Previous Chap
"Semoga cepat sembuh."
"Kau juga, Sensei."
Sakura pun melemparkan tatapannya ke buku paket di meja. Dia bingung. Antara kesal dan menyesal tercampur aduk saat ia lihat Kakashi di depan sana. Sempat terlintas sebesit keinginan untuk meminta maaf nanti, tapi entahlah, dia tidak tau bagaimana caranya. Lagi pula pertemuannya di rumah sakit bisa jadi adalah momen terakhir dirinya mau berbicara empat mata dengan pria itu.
Sesudah ini, ia harus menghindarinya mati-matian dan bertingkah seolah tak pernah terjadi apa-apa dengan Kakashi.
Setelahnya jadilah siswi yang normal, Sakura.
Ya, siswi yang normal...
.
.
Jika boleh menduga, Hatake Kakashi merasa bahwa hubungan semerawutnya dengan Haruno Sakura sudah selesai sejak pertemuan terakhir mereka di rumah sakit.
Rasa kesal dan juga amarah yang sempat menempel di ulu hatinya seolah lepas saat ia sempat berbicara dengan Sakura yang saat itu juga mengalami cidera akibat ulahnya sendiri. Anggap saja ia memaafkan Sakura dan permasalahan mereka memudar. Toh, dari awal dia bukanlah pria yang senang menanam dendam.
Hanya saja, semua yang ia rasakan tampaknya tak berlaku juga bagi Sakura.
Gadis itu memang bersikap lebih baik dengannya, namun masih saja ada sifat-sifat tidak menyenangkan yang kembali ia tunjukan. Bila bersama orang lain Sakura terlihat riang, penuh senyum dan juga bersikap manis layaknya anak kucing. Senyuman tak pernah lepas dari bibir tipisnya. Namun entah kenapa, jika pasang mata itu bertemu dengan Kakashi, semua ekspresi itu sirna.
Memang, Sakura tak lagi mengeluarkan aura tak bersahabat, ogah-ogahan saat berinteraksi dengannya, atau bahkan mendengus malas jika ia ajak bicara. Bukan. Itu sudah basi. Sakura kini memperlakukannya bagai mahkluk tak kasat mata yang berprofesi sebagai gurunya.
Ya, Sakura sengaja menghindari kontak dengannya.
Hal itu terus Sakura lakukan dimulai dari hari pertama ia membawa kruk tongkat penyangga ke sekolah. Meski Kakashi sudah beberapa kali guru itu bersikap lunak padanya, Sakura tetap tidak mau berubah. Saat belajar dengannya, kala semua murid mengarahkan pasang matanya ke papan tulis, di mejanya Sakura malah bertopang dagu dan menunduk; cukup dengan kedua telinga ia dengarkan penjelasan Kakashi. Siswi bersurai pendek itu baru akan melihat papan tulis apabila ia sudah menyuruh para murid untuk mencatat.
Rasanya sepele, tapi jelas itu membuat Kakashi terganggu.
Pernah sesekali Kakashi memanggil Sakura ke ruangannya dan menanyakan apa alasan Sakura bertindak seperti itu. Gadis itu hanya tersenyum dan mengatakan tak ada apa-apa dengan nada sok riang. Apa gadis ini marah padanya pun Kakashi tak bisa menerka. Toh, bukannya Sakura yang masih punya salah padanya?—gadis itu belum mau minta maaf perihal jatuhnya mereka berdua di tangga.
Karenanya Kakashi mencoba untuk tak peduli. Tiga kali dalam seminggu ia lalui di kelas Sakura untuk mengajar, dan karena itulah Kakashi memutuskan untuk tak lagi menggubris siswinya yang satu itu.
Mengikuti permainan yang diciptakan sendiri oleh Sakura, kini mereka mencoba untuk tak lagi peduli dengan satu sama lain.
.
.
.
TEASTU ROMAN
"Teastu Roman" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Kakashi Hatake x Sakura Haruno]
Romance, Drama, Friendship
AU, OOC, Typos, etc.
.
.
CHAPTER SEBELAS
(XI) Redup
.
.
Sedangkan di lain sisi, saat Sakura berada di tengah pelajaran matematika. Dari mejanya yang paling depan ia mencuri pandang ke Kakashi yang tengah membelakanginya, sedang menulis soal di papan. Dia perhatikan surai abu, leher dan bahu bidang pria itu secara seksama. Awalnya dia diam tak bersuara. Meneliti gerak-gerik pria itu untuk beberapa saat. Serat di kemeja cokelatnya yang membuat kemeja khusus guru itu terlihat mahal di tubuhnya. Juga lengan kemejanya yang dia gulung hingga tiga per empat bagian karena ia sempat melirik waktu di jam tangannya.
Sakura sebenarnya malas mengakuinya, tapi dari sisi ini, Kakashi memang terlihat sangat dewasa dan begitu tampan. Menyebalkan.
Bibirnya pun mengerucut sampai ia tak sadar bahwa kini Kakashi sudah berbalik dan—kebetulan—balas melihatnya. Tatapan mereka bertemu selama satu setengah detik dan Sakura pun buru-buru berpaling dan menyibukkan diri dengan alat tulisnya.
Jantungnya berdebar, tapi ada rasa sakit yang menghampiri kala ia mengingat ulang wajah wanita yang diduganya sebagai pacar pria itu. Dia pun mengeluh tanpa suara sambil mengusap wajahnya dengan tangan.
Tenang, ini bukan cemburu; aku tidak suka Kakashi-sensei; dan tentu saja ini tidak ada hubungannya dengan perempuan itu.
Sakura mencoba mempertegas dirinya dalam hati.
.
.
~zo : teastu roman~
.
.
Nyaris satu setengah bulan terlewat tanpa masalah. Perkembangannya besar sejak ia mengontrol emosinya saat berhadapan dengan Kakashi. Ia hanya perlu mengalihkan pikirannya dari masalah yang pernah ia lalui bersamanya, dan menganggap semua itu tak pernah terjadi. Hindari kontak mata dan juga fisik dari Kakashi. Tak usah memandangnya sekalian kalau tidak ingin ada pikiran negatif yang berkeliling di kepalanya.
Anggap saja ia sudah memulai kehidupan baru sebagai siswi SMA yang baik dan sopan. Apalagi menjelang hari dimana retak di kaki Sakura membaik. Pemulihannya cukup cepat. Dan hari ini Sakura mencoba untuk tidak membawa tongkat kruknya. Ia sudah cukup mahir berjalan seperti orang normal sekalipun masih sakit jika dipaksa berlari. Maka dari itu ia putuskan juga untuk mengikuti ekstrakulikuler wajibnya lagi bersama Ino dan Hinata di klub tenis.
"Ne, Sakura... kau lebih suka pacaran sama yang lebih muda atau lebih tua?"
Sakura yang sedang duduk sambil mengikat tali sepatunya menoleh. Ia terdiam sebentar. Berpikir. Tapi ketika ia ingin menjawab, kalimatnya tertahan. Ia melirik Ino sekali lagi dengan tatapan penuh selidik.
"Kau mau menggodaku dengan Kakashi-sensei, ya?"
"Eh? Kata siapa? Aku bertanya serius kok."
"Terakhir kau bertanya-tanya soal 'tipe cowok' pasti kau akan menghubung-hubungkanku dengan guru itu."
Ino menaikkan alisnya, heran. "Kau kan memang pernah suka sama Kakashi-sensei. Itu loh, saat kalian menghabiskan satu malam bersama di kelas yang terkunci."
"A-Aku tidak pernah bilang begitu!" Sakura merengek sebal. Kedua pipinya memerah tapi ia mendesah panjang hingga tertunduk. "Dan juga, aku lagi tak ingin mengingat namanya."
Hinata yang berada di sebelah mereka tertawa kecil. "Bukan begitu, Sakura. Ino baru saja ditembak oleh Sabaku Gaara. Sekalipun tahun ini dia juga kelas 10, ada yang bilang dia lebih muda dua tahun dari kita. Makanya Ino menanyakan pendapatmu soal suka yang mana; yang lebih muda atau yang lebih tua. Begitu..."
Mata hijau Sakura terbuka lebar. "Eh, tunggu. Tadi kau menyebut nama Gaara? Anak eksis dari Sunaga High School yang sempat datang ke sini untuk tanding bola itu? Kenapa kau tidak memberitahuku, Ino! Itu berita besar!"
Ino menjulurkan lidah. "Untuk apa? Kau sendiri tak mau bicara soal Kakashi-sensei pada kami."
Sakura sedikit tersinggung tapi dirinya tak bisa melawan banyak. Ino benar. Kadang dia masih terlalu menyimpan perasaan suka-dukanya seorang diri. Ino dan Hinata saja masih tidak tau alasan sesungguhnya dari cidera kaki yang ia miliki ini. "Aku kan tidak suka sama dia, Ino..."
"Kau suka dia, Forehead. Aku tau dari pandanganmu saat melihatnya."Jari telunjuk Ino menunjuknya tepat di depan hidung. "Mulutmu bisa saja berbohong, tapi matamu tidak."
Sakura cemberut dengan raut wajah tak mengenakkan. Masa iya? Sekalipun misalnya hal itu 'benar', alasan apa yang bisa menjelaskan semua itu? Separuh kenangan mereka hanya diisi oleh masalah. Dari mana rasa suka itu tumbuh?
Melihat temannya yang lesu, Ino menghela nafas dan kemudian duduk di sebelah Sakura. Ia tekuk kedua kakinya hingga dagunya bersandar di lutut. "Kau terlalu tertutup, Sakura. Aku jadi tidak yakin kalau kita ini bersahabat atau tidak..."
Ada rasa sakit yang begitu menyengat saat kalimat itu terlontar.
Di suasana lapangan tenis yang ramai ini dua orang itu terdiam di dalam keheningan. Mereka larut pada pikiran masing-masing. Hinata yang memperhatikan hanya tersenyum. Ia tepuk pundak Ino dan kemudian duduk di depan mereka—membuat segitiga kecil. "Mungkin Sakura masih belum sadar sama perasaannya sendiri, Ino. Jadi kupikir kita harus memakluminya."
Sakura menatap Hinata dengan pandangan berkaca-kaca.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita mencoba untuk lebih terbuka dengan satu sama lain? Aku suka Uzumaki Naruto. Bagaimana dengan kalian?"
Satu pernyataan kecil itu mengubah segalanya. Ino dan Sakura yang awalnya sedih jadi terbelalak dan menganga lebar. Setelahnya mereka sama-sama menjerit. Hinata pun dihujani belasan pertanyaan serius dari kedua sahabatnya yang masih belum menerima kenyataan itu. Masalahnya kan Naruto anak bandel yang gemar membuat onar. Dia sering menjadikan orang lain sebagai bahan candaan bodoh; dia juga mesum; tak akan pernah lupa akan dirinya yang pernah membawa komik hentai saat razia tempo hari. Salah satu keajaiban jika Hinata yang merupakan siswi teladan diam-diam menyukainya—hanya karena pria itu pernah meminjamkannya payung saat dirinya tak bisa pulang lantaran hujan deras di sekolah.
Setelah kehebohan yang dibuat Hinata mereda, Ino memutuskan untuk mengikuti alur. Dia mengaku masih bimbang menerima pernyataan cinta Gaara karena sekarang dia lagi menyukai Nara Shikamaru, sang ketua kelas 10-1, sekaligus teman masa kecilnya—ini benar-benar informasi baru. Walau kelihatan tak banyak berinteraksi di kelas, Ino mengungkapkan bahwa mereka sudah banyak menghabiskan waktu berdua di luar. Berbagai mall dan taman bermain pun pernah mereka kunjungi bersama.
Sembari tersenyum, Sakura mencermati satu per satu cerita temannya. Hal-hal seperti itu nyatanya sudah mereka rahasiakan sejak lama. Hinata mengaku malu untuk bercerita, sedangkan Ino sendiri tak ingin memberi tau kedekatannya dengan Shikamaru karena tak ingin ada orang yang menggodanya. Tapi kelihatannya Ino dan Hinata sudah lama saling menebak gebetan satu sama lain. Ino menjelaskan bahwa ia sering melihat pipi Hinata memerah tiap kali Naruto meminjam PR darinya. Sedangkan Hinata balas menceritakan Ino yang sering sok tegas di depan Shikamaru, seolah tak pernah membutuhkan bantuannya, tapi saat pria itu pergi ia sering mendapati Ino membuang muka dan menahan senyum bahagia yang cukup lama. Tipikal perempuan yang benar-benar sedang jatuh cinta.
Keduanya pun tertawa.
Lama-lama lengkungan tipis di bibir Sakura memudar. Dia menghela nafas.
