Previous Chap

"Tapi jangan harap kita sudah baikan, Sensei."

Kakashi menatapnya sengit, walau dengan seringai tipis. "Kau mencuri kalimatku, Sakura."

Sakura berjengit sendiri saat namanya dipanggil oleh guru itu. Terkesan berbeda dan... kali sedikit membuat jantungnya bergetar. "Jangan panggil aku dengan nama kecil!"

Kakashi tertawa dan Sakura berlari di koridor menuju tangga.

Setelah dia keluar gedung sekolah duluan, Sakura yang capek berlari berusaha menormalkan paru-parunya kembali dengan helaan nafas kencang. Lagi-lagi ia majukan kedua belah bibirnya. Lantas ia mencibir. "Kakashi-sensei no baka..."

Ia mengeratkan pegangan di tasnya dan kemudian berjalan pulang dengan langkah yang tergopoh-gopoh.

.

.

Sakura ingat persis apa yang terjadi di antara ia dan Hatake Kakashi di bulan lalu.

Dia menampar seorang guru hanya karena masalah razia, merutukinya setengah mati, dan kemudian menangis di meja kelasnya sampai ia tak sadarkan diri; tidur karena kelelahan. Saat terbangun dengan wajah lengket oleh air mata yang mengering, tau-tau dirinya sudah ditinggal oleh murid-murid sekelas, dibiarkan terkurung berdua bersama Kakashi di dalam kelas yang sepi. Di momen itulah Sakura disuruh menceritakan kisah album pink tersebut dan masalah keluarganya ke pria tersebut. Barulah setelahnya dia dibebaskan dari kelas, dan mereka pulang ke rumah masing-masing.

Lemas rasanya kalau mengingatnya lagi. Terutama di bagian ia menceritakan latar belakang keluarganya dengan guru yang paling ia benci itu. Antara malu, geli, kesal dan pasrah.

Tapi masalahnya setelah berbicara empat mata dengan Kakashi, amarah Sakura yang terkumpul pada Kakashi sejak awal dirinya masuk SMA—dendam pernah diusir dari sekolah karena terlambat, dijewer bahkan di strap depan koridor—langsung tersapu habis, hilang dalam sekejab. Bahkan di keesokan harinya, Sakura sempat-sempatnya salah tingkah saat Kakashi menyuruhnya maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal di papan tulis. Tak hanya itu, saat pelajaran kelas diisi oleh Kakashi, Sakura sering mengamati gerak-gerik guru bersurai perak tersebut dengan serius. Otaknya pun jadi lebih bekerjasama memahami rumus demi rumus yang Kakashi berikan. Hebatnya tak ada lagi perasaan jengkel ataupun ogah-ogahan kala ia memperhatikan pelajaran guru bermata sayu itu.

Dan kalau Sakura telaah lebih jauh, ternyata Kakashi memiliki postur jangkung yang terlalu sempurna untuk menjadi guru. Jari-jari kuatnya memegang spidol dengan erat, menorehkan tulisan rapi yang enak dibaca. Suara baritonnya juga keren, menimbulkan kesan malas dan tegas secara bersamaan. Belum lagi wajahnya yang harus diakui ketampanannya. Sakura yang tengah bertopang dagu cuma bisa menghela nafas dan tersenyum.

Namun sedetik kemudian lekungan manis di bibir Sakura pudar.

Eh, tapi... kenapa dia jadi memikirkan Kakashi terus? Bukannya dia membenci Hatake Kakashi? Kok sekarang dia malah jadi begini? Otomatis semua itu menjadi keabnormalan besar bagi Haruno Sakura. Terutama jika ia sadari kalau akhir-akhir ini di rumah ia lebih sering melamunkan guru matematika menyebalkannya itu sampai larut. Gila, kan?

"A-Aaaaaah!"

Sakura menggeram sambil menggeleng histeris—membuyarkan isi kepalanya. Tak sadar kalau sekarang ia masih ada di kelas, duduk di deretan terdepan, dan jelas sangat mudah untuk diperhatikan oleh Kakashi yang tengah mengajar di depan. Kakashi pun langsung menegurnya sambil melipat kedua tangan di dada. "Kenapa menggeleng? Apa kau tidak mengerti ulasan logaritma yang sedang kuajarkan?"

Sontak seluruh perhatian murid-murid teralih ke Sakura, tertawa. Hinata—yang juga heran ke Sakura—ikut menahan senyum geli.

"Ti-Tidak kok. Aku mengerti..." Sakura mengerucutkan bibir, disambut oleh seruan dari murid-murid di belakangnya dengan nada canda.

Kemudian ketika mata mereka berdua berpapasan, Kakashi tersenyum singkat dan Sakura memalingkan wajahnya yang memerah.

Rasanya ada sesuatu yang mulai tumbuh di perasaan seorang siswi kelas 10 Korouha High School ini.

.

.

.

TEASTU ROMAN

"Teastu Roman" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Kakashi Hatake x Sakura Haruno]

Romance, Drama, Friendship

AU, OOC, Typos, etc.

.

.

CHAPTER DELAPAN

(VIII) Baikan?

.

.

Bel pergantian pelajaran berbunyi dan di saat itulah Kakashi—yang sudah mengemasi buku dan alat tulisnya—keluar dari kelas Sakura. Pria berambut perak jabrik itu berjalan pelan menuju tangga. Apa yang ada di pikirannya saat ini adalah ke ruang guru, menyeduh kopi hangat dan menyeruputnya sambil mengecek hasil ulangan kelas lain yang sudah menumpuk. Namun di tengah perjalanan entah kenapa pikirannya terbayang raut wajah Sakura, anak didiknya.

Tidak seperti Sakura yang dulu, waktu di kelas gadis itu terlihat sangat fokus memperhatikan pelajaran matematika yang ia bawa. Telapak tangan menopang dagu. Mata bulat bagaikan batu giok yang menatap lurus, serta surai pink cantik yang kadang terayun pelan saat ia mondar-mandir memperhatikan buku latihan dan catatannya di papan tulis. Kadang ia memang terlihat seperti melamun atau sibuk dengan pikirannya sendiri, tapi jelas ini jauh lebih baik dibanding ia yang biasanya tak sudi melihat ke arah papan tulis kalau ada Kakashi yang berdiri di depan. Ternyata Kakashi tersenyum kecil. Haruno Sakura memang jauh lebih manis kalau lagi anteng seperti sekarang.

Kakashi berhenti berjalan. Wajah datar kembali terpajang dan dia terbingung sendiri.

Tapi untuk apa dia memikirkan Sakura?

Rasanya agak aneh saja. Bukannya dulu dia juga sangat tidak suka sifat Sakura—malah sering sengaja memberikannya hukuman? Apa karena sejak ia tau masalah Sakura jadi dirinya sedikit memaklumi? Tak ada orang dewasa di rumahnya yang bisa menasihatinya kalau dirinya salah, kan? Dan sebagai guru, ia seharusnya membimbing, bukan menjatuhkannya lebih parah dengan hukuman-hukuman yang tak menyadarkannya. Kakashi jadi berpikir berbaikan dengan Sakura adalah hal yang memang sepatutnya ia lakukan.

Dengan menghela nafas Kakashi melanjutkan perjalanan. Selain itu Sakura juga benar-benar ada kemajuan. Dia menjadi siswi baik, tidak terlambat saat masuk, mengerjakan PR dan mendengarkan penjelasan guru apabila di kelas. Selain itu dia juga tak butuh lagi mengurusi anak itu lebih jauh karena dia tak lagi sering melanggar peraturan seperti yang dulu. Baguslah.

Sreek.

Pintu ruang guru terbuka. Karena ini masih bukan jam istirahat, jelas hanya segelintir guru yang mengisi ruang guru. Kebanyakan dari mereka pun masih sibuk di mejanya masing-masing, merekap nilai semua siswa yang tak terhitung seberapa banyak jumlahnya sambil menyempatkan diri mengobrol dengan guru di meja sebelah.

"Kakashi-sensei..."

Anko-sensei—yang letak mejanya berada di sebelah Kakashi—menyapanya. Kakashi hanya membalas dengan anggukan singkat sambil duduk di mejanya sendiri.

"Ada apa? Tertekuk begitu mukanya?"

"Tidak ada apa-apa..."

Mitarashi Anko—yang merangkap sebagai wali kelas 12-4 itu—memang terkenal galak, tapi hanya dengan duduk di sebelah guru ganteng ini ia bisa mengubah sikap jadi lebih manis. Senyuman pun hadir di bibirnya. Ia sengajakan menggeser bangku dan mencoba berbasa-basi ringan. "Bagaimana harimu?"

"Baik."

"Oh, ya? Tidak ada murid didikanku yang bermasalah lagi, kan?"

Kakashi berpikir sebentar. Dari segala catatan mengenai anak bermasalah yang ia data sendiri, dari tiga puluh anak didik Anko, setengahnya termasuk beberapa orang yang di-underline oleh Kakashi—membutuhkan perhatian khusus. Jadilah Kakashi menghela nafas dan membongkarnya satu-satu. "Kinuta Dosu masih sering bolos, Abumi Zaku masih sering pacaran berlebihan dengan adik kelas, dan Tsuchi Kin masih selalu berisik dengan segala omongannya di kelas." Kakashi geleng kepala. "Kebiasaan mereka sulit diubah."

Anko tertawa pelan. Tampaknya guru berambut hitam pendek ini sedikit menyukai Hatake Kakashi. Lihat saja dari cara bicara maupun raut wajahnya. Benar-benar baik—kontras dengan rupanya saat mengajar di kelas yang galak, judes dan juga menyebalkan.

"Tapi ya, ngomong-ngomong..." Anko mendekat. "Aku mendengar desas-desus kalau kau pernah ditampar oleh seorang murid loh, Kakashi."

Kakashi terdiam. Itu Sakura. Tepat di kejadian sebulan yang lalu. Kenapa Anko malah membahasnya sekarang? Apa jangan-jangan ada warga sekolah yang menggosipkan mereka berdua lagi?

"Ya. Memang pernah. Tapi sudah lama."

"Oh... apa dia dari murid kelas 12?"

"Bukan. Dia masih kelas 10."

"Eh? 10? 10 apa?"

"10-1."

Anko terkejut. "Aku tidak menyangka. Kukira anak kelas 10-1 berisi anak-anak pintar dan baik."

"Tak apa. Aku maklum."

"Maklum kenapa?"

"Korban broken home, mungkin."

"Broken home? Orangtuanya cerai?"

Sadar bahwa omongannya sudah terlalu jauh, Kakashi tidak menanggapi lebih. Ia yang baru menyalakan komputer terlalu fokus dengan kerjaannya di layar.

Merasa diacuhkan Anko mengerucutkan bibir. Wajah cantik dari guru berusia 28 tahunan itu sedikit masam.

"Kenapa kau cuek sekali sih, Kakashi-sensei?"

"Maaf aku lagi sibuk."

Anko menggeser kurisnya lagi—kali ini untuk menjauh. "Kalau begitu pertanyaan terakhir deh. Siapa nama anak itu?"

Ketikan Kakashi di keyboard terhenti. Ia melirik Anko dan agak menahan nafas.

"Namanya Haruno Sakura."

.

.

~zo : teastu roman~

.

.

Sehari berselang, Rabu pun datang.

Itu adalah hari di mana segerombolan pelajaran membosankan yang hadir di jadwal kelas 10-1. Apalagi pelajaran sejarah sebelum istirahat kedua. Gila-gilaan semua murid menahan rasa kantuk yang membeludak karena pelajaran itu juga dibawa oleh Himura Danzo. Guru itu nyaris seperti berbicara sendiri dengan papan tulis; murid-muridnya dipunggungi dan dicuekin. Tak sedikit yang tidur di bangku barisan belakang, tak lupa dengan buku yang sudah di tegakan di depan kepala mereka masing-masing yang terkulai di atas meja.

Hinggal bel istirahat berbunyi dan Danzo mengakhiri pelajarannya. Pria paruh baya itu keluar dan anak-anak di kelas pun bersorak. Inilah waktunya istirahat. Saatnya mengisi perut dengan beragam makanan enak yang tersaji di kantin.

"Ayo, Ino, Hinata, aku mau beli roti melon untuk hari ini. Perutku lapaar..." Sakura yang sudah berdiri menyoraki teman-temannya yang masih merogoh tas untuk mengambil dompet. "Ayo cepat..."

"Kenapa kau semangat banget sih, Saku? Kalau makan kebanyakan jidatmu bisa semakin gendut loh, Forehead."

Sakura cemberut sambil memegangi dahinya. "Ah, Ino sirik. Aku tidak butuh komentarmu, tau."

Dan ketika Ino dan Sakura saling melempar canda, di saat yang sama Hinata bercicit pelan di tengah mereka.

"A-Ano... bagaimana kalau kalian berdua duluan saja ke kantin? Aku mau ke toilet dulu. Mau cuci tangan..."

"Butuh kami temani?" Tawar Ino, santai.

"Ah, tidak usah. Aku cuma sebentar kok."

"Ya sudah, kalau sudah selesai cepat susul ke kantin ya, Hinata-chan. Kami menunggu di meja yang biasa kita tempati."

Setelah pamitan Ino dan Sakura berjalan beriringan sambil mengobrol. Namun ketika gadis musim semi itu baru melewati ruang guru di lantai dua, kebetulan Kakashi baru saja keluar tak lupa dengan tumpukan kertas dan beberapa gulungan poster di tangannya yang penuh.

Pria berkemeja cokelat itu melirik mereka berdua.

Pasti dia bakal dimintain bantuan deh—Ino membatin, negative thinking. Buru-buru ia berjalan cepat menuruni tangga. Namun tidak dengan Sakura. Gadis itu malah mendekati Kakashi dan menawarkan diri. Ino menepuk dahinya sendiri. Inginnya memanggil Sakura agar dia turun ke lantai satu bersamanya, tapi apa daya, melihat Sakura yang terlihat senang dengan kehadiran Kakashi di sana membuat Ino cuma menghela nafas dan tersenyum. Lebih baik ia menunggu Sakura di kantin daripada mengganggu.

"Butuh bantuan, Sensei?"

Kakashi yang kebetulan baru melihatnya langsung menoleh.

"Aku bantunya yang ringan-ringan saja deh. Gulungan poster, mungkin?" Sakura tersenyum kecil dan mengambil lima gulungan poster yang Kakashi pegang di apitan lengannya.

"Terima kasih. Tidak meminta nilai tambah setelah membantu, kan?"

"Wah, ide yang bagus. Tolong nilai tambahnya ya, Sensei..." Sakura menanggapi dengan senyum licik.

Kakashi mendengus geli. "Sejak kapan siswi sepertimu bisa membantu dengan tulus?"

Mereka tertawa pelan. Untuk sesaat pandangan mereka bertemu dan Kakashi menghilangkan senyumannya. Kembali ke garis datar. Entah kenapa, saat melihat senyuman Sakura yang begitu manis. Gadis yang cantik.

Kakashi mengerutkan kening. Lagi-lagi dirinya aneh. Apa yang barusan ia pikirkan?

"Ne, Sensei, barang-barang ini mau dibawa ke mana?"

"Ke lab peralatan lantai empat." Katanya sambil mulai berjalan.

Sakura tak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk dan mencoba menyejajarkan posisi berjalannya dengan sang guru yang berjalan lebih cepat darinya. Tak jarang bersama lekungan manis di bibir, Sakura memulai topik pembicaraan singkat untuk mengisi perjalanan mereka ke lab. Biar tidak sepi saja. Dan obrolan singkat ini cukup didominasi oleh Sakura. Kelihatannya perasaan benci yang dari dulu pernah bersarang di hatinya seolah tak pernah terjadi. Sakura malah terlihat enjoy. Sesekali bertanya soal pelajaran, masalah-masalah yang terjadi di lingkungan sekolah, tertawa, menjawab pertanyaan balasan Kakashi, atau bahkan sekedar melihat Kakashi dari ekor mata emerald-nya.

"Kau ini kenapa sih?"

Akhirnya suara itu terdengar saat mereka sudah sampai ke ruang perlengkapan. Sambil menunggu Kakashi membuka pintu dengan kunci yang ia bawa, Sakura mencoba menjawab. "Kenapa apanya?"

"Dari tadi senyum tidak jelas."

Sakura sebenarnya malu saat tau kenyataan itu, tapi dia segera menangkisnya dengan kekehan pelan. "Memangnya ada yang salah? Aku cuma lagi ingin senyum saja."

"Dasar..." Kakashi lanjut membuka pintu geser dan masuk duluan.

"Biarin dong." Juluran lidah Sakura berikan kepadanya. Belum sempat Kakashi menatap Sakura yang mengejeknya di belakang, gadis itu langsung sedikit berlari untuk mencapai rak, menyembunyikan cengirannya yang lain. "Sensei, gulungan posternya taruh di sini, kan?"

"Cukup tinggi memang. Lebih baik kau ambil dulu tabungnya, tapi gunakan dua tangan walaupun agak ringan."

"Oke."

Kakashi memandang rak hitam tinggi yang Sakura tunjuk dan mengangguk. Di atas sana ada tabung yang memuat banyak gulungan poster. Dan Sakura pun susah payah mencoba meraihnya. Kini ia perhatikan tubuh ramping Sakura yang sedang berjinjit-jinjit untuk mengambil tabung poster yang terletak di puncak rak. Kelihatan dari gelagatnya sih gadis itu tidak cukup tinggi untuk menggapainya. Ia saja sampai melompat-lompat begitu cuma untuk menyentuh sisi bagian tabung. Menghela nafas, setelah menaruh tumpukan kertas di meja kosong, Kakashi sengaja mendekat untuk membantunya.

"Payah."

Sakura terkejut saat ada dada Kakashi yang bersentuhan dengan punggungnya. Kedua tangannya menyusul naik, mengambil dengan mudah tabung besar itu tanpa berjinjit atau pun menggerakkan sepatu. Dan masih di posisi tubuh yang tepat berada belakang Sakura, Kakashi sedikit menurunkan pandangan, melihat wajah Sakura yang kini mengadah menatapnya. Iris kontras mereka bertemu. Dan baru Kakashi sadari bahwa kedua batu giok hijau yang kini dilihatnya terlihat begitu bening dari jarak sedekat ini.

Indah.

Sadar akan posisi mereka yang terlalu dekat, Sakura dengan cepat menghindar. Sambil jalan miring ia mengambil posternya lagi yang berserakan di lantai dan meletakannya begitu saja di tabung yang masih di pegang Kakashi. Lalu dengan agak terburu dia berjalan keluar lab. "A-Arigatou, Sensei. Aku... sudah harus pergi. Ino menungguku di bawah. B-Bye..."

Sepeninggal Sakura, Kakashi masih terdiam di tempat. Ia sama sekali tak beranjak. Cuma menghela nafas yang sedari tadi ia tahan dan menaikkan dagu. Selain dirinya yang berubah, baru ia sadari Sakura juga berubah 180 derajat terhadapnya. Gadis itu tak lagi sensitif—marah-marah—seperti yang kemarin. Bukankah kalau bertemu dengannya, Hatake Kakashi, Sakura selalu memasang wajah sinis yang tak tau malu itu? Tapi kenapa kini ia berubah? Apa yang menyebabkannya benar-benar berbeda?

Sebenarnya sih Sakura menunjukkan perubahan sikap yang bagus. Anak itu mulai percaya dengannya. Tapi ada satu masalah. Apabila guru secerewet Anko menyebarkan masalah anak itu ke guru-guru lain atau murid kelas, ia yakin hal ini tak akan berlangsung lama.

Kakashi berdecak.

.

.

~zo : teastu roman~

.

.

"Senyum mulu dari tadi... benar-benar mencurigakan."

Sesampainya di kantin, Sakura disapa oleh Ino yang menggeleng pasrah. Sakura menahan senyum dan kemudian duduk di samping gadis ponytail itu. Ino memasang senyum nakal dan melipat kedua tangan di dada. "Buat apa membantu Kakashi-sensei, hayo? Sini cerita."

Sakura menggeleng mantap. "Ngga kok. Aku cuma kasihan saja dia membawa banyak barang. Jadi inisiatif bantu."

"Bohoong."

"Ih, suer, Ino!"

"Pasti karena dia Kakashi-sensei kanmakanya kau bantu, Sakura?"

Kalimat itu membuat Sakura dan Ino menoleh. Hinata yang baru menaruh semangkuk siomay di meja kantin memasang garis manis di bibirnya. Terutama kepada sakura. "Tadi aku juga sempat lihat Sakura yang membantu Kakashi-sensei membawakan barang—sisanya dapat cerita dari Ino. Kalian kelihatan akrab sekali. Dan tau-tau saat ke kantin Ino langsung cerita kalau Sakura meninggalkan Ino demi Kakashi-sensei..."

"Ah, bukan kok... aku cuma refleks menawarkan bantuan saja. Pas noleh ternyata Ino sudah pergi, makanya aku—" Sakura membantah dan Ino menyela.

"Sudahlah, Forehead. Akhir-akhir ini kami juga sudah tau sendiri kok kalau kau menyukai Kakashi-sensei!"

"T-Tidak! Siapa bilang!?"

"Tapi wajahmu memerah, Sakura."

"H-Hinata-chan, kau salah paham!"

Ino berdecak sambil menggerakkan jari telunjuknya. "Terserah, tapi yang jelas aku dan Hinata yakin dengan apa yang kami simpulkan."

"Tapi masalahnya, bukannya dulu kalian saling benci?"

Pertanyaan dari Hinata membuat Ino dan Sakura sama-sama menoleh kepadanya yang tengah makan. Lalu Ino melirik Sakura curiga. "Hinata benar. Hubungan kalian mendadak jadi lebih membaik sejak kau ditinggal di dalam kelas bersamanya. Waktu itu kalian tidak berbuat yang aneh-aneh, kan?"

Wajar Ino dan Hinata tidak tau. Sakura sendiri belum cerita banyak, memang. Tapi Sakura segera menampiknya dengan kibasan tangan, panik.

"Ma-Mana mungkin, Ino! Kau gila, ya?"

"Ya siapa tau saat kalian cuma berdua di kelas... Kakashi-sensei... memanjakanmu yang sedang tertidur sampai kau tersadar. Awalnya dia panik tapi lama-lama terhanyut oleh nafsu dunia. Makanya sekarang Sakura senang dan dia jatuh cinta—"

Muka Sakura merah padam. "Hei! Ceritanya bukan seperti itu!"

"Makanya cerita dong ke kami! Jangan setengah-setengah seperti yang waktu kami tanyakan dulu!" Ino cemberut saat Sakura cuma menjelaskan 'aku dan Kakashi berbicara baik-baik tentang masalah kami' dan tak mau memberi tambahan selain itu.

"Tapi Itu kan sudah lama terlewat..."

"Justru kami berbaik hati tak mengungkit hal itu di minggu-minggu awal masalah kalian, menunggu kau menceritakannya ke kami sendiri." Ino memasang senyuman mantap. "Nah, jadi lebih baik sekarang kau ceritakan saja apa yang terjadi dengan kau dan Kakashi saat itu."

Sakura yang kalah telak lantas mengerucutkan bibir. Ia menghela nafas. "Baiklah, akan kuceritakan semuanya dengan lengkap ke kalian. Tapi... jangan pada nyebar, ya."

"Nah, begitu dong."

Mereka bertiga pun menghabiskan waktu makan siang di kantin dengan mengobrol banyak mengenai Sakura dan Kakashi. Sampai bertepatan dengan cerita yang diselesaikan, bel masuk berdering sebagai lanjutan. Tiga siswi Korouha High School ini kembali ke kelas dan tanpa banyak basa-basi lagi mereka kembali ke bangku masing-masing. Hinata dan Sakura berderet di depan dan Ino di belakang seperti biasa. Semua murid juga melakukan hal yang sama.

Menurut jadwal, Mitarashi Anko lah yang akan mengajar. Dia akan membahas biologi.

Namun ketika Sakura baru meletakkan buku ke meja dan berniat melihat Anko-sensei yang baru saja masuk ke kelas, sebuah aura menegangkan melintas. Sakura pun sampai harus mengusap tengkuknya yang dingin. Ia seperti akan merasakan sebuah firasat buruk. Apa yang akan terjadi memangnya?

"Selamat siang, semua." Sapaan dari guru muda berwajah antagonis itu mendapatkan sambutan meriah penuh paksaan. Tanpa basa-basi ia mulai pelajaran biologi minggu ini dan mengambil sebuah spidol. Dia menjelaskan berbagai macam hal sambil sesekali menuliskan catatan kecil ke papan tulis. Setengah dari total jam pelajaran pun berlangsung dengan normal. Hanya saja ketika tulisan di papan tulis sudah penuh, Anko segera menoleh dan duduk di meja guru untuk beristirahat.

"Catat semua poin yang telah saya tulis di sini ke buku kalian, dan juga lengkapi dengan rinci sesuai penjelasan saya tadi. Nanti akan saya periksa."

Semuanya mengangguk patuh—walau dalam hati mengeluh pasrah. Melanggar peraturan di kelas Anko-sensei memang cari mati namanya. Dia kan guru wanita yang terkenal killer. Untung kelas ini kedapatan Kurenai Yuuhi yang bagaikan malaikat sebagai wali kelas, bukan yang sebaliknya seperti Mitarashi Anko ini.

Namun ketika Anko menangkap sosok Haruno Sakura yang berada di bangku paling depan, tengah mencatat tulisannya dengan serius, wanita berpakaian blazer cokelat itu berpikir sebentar. Materi biologi di kepalanya buyar dan tergantikan oleh sosok tampan milik Hatake Kakashi yang sudah ia hafal di luar kepala.

"Oh, iya. Sambil kalian mencatat coba dengarkan aku sebentar." Katanya. "Begini, berapa umur kalian sekarang? Lima belas atau enam belas, kan?"

"Iya, Sensei." Lee menjawab aktif.

"Nah, karena itu di umur kalian yang sudah nyaris dewasa ini, kalian harus bisa menjaga sikap. Jangan hanya karena masalah sepele, orang lain yang kalian jadikan sasaran getahnya."

Sakura terdiam sebentar. Ia berniat mengadah untuk melihat papan tulis, namun karena ia merasa mata tajam Anko sedang mengarah kepadanya, ia meliriknya singkat dan memalingkan wajah. Anko benar-benar mengarahkan mata oniknya ke arah Sakura. Ia pun heran dan mematung. Guru muda itu tersenyum dan kembali memandang ke seisi kelas.

"Kalian mengerti kan apa maksud saya?"

"Iya..."

Anko mengangguk puas. Lalu ia melempar lagi pandangannya ke si surai merah muda yang berada di meja terdepan. "Kalau menurutmu bagaimana, Haruno-san?"

"E-Eh?" Sakura shock sesaat. Dia berkedip dua kali dan menelan ludah. Ia sebenarnya tak tau apa tujuan Anko yang tiba-tiba menanyakan pendapatnya, tapi kok rasanya ada yang aneh, ya? "I-Iya—"

"Apalagi kalau marah ke guru hanya karena masalah keluarga yang dibawa-bawa ke sekolah."

Pupil mata sakura melebar. Jantungnya seperti baru ditendang dari tempatnya. Lalu kenapa Anko-sensei mengatakan hal seperti itu?

"Jangan jadikan alasan keluarga sebagai alasan untuk menjadi kurang ajar di sekolah. Anak broken home lain banyak kok yang bisa berperilaku baik di sini."

Dan apa katanya? Alasan keluarga? Broken home?

Apa Anko-sensei... sedang menyindirnya?

Sakura mencoba balas memandang Anko walau ragu. Lalu apa yang ia temukan saat ini adalah senyum mencurigakan dari wanita bersurai pendek itu. Ternyata tatapan Anko-sensei jadi lebih mengerikan—lumayan sinis, lurus dan lama.

Kenapa guru ini... bertingkah seperti menuduhnya?

Memangnya dia tau apa soal permasalahan rumahnya?

Seingatnya tak ada satu pun teman sekelasnya selain Ino dan Hinata yang dia beritahu. Itu pun barusan. Jadi apa maksud—

Ah, tunggu...

Ada Kakashi-sensei.

Sontak bulu roma Sakura meremang sampai ke ubun-ubun.

Pandangan Sakura seolah hitam di detik itu juga. Dia memejamkan mata dan perlahan-lahan menunduk, menyembunyikan wajahnya yang kini menggertakkan gigi. Beberapa murid yang heran karena mata Anko-sensei yang terus melihatnya pun ikut menoleh, tapi karena merasa sedikit puas Anko pun langsung memukul pelan permukaan meja, meminta perhatian warga kelas kembali ke arahnya.

"Sudahlah, sekarang kita fokus dulu ke pelajaran. Lanjutkan catatan kalian. Saya beri waktu sampai di jarum panjang di angka empat."

Anko dengan mudah mengganti topik, namun Sakura tetap diam membisu. Masih tak bergeming selain detak jatungnya yang berdegup cemas. Kenapa dia... jadi mengira bahwa Kakashi lah yang memberitahukan itu ke Anko-sensei? Tapi hal itu bukannya tak mengejutkan kali? Sudah dari dulu ia tau bahwa para guru memang sering saling berbagi gosip terutama jika tak ada bahan obrolan lain? Dulu waktu SMP ia juga pernah mengalami hal serupa. Wali kelasnya yang mengaku akan merahasiakan masalahnya malah menyebarkan segala curhatannya—yang dulu ia ceritakan secara lebay dan menggelikan; persis di album—malah membicarakan segala permasalahannya dengan guru lain. Sambil menertawakannya pula.

Dan itulah yang Sakura takutkan akan diulangi lagi oleh Kakashi.

Sakura pun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menggeram sambil memejamkan mata.

"Sialan..." Bisiknya, nyaris tak bersuara—hanya gerak mulut.

Hinata sampai memandangnya cemas.

Pokoknya nanti ia harus membicarakan masalah ini dengan Hatake Kakashi secepat mungkin.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Zoccshan's Note

Hal yang paling ngga bisa bertahan lama di fict-fictku: orang baikan. Aku lumayan suka bikin konflik sih jadi maklum ya kalau mereka berantem lagi—padahal baru baikan.

.

.

Thank for Read & Review!

Special Thanks to

o.O rambu no baka, Taskia Hatake46, dekdes, GumiGumi-chan, YutaUke, uchiha yardi, ALin, Rie Megumi, Uzumaki NaMa, Chacha Rokugatsu, yassir2374, Luca Marvell, Melova21, Chichak deth, picha, Ryuzuma, Yuki Kanashii, Jackquin, Icha, yeolla-handayani.

.

.

Pojok Balas Review

Next chap lebih panjang, ya. Ini udah panjang belum? Mereka sudah baikan? Sudah, tapi berantem lagi kayaknya. KakaSaku pertama yang kubaca dan langsung suka. Thankss. Seandainya ada guru yang kayak Kakashi? Tampangnya atau sikapnya? Kalau tampangnya aja aku juga mau :) Agak terganggu sama sikap Sakura yang terlalu berani. Haha, iya, itu gara-gara Sakura udah sensi sih sama Kakashi. Tapi sekarang udah agak baik kan sikapnya? Apa nanti Sasori bakalan dimunculin? Ehm, antara iya dan ngga. Dari awal ketemu pasti Kakashi udah punya feel sama Sakura. Dia banyak modus. Haha, aminn. Twins Alert mana? Udah update kok. Enjoy. Duh, ngga sabar SMA. Semoga bertemu guru dan teman yang baik, ya. Apa ada yang panik saat Sakura belum pulang? Paling Ino dan Hinata yang menghubunginya lewat chat/email, atau mungkin Sasori yang menasihatinya saat pulang.

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU