Previous Chap
"Biarkan dia di sini." Kakashi tersenyum. "Kalian duluan saja."
"Tapi kan Sakura juga harus ikut seminar, Sensei..."
"Tidak. Ini hukuman dariku karena ia telah berani tidur di kelas." Katanya, dan kemudian dua gadis di hadapannya terdiam. "Jadi kalau di mau ke bawah, ia harus bangun terlebih dulu."
Ino dan Hinata saling berpandangan. Tatapan mereka luar biasa cemas.
Dan Kakashi membagi separuh senyumnya.
"Tenang. Biar aku yang mengurusi anak nakal ini..."
.
.
Ketika seluruh murid telah keluar dari kelas dan menuju ke function hall, suasana sepi lah yang didapati Kakashi di ruangan kelas 10-1 ini. Namun sekarang dia tidak sendirian, ada seorang murid yang masih tersisa di sini dan menemaninya. Siapa lagi kalau bukan Haruno Sakura? Gadis yang awal siang ini membuat masalah dengannya kini sedang terlelap di dalam kelas, sama sekali tak terbangun walau teman-teman yang lain sudah pergi meninggalkannya.
Kakashi menarik nafas sebentar dan kemudian menghelanya perlahan. Dia pandangi deretan meja terdepan yang hanya dihuni oleh satu orang—Sakura. Sekalipun suasana kelas telah senyap tak bersuara, gadis itu masih tak bergeming dari tempatnya. Mungkin ia benar-benar tertidur, tak sadarkan diri, padahal pada awalnya Kakashi mengira bahwa Sakura cuma sekedar pura-pura tidur.
Ia menatap lagi muridnya yang masih membungkuk, menaruh kepala di atas lipatan kedua tangannya yang menyilang. Kakashi rapikan peralatan tulisnya dan bergegas pergi. Namun baru saja ia mematikan lampu ruangan dan berniat keluar kelas, ia lirik lagi Sakura yang belum berkutik dan melemparkan pandangannya ke sederet jendela yang menampilkan suasana siang yang teduh.
Dia berdecak, agak kasihan. Kalau saja dia sedikit lebih jahat, mungkin ia sudah melaksanakan rencananya; yaitu meninggalkan Sakura sendiri di kelas, mematikan lampu, lalu meninggalkannya begitu saja seolah kelas sudah benar-benar kosong. Jadi mungkin saat gadis itu bangun—pada saat malam, mungkin—dia akan menjerit ketakutan dan kalang kabut.
Tapi karena sadar bahwa ia adalah guru di sini dan punya sisi kedewasaan yang masih mendominasi, akhirnya Kakashi kembali meletakkan buku dan alat tulisnya ke mejanya di depan papan tulis dan melipat kedua tangannya di dada. Apapun situasinya agak sulit jika ingin memberikan hukuman itu ke Sakura. Kalau nanti penjaga sekolah yang mengunci ruangan ini dari luar dan dia tidak bisa pulang, bagaimana? Pasti akan jadi kasus lain yang akan menghebohkan seantero sekolah, bukan?
Kakashi putuskan menarik bangku di depan meja Sakura dan duduk di sana. Pria itu bertopang dagu dengan wajah malas.
Dari suasana yang sepi dan senyap ini, hanya dapat ia dengarkan suara detikan jam bulat di dinding dan dengkuran halus dari anak muridnya yang bersurai pink ini. Alur nafasnya normal dan dia terlihat nyaman tidur dengan tubuh yang tertekuk seperti itu. Kakashi pun mengarahkan telunjuknya ke kepala Sakura, ia miringkan wajah siswi itu dengan dorongan kecil.
Dan saat ia lihat, kepala Sakura sudah tergeletak menimpa telinga kanannya. Terpampanglah wajah Sakura yang memerah. Keningnya apalagi—karena menjadi tumpuan berat kepalanya. Tak hanya itu, selain pipi yang memerah, air mata membasahi sekujur muka Sakura. Di meja saja sampai ada genangan cairan bening. Entahlah itu apa air mata, ingus apa memang keduanya yang sudah tercampur. Yang jelas Kakashi tak sengaja dibuat tertawa lepas olehnya.
Sepertinya setelah ia mengambil album itu dari Sakura, gadis itu ke sini dan menangis tanpa henti hingga ia tertidur. Lihat saja penampilan gadis ini yang biasanya rapi saja sampai begini.
Kakashi pun menyeringai pelan.
"Kalau begitu... sekarang kita lihat seberapa lama kau bisa tertidur di sini..."
.
.
.
TEASTU ROMAN
"Teastu Roman" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Hatake Kakashi x Haruno Sakura]
Romance, Drama, Friendship
AU, OOC, Typos, etc.
.
.
CHAPTER TUJUH
(VI) Empat Mata
.
.
Jam demi jam terlewat. Ruangan dalam kelas 10-1 yang ditempati oleh dua orang kini jadi semakin sepi layaknya tak berpenghuni. Haruno Sakura yang sudah terlalu lama mengistirahatkan diri pada akhirnya merasa mulutnya yang sedikit terbuka menjadi kering. Perlahan-lahan ia buka sedikit kelopak matanya yang bengkak dan mencoba menerawang pemandangan yang ada di hadapannya.
Tapi sadar ia berada di tengah kegelapan, langsunglah ia menegakkan badan dan tersentak. Ia meringis sakit saat ia dapati punggungnya yang kaku—yang sudah terlalu lama tertekuk—ia luruskan tiba-tiba. Pegal luar biasa.
"Aduh, punggungku..." Gumamnya sambil mencoba bangkit. Selain bunyi bangku yang bergerak, ada juga bunyi 'ctek' yang mengiring tubuhnya saat ia meregangkan badan. Sambil menguap lebar dia mengusap wajahnya yang lengket. Beberapa detik mengumpulkan nyawa, ia coba memfokuskan pandangan dan berpikir. Sepertinya saat ini ia berada di dalam kelas yang tak disinari lampu. Tak hanya itu, pemandangan jendela di luar pun sama gelapnya.
"Kenapa aku... bisa masih ada di sini?" Dia menelan ludah. "Di mana yang lain?"
Sakura yang kesadarannya baru pulih langsung cemas seketika. Sambil menghitung sudah berapa jam dia tertidur di sini, dia berniat mengambil tas dan—
"KYAAA!"
Sebisa mungkin ia tahan teriakannya dengan cara membekap mulut. Sebab di depannya... saat ini... ada seorang pria. Dari siluet yang dia tangkap di bawah naungan sinar malam luar, orang itu berambut jabrik, berpakaian kemeja gelap. Posturnya juga bukan seperti teman sekelasnya. Apa dia adalah...
Sakura menelan ludah.
Hatake Kakashi?
Sakura mengamatinya lama-lama. Pria itu menidurkan kepalanya di meja yang sama—mejanya. Posisinya pun tak jauh berbeda dengannya. Dia tidur dengan badan yang condong ke depan, juga kepala ditaruh kedua tangannya yang sudah terlipat di atas meja. Bedanya kalau Sakura tadi tidur di area meja kanan bawah, Kakashi di area kiri atas. Pria itu kelihatannya sengaja menaruh bangku di depan meja.
Tapi dibanding itu semua... ada sebuah pemikiran yang memasuki otak Sakura.
Jadi selama ia tidur, Kakashi juga tidur di sini? Di mejanya juga? Kepala mereka berdekatan? Begitu?
Nyaris tak bisa bernafas, Sakura kaku di tempatnya. Terlebih lagi saat ia menyadari hanya dirinya dan Kakashi lah yang tersisa di ruangan gelap ini. Tanpa adanya kehadiran seorang pun di dalam kelas. Tak ada Ino, tak ada Hinata, tak ada teman-teman kelas 10-1-nya yang lain.
Mereka cuma berdua.
Ya, cuma berdua.
"—!" Lagi, Sakura nyaris berteriak, tapi ia tahan kuat-kuat agar tak membangunkan Kakashi yang masih terdiam di tempatnya. Mungkin ia akan jauh lebih malu jika pria itu sadar dan mulai membicarakan dirinya yang berakhir tidur di kelas sampai sekolah bubar. Sakura yang matanya masih setengah sembab itu langsung mengambil tas dan segera terbirit-birit ke pintu keluar. Inginnya langsung melarikan diri dari sana, meninggalkan Kakashi seorang diri. Tapi sepertinya Sakura sedang sial hari ini.
Ckrek!
Terkunci. Pintu kelasnya terkunci. Sama sekali tidak bisa terbuka.
Ckrek!
Ckrek!
"Ah! Bagaimana iniii!?" Tanpa sadar Sakura memekik frustasi. Kedua tungkai kakinya lemas dan rasanya ia akan segera bersujud dan berdoa pada Tuhan agar dirinya dihilangkan dari muka bumi ini sekarang juga. "Aku mau keluaar!"
"Kau sudah bangun rupanya?"
Tubuh Sakura membatu seketika. Degup jantungnya membeludak kencang. Persis selayaknya orang yang baru saja lari maraton 1000 meter. Ia pun menelan ludah dan segera menoleh. Dan benar saja, Kakashi yang terlihat akibat sinar bulan dan lelampuan di luar sana membenarkan posisi duduknya dan menatap Sakura dengan mata sayunya yang khas. Mata obsidiannya baru satu yang terbuka—itu pun setengah. Sisanya masih terpejam karena kantuk. Ia lalu menguap kecil dan mengusap poninya ke belakang.
Sakura meringis. Segeralah ia memalingkan wajah agar tidak terlalu lama menatapnya. Masalahnya entah karena otaknya lagi tak berfungsi maksimal atau apa, beberapa detik yang lalu ia baru saja memuji ketampanan sang guru yang berada di depannya itu. Benar-benar sebuah pemikiran yang harus Sakura cepat-cepat buang ke recycle bin otaknya.
"Kenapa... Sensei ada di sini? Te-Terus ini jam berapa? Mana yang lain?"
Pertanyaan sok-ketus-padahal-gagap itu berbarengan dengan Kakashi yang menyandarkan punggung ke kursi. Pria itu menatapnya datar, lalu ia arahkan jari telunjuknya tepat ke dinding. Di sana ada jam bulat yang dengan senang hanti menunjukkan waktu dini hari. Yaitu jam delapan kurang.
"Sekarang 19.48, dan yang pasti teman-temanmu sudah pada pulang."
"La-Lalu kau sendiri kenapa masih di sini—?"
"Aku?" Kakashi menyela. "Tentu saja aku disini karena menunggumu, bodoh."
Sakura mengerjap tak mengerti. "Apa maksudmu?"
Kakashi menghela nafas malas. "Siapa suruh tidur di jam pelajaran matematika? Kau bahkan sudah tidur dari awal aku masuk kelas sampai teman-temanmu beralih ke pelajaran olahraga dan pulang."
Sakura tersentak. Pipinya memerah. Tak dia sangka rasa lelah akibat menangis sanggup membuatnya terlelap seperti orang mati di meja kelas. Benar-benar tak terbayangkan bisa jadi seperti ini. Sakura yang pusing lantas memijat keningnya dengan tangan. Ganti topik. Dia harus ganti topik.
"Lalu kau sendiri untuk apa ikut tidur juga di sini? Harusnya saat kau menyuruhku bangun, jadi aku tidak akan berakhir di kelas sampai semalam ini! Apalagi denganmu!"
Kakashi mendengus geli. Masih dari meja ia perhatikan ekspresi marah-marah Sakura yang dari tadi berdiri membelakangi pintu masuk. "Awalnya aku berniat menghukummu. Membiarkan kamu tidur di sini sendirian sampai malam—yah, sebisanya kau bangun lah." Jelasnya. Lalu ia lepaskan wajah sinisnya dan terkekeh sesaat. "Tapi saat aku lihat kepalamu yang berbaring di atas genangan air mata aku jadi sedikit kasihan. Dan sepertinya aku juga ketiduran saat terlalu lama memperhatikan wajahmu."
Sakura tak henti-hentinya menganga lebar. Ia sampai tidak sadar kedua belah bibirnya terus terbuka selama beberapa detik.
Kesimpulannya... Kakashi terus-terusan memperhatikan wajahnya saat tidur? Apa dia tak salah dengar?
"Da-Dasar guru menyebalkan!" Gadis itu tak bisa menahan kedua pipinya untuk merona hebat. Ada sebuah perasaan geli yang menjalar di perutnya. Mungkin itu malu, Sakura berpikir. Sebab sensasi apa lagi yang akan dia rasakan ketika ada orang yang melihatnya saat tertidur? Tertidur biasa saja tampangnya sudah aib, bagaimana penampilannya saat ia tidur dengan mata bengkak habis menangis dan hidung yang dimeleri ingus?
Hatake Kakashi benar-benar guru yang selalu membuatnya tersiksa.
Tak tahan, Sakura segera membalikkan badan, menyalakan lampu, lalu menggedor-gedor pintu. "Tolooong! Ada orang tidak di luar!? Aku terkunci di dalam! Tolong buka pintunyaaaaa!"
Kakashi sweatdrop melihat kelakuan murid bersurai merah muda itu. "Jangan teriak-teriak, nanti ada yang salah paham kalau melihat kita di sini."
"Diamlah!" Sakura mendelik. Wajahnya kali ini dua kali lipat lebih memanas. "Pokoknya aku mau keluaar!"
Kakashi angkat bahu. Toh, sebenarnya mereka memang tidak sedang terkunci. Dia lah yang justru meminta petugas pengawas sekolah untuk memberikan kunci pintu kelas 10-1 kepadanya, sehingga ia bisa mengunci pintu ini dari dalam. Kuncinya saja ada di saku kemejanya. Tapi tenang, Kakashi tak ada minat yang buruk ke Sakura. Dia hanya melakukan itu karena satu hal—takutnya saat ia ketiduran, Sakura bangun dan balas meninggalkannya sendirian di sini. Bukannya itu sama dengan arti senjata makan tuan?
"Sudahlah... kalau terkunci, pintu itu tidak akan terbuka dengan sendirinya."
Sakura cemberut. Tapi sebelum ia bertindak hal lain, ia jadi teringat sesuatu. Abad ke-20 kan telekomunikasi sedang berkembang. Kenapa dia tidak menelefon Ino atau Hinata saja? Minta mereka mencarikan kontak guru—Kakashi tak dihitung—maupun petugas yang berjaga di depan pos sekolah untuk membantunya keluar dari sini.
Sakura pun merogoh tas. Ia ambil ponsel dan dirinya menjerit melihat icon baterai yang nyaris habis. "Lowbatt... dan tak ada sinyal..." Hal terakhir yang ia lihat sebelum ponselnya benar-benar mati adalah pesan dari Haruno Sasori yang belum dia baca. Mungkin pria itu lagi pulang cepat dan sadar kalau adik semata wayangnya belum datang dan mengabarinya padahal sudah larut seperti ini. Dia bisa mati kena ceramahan panjangnya lagi pas pulang nanti.
Berat hati Sakura menatap Kakashi. "Sensei... pinjam ponsel..."
"Ada di ruang guru." Kakashi menjawab santai.
Sakura berdesis. Kali ini ia tambahkan dengan menendang pintu kelas. "Kenapa hari ini aku sial sekali sih!?"
Bukannya ikut berduka seperti muridnya, guru tampan itu malah tersenyum. Kepalanya menggeleng pelan sok prihatin. "Kau sudah selesai?"
"Selesai apanya?" Tanyanya, kesal.
"Selesai menangis."
"Eh? Apa maksudmu?"
"Maksudku kau tidak sedih lagi kan sekarang?"
Sakura bersungut. Pasti dia bermaksud menyinggung dirinya yang menangis karena album fotonya diambil. "Iya, tapi sekarang aku kesal."
Kakashi tersenyum. Tangannya bergerak terayun, memberikan isyarat agar Sakura bisa mendekat kepadanya. "Sini sebentar."
"Buat apa?"
"Ke sini dulu."
Ogah-ogahan Sakura mengikuti perintahnya.
"Apa?"
"Ini."
Kakashi menyodorkan sebuah buku album pink yang masih terkancing rapi. Dan tentu saja Sakura terbelalak lebar. Bibirnya yang saat ini membuat O besar perlahan-lahan menjadi garis datar kembali. Tatapannya terpana penuh ketidak-percayaan. "Be-Benarkah? Ini boleh kuambil lagi?" Katanya, ragu. "Ng... terima kasih."
Sakura menggenggam albumnya yang cukup besar itu dan kemudian menghela nafas lega. Kakashi yang memperhatikannya berkomentar. "Cuma karena album saja kau bisa sampai nangis berkali-kali."
Sakura mengerucutkan bibir. Pengalaman mengerikannya di hari ini memberikannya pelajaran atas dirinya yang gegabah hanya karena masalah sesepele ini. Tapi tetap saja, hal yang sudah terjadi tak bisa diubah, kan? "Ini album penting, tau."
"Iya, aku tau. Album yang berisi kenangan masa lalu, kan? Perasaan sama saja dengan album normal lainnya."
"Kau melihat isinya?"
"Tidak."
"Sensei bohong..."
"Aku cuma lihat yang pas kau buka di atap—ya, aku memang mengintipnya."
Sakura terdiam. Ia hela nafas kencang-kencang dan kemudian menatap Kakashi. Nyaris semenit terlewat, Sakura membuka suara. Ia mencoba memberanikan diri untuk bercerita. "Ini album diary-ku pas kecil. Tiap foto pasti ada curhatanku di belakangnya."
"Apa kau tidak bisa meletakkan album itu di rumah—tak perlu kau bawa-bawa?"
"Aku takut kalau kutaruh di kamar album ini akan dibaca kakakku. Pernah kejadian soalnya."
"Memangnya ada apa dengan isinya?"
"Isinya menjijikkan!"
"Saat kubaca sekilas tampaknya biasa saja."
Sakura nyaris mengeluarkan kalimat pembelaan dirinya namun Kakashi terlebih dulu menatapnya lekat.
"Kecuali kalau kau mau menceritakan soal masalah keluargamu, kupikir nanti aku akan mengerti."
Itu tandanya Kakashi melihat curhatannya saat dia membahas tentang ayah dan ibunya yang bertengkar. Sakura menelan ludah. Cerita apa tidak? Sakura menggigit bibir. Ah, sudahlah ya. Masa lalu juga, kan?
"Aku sebenarnya tak ingin membicarakan ini. Tapi..." Sakura mencoba berbalik memunggungi Kakashi. Ia tidak ingin terlihat seperti orang curhat. "Intinya ayah dan ibuku sudah cerai."
Kakashi mengangguk sesaat. "Lalu sekarang kau tinggal dengan...?"
"Kakakku."
"Kakakmu saja?"
"Iya." Sakura menatapnya dengan pandangan tak enak. "Ayahku meninggal setahun setelah cerai dari ibuku. Dan ibuku... dia memutuskan untuk bekerja di luar kota, pergi dari tempat yang memiliki banyak kenangan dengan ayah."
Hening sesaat dan kemudian Sakura mencoba membuat simpul di bibir. "Tapi tak apa. Kakakku dewasa dan baik. Aku bahagia walau cuma tinggal berdua dengannya."
Kakashi balas tersenyum dan mengangguk. Untuk sedetik Sakura merasa bahwa itulah senyuman Kakashi yang paling tulus untuknya.
"Sebenarnya tak ada hal aneh yang kutulis di album ini. Hanya saja aku malu jika ada orang yang membacanya. Itu saja. Karena itu... aku panik saat kau membukanya di depan kelas."
Sakura memandang lantai, menunduk dalam.
"Dan sekarang aku baru sadar kalau sikapku padamu mungkin memang sudah keterlaluan..."
Kakashi tersenyum tipis. Akhirnya gadis ini menyesal juga. "Baiklah, aku mengerti. Terima kasih atas ceritanya."
"Eh?"
Srek.
Bertepatan dengan itu Kakashi berdiri dari bangkunya. Pria itu pun berjalan ke arah Sakura yang masih mematung di tempatnya berdiri. Melewatinya begitu saja dan kemudian terdengar suara kunci yang terputar. Pintu kini sudah pria itu geser agar terbuka, lalu Kakashi berucap pelan.
"Lain kali mungkin kita harus menghabiskan waktu berdua untuk berbicara lagi."
Sakura merengut saat tau kunci pintu ternyata dipegang oleh Kakashi, tapi karena situasi sedang tak memungkinkan, ia hanya melangkah keluar kelas dan menyipitkan mata. Memberikan pandangan sinis. "Tapi jangan harap kita sudah baikan, Sensei."
Kakashi menatapnya sengit, walau dengan seringai tipis. "Kau mencuri kalimatku, Sakura."
Sakura berjengit sendiri saat namanya dipanggil oleh guru itu. Terkesan berbeda dan... kali sedikit membuat jantungnya bergetar. "Jangan panggil aku dengan nama kecil!"
Kakashi tertawa dan Sakura berlari di koridor menuju tangga.
Setelah dia keluar gedung sekolah duluan, Sakura yang capek berlari berusaha menormalkan paru-parunya kembali dengan helaan nafas kencang. Lagi-lagi ia majukan kedua belah bibirnya. Lantas ia mencibir. "Kakashi-sensei no baka..."
Ia mengeratkan pegangan di tasnya dan kemudian berjalan pulang dengan langkah yang tergopoh-gopoh.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Zoccshan's Note
Apa sekarang mereka udah bisa dibilang baikan (dikit)? :))
.
.
Thanks for Read & Review!
Special Thanks to
TaskiaHatake46, Miss Hyuuga Hatake, Uzumaki NaMa, YutaUke, moonlightYagami, palvection, Kiki RyuSullChan, Ichika, uchiha yardi, Namuchi, philanichen, Indan, ludiharistiadi, Yoshikuni Chiakii d'BlackPhantom, dekdes, apikachudoodoll, Luca Marvell, JunShiKyu, Stacie Kaniko, Rizu E09-Zu, Jackquin.
.
.
Pojok Balas Review
Aku kira di dalem album itu ada sesuatu yang lebih mendebarkan. Haha, lain cerita kalo album itu isinya rahasia ratem atau rahasia negara. Awalnya aku suma suka SasuHina, sekarang kayaknya nambah jadi KakaSaku. Thankss. Makin suka Kakashi. Kalau Kakashi-nya agak lunakan masih suka? Keinget jaman SMP ngga boleh bawa hape, sampe diumpetin di sepatu. Kisah kita sama persis kalo gitu :)) Bilang aja Kakashi mau berduaan sama Sakura. Lol. Tsundere, ya. Aku juga pernah ngalamin hal yang Sakura alamin, tapi ngga ada romance-romance-nya. Haha, RT.
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
