Previous Chap

Dia maju beberapa langkah ke hadapan Sakura dan Hinata yang berada di deretan depan. Ia taruh kedua tangannya dia atas meja Sakura, membagi seringai tipisnya sejenak, yang sontak langsung membuat gadis itu menahan nafas dengan raut tidak enak. Dan barulah ia memperamah diri dengan senyuman yang lebih tulus ke tiga puluh murid lainnya.

"Karena itu mulai sekarang kuharap kita semua bisa menciptakan suasana yang kondusif di kegiatan belajar-mengajar ini." Ia tersenyum sangat ramah hingga terlihat ironis di mata Sakura—mengingat waktu minggu lalu, saat Sakura dihukum, guru satu itu tak pernah tersenyum. "Aku senang dengan murid pandai, dan aku benci murid yang gemar cari gara-gara. Jadi mohon kerjasamanya..."

Sakura meringis di dalam hati. Semoga saja sederet kalimat tadi tidak hanya untuk satu orang.

.

.

Mohon kerjasama, katanya? Jadi 'dia' bener-bener mau mengajar di sini?

Masih di dalam kelas 10-A, tepatnya saat awal pelajaran matematika di mulai, Sakura tetap kaku di tempatnya terduduk. Kedua kepalan tangannya tertahan di atas paha. Kepalanya menunduk, namun bola matanya tak bisa lepas dari sosok Kakashi yang berdiri di depan papan tulis. Oh, demi Tuhan yang ada di atas sana... kenapa guru semenyebalkan Kakashi harus menggantikan Ebisu-sensei mengajar di sini!?—ingin rasanya Sakura gigit jari. Dia tidak bisa menerima fakta yang kini berada di hadapannya dengan mudah.

Ini benar-benar buruk.

Kakashi akan mengajarnya. Iya, Kakashi, Hatake Kakashi, Ketua Kesiswaan yang pernah menjewernya di ruang guru dan dia ajak adu mulut sampai kepalanya mendidih kesal itu. Sakura mengusap wajah suramnya. Dia jadi teringat mimpi yang belum lama ini ia dapatkan—pokoknya tentang Kakashi menertawakan nasibnya yang berada di genggaman tangan pria tersebut. Suram parah. Dan ia rasa semua akan menjadi kenyataan kalau begini caranya.

"Sakura, kau kenapa?"

Pertanyaan lembut dari Hinata sontak membuat Sakura menoleh ke samping. Ia meringis.

"Tidak..." Senyum terpaksa ia ciptakan. "Aku tidak apa."

Mendengar bisikan Sakura, Kakashi menyeringai pelan. Ia amati sosok gadis pink yang duduk di hadapannya. Sakura yang risih sempat balas melirik sekilas, membuang muka. Tak perlu menebak pun Kakashi tau gelagatnya. Ia suka Sakura yang seperti ini. Yang cemas kepadanya. Lihat saja wajah pucat pasi anak itu. Dan berhubung Kakashi lagi di mood yang baik, mungkin tak ada salahnya jika berulah sedikit. Kebetulan Sakura kelihatan tidak membawa sesuatu. Lihat saja nama di buku paket yang terbaring di tengah apitan meja Sakura dan Hinata. Ada tulisan nama Hyuuga Hinata di sana.

"Baiklah, pelajaran akan kita mulai, coba keluarkan buku paket kalian masing-masing dan taruh di atas meja." Ujar pria dengan tinggi 185 cm itu ke warga kelas. "Aku ingin tau siapa yang tidak membawa buku..."

Dilatarbelakangi suara gerak murid sekelas yang mengambil bukunya di tas, Sakura menelan ludah. Dia pandangi buku matematika Hinata yang terletak di tengah dirinya dan Hinata. Dia harap Kakashi masih mengizinkannya meminjam.

"Yang tidak membawa buku, harap angkat tangan."

Sakura menahan nafas. Ia masih menunduk. Lebih baik tidak usah angkat tangan. Guru SMP-nya saja memperbolehkan satu buku dipakai berdua kok.

Hening.

"Baiklah, ini yang terakhir..." Kakashi memberikan tatapan mata hitamnya ke sekeliling kelas. "Yang 'tidak' membawa buku, harap angkat tangan."

Entah hanya di telinga Sakura atau apa, kalimat ulangan Kakashi kali ini terasa lebih ditekan dan... terarah hanya padanya. Sedikit penasaran, dengan gerak pelan Sakura mengadah. Dia luruskan pandangan ke depan. Dan ya, benar saja. Ternyata ada sebuah tatapan datar yang Kakashi berikan hanya kepadanya. Pria itu lagi-lagi tersenyum.

