Previous Chap

"Ino... ngomong-ngomong kau tau semua itu dari siapa?" Sambil menelan yogurt jajanannya Sakura bertanya susah payah, berharap Ino membeberkan informasi yang salah atau tidak valid lagi.

"Dari kakakku yang sekarang kuliah." Ino menjawabnya tenang. "Tahun lalu kakakku SMA di sini, jadi dia sering cerita banyak sambil menunjukkan foto-foto gurunya lewat buku tahunan. Makanya aku hafal."

"O-Oh, oke..."

Sakura mengusap permukaan wajah dengan telapak tangan. Tidak tau kenapa dia merasa ini adalah awal mula segala takdir aneh yang akan dia alami selama masa SMA.

.

.

Tidak tau kenapa, saat ini Sakura sedang duduk di bangku kelas.

Perlengkapan belajarnya yang berupa buku dan alat tulis tertata rapi di atas meja. Mata Sakura mengerjap pelan. Agak bingung, gadis itu mengadahkan wajah. Menatap ke sekeliling. Dan nyatanya baru dia ketahui bahwa tak ada satupun murid di kelas ini selain dirinya.

Dia sendirian.

Tapi kenapa? Mana yang lain?

Sreek.

Terdengar suara geseran papan kayu di ujung ruangan—ada yang terbuka. Pemilik surai pink sebahu itu menoleh ke samping, menghadap pintu. Lalu kedua matanya sontak terbelalak saat ia melihat sesosok pria dewasa yang sudah teramat ia kenali. Ada dia, seorang manusia jahat bernama Hatake Kakashi. Berwajah menyeramkan dan seolah-olah memiliki dua tanduk iblis di balik helaian jabrik kesampingnya. Lalu guru matematika itu menyeringai.

"Asal kau tau saja, aku adalah Ketua Kesiswaan di sekolah ini. Nasibmu ada di tanganku, Sakura." Ia tertawa, dari pelan ke keras. Sangat dramatisir. "Jadi sekali lagi kau kurang ajar padaku, mudah bagiku untuk mengeluarkanmu dari sekolah ini. Mengerti?"

Sakura tak bisa berbicara. Ia tak mengerti.

Kakashi berbalik pergi menuju koridor yang gelap, Sakura pun mengerjap. "A-Apa?"

Keringat dingin bercucuran. Ia berdiri.

"T-Tu-Tunggu...!" Sakura benar-benar tak mengerti apa yang terjadi di sini. Tanpa pikir dua kali ia kejar Kakashi. "Kenapa kau bilang seperti itu!? Hei, Sensei!"

Tapi ketika ia keluar kelas, yang dipijak oleh sepatunya bukanlah lantai, melainkan sebuah lubang hitam tak berdasar. Sakura terjatuh ke dalamnya.

Ia menjerit histeris—

Srek!

"HAH!"

Dengan jantung yang sudah berdetak kencang dan tanpa henti, Sakura menegakkan tubuhnya jadi terduduk. Di atas kasur empuk yang ia tempati, ia tarik kedua kakinya agar tertekuk, lalu mengusap wajah panik yang terpoles di sana. Kedua matanya masih terbuka lebar, dan rambutnya acak-acakan khas bangun tidur. Tak lupa, butiran kecil keringat menyertai dahinya.

Sambil menormalkan nafas tersenggalnya, Sakura mencoba menunduk. Ia pejamkan mata dan menyingkirkan poni merah mudanya dari dahi. Setengah menit ia gunakan waktu untuk berpikir sesaat, lalu menghela nafas kencang saat sebuah kesimpulan telah ia dapatkan.

"Ternyata... yang tadi itu mimpi, ya?"

Sebuah mimpi buruk. Faktor dari berita yang sempat Ino berikan padanya; kalau sebenarnya Kakashi adalah orang yang menjabat posisi penting di sekolah tersebut.

"Tapi kenapa lebay sekali sih?" Gerutunya, menambahkan sambil mengerucutkan bibir. "Sampai terbawa mimpi begini?"

Dengan keadaan yang masih bete, Sakura melirik jam.

Ah... 07.52 pagi. Dan itu nyatanya lebih telat dari yang kemarin.

Kaget, Sakura langsung meringis. Pasti sebentar lagi Haruno Sasori datang dan—

TOK TOK TOK.

"SAKURA, KAMU KESIANGAN—!"

"Iya, aku sudah tau!"

.

.

.

TEASTU ROMAN

"Teastu Roman" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Kakashi Hatake x Sakura Haruno]

Romance, Drama, Friendship

AU, OOC, Typos, etc.

.

.

CHAPTER TIGA

(III) Guru Matematika

.

.

Lagi dan lagi, Sakura menyembunyikan tubuhnya di balik tiang lampu yang berdiri tegap di depan sekolah Korouha High School. Sekali-kali dengan wajah cemas ia mengintip, menilik segala pemandangan yang dilihatnya di sekitar. Gerbang besar yang ada di sana telah tertutup rapat.

Sakura berdecak sambil melihat jam di ponselnya.

Oke, sekarang pukul 08.17—sedikit lebih cepat dari yang kemarin sih. Tapi sama saja ia tetap tidak bisa masuk, kan? Batu kecil di atas aspal menjadi sasaran tendang Sakura yang bete. Seharusnya dengan rumah yang dekat dari sekolah, Sakura bisa sampai tepat waktu. Tapi salahkan sweater sekolahnya yang tak sengaja terselip di bawah selimut. Mengharuskannya mencari dan mengobrak-abrik lemari selama 5 menit. Kayaknya benar kata Sasori, dia harus mencoba bangun lebih pagi agar bisa siap-siap dengan tenang.

Sakura pundung sesaat.

"Masa iya pulang?" Sakura melirik arah belakang, dan kemudian kembali ke arah sekolah. "Tapi nanti kalau masuk malah ketemu guru itu lagi..."

Karenanya Sakura mencoba memutar otak. Ada sebuah rencana yang terbesit saat ia melihat celah di pagar sekolah bagian kanan. Tampaknya jeruji yang ada di sana mengizinkan untuk dipanjat. Sakura pun tersenyum. Dengan langkah tanpa suara ia menuju ke arah pagar yang cukup rendah di sana. Menginjak salah satu jeruji dan memeriksa keadaan sekitar sebelum memanjat.

Sepertinya satpam sekolah—penjaga gerbang—telah kembali ke posnya yang agak jauh. Mungkin menghabiskan waktu dengan ponselnya di sana. Sedangkan tak ia lihat kehadiran Kakashi atau guru-guru lain di sekitar gedung sekolah. Sepi, hening, dan aman rasanya. Sakura jadi sadar. Apa mungkin kemarin Kakashi mendatanginya ke gerbang karena dia yang teriak-teriak minta dibukakan? Bisa jadi sih. Maka dari itu kali ini Sakura enggan mengeluarkan suara. Jangan sampai jatuh di kesalahan yang sama.

Deritan besi yang ia pijak sedikit terdengar saat ia menaiki satu per satu jeruji besi yang ada di sana. Setelah berada di atas gerbang, masih dengan kewaspadaan tinggi, segeralah ia turun dan mengendap-endap masuk dari bagian belakang sekolah.

Viola—misi sukses. Gadis lima belas tahun itu menjerit bahagia dalam hati dirinya bisa masuk tanpa ketahuan. Dengan rok coklat dua per tiga paha yang terkibas dan tas yang ia pegang erat, Sakura berjalan menuju atap sekolah. Dia akan menunggu sampai bel pergantian mata pelajaran berdering, lalu masuk ke kelas. Tinggal bilang ke siapa pun yang bertanya, kalau tadi pagi ia sempat sakit perut jadi istirahat sebentar di UKS. Pokoknya jangan sampai hari ini ia tidak masuk, keesokannya Ino tak lagi ada di sampingnya. Oh, ya ampun. Sebulan pertama masuk SMA ia harus masuk kalau ingin memiliki teman tetap—itu sudah menjadi prinsipnya.

Hanya saja, Sakura kelewat senang sampai-sampai ia melupakan satu hal. Ada kamera CCTV yang terpajang di bagian atas dinding-dinding sekolah. Mencakup daerah yang dilewati olehnya.

.

.

~zo : teastu roman~

.

.

Dan di dalam sebuah ruang administrasi sekolah, salah satu dari enam monitor kecil yang menampilkan tayangan CCTV pun diperhatikan oleh Kakashi dengan wajah datar. Karena nyatanya sudah dari awal pria itu memantau Haruno Sakura sejak ia memasuki lingkungan sekolah. Walau Kakashi tidak melihat scene dimana Sakura menaiki pagar sekolah, setidaknya ia tau ini sudah jam 08.00 lewat dan tidak mungkin ada murid yang bisa berkeliaran di daerah sekolah.

Tapi sayang, monitor CCTV yang terpajang di sana cuma sebagai media pengawas. Tidak bisa disimpan. Maka dari itu Kakashi cuma bisa menghela nafas lelah.

"Sepertinya dia memang harus diberi pelajaran." Darinya langsung, tentu saja.

"Kakashi-sensei."

Kalimat itu membuyarkan perhatian Kakashi sesaat. Si rambut perak menoleh dan melihat sesosok guru yang juga merangkap sebagai sahabatnya, Umino Iruka. Pria yang memiliki luka horizontal di tengah tulang hidungnya itu menyerahkan sebuah dokumen. "Maaf lama, tadi mesin fotokopinya sedikit rusak."

Kakashi mengangguk. Ia terima dokumen tersebut dan kembali melihat monitor CCTV. Sakura sudah tak terlacak lagi. Ke mana gadis itu pergi?

"Sedang lihat apa, Kakashi?"

"Tidak apa." Kakashi menatapnya dan menggeleng. "Dokumen ini sudah lengkap, kan? Aku mau ke ruang guru."

"Ah, tunggu. Ada satu hal yang perlu kuberitahu..." Ia berpikir-pikir sebentar, lalu ia teringat. "Ah, ya. Apa kau tau kabar mengenai Ushui?"

Takahiro Ushui, guru freelance matematika kelas 10 yang aktif bekerja sejak semester lalu.

Kakashi menatapnya. "Tidak begitu lengkap, cuma sekedar tau berita saat dia mengalami kecelakaan minggu lalu."

"Iya, karena itu. Dan sepertinya kakinya yang patah tak bisa sembuh total dalam waktu singkat. Ushui memutuskan untuk keluar." Iruka melipat kedua tangannya di dada. "Pelajaran matematika angkatan kelas 10 jadi kosong. Apa kau ada ide siapa yang bisa menggantikannya?"

"Entah. Sudah bertanya ke Genma?"

"Dia mau. Kemarin dia memegang seluruh kelas 10, tapi tak bisa lama. Tugasnya terlalu berat. Jadi dia memilih untuk menjadikan kelas 10-4, 10-5, dan 10-6 saja sebagai kelas tetap yang ia ajar."

"Bagus kalau begitu."

"Masalahnya di angkatan kelas 10 ada 6 kelas. Itu tandanya ada tiga kelas matematika yang masih tak terurus."

"Intinya aku yang harus mengisi tiga kelas lainnya?" Kakashi memandang malas temannya, sedangkan Iruka tertawa pelan.

Oke, sebenarnya Kakashi malas mengurusi anak kelas 10. Menurutnya mayoritas dari anak-anak sana masih kayak bocah SMP semua. Pasti masih suka ribut, lupa mengerjakan PR dan tidak disiplin. Tapi berhubung ada sebuah wajah yang terlintas di benaknya—siapa lagi kalau bukan Haruno Sakura—Kakashi segera terdiam. Kalau tidak salah anak itu menempati kelas 10-1. Kelas yang akan diajarnya nanti.

Satu seringai muncul.

"Baiklah. Biar aku yang urus sisanya."

Jadi... bagaimana nasib Sakura nanti?

.

.

~zo : teastu roman~

.

.

Minggu demi minggu terlewat, dan bel siang di gedung Korouha High School kembali terdengar. Sakura yang berada di bangku depan segera mendesah lega dan meregangkan badan. Akhirnya ia bisa merilekskan isi kepalanya yang penat akibat materi sejarah yang baru saja tadi diajarkan. Segeralah ia mengambil dompet, bersiap-siap mengajak Ino ke kantin. Tapi karena tangannya terlebih dulu menemukan sebuah buku catatan di dalam tas, Sakura teringat tugasnya yang kemarin lupa ia kerjakan.

PR matematika, dan nanti—sesudah bel ini—PR tersebut harus dikumpulkan.

"Sakura, kau mau ke kantin?"

Ino dari bangku belakang menyapa, gadis ber-ponytail itu mendatanginya dengan senyum. Kalau boleh sedikit percaya diri, Sakura memang sudah merasa dekat dengan Yamanaka Ino. Dan kembali mengingat pertanyaannya, Sakura sempat akan mengangguk, tapi sayangnya ia ada hal yang harus ia kerjakan terlebih dulu. "Ingin sih, tapi maaf, Ino. Aku lupa buat PR. Mungkin aku harus stand by dulu di kelas buat menyelesaikannya."

"Kebiasaan deh. Kerjakan di rumah dong..." Ino tertawa. Lalu mendadak ia memegangi perutnya. "Eh, rasanya perutku berbunyi. Mungkin aku akan tetap ke kantin. Kau mau titip sesuatu?"

Sakura menggeleng. "Tidak, terima kasih."

Setelah itu Ino keluar kelas. Tampaknya gadis pirang itu tak begitu takut ke kantin sendirian. Toh, beberapa detik setelah ia keluar kelas, daya tarik dan keeksisannya mampu menggaet orang lain yang mengenalinya langsung menyapa dan berjalan di sampingnya. Wajar punya banyak kenalan, Ino kan memang ber-SMP di Korouha Junior High School.

Tapi sebelum mengurusi Ino lebih lanjut, Sakura memutuskan untuk fokus. Ia pun membuka buku catatan dan segera mengambil buku paket matematika yang ia butuhkan. Namun kelihatannya ia sedang kena sial. Tangannya tak menemukan buku tebal yang ia cari. Buku paket—yang berisi soal—matematikanya tidak ada. Sakura panik sendiri di bangkunya. Apa jangan-jangan ketinggalan? Soalnya pas pagi dia agak kesiangan, jadi sempat terburu-buru saat menyiapkan buku.

Sakura menghela nafas panjang. Sial lagi-lagi mendatanginya.

Dia luruskan kedua tangannya di atas meja dan menaruh dahinya juga di sana. Pose pasrah seperti biasa. "Semoga saja Genma-sensei tidak marah..." Ia menggerutu. Tapi beberapa saat kemudian, dapat ia rasakan ada sesuatu yang menyentuh bahu kirinya. Sakura menoleh dan mendapati ada seorang siswi berponi rata yang tengah menyerahkan sebuah buku kepadanya.

Ia tersenyum. "Pinjam saja kalau butuh..."

Mata emerald Sakura sedikit terbelalak. Dirinya agak tegak saat ia lihat buku paket matematika lah yang gadis itu sodorkan. Dan kalau dilihat dari paras lembut, mata lavender dan juga surai indigo panjang, kalau tidak salah Sakura ingat namanya. Hyuuga Hinata. Ah, iya. Benar, tidak?

"Apa aku boleh meminjamnya... Hyuuga-san...?"

"Tentu saja."

"Te-Terima kasih loh! Sangat membantu!" Katanya, senang.

"Ah, tapi apa bisa Sakura-san kerjakan tugas hanya dalam waktu 30 menit...?" Hinata bertanya ragu. Gadis itu menyelesaikan 20 soal yang tertera dalam satu jam, soalnya. "Apa mau salin PR-ku saja?"

Mata Sakura berkaca-kaca. Ia terharu senang. "Boleh? Serius?"

"Iya. Ini, silahkan..." Hinata memberikan tanpa ragu buku catatannya. Sakura membukanya dan tertegun sendiri karena catatan penuh angka itu tidak tau kenapa terasa rapi di indra penglihatannya. Hingga sampai di jawaban PR, Sakura kembali bertanya.

"Ah, tapi ada beberapa soal yang tidak aku mengerti. Bisa tolong dijelasin?"

Hinata mengangguk. Pipinya memerah di saat itu juga—tipikal gadis pintar yang senang mengajar, mungkin. Sakura dengan gembira menggeser mejanya sampai menempel di meja Hinata. Kemudian gadis itu duduk di sebelahnya dan berkata. "Aku sekalian gabungkan meja kita, ya. Soalnya nanti pas pelajaran matematika aku juga masih butuh buku paketmu..." Lalu nada suara Sakura merendah tak enakan. Dia cemas seketika. Baru ia sadari kalau dia telah bertindak seenaknya. Dia dan Hinata kan walau sebelahan baru ngobrol sekarang. "E-Eh, maaf, aku kurang ajar, ya? Nanti kalau kau tidak mau mejanya digabung juga tak apa sih. Aku tidak keberatan, a-ahaha." Dia tertawa garing.

Hinata tertawa pelan. "Tidak apa, Haruno-san. Justru dari awal aku ingin menawarkan hal seperti ini." Hinata menggeser buku paketnya ke tengah meja ia dan Sakura. "Di SMP, aku sering seperti ini dengan temanku."

"Sama dong." Sakura menunjukkan deretan gigi putihnya. Lalu ia mencoba tahap perkenalan. "Ah, ya. Hyuuga-san, panggil aku Sakura saja biar lebih enak didengar."

Hinata mengerjap pelan. Lalu ia menggigit bibir menahan senyum. "Kalau begitu, Sakura juga panggil aku Hinata saja."

"Hinata-chan saja, bagaimana?"

"Boleh kok."

"Baiklah. Salam kenal ya, Hinata-chan!"

Gadis bersurai sebahu itu kembali senang di tempat. Kali ini dia memiliki teman baru.

.

.

~zo : teastu roman~

.

.

Tak lama kemudian, bel berdering kembali. semua murid yang sebelumnya tersebar ke segala penjuru sekolah langsung kembali ke kelasnya masing-masing untuk melanjutkan kegiatan pembelajarannya di kelas. Begitu pula dengan Yamanaka Ino. Gadis pirang itu cuma bisa tersenyum geli saat melihat meja Sakura yang sengaja dirapatkan ke Hinata di sebelahnya.

"Kenapa tidak pinjam ke anak kelas sebelah?" Ino menggoda Sakura. "Hati-hati loh, di sini kalau keseringan tidak bawa buku paket, nanti bisa dikasih hukuman."

Sakura mengerucutkan bibir. "Habis ya mau bagaimana lagi? Aku tidak punya kenalan teman di kelas lain."

"Kan bisa minta tolong ke aku untuk pinjam."

"Aku sudah terlalu sering menggunakan jasamu, Ino."

"Tapi ya sudahlah, toh, kita sudah SMA. Kelupaan kecil seperti ini paling dimaafkan. Doa saja nanti gurunya tidak sekejam Asuma-sensei." Ino menepuk bahu Sakura sambil melewatinya. "Aku ke belakang dulu, yaa."

Sakura manyun sesaat. Ino enak sih. Karena bangkunya agak belakang, kalau tidak bawa buku ya paling tidak kelihatan. Lah dia? Sudah di depan, mejanya pakai acara digabung, pula. Kurang terekspos apa lagi ini? Sakura yang ada di tempatnya melirik jam dinding. Karena jam pulang masih dua jam lagi, rasanya ia jadi ingin pura-pura sakit agar bisa tidur bebas di UKS...

Sreek.

Pintu terbuka. Dan tanpa melihat siapa yang datang, sudah berdiri seorang guru pengganti Genma-sensei. Rambut kelabunya yang menantang gravitasi langsung mampu menarik perhatian Sakura yang sedang melamun.

Dan itu...

Dia...

Kakashi.

"Selamat siang, aku Hatake Kakashi, guru kelas 11 dan 12 yang mulai detik ini akan menggantikan Genma-sensei untuk mengajar matematika di kelas ini. Jadi pelajaran dari guru sebelumnya—yang sempat mengajar di sini—akan saya ambil alih. Salam kenal."

Sakura mengedipkan matanya sebanyak dua kali, lalu ia mengangkat wajah. Menatap horor sosok Kakashi yang kebetulan juga lagi memerhatikannya. Ia palingkan wajah dan menelan ludah. Tanpa diminta jantungnya berdegup kencang, emosinya kacau. Dirinya hanya tidak siap. Kakashi akan mengajar di sini? Kok bisa? Guru matematika kelas atas?

Lain dari reaksi kaget Sakura, teman-teman yang ada di sana—yang tau bahwa Kakashi adalah guru yang cukup seru walau disegani—hanya bersorak senang. Para siswi juga berbisik-bisik penuh suka saat guru yang terbilang tampan itu menetapkan diri sebagai pelajar di kelas tersebut. Sedangkan di lain pihak, Kakashi sendiri yang juga baru sadar ada Sakura di kelas ini tak begitu mengeluarkan emosinya. Tapi jauh di lubuk hati, ada sebuah hati kecil yang merasa senang melihat kepucatan Sakura saat ia mendatangi kelas 10-1 untuk mengajar matematika. Kenapa? Tentu saja Sakura merasa terancam. Kakashi suka detik-detik ini.

Dia maju beberapa langkah ke hadapan Sakura dan Hinata yang berada di deretan depan. Ia taruh kedua tangannya dia atas meja Sakura, membagi seringai tipisnya sejenak, yang sontak langsung membuat gadis itu menahan nafas dengan raut tidak enak. Dan barulah ia memperamah diri dengan senyuman yang lebih tulus ke tiga puluh murid lainnya.

"Karena itu mulai sekarang kuharap kita semua bisa menciptakan suasana yang kondusif di kegiatan belajar-mengajar ini." Ia tersenyum sangat ramah hingga terlihat ironis di mata Sakura—mengingat waktu minggu lalu, saat Sakura dihukum, guru satu itu tak pernah tersenyum. "Aku senang dengan murid pandai, dan aku benci murid yang gemar cari gara-gara. Jadi mohon kerjasamanya..."

Sakura meringis di dalam hati. Semoga saja sederet kalimat tadi tidak hanya untuk satu orang.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Zoccshan's Note

Maaf chap ini agak aneh dan beda (bagi yang merasa). Soalnya file Teastu Roman chap 3 di FFn-ku ke-replace sama chap 4, dan chap 3 asli yang ada di laptopku ke-delete asdfghjkl. Jadi dengan ingatan seadanya aku remake chapter ini sekilat mungkin. Semoga ga jelek-jelek amat deh.

.

.

Thanks for Read Review!

Special Thanks to

Fei Mei, Natsuyakiko32, soe young, Luca Marvell, SpindleTree, KikiRyuSullChan, Sheva, Miss Hyuuga Hatake, Stacie Kaniko, si Gadis Pendongeng, karina, yukiko miyuki, uchiha yardi, JunShiKyu, Mina Jasmine, YutaUke, temaram senja, Gaa Na Sa.

.

.

Pojok Balas Review

Siapa duluan yang bakal jatuh cinta? Ayo ditebak :) Ini 80% cerita SMA zo? Beberapa part kecilnya sih, sisanya aku lebayin untuk kepentingan cerita haha. Dan itu yang 80% cuma yang di chap-chap awal aja. Romance KakaSaku-nya aku tunggu. Sip. Di fict ini Kakashi pake masker, ngga? Ngga :D

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU