Previous Chap
"Hei, panggil anak tidak sopan itu! Dia butuh pelajaran—!"
"Tidak. Tidak perlu."
Ibiki menahan kalimat. Itu ternyata Kakashi yang mencegahnya lewat kata-kata. Pria yang berprofesi sebagai guru matematika itu sempat terdiam selama beberapa detik, lalu ia mengangkat wajah sambil tersenyum. Tak lupa tangannya yang mengelus pipinya yang berdenyut sakit.
"Biarkan saja. Nanti aku yang urus."
Ruangan pun menghening. Dua sahabat Sakura di kelas masih masih terbelalak, tak mampu bersuara ataupun sekedar menggerakkan kaki. Mereka bingung harus berbuat apa.
Sedangkan Haruno Sakura yang masih berada di dalam kawasan sekolah berlari tanpa henti tanpa tujuan. Sebuah album pink ia pegang erat. Matanya berkaca-kaca dan jantungnya meletup-letup tak nyaman. Sekarang... entahlah ia akan berlari ke mana.
Tapi yang jelas Sakura sendiri paham, bahwa sudah terjadi masalah besar di antaranya dengan Kakashi.
Mulai dari detik ini.
.
.
Di atas permukaan lantai koridor Korouha High School, Sakura terus berlari, mengayunkan kedua tungkai kakinya tanpa henti. Tak ia pedulikan langkah kakinya yang berisik saat bertolak dengan ubin-ubin di lantai sekolah. Yang ia lakukan hanyalah menaiki tangga demi tangga. Senggalan nafas lelahnya ia abaikan, juga degup jantungnya yang memburu, hingga akhirnya dia menemukan sebuah pintu di ujung tangga yang dia naiki.
Ia usap keringat dan jejak air mata, lalu mengadah. Dia ternyata telah di pintu menuju atap—sebuah kawasan yang berada di atas lantai empat gedung sekolah.
Saat ia buka pintu dan melangkah masuk, cahaya matahari siang menyapa kedua matanya yang sedang sembab. Surai merah mudanya bergoyang pelan diterpa angin sepoi-sepoi yang terhembus kepadanya.
Blam.
Sakura menutup pintu, dan kemudian menabrakkan punggung ke dinding sebelah pintu. Kedua matanya ia pejamkan sampai keningnya mengerut.
"Ah... ya, ampun..." Ia berdesis penuh sesal. "Apa yang barusan kuperbuat?"
Dia angkat permukaan tangannya. Telapak tangan kanannya merah. Masih terasa panas seperti terbakar.
"A-Aku... aku baru saja menampar seorang guru..."
Sakura menundukkan kepala sembari berdesis. Cuma itu yang bisa ia perbuat sampai akhirnya ia memandang kembali album foto yang baru setengah terbuka—akibat Kakashi yang sempat berusaha membukanya. Perlahan pandangan Sakura meredup. Ia pejamkan matanya sambil memeluk buku album itu. Erat.
"Tapi tidak apa. Setidaknya album ini tidak dilihat oleh siapa pun..."
Dan angin pun semakin kencang berhembus.
.
.
.
TEASTU ROMAN
"Teastu Roman" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Hatake Kakashi x Haruno Sakura]
Romance, Drama, Friendship
AU, OOC, Typos, etc.
.
.
CHAPTER ENAM
(VI) Album
.
.
Derap langkah pelan terdengar beriringan saat Hatake Kakashi, Sarutobi Asuma dan Morino Ibiki keluar dari ruangan kelas terakhir yang mereka razia. Dari map coklat yang mereka bawa di troli khusus, kelihatannya sudah ada banyak barang yang menjadi korban dari 600 tas para murid yang ada di Korouha High School. Beberapa ada yang pasrah, tapi tak sedikit juga yang mengemis minta ampun agar barang mereka dikembalikan secepatnya. Tapi guru-guru itu tak mau memberikan belas kasih. Terutama karena mereka belum kapok membawa barang-barang aneh, sekalipun sudah tau kalau sekolah ini gemar memberikan razia tiap empat bulan sekali. Karena bagaimanapun juga peraturan tetaplah peraturan.
Dan saat ini ketiga guru itu sedang berjalan menuju ruang guru. Seperti biasa; mereka akan meletakkan semua benda sitaan ke dalam lemari besar yang bisa menampung segalanya dengan aman. Tapi saat masih berada di koridor, Ibiki mendapati Hatake Kakashi yang sedang berjalan dengan tatapan kosong. "Kakashi."
Tak ada jawaban.
"Kakashi." Ia menaikkan nada panggilannya dan Kakashi menoleh.
"Ya?"
"Kenapa? Kau melamun?"
"Tidak." Pria berumur 26 tahun itu mencoba tersenyum. Senyum malas yang terkesan irit. "Aku tidak apa-apa."
"Aku tidak yakin." Asuma menimpali. "Sejak kau ditampar oleh murid—yang entahlah siapa namanya—itu, kau jadi melamun sepanjang razia."
Kakashi mendengus. Sebegitunya, ya? "Aku baik. Pikiran kalian saja yang terlalu berlebihan."
Pria yang memiliki codet di bibirnya itu menghela nafas. Dia berujar pelan. "Kusarankan kepadamu, jangan mentang-mentang dia adalah seorang siswi, kau jadi terlalu lembek kepadanya. Dia bisa saja bertindak lebih kurang ajar lagi nantinya."
Kedua sepatu hitam Kakashi berhenti melangkah. Asuma dan Ibiki menoleh bersamaan ke belakang. Sebelum bertanya, pria itu menimpali. "Tenang, aku tau apa yang harus dilakukan." Katanya sambil tersenyum. "Dia akan kuberikan hukuman yang sebanding. Tapi mungkin tidak sekarang—hanya kutunda. Lagi pula... cuma aku yang berhak menghukumnya, kan?"
Sedetik setelah ia mengatakan hal itu, ia pegang troli berisi map-map cokelat ke Ibiki lalu berbalik arah. Berjalan pelan dan kemudian menghilang di belokan.
Di dalam hati, Kakashi pun sudah mengetahui prinsip itu. Jujur saja, ia juga tidak suka sifat Sakura yang sudah dilihatnya sejak awal pertemuan mereka. Tapi ia mengerti dan juga yakin bahwa Sakura bukanlah gadis nakal. Toh, ia tidak merokok, berjudi, bertengkar atau mabuk-mabukan di sekolah, kan? Paling ia hanya memiliki bibit-bibit pemberontak. Apalagi saat gadis itu menamparnya tanpa pikir panjang. Tapi kalau dipikir-pikir pasti ada alasan di balik itu. Kalau tidak salah Sakura memang marah kan saat ia mencoba membuka album foto pink-nya?
Kira-kira apa isi album itu? Kenapa Sakura bertindak defensif seperti ada rahasia negara yang tak boleh ia ketahui di sana?
"Hh..." Kakashi menghela nafas. Dan sadar tak sadar, dapat ia lihat ada dua murid—laki-laki dan perempuan (sepasang kekasih)—yang sedang berangkulan di depannya, berbisik-bisik agak kencang.
"Eh, kita bolos, yuk. Aku malas ikut pelajaran sejarah."
"Bagaimana caranya bisa bolos dari sekolah ini, bodoh? CCTV di mana-mana."
"Iya sih. Ke atap saja, bagaimana? Kan bebas CCTV tuh."
"Jangan ah, awal masuk kelas tadi aku lihat ada adik kelas yang lagi nangis lari ke atap. Siapa tau dia masih ada di sana terus obrolan kita disimak sama dia. Kalau sepi kan suara-suara kecil jadi terdengar."
