Previous Chap

Dulu waktu SMP ia juga pernah mengalami hal seperti ini. Wali kelasnya yang mengaku akan merahasiakan masalahnya malah menyebarkan segala curhatannya—yang dulu ia ceritakan secara lebay dan menggelikan; persis di album—malah membicarakan segala permasalahannya dengan guru lain. Sambil menertawakannya pula.

Dan itulah yang Sakura takutkan akan diulangi lagi oleh Kakashi.

Sakura pun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menggeram sambil memejamkan mata.

"Sialan..." Bisiknya, nyaris tak bersuara—hanya gerak mulut.

Hinata sampai memandangnya cemas.

Pokoknya nanti ia harus membicarakan masalah ini dengan Hatake Kakashi secepat mungkin.

.

.

Saat jam istirahat menjelang, tanpa pamit atau memberi penjelasan apa-apa ke dua sahabatnya, Sakura langsung beranjak keluar kelas. Tangannya terkepal rapat, dan pandangan lurus ke depan tanpa kedip. Inner-nya merutuk tanpa henti. Ternyata dia masih panas saat tau Kakashi telah membeberkan dirinya yang merupakan anak broken home kepada guru selebos Mitarashi Anko. Sekalipun ia juga tak pernah menyuruh Kakashi agar merahasiakannya, apakah sopan sebagai orang dewasa untuk berperilaku seperti itu? Seharusnya dia bersikap seperti guru, kan? Bukan seperti ibu rumah tangga yang suka menyebar cerita ke sana-sini? Kakashi benar-benar jahat.

Ia harus mendatanginya.

Sreek.

Sakura buka pintu ruang guru dan mengucapkan permisi dengan nada amarah yang ditekan sekuat mungkin. "Apa ada Kakashi-sensei di sini?"

Sarutobi Asuma yang ada di hadapannya mengedarkan pandangan ke sekitar dan tak menemukan Kakashi di mejanya. Dia lirik Sakura agak sinis dan pria berjanggut hitam itu akhirnya menggeleng. "Coba cari di ruang kesiswaan."

Sakura mengangguk tak niat. Langkah kakinya langsung beralih ke ruang kesiswaan yang berada di lantai tiga. Berhubung itu adalah ruang OSIS yang juga tempat guru itu menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai ketua kesiswaan, jadilah ia membuka pintu tersebut dengan harapan tak ada siapa pun di sana selain Kakashi.

Ya, benar. Cuma ada Kakashi seorang di ruang kesiswaan. Pria bersurai jabrik itu kebetulan sedang berdiri di dekat jendela, berkacamata, dan memegang sebuah proposal. Dia menoleh, memandangi Sakura yang sudah masuk dengan nafas berat. Menyadari murid khususnya yang satu itu datang tanpa diundang, Kakashi menatapnya heran.

"Ada apa, Haruno—"

"Kau jahat, Sensei..." Bisiknya, lalu ia mengadah sambil mengeraskan suaranya. "Aku menyesal sudah mempercayaimu!"

Teriakan Sakura membuat Kakashi mengernyit.

.

.

.

TEASTU ROMAN

"Teastu Roman" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Kakashi Hatake x Sakura Haruno]

Romance, Drama, Friendship

AU, OOC, Typos, etc.

.

.

CHAPTER SEMBILAN

(IX) Pertentangan

.

.

"Hei, tunggu dulu." Kakashi berjalan mendekat sembari meletakkan kertasnya di meja. Wajahnya terlihat bingung namun samar-samar juga menyiratkan perasaan kesal atas kekurang-ajaran Haruno Sakura yang sama sekali tak beretika. "Aku tak mengerti kenapa siang-siang begini kau sudah datang dengan kalimat seperti itu..."

"Kau seharusnya sudah tau alasan aku marah..." Di tempatnya berdiri Sakura menggeram. Gadis itu melemparkan tatapannya yang berkaca-kaca. "Kenapa Sensei memberitahu masalahku ke guru lain, hah?"

Kakashi terdiam. "Apa maksudmu?"

"Ceritaku! Cerita yang dulu pernah kukatakan padamu! Kenapa Anko-sensei sampai tau soal keluargaku! Itu pasti karena kau kan, Sensei!?"

Awalnya Kakashi belum mengerti inti pembahasan yang dibawa Sakura. Namun karena ia baru ingat kalau tempo hari dirinya sempat kelepasan memberi informasi saat ditanya-tanya oleh Anko, pria itu menghela nafas. Ia lupa kalau seorang Mitarashi Anko itu gemar sekali menyindir murid. Pasti Sakura salah satu korban terbarunya.

"Aku bisa jelaskan, asal kau bisa duduk tenang dulu di bangku."

"Aku tidak mau! Di sini aku cuma mau minta kejujuranmu!"

"Sakura."

"Jangan panggil aku dengan nama depan! Kau bukan siapa-siapaku!"

Di tengah pandangannya yang buram oleh air mata, dapat Sakura lihat wajah Kakashi yang begitu banyak menahan emosi. Keningnya mengerut, garis bibir datar, juga mata sayu yang seolah kehilangan minat—mengingatkan gadis itu ke ekspresi Kakashi saat pertemuan pertama mereka di depan gerbang.

"Baiklah." Kakashi mengangkat kedua tangannya, mencoba pasrah. "Kalau kau tidak mau menurutiku, maka aku juga tidak harus mendengarkan keluhanmu. Kalau bisa silahkan keluar dari sini sekalian."

"Sensei! Aku cuma mau bertanya satu hal! Katakan kepadaku kenapa kau memberitahu masalahku ke Anko-sensei!?"

Masih—Sakura tak memedulikannya, maka ia pun berlaku sama. "Pintu terbuka lebar untukmu."

"Kakashi-sensei! Jawab pertanyaanku!"

"Kau mengabaikanku lebih dulu, Haruno-san. Lagi pula apa salahnya Anko tau permasalahanmu? Dia guru. Wajar dia tau apa yang dialami anak muridnya."

Kata dan sufiks 'Haruno-san' yang Kakashi tekankan membuat Sakura menggigit bibir, kesal yang tercampur sesak. Dia simpulkan bahwa Kakashi telah mengakui dirinya lah yang memberitahu Anko soal itu. Kalau tidak tau tata krama mungkin akan ia mencakar pria itu dari wajah hingga tangannya. Sakura menarik nafas, bersiap-siap untuk teriak. Namun karena suaranya kini bergetar dia pun memejamkan mata sesaat dan berucap lirih. Penuh kesedihan. "Su-Sudah berapa guru yang tau... soal ini?"

Kakashi mengusap rambutnya ke samping dan untuk sesaat ia duduk di bangku depan mejanya. "Jika Anko tau, aku tak bisa menebak sudah seberapa luas obrolan itu tersebar. Tapi untuk apa kau memikirkannya? Beberapa guru akan bertingkah seolah tak mendengarnya jika mereka tidak sebal denganmu."

"Oh, jadi menurutmu anggap saja masalah keluargaku sebagai rahasia umum, begitu!?"

"Tenanglah. Di sekolah ini masih banyak anak yang memiliki kisah yang nyaris sama sepertimu—tak memiliki keluarga yang lengkap. Dan bahkan mungkin ada beberapa yang kisahnya lebih parah dibandingkan dirimu." Dia melirik Sakura. "Berita mereka pun sudah menyebar, tapi tak ada yang mempermasalahkannya."

Sakura terbelalak bukan main. Bukannya tenang dan menerima kenyataan, kalimat dari Kakashi malah membuat dirinya luar biasa tercengang. Tubuh Haruno Sakura bergetar emosi. Sampai tak terasa ada air mata yang merembes keluar dari kedua mata gadis pink itu. Ingin marah tapi tak bisa. Kakashi adalah guru; status pria itu di sekolah ini lebih tinggi dibanding dirinya. Ia takut kalau ia memperkeruh masalah ini dengan Kakashi, nanti akan ada berita miring lagi mengenainya, dan warga sekolah yang akan menyangkut-pautkan hal itu dengan permasalahan keluarga yang ia miliki. Oh, demi Tuhan. Jelek sekali nasibnya.

Segeralah ia menunduk dan menghapus linangan air matanya. Detik ini ia sudah tak sanggup berbuat banyak.

"A-Aku... aku kecewa padamu, Sensei..." Ucapnya agak terisak. "Semua guru sama saja."