Oke, semua jelas.

"Yang tidak bawa... harap angkat tangan—"

"Aku, Sensei." Menyerah, Sakura memelas.

Jari telunjuk Kakashi teracung ke pintu keluar.

"Baiklah, silahkan berdiri di koridor."

Kakashi-sensei sengaja! Pasti dia sengaja mempermalukanku!—batin Sakura sambil menggigit bibir bawahnya, gemas.

.

.

.

TEASTU ROMAN

"Teastu Roman" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Hatake Kakashi x Haruno Sakura]

Romance, Drama, Friendship

AU, OOC, Typos, etc.

.

.

CHAPTER EMPAT

(IV) Peringatan

.

.

Pelajaran matematika hari ini Sakura jalani dengan cara berbeda dari yang lain. Di saat anak-anak pada membaca buku paket dan mendengar penjelasan Kakashi dari dalam ruangan, hanya Sakura yang berdiri di luar kelas; cuma dia yang tidak membawa buku. Gadis itu lemas di depan pintu, berdecak beberapa kali. Padahal dia sudah berharap ada satu atau dua anak yang ikut menemaninya dihukum di luar, jadi ya siapa tau dengan obrolan singkat mereka bisa jadi akrab atau apa. Tapi kenyataannya apa? Dia malah sendirian begini. Kan bosan...

"Haaaaah..."

Dua puluh menit berdiri lama-lama rasa mulai merambati sendi-sendi kaki Sakura. Apalagi di bagian lutut, ada nyeri tak tertahankan yang menyerang. Karena itu setelah memastikan tak ada yang melihat, punggungnya ia sandarkan begitu saja di dinding koridor. Mendesah lega, matanya ia pejamkan erat-erat. Sakura merosotkan tubuhnya sampai ia duduk di lantai dan memeluk kedua kakinya yang tertekuk.

"Kenapa sih bisa ada guru kayak Kakashi-sensei? Seingatku dia guru matematika kelas 12 deh." Ia taruh dagunya di puncak lutut. Pipinya ia gembungkan. Sedetik berselang, dirinya mengangkat wajah, reaksi kaget atas pemikiran yang berlalu-lalang di kepalanya sendiri. "Ah, apa jangan-jangan dia sengaja mencari jadwal kelas 10-A supaya bisa menyiksaku pelan-pelan seperti ini!? Tapi... untuk apa juga, coba?"

Tak ada jawaban—jelas, siapa yang mau menjawab? Sakura menggerutu kesal. Dia injak-injaki lantai yang dia pijak.

Malas melakukan apa-apa, Sakura mengambil ponselnya yang ada di dalam kantung kemeja. Lebih baik ia refreshing, main sebentar, dibanding harus membuang waktu dengan cara melongo tanpa arti di sini. Iya, kan? Dia pilih aplikasi Temple Run dan memainkan game lawas itu dengan serius. Sebuah permainan sederhana; cuma perlu menjaga orang yang tengah berlari agar terus melaju tanpa menabrak apapun. Slide sana, slide sini. Loncat, menunduk, menghindar. Angka skor yang terus tertera di bagian atas layarnya semakin tinggi dan tinggi, hingga mencapai angka 5.000.000-an. Namun sayang, karena game semakin cepat, karakternya tak sengaja menabrak batu. Game over. Sakura berdecak panjang.

"Wah..." Ada suara yang menyela. "Sayang sekali. Padahal tadi hampir high score."

Tunggu, itu bukan suaranya. Sakura terbelalak. Segeralah ia menolehkan wajah ke samping.

"KYA!" Ponsel Sakura nyaris terlempar ketika kedua iris gioknya mendapati sesosok Hatake Kakashi yang sudah berjongkok di sebelahnya—entahlah sejak kapan. Sakura shock. Luar biasa shock. Satu tangannya memegang dada—tempat di mana jantungnya berdetak kancang. "Se-Sejak kapan kau ada di sana!?"

Kakashi menaikkan alis. "Sejak kau sudah memainkan Temple Run." Niat awalnya sih memanggil Sakura supaya dia bisa masuk lagi, tapi sehubungan dengan Sakura yang malah memainkan ponsel, sepertinya akan dia menunda keringanan itu. Tidak jadi, lebih tepatnya.

Sakura menelan ludah. Dia matikan ponselnya dan memasang senyum memelas. Semoga saja benda telekomunikasi satu-satunya ini tidak disita.

"Nah, sekarang apa aku boleh bertanya apa hukumanmu, Sakura?"

"Berdiri... di koridor."

"Laluapa yang kau lakukan sekarang?"

"Ng... duduk?"

"Kalau begitu, berdirilah dengan benar di depan koridor." Ada dua jari yang mencubit telinga Sakura. Sekalian ditariknya sambil berdiri, agar Sakura mengikutinya. Tak lupa intonasi suara Kakashi yang terkesan tidak ramah—bukan seperti yang di depan kelas. "Jangan duduk."

"A-Aduh!" Sakura meringis. "Iya, iya! Aku berdiri!"

Setelah Haruno Sakura menuruti permintaannya, Kakashi melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum puas. Senyum minim ekspresi yang cuma ditunjukkan untuk menghukum siswi yang menurutnya menyebalkan itu.

"Karena ini adalah hukuman pertamamu 'di kelas', aku beri keringanan. Aku tak akan menyita ponselmu." Jelasnya. "Tapi sekali lagi saat dihukum seperti ini kulihat kau malah duduk, maka akan kusuruh kau berdiri dengan satu kaki di ruang guru selama jam istirahat. Mengerti?"

Bertepatan dengan Sakura yang mengangguk takut, bel tanda pelajaran usai berbunyi. Kakashi masuk dan akan membubarkan kelas. Sedangkan sepeninggalnya, Sakura mendumel kesal.

.

.

~zo : teach stu roman~

.

.

"Ahh, pokoknya aku kesal dengan Kakashi-sensei! Guru itu bener-bener—ukh! Bikin naik darah!"

Geraman Sakura lepas begitu saja saat si gadis merah jambu memulai sesi curhatnya di kantin. Ino dan Hinata—teman-temannya di SMA—pun hanya memasang reaksi ekspresif. Ino tertawa dan Hinata tersenyum melihat Sakura.

"Ya mau bagaimana lagi?" Ino menambahkan. "Kakashi-sensei kan guru di sini, jadi mau tidak mau kau harus mengikuti aturannya dong. Kau juga yang salah sih, lupa bawa buku. Wajarlah kalau kau dihukum..."

"Tapi kan ini masih masa-masa awal SMA, matematika pertama darinya pula, masa dia tega menghukum muridnya?" Dia mengadu, bagai lupa kalau Kakashi sebenarnya telah memberikan dispensasi mengenai ponsel. "Yang aku bingung, kenapa dia baru cek ke luar kelas saat aku lagi duduk? Aku sempat berdiri lama sejak aku dikeluarkan, tau! Parah!"

"Maklumi saja..." Hinata berkomentar. "Di balik hukuman pasti ada niat baik, Sakura. Mungkin Kakashi-sensei ingin kau jera dan semakin disiplin."

Ino yang sedang mengunyah makan siangnya mengangguk setuju. "Tapi serius deh, saat Kakashi-sensei menanyakan 'siapa yang tidak bawa buku?' di kelas, melihatmu mematung dari belakang benar-benar membuatku tertawa, Sakura! Coba saja kalau aku ada di tempat Hinata—di sebelahmu—mungkin aku akan terbahak-bahak!"

Sakura mengerucut bibir tanpa suara.

"Habisnya reaksimu lucu sih." Ino mencuil siku Hinata. "Benar, kan?"

Hinata tersenyum geli. "Iya. Sakura selalu lucu kalau sedang membicarakan Kakashi-sensei."

Sakura menghela nafas panjang, lalu mengaduk asal es jeruk yang ada di depannya dengan ogah-ogahan. Pembicaraan yang tadi telah selesai, mereka mulai sibuk menikmati makanan belian masing-masing. Hinata berniat membuka tutupan puding cokelatnnya, namun perhatiannya teralihkan oleh sesuatu. "Ah... itu, ada Sensei di kantin..."

"Terus kenapa? Aku harus bilang 'kyaa', gitu?" Sakura memasang wajah bete tanpa menoleh. Hinata pakai acara laporan sih.

Ino terkikik. "Tengoklah sedikit, Sakura. Kan kami mendukung kisah cintamu..."

Si surai pendek sedada mendengus sebal. Sambil mengunyah—tanpa disuruh—dia lirik sinis ke arah kantin sekolah, mencari sosok yang sebelumnya dibicarakan. Ternyata Kakashi sedang mengantri di stand kantin. Tentu saja, ini kan kantin milik bersama—tempat para guru dan murid mengisi perut kelaparan mereka. Namun memang dipisah untuk posisi meja makan. Siswa-siswi disediakan deretan meja makan di bagian kanan dan tengah, sedangkan yang khusus guru disediakan yang bagiannya paling kiri.

Hanya saja ketika mata emerald Sakura sedang mengamati Kakashi, dia dapati beberapa murid kelas 12 yang mendekati pria tersebut. Bahkan sengaja mengajaknya bicara seraya senyum riang walau ia tak terlihat akan membeli makanan. Dan itu bukan hanya satu, melainkan tiga. Dari wajah rombongan sana, jelas sekali kalau mereka senang dekat-dekat dengan Kakashi.

Sakura mengernyitkan mata. Kalau dipikir-pikir, ada satu kesimpulan yang tercipta lewat kondisi ini. Hatake Kakashi, guru berusia 26 tahun itu adalah sosok yang disukai banyak orang. "Sepertinya dia populer, ya?" Gumam Sakura, menyuarakan opini—walau tak ikhlas. Hinata dan Ino mengikuti arah pandang Sakura.

"Tidak heran sih. Dia masih muda, tampan, pintar, dan memiliki jabatan tinggi. Tipe-tipe suami yang diincar mertua tuh kayaknya."

Sakura memasang wajah kesal ke Ino. "Apaan sih bangga-banggain dia? Kau suka dia, hah?"

"Wait, jangan cemburu gitu dong, Sakura. Aku tidak akan merebut gebetanmu kok."

"Inoo!"

Si ponytail memasang 'peace' dengan santai.

Disela perdebatan, Hinata yang sedang melumat puding di mulutnya mengamati penampilan Kakashi yang kini tengah berjalan ke meja guru dengan senampan makanan. Sebelum pria itu menyadari tatapan menelitinya, dia memandangi Sakura. Diam sejenak.

"Kalau menurutku... Sakura sangat cocok loh sama Kakashi-sensei. Jadi ingin lihat kalian berdua pacaran..."

Sontak saja Sakura tersedak. Wajahnya memanas drastis.

"Pa-Pacaran!? Dari mana kau mendapatkan pemikiran aneh itu!?"

"Ahaha, Sakura, mukamu merah sampai ke jidat tuh!"

Sakura menutup wajahnya. "E-Enak saja! Ini cuma malu dan... jijik!"

"Jangan gitu, ah... siapa tau kalian bisa benar-benar pacaran." Sambil memamerkan senyum, Ino mengedip sebelah mata. Membuat Sakura ingin segera mencakar wajah menyebalkan Ino, tak lupa mencubit pipi chubby Hinata karena telah mengucapkan 'penghinaan' itu ke padanya dengan polos. Pacaran dengan Kakashi? Ewh. Sungguh, sama sekali tidak terbayang.

"Gini, ya... dengar..." Sakura menghela nafas, lalu ia menegakkan tubuh. "Aku tidak akan mungkin suka sama guru kayak dia. Selain karena sifatnya yang bukan ala-ala tipe cowok idamanku, dia terlalu dewasa—dewasa jika dilihat dari umur. Oke, apa semuanya jelas?"

"Memangnya cowok idamanmu yang seperti apa?"

"Pokoknya yang cool, elit, pendiam, misterius. Kayak Uchiha Sasuke di kelas sebelah itu loh."

"Kakashi-sensei juga cool dan pendiam, kan?"

"Tapi beda! Kakashi itu lebih... err, bagaimana, ya..."

"Coba deh, Sakura, bayangkan kalau kau sedang galau. Mungkin Kakashi-sensei akan menjadi orang yang tepat untuk kau pinjam dada bidangnya, menumpahkan tangis dan keluh kesah dari hatimu yang terdalam. Sensei akan memelukmu erat-erat, mencium keningmu, lalu mengucapkan 'jangan khawatir' dengan suara beratnya." Ino berujar dramatis sedangkan Sakura menutup kuping seraya menggeleng. "Ah, pria dewasa... keren, kan—?"

"Sudah, sudah! Aku geli membayangkannya! Menyeramkan sekali sih!"

Ino dan Hinata tertawa kecil.

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Beberapa hari kemudian Sakura berusaha menjalani hari-harinya di bulan pertama SMA dengan lancar. Kadang dirinya terbentur masalah, seperti bangun kesiangan, lupa mengerjakan PR, dan tidak bisa menangkap beberapa materi baru dari pelajaran yang kelewat sulit—oh, ya ampun, matematika, biologi, fisika, geografi dan kimia SMA benar-benar menyeramkan. Tapi Sakura mencoba untuk tetap menjalaninya dengan normal. Meski ada kalanya ia jengkel dengan tingkah laku beberapa guru, terutama Sarutobi Asuma yang killer dan Kakashi yang terkesan lebih memperhatikannya—apabila ia sedang kelupaan barang atau seragamnya tidak rapi—setidaknya dia bisa melewati hari-hari masa SMA dengan lancar dan gembira. Beruntung dia sudah punya Hinata dan Ino yang setia menjadi teman mengobrolnya di tiap waktu.

Akhirnya hari Jumat ini adalah jam terakhir Haruno Sakura belajar di kelas. Hanya perlu menunggu belasan menit lagi sampai jam tiga berdentang, maka libur akan menyapa. Seraya mendengarkan penjelasan dari guru sosiologi di depan, bel pun berbunyi panjang. Sakura mengungkapkan perasaan gembiranya dengan cara menghela nafasnya panjang-panjang dan meregangkan tubuh. Dia ingin cepat-cepat ke kafe seberang stasiun bersama Ino dan Hinata—mereka sudah janji menghabiskan sore di sana. Tapi sayang, sebelum dia sanggup memutar tubuh dan mengingatkan ke kedua temannya bahwa mereka punya acara setelah ini, sosok ketua kelas, Shikamaru Nara mendatangi mejanya. "Haruno."

"Ya?" Sakura menatapnya siswa dengan kunciran tinggi itu.

"Ini, ada sesuatu. Baca sendiri." Shikamaru menyerahkan secarik kertas kecil kepadanya, lalu ia segera berjalan ke arah lain, lalu memanggili satu per satu murid yang lain.

"Itu kertas apa, Sakura?"

Hinata bertanya, membuat Sakura langsung membaca apa isinya. Di sana tertulis...


Haruno Sakura 10-A (April)

5 POIN: Terlambat (1)

8 POIN: Masuk/Keluar Sekolah Tanpa Izin (Memanjat Pagar)

5 POIN: Terlambat (2)

2 POIN: Tidak Membawa Perlengkapan Sekolah

2 POIN: Tidak Memakai Kaus Kaki Panjang

2 POIN: Tidak Membawa Tugas Sekolah

Total Poin Pelanggaran: 24

Tertanda,

HATAKE KAKASHI

Ketua Kesiswaan


"Tu-Tunggu..." Sakura tidak mengerti sama sekali. Apa ini semacam daftar yang memuat segala hal yang pernah ia langgar? Atau bagaimana? "Ini apa...?"

"Tampaknya itu segala pelanggaranmu di bulan April." Kata Ino yang sudah siap pulang dengan tas ransel di punggungnya. Dia pun menggoyangkan selembar kertas di tangannya sendiri. "Santai, aku juga dapat kok. Tapi isinya karena kaus kaki saja, jadi poin pelanggaranku baru 2."

Sakura menghela nafas. "Tapi aku sudah 24 poin..."

"Hah, serius?" Ino jadi kaget sendiri. "Usahakan saja supaya tidak melanggar peraturan lagi deh." Ia tepuki pundak Sakura dengan iba. "Ngomong-ngomong, Hinata, kau dapat kertas pelanggaran?"

Hinata menggeleng. Awalnya heran, tapi setelah Shikamaru menjelaskan bahwa yang tidak mendapat kertas tandanya bersih dari pelanggaran, Ino dan Sakura maklum. Selain pintar, gadis Hyuuga itu memang selalu perfect dalam mengikuti segala aturan sekolah sih.

"Hinata hebat..."

Gadis bersurai indigo panjang itu tersipu malu. "Habis kalau poin pelanggaran mencapai angka tertentu, nanti kan diberikan sanksi. Aku mencoba menghindarinya saja."

"Hah? Sanksi?" Sakura membalik kertas pelanggarannya.

Dan benar, ada tulisan tambahan...