Kakashi meluruskan pandangannya dan merasa tertarik dengan obrolan mereka. Jadilah Kakashi sentuh bahu mereka masing-masing dari belakang dan tersenyum palsu. Kedua siswa-siswi kelas 11 itu menatap Kakashi dengan pandangan terkejut. Ada rasa takut yang tersirat di masing-masing wajahnya. Akibat ketahuan 'akan' bolos sama ketua kesiswaan, kali ya?
"Ma-Maaf, Sensei. Obrolan kami tadi cuma bercanda kok." Sambil melepaskan rangkulan, ia menyenggol rusuk pacarnya, meminta bantuan untuk penjelasan.
"Iya, kami akan cepat-cepat ke kelas. Sumpah." Dia ikutan panik.
"Tidak, bukan itu." Kalimat Kakashi berhasil membuat mereka berhenti gelagapan. "Siapa?" Pria berkemeja cokelat itu berkata. "Maksudku, siapa yang menangis?"
"Ng..." Siswi berambut pendek itu berpikir. Apa yang Kakashi maksud adalah siswi yang sempat ia lihat menangis sambil berlari ke atap itu? "Tidak tau juga sih. Tapi sepertinya ada adik kelas yang menangis sambil berlari."
"Berlari ke mana?"
"Atap, mungkin. Soalnya saat kulihat sekilas, dia mengarah ke ujung koridor lantai empat. Di sana kan cuma ada tangga menuju atap."
Kakashi berpikir sebentar, lalu ia menunjukkan rasa terima kasihnya dengan mengangguk kecil.
.
.
~zo : teastu roman~
.
.
Di atas atap, Sakura masih duduk di tembok samping pintu masuk. Kedua matanya menatap kosong ke arah langit, sedangkan kedua telinganya masing-masing disumpal earphone yang menyatukan isi pikirannya dengan dentuman lagu yang ia dengar. Sudah ia putuskan; kira-kira lima belas menit lagi—saat bel istirahat dimulai—ia akan turun ke kelas. Niatnya sih mengikuti sisa pelajaran sampai pulang. Tapi karena tau matematika adalah pelajaran selanjutnya setelah istirahat selesai, maka ia berniat hanya untuk mencari Ino dan Hinata agar menjelaskan kalau kepalanya sakit sehingga harus berbaring di UKS. Pokoknya apapun yang terjadi ia harus bolos matematika. Jadi setelah Kakashi selesai mengajar, barulah ia akan muncul lagi di pelajaran terakhir sebelum pulang, yaitu olahraga. Beruntunglah ia, Morino Ibiki hanya mengajar olahraga untuk kelas 12.
Sakura menghela nafas dan memandangi album yang sudah terbuka di tangannya. Sama seperti kelihatannya, benda itu memanglah sebuah album foto. Isinya berkisar Sakura, Sasori dan kedua orangtuanya saat mereka masih berempat. Kenangan manis yang datang membuat Sakura tersenyum lemah saat ia melihat foto Sasori dan dirinya yang bertengkar, tertawa bersama, dan digendong oleh Mebuki dan Kizashi, ayahnya.
Dan buat sekedar informasi, itulah alasan mengapa hanya ada Sasori tiap kali Sakura bangun di rumah. Ayahnya sudah meninggal, tak lama setelah cerai dari ibunya. Sedangkan Mebuki Haruno yang menjadi single parent harus kerja banting tulang di luar kota, lumayan jauh dari Tokyo. Setahun tiga kali beliau pulang, tapi itu pun cuma sebentar karena atasannya tak gemar meliburkan para pegawai lama-lama. Tapi tak apa, Sakura memaklumi. Ia masih punya Sasori.
Hanya saja hidup berdua dengan Sasori tak selamanya menyenangkan. Apalagi saat ia mengingat sebuah hal yang dapat ia temui di dalam album pinktersebut.
