jungkook yang lembut. "jangan pernah membuat Jin marah sekecil apapun itu."
.
.
.
HoonSik
Hyunsik kambali berbaring di samping Ilhoon setelah mematikan telepon, lalu memeluk kekasih tersayangnya yang masih tertidur. Memperhatikan wajah damai Ilhoon yang tidak pernah gagal menjadi moodbosternya selama ini. Meskipun jutek, galak dan agak susah di kontrol, Ilhoon selalu bisa membuatnya tersenyum dengan umpatan-umpatan kasarnya.
Jangan tanya karena apa, karena Hyunsik sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa merasakan itu. "Morning princess, saranghae." Ucapnya di sertai ciuman dibibir merah kebanggaannya dengan sangat lembut, seakan menyaratkan kecintaannya pada namja kecil ini.
"Jadi kau sengaja mendekatkan Jackson dan Mark untuk menjauhi Mark dari Jinyoung?" tanya Ilhoon saat Hyunsik baru saja melepas ciumannya.
Meskipun sedikit terkejut, tapi pada akhirnya ia tersenyum kecil. "Hai, Chagiya."
"Tidak usah mengalihkan permbicaraan, Im."
"Aku hanya menyambut kekasihku seperti biasa, tidak boleh?"
"Im! katakan padaku! Bagaimana jika Mark tau dan marah padamu?"
"Siapa peduli jika Jackson memang benar-benar mencintai Mark?"
Ihoon mengangkat alisnya. Antara bingung dan tidak percaya dengan pertanyaan –yang lebih dekat dengan pernyataan- dari mulut Hyunsik. Ia mengusap pipi Hyunsik, kemudian balas mencium pucuk hidung kekasihnya. "Katakan padaku, aku janji akan membantumu. Kalaupun tidak bisa, aku janji tidak akan mengacaukannya."
.
.
.
Jark
Mark terbangun di sebuah kamar, mengedarkan matanya menjelajahi isi ruangan yang ia yakin tidak pernah ia lihat sebelumnya. Baru saja hendak bangkit dari tidurnya, ia meringis merasakan seluruh badannya sakit bukan main.
Itu pertama kali bagi Mark menjadi bottom selama 18 tahun hidupnya. Walaupun membenci fakta baru ini, tapi tak dapat di pungkiri itu adalah seks paling gila yang pernah ia lakukan bersama lelaki. Jackson memang tak bisa di anggap remeh soal seks.
Mark berdesah, memilih mengabaikan decitan pintu kamar mandi yang menampilkan Jackson dengan dua handuk yang melilit pinggang dan bertengger di lehernya "Kau sekolah?"
"Tidak."
"Handphone-mu rusak, aku tak sengaja merendamnya di mesin cuci tadi."
Terlalu malas menanggapi Jackson, ia lebih memilih kembali bergelut dengan selimut tebal yang hangat, "Belikan aku yang baru."
"Baiklah."
"Belikan aku model terbaru yang paling paling mahal."
"Sudah?"
"Yang limited edition."
"Begitu saja?"
Mark berdecak gemas, "Aish! Sudahlah, aku bisa membelinya sendiri!"
Jackson terkekeh kecil, masuk kembali ke dalam kamar mandi setelah sebelumnya memilih pakaian di satu-satunya lemari yang ada di sana. Ia keluar hanya dengan celana levis pendek berwarna biru dan membaringkan tubuhnya di samping Mark. Mengusap rambut hitam Mark lalu memeluknya dari belakang.
Mark melebarkan matanya panik sambil berusaha melepas pelukan Jackson dengan pelan. Jika salah sedikit pergerakkannya bisa membuat adik kecil Jackson bangun karena tak sengaja tersentuh. Bagaimanapun keadaannya masih full naked dan ia tahu junior Jackson berada di belahan bokongnya. "Aku tidak tahu namja yang sering bergonta-ganti kekasih ternyata sangat sensitive." Bisik Jackson seduktif.
Slurp
"Berisik." Mark sekuat mungkin tidak mendesah saat lidah Jackson kini tengah bermain di telinganya, menjilat-jilat area itu hingga Mark bergidik geli. "Pergi sana. Kau bisa terlambat sekolah."
"Jika kau tidak sekolah, berarti aku tidak sekolah. Tidak ada yang menjemputku."
Slurp
"Jangan berlebihan."
Jackson kembali terkekeh kecil. "Aniya, baby,"
Slurp
"Kenapa kau jadi menjijikan seperti ini?"
"Tidak masalah selama itu denganmu. Aku mau menagih permintaan ketiga dan empat sekaligus." Ujarnya, membalikkan tubuh Mark hingga kini mereka saling berhadapan. Menatap dua sinar bening itu tajam hingga sang namja dalam pelukannya sedikit terusik.
"A-pa?"
"Ketiga, kau hanya boleh memanggilku Baby atau Mandu. Ke empat…" Jackson tersenyum melihat Mark lagi-lagi melebarkan matanya, "…be my boyfriend."
"In your dream. a, aahhh. " Mark medesah saat tangan Jackson meremas pantatnya dengan tiba-tiba, membuat tubuh Mark otomatis memeluknya erat hingga junior mereka menempel.
Jackson sengaja menggerakkan pinggulnya, "Turuti atau aku akan memulainya lagi."
.
My Handsome Nerd
.
Sudah hampir dua minggu Mark rutin mengantar jemput Jackson. Pasangan yang telah resmi menjadi sepasang kekasih itu semakin tak terpisah mengingat banyak waktu yang di habiskan di sekolah karena kini mereka telah menginjak tingkat akhir, terlebih Jackson selalu datang di tempat Mark berkumpul dengan para teman-temannya.
Karena itu juga ia sudah terbiasa dengan kehadiran Jackson, dengan panggilan sayangnya, dengan tingkah cueknya yang seringkali berubah menjengkelkan setiap mereka hanya berdua. Walaupun sekarang ia akui, Jackson lebih penurut dan lembut dari sebelumnya yang membuat Mark selalu luluh dan mengiyakan permintaan Jackson. Seperti saat ini. Ia menggunakan mobil ke sekolah karena Jackson bilang ia tak terlalu suka menaiki motor.
"Morning, love." Sambut Jackson ketika baru saja memasuki mobil. Mengecup bibir Mark lalu menaruh tas di kursi belakang dan memakai selfbelt-nya.
"Kau tidak berniat merubah penampilanmu?" tanya Mark sambil menjalankan mobilnya.
"Wae? Biasanya juga kau tidak masalah."
"Memang tidak. Hanya saja cibiran orang-orang di sekolah kadang menjengkelkan."
"Apa ini? perhatian seorang kekasih?"
"Lupakan saja."
Jackson mengusap rambut Mark gemas. "Aku tidak apa selama tidak ada yang menggangguku, kecuali jika kau keberatan."
"Ya aku keberatan."
"Benarkah? Aku akan mengganti penampilanku besok."
Mark hanya mengangguk menyetujuinnya. Bukan tanpa alasan Mark menyinggung penampilan Jackson. Ia sering kali mendengar anak-anak mengejek Jackson tidak cocok bergaul dengan ia dan teman-temannya karena penampilan norak yang menjadi style Jackson sejak pertama datang ke sekolahnya.
Beruntunglah Ilhoon sering sekali bersamanya hingga orang-orang tidak berani untuk membully atau bahkan sekedar mengejek langsung di hadapannya.
Mark membunyikan klaksonnya saat melewati depan gedung apartemen Bobby, mengisyaratkan agar teman-temannya yang sudah menunggu di tepi jalan dengan motor masing-masing mengikuti dari belakang.
.
"Lusa kau ada acara?" tanya Mark saat selesai memarkirkan mobil.
"Tidak, kenapa? Kau ingin mengajakku kencan?"
"Percaya diri sekali. Kita pernah batal makan malam, dan aku mau menagihnya."
Jackson tersenyum lalu mengecup bibir Mark, "Everything for you, babe." Setelahnya ia turun dari mobil mendahului kekasih dan rombongannya.
.
Mungkin Jaebum harus berterimakasih pada Jackson, Hyunsik dan Ilhoon yang telah membantu mereka hingga sejauh ini. Bukan hal mudah mengalihkan Jinyoung yang secara tidak langsung ingin bertemu dengan Mark, namun karena Ilhoon yang memang sudah dekat dengan Jinyoung satu tahun belakangan –semenjak Jinyoung selalu hadir di pertemuan keluarga besar mereka- jadilah ia turut serta di rencana kekasihnya untuk menjauhkan mereka.
Tidak ia sangka dewi fortuna masih berpihak. Jinyoung dan Mark masih belum bertemu satu sama lain, apalagi handphone Mark yang sengaja Jackson rendam di air, dan seenak hati mengganti semua nomor, id, dan email Mark di semua aplikasi chatting.
.
.
.
Double B
Rasanya sudah lama sekali Hanbin tidak menginap atau bahkan sekedar bertemu kekasihnya sejak kejadian di apartemen Bobby dua minggu silam. Ia merasa bersalah sekaligus takut kekasihnya itu benar-benar tak ingin bertemu lagi dengannya. Terlebih Bobby sama sekali tidak menghubunginya.
Hari ini ia memutuskan untuk membolos les dan mengikuti motor Hyunsik dari belakang ke sebuah club malam dimana kekasihnya juga ada di sana. Bukan tanpa alasan ia bersembunyi seperti ini, karena Hyunsik akan senang hati memilih menguncinya di kamar mandi dari pada membiarkannya ikut ke area kelam itu.
Sadar club yang di jaga ketat dan ia tak mungkin masuk, Hanbin berlari kecil saat Hyunsik menghampiri Jackson dan Mark yang sudah tiba lebih dulu. Hanbin menggandeng Hyunsik tiba-tiba saat mereka baru saja akan memasuki gedung.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Hyunsik dan Jackson hampir bersamaan.
"Bicara di dalam, kau tidak lihat di belakangmu banyak orang?" ia melenggang pergi saat mereasa para petugas paham ia salah satu bagian dari mereka.
"Hanbin, pulang sekarang atau aku akan menghubungi Seunghyun appa."
"Sekarang jadwal lesmu kan? ia akan marah jika tahu kau membolos."
Perkataan dengan volume keras dari Hyunsik dan Jackson seolah menjadi angin lalu baginya, ia malah memperhatikan seisi ruangan dengan detail hingga matanya menangkap sang kekasih tengah berciuman panas dengan wanita seksi di kursi pojok dan tangan yang sudah menggerayangi bagian-bagian vitalnya.
Baru saja kakinya akan melangkah ke tempat itu, Hyunsik sudah mencekal tangannya untuk menariknya keluar namun di tepis dengan kasar. "Diamlah!" bentaknya kemudian kembali melangkah menuju tempat itu diiringi tiga namja yang lain.
Hanbin duduk di samping Bobby yang masih bercumbu dengan lawan jenisnya, belum menyadari keberadaan sang kekasih yang sudah menenggak entah apa itu minuman berwarna bening dengan aroma menyengat di atas meja dengan pelan. Ia bisa melihat orang-orang yang juga berada satu lingkupan dengan mereka seolah bertanya dengan keberadaannya. Tentu saja, mereka tidak pernah melihat Hanbin sebelumnya, sedang tiga orang yang datang bersamanya lebih memilih menutup mulut.
Tak ambil pusing, Hanbin mengedarkan pandangannya pada seisi club lalu tersenyum kecil kala melihat Ilhoon yang datang menuju mereka, menyapa beberapa pekerja dan pelanggan yang kebetulan mengenalnya kemudian memberi high five kepada orang-orang sekitar Hanbin.
Hanbin melengos. Iri sekali dengan salah satu sahabatnya ini. Ilhoon seolah mengenal semua orang di sekitar Hyunsik, sementara ia bahkan belum pernah Bobby bawa apalagi diperkenalkan pada teman-teman Bobby yang lain.
"Ya! Hanbin-ah, kau ada di sini?" pekikan Ilhoon sontak membuat Bobby menyudahi aksinya. Mengikuti arah pandang Ilhoon dan menemukan sang kekasih tengah tersenyum kecil pada Ilhoon.
"Sejak kapan kau disini?"
Hanbin diam. Lebih memilih menuangkan minuman yang tidak ia ketahui apa namanya kedalam gelas sebelum akhirnya direbut oleh Bobby untuk di tenggak habis.
"Aku bertanya padamu!" desisnya tajam.
"Bobby, selesaikan di kamar saja."
"Di kamar mandi juga tidak apa."
"Di sini lebih bagus."
"Sex in public? itu keren juga."
Hanbin tidak tahu siapa saja yang bicara, ia tidak mengenalnya. Tapi ia bisa lihat hampir semua yang mendengar celotehan itu tertawa, sementara sang kekasih berdecak malas. "Diam kalian!" Bobby menarik Hanbin menjauhi tempat itu menuju tempat yang lebih sepi.
.
"Dimana Jin?" tanya Ilhoon yang sudah bersandar di bahu kekasihnya.
"Tadi aku dengar dia menemui pekerja disini." Jawab Rome, menempati posisi Bobby di sebelah wanita seksi yang sempat di abaikan beberapa saat.
"Pekerja?"
"Ne, namja manis itu, siapa namanya? Dia sudah lama tidak kesini." Kali ini Amber yang menyahut.
"Jin datang bersamanya?"
"Tidak. Namja itu datang sendiri, Jin datang setelahnya. Tapi aku merasa auranya buruk sekali."
Tentu saja Ilhoon terkejut, ia bangkit menarik tangan Hyunsik yang sejak tadi di genggamnya. "Hyung, ayo cari mereka."
"Tenanglah, Chagi¸ aku yakin semuanya baik-baik saja."
"Mana bisa aku tenang!"
.
.
.
JinKook
Jungkook mendesah tak henti saat kedua junior yang terbenam di lubangnya menggenjotnya secara bergantian. Menghantam titik kenikmatannya secara bertubi-tubi tanpa peduli lubangnya sudah mengeluarkan darah segar membuktikan kasarnya pergerakkan mereka. Ia tak kuasa melawan, bahkan untuk menggerakkan tubuhnya sendiri pun seolah mati rasa.
"So tight, baby," dan desahan keras dari ketiganya menandakan selesainya permainan mereka. Satu persatu dari kedua orang itu mencabut kejantannya, membersihkan cairan putih yang sedikit bercampur merah bekas darah Jungkook dengan tissue, lalu kembali memakai celana yang berserakan.
Pandangan dua orang itu kini berpaling pada satu namja yang tengah duduk di pojok ruangan dengan posisi menghadap mereka tengah asik memainkan game di handphone-nya seolah tak terusik sama sekali. "Kau juga pelanggannya?" tanya salah satu namja itu.
"Dia kekasihku." Ucapan singkat Jin membuat dua orang tadi saling berpandangan. Oh tentu saja mereka mengenal Jin dengan baik, tidak ada yang boleh membuat namja ini marah dengan menyentuh miliknya dan mereka tahu itu. Tapi mereka tidak tahu, lagipula Jungkook sendiri yang datang pada mereka.
"Kalian akan keluar atau aku yang menendang kalian keluar?" kedua namja itu keluar dengan cepat, meninggalkan Jin dan Jungkook yang masih menangis tengkurap di atas ranjang. Namja tampan itu menaruh handphone-nya di kusi kemudian melangkah mendekati Jungkook sambil membuka belt celananya setelah sebelumnya mengunci pintu.
Hanya sepersekian detik hingga suara cambukan diiringi jeritan Jungkook menggema di ruangan. Belum sempat membalik badannya, Jin sudah menjambak rambutnya kasar dengan sedikit mengumpat. "Dengar Jeon, aku paling tidak suka di bantah!" geramnya, kembali mendaratkan beberapa cambukan di punggung mulus itu tanpa peduli permohonan ampun Jungkook hingga suara dobrakan pintu menyudahi aksinya.
.
.
.
TBC
Chapter depan mungkin pertemuan Jinyoung sama Mark dan climax-nya Double B. Sebenernya niat aku FF ini gak sampe 10 chapter, tapi gatau deh bisa apa nggak. :D
Makasih buat semua yang udah review, fav sama follow. Walau banyak juga yang follow dan fav tanpa review wkakak, tapi makasih ^^
Maaf juga lama lanjut. Maklum korban liburan (?)