Kelihatannya hanya dia yang kurang peka.
"Kalau boleh jujur..." Sakura berbisik pelan. "Aku benar-benar tidak tau perasaanku yang sebenarnya ke Kakashi-sensei."
Setelah kedua pasang mata itu memperhatikannya lama, Sakura menunduk dan meremas kain bajunya. "Tapi entah kenapa hatiku selalu sesak tiap kali kubayangkan perempuan yang sempat temui bersama Kakashi-sensei di rumah sakit—sebulan yang lalu. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih."
"Oh, ya? Itu namanya kau cemburu, Sakura."
"Ta-Tapi aku tidak marah sama perempuannya; aku malah kesal ke Kakashi. Pasti itu berbeda, kan?"
"Sama saja." Hinata terkikik geli. "Ternyata benar ya, Sakura menyukai Kakashi-sensei..."
"Sstt... jangan terlalu keras. Aku kan masih ragu." Sakura menatap sekitar. Untung penghuni klub tenis perempuan ini belum terlalu banyak yang datang. "Lagi pula aku—"
"Hei, kalian bertiga! Ayo sini bantu aku kumpulkan bola yang berceceran! Setelah ini kalian yang main!" Seorang senior memanggil. Buru-buru ketiga gadis itu berdiri untuk menghampirinya. Tapi tanpa sadar, ada sebuah bola tenis yang tak sengaja terlempar ke arah Sakura saat ia melewati pinggiran lapangan.
"Eh, yang di sana! Awas!" Anak lain yang tadi memukul bola hijau tersebut menjerit.
Sakura yang kaget lantas refleks menoleh ke arah kanan. Inginnya langsung berlari maju untuk menghindar, namun kakinya yang dipaksa bergerak pun berulah, dan...
Ctk.
Saat itu Sakura masih berdiri, tapi pandangannya kosong saat ada sentruman hebat yang menyerangnya dari kaki hingga ke ubun-ubun. Sementara itu bola tenis tadi jadinya menghantam jeruji pagar dan memantul ke pinggir lapangan.
.
.
~zo : teastu roman~
.
.
"Sakura, besok jangan lupa bawa tongkat krukmu. Kalau perlu tak usah lagi ikut klub tenis. "
"Huh, jahatnya..."
Ino menjulurkan lidahnya dan kemudian berbalik badan, memisahkan diri di sebuah persimpangan jalan yang mengarah ke rumahnya. "Ayo, Hinata."
Hinata yang kebetulan memang pulang dengan berjalan kaki pun mengangguk. Dia—yang dari tadi membantu Sakura berjalan dari lapangan tenis ke depan halte sekolah—pun memastikan Sakura duduk dengan posisi nyaman di bangku besinya.
"Baiklah, sampai jumpa, Sakura. Jangan lupa meminta bantuan bila kau tidak sanggup berjalan, ya."
Hinata tersenyum lalu menyusul Ino yang sudah berjalan menjauhi kawasan halte, meninggalkannya dengan siswa-siswi asing yang barangkali baru pulang dari kegiatan klubnya juga. Sambil menunggu datangnya bis Sakura melirik ujung sepatunya. Kejadian yang barusan ia alami di klub membuat kaki kanannya—yang belum sembuh total—kembali terkilir. Memang tidak terlalu sakit, tapi rasa ngilu dan bengkak yang didapatinya lah yang membuatnya takut berjalan.
Bagaimana bisa sembuh kalau luka lama ditumpuk luka baru?
Apalagi Ino dan Hinata yang jadi sering kena batunya seperti tadi—membantunya berjalan ke mana-mana. Merepotkan sekali ya punya teman sepertinya. Sedih, Sakura menatap langit di atas sana. Kini awan sudah berubah total. Warna jingga yang tercampur biru gelap entah kenapa menghasilkan warna ungu yang cantik namun terlihat suram. Panorama yang lumayan mirip dengan suasana hatinya yang terpuruk.
Bertepatan seorang pria bertubuh tinggi tegap yang memasuki kawasan halte, Sakura mendengar ada suara mesin bis yang mendekat. Dia pun mulai berdiri dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama. Pintu bis terbuka, dia masuk dan mengambil bangku yang terletak tepat di sebelah pintu. Beberapa yang menyusulnya memilih bangku belakang yang kebetulan kosong tak terisi, sehingga saat ada seseorang yang lebih memilih untuk duduk di sebelahnya, Haruno Sakura menoleh heran.
Dan kini, persis di sampingnya, orang—yang baru saja akan ia cermati wajahnya—malah sudah terlebih dulu menatapnya. Ya, dia. Seorang pria, berkemeja cokelat, celana katun hitam panjang, serta pandangan malas nan datar yang sudah sering dia dapati dari raut sesosok... Hatake Kakashi, guru matematikanya. Kenapa bisa mereka satu bis?
Diawali dengan menelan ludah, Sakura kembali melemparkan pandangannya ke jendela. Bibirnya dia gigit dan rasa gelisah mengelilinginya. Ia harus mengaku tidak nyaman dengan situasi ini sekalipun dadanya berdebar-debar tak karuan.
Kau tidak menyukainya, Sakura. Anggap saja dia tidak ada—ribuan kali kalimat itu ia batinkan. Hingga saat bis sudah mulai berjalan, pria itu bersuara.
"Ada yang ingin kusampaikan."
"M-Mm?" Sakura menahan diri agar tidak menggerakkan leher maupun matanya untuk melirik Kakashi.
"Kita harus berbicara empat mata. Mungkin kedai kopi di halte berikutnya bisa kita datangi sebentar. Mau?"
Tu-Tunggu... ini apa? Dia mengajakku kencan?—deru nafas Sakura sedikit patah-patah. Bingung. Lamat-lamat wajahnya memerah. Pasti ini efek dari Ino dan Hinata yang memaksanya untuk memperjelas perasaannya terhadap Kakashi. "K-Kalau mau bicara lebih baik nanti saja di sekolah."
"Aku yakin kau tak akan mau datang jika kupanggil ke ruanganku."
"Siapa bilang? Aku... akan datang."
Kakashi mengernyit. Mata hitamnya menatap tanpa kedip Sakura yang masih menunduk. "Kau pikir minggu lalu aku tidak memanggilmu? Lalu apa? Kau tidak datang, kan?"
"Waktu itu aku ke ruanganmu..."
"Bukan yang awal bulan, Sakura, tapi yang Rabu kemarin. Aku memanggilmu dua kali bulan ini, ingat?"
Sakura menatapnya sengit bercampur sedih. "Iya, aku datang. Sensei yang terlalu sibuk mengobrol dengan Kurenai-sensei—bahkan dari aku masuk sampai pergi dari ruang guru pun Kakashi-sensei tidak sadar."
Intonasi suara Sakura yang terburu-buru membuat Kakashi terdiam sejenak dan memikirkan kejadian minggu lalu di ruang guru. Kalau tidak salah, waktu menunggu kedatangan Sakura yang barusan ia panggil, Kurenai memang sempat bertanya soal cara input data nilai ke komputer sekolah. Saking banyaknya hal yang harus dijelaskan, tak henti-hentinya Kakashi berbicara dan mempraktikkannya di laptop yang Kurenai pakai. Mungkin di saat itulah Sakura datang lalu karena merasa tidak dihiraukan malah memutuskan untuk keluar begitu saja.
Jika saja benar begitu, jelas sekali itu murni ketidak-sengajaan. Dan juga kenapa Sakura begitu sensitif? Apakah susah menunggu dirinya selesai berbicara dengan orang lain?
Rem terasa ditekan dan bis pun berhenti. Sakura baru sadar bahwa inilah tempat pemberhentiannya. Dia pun turun sesudah membayar dan kemudian pergi begitu saja, tak memedulikan Kakashi yang juga ikut turun untuk mengikutinya. Ia bahkan sengaja mempercepat langkahnya yang agak pincang.
"Sakura."
Kakashi berniat menahannya walau Sakura langsung menolak pelan sebelum jemari itu sampai. Gadis itu sangat terlihat menghindari kontak fisik dengan guru tersebut. Jadilah Kakashi dibuatnya semakin heran. Kenapa sakura terlihat sangat membencinya sih? Apa salahnya?
"Di sekolah kau selalu menghindar, karena itu aku repot-repot meluangkan waktu sepulang sekolah hanya untuk berbicara denganmu." Tandasnya, kesal. "Ini bahkan sudah berlawanan arah pulang ke apartemenku."
"Memangnya Sensei mau bilang apa?" Ingin hal ini cepat berlalu, Sakura memutuskan untuk tak banyak tingkah. Ia tunggu Kakashi mengeluarkan sesuatu dari tas selempang hitamnya.
"Ini. Ada yang mau kuberikan padamu." Katanya. Sakura yang terkejut bukan main. "Baca saja di rumah."
Kakashi memberikannya sebuah surat. Aliran darah yang Sakura miliki seolah berpindah ke pipi. Mukanya merah padam dan jantungnya terpompa lebih kencang dua kali dibanding yang sebelumnya. Segeralah gadis itu menelan ludah dan mengembalikan surat itu ke tangan sang guru.
"U-Untuk apa kau memberikanku surat?"
"Ada apa dengan gelagatmu?" Kakashi sweatdrop sesaat. Ia sudah dapat menebak pola pikir anak itu. "Ini bukan surat cinta atau apa; itu surat pemanggilan orangtua."
Kalimat Kakashi ibarat petir yang menyambar. Lebih mengejutkan dan terlalu tiba-tiba.
"Kakakmu harus tau ada adik perempuannya yang akhir-akhir ini gemar sekali membuat masalah di sekolah." Jelasnya. Ia langsung bilang 'kakak' karena sudah tau hanya dengan siapa sakura tinggal di rumah.
"S-Su-Surat panggilan? Untuk apa? Aku tidak mau!"
"Ambil. Berikan ke kakakmu dan suruh mereka baca. Itu panggilan resmi yang sudah ditandatangani oleh kepala sekolah. Kalau kau tidak menyerahkan ini ke kakakmu dan dia tidak datang... maka aku lah yang akan mendatangi rumahmu."
"Apa!?" Itu jauh lebih gawat lagi. Sakura ingin merutuk tapi bibir bawahnya sudah terlebih dulu ia gigit keras. Pokoknya dia tidak mau memberikan surat ini ke Sasori. Tak akan pernah. Buru-buru Sakura meremas surat yang Kakashi berikan dan melemparkannya begitu saja ke dalam tas totenya. Gadis itu pun berbalik dan melangkah cepat. Inginnya kabur tapi dia lupa kalau kondisi kakinya sedikit memburuk. Jadilah dia terjatuh untuk pertama kalinya di atas aspal yang kasar.
Brukh!
Satu suara itu membuat sakura dan Kakashi sama-sama tercengang. Sakura memucat, sedangkan Kakashi yang menjadi saksi jatuhnya gadis SMA itu ke aspal hanya diam tak bersuara.
Sakura meringis. Ia berjongkok lalu berdiri dengan susah payah. Kemudian segeralah ia mengadah. memandang sinis ke arah Hatake Kakashi yang masih memperhatikannya. "Apa?" Tanyanya, menahan tangis sakit. "Mau ketawa, hah?"
Sambil menahan sakit Sakura berpegangan pada pagar rumah orang yang ada di sebelahnya. Pipinya yang berkeringat dingin terus menyemburkan rona merah. Tampaknya Sakura malu. Apalagi dia jatuh di depan orang yang—mungkin—paling bermasalah dengannya di sekolah. Bisa jadi kan Kakashi tertawa dan menghinanya dalam hati? Ah, Sakura jadi tak tau harus berbuat apa. Hidungnya terasa seperti ditekan. Air matanya nyaris jatuh kalau ia tidak memejamkan mata.
Hingga di saat itu juga ia dapati seseorang tengah menyentuhkan sebuah sapu tangan ke ujung lututnya yang masih ditempeli kerikil kecil dari aspal tadi. Sakura mengerjap pelan dan melihat Kakashi yang berjongkok di depannya kini sedikit mengadah. Wajah datarnya masih kentara sekalipun—anggap saja—ada sweatdrop di sana.
"Kau ini perempuan, tapi herannya selalu saja ceroboh..."
Sakura baru saja mau menjawab, namun dirinya terlebih dulu mengaduh akibat setruman yang cukup menyengat di kakinya. Sisa nyeri kakinya yang terkilir tadi.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Dan, ng... terima kasih."
Sakura melangkah satu kali, niatnya untuk kabur dan segera pergi dari Kakashi, hanya saja semua terlalu sulit dilaksanakan jika kakinya banyak tingkah begini. Sakit yang ia rasakan tiap kali dirinya jalan membuatnya mengernyit berkali-kali. Seolah ada jarum-jarum kecil yang menusuki syaraf kakinya. Jadilah ia berjalan pincang sampai kedua bahunya benar-benar membungkuk.
Sakit dan malu rasanya.
Dia tidak suka situasi ini.
Dia tidak suka terlihat lemah di depan Kakashi.
Dia tidak suka—
"Perlu kugendong?"
Kalimat tadi membuat Sakura terdiam. Kedua mata dan mulutnya sedikit terbuka. Gunjingan yang sempat Sakura tanamkan dalam hati seolah meluap dalam satuan detik. Tanpa sadar buliran air mata berturut-turut jatuh ke pipi, tepat saat ia berbalik dan melihat Kakashi yang menawarkan bantuan itu dengan senyum kecil yang... entah kenapa begitu tulus.
Jantung Sakura berdetak keras; berdentum-dentum, begitu kontras dengan dirinya yang kaku di tempat dengan wajah memelas. Masih dengan tangisan yang berlanjut menjadi isakan, Sakura menggeleng. "Tidak perlu. Aku... masih bisa jalan sendiri."
Kakashi pun tersenyum. Dia hampiri Sakura lalu berbalik dengan posisi agak rendah, menunjukkan bahwa punggungnya yang amat bidang bagi pria berumur 26 tahun sepertinya itu sudah siap Sakura naiki. "Jika kau menolak, aku benar-benar akan meninggalkanmu sendirian di sini."
Perut Sakura seolah berputar. Nyaris diliputi oleh kepeningan yang mendadak melanda, gadis itu tanpa berpikir dua kali langsung menjatuhkan dirinya ke punggung itu—bahkan sampai Kakashi mengomelinya karena itu. Menahan rasa kebahagiaan aneh yang mendadak menyeruak, ia peluk leher Kakashi dan memejamkan mata. Tak terbayang lagi seberapa merah wajahnya saat ini.
"Aku berat, kan? Rasakan."
"Iya, berat."
Sakura mencubit lengan pria itu, pelan.
"Jangan lepas peganganmu." Kata pria bersurai perak itu sambil berdiri, membenarkan posisi, lalu berjalan. "Aku tak tanggung kalau kau jatuh sendiri."
Sakura tak menjawab. Dia hanya menjelaskan secara singkat jalan menuju rumahnya. Cukup sekali dan karena ia rasa Kakashi cukup mahir mengingat, ia tempelkan wajah dan tubuhnya ke punggung Kakashi dan merenung. Kakashi ternyata tidak memakai parfum sama sekali. Hanya ada harum sampo yang masih menempel di ujung rambut, juga wangi pelembut pakaian yang mungkin Kakashi kenakan di pakaiannya. Bau yang begitu alami dan menyegarkan. Sakura membuka matanya perlahan.
"Hei, Sensei... bukannya punggungmu juga sakit?"
Kakashi diam dulu memikirkan jawaban. "Sudah sembuh."
"Tapi itu kan tetap saja karena ulahku—kenapa kau masih mau mengantarku pulang?"
"Setidaknya aku masih bisa jalan."
Jika boleh jujur, Sakura sama sekali tidak puas dengan segala jawaban singkat Kakashi. Ah, atau ada sesuatu yang dia harapkan? Dirinya menggeleng dan menelan ludah.
"Ne, Kakashi-sensei..."
"Hn?"
"Sebenarnya... dulu aku sempat suka padamu."
Mata Kakashi terbelalak, baru saja ia akan menghentikan langkahnya, Sakura buru-buru meluruskan.
"Err, maksudnya menyukaimu sebagai guru. Kupikir aku tak lagi membencimu." Tukasnya. "Tapi sejak kau memberi tahu keadaan keluargaku pada Anko-sensei, kurasa aku kembali membencimu."
"Begitu?" Kakashi berbisik. "Lalu bagaimana dengan sekarang?"
Sakura mengedip sesaat. "Sekarang?"
Tepat di depan rumah Sakura, Kakashi berhenti bergerak. Ia menurunkan Sakura dari gendongannya. Wanita bersurai pendek itu dengan kikuk berterima kasih. Seolah pembicaraan mereka telah selesai, Sakura yang juga kebingungan dalam menjawab lantas menekan bel rumah. Ia sekalian pamit untuk segera masuk. Namun nyatanya tangan Sakura ditangkap Kakashi. Begitu gadis itu menoleh, Kakashi mengulang pertanyaannya.
"Bagaimana dengan sekarang?"
Siswi ber-sweater cokelat muda itu menahan nafas. Telapak tangan Kakashi yang terasa hangat sedikit mengganggunya berkonsentrasi. Dan juga, ia harus menjawab apa?
"Sakura?"
Seraya menoleh Sakura menyentak pelan tangan Kakashi. Ternyata sedari awal kedatangan mereka, pintu rumah sudah terbuka. Ada sesosok pria bersurai merah yang berdiri di depan pintu dengan raut mengernyit heran melihat keduanya. Itu Haruno Sasori. Mungkin hari ini sedang pulang cepat. Bergegas, Sakura melambai sekilas ke Kakashi dan langsung masuk ke dalam.
"Jaa, Sensei... terima kasih untuk bantuannya."
Setelah Sasori ditarik Sakura masuk, pintu depan rumah keluarga Haruno tertutup, meninggalkan Kakashi yang masih menatapnya lama-lama. Hingga beberapa detik kemudian, pria itu berpaling dan kemudian berjalan pulang menuju halte.
"Dia siapa, Sakura?"
Sakura yang sudah berada di dalam rumah menghentikan gerakannya meneguk air di gelas. Dia usap bibirnya sebentar dan kemudian menatap Sasori yang masih di belakangnya dengan penuh selidik.
"Dia guruku."
"Guru? Kenapa kau sempat berpegangan tangan dengannya?"
Sakura berdesis sekalipun pinggangnya serasa tergelitik. "Tadi aku hampir jatuh." Katanya, cepat. "Dan sudahlah, abaikan saja orang itu. Aku juga baru papasan dengannya tadi."
Sasori mengangguk singkat. Dia berjalan pelan menuju ruang tamu, namun foto wajah sang ibu yang terpajang di dinding membuatnya kembali terdiam. Ia menoleh ke Sakura sekali lagi. "Asal kau jangan berhubungan apa-apa dengannya, oke? Kau tau sendiri Ibu sangat membenci profesi guru."
Sakura terdiam dan membalas pandangan Sasori dengan sendu. Apa ini karena permasalahan keluarga mereka dimulai sejak ayahnya, yang merupakan seorang dosen, dikabarkan selingkuh dengan seorang mahasiswi universitasnya?
"Tentu saja. Mana mungkin juga kami berhubungan..." Sakura meletakkan gelas kacanya di depan meja makan, kemudian ia duduk dan berbisik lirih.
"Iya, kan? Mana mungkin..."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Zoccshan's Note
Sakura mulai lunak, kan? Ada yang bisa menebak apa konflik (sederhana) selanjutnya?
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to
Clara Merisa, Taskia Hatake46, Chacha Rokugatsu, Sabaku no Dili, Flafloflifle, nchie-ainie, kiddo hatake, Virgo Shaka Mia, nezumi, Rin Carrae, rrokudo, sofia-siquelle, lingling, wowwoh-geegee, Daisy Uchiha, SantiDwiMw, Luca Marvell, Phanie0312, yassir2374, palvection, HinaTama, X, Guest, dekdes, Bofitfitsan, BlackHead394, Alonely Setoguchi Shie, Uzumaki NaMa, inori chan, nana, Fuu As Poo, yuki chan, RairaHikari, Mrs Sasori, Tya hatake, Human20, Chichak Deth, Ming-'hime, Guest, si ganteng.
.
.
Pojok Balas Review
Sasori kenapa dapet dua peran? Iya, salah tulis. Udah diedit. Terima kasih. Di sekolahku kenapa ngga ada guru kayak Kakashi? Mungkin belum jodoh. Rasanya Sakura udah mulai suka ke Kakashi. Semoga aja. Aku positif thinking semua fict Zo ngga akan ada yang pernah di-discontinued. Haha, untuk saat ini doakan tetap begitu, ya. Nama marganya Rin itu Nohara. Thanks, kemarin lupa kalau Rin punya marga. Sifat Sakura di sini ngga bikin bosen. Terima kasihh. Zo juga suka nulis ide fict di buku? Iya, lebih jalan aja.
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