Lekukan di bibir itu menurun saat ia mengambil foto Sasori yang ber-gokuran hitam, baju SMA-nya. Ia pandangi foto itu sebentar lalu membaliknya. Ternyata di sana ada tulisan yang terbuat dari pena warna-warni. Yang tertulis:
'Sudah dari tiga bulan yang lalu Ibu meninggalkan aku berdua dengan Sasori-niichan di rumah. Awalnya aku sedih Ibu pergi, tapi lama-lama aku merasa senang. Senang karena sadar kisahku ini mirip cerita di komik-komik. Ah, tapi itu pun kalau Sasori-nii dan aku saling suka. Tapi bukannya itu disebut inses, ya? Tapi tak apa sih. Kakakku tampan soalnya~'
Sakura mual seketika. Tulisan jaman kelas 1 SMP yang memuakkan.
Lebih lagi saat ia mengambil acak salah satu foto keluarga dan melihat curhatan lain di belakangnya. Kalau tidak salah yang ini ia menulisnya pas kelas 6 SD, jaman ayah dan ibunya sering bertengkar hebat tiap hari.
'Tuhan... Sakura ingin ayah dan ibuku kembali damai di rumah. Tidak bertengkar terus seperti sekarang. Sakura bahkan sempat menangis saat melihat Ibu dibentak Ayah. Sakura luar biasa sedih hiks hiks hiks...'
Buat apa ia menulis suara tangisan? Buat apa juga ia mengganti kata 'aku' menjadi namanya sendiri? Sok imut sekali. Sakura menggigit lidahnya, malu.
Lalu ia beralih ke foto lain. Yang ini saat ayahnya sudah cerai dan tak lagi satu rumah dengan mereka bertiga.
'Sakura ingin Ayah kembali. Sakura ingin melihat Ayah bersama Ibu, berada di rumah saat aku pulang sekolah.'
"Gila... aku bahkan tidak kuat membaca lebih..."
Dengan muka merah segar Sakura menghempaskan foto-foto itu ke lantai di dekat lipatan pahanya dan menggaruk rambutnya asal-asalan. Di foto album berwarna pink tebal itu memang dipenuhi oleh tulisan curhat Sakura semasa SD sampai SMP. Tak tanggung-tanggung, banyak kalimat sok ngenes danfangirling di sana—terutama di masa-masa ia lagi suka banget sama Sasori dan saat orangtuanya akan cerai. Waktu itu sih kalau dibaca ulang fine-finesaja. Tapi kalau sekarang rasanya...
Malu. Mual. Bikin Enek.
Terutama apabila ia mengingat jelas kalau ingat dulu Sasori sempat membaca album itu dan tertawa terpingkal-pingkal sampai nyaris mati. Karena malu yang sudah mencapai ubun-ubun, ia nyaris membuang puluhan foto itu ke tempat sampah, tapi tak jadi. Jelas, di sana terlalu banyak foto kenangan yang tak akan bisa diulang oleh apapun. Karenanya Sakura selalu membawa album tersebut ke mana saja. Segeralah ia memasukkan kembali foto-foto itu ke album dan menutup kancingnya dengan gemas. Dia sudah menganggap album foto ini sebagai diary termemalukannya. Jadi sudah ia putuskan, tak ada yang boleh melihatnya. Bahkan seorang guru seperti Kakashi sekalipun.
Set.
Namun tak disangka, detik berikutnya buku itu diambil paksa oleh sebuah tangan lebar ke atas. Membuat Sakura sontak saja tersentak kaget.
"Jadi... tamparan keras itu hanya untuk buku diary tentang masa SMP, hm?"
Sakura luar biasa terkejut. Buku kuduknya meremang saat ia mendapati suara Hatake Kakashi, guru yang barusan ia pukul siang lalu, tepat di dekatnya. Tentu saja Sakura kelabakan. Dengan melepas kasar earphone yang dipakai, ia memutar posisi duduk, dan kemudian langsung tercengang. Kakashi yang telah berdiri satu jengkal di sampingnya. Tatapannya lurus ke bawah—ke wajah Sakura yang panik. Apa dia sudah membaca tulisan menjijikkannya tadi?
"A-Apaan-apaan kau, Sensei!? Sejak kapan kau di situ?!" Sakura pun berdiri, berniat menyambar kembali bukunya. Namun Kakashi sudah terlebih dulu menaikkannya tinggi-tinggi. "Kembalikan!"
"Tidak. Kali ini tidak." Kakashi tersenyum. Ia eratkan pegangan di diary tersebut dan kemudian menaruhnya di balik punggung. "Seperti peraturan sekolah yang awal, buku ini tetap kusita."
"A-Apa—!?"
"Tapi tenang, aku tidak akan membaca atau pun membukanya. Oke?"
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi."
Sakura memasang wajah merengut kesal. Ia terus tatapi guru tersebut dan berharap bukunya akan segera di kembalikan.
"Kecuali..." Kakashi memberi jeda. "Kecuali kalau kau bisa menjelaskan alasan apa yang membuatmu berani menamparku di depan kelas seperti itu—berhubung aku sudah tau sedikit dari isi dari foto-fotomu tadi."
Sakura membeku di tempat. Kedua tangan yang sempat terangkat—karena ingin merengut kembali diary-nya—kini sudah tergantung kembali ke sebelah pahanya. Membuat gerak yang seolah-olah menyerah padahal ia sudah keringat dingin dan merutuki dirinya sendiri. Jadi Kakashi benar-benar membaca tulisan di balik foto barusan. Persetan earphone. Pasti gara-gara benda tersebut dia jadi tidak sadar ada orang yang masuk ke atap.
Tapi sekarang ada yang harus ia lakukan: jangan membahas album diary tadi dan menggeser obrolan mereka ke topik yang baru Kakashi angkat.
"Apa maksud Sensei?"
"Iya. Kau tinggal bercerita kenapa karena masalah sesepele ini kau sampai bertindak kurang ajar seperti tadi. Selesainya, akan kuberikan album ini kepadamu."
Sakura melirik lantai. Tamparan keras untuk Kakashi itu benar-benar ia lakukan karena refleks. Album diary ini rahasianya. Hal pribadinya. Dan ia tidak suka jika ada orang yang membuka rahasianya di tempat umum. Kalau hal itu tersebar luas, bagaimana dengan nasibnya nanti? Mungkin ia tak akan lepas dari ejekan-ejekan menggelikan yang akan Naruto cs—geng anak-anak iseng—lontarkan kepadanya. "Untuk apa kau harus tau?"
"Aku guru. Dan aku berhak tau alasan apa yang sekiranya masuk akal sampai-sampai kau bertindak kurang ajar ke gurumu sendiri." Tanyanya. "Kau juga bisa cerita mengenai keluargamu agar permasalahan ini bisa kumengerti dan cepat selesai."
Sakura terdiam sebentar. Ada sebesit rasa bersalah yang melintas, terutama saat Kakashi datang ke sini tanpa terbawa amarah atas perbuatannya tadi siang. Tapi karena Sakura masih enggan bercerita, ia mencoba menepis semua kebaikan Kakashi yang pria itu tunjukan. Ia langgsung alihkan topik dan mengadahkan tangan. "Kembalikan album itu, Sensei."
Dia menggeleng. "Jelaskan dulu baru aku akan mengembalikannya."
"Sensei..."
"Tidak."
"Ini masalah keluargaku. Aku berhak tidak menceritakannya padamu."
"Maka dari itu kau belum berhak menerima buku ini."
"Terserah!" Sakura menggeram. "Aku sudah tak peduli kau mau mengembalikannya atau tidak! Baca saja jika itu membuatmu puas! Aku benci Sensei!"
Kesal, Sakura mendorong badan Kakashi sampai punggung pria itu membentur tembok. Rasa kaget yang ia dapati membuatnya tak sempat menahan Sakura yang mendadak berlari ke luar atap. Untung saat Sakura melewatinya dan berniat merebut albumnya, ia sempat menahannya kuat-kuat sehingga siswi itu keluar tanpa benda tersebut.
Kakashi berdecak kesal. Kali ini ia yang ikut tersulut emosi juga ingin mengejarnya. Namun sayang sebentar lagi ia harus mengajar di kelas 12. Ia bisa terlambat masuk jika belum menyiapkan buku paket yang akan dibawanya nanti. Jadinya pria itu menghela nafas panjang dan memandangi ulang buku album yang akhirnya dia dapatkan kembali. Kalaupun ia sudah tau apa isi album foto itu, juga tulisan yang sempat ia intip di belakangnya—saat Sakura membacanya—Kakashi sedikit kurang paham atas pemikiran Sakura. Perasaan kalimat seperti itu biasa saja baginya. Apa yang memalukan sampai Sakura menggeleng kacau saat membaca ulang tulisan-tulisan yang ada di sana?
Ada secuil keinginan untuk memeriksa ulang tulisan di tiap foto yang terpajang di sana. Ingin mencermatinya secara teliti. Tapi karena terbayang wajah Sakura yang memelas di benaknya, dia menahan diri. Lagi pula ia sudah berjanji—buku tersebut disita, dan ia tidak akan membuka album itu. Jadilah ia berakhir mengusap rambut jabriknya dengan malas.
"Hh, dasar..."
.
.
~zo : teastu roman~
.
.
Sreek.
Sakura memasuki ruangan kelas dengan tiba-tiba. Wajah yang sengaja ia basahkan di toilet tak menutupi matanya yang bengkak. Dan berhubung saat itu adalah waktunya istirahat, tentu saja Ino dan Hinata yang menyadari kehadirannya langsung segera menyambutnya dari dalam kelas.
"Sakura, kau tidak apa? Matamu kok sampai seperti ini?" Ino memegang pipi Sakura, dan Hinata menatapnya cemas.
"Tidak. Aku tidak apa. Terima kasih atas perhatiannya..."
"Sesudah razia Kakashi-sensei bilang ia mencarimu. Kau tadi bertemu dengannya, tidak?"
Sakura menghela nafas. Lagi-lagi nama yang tak ingin ia dengar itu kembali disebutkan. "Entahlah, aku tidak tau."
Gadis itu berjalan ke meja terdepan, mengabaikan pandangan penasaran dari murid-murid lain, dan langsung menaruh dahi di lipatan tangannya di meja. Ino berniat mendekat tapi Hinata menahannya. Mungkin Sakura butuh waktu untuk menenangkan diri lagi. Karenanya dengan lembut ia tarik Ino keluar kelas, mengajaknya ke kantin. Dalam hati Sakura berterima kasih pada Hinata dan mulai fokus untuk mengosongkan pikirannya hingga gelap.
Dia mau tidur.
"Sakura kenapa, ya?" Hinata yang sedang berjalan ke kantin menatap Ino yang ada di sebelahnya. "Apa Kakashi-sensei sudah memarahinya?"
"Entahlah. Doakan saja belum. Kasihan juga aku melihatnya..." Lalu gadis ber-ponytail itu menghela nafas. "Kalau aku jadi Sakura, sesudah menamparKakashi-sensei mungkin aku akan segera pulang. Bingung harus berbuat apa."
"Tapi... bagaimana bisa? Tau sendiri kan gerbang sekolah selalu tertutup dan terbuka sesuai jadwal?"'
"Oh, iya." Lalu mata aquamarine-nya sedikit menyipit saat ia teringat sesuatu. "Bicara soal jadwal... habis istirahat kita akan ada pelajaran apa saja?"
"Mm... matematika sama olahraga."
"Matematika?" Ino menelan ludah. Yang ia bayangkan saat ini adalah guru yang sebelumnya ditampar keras oleh Sakura. Hatake Kakashi namanya. "Jadi... Sakura akan dihadapkan ke situasi yang berbahaya lagi dong, ya?"