Kakashi menatap Sakura tanpa suara. Jauh di lubuk hatinya ia ingin berkata, mengucapkan maaf atas perilakunya, tapi tak bisa. Dia sudah terlebih dulu kaku karena kini Sakura menangis di depannya. Membiarkan buliran hangat itu terus berjatuhan ke pipi gadis itu, sampai kedua tangannya yang kecil kerepotan menghapus tiap tetes yang keluar. Kakashi memalingkan wajah. Walau berat tampaknya ia harus mengakui kalau ada satu-dua kalimat yang salah ia utarakan.

"Haruno—"

Tapi tidak. Sakura tak mau lagi mendengarkan. Ia berbalik dan pergi meninggalkan Kakashi sendirian, tak lupa dengan menutup pintu kesiswaan dengan cukup kencang. Di dalam keheningan ruangan ini Kakashi merilekskan punggungnya ke sandaran kursi. Mengadah, lalu melepas kacamata sekaligus mengusap wajahnya yang lelah. Ia sampai tak sadar sudah ada guru lain yang masuk melalui pintu yang masih terbuka. Itu Umino Iruka.

"Kakashi, kau dipanggil ke ruang admin lantai satu. Bisa kau segera ke sana—" Iruka menurunkan laporan yang sedang ia pegang dan menatap heran sahabatnya di ujung ruangan. "Ah, tunggu. Ada apa?"

"Jangan kau pikirkan." Kakashi bergumam tak jelas.

.

.

~zo : teastu roman~

.

.

Di dalam toilet wanita lantai dua Sakura memukul keran. Berkali-kali keramik wastafel yang berwarna putih itu juga ikut menjadi sasaran pelampiasan tangannya. Ia tak peduli jika ada kakak kelas atau teman seangkatan yang heran bahkan mengatainya freak saat itu. Sakura sudah terlebih dulu menganggap mereka tidak ada. Kini dia hanya butuh pelarian untuk menenangkan dirinya yang masih diliputi amarah. Dia hela nafasnya keras-keras dan ia pejamkan matanya yang basah oleh air mata.

Rasanya menggelikan. Menggelikan saat mengingat bahwa dirinya sudah luluh, bercerita, bahkan sempat percaya ke seorang guru—padahal dari awal pertemuan merupakan musuhnya—lalu menyesal di akhir karena tau kalau dia telah menghianatinya begitu saja. Bodoh. Ia juga jijik saat sadar sebelumnya ia sempat merasa nyaman apabila berada di dekat Kakashi.

Hubungan mereka yang pernah terajut kembali kusut. Dan ini semua hanya karena sebuah masalah keluarga. Masalah sederhana yang kemungkinan besar tak akan menghancurkan hubungannya dengan Kakashi jika tidak ia besar-besarkan seperti ini. Sakura berdecak. Dia berdiri di depan cermin dan menundukkan kepalanya dalam-dalam di sana. Oke, sekarang... apa alasan utama dia marah ke Hatake Kakashi? Karena rahasianya disebarkan? Ya. Bagi Sakura sendiri itu adalah hal wajar.

Mana ada orang yang suka jika rahasianya disebarkan begitu saja? Sekalipun bagi Kakashi mungkin itu adalah hal tak penting—banyak anak broken home seperti dirinya—tetap saja Sakura marah. Amarahnya kian meletup saat ia bayangkan juga Kakashi membahas kisahnya ke Anko dengan tawa, menganggap lebay dirinya yang terlalu sensitif. Itu sudah sifat dasar dari para guru, kan? Sok baik meminta muridnya bercerita mengenai masalahnya, namun masalah itu kembali disebar-luaskan di ruang guru; ditertawakan bersama guru-guru lainnya.

Sakura menangis lagi. Hati labilnya masih belum siap menerima ini semua. Segeralah Sakura berjalan pergi dari daerah toilet. Ia menuju ke kelas 10-1 dan menyambar tasnya dengan galak.

"Sakura? Mau ke mana?" Hinata menutup novel yang ia baca dan menatap Sakura. Gadis itu menatapnya dan berbisik.

"Hinata-chan, di mana Ino?"

"Sepertinya di kantin. Tadi ia mencarimu." Alis Hinata menurun saat melihat jejak-jejak air mata di pipi putih temannya. "Kau habis menangis, Sakura?"

"Tidak. Aku baru saja cuci muka." Elaknya, berbohong. Lalu sambil menghapus raut sedih yang awalnya ia tampilkan, Sakura dengan penuh keyakinan menatap kembali iris lavender Hinata. "Ngomong-ngomong, aku ada sedikit pesan. Kuharap kau mendengarnya baik-baik dan tolong beritahu juga ke Ino." Ia hembuskan nafasnya sebentar. Lalu ia berbisik. "Aku ingin bolos."

"Bo-Bolos?"

"Iya, jadi kalau nanti ada guru yang menanyakan kehadiranku, bilang saja aku di UKS." Jelasnya, lesu. "Untuk hari ini aku bukannya sedang tidak ingin belajar. Aku cuma ingin pulang. Sungguh."

"Ta-Tapi mana mungkin kamu diperbolehkan pulang... i-ini kan masih jam—"

"Aku sebenarnya juga tidak tau bisa pulang atau tidak, tapi aku akan berusaha dulu. Jadi jangan cemaskan aku."

Kriiing!

Bel masuk berdering dan Sakura menatap sekilas intercom di langit-langit kelas. Ia pun menepuk pundak Hinata. "Jaa ne."

Bersamaan dengan murid-murid lain yang berhambur masuk, Sakura dengan sigap menyelip di antara mereka agar bisa keluar dengan mulus. Ia jalan dulu ke arah toilet dan masuk di salah satu biliknya. Ia tunggu sekiranya sepuluh menitan di sana. Setelah suasana kamar mandi hening, Sakura yakin koridor sekolah akan sama sepinya. Sudah dapat dipastikan bahwa semua murid telah memasuki kelas mereka masing-masing. Menghela nafas cukup keras, Sakura pun keluar. Dengan mengendap-endap dan berharap tak akan ada guru atau petugas sekolah yang menemuinya, segeralah ia berlari menuruni tangga.

Tapi sayang saat ia baru saja akan menginjak area lantai satu...

Brukh.

Sebuah tabrakan kecil sedikit menghentikannya. Ia refleks menunduk, sedikit takut saat melihat siapa yang ia tabrak. Apa jangan-jangan itu guru? Satu hal yang Sakura inginkan: bertemu dengan anak murid lain atau paling tidak cleaning service.

"Kau mau ke mana?"

Tapi sialnya dewi keberuntungan sedang menjauhinya—orang itu adalah Kakashi.

Kenapa takdir selalu mempertemukannya dengan Kakashi sih?

"Kenapa kau membawa tas—Sakura!"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Haruno Sakura berlari. Ia menerobos Kakashi yang berdiri di depannya. Kakashi otomatis membentangkan tangan, ingin menangkap Sakura. Tapi nyatanya gadis tersebut lebih gesit dari biasanya. Sakura lolos dan ia lanjut pergi. Kakashi berdecih. Tak perlu waktu lama untuk berpikir, pria itu segera berlari mengejarnya. Kali ini akan dia tangkap Sakura. Menghukumnya jika perlu.

"Hei, tunggu! Ini belum jam pulang!"

Sakura menolak memberi penjelasan. Ia benar-benar ingin pergi dari sekolah ini. Ia mau pulang sekarang juga. Tapi jujur saja adrenalinnya terpacu tinggi dengan kehadiran pria yang berlari di belakangnya. Jantungnya berdegup kencang gila-gilaan. Kalau ia tertangkap, selesai sudah. Pasti dia akan diceramahi habis-habisan. Bisa jadi dia akan dikirim ke guru bimbingan konseling—menghadapi kembali guru yang tersenyum di depannya, namun di dalam hatinya ia menyimpulkan kalau ia cari sensasi lah, cari perhatian, anak broken home lebay, atau apa lagi? Mungkin Kakashi lebih jago membuat lelucon tentang dirinya. Dengan air mata yang kembali nyaris tumpah, Sakura menahan rasa pengap di hatinya dalam-dalam.

Lagi pula... kenapa dia jadi sering membuat masalah sih? Sakura sendiri muak dengan sifatnya sekarang. Hei, dia baru lima belas tahun. Menjalani SMA pun belum sampai satu semester. Tapi kenapa malah seperti ini? Seharusnya dia jadi anak baik, tidak terlibat masalah apa-apa, juga belajar dengan teratur. Bukannya dulu saat SMP dia hanya gadis normal yang mengikuti segala tata aturan sekolah secara baik dan benar? Kenapa sekarang situasinya berbeda?

Saat sadar ada sebuah tangan yang melingkari perutnya, Sakura tersentak. Kakashi telah memeluknya dan mencegahnya untuk terus berlari. Kedua tangan Sakura yang memberontak ditahan ke belakang. Persis seperti laga polisi yang sedang menangkap pelaku kejahatan. Hanya saja Kakashi sedikit melonggarkan tenaga. Mau bagaimanapun juga Sakura adalah perempuan. Terlebih lagi murid didiknya. Maka dari itu Kakashi harus lebih hati-hati dalam bertindak.

Berhubung saat ini mereka sudah di depan gerbang, Kakashi meneriaki seorang guru yang tak jauh di depannya; pria yang awalnya ingin merokok di luar lingkungan sekolah itu melirik heran Kakashi. "Mizuki, kunci pintu gerbangnya!"

Tanpa banyak bicara Mizuki menutup gerbang. Ia nomor duakan pegawai kantin yang mungkin saja akan protes jalur keluar-masuk kendaraan makanannya ia tutup. Sesaat pintu gerbang sudah terkunci sempurna, Kakashi berniat menenangkan muridnya yang kini menjerit tanpa henti. Tapi tangannya terlebih dulu digigit sampai pria itu refleks mendorong Sakura menjauh. "Sakura!"

Dan Sakura kemudian berbalik arah. Berlari kembali ke arah gedung sekolah. Kakashi yang tersengal pun mencoba menunda untuk mengejar. Ia usap buliran keringat yang mengalir di pelipisnya dan melihat tangannya yang kini dihiasi oleh bekas gigitan yang berbentuk setengah lingkaran putus-putus. Darah merah sedikit keluar dari sana.

"Dasar..." Kakashi meringis sambil mengibaskan tangan. Ia ambil sapu tangannya untuk menutupi lukanya.

"Ada apa ini? Kalian sedang main kejar-kejaran ala Bollywood?" Mizuki yang mendatangi kakashi bertanya dengan wajah heran. Kelihatannya guru yang satu itu lumayan penasaran dengan kejadian seru yang baru saja ia saksikan. Kakashi menghela nafas malas.

"Tidak. Dia hanya anak bandel yang ingin bolos. Dan sepertinya aku yang akan mengurusnya untuk sementara."

"Ya, selamat berjuang, Kakashi. Akan kulaporkan kalau dia mencoba kabur lewat sini lagi."

"Hm." Kakashi mengangguk. Sepertinya ia akan ke ruang administrasi untuk mengetahui di mana Sakura berada. Ia yakin dengan pasti kalau sekolah ini masih memiliki CCTV aktif yang merekam tiap koridor yang mungkin gadis itu lalui.

.

.

~zo : teastu roman~

.

.

Sakura tak tau lagi ia harus ke mana. Ia sudah terlalu banyak berlari. Dan bukannya mendapatkan tempat yang aman, Sakura malah semakin banyak bertemu dengan guru lain yang sedang istirahat dari jadwal mengajarnya. Benar-benar malang. Untung saja ia berhasil lepas dari pandangan guru-guru tersebut sebelum terlihat.

Dan karenanya, Sakura yang kini berada di sudut lantai tiga mencoba beristirahat sejenak. Keringat dingin membanjiri tubuhnya yang kurus. Basah kuyup—benar-benar basah; lebih dari ujian lari yang diberikan Morino Ibiki di mata pelajaran olahraga minggu lalu. Ia kumpulkan dulu oksigen banyak-banyak dan merilekskan tubuh. Gadis itu bersandar dan memandang plang kelasnya—10-1—yang berada di deretan kanan. Kalau misalnya ia balik ke kelas sekarang, sepertinya sudah terlambat. Walau sebenarnya itu akan lebih baik daripada nantinya ia akan kembali berurusan dengan Kakashi-sensei.

Eh, tapi percuma. Kakashi bisa saja datang ke kelas dan minta izin ke pengajar agar membawanya keluar—bicara empat mata. Itu bisa memperburuk imejnya secara langsung di mata anak-anak sekelas. Lagi pula kalau seandainya hari ini Kakashi tidak memanggilnya dari kelas, ada kemungkinan besar dia akan disidang besok atau mungkin lusa. Intinya sama saja.

Cepat atau lambat ia akan dihukum karena tindakan ceroboh ini.

Tuh, kan? Inilah dampak kecerobohanmu yang kambuh.

Tapi karena sudah telanjur Sakura memandang tangga menuju atap. Sepertinya lagi-lagi ia harus kabur ke atas. Dengan gerakan mata yang was-was, Sakura segera ke atap. Dia pijakan kakinya ke permukaan lantai berdebu milik atap dan ia pandangi hamparan langit biru di atas sana. Indah, cerah, tak begitu terik. Segala ketakjubannya di panorama ini membuatnya melangkah maju dan maju, kemudian sampai ke jaring pembatas atap yang cukup tinggi. Dia turunkan pandangan dan terdiam. Dari sini dapat ia saksikan gerbang sekolah yang terletak di bawah sana. Sekarang sudah ada dua guru yang berjaga. Satunya guru Kimia, Tsubaki Mizuki dan satu lagi yang entahlah siapa. Ia tak bisa melihat wajahnya dengan jelas dari jarak sejauh ini.

Kemudian Sakura menaruh keningnya di jaring. Merenung sesaat. Kalau dipikir-pikir ia sama sekali tidak menyangka kalau sebuah perihal kecil—marah saat Anko menyindirnya di kelas—akan berimbas sedasyat ini. Ia gigit bibirnya keras-keras.

"Anko-sensei tau semuanya dari Kakashi-sensei. Jadi jelas dia yang salah..." Ucapnya. Sambil menunduk ia menendang jaring kawat tersebut dengan kakinya. "Kalau saja dia tidak menyebarkannya, mungkin aku tak akan seperti ini..."

Kemudian Sakura memejamkan mata. Pegangannya di jaring pembatas semakin erat dan menguning. Ia hela nafas panjang-panjang dan merosot turun. "Tapi aku juga bodoh. Salah dalam bertindak sampai sejauh ini..." Gerutunya. "Baka."

Dan sosok yang ada di ujung pintu atap menggelengkan kepala. Dia melipat kedua tangannya di dada dan berujar pelan. "Baguslah kalau kau sudah tau kebodohanmu..."

Sakura menoleh ke belakang dengan keterkejutan dan ia baru sadar kalau sudah ada Kakashi di ujung atap. Sedikit deja vu—Sakura menelan ludah dan meringis. Kenapa orang ini selalu tau kalau dia berada di atap? Apa karena ia sudah terlalu sering bersembunyi di sini? "Kenapa... kau..."

"Jangan heran." Ia berkata seolah membaca isi pikiran Sakura. "Asal kau tau kami punya beberapa CCTV di tiap lantai. Dan bisa kusimpulkan sekarang kau tidak bisa ke mana-mana."

Sakura nyaris menjerit di detik itu juga. Kenapa ia lupa hal sepenting CCTV? Sakura benar-benar bingung harus berbuat apa di detik selanjutnya. Kini ia sudah tertangkap basah, tak bisa ke mana mana lagi. Kalaupun kabur cepat atau lambat dirinya pasti akan ketahuan juga, kan? Mau apa dia sekarang? Dirinya benar-benar buntu.

"Sekedar menambahkan, kalau kau ingin membicarakan orang, usahakan jangan di belakangnya. Kau bisa membuat orang itu sakit hati..." Lalu Kakashi berjalan mendekat sambil menyisakan jarak lima meter dari Sakura. "Dan jika kau ada masalah denganku, lebih baik kita menyelesaikannya baik-baik. Jangan kebanyakan lari dari masalah."

Sakura dan Kakashi membagi tatapannya masing-masing. Kakashi memberikannya pandangan dingin sedangkan Sakura mencoba bersikap menantang—tak mau kalah—walau sebenarnya ia harus mengakui bahwa situasi ini sungguh menakutkan baginya. Satu buliran bening meluncur dari pelipisnya, jatuh ke lantai. Jantungnya deg-degan. Namun Sakura tetap berusaha tak gentar. Dia memikirkan banyak cara untuk meloloskan diri dari masalah ini, dan kemudian ia memutuskan untuk berkata pelan, penuh rasa gugup dan penekanan. "Ba-Baiklah..."

Kakashi menaikkan salah satu alisnya.

"Kalau begitu... aku minta maaf." Ucapannya langsung membuat mata Kakashi terbuka sedikit lebih lebar. "Aku ingin kembali ke kelas."

Sakura berniat melewati Kakashi dan lagi-lagi Kakashi menghalangi jalannya lewat tubuhnya sendiri.

"Kau pikir semudah itu aku memaafkanmu, hm?"

Sakura menelan ludah. Dia tadinya mengira kalau permintaan maaf sudah terucap maka semuanya selesai. Tapi ternyata ini semua terlalu sulit untuk diselesaikan begitu saja. Ada salahnya juga ia terlalu sering membuat masalah di depan guru ketua kesiswaan ini, Kakashi sudah enggan diajak kompromi baik-baik. Sakura berdesis lalu mencoba melarikan diri. Kakashi yang tak ingin melepaskannya begitu saja kembali menangkapnya. Ia tahan Sakura kuat-kuat agar tidak meninggalkan area atap ini walau tenaga Sakura masih sanggup membuat Kakashi melangkah mundur sampai ke mulut pintu atap. Ini sudah dekat dengan turunan tangga yang lumayan curam.

"Bodoh! Jangan main-main di sini!"

"Makanya lepaskan aku! Aku mau ke bawah!"

"Sakura—!" Kakashi sedikit tersentak saat ia akan mundur ke belakang sudah ada ujung anak tangga yang menyapanya. Inginnya mendorong Sakura untuk tidak ikut jatuh bersamanya, namun tangan gadis itu nyatanya masih memegang erat kemeja cokelatnya. Jadilah Sakura terbelalak saat kini ia melayang, dan ada kehadiran tangan yang lagi-lagi melingkari pinggang dan juga kepalanya.

Brukh!

Brukh!

Brukh!

Bunyi debaman terdengar beberapa kali. Bahkan orang-orang yang tak jauh di sana—berada di dalam kelas—juga sampai mendengar suara keras tadi. Untung karena pelajaran yang masih berlangsung, dalam sekejap rasa penasaran mereka hilang dan kembali fokus ke papan tulis; sesuai dengan perintah sang guru.

"A-Ah... i-ittai..."

Di tempat yang sama, koridor lantai empat yang sepi, Sakura meringis. Inginnya mengusap beberapa bagian tubuhnya, terutama mata kakinya yang sakit—entah mengenai bagian tangga yang mana. Tapi ia terlebih dulu tersentak saat menyadari bahwa wajahnya terbenam di leher Kakashi—posisinya meniban pria itu. Sakura menggulingkan tubuhnya dan terduduk seketika.

"Sial... apa punggungku sudah patah?" Kakashi berbisik nyeri. Sakura yang masih terkejut dengan kejadian ini mengadah, memandangi tangga menuju atap yang berada di sebelah mereka. Ternyata Kakashi dan Sakura benar-benar jatuh dari tangga. Sakura lantas melihat Kakashi yang masih terbaring kaku sambil mengeluh, lalu ia putuskan untuk berdiri, berniat lanjut kabur dan menjauh dari pria perak itu. Tapi Sakura malah jatuh di langkah ketiganya. Ia meringis saat menyadari pergelangan kakinya sudah ditempeli memar biru yang terlihat parah.

"Sa-Sakit..." Sakura sedih sendiri. Kakinya rapuh seperti ranting saat dia kembali menegakkan badan. Sendinya serasa bisa patah kapan saja. Gadis itu berjongkok sambil berpegangan pada dinding. "Ini sakit sekali..."

"Tadi kita jatuh bersama. Jangan salahkan aku tadi sempat menibanmu juga saat menjatuhi tangga." Kata Kakashi tanpa perlu melirik Sakura. "Yang jelas kepalamu tidak apa-apa."

Percobaan ketiga, dengan gemetar Sakura berdiri. Ia jadikan salah satu kakinya yang masih sehat untuk dijadikan tumpuan. Ia lirik sekilas Kakashi yang belum banyak berkutik di lantai. Niatnya melemparkan pandangan pertentangan, namun matanya terlebih dulu terbelalak oleh sesuatu yang Kakashi dapati. Ternyata dahi pria itu robek. Darah mengucur pelan dari lukanya yang terbuka. Sakura menahan nafas. Bulu romanya meremang dan keringat mulai membasahi pori-pori dahinya. Ia shock parah. Darah Kakashi terus mengalir. Membasahi surai jabriknya yang turun serta buat genangan tersendiri di lantai.

Sakura menutup mulutnya dengan tangan. Ia menangis. Tapi tetap, dengan tertatih ia berjalan menjauh dari Kakashi, meninggalkan guru itu yang kini yang berseru meneriakinya.

"Hei, kau mau meninggalkanku di sini sendiri!?"

Sakura tak menoleh dan terus berjalan pergi.

Sungguhan ditinggal, Kakashi berdecak. Ia ingin berdiri tapi tulang belakangnya tidak mengizinkan. Rasa sakit dari macam-macam sisi menyetrumnya dengan gila. Oke, kalau dianggap patah memang sedikit agak berlebihan, tapi sepertinya ada banyak memar di dalam tubuhnya yang menjerit minta diobati. Segeralah ia menghela nafas. Sepertinya untuk hari ini dia tidak bisa mengejar siswi merah muda itu lagi.

"Sial."

Sedangkan Sakura sendiri berjalan susah payah ke ruang UKS. Ada Kato Shizune, pengurus yang sedang memasukkan berbagai macam kebutuhan obat di kotak P3K. "Ada yang perlu dibantu?" Dia menyambut Sakura yang baru datang. Berniat memberikan senyuman namun ia sudah terlebih dulu dikejutkan oleh memar yang tertera di kaki putihnya. "Ah, kamu barusan jatuh, ya? Sini aku obati..."

Sakura menggeleng tanpa suara. Ia bukan lagi menjawab, namun berusaha mengabaikan ucapan Shizune. Ada yang lebih penting dibanding memar ini. Sambil berkata, lagi-lagi air matanya menguar turun tanpa diperintah. Wajahnya merah padam.

"D-Da-Dari pada memikirkanku, lebih baik S-Shizune-san tolong Kakashi-sensei... dia di lantai empat... k-kepalanya terluka parah..." Ucapnya, terisak.

Shizune terkejut hebat. Seperti apa yang diminta, dia bergegas ke lantai atas menemui Kakashi. Sedangkan Sakura meninggalkan UKS tanpa jejak—berniat bersembunyi di suatu tempat, tak bergerak dan tak melakukan apapun selain menangis dan menyesali perbuatannya hingga bel pulang berdering. Kemudian dia bisa pulang tanpa dicegat oleh guru atau siapa pun yang melihatnya.

Kejadian hari ini memang hanya tentang Haruno Sakura dengan Hatake Kakashi seorang. Hanya mereka berdua.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Zoccshan's Note

Well, aku juga ngerasa kok Sakura di sini agak aku dramatisirin (marah-marah mulu). Jadi gomen buat yang sedikit terganggu ama sifatnya. Yaa anggap aja faktor labil ala anak SMA (?). By the way, buat kalian yang suka gambar, silahkan cek pengumuman di profile FFn-ku, ya. Ada something soalnya. Arigatou.

.

.

Special Thanks to

Mrs Sasori, Watanabe Niko, Al Khalya, Shuben, Taskia Hatake46, Nezumi, Chacha Rokugatsu, Luca Marvell, Uzumaki NaMa, YutaUke, dekdes, Virgo Shaka Mia, sakura uchiha stivani, lavarrr, Chichak deth, baidhar, kHaLerie Hikari, Bofit, Assasin, Revi-san.

.

.

Pojok Balas Review

King's Wife kapan update? Kemungkinan besar besok. Bela-belain baca ini dulu sebelum belajar UN. Haha terima kasih banyak. Sakura udah mulai ada rasa sama Kakashi tapi jadi benci lagi. Iya. Fictnya pendek, ya? Chap ini 4k words kok. Moga puas, ya. Apa Anko suka Kakashi? Kayak semacam tertarik, kali ya. Apa KakaSaku nantinya bisa memiliki hubungan yang lebih serius? Liatin aja kelanjutan fict ini. Nostalgia ngebaca fict ini. Thankyou. Makasih banget ya buat kalian yang mau sharing pengalaman kalian di review. Menarik-menarik loh :')

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU