Title : My Handsome Nerd
Genre : Romance, Friendship, Drama
Cast : Wang Jackson
Mark Yi En
Lim Hyunsik
Jung Ilhoon
And others
Pairing : Markson/Jark, Hoonsik, Double B, JinKook
Words : 2,2K
WARNING ! BOYS LOVE, MPREG, AU. Bagi yang mau baca silahkan jangan lupa , review kalian itu semangat saya ^^
My Handsome Nerd
Suasana hening di dalam mobil hingga tiba di sekolah tidak dapat mereka hindarkan. Jackson agak mengutuk dirinya sendiri yang meminta Mark menjemput di kediaman keluarga Im padahal ia sendiri mengetahui Jinyoung masih di rumah.
Mark sebenarnya sudah gatal ingin bicara, tapi konsennya seolah terpecah antara Jackson dan Jinyoung. Deretan pertanyaan siap ia lontarkan jika saja tidak khawatir tentang respon kekasihnya.
Selesai memarkirkan mobilnya di area sekolah, ia mengurungkan niatnya untuk keluar. Mengunci semua pintu mobil dan mengabaikan kerutan di dahi Jackson seakan berkata apa-apaan? Tapi Mark tak peduli, ia justru menyandarkan tubuhnya senyaman mungkin pada jok mobil.
"Banyak yang ingin aku tanyakan."
"Aku tak ingin menjawab apapun."
"Kau mau menyembunyikan kejahatan sahabatmu?"
"Kejahatan?" desis Jackson. "Kejahatan apa?"
Mark mendengus. "Ada apa dengan Jinyoung? Kenapa dia terluka? Kau tahu sesuatu, kan? Jaebum menyiksanya, kan?"
"Kau selalu menyalahkan Jaebum!" Jackson menaikkan satu oktaf nada bicaranya. Mark memicing tidak terima.
"Kau yang terlalu membelanya!"
"Harusnya kau tanya pada Jinyoung kenapa ia mau menikah dengan Jaebum di usia semuda itu. Tanya padanya kenapa dulu memaksakan hatinya pada Jaebum lalu meninggalkanmu, dan tanyakan kenapa dia belum mati atau setidaknya berbaring di rumah sakit padahal kau yakin Jaebum sering menyakitinya."
"Lalu apa maksud luka-lukanya? Ia tidak mungkin menyakiti dirinya sendiri!" Jika bukan karena Jackson benar-benar mencintai Mark, ia tak mungkin membiarkan Mark utuh saat ini. Satu hal yan paling tidak Jackson sukai adalah; tuduhan yang salah pada sahabatnya. Percaya atau tidak ia dan kakaknya –Howon- pernah hampir mematahkan tangan seseorang karena pernah meledek Ilhoon hingga sahabatnya menangis ketika Junior High School.
"Jangan pernah mengatakan hal buruk tentangnya. Aku tak akan memaafkanmu."
"Kau benar-benar menyayanginya, ya?"
"Tentu saja."
"Kenapa tidak kau saja yang menikah dengan Jaebum?"
Jackson menatapnya marah, penuh intimidasi dan emosi. "Jujur saja kau masih menyukainya, kan?"
"Ya. Lalu kenapa?"
Jackson menuyunggingkan senyum sinisnya. Senyum yang sudah lama tidak di perlihatkan semenjak mereka mulai berpacaran. "Baiklah. Kita berakhir sekarang. Kau puas?"
Butuh beberapa menit bagi mereka untuk kembali dalam keheningan mobil. Meresapi pikiran dan emosi masing-masing yang menjadi boomerang bagi hubungan mereka.
Mereka tersadar saat suara ketukan di pintu mobil. Terlihat Jin dengan tampang bosannya menunggu mereka menampakkan diri.
Hanya jeda satu detik dari Mark membuka kunci dengan Jackson yang segera turun meninggalkan tanda tanya besar untuk Jin, terlebih Jackson justru pergi ke luar sekolah. "Ada apa?" tanya Jin sedikit khawatir.
"Dia marah padaku."
"Nenek beruban juga tahu." Jin mendengus kesal. "Kenapa?"
"Karena Jinyoung."
.
Mark tak lagi fokus pada deretan angka yang menghiasai blackboard sekolahnya. Selain karena mata pelajaran yang tidak pernah ia suka, matanya juga tidak henti memandang bangku sebelah yang kosong tak berpenghuni. Ia sudah berusaha menghubungi Jackson, namun sayang namja Hongkong itu tidak mengangkatnya.
Entah mengapa ia merasa kosong. Kehadiran Jackson yang selalu menemaninya kemanapun sudah seperti tubuh kedua Mark. Dan satu bagian pergi, Mark merasa hilang. Tak dapat melakukan apa yang biasa dan seharusnya ia lakukan.
Ia menyesal dengan kata-katanya sendiri. Menyesal dengan emosinya yang tidak bisa ia kendalikan saat di mobil. Menyesal dengan jawaban bodohnya. Menyesali semuanya. Meski ia sendiri menampiknya dengan fakta yang ia lihat barusan, Jackson seolah tak peduli pada Jinyoung.
"Jack, kau di mana?" gumamnya lirih.
.
Hyunsik berbaring di kamar yang belum pernah ia tempati sebelumnya. Padangannya seolah menerawang jauh ke depan, berusaha memudarkan ingatan-ingatan semalam. Tubuhnya miring ke samping sambil berusaha memejamkan matanya.
Hari ini ia berada di kediaman Jaebum dan Jinyoung, lebih memilih mendampingi adiknya yang baru saja pulang dari rumah sakit dari pada berada di sekolah.
Ia tersenyum kecil saat merasakan kepala seseorang melesak menyamankan posisi di dadanya. Tidak perlu membuka iris beningnya untuk mengetahui sang pelaku yang menggangu istirahatnya siang hari ini.
Tepat ketika Hyunsik membuka mata, sesuatu yang lembut menyapu indra pendengarannya. Semakin membuatnya tersenyum dan sukses membuat hatinya kembali menghangat.
"Gidaehae jeulgyeo deutdeon geu mellodi,
radio heulleonaol geu moksori,
Naega hal su inneun geon norae gasappunijyo
Himdeuredo gwaenchana gwanchana gwanchana."
"I believe in you~" Kalimat terakhir mereka nyanyikan bersama diiringi tawa tawa keduanya. Hyunsik semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Ilhoon, mengecup kepala kesayangannya berkali-kali sambil terus melafalkan kata terima kasih.
"Jika ada kata lebih dari aku cinta padamu, aku akan mengatakannya."
"Ada!"
"Apa?"
"Aku cinta sekali pada hyung." Ilhoon mendaratkan bibirnya di dada Hyunsik yang masih terbalut kaos putih polos. "Jangan sedih lagi, ya? ada aku."
Lagi-lagi Hyunsik tak bisa menahan rasa bahagianya. Betapa beruntung ia memiliki Ilhoon, betapa berpengaruhnya kehadiran si namja mungil dengan keadaan hatinya. "Ya, ada kau. Hanya ada Jung Ilhoon di hatiku, dan selalu setia di sampingku."
"Appa hari ini pulang." Ucap Ilhoon dengan pelan, namun masih bisa di dengar baik oleh Hyunsik.
"Lalu, kenapa anak bungsunya masih di sini?"
"Aku ingin pulang bersama hyung."
"Mianhae chagi, aku tidak bisa."
"Arra arra. Itu kenapa aku masih di sini. Aku mau menemani hyung saja. Tapi,-" Ia menguap lebar, kemudian mendongak. Matanya tepat menatap kedua mata kecil Hyunsik, "Aku megantuk, jangan tinggalkan aku sebelum aku bangun."
"Aku disini."
.
"Aku di marahi appa karena membolos les semalam dan membolos sekolah hari ini! kau harus tanggung jawab! Cepat nikahi aku!"
Bobby tertawa kecil mendengar celotehan kekasihnya di seberang line telepon. Membayangkan wajah marah Hanbin yang tak membuatnya takut sama sekali. Dalam kasus mereka, Hanbin yang mendiamkannya lebih menyeramkan di banding Hanbin yang marah dengan berteriak seperti Appa Choi -appa Hanbin.
"Siapa yang terus menginginkan itu, hm?"
"Kau harusnya pelan-pelan, bodoh!"
"Vanilla sex tidak ada dalam kamusku, baby. Karena itu aku menahannya untukmu. Kau yang memancingku, ingat?"
"Berisik. Sekarang jam belajar, kenapa kau bisa menelponku?"
"Mark mengajakku dan Jin membolos, tapi dia sendiri mengabaikan kami." Bobby dapat mendengar tawa renyah sang kekasih yang seolah mengejeknya. Ia sedikit melirik sahabatnya kemudian menghela nafas panjang. "Binnie, kita sambung nanti. Love you~"
Tersenyum kecil saat Hanbin membalas kata cintanya sebelum memutus sambungan. Ia medekat pada dua sahabatnya yang salah satu di antaranya tengah menenggelamkan wajahnya antara kedua kakinya yang di tekuk hingga ke dada.
"Menangis saja, tidak usah malu." Ucap Jin yang duduk di sebelahnya sambil membaca buku.
"Sebenarnya ada apa? tolong siapapun yang baik hati jelaskan padaku." Bobby menempatkan diri duduk tepat di depan Mark.
Kini mereka bertiga tengah duduk di atap sekolah, mengabaikan celana yang pasti kotor karena tidak memakai alas.
"Dia putus dengan Jackson."
Bukan jawaban yang di berikan, Bobby justru membelalakan matanya terkejut. "Dan kau sesedih ini?" ia mengangkat kepala Mark, walau sia-sia. Mark tetap pada posisi semula. "Kenapa bisa putus?"
"Karena Jinyoung."
"Dia ada di Korea?"
"Hyunsik dan Ilhoon tidak sekolah karena menemani Jaebum yang sakit."
Mark tidak bisa tetap menundukkan wajahnya mendengar kalimat Jin. Menampilkan matanya yang sudah mulai memerah entah karena menangis, atau hampir menangis. "Sakit?"
"Iya." Jin tetap fokus pada bukunya.
"Jadi… kau menyukai Jinyoung atau Mark?"
Lagi-lagi Mark tidak bisa menjawab dengan mudah. Hatinya seolah tidak bisa menentukan mana yang saat ini menjadi penghuninya. "Aku… tidak tahu."
"Aku pikir kau tidak serius dengan Jackson."
Mark lebih memilih mengabaikan dan kembali pada posisi semula. Menenggelamkan wajahnya di antara lututnya. Berusaha menghapus bayang-bayang pertengkaran antara ia dan Jackson tadi pagi di dalam mobil.
"Jack…"
Lirihan Mark sukses membuat Jin dan Bobby saling bertukar pandang sambil mengerutkan keningnya bingung. Pasalnya, hubungan Mark dan Jackson hanya baru beberapa minggu dan Mark sudah se-frustasi ini.
.
Mark tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Jinyoung sudah berada di depan gerbangnya. Melempar senyum agak terpaksa yang terasa familiar baginya, persis seperti senyum perpisahan mereka.
"Aku ingin bicara sebentar."
"Masuk ke mobil."
Jinyoung patuh. Segera menempatkan diri untuk duduk di samping kemudi, menyusul Mark yang sudah masuk lebih dulu.
"Tidak biasanya hyung naik mobil." Ujar Jinyoung sekedar basa-basi untuk membuka percakapan.
"Jackson tidak suka naik motor." Mark sempat melihat Jinyoung mengendurkan senyumnya sekejap, lalu kembali menarik kembali kedua sudut bibirnya.
"Hyung benar-benar menyukai Jackson hyung?"
Mark terhenyak beberapa saat walau akhirnya ia tersenyum kecil sambil mengacak rambut Jinyoung dengan lembut, kebiasaan yang sejak lama tidak ia lakukan. Tidak bisa di pungkiri jika Mark merindukannya. "Ada masalah apa?"
"Aku…" Jinyoung menghela nafasnya sejenak, "…ingin meyakinkan hatiku."
"Meyakinkan hati?"
"Perasaanku pada hyung dan pada Jaebum hyung."
Mark mengangguk mengerti. "Lalu bagaimana?"
"Molla. Aku yakin aku sudah mencintai Jaebum hyung, tapi melihatmu kemarin bersama dengan Jackson hyung membuatku sakit. Aku yakin kalian baru mengenal belum lama ini, tapi kau terlihat menyukai Jackson hyung. Entah mengapa… sedikit sakit. Tapi juga senang." Ia menunduk sedih. "membingungkan, ya?"
"Ironis." Sahut Mark. Terkekeh kecil melihat ekspresi Jinyoung akibat jawabannya. "Aku pikir karena itu juga aku berakhir dengan Jackson hari ini."
Melihat tak ada tanggapan dari Jinyoung, Mark kembali melanjutkan. "Aku mencintai Jackson, tapi aku tidak tahu aku masih menyukaimu atau tidak. Aku tidak bisa melihatmu dan Jaebum, terlebih saat melihat luka-lukamu. Jaebum yang melakukannya, kan?"
"Ani!" Jinyoung menggeleng cepat. Menimbulkan tanda tanya besar yang bergerilya di otak namja tampan itu. "Aku menyakiti diriku sendiri."
"Mustahil. Aku mengenalmu, Jinyoung."
Jinyoung lagi-lagi menghela nafas. Terlihat sekali ia akan bicara panjang kali ini. "Jaebum hyung mengidap self injury. Dia selalu menyakiti dirinya sendiri, termasuk semalam saat kita bertemu. Ia takut aku meninggalkannya, jadi dia..
… mencoba bunuh diri." Ada getar di kalimat terakhir yang terdengar jelas di telinga Mark. "Aku berusaha menghentikannya, tapi itu tidak mudah. Aku panik, ikut menyayat kulitku sendiri agar ia beralih padaku."
"Luka di keningmu?"
"Jaebum hyung mendorongku saat aku mau menghentikannya."
"Tetap saja itu semua karena Jaebum."
Jinyoung menggeleng tak terima. "Ini karena aku." Tegasnya lagi. "Kalau saja aku tidak mengajak Jaebum hyung untuk ke tempat itu, ia tidak akan melukai dirinya sendiri."
"Jadi… tujuanmu kesini hanya untuk menegaskan kau sudah mencintai Jaebum?"
"Aku tidak mau hyung berharap padaku. Lagipula aku tidak mungkin meninggalkan Jaebum hyung." Mark menaikkan sebelah alisnya. "Aku sedang hamil."
Lagi, hidup Mark hari ini penuh denga kejutan.
.
Jin dan Jungkook kini tengah berada di rumah yang di sewa Jungkook dan kakaknya yang kebetulan juga bersekolah di Seoul. Jungkook bercerita dulunya ia dan kakaknya menghuni apartemen mewah, namun ekonomi keluarganya yang menurun, membuat mereka memilih pindah ke tempat yang lebih sederhana.
Jin di sambut dengan hangat oleh Woonwo—kakak Jungkook—yang dengan tampang polos menyuruhnya menginap, membuat sang adik mendelik tak suka.
"Kenapa? Kalian sepasang kekasih, kan? lagipula ini sudah malam, Kukie, kasihan Jin pulang selarut ini. Padahal dia baru saja membelikanmu buku-buku." jelasnya berpura innocent. Jangan kira Woonwo tak tahu sejauh mana hubungan mereka, Woonwo tahu hanya dari cara Jungkook bercerita dan menjawab pertanyaannya tentang Jin, si kakak kelas idolanya.
Tapi sayang sekali Woonwo tak mengetahui emosi Jin. Tapi selama Jungkook tak masalah dengan itu, Woonwo tak akan mempermasalahkannya.
"Justru karena dia kekasihku." Jungkook merajuk. Entah sengaja atau tidak, nada bicaranya membuat Jin semakin ogah meninggalkannya.
"Yasudah aku akan pulang." Sahutnya dengan gaya cuek seperti biasa.
"Hyuuung~ jangan marah. Baiklah, ayo ke kamarku. Jja~"
Woonwo tersenyum kecil melihat adiknya bergelayut di lengan Jin sambil berusaha menariknya ke dalam kamar. Biasanya Jungkook hanya berani bersikap manja padanya dan orangtua mereka saja. Tapi kali ini mungkin akan bertambah satu orang lagi.
.
"Hyung jangan macam-macam. Aku masih sakit."
"Ck. Arrasso." decaknya sambil memeluk Jungkook yang memunggunginya. "Aku tidak sebrengsek itu. Tenang saja."
"Hyung?"
"Hm?"
"Ada masalah apa dengan Mark hyung dan Jackson hyung? Mereka tidak pulang bersama."
"Masalah rumah tangga seperti kita kemarin."
"Mark hyung tadi murung sekali."
Tak ada sahutan dari belakangnya, "hyung?" Jungkook membalik posisinya menghadap Jin. Menemukan sang kekasih yang sudah berada di alam bawah sadarnya. "Menyebalkan." Gerutu Jungkook, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jin untuk menyusul kegiatan kekasihnya.
.
Mark bangun pagi dengan keadaan yang tidak begitu baik. Jika bukan karena ia ingin bertemu Jackson yang sampai detik ini belum menghubunginya, mungkin Mark akan menuruti perintah sang umma untuk beristirahat di dalam kamar.
Tapi sayangnya ia harus menelam kekecewaan karena Jackson tidak ada di tempat biasa ia menjemputnya. Biasanya Jackson akan menunggu di depan gerbang keluarga Im saat Mark menjemputnya, namun kali ini ia tidak menemukannya.
Ia cepat-cepat keluar dari mobilnya, memasuki pekarangan rumah saat melihat Hyunsik mulai menyalakan motor besarnya. "Im!"
"Mark?" ia kembali mematikan mesin dan turun dari motor. "Ada apa?"
"Mana Jackson?"
"Jackson? Aku pikir dia bersamamu. Dia tidak pulang semalam. Kalian biasanya pulang bersama, kan?"
Mark otomatis memundurkan langkahnya, "Jangan menungguku, aku tidak sekolah hari ini." ia segera menaiki mobilnya menuju ke apartemen Jackson dengan kecepatan yang luar biasa. Mungkin mengalahkan Ilhoon dan kegilaannya jika menemukan jalan lenggang.
Tidak menunggu waktu lama bagi Mark untuk tiba di apartemen yang saat ini sudah menjadi mantan kekasihnya. Tidak peduli tatapan heran dari orang-orang karena seragamnya. Harusnya Mark saat ini berjalan ke sekolah, bukan apartemen.
Ia berlari kecil hingga tiba di depan pintu, menekan password yang sudah ia hafal di luar kepala. Berdoa agar Jackson belum menggantinya.
Gotcha!
Mark menggeledah apartemen yang tidak terlalu besar itu ke setiap sudutnya saat ia sudah berhasil masuk, meneriakkan nama sang empunya beberapa kali dengan keras, namun sayang ia tidak menemukan seorangpun disana.
Mengacak rambutnya frustasi, ia merebahkan tubuhnya di kasur. Kapalanya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi lagi saat ini. Mark merasa kesadarannya menipis perlahan karena pening.
Ia memejamkan mata sebelum berucap dengan suara lirihnya, berdoa saat bangun Jackson sudah berada kembali di sampingnya atau bahkan sekedar menelponnya. "Jack...
...Where are you?"
.
TBC
