Previous Chap

Dengan pandangan memelas Sakura melirik kertas. Dia tangkap sebuah nama yang tertera di pojok kanan bawah.


Tertanda,

HATAKE KAKASHI

Ketua Kesiswaan.


Ingin rasanya ia remukan kertas itu dan melemparnya tepat di muka Kakashi. Karena pasti dia lah orang tidak ada kerjaan yang dari dulu menggagaskan peraturan tidak penting itu. Meski memang dibutuhkan agar membuat murid-murid sejenisnya agar lebih disiplin dan menaati aturan dengan baik sih. Ah, tapi tetap saja, Haruno Sakura tidak bisa menerimanya begitu saja.

Dia menghela nafas panjang-panjang.

Apa kabar dengan nasibnya nanti?

.

.

Setelah mendapatkan kertas pelanggaran, sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, Sakura terus memegang kertas tersebut. Irisnya yang bagaikan permata giok itu terus memandangi segala tulisan ber-font arial itu dengan tatapan kosong, agak menerawang. Lalu setelah bis yang dia tumpangi ini berhenti di halte dekat rumahnya, dia turun dan menghela nafas dengan suara keras.

"Poinku saat ini... 24, ya?" Gumamnya sambil menatap langit gelap di atas sana. "Jadi kalau aku buat pelanggaran lagi... poinku bisa menyentuh angka 25, dan orangtuaku akan dipanggil? Begitu?"

Sakura menelan ludah. Kalau Haruno Sasori tau, pasti pria itu akan ngomel—lebih-lebih dari omelan ibunya sewaktu beliau masih ada di rumah. Dia bergidik pelan sambil memejamkan mata barang sesaat. Di pikirannya terlintas sebuah pertarungan sengit; antara akan melaporkan masalah poin ini ke Sasori—karena memang dibutuhkan tanda tangan di sana, sebelum di balikan ke Shikamaru, si ketua kelas—atau tidak melaporkan. Dia pasti bisalah meniru tanda tangan kakaknya dan membubuhkan sendiri di atas kertas. Tapi tetap saja Sakura bingung. Jemari yang menekan kertas kian mengerat.

"Duh..." Desisnya. "Oke, aku memang sudah SMA, tapi sepertinya aku akan melaporkan hal ini ke Sasori—sebelum keadaan semakin sulit untuk dijelaskan."

Sakura menggaruk surai merah mudanya yang tidak gatal.

Pokoknya ini gara-gara Kakashi-sensei...

.

.

.

TEASTU ROMAN

"Teastu Roman" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Hatake Kakashi x Haruno Sakura]

Romance, Drama, Friendship

AU, OOC, Typos, etc.

.

.

CHAPTER LIMA

(V) Razia

.

.

Dan benar, apa yang tidak diharapkan oleh Sakura terjadi. Oh, mungkin memang setelah ia menyerahkan kertas poin pelanggaran ke Haruno Sasori, pria itu tidak marah. Tapi masalahnya dia hanya berbicara tanpa henti dari jarum panjang jam di angka tiga sampai ke enam. Lima belas menit tanpa henti, tanpa kerutan alis, tanpa mata memicing. Non stop. "Pokoknya aku tidak mau tau. Kau harus sudah siap—bangun, mandi, makan—saat jam menunjukkan pukul 07.30—itu batas maksimal. Uang jajanmu akan kupotong 500 yen tiap kali kutemukan kau melanggar peraturan baru kita."

Sakura cuma bisa sabar saat mendapatkan ocehan bernada bete itu. Soalnya tak ada gunanya juga melawan, itu pun kalau ia berani. Lagi pula pantas sih Sasori marah. Pria itu kan sudah punya kerja tetap—bukan lagi kerja sambilan atau part time. Mana bisa dia membolos siang-siang cuma untuk datang ke sekolah Sakura, dan membicarakan sesuatu yang tidak penting dengan wali kelasnya?

"Dan jangan lupa; jangan pernah lagi mengunci kamar saat malam. Jadi di jam 7.00 aku bisa membangunkanmu." Ucap Sasori, sudah agak tenangan. Pria yang baru pulang kantor itu melonggarkan dasi, ia berjalan ke atas untuk mandi terlebih dulu. "Sakura, panaskan makan malam. Kita akan makan setelah ini." Perintahnya dari arah tangga. Sakura mengiyakan dengan malas.

Kesimpulannya, besok ia harus bangun jam 07.00—karena ia memiliki kebiasaan yang lambat kalau bersiap-siap.

Gadis itu mengusap muka. Mana ancamannya ada yang berupa potong uang jajan, pula.

Yah, mau bagaimana lagi?

.

.

~zo : teastu roman~

.

.

Peraturan baru keluarga Haruno dimulai dari esok pagi. Sakura terpaksa menjalani hari penuh dengan siksaan batin semenjak Sasori hadir ke kamarnya tiap pagi, menempati sisi samping ranjang, mengguncang tubuhnya, sampai meneriakinya tepat di kuping agar Sakura bangun. Tak jarang juga di hari Senin Sasori melempar lap basah ke muka adik semata wayangnya supaya Sakura bisa membuka mata seketika. Pokoknya akan Sasori lakukan apa saja asal Sakura tidak terlambat deh. Tapi tidak cuma di sana. Saat Sakura mandi pun Sasori tak segan-segan mengetuki pintu yang terkunci rapat itu agar Sakura tak berlama-lama. Sakura geleng-geleng pasrah.

Tapi berkat Sasori juga di jam 07.30 Sakura sudah berada di ruang tengah, menyantap sarapannya dengan wajah mengantuk, dan di jam 08.00 kurang, Sakura memasuki gerbang sekolah. Suatu keajaiban—Sakura tak pernah terlambat lagi. Orangtuanya pasti bangga melihat anak bungsu mereka yang terkenal pemalas jadi terdidik disiplin seperti ini.

"Akh, kepalaku pusing kebanyakan bangun pagi..." Sakura yang tengah berjalan menuju gerbang sekolah mengusap keningnya sendiri. "Kapan ini berakhir?"

Bersama bibir yang cemberut ia luruskan pandangan ke depan. Dan kebetulan, di depan gerbang yang ramai oleh murid-murid lain, terlihatlah sesosok pria bersurai perak yang cukup mencolok di matanya. Hatake Kakashi. Pria berkemeja cokelat itu berdiri tegak dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Dengan wajah datar ia membalas sapaan para siswa-siswi yang meluangkan waktu untuk menyapanya sambil melintas.

Sakura mendengus malas. Ia pilih jalan agak pojok agar bisa masuk kawasan sekolah tanpa dilihat olehnya. Tapi sial, baru saja lima langkah sol sepatunya menginjak susunan bata putih Korouha High School, ada suara familiar yang mendadak memanggilnya.

"Sakura."

Cuma ada satu orang yang memanggilnya dengan nama 'Sakura'—tanpa embel-embel, tanpa nama keluarga, dan tanpa nada riang. Siapa lagi kalau bukan Kakashi?

"Ck..." Sambil menghentikan langkah, Sakura menoleh dengan wajah sangar. "Apa?"

Beberapa murid yang ada di sekitar mereka memerhatikan singkat—karena seorang guru yang memanggil dengan nama kecil seorang siswi memang pantas diselidiki—namun karena melihat wajah Sakura yang menatap Kakashi dengan pandangan terhina, kebanyakan dari mereka langsung tak acuh. Menanggapi hal itu sebagai sebuah sindiran semata. Tak peduli dengan orang-orang yang ada di sana, Kakashi mengayunkan telapak tangannya, membentuk gerak agar Sakura mendekat. Sakura awalnya enggan. Namun karena statusnya saat ini ia sedang berbicara dengan seorang guru, mau tidak mau ia melangkah sampai mereka berhadapan. Sakura berdesis. "Apa, Sensei?"

Kakashi abaikan nada menantang Sakura, lalu pria itu tersenyum hingga matanya menyipit. Tangan kanan Sakura ia raih, digenggam cukup erat. Gadis bermata zambrud itu tersentak. Saking kagetnya ingin sekali ia tarik paksa agar bisa terlepas, tapi sayang tangan Kakashi yang besar dan hangat itu menahannya lebih kuat.

"Selamat."

"Eh?" Sakura mengadahkan wajah. Lalu memandang Kakashi dengan tatapan heran.

Apa yang tadi dia bilang?

"Kau sudah sebulan ini bangun lebih cepat. Jadi kuucapkan ulang, selamat karena telah masuk pagi."

Sakura mengedip dua kali. Tatapannya tak percaya.

Ini dia yang salah dengar, atau Kakashi yang salah bicara?

Ia telan ludah. Agak menunduk—menyembunyikan wajah tersipunya—lalu menjawab pelan. "Te-Terima kasih—"

"Padahal kalau kau terlambat sekolah lagi, ada WC kotor di belakang sekolah yang menunggu sikatanmu."

Sakura menganga. Tapi memang seingatnya, pernah tertulis di buku peraturan sekolah—Sasori yang memaksanya membaca ulang agar tak terkena poin lagi—apabila ada murid yang terlambat sampai tiga kali berturut-turut, ia harus membersihkan salah satu ruangan sekolah. Bisa ruangan kelas, gudang atau juga WC. Gadis itu langsung menepis cepat tangan Kakashi.

"Jangan harap ya, Sensei!" Katanya dengan lantang. Ia sentak tangan Kakashi hingga terlepas. "Mulai hari ini aku tidak akan pernah lagi dihukum olehmu!"

Ia berjalan dengan cepat menuju gedung belajar. Hawa kesalnya masih terasa dan Kakashi cuma menaikkan sudut bibirnya, puas.

Hatake Kakashi dan peraturan sekolahnya memang menyebalkan. Namun sepertinya Sakura perlu memanjatkan syukur dirinya dikaruniai seorang kakak cerewet seperti Haruno Sasori. Mungkin kalau tidak ada dia, Sakura tak akan bisa menjalani hari-hari di sekolahnya tanpa dikenakan poin pelanggaran. Beruntung juga Sakura memiliki dua sahabat yang baik-baik. Yamanaka Ino dan Hyuuga Hinata, tentunya. Hinata selalu mengingatkannya tentang tugas apa saja yang harus di kumpulkan besok, sedangkan Ino selalu ada untuk mengajarinya beberapa materi pelajaran yang kurang ia mengerti.

Tambahan; toh, Sakura selalu senang kok saat mempertontonkan wajah 'bangga'-nya karena telah bangun pagi ke Kakashi yang terkadang hadir di sebelah gerbang—sejak tiga puluh menit sebelum bel berbunyi—dan juga saat mengumpulkan tugas ke pria itu saat ia di kelas matematika. Yang jelas Sakura tak pernah lagi diberikan hukuman.

Dia punya kemajuan yang keren, kan?

.

.

~zo : teastu roman~

.

.

Berkat didikan Sasori, Ino, Hinata dan beberapa guru termasuk Hatake Kakashi di sekolah, perlahan-lahan Sakura mulai berubah. Ia semakin rajin bangun pagi. Kaus kaki ia tarik sampai tiga per empat betis saat ada guru yang lewat. Bagian belakang sepatu tak pernah lagi dia injak. Tiap ke kamar mandi ia selalu memeriksa atribut, dan sewaktu ke rumah ia selalu mengerjakan PR. Semua itu dilakukan tanpa disuruh. Karena itulah Sasori selalu tersenyum saat melihat adiknya yang pemalas itu sudah berubah menjadi disiplin dari waktu ke waktu. Ia jadi tidak menyesal memasukkan Sakura ke Korouha High School yang terkenal menjunjung tinggi aturan. Peraturan sekolah pasti memiliki tujuan baik di dalamnya, kan?

Haruno Sakura menghela nafas di dalam kelas. Ia memandangi dedaunan musim gugur yang rontok akibat tersapu angin siang dari jendela kelas. Gadis yang kini masih bertempat-duduk di bangku depan itu bertopang dagu. Diam-diam ia tersenyum. Cuaca awal September di luar sana sedang enak. Bagaimana kalau sepulang sekolah dia ajak Ino dan Hinata menyempatkan diri ke taman? Foto-foto dan makan kue manis, misalnya. Pasti menyenangkan.

Terbuai dengan imajinasinya di tengah siang, Sakura sampai tak sadar kalau sudah ada serombongan guru yang tiba-tiba membuka pintu depan kelas. Berjejer sudah Senju Tsunade, sang kepala sekolah, yang disusul oleh Hatake Kakashi, Sarutobi Asuma dan Morino Ibiki. Deretan guru yang bersamaan memasuki kelas itu mampu membuat murid-murid yang ada di dalam kelas sontak menegakkan posisi duduk dan terperangah sendiri. Masalahnya mereka termasuk manusia-manusia yang paling disegani di Korouha High School. Tidak mungkin mereka datang bersamaan tanpa alasan yang jelas, kan?

Dan Hayate, guru bahasa Jepang yang tengah mengajar menoleh dengan wajah datar. "Ada operasi pembersihan?"

"Ya."

Kakashi mengeluarkan sebuah kantung berwarna cokelat. Benda yang cukup mencolok hingga semua mata siswa-siswi terarah padanya. Tanpa sadar ludah mereka tertelan paksa. Sebuah pemikiran mulai merasuki; razia, ya ini razia. Masing-masing dari tangan murid sekelas pun mulai berlarian ke dalam saku dan tas, namun ada suara keras yang mencegah.

"Diam di tempat." Pria yang dapat dikenal sebagai sebagai guru olahraga memberi peringatan. Codet di mulutnya bergerak saat ia berbicara. "Tolong angkat kedua tangan kalian, lalu berdiri dari bangku masing-masing."

Hening sebentar. Anak kelas 10-1 yang masih kurang mengerti menoleh ke yang lain dengan ragu.

"Kalian dengar aku? Berdiri sekarang!"

Semuanya langsung berdiri dengan panik. Tanpa ada yang bersuara mereka mematuhi perintah dadakan Ibiki-sensei yang kini berjalan ke arah deretan belakang. Asuma melanjutkan. "Setelah kalian memastikan diri tak membawa apapun, silahkan berkumpul di depan papan tulis. Buat sebuah barisan."

Sakura memandang Hinata yang berada di sebelah. Tatapannya seperti bertanya 'ada apa sih?' tapi gadis itu menggeleng—ia juga tidak tau. Tapi Ino yang sudah di sampingnya menarik tangan Sakura agar dapat berdampingan, lalu ia berbisik pelan. "Ada razia, Sakura."

Tanpa alasan yang jelas jantung Sakura berdentum, bulu kuduknya meremang. "Hah? Serius?"

Sakura menahan nafas beberapa saat, lalu melirik ke arah Asuma-sensei yang sedang merogoh tas para siswa dimulai dari yang terbelakang. Sedangkan Tsunade mengamati sambil sesekali berbisik pada Hayate di sebelahnya. Kakashi menempati posisi tengah kelas; dia kebagian menampung dan menempelkan label nama pada barang yang akan terkena sita. Dan di hadapan whiteboard, Sakura, Ino, Hinata dan teman-temannya memandangi ketiga guru di depan sana dengan tatapan tegang. Dan tak dapat dipungkiri, bagi mereka yang tak terbiasa dengan keadaan ini, sekalipun tidak membawa barang aneh, rasanya tubuh mereka tak bisa berhenti bergetar takut. Tak terkecuali Sakura, apalagi Hinata.

"Apa kalian tau kenapa kami mengumpulkan kalian semua di depan kelas?" Di saat murid-murid yang terkumpul di depan mulai mendiskusikan 'operasi pembersihan' yang tengah berjalan, Kakashi berbalik menatap mereka, tatapannya serius.

"Di buku panduan akademik sekolah, sudah tertulis sebuah peraturan yang tidak boleh kalian langgar." Ia buka halaman dari buku kantong peraturan sekolah yang ia bawa. "Peraturan tersebut tertulis: tidak boleh membawa barang-barang yang tidak ada berhubungan dengan materi pelajaran. Jika membawa, taruhlah ke dalam loker yang tersedia, bukan di tas."

Semuanya langsung memasang wajah cemas, dan Kakashi tersenyum karenanya.

"Maka dari itu, kami akan menyita barang yang sekiranya tidak kalian perlukan." Katanya. "Bila ada barang yang kami ambil, harap membuat surat penyataan menyesal, ditanda-tangani orangtua masing-masing, dan serahkan kepadaku untuk mengambilnya—kira-kira sebulan setelah hari ini."

"Tas ini punya siapa?" Ibiki mengangkat sebuah PSP dari sebuah tas cokelat lumpur. "Benda ini kusita."

Kiba mengacungkan tangannya dengan lesu.

Secara berurutan, para gamers yang diam-diam membawa mainan tertangkap basah. Dimulai dari kartu remi, UNO, PSP, NDS, sampai ke perlengkapan kosmetik pun ada yang kena sita.

"Banyak ya yang kena sita...?" Sakura bergumam, Ino menoleh dan menyenggol sikunya.

"Sakura, kau bawa ponsel?"

"Bawa."

"Eh, nanti bisa disita loh."

Sakura meringis cemas. "Aku menaruhnya di saku rok."

"Pantas saja kau masih bisa senyum walaupun tanganmu gemetar." Ino tertawa kecil sambil memegang tangan Sakura. "Tapi kalau nanti dirazia sampai ke badan-badan, bagaimana?"

"Rasanya sih tidak mungkin, tapi ya sudahlah. Lagi pula cara ambilnya mudah kok." Setidaknya tak perlu menyuruh Sasori ke sini—batin Sakura, menambahkan.

"Siapa pemilik tas ini?"

Asuma-sensei lagi-lagi mendapat korban. Kali ini sebuah tas di bagian depan. Sakura pun mengernyit ke arah sana. Sempat ia kira tasnya lah yang dipegang oleh guru berjanggut itu, tapi ternyata...

"A-Aku." Hinata menaikkan tangan

"Namamu siapa?" Kakashi bertanya. Guru itu mengeluarkan sebuah label dan spidol.

"Hy-Hyuuga Hinata."

"Kusita ponsel dan juga novel yang kau bawa." Asuma memberikan benda itu ke Kakashi.

Hinata hanya bisa mengangguk pasrah.

"Aa... sabar ya, Hinata-chan. Bulan depan bisa diambil kok." Ino segera menepuki bahunya. Hinata mengiyakan dengan senyum sedih. Sakura sempat ingin menyemangati juga, namun ada interupsi yang berasal dari suara seorang guru yang tiba-tiba memanggil namanya.

"Haruno... Sakura."

Sakura terbelalak. Ia menatap Asuma yang kali ini benar-benar berdiri di samping bangku belajarnya. Tas yang terbuka membuat guru itu mudah mengambil dua benda dari sana. Sakura maju selangkah sambil menerka-nerka, sekiranya benda apa yang berhasil ditemukan di tasnya. Kalau tidak salah ia tidak membawa sesuatu yang dilanggar. Kecuali kalau—

"CD musik dan... album."

Dua giok Sakura membulat setelahnya. CD musik? Oke, itu kalau tidak salah CD original yang baru saja ia beli di toko CD kemarin lusa—lupa ia keluarkan. Tapi soal album...

"A-Ah... ta-tapi... album?" Sakura tak bisa berkata-kata. Matanya terus memandangi sebuah album foto tebal setinggi satu jengkal yang cukup mencolok. Warnanya merah muda pastel, dan isinya tertutup oleh sebuah kancing yang terkait di cover-nya. "I-Itu..."

Kakashi menatapnya heran. Benda yang kini sudah di tangan pria itu pun ia taruh di atas meja. Label nama sudah siap ditempelkan. Tapi sebelum itu Kakashi menatap Sakura yang kelihatan tidak rela bendanya disita. "Kenapa?"

Sakura menelan ludah. Agar tak menarik perhatian murid-murid lain yang masing mengawasi raziaan Ibiki dan Asuma, ia pelankan suara, lalu melanjutkan. "Ke-Kenapa foto album disita?"

"Karena album foto tak ada hubungannya dengan pelajaran—"

"I-Iya, aku tau! Tapi... seharusnya tidak perlu sampai disita! Sebuah album tak akan membuat konsenku ke pelajaran teralih, kan?"

Kakashi menatap raut panik yang dipancarkan Sakura. Namun pria itu tidak terkejut ataupun balas marah. Ia masih mempertahankan wajah datarnya. Ia hela nafas sekali lalu mengangkat album foto yang masih tutup rapat itu ke depan wajah Sakura. "Ini album, kan? Apa kau menggunakan album foto ini untuk belajar, hm?"

"Tidak." Sakura menjawab dengan berat hati. "Dan asal Sensei tau, aku juga tak pernah membukanya—"

"Kalau begitu seharusnya kau biasa saja saat benda ini kuambil." Sakura berniat membantah tapi Kakashi melanjutkan. "Bersikaplah adil, Sakura. Buatlah surat pernyataan menyesal, dan kau hanya perlu mengambilnya nanti."

Sakura melemparkan pandangannya ke dasar lantai. Salah satu teman—yang ternyata mendengar protesannya—berkomentar. Dia adalah Matsuri. "Sudahlah, tak apa. Komik hentai milik Naruto saja ketahuan, tapi dia masih baik-baik saja kok." Ia menyemangati sambil menunjuk Naruto yang sedang memasang wajah-tanpa-nyawanya.

Sakura menoleh ke mereka yang ada di belakang. Di sana sudah murid-murid yang kecewa saat benda-benda kesayangannya banyak disita oleh guru. Tapi mereka tak protes berlebihan. Kalaupun iya paling hanya menggerutu di bibir, tak lebih. Raut Ino dan Hinata yang menyemangatinya lewat pandangan pun membuat gadis itu sadar, kalau ia harus menerapkannya terhadap diri sendiri. Kan tadi ia sudah hampir bilang ke Hinata agar sabar saja menerima barangnya disita? Kenapa dia tidak? Dengan dengan berat hati, Sakura membuang muka dari Kakashi—masih agak kesal—lalu berniat kembali ke tempatnya.

Memang lebih baik pasrah kalau berurusan sama guru...

"Memangnya apa isi album ini?"

Sakura terhenyak di posisinya berdiri. Dengan kedua iris hijau daun yang terbuka lebar, ia kembali menghadap ke Kakashi dan menemukan pria bersurai perak itu sedang membuka album foto tersebut. Dan Sakura refleks berlari ke arahnya. Tangan pria itu dia tahan kencang.

"Ja-Jangan!" Sakura menjerit. Nadanya luar biasa cemas.

Kakashi menatap Sakura, tangannya masih mencoba membuka kaitan kancing. "Apa isinya, kalau boleh tau?"

Jari telunjuk Sakura teracung memperingatkan. "Jangan berani-beraninya kau buka!"

Kakashi tak peduli. Kancing yang sudah terlepas membuat lembar demi lembar di buku album itu terbuka. Sakura yang benar-benar kesal lantas mencoba merebut. Tapi karena tangan Kakashi sempat menghindari sambarannya, Sakura yang tidak sabar segera melayangkan tangannya ke arah wajah Kakashi.

"JANGAN SEENAKNYA!"

PLAK!

Sebuah pipi seorang pria dewasa ditampar keras olehnya.

Belum sempat satu ruangan menghening dan mencari tau dari mana asal bunyi kencang itu tercipta, Sakura yang sudah gemetar segera mengambil album fotonya dari tangan Kakashi dan kemudian berlari meninggalkan kelas.

Ino menganga, Hinata menutup mulut, Tsunade tersentak, Hayate dan anak-anak kelas lain terbelalak. Ibiki yang sempat menyaksikan scene itu lantas menghampiri Kakashi dengan wajah heran. Mata hitamnya bergulir dari Kakashi dan pintu kelas yang terbuka—tempat Sakura menghilang—sebanyak dua kali. Ia pun memandang kesal murid kelas 10-1 lain yang juga tak bisa berbicara banyak setelah melihat peristiwa mengerikan tadi.

"Hei, panggil anak tidak sopan itu! Dia butuh pelajaran—!"

"Tidak. Tidak perlu."

Ibiki menahan kalimat. Itu ternyata Kakashi yang mencegahnya lewat kata-kata. Pria yang berprofesi sebagai guru matematika itu sempat terdiam selama beberapa detik, lalu ia mengangkat wajah sambil tersenyum. Tak lupa tangannya yang mengelus pipinya yang berdenyut sakit.

"Biarkan saja. Nanti aku yang urus."

Ruangan pun menghening. Dua sahabat Sakura di kelas masih masih terbelalak, tak mampu bersuara ataupun sekedar menggerakkan kaki. Mereka bingung harus berbuat apa.

Sedangkan Haruno Sakura yang masih berada di dalam kawasan sekolah berlari tanpa henti tanpa tujuan. Sebuah album pink ia pegang erat. Matanya berkaca-kaca dan jantungnya meletup-letup tak nyaman. Sekarang... entahlah ia akan berlari ke mana.

Tapi yang jelas Sakura sendiri paham, bahwa sudah terjadi masalah besar di antaranya dengan Kakashi.

Mulai dari detik ini.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Zoccshan's Note

Akhirnya Sakura buat masalah (oke, bagiku ini cukup besar jika dibayangkan sebagai kisah nyata) haha. Anw, apa ada readers yang razia sekolahnya mirip kayak razia di Korouha High School ini? Kalau di SMA sama SMP-ku dulu begitu. Ada guru-guru killer yang mendadak masuk kelas. Ketiganya masang tampang sangar, dan satunya lagi megang amplop cokelat. Tapi sialnya kalau ada barang yang ketangkep, cuma boleh diambil pas akhir semester. Nyesek deh pokoknya. Btw, ini udah masuk konflik pertama.

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to

MizuKaze Naru, Miss Hyuuga Hatake, kakasaku, Kiki RyuEunTeuk, Rie Megumi, zeedezly-clalucindtha, YutaUke, uchiha yardi, Luca Marvell, JunShiKyu, yuri rahma, Philaniachen, Shuben, moonlightYagami, Kumada Chiyu, Putpit, novinachan, afifahfebri235, NanoYaro-Kid, Rosemary Montgom, Yassir, Mrs Sasori.

.

.

Pojok Balas Review

Siapa yang bakal tertarik duluan? Kakashi, atau Sakura? Silahkan tebak. Peraturan poin sekolahku juga sama kayak di fict ini. :)d Ada scene Sakura yang pernah kualami. Kalau di chap ini apa ada yang pernah? Maaf numpang curhat. Ngga apa, apalagi kalau curhatnya tentang kesamaan scene Sakura dengan kalian di sekolah. Aku seneng bacanya. Ada adegan romance KakaSaku? :) Zo promosi game Temple Run, ya? Jaman SMA kelas 10 game itu yang paling populer selain Tap Tap. Ada yang kurang baku. Thanks, edited. Tapi untuk 'tau', aku masih memakai kata itu karena faktor kenyamanan pribadi. Gomen. Di chap kemaren umur Sakura 15, sekarang 16. Kakashi juga.Terima kasih ralatannya. Edited. Sakura 15, sedangkan Kakashi 26. Kakashi tanpa masker ya di TR? Iya.

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU