Previous Chap
"Selain terlambat kau juga melompati gerbang masuk yang sudah tutup. Maka dari itu hari ini kau terkena dua pelanggaran."
Sakura menjerit dalam hati. Sambil mengikuti Kakashi yang masih menarik telinganya, Sakura melemparkan tatapan sinis ke guru—yang Sakura akui dengan berat hati—berwajah tampan itu. Ah, coba lihat. Hari pertama saja sudah seperti ini. Benar-benar guru yang menyebalkan. Barangkali dia akan Sakura masukan ke list guru yang tidak akan dihormatinya.
"Huh." Sakura melengos sambil memalingkan muka.
"Kau bilang apa?"
"Eh, a-aku tidak bilang apa-apa kok!"
Baiklah, satu kesimpulan, ini memang kesan pertama yang buruk.
.
.
Dikarenakan Sakura yang tertangkap basah saat akan memanjat pagar gerbang, Kakashi Hatake yang memergokinya menggeret dia ke ruang guru yang berada di lantai dua. Guru-murid itu masuk bersama aduhan ala Sakura yang keluar berurutan karena telinganya ditarik kencang. Sontak berpasang-pasang mata langsung memandanginya. Terutama ke seorang siswi merah muda dengan seragam Korouha High School yang kurang mereka kenali.
"Sakit, Sensei! Lepaskan!" Desis Sakura lewat bisikan. Dia pukul-pukuli tangan besar Kakashi yang masih menarik telinganya tanpa sungkan. Kan malu jika menjadi pusat perhatian dengan cara yang seperti ini. "Sakit, tau!"
Hatake Kakashi baru mengiyakan permintaan Sakura saat dirinya telah sampai di depan bilik meja tak berpenghuni yang rapi. Tampaknya itu meja Kakashi. Pria bersurai abu jabrik itu memaksa Sakura duduk di bangkunya, lalu dia mencari sebuah map di lemari. Di sebelah ada guru wanita cantik yang memperhatikan Sakura.
"Itu siapa, Kakashi?"
"Entah." Kakashi menjawab singkat, membuat Sakura yang sedang mengusap telinga menjadi menatap sinis sang guru. "Murid kelas 10, mungkin."
"Dia kenapa? Buat onar atau merokok di belakang sekolah?"
"Terlambat, lalu menaiki gerbang untuk masuk."
"Oh, ya ampun..." Guru bersurai ikal panjang yang bisa disapa Kurenai tertawa kecil. Iris ruby indahnya menatap Sakura yang menunduk, masih tidak berani mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya. "Aku salut. Itu tandanya kamu punya semangat besar untuk belajar, ya."
Sakura terharu mendengar kalimat dari guru wanita cantik itu, lalu ia mengangguk cepat. "I-Iya, Sensei—"
"Sudahlah, jangan ajak dia bicara." Kakashi berdecak singkat dan Sakura sewot di dalam hati. Kenapa sih guru itu sensitif banget sama dia?
.
.
.
TEASTU ROMAN
"Teastu Roman" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Kakashi Hatake x Sakura Haruno]
Drama, Romance, Friendship
AU, OOC, Typos, etc.
.
.
CHAPTER DUA
(II) Ketua Kesiswaan
.
.
Sret.
Guru bertubuh tinggi itu meletakkan selembar kertas dan pena di permukaan meja yang Sakura tempati. Kakashi yang berdiri di sampingnya berujar pelan. "Isi nama dan kelasmu."
"Aku tidak tau di mana kelasku, maka dari itu aku berusaha masuk ke sini." Jawabnya, kesal.
Kakashi mendesah kecil. "Kalau begitu, tulis namamu dulu di sana."
Ogah-ogahan Sakura menuruti kemauan Kakashi. Sekedar menulis nama 'Haruno Sakura', tak butuh waktu lama ia langsung serahkan kertas tersebut dan memandang Kakashi dengan tatapan malas. "Sudah, kan? Aku mau masuk ke kelas baruku, jadi aku harus pergi—" Sakura yang berniat berdiri tau-tau langsung ditahan pria itu dengan cara menekan bahu—secara tak langsung menyuruhnya untuk kembali duduk.
"Siapa bilang kau diperbolehkan keluar? Kau sedang dihukum, Sakura."
Sakura terbelalak luar biasa. Ibarat tersambar petir saat guru itu memanggil nama kecilnya secara langsung dan sengaja. Sakura, katanya—tanpa sufiks pula. Entah kenapa hal sepele itu membuat Sakura luar biasa kesal. Lagi pula tiba-tiba Kakashi bertindak sok kenal padanya? Jelas-jelas mereka tidak berteman atau apa; kenal baik tidak, bertemu muka pun baru hari ini.
"Kenapa kau memanggilku 'Sakura'?" Gadis lima belas tahun itu mengadahkan wajah—karena Kakashi berdiri di sampingnya.
"Karena itu namamu." Ucapnya datar, senyuman palsu ia kembangkan. "Kenapa? Tidak suka?"
"Kalau sebutan itu keluar dari mulutmu, tentu aku tidak suka."
"Panggil aku 'Sensei'. Aku guru di sini."
"Kau duluan yang seenaknya memanggil namaku!"
Karena Sakura terbelit emosi yang membuat suaranya naik satu oktaf, baru ia sadari bahwa ada beberapa guru yang dari tadi mengamati mereka dengan raut bertanya-tanya. Dalam diam Sakura menelan ludah. Gawat, kayaknya dia baru buat masalah di kandang lawan. Bisa-bisa dia dicap murid kurang ajar sama mereka semua. Karir sebagai pelajar SMA dapat terancam kalau begini caranya.
Sakura agak tenangan, Kakashi berucap pelan. "Sepertinya kau memang tidak bisa diajak berteman..." Dia tarik gadis ber-sweater cokelat itu ke luar ruang guru dan melepaskannya di luar. Kakashi tutup dulu pintu di belakangnya dan memandangi Sakura yang berada di hadapannya dengan tatapan serius. "Oke, dengar. Apa kau sadar dirimu nyaris melanggar peraturan lain? Di sini tidak ada yang boleh berucap kasar atau melawan guru; guru wajib dihormati oleh semua warga sekolah. Kau beruntung ini masih hari pertama, jadi aku masih memaafkanmu. Tapi sekali lagi kau buat pelanggaran, kau akan kukenai hukuman."
Di depannya Sakura cuma diam seribu bahasa. Tapi jelas Kakashi hafal gerak-gerik tersebut. Ditinjau dari tipe remaja sepertinya, dapat diyakini Sakura merutuki dirinya habis-habisan di dalam hati. Omongan yang sempat dia omongi pun akan masuk kuping kanan keluar kuping kiri, tidak direnungi dalam-dalam. Lihat saja dari gayanya. Alis Sakura tertekuk dan wajah berpaling. Kakashi geleng-geleng kepala.
"Kau dengar aku, Anak Manja?"
Sakura menatapnya sengit. "Dengar."
"Sana, kembali ke kelasmu."
Tanpa basa-basi lagi Sakura berbalik. Gadis itu memegangi tas yang tersampir di bahunya dan berjalan lurus. Namun ketika dia akan berhadapan dengan dua tangga—satu ke atas dan satu ke bawah—yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi, dia terdiam. Lantas ia menoleh ke Kakashi yang masih memperhatikannya dari belakang.
"Sensei..." Panggilnya, agak tidak niat.
"Hm?"
"Apa kau tau di mana pengumuman daftar kelas buat murid kelas 10?"
Kakashi diam sejenak. Lalu lama-lama pria itu mendengus kecil dan masuk ke ruang guru tanpa menjawab jelas. "Cari sendiri." Begitu katanya.
Sreek.
Pintu geser ruang guru tertutup rapat, dan Sakura? Dia cuma bisa geram sendiri sambil menyentakkan ujung sol sepatunya ke lantai, gemas. Pasti guru itu sengaja tidak memberitahunya karena sadar telah ia cueki selama pria itu berceramah. "Dasar kejam!"
.
.
~zo : teastu roman~
.
.
Setelah keliling gedung dan menemukan mading sekolah di lantai satu, tepat di jam 09.00 kurang Sakura bisa menemukan kelasnya. Ternyata dia adalah bagian dari kelas 10-1, sebuah kelas yang terletak di ujung koridor lantai dua, yang nyatanya tidak begitu jauh dari ruang guru. "Sampai juga ke sini..."
Sakura lega. Niatnya langsung membuka pintu dan masuk ke sana. Tapi saat jari-jarinya baru ingin menggeser pintu, dia menelan ludah. Sakura sadar dirinya sudah kelewat terlambat. Pasti guru kelasnya akan marah dan otomatis dia pun menjadi tontonan murid-murid lain jika dihukum atau dimarahi. Sakura menunduk pundung. Sakura meramal dirinya akan terlihat sangat memalukan di depan sana. Ia menelan ludah. Tapi ya sudahlah, apa salahnya mencoba masuk dulu? Semoga guru yang sedang mengajar ini adalah guru baik bak malaikat.
Sreek.
Sakura membuka pintu setelah keyakinannya berkobar. "Su-Sumimasen..."
Seperti bayangannya, semua murid kelas 10-1—yang saat ini sedang mengadakan acara: memperkenalkan diri mereka masing-masing—memandangnya. Sedangkan di depan kelas ada guru fisika yang memberikan tatapan mematikan ke Sakura. Dia, Asuma Sarutobi, guru yang terkenal killer bagi anak-anak murid kelas 11 dan 12 lainnya. Sakura pun kian menciut.
"A-Aku terlambat..." Sakura mencoba menjelaskan. Tak lupa dengan gerak gugup mengelus tengkuknya sendiri. "Maaf ya, Sensei..."
Guru berjenggot seram itu menunjuk luar. Sakura mematung.
"Berdiri di koridor sampai pelajaranku selesai." Ucapnya menahan kesal. Tak terbayang apabila ini bukan hari pertama. Kemungkinan besar leher Sakura patah olehnya.
.
.
~zo : teastu roman~
.
.
"Ukh, ini hari sial..."
Sakura merutuk sesudah bel istirahat berdering dan Asuma keluar ruangan tanpa memedulikan kakinya yang pegal. Gadis bersurai pink sebahu itu pun duduk dengan terpaksa di bangku kosong paling depan, tengah pula—karena barisan belakang penuh semua. Sakura membungkukkan badan, menaruh keningnya di atas permukaan meja dan memejamkan mata.
Murid mana yang lebih sial darinya? Sudah kesiangan, halte bis kelewatan, terlambat, ketahuan memanjat pagar, dimarahi seorang guru sialan, ditambah hukuman berdiri di koridor sama guru lain yang bertampang seram. Kira-kira apa lagi setelahnya? Apa Korouha High School memang tidak rela menerimanya mengejar ilmu di sini? Sambil memikirkan segala tragedi hari ini Sakura mengantukkan dahinya ke meja berkali-kali.
Karena gerutuannya terus keluar, lama-kelamaan kelakuan Sakura menyita perhatian seorang siswi berkuncir ponytail yang ingin berjalan keluar kelas. Dia Yamanaka Ino. Merasa tertarik, dia colek pundak Sakura dan tersenyum saat gadis itu menatapnya. "Hai."
Sakura sontak mengangkat kepala dan menegakkan badan sampai helaian merah mudanya bergoyang cepat. Dia mengerjap pelan. "E-Eh, iya. Hai..." Jawabnya, gelagapan.
"Lagi merenungi nasib nih?" Ino tertawa kecil. "Kayaknya kamu stres banget."
Sakura menggaruk pipinya, malu. "Kelihatan, ya?"
"Iya. Dari awal masuk kelas aku sudah tebak kau baru ditimpa masalah." Gadis secantik barbie itu tersenyum. "Memangnya ada apa sih?"
"Tidak, tidak ada apa-apa." Sakura menghela nafasnya. "Aku tadi... cuma kena masalah sama guru karena terlambat."
"Asuma-sensei?"
"Ada lagi guru lain..." Sakura mencibir, memasang wajah bete saat dirinya teringat oleh sosok pria berambut perak yang pagi tadi mengganggu kehidupannya.
"Kalau begitu sabar saja, oke. Sekolah ini terkenal sama peraturannya yang ketat sih." Ino menepuk pundaknya dan Sakura mengangguk. Dorongan Ino tampak membuatnya jauh lebih semangat. "Ah, ya. Namaku Yamanaka Ino. Panggil saja Ino." Gadis beriris biru itu segera menyodorkan telapak tangannya ke Sakura. Sakura memandangnya sebentar, lalu ia pun sumringah.
"Aku Sakura. Haruno Sakura. Salam kenal." Mereka pun berjabat tangan. Sakura sama sekali tidak menyangka bahwa masalahnya di hari pertama ini bisa membuatnya mendapat seorang teman di SMA. Entahlah saat ini dia harus merutuk atau memanjatkan syukur.
"Kalau begitu apa kau mau ke kantin? Katanya makanan kantin Korouha lumayan enak loh."
"Boleh." Sakura mengangguk senang. Ia keluar tak lupa setelah mengambil dompet merahnya dari dalam tas. Kedua gadis remaja itu jalan berdua menelusuri koridor dan tangga, tak lupa dengan obrolan ringan yang merupakan tahap awal dari perkenalan diri masing-masing. Dalam hati Sakura benar-benar menikmati obrolan panjangnya bersama Ino. Ino pun sama. Mereka terlihat saling nyaman dengan satu sama lain. Sambil makan keduanya saling memberi tau ini-itu; membicarakan siswa ganteng yang sempat mereka lihat di lingkungan sekolah, atau cekikikan bersama dengan lancar.
Seru memang. Namun ketika iris hijau Sakura menangkap sesosok guru yang baru memasuki daerah kantin, gadis musim semi tersebut langsung menarik lengan seragam Ino, berharap Ino memfokuskan pandangan ke arah yang ia tuju. "Coba lihat sana deh. Cari guru laki-laki yang rambutnya kelabu..."
"Guru yang masih muda itu?"
"Iya. Dia guru yang menghukumku pagi-pagi..." Sakura berujar kesal. Pandangan matanya masih belum lepas dari punggung Kakashi.
"Eh, tapi kan itu Kakashi-sensei?"
Sakura menatap kedua manik mata Ino. "Kau mengenalnya?"
"Tidak juga, tapi kalau tidak salah dia itu guru matematika kelas 11 dan 12—walau tidak semua sih."
"Jadi dia tidak akan mengajar kelas 10!?" Sakura menganga.
"Mm... sayang sekali, ya? Padahal dia guru ganteng." Keluh Ino. Sakura abaikan kalimat terakhir itu dan bersorak lega dalam hati. Justru bagus pelajaran kelas 10 semengerikan matematika tidak diajarkan oleh guru seperti Kakashi. "Oh, iya. Dia juga ketua kesiswaan sekolah."
"Eh?" Sakura mengerjap. "Maksudnya?"
"Jadi kalau ada murid bermasalah maka dia yang akan menanggungnya sampai selesai. Seperti murid yang punya masalah keluarga, masalah teman, terkena pelanggaran berat, kena kasus pembullian dan lain-lain, ya urusannya bakal sama dia."
Sakura meneguk ludahnya sendiri. "Jadi... dia bukan sekedar guru matematika, ya? Kedudukannya penting di sini?"
Ino mengangguk. "Mm, mungkin jabatannya semacam wakil kepala sekolah di bidang kesiswaan, kali ya. Setauku sih banyak yang takut sama dia. Contohnya kakak kelas. Saat melewati gerbang sekolah aku sempat melihat murid kelas 11 yang lagi lari-larian, tapi pas lihat Kakashi-sensei yang bertugas piket di depan gedung belajar, mereka langsung sok-sokan jalan rapi."
Sakura menelan ludah. Demi Tuhan dia kira Kakashi cuma guru piket yang tidak mengajar di sini. Jadilah ia perhatikan ulang Kakashi yang kini duduk di meja panjang kantin khusus guru. Jadi tandanya Sakura telah buat kejadian buruk dengan guru yang merupakan orang penting di sekolah? Gila, yang benar saja. Kalau saja waktu bisa diulang mungkin dia akan mencabut semua kalimat-kalimat tidak sopan yang sebelumnya ia ucapkan.
"Ino... ngomong-ngomong kau tau semua itu dari siapa?" Sambil menelan yogurt jajanannya Sakura bertanya susah payah, berharap Ino membeberkan informasi yang salah atau tidak valid lagi.
"Dari kakakku yang sekarang kuliah." Ino menjawabnya tenang. "Tahun lalu kakakku SMA di sini, jadi dia sering cerita banyak sambil menunjukkan foto-foto gurunya lewat buku tahunan. Makanya aku hafal."
"O-Oh, oke..."
Sakura mengusap permukaan wajah dengan telapak tangan. Tidak tau kenapa dia merasa ini adalah awal mula segala takdir aneh yang akan dia alami selama masa SMA.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Zoccshan's Note
Well, ini nyaris 80%-nya kisah nyataku (untuk chapter ini). Dan hahaha, seriusan, di sekolahku ada guru kayak Kakashi yang kudeskripin di TSR. Ketua kesiswaan, super disiplin, kalo manggil orang kurang ajar, dan ditakutin sama kakak kelas. Untung dia guru bahasa inggris kelas 11 & 12 (jadi sempet satu tahun aku ngga kena siksaan dia).
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to
Tebak capah, Soeun ah, Ssl gak logjn, karin, Kumada Chiyu, uchiha yardi, Hikaru Sora 14, Natsuyakiko32, Guesta, Fei Mei, Chi-chan Uchiharuno, YutaUke, Hime Hime Chan, Stacie Kaniko, Miss Hyuuga Hatake, Uzumakizan, Sophonie Etoiles, ZeZorena, temaram senja, nana-chan, Kiki RyuEunTeuk, jenniferluciana.
.
.
Pojok Balas Review
Kayak kisah nostalgia. Iya. Itu tujuan fict ini (untukku). Jadi Sakura kayak anak bandel-bandel gitu, ya? Ngga bisa dibilang bandel juga sih. Pokoknya dia sensi sama Kakashi. Kakashi bakal jadian sama Sakura, ngga? :) Update 1st Oneshoot. Tunggu giliran, oke? Memangnya pengendara bis itu disebut masinis? Setelah kucek ternyata salah deh haha. Udah kuedit jadi supir. Thankyou :) Peraturan sekolahnya sama banget. Tos. Tapi aku belom pernah panjat pagar. Sama wkwk. Kebetulan aku baru masuk SMA. Hati-hati ketemu guru nyebelin. Padahal biasanya Kakashi yang sering telat dan banyak alasan. Setuju :)) Sayang fict KakaSaku sepi padahal menarik. Iya, dan hintsnya lagi banyak di canon. Coba Naruto atau Sasuke ikutan telat di hari berikutnya. Nanti malah dikira fict tim tujuh atau SasuSaku/NaruSaku.
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
