Title : My Handsome Nerd

Genre : Romance, Friendship, Drama

Cast : Wang Jackson

Mark Yi En

Lim Hyunsik

Jung Ilhoon

And others

Pairing : Markson/Jark, Hoonsik, Double B, JinKook

Words : 2,2K

WARNING ! BOYS LOVE, MPREG, AU. Bagi yang mau baca silahkan jangan lupa , review kalian itu semangat saya ^^

.

My Handsome Nerd

.

"Kau benar, anak kecil itu kembali lagi kesini." Jin yang baru saja memubuka pintu Club seketika terdiam mendengar suara itu.

"Sudah ku duga, dia pasti menagih uang terakhirnya. Dimana dia sekarang?"

"Aku menyuruhnya menemui teman-temanmu."

"Baguslah." Ujar namja satunya kemudian melangkah memasuki club lebih dalam sampai akhirnya di cegah oleh Jin.

"Dimana dia?" tanya Jin penuh intimidasi.

"Dia?"

"Jungkook."

"Ah, kenapa? kau juga menginginkannya?"

"Jawab atau kubunuh kau!" desisnya tajam. Mulai menarik kerah lawan bicaranya hingga sang empunya menggagap.

"K, kamar 17."

.

"Sudah aku bilang jangan pernah membuat Jin marah." Gerutu Ilhoon sambil mengolesi luka cambukan di punggung Jungkook dengan salep yang ia dapat di kamar Rome. Mengingat Rome adalah penganut BDSM akut, ia segera membawa Jungkook ke kamar salah satu sahabatnya tersebut. Rome memilki banyak salep di lemarinya

"Shhh. Mi, mian hiks." Jungkook menunduk dalam. Ia tidak tahu akan seperti ini jadinya. Jungkook awalnya hanya berniat menemui Bos-nya, lalu pulang. Tapi sang ketua menyuruhnya agar masuk ke kamar yang terdapat dua namja yang tidak ia kenal kemudian memaksanya melakukan hal itu. Jungkook bertambah Shock saat Jin datang kemudian memerintahkan kedua namja itu untuk terus melanjutkan aksinya sedangkan ia menonton dengan santai.

Ilhoon sedikit berdecak saat handphone-nya berbunyi. Ia beranjak keluar kamar setelah membaca pesan dari kekasihnya tanpa berpamitan lebih dulu pada Jungkook. Menemui kekasih dan para sahabatnya yang sudah menunggu di depan kamar.

"Ada apa?" tanyanya, ketus.

Hyunsik tersenyum kemudian merangkul kekasihnya. Memberi isyarat pada Jin agar memasuki kamar Rome. Tentu saja Ilhoon tak terima, ia menjambak sampai menggigit bahu dan tangan kekasihnya agar rangkulannya terlepas. Namun sayangnya Jin sudah menghilang ke dalam kamar lebih dulu.

"Ya! ya! ya! bagaimana jika Jin menyakiti Jungkook lagi?"

"Bunuh saja kekasihmu jika itu terjadi." sahut Jackson cuek lalu membawa Mark untuk menjauh dari tempat itu.

.

Jin menggantikan posisi Ilhoon untuk mengolesi luka cambukan namja kecil itu dengan salep tanpa sepatah katapun yang terlontar. Hatinya mencelos mendengar isakkan yang masih keluar dari bibir kesayangannya. Sesekali berganti ringisan saat Jin mengolesi di tempat yang merah sempurna.

Selesai mengolesi luka, Jin mencium kepala belakang Jungkook dengan lembut dan penuh perasaan. Jungkook yang tersadar menangis lebih kencang, mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya, mengumpat dengan suara merdunya. Meski agak terkejut dengan Jungkook yang sudah berani mengumpatnya, namun Jin justru tersenyum kecil.

"Sttt. Uljima, chagi… mianhae." Jin membawa Jungkook dalam pelukannya dengan perlahan. Mencoba berhati-hati agar tidak menyakitinya kembali.

"Katakan padaku jika kau butuh sesuatu, jangan pernah kembali kesini tanpaku. Maafkan aku."

.

Bobby membawa Hanbin menuju kamarnya. Membiarkan namja yang lebih kecil darinya untuk berbaring di tempat tidur dengan bedcover coklat polos. Maklum saja, Rome adalah pemilik gedung hingga ia dan beberapa temannya memiliki kamar pribadi di tempat ini.

Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya ikut berbaring di samping kekasihnya. "Binnie,"

Hanbin bergumam.

"Kenapa kau ke sini?"

"Tidak tahu. Aku juga menyesal masuk ke sini." Ucapnya dengan pandangan fokus pada langit-langit kamar. "Seharusnya tidak perlu kesini. Membuatku semakin sakit saja."

"Mianhae."

"Enak sekali jadi Ilhoon, kemana-mana selalu menemani Hyunsik hyung, selau bersama-sama. Tapi kenapa kita sulit sekali?"

"Mianhae."

"Hyunsik hyung juga seti-mphh,"

Bobby menindih tubuh Hanbin, mencium setiap inci wajah kekasihnya dengan lembut. Mulai dari kening, mata, pipi, hidung, dagu, hingga kembali naik dan berakhir di bibir tipisnya. Menyesap benda kenyal kesayangannya penuh perasaan seakan melampiaskan kerinduan pada kekasih yang sudah beberapa hari tidak ia temui.

Bobby melepas tautan mereka, menyisakan benang saliva yang memebentang di kedua bibir mereka. Ia menatap intens kekasih di bawahnya, menampilkan wajah memerah Hanbin yang membuatnya menarik sudut bibirnya.

"Ayo kita lakukan." Bobby melepas seluruh pakaian Hanbin hingga sang namjachingu tak memakai sehelai benangpun. Kembali menatap kekasihnya yang kini semakin merah sempurna. Hanbin tak tinggal diam, balik melepas semua pakaian yang melekat di tubuh Bobby. Jadilah mereka sama-sama naked.

.

Sudah dua jam sepasang namja tampan itu bergelung dengan kenikmatan mereka, jangan tanya sudah berapa ronde dan berapa kali mereka sudah keluar, karena mereka sendiri tidak mengingatnya. Yang jelas mereka terlihat sangat menikmatinya.

"Agh! Agh! Agh! Agh! M-more agh!" Mark mendesah tanpa henti saat Jackson menumbuk titik prostatnya dengan keras dan cepat. Belum lagi satu tangan Jackson yang mengocok kejantanannya sedang tangan yang lain mengusap kepala Mark.

Mark tak tinggal diam, tangan kanannya yang semula bertengger di puting Jackson kini beralih mengabil tangan Jackson di kepalanya kemudian mengemut ketiga jari Jackson dengan sensual. Sekedar untuk melampiaskan kenikmatannya sekaligus menyamarkan dasahan erotisnya.

"Mmphh ckhhh ughh, J-jack! Jack! Ahhh." Dan desahan mereka terdengar hampir bersamaan. Jackson kembali menumpahkan cairannya di dalam Mark, sedangkan cairan kekasihnya membasahi tangan Jackson yang langsung kembali di tarik Mark untuk ia jilati. Membersihkan tangan sang kekasih dari cairannya sendiri.

Jackson tersenyum kecil. Beginilah mereka setiap melakukan kegiatan di atas kasur. Mark terlihat begitu menggairahkan dan tekesan 'nakal' yang membuat Jackson selalu ingin menggagahinya.

"Menungginglah, baby." dan menungginglah yang dilakukan Mark. Membiarkan lubangnya yang masih mengeluarkan cairan putih itu di permainkan Jackson. "Sedikit tambahan toys tidak masalah, kan?"

Namun belum sempat ia membalas, Jackson sudah memasukkan vibrator ukuran sedang ke lubangnya. Menampilkan pemandangan yang membuatnya menyeringai senang saat lubang Mark dengan rakus menelan toys itu hingga menyisakan tali yang bersambungan dengan remote control.

Jackson berpindah tempat menuju kepala Mark. Memposisikan kesejatiannya yang belum mengeras sepenuhnya di depan mulut Mark yanag sudah menjulukan lidah menyambutnya. Menekan tempat keliarnya cairan dengan lidahnya, menyedot kepala penis itu kemudian di lumat seperti bayi yang memainkan dotnya.

"NGHH!" Mark mendesah keras saat Jackson secara tiba-tiba memasang getaran di vibrator dengan mode maksimal yang hampir melepas kulumannya pada penis Jackson. Namun Jackson dengan sigap menahan kepalanya hingga Mark merasakan pening bukan main.

"Nikmati saja, shhh ahhh, lebih cepat." Jackson menggerakkan pinggulnya berlawanan dengan kepala Mark yang sudah mulai rileks. Ia mendesis keenakan saat lidah Mark kembali memanjakan kejantanannya disertai desahan-desahan yang tertahan.

"NGH, JACK!" Jackson merasa sensasi yang hebat saat kerongkongan Mark bergetar saat berbicara dan mendesah. Ia mencabut miliknya dari mulut sang kekasih saat sadar kekasihnya sudah kembali mengeluarkan sperma ke kasurnya.

"Haaah…" Memperhatikan wajah kekasihya yang mengatur nafas dengan wajah merah sempurna membuat Jackson kembali membanting namja manis itu pada ranjang kemudian menindihnya untuk kesekikan kali.

"J, Jack?"

Jackson pura-pura tuli.

"Baby?"

Jacson menggumam.

"Aku lelah."

"Sekali lagi, aku belum keluar."

Dan selanjutnya hanya desahan-desahan yang mendominasi ruangan itu.

My Handsome Nerd

Mark tidak ingat bagaimana ia sudah ada di koridor sekolah dengan tangan yang menggenggam erat tangan Jackson di belakang sahabatnya yang lain. Kali ini bukan Jackson yang memaksanya, tapi karena Mark yang reflex menarik Jackson saat hampir semua mata tertuju pada kekasihnya itu. Mark tidak menyangkal jika ia cemburu, tapi ia juga tidak mengiyakan. Terlalu cepat rasanya.

Sesuai perjanjian, Jackson mengubah mode culunnya menjadi tampan bukan main. Tak heran jika banyak yeoja maupun namja yang melihatnya takjub. Rambut klimis belah duanya di ganti dengan potongan rambut mirip seperti Mark dengan poni yang menutupi sebagian keningnya. Bedanya, poni Jackson berada di kanan, sedangkan Mark di kiri.

"Aku jadi tidak bisa mendapat ciumanku." Bisik Jackson menghentikan langkahnya. Mark sudah memutar bola matanya malas.

"Ingat seberapa banyak kau melakukannya semalam, brengsek. Kau juga menciumku saat di mobil, bangun tidur, dan di kamar mandi."

"Di kelas sepertinya bagus."

"Berhentilah, Jack."

"Aku akan menciummu ketika sampai kelas nanti."

Mark meniup poninya hingga pipinya menggembung lucu. "Berentilah, baby."

"Baiklah, honey."

Dan di sambut tawa renyah dari para sahabatnya. "Mark, kau benar-benar bottom sejati sekarang."

"Kau menggemaskan, hyung." Ilhoon menyambung perkataan Jin diiringi anggukkan Jungkook. Mark yang tak tahan segera berjalan cepat dengan menarik Jackson menuju kelas mereka.

.

"Chagi, kau marah padaku?" Jackson ikut menjatuhkan wajahnya pada meja, tersenyum menatap kekasihnya yang kini tengah melakukan hal yang sama sambil memejamkan matanya. Demi semua cintanya pada Mark, kekasihnya terlihat sangat menggemaskan jikaseperti itu.

"Nanti malam aku menjemputmu. Kita akan dinner romantis." Ujar Jackson lagi, mengambil satu tangan Mark untuk dikecup. Mark tersenyum senang. Sudahkah ia bilang bahwa Jackson bisa sangat manis jika sedang 'benar'.

"Jangan terlambat." Gumam Mark.

"Ne. Bisakah aku mendapat ciumanku sekarang?"

"Ya! ku hajar kau, Wang!"

.

Jackson menepati janjinya untuk menjemput Mark tepat waktu. Satu jam setelah pulang sekolah, Jackson sudah berada di rumah Mark untuk membawa kekasihnya ke restorant yang Mark inginkan.

Mark meminta tempat duduk yang tidak terlalu strategis. Maklumlah, hubungan mereka bukan hubungan seperti yang lainnya yang hanya ada pria dan wanita. Bisa menjadi cemoohan jika tiba-tiba Jackson hilang kendali dan menciumnya sembarangan.

Selesai memesan, Mark ijin pamit ke kamar kecil. Sesekali matanya mengamati seisi ruangan yang sudah cukup lama tidak ia lihat. Sebenarnya tempat inilah yang menyimpan banyak kenangan antara Mark dan Jinyoung. Itu pula sebabnya kenapa Mark memilih tempat ini.

Tak mau membuat Jackson menunggu lama, ia kembali ke mejanya. Memperhatikan dari jauh kekasihnya tengah mengobrol asik dengan dua orang yang tidak dapat dilihatnya karena posisi mereka yang membelakangi Mark. Seketika perasaannya tak enak saat Jackson mendekatkan dirinya kepada salah satu namja, dan hal yang tak ingin Mark lihat pun terjadi.

Jackson mencium namja itu.

Mark sebisa mungkin menahan emosinya. Ingat bahwa sang kekasih memang sering melakukan itu dengan sahabat-sahabatnya yang lain. harusnya ia tak boleh khawatir, kan? lagipula hubungannya dan Jackson bukan berawal dari cinta.

Ia menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan langkah menuju Jackson dan dua orang itu. "Baby, makanan belum datang?"

Dan 'sambutan' Mark membuat dua orang yang membelakanginya menoleh. Butuh beberapa detik untuk Mark mencerna wajah-wajah yang sangat tak asing baginya hingga kembali melangkah mendekati sang kekasih.

"Jinyoung." ucap Mark. Parau. Sementara Jackson terang-terangan menunjukkan wajah tak sukanya saat melihat ekspresi Jinyoung dan Mark, Jaebum lebih memilih membuang muka.

Jinyoung tersenyum kecil walau terlihat sangat di paksakan. "J-jadi kalian berpacaran." Tanyanya gugup.

"Y-ya," Mark merutuki bibirnya sendiri saat nada gugup seoperti Jinyoung yang keluar. "Ya. Mungkin."

"Mungkin?" Jackson menatap sinis, menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban Mark.

"Jackson kekasihku."

"Bi, di antara kita harus ada yang pergi. Aku tak suka suasana ini." Jaebum tahu itu perintah Jackson yang harus di penuhi. Lagipula ia jadi tak enak hati mengganggu kencan sahabatnya. Jaebum permisi kemudian menarik Jinyoung menjauhi mereka.

Jackson mengalihkan padangannya pada Mark yang kini tengah menunduk dalam entah karena apa. Karena Jackson yang tidak suka, atau karena Jinyoung yang kembali pergi?

"Aku tidak nafsu makan. Kita pulang saja."

"Mianhae… aku merusaknya lagi."

Jackson tak menanggapi. Hanya mengeluarkan beberapa lembar uang untuk makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya kemudian beranjak pergi diiringi Mark di belakangnya.

.

Jackson dan Mark terjebak dalam keheningan yang mereka ciptakan sendiri. Jackson tak mengatakan sepatah katapun sedangkan Mark sudah lelah mengucapkan kata maaf yang tak kunjung mendapat respon. Terus seperti itu hingga Jackson menepikan mobilnya di depan rumah mewah Mark.

"Maaf."

"Aku bosan mendengarnya, turunlah."

"Kau benar-benar marah padaku?"

"Menurutmu?"

Mark memberanikan diri menarik tengkuk Jackson untuk mengecup bibirnya, melirik sekilas untuk mengetahui reaksi Jackson, yang sayangnya tak sesuai harapan. Jackson kembali menjadi Jackson yang dulu. Dingin.

"Maaf, Selamat malam."

Mark tidak tahu perasaan apa sebenarnya ini. Sebagian hatinya yakin masih mencintai Jinyoung, namun sebagian lagi terasa berat melepas Jackson. Walaupun ia menerima Jackson karena terpaksa dan desakkan dari Hyunsik yang mengancam akan menyebar video onaninya pada satu sekolah, Mark tidak pernah menganggap hubungan mereka main-main. Jackson selalu ada di kepalanya. Dan sedikit demi sedikit memudarkan Jinyoung.

.

Mark tersenyum kecil menyambut Jackson yang memasuki mobilnya. Namun ia harus mendapat kekecewaan ketika Jackson tak lagi menciumnya seperti biasa. Entah kenapa hatinya mencelos seketika.

"Kau tidak bisa menghentikan marahmu?"

"Jinyoung sedang ada di dalam sekarang. Kau tidak berniat mampir dan menemuinya?"

Kalau saja bukan tentang Jinyoung, Mark pasti sudah menjambak dan mengumpat serapah pada Jackson yang seolah mengejeknya dengan masalah yang membuat mereka di lingkupi keadaan awkward. Sungguh demi apapun, Mark tidak nyaman berada dalam situasi ini. Terlebih dengan Jackson.

Ia lebih memilih memilih menyalakan mobilnya, tidak berniat menyahut sindiran Jackson yang membuatnya badmood dadakan. Namun, belum sempat melajukan mobil, Mark di sambut Jinyoung dan Hyunsik yang sepertinya akan pergi ke suatu tempat. Dan Mata Mark masih sangat jeli untuk melihat beberapa luka sayatan di lengan Jinyoung dan perban di dahinya.

"Aku sudah bilang dia ada di dalam. Kau pernah bilang ingin menolongnya, kan?"

"Kau yang melakukan itu?"

Jackson berdecak kasar. "Menurutmu aku orang seperti itu?" sahutnya tajam. Tapi kali ini Mark tidak peduli, ia hanya memandang mobil yang membawa Jinyoung dan Hyunsik hingga menghilang di tikungan.

Jackson sendiri tak ambil pusing. Namja berkebangsaan Hongkong itu mulai memasang earphone tanpa niat menyadarkan Mark dari rasa penasarannya untuk segera berangkat menuju sekolah. Menyandarkan tubuhnya sambil menonton beberapa video lucu yang tak membuatnya tertawa sama sekali.

Selera humornya menurun drastis.

.

TBC

Haiiiii mian lanjutnya lama bgt ya? Maafkan akuuuuuuu /.\ udah sibuk bgt. Megang laptop pun gatau harus nulis kayak gimana. /author abal/ peace :v di tunggu reviewnya /bow