Akashi Love On! part 2
Akashi mulai membuka matanya perlahan. Kepalanya sedikit pusing. Tapi nyeri di tangannya sedikit berkurang, malah terasa dingin. Mungkin karena kompres yang saat ini melekat di tangannya.
"Sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Mana yang terasa sakit?" Onodera yang berada di sampingnya tampak sangat khawatir.
"Apa yang terjadi?" tanya Akashi yang mulai sadar dari pingsannya.
"Kamu tadi pingsan, teman-teman OSIS membantuku membawamu ke UKS. Karena kamu lama sekali bangunnya aku menyuruh mereka pulang duluan. Oh ya, maaf aku sudah lancang membuka HPmu. Aku mencari kontak ayahmu dan sudah menelponnya untuk menjemputmu. Mungkin tak lama lagi ayahmu akan datang ke sini" jelas Onodera panjang lebar kali alas kali tinggi. (Emang rumus matematika? Ah nggak penting, abaikan!)
"Ehm,, makasih!" tenang saat ini mata Akashi normal kok (Nggak heterochrome maksudnya).
Kriik... kriik... Hening...
Suasana mereka sedikit canggung. Onodera nggak tahu harus ngomong apa. Takut menyinggung perasaannya, biasanya cowok nggak mau terlihat lemah di depan cewek. Apalagi cowok seperti Akashi Seijuro. Sedangkan Akashi juga nggak menyangka dia bisa pingsan. Apalagi harus di depan Onodera. Saat ini dia berusaha mengalihkan pandangannya dari cewek di sampingnya itu.
Onodera mencoba membuka pembicaraan,"Kenapa sih kebanyakan cowok itu keras kepala? Nggak mau terlihat lemah di depan cewek. Berkata baik-baik saja dan menyembunyikan lukanya. Padahal jika mereka mau sedikit jujur, lukanya nggak akan terlalu sakit".
"Benarkah?" komentar Akashi singkat dan lirih.
"Baiklah kalau masih keras kepala. Aku pulang dulu, sebentar lagi ayahmu pasti datang" Onodera mulai kesal dan memutuskan untuk meninggalkan Akashi sendirian.
Tiba-tiba tangan Akashi menggenggam tangan Onodera. Berharap dia tidak ditinggalkan sendirian di ruang UKS.
"Ayahku tidak mungkin datang. Sudah seminggu ini ayahku pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis dan tak tahu kapan kembali" jelas Akashi.
"Apa kamu kesepian?" tanya Onodera berbalik menatap Akashi.
"Sedikit" jawab Akashi
Pintu terbuka, seorang pria paruh baya muncul. Beliau adalah supir pribadi Akashi. Akashi langsung melepaskan genggaman tangannya dari Onodera.
"Seijuro-sama bagaimana keadaan Anda?" tampak di wajahnya yang sedang mencemaskan Akashi.
Tapi setelah melihat Onodera paman itu berkata,"Anu,, apakah saya datang di saat yang tidak tepat? Kalau begitu saya akan tunggu di luar saja" kata supir Akashi yang hendak keluar.
"Tidak-tidak Paman, saya juga mau pulang kok" kata Onodera yang masih menahan gugupnya masih tidak percaya kalau barusan Akashi memegang tanganya.
"Sudah ku bilang jangan memanggilku begitu saat di sekolah Honda-san" kata Akashi sambil mengernyitkan dahi.
"Maaf, Sei-kun" jawab paman itu.
Memang Akashi selalu benci jika dipanggil "Seijuro-sama". Tapi saat ada ayahnya mau tak mau paman itu harus memanggilnya begitu. Karena paman itu sangat menghormati tuannya.
"Oh ya, Onodera ikutlah bersama kami!" ajak Akashi tiba-tiba.
'Apa Akashi-kun barusan memintaku ikut ke rumahnya untuk merawatnya? Memang sih besok itu hari libur. Tapi ini terlalu mendadak. Apa aku salah dengar? Apa kepalanya terbentur sehingga dia nggak sadar dengan ucapannya? Bagaimana ini?' Onodera sudah berpikiran yang tidak-tidak.
"Hari sudah semakin sore, bahaya kalau jalan kaki sendirian ke halte. Sekalian aku juga ingin tahu rumahmu" kata Akashi sambil beranjak dari tempat tidur.
Kata-kata Akashi tadi membuyarkan lamunan Onodera. Bodohnya dia sampai berpikir kalau Akashi mau mengajaknya ke rumahnya. (Ngarep banget! Haha). Akashi dan Onodera memang teman sekelas sejak SMP, tapi mereka tidak terlalu akrab. Akashi yang sibuk dengan tim basket juga kegiatannya yang lain. Jadi dia tidak tahu rumah Onodera sampai saat ini. Kalau Onodera, apa sih yang nggak dia tahu dari Akashi. Bahkan saat liburan dia sering bersepeda melewati rumah Akashi. Walau hanya lewat depan rumahnya itu sudah membuatnya bahagia.
"Iya" jawab Onodera kikuk.
Setelah perjalanan naik mobil kurang dari 30 menit, mereka sampai di rumah Onodera. Rumah yang sederhana, tapi terlihat sangat nyaman. Terkesan bangunan kuno, tapi elegan. Ibunya punya bisnis toko roti dan manisan di rumahnya. Onodera tinggal bersama ayah, ibu, dan adik perempuannya. Biasanya dia ke sekolah naik bus lalu jalan kaki. Kira-kira perjalan sekitar 45 menit dari rumah sampai sekolah.
"Sudah sampai. Oh ya Akashi-kun..." kata Onodera sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Ini adalah obat tradisional turun temurun dari keluargaku untuk mengobati luka karena cedera. Ini untukmu" Onodera memberikan obat pada Akashi.
"Aku turun dulu ya! Honda-san terima kasih sudah mengantar" Onodera hendak turun dari mobil.
"Onodera!" Akashi memanggilnya.
"Iya? Ada apa Akashi-kun?" tanya Onodera.
"Terima kasih untuk semuanya!" kata Akashi sambil tersenyum.
'Oh Tuhan, senyumnya saat ini adalah yang terindah. Rasanya kakiku saat ini tak lagi menapak di atas tanah. Aku ingin selalu melihat senyum itu. Tapi ini saatnya harus berpisah' batin Onodera kegirangan seakan dia ingin terbang.
"Sama-sama, sampai jumpa!" balas Onodera dengan senyum pula di wajahnya.
"Hati-hati di jalan!" kata Onodera sambil melambaikan tangan mengantar kepergian mobil Akashi.
"Aku pulang!" kata Onodera setelah membuka pintu dengan hati berbunga-bunga.
"Neechan, kenapa pulang selarut ini? Bukankah sekolah harusnya sudah pulang dari tadi?" tanya adik perempuan Onodera.
Namanya adalah Onodera Haru. Dia adalah murid baru di SMA Rakuzan. Jadi saat ini dia satu sekolah dengan kakak perempuannya itu. Beda dengan kakaknya, dia adalah gadis yang ceria, lincah, dan ekspresif.
"Ano, tadi masih ada urusan di OSIS. Jadi pulang telat deh" Onodera membual.
"Oh ya Haru, bagaimana dengan sekolah barumu? Sudah mendapatkan teman baru? Ekskul apa yang akan kamu ambil?" Onodera berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sekolah neechan benar-benar luar biasa. Teman? Tentu saja banyak, aku kan jadi Ketua Kelas 1A. Tapi ada seseorang yang membuatku jengkel. Namanya Akabane Karma. Dia susah diatur, selalu datang terlambat, seenaknya sendiri, juga kalau di kelas usil banget. Kalau ekskul aku masih memikirkannya. Kalau menurut neechan aku harus ikut klub apa?".
'Pertanyaan sedikit selalu dengan jawaban yang panjang. Begitulah adikku!' batin Onodera.
"Bagaimana dengan cheers? Dari SMP kamu kan pintar ngedance?" saran Onodera.
"Setelah melihat kegiatan promosi klub tadi aku jadi nggak minat dengan cheers" jawab Onodera lesu.
"Kenapa?" tanya Onodera penasaran.
"Orang-orang di klub basket kelihatan seram-seram. Apalagi si Karma pasti masuk klub basket. Kalau aku memaksakan diri dan nggak semangat malah jadi beban klub nantinya" terang Haru.
"Kelihatannya kamu benci sekali dengan Karma ya?" kata Onodera menyimpulkan.
"Ya sudah neechan mau mandi dulu" Onodera bergegas menuju kamar mandi.
Setelah mandi Onodera pergi ke kamarnya. Dia masih tak percaya dengan kejadian hari ini. Akashi menggenggam tangannya, mengantarnya pulang, dan yang lebih penting Akashi tersenyum padanya. So sweet!
"Neechan, hari ini kau aneh sekali. Dari tadi senyum-senyum sendiri. Pas lagi mandi juga nyanyi-nyanyi, tumben sekali. Apa ada hal yang menyenangkan di sekolah?" Haru mengagetkan kakaknya.
"H..haru, kenapa di sini? Udah malam cepat ke kamarmu dan tidur!" usir Onodera.
"Iya iya. Sebel!" Haru keluar dengan langkah lunglai.
Sebenarnya Onodera ingin tidur, tapi matanya tak mau diajak kompromi. Dia jadi teringat saat pertama kali bertemu dengan Akashi.
#flashback#
Kembali saat Onodera masih kelas 1 SMP. Dia adalah gadis penakut, cengeng, dan sering jadi target keusilan teman-temanya bahkan kakak kelasnya. Suatu hari saat pulang sekolah di lorong sekolah yang sepi, Onodera dicegat oleh 3 cowok usil di sekolahnya. Mereka adalah kakak kelas Onodera. Mereka menakut-nakutinya dengan ulat. Pas sekali itu adalah hewan yang paling ditakuti Onodera. Saat dia melihat ulat tubuhnya akan langsung tak terkendalikan. Menggeliat dan mencak-mencak seperti orang kesurupan. Ketiga cowok itu melihat Onodera dengan tertawa terbahak-bahak. Akhirnya Onodera jatuh terduduk lemas dan hanya bisa menangis.
"Dasar lemah, penakut, cengeng!" kata salah satu cowok itu.
"Wajahmu manis juga bagaimana kalau jadi pacarku? Kau sudah pernah menolakku tapi kali ini kuharap jangan" kata salah seorang yang pernah ditolak Onodera.
"Rambutmu juga bagus, tapi akan kubuat lebih bagus lagi" kata salah seorang yang saat ini sedang memegang gunting.
Onodera hanya bisa pasrah, dia tidak punya keberanian untuk melawan ketiga kakak kelasnya itu. Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari balik tembok.
"Selamat siang Pak Kepala Sekolah! Jadi Pak Kepala Sekolah belum pulang? Apa? Bapak ingin keliling sekolah dulu untuk melakukan operasi? Ya Pak, saya setuju! Akhir-akhir ini memang banyak anak yang melanggar peraturan".
Ya benar itu adalah suara Akashi yang berpura-pura sedang berbicara dengan Kepala Sekolah. Ketiga cowok usil yang mendengar itu langsung ketakutan. Mereka cepat-cepat kabur dan meninggalkan Onodera yang masih terduduk lemas.
"Apa kamu baik-baik saja?" Akashi mengulurkan tangan kepada Onodera dengan senyum di wajahnya.
'Malaikat? Apa dia Malaikat tanpa sayap yang dikirim Tuhan untuk menolongku?' batin Onodera.
"Hei, aku bertanya padamu apa kamu baik-baik saja?" kali ini Akashi bertanya dengan suara yang lebih keras sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah Onodera.
'Bukan-bukan, dia itu Akashi Seijuro dari klub basket' akhirnya Onodera sudah sadar.
"Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menyelamatkanku" jawab Onodera sambil menahan isak tangisnya.
"Apa kamu bisa berdiri?" tanya Akashi lagi.
Onodera mencoba berdiri dengan bantuan tembok di belakangnya, tapi saat ini kakinya benar-benar lemas. Dan dia hampir terjatuh, untung Akashi dengan sigap menahannya. Tanpa bertanya pada Onodera dia langsung menggendongnya di belakang punggungnya.
"Sepertinya kamu masih syok dengan kejadian tadi? Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang" kata Akashi menawarkan diri.
"Terima kasih, tapi kalau istirahat sebentar aku bisa jalan kaki lagi" jawab Onodera.
"Tidak apa-apa tidak usah sungkan. Lagipula aku sedang menunggu seseorang. Jadi mungkin aku bisa mengantarmu dulu" jelas Akashi.
Jadi ceritanya Akashi sedang menunggu jemputan. Biasanya dia ada latihan basket setelah pulang sekolah, tapi karena ada masalah mendadak sehingga hari ini latihan diliburkan. Dia juga lupa membawa HPnya. Kalau teman-temannya di klub basket sudah pulang dari tadi.
"Baiklah! Sebelumnya terima kasih, tapi bisakah kau mengantarku sampai halte?" Onodera akhirnya mau diantar.
"Tentu, tapi bisakah jangan terus mengucapkan terima kasih padaku. Aku sudah lelah mendengarnya. Oh ya, kenalkan aku Akashi Seijuro dari kelas 1A. Siapa namamu?" tanya Akashi.
"Ano Akashi-kun, aku teman sekelasmu lho!" kata Onodera dengan raut wajah tak percaya bahwa teman sekelasnya itu tidak mengenalnya.
Dengan wajah polosnya sambil tertawa Akashi berkata,"Benarkah? Ah maaf, di kelas yang ku kenal hanya Midorima".
'Tentu saja, dia kan juga anggota klub basket' kata Onodera dalam hati.
"Benar juga ya kalau dipikir-pikir karena Midorima teman di tim basket. Tentu saja aku mengenalnya. Pasti aku terlihat bodoh ya?" kata Akashi berlagak bodoh.
'Nggak juga, karena kamu udah menyelamatkanku' batin Onodera lagi.
"Untung aku menyelamatkanmu..." kata Akashi seolah tahu isi hati Onodera.
'Apa dia bisa mendengar isi hatiku?' batin Onodera terkejut.
"Kalau tidak, mungkin kamu sudah dianiaya oleh mereka" lanjut Akashi.
'Oh,, ku kira...' Onodera lega.
"Kamu dari tadi kok diam aja sih? Masih syok ya? Oh ya, siapa namamu tadi?" tanya Akashi.
"Onodera Kosaki" jawab Onodera singkat.
"Onodera ya? Nama yang bagus. Tapi kamu beneran takut sama ulat? Penakut sekali!" Akashi mulai meledek.
Onodera hanya cemberut bercampur malu mendengar ocehan Akashi. Dia hanya berharap bisa cepat sampai halte dan pulang ke rumah.
"Kalau kamu takut kamu cukup menutupi kelemahanmu itu. Simpan ketakutanmu di dalam hatimu dan tunjukkan keberanianmu di depan musuhmu. Yakin deh mereka nggak akan menjahilimu lagi" nasihat Akashi.
"Ehm,, akan kucoba" jawab Onodera sambil manggut-manggut.
Akhirnya tak terasa mereka sudah sampai halte. Akashi menurunkan Onodera dari gendongannya. Onodera juga sudah kuat berjalan lagi. Tak lama bus yang ditunggu mereka pun muncul.
"Sekali lagi terima kasih Akashi-kun. Sampai jumpa lagi!" Onodera bersiap naik bus.
"Sama-sama, hati-hati di jalan!" sahut Akashi dengan senyum berlagak seperti pahlawan kesiangan. Tapi itu cukup membuat Onodera terpesona olehnya. Sepertinya sampai saat ini.
#flashbanck end#
Ingatan kejadian itu masih melekat erat di benak Onodera. Sejak kejadian itu dia lebih dekat dengan Akashi. Akashi pun mulai mengenal Onodera. Di kelas mereka belajar bersama, tertawa bersama. Tapi semua berubah sejak mereka naik kelas 2 SMP. Saat itu Akashi menjadi Captain di tim basket SMP Teiko. Dia mulai sibuk dengan kegiatan di klub basket. Terlebih saat kelas 3, seakan Onodera sudah nggak lagi bisa mengenal Akashi Seijuro. Dia berbeda dari saat pertama kali Onodera mengenalnya. Tak pernah lagi Onodera melihat senyum di wajahnya. Mungkin saat dia tersenyum, tapi itu bukan senyum tulus dari hatinya.
Dan secercah harapan muncul saat Akashi kalah di Winter Cup lalu. Onodera tak tahu harus sedih atau senang. Tapi Akashi mulai berubah sejak kejadian itu. Dia seolah kembali menjadi Akashi yang dulu. Akashi yang baik, lembut, perhatian, dan penuh senyum. Meski terkadang sifatnya bisa berubah setiap saat. Onodera cukup puas dengan Akashi yang sekarang ini. Tak lama mata Onodera pun lelah. Dia terlelap di tengah malam yang temaram.
Pagi-pagi sekali Onodera sudah bangun tidur. Dia memasak bubur ayam. Dia berniat pergi menjenguk Akashi. Ibunya yang sedang bersih-bersih heran dibuatnya.
"Kosaki, tumben sekali melihatmu sudah bangun di hari libur begini?" tanya ibunya heran.
"Iya Bu, aku ingin pergi pagi-pagi untuk menjenguk temanku yang sedang sakit" jawab Onodera.
"Temanmu? Siapa?" tanya ibunya lagi.
"Ada deh, ibu kepo deh" jawab Onodera sewot.
Ibu Onodera hanya nyengir mendengar perkataan anak perempuannya itu. Anak zaman sekarang kalau ditanya orang tua jawabannya selalu kepo lah, mau tau aja lah, atau mau tau banget lah. Nggak tau apa kalau orang tua terkadang khawatir anaknya akan melakukan hal yang tidak-tidak. Ibu Onodera pun meninggalkan Onodera yang masih sibuk memasak bubur ayam spesial. Setelah selesai Onodera bersiap-siap pergi dengan naik sepeda. Jarak rumah Akashi dengan Onodera mungkin sekitar 3 km. Cukup jauh, tapi Onodera sudah bertekad ingin menjenguknya dan membawakan bubur spesial buatannya.
"Ibu, Kosaki pergi dulu" pamit Onodera pada ibunya.
"Iya, hati-hati di jalan, pulangnya jangan sampai sore" perintah ibu Onodera.
Setelah bersepeda sekitar 15 menit, Onodera sampai di rumah Akashi. Rumah Akashi terlihat mewah nan megah. Bangunannya yang seperti rumah istana berwarna putih menambah indahnya rumah Akashi. Halaman yang luas dan beberapa pohon ditanam di halaman rumah. Terlihat rapi, rindang, nan asri. Onodera terkagum-kagum dengan keindahan rumah itu. Memang Onodera sering lewat di depan rumah itu, tapi baru kali ini dia melihatnya sedekat ini. Onodera bertanya pada satpam di pintu gerbang.
"Permisi Pak, apa Akashi-kun ada di rumah?" tanya Onodera dengan ramah.
"Kamu siapa?" satpam itu malah balik nanya.
"Saya teman sekolahnya, Onodera Kosaki" jawab Onodera.
"Baiklah kamu boleh masuk, tapi mungkin Seijuro-sama masih tidur. Kamu bisa menunggunya di ruang tamu" kata satpam itu menjelaskan.
"Terima kasih"
Onodera pun masuk ke dalam. Tapi tiba-tiba dia dikejutkan oleh seorang anak yang tak asing sedang bermain basket di halaman rumah Akashi. Anak itu adalah Akabane Karma.
#TBC#
~Penasaran apa yang terjadi selanjutnya? Tunggu di part berikutnya! Maaf kalau cerita kurang menarik, OOC, dan banyak typo! Thank's for reading!