.
.
~zo : teastu roman~
.
.
Jam 13.30 siang, bel yang sedari tadi ditakuti oleh dua siswi kelas 10-1 itu berdering.
Ino dan Hinata semakin cemas saat ia lihat Sakura masih tidur di meja dengan posisi yang sama—membenamkan wajahnya ke lipatan tangan. Berhubung Sakura juga sudah tidak menangis atau bad mood, Hinata memberanikan diri membangunkannya yang terlelap. Tapi hasilnya? Nihil. Sakura tidak bisa dibangunkan.
Apa karena sentuhan Hinata terkesan takut-takut sehingga tak ada rasanya, ya? Ino yang memperhatikan Hinata dan Sakura dari belakang berniat menghampirinya, membantu membangunkan Sakura. Tapi apa daya, saat ia berdiri Kakashi sudah membuka pintu kelas. Masuk lima menit lebih cepat dari biasanya. Tumbenan Kakashi seperti itu—ah, atau dia memang mau buru-buru bertemu dengan Haruno Sakura?
Kakashi yang datang membuat Hinata semakin tak bisa berkutik. Apalagi saat Kakashi memperhatikan gadis itu langsung di detik-detik awal sepatu hitamnya memasuki ruangan. Pandangannya seram. Dan dia sempat melirik juga ke Hinata agar tak mengurusi Sakura di meja sebelah.
Tau dengan keadaan Sakura, Kakashi meletakkan bukunya di meja guru dan menunggu murid-murid yang baru masuk kelas untuk segera duduk di tempatnya masing-masing. Lalu dia berdeham. "Selamat siang."
Dan saat kelas dimulai, jadilah Ino dan Hinata berdoa dalam-dalam agar Sakura diberikan keselamatan oleh Tuhan.
"Ya, mari kita bahas materi pelajaran kita yang sebelumnya. Minggu depan kita akan ulangan." kata Kakashi sembari berdiri. Pria berambut perak itu sudah menyiapkan spidol hitam untuk menorehkan tulisan tangannya di whiteboard.
Namun karena matanya terus memperhatikan Sakura yang tak bergerak di posisinya, terus meletakkan kepalanya di tumpukan tangan, pria itu tidak jadi menulis deretan angka di papan tulis. Ia malah menutup spidolnya dan kemudian berdecak dengan wajah datar. Hinata yang melihat jelas ekspresi pria itu menelan ludah. Apalagi saat ia menyadari arah pandangan Kakashi yang sepertinya sangat tertuju ke Sakura seorang.
Tep.
Kakashi pun melangkah mendekat. Iris lavender Hinata semakin mencerminkan kepanikan yang jelas. Tapi ia sudah tidak bisa menolong Sakura lagi kalau Kakashi telah berdiri tepat di depan bangku Sakura seperti sekarang. Sontak saja suasana kelas berubah gelap, layaknya mencekam. Iris tajam Kakashi terus tertuju kepada Sakura yang masih tiduran di meja.
"Haruno..." Panggilnya.
Tak ada respons.
"Haruno Sakura..."
Lagi, tak ada jawaban.
Murid-murid sekelas meneguk ludah.
"Haruno Sakura!"
Suara berintonasi tinggi itu tak berefek. Dengan menghembuskan nafas, pria itu mengambil penggaris panjang yang berukuran 100 cm, dan Ino dari kejauhan menutup mata. Pasti Kakashi ingin mengagetkan Sakura dengan cara menjatuhkan penggaris tersebut ke permukaan meja. Tapi tiga detik sebelum Kakashi mengangkat tinggi penggarisnya, tiba-tiba ada sebuah pengumuman keras dari speaker.
'Pengumuman: murid kelas 10 dan kelas 11 diharapkan untuk memasuki ruangan function hall di lantai satu untuk mengikuti seminar pendidikan...'
Pengumuman yang menggema ke satu gedung SMA itu terdengar kencang. Dan karena murid-murid yang saat ini dia ajar adalah murid kelas 10, Kakashi menurunkan penggarisnya dan segera melipat kedua tangan di dada.
"Kalian dengar pengumuman tadi?" Katanya perlahan. "Silahkan ke bawah."
"Baik, Sensei..." Dengan cepat semua murid menjawab.
Bersamaan dengan suara geseran kaki bangku karena para murid langsung berdiri, sang ketua kelas, Shikamaru nara memberikan aba-aba. "Bawa tas kalian juga. Ada pemberitahuan setelah seminar nanti kita langsung ke bawah untuk olahraga."
Hinata mengiyakan sebentar, lalu sambil beres-beres tas ia melirik Sakura yang belum berkutik sejak beberapa menit yang lalu. Sepertinya gadis itu masih terlelap di tempatnya sampai-sampai tak ada suara apapun yang bisa tertangkap oleh telinganya.
"Sakura-chan, ayo bangun... kita mau—"
"Jangan." Tiba-tiba ajakan Hinata dihentikan oleh Kakashi. Ino yang sebelumnya juga akan mengguncangkan punggung Sakura langsung tak bergerak karena ada guru yang melarang.
"Kenapa?" Ino yang baru mendekat ke meja depan terheran.
"Biarkan dia di sini." Kakashi tersenyum. "Kalian duluan saja."
"Tapi kan Sakura juga harus ikut seminar, Sensei..."
"Tidak. Ini hukuman dariku karena ia telah berani tidur di kelas." Katanya, dan kemudian dua gadis di hadapannya terdiam. "Jadi kalau di mau ke bawah, ia harus bangun terlebih dulu."
Ino dan Hinata saling berpandangan. Tatapan mereka luar biasa cemas.
Dan Kakashi membagi separuh senyumnya.
"Tenang. Biar aku yang mengurusi anak nakal ini..."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Zoccshan's Note
Alasan Sakura nampar Kakashi terkesan sepele, ya? Oke, aku akuin memang sepele, tapi jujur aja 'ngga sepele sama sekali' kalau memang isi di buku tersebut berisi hal-hal privasi. Aku aja pernah frustasi pas buku ide fict-ku (tempat aku biasa nulis ide di waktu senggang) nyaris mau dibaca guru yang kepoan. Serem, ngga mau dia liat, takut diejek, malu. Intinya gitu deh.
Terakhir, jangan kebiasaan tidur di kelas, ya. Kalau nanti ditinggal temen-temen tanpa dibangunin kan ga lucu (ya lucu sih bagi yang lain). Scene ditinggal-pas-tidur-di-kelas ini pasti pernah kalian saksiin sendiri di sekolah. Biasanya sih murid cowok yang kebablasan kayak gitu :))
.
.
Thanks for Read & Review!
Special Thanks to
Rin Carrae, palvaction, Aerizna Yuii, Rie Megumi, ulvha, MizuKaze Naru, yukumpme, Kiki RyuEunTeuk moonlightYagami, zeedezly-clalucindtha, Luca Marvell, Shuben, Taskia Hatake46, yassir2374, JunShiKyu, YutaUke, Namuchi, stillewolfie, Guest, Mrs Sasori, temaram senja, Philaniachan, Guest, yuri rahma, dekdes, Stacie Kaniko, Shirayuki Ai, no name, Guest, LMNTRX-SKY, Clara Merisa, anon, Guest.
.
.
Pojok Balas Review
Penasaran sama isi album Sakura. Begitulah, haha. Twins Alert update dong. Done. HEA kapan update? Ngg. Kakashi keren di sini, mirip guru sejarahku. Masa iya? :D Kayaknya yang naksir duluan si Kakashi deh. Amin. Kenapa Kakashi getol banget cari kesalahan Sakura? Apa hayo? Lol. Fict ini mirip banget sama kisahku. Baguslah ;) King's Wife-nya kapan update?Sebentar lagi.
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