Keterangan:

Peringatan I (Poin 25): Orangtua dipanggil

Peringatan II (Poin 50): Diberikan bimbingan khusus

Peringatan III (Poin 75): Diskorsing dan diberi hukuman

Peringatan IV (Poin 100): Murid dikembalikan ke orang tua—dikeluarkan

* Poin Pelanggaran dicatat oleh guru

** Poin Pelanggaran yang sudah tercatat tidak bisa dihapus/dikurangi

*** Poin Pelanggaran hanya akan berubah menjadi 0 kembali, saat pergantian semester baru


"DEMI APA?"

Sakura tidak bisa menahan mulutnya yang menganga lebar. Bagaimana bisa ia tidak kaget? Terutama saat dia sadar kalau poinnya sudah 24, nyaris menyentuh peringatan I, yaitu jika ia melampaui 25 poin. Dan yang benar saja, kalau hal itu terjadi... ada keluarganya yang dipanggil? Berhubung ibunya selalu bekerja di luar kota, ya masa dia harus menyuruh Sasori datang ke sini? Pasti dia akan terlebih dulu diporak-porandakan oleh amukan amarah kakaknya yang berwajah jutek itu. Sakura mana mau.

"Kenapa aku tidak tau ada peraturan semacam ini sih di sekolah!?"

"Bukannya saat masa orientasi sudah dijelaskan?"

Sakura cemberut. Apa iya? Dia lupa total—atau memang tidak mendengarkan saat ada kepala sekolah yang menjelaskan? Ah, entahlah. Yang penting dia tetap tidak bisa semudah itu menerimanya. Sakura terlanjur dikagetkan oleh jumlah poin pelanggaran yang dia punya. Tapi... dia bisa berbuat apa? Marah-marah di depan ruang guru—demo, gitu? Malu dong.

Dengan pandangan memelas Sakura melirik kertas. Dia tangkap sebuah nama yang tertera di pojok kanan bawah.


Tertanda,

HATAKE KAKASHI

Ketua Kesiswaan.


Ingin rasanya ia remukan kertas itu dan melemparnya tepat di muka Kakashi. Karena pasti dia lah orang tidak ada kerjaan yang dari dulu menggagaskan peraturan tidak penting itu. Meski memang dibutuhkan agar membuat murid-murid sejenisnya agar lebih disiplin dan menaati aturan dengan baik sih. Ah, tapi tetap saja, Haruno Sakura tidak bisa menerimanya begitu saja.

Dia menghela nafas panjang-panjang.

Apa kabar dengan nasibnya nanti?

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Zoccshan's Note

Updatean sebagai hadiah untuk ultah Kakashi (15/9) :)

Di sekolahku pake sistem poin pelanggaran. Yaa, cukup mirip lah peraturannya dengan apa yang kutulis di fict ini. Bedanya tiap terlambat, poin 10. Kaus kaki ngga panjang, poin 5. Ngga bawa tugas, ada poinnya, tapi ngga begitu diitung. Ah, tapi ngga usah begitu dipikirin. Poin-poin ini cuma ada di chap ini dan chap depan kok, untuk bahan cerita. Selanjutnya ngga dipake. Mungkin kapan-kapan bisa kujadiin ide untuk fict KakaSaku yang lain, hahah.

Oh, sekalian. Aku mau tanya deh. Apa ada yang nganggep fict ini bosenin dan... plotless? Aku sih ngerasa gitu pas baca ulang, lol. Tapi kuusahakan agar cerita ini mengalir selayaknya beneran /halah. Jadi mohon kesabarannya, ya. Konflik per konfliknya akan kumunculin di chapter besok.

.

.

Thanks for Read & Review!

Special Thanks to

YutaUke, Miss Hyuuga Hatake, Avaron macy, Orange-chan, Neerval-Li, Kimmberly, Kiki RyuEunTeuk, yassir2374, Luca Marvell, Rosemary Montgomery, Soeun ah, uchiha yardi, Hikaru Sora 14, JunShiKyu, Stacie Kaniko, Niko Watanabe.

.

.

Pojok Balas Review

1st Oneshoot lanjutin, ya. Yaa. Terlalu pendek. Makin ke sini makin panjang kok. Di chap 4 Sakura dihukum, ngga? Iya, tapi hukumannya masih normal. Ngga sabar KakaSaku udah saling suka. :) Aku suka Sakura yang ketakutan gitu liat Kakashi. Pukpuk Sakura. Teastu Roman artinya apa? Teacher dan Student Romance, lol. Rasanya jadi mengenang masa SMA pas baca fict ini. Terima kasih. Aku juga begitu :') Bakalan happy ending, kan? Kenapa bisa mikir ini sad ending?

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU