Akashi Love On! part 3
Onodera terkejut melihat anak yang saat ini tengah bermain basket sendirian di halaman rumah Akashi. Anak itu adalah Akabane Karma, adik sepupu Akashi.
'Apa yang dilakukan Akabane-kun di rumah Akashi-kun? Bukannya Akashi-kun hanya tinggal sendirian, karena ayahnya yang sedang tidak di rumah?' gumam Onodera.
Karma yang melihat Onodera menghentikan latihan basketnya dan menghampiri gadis itu. Sambil mengerutkan kening dia bertanya,"Kamu siapa?".
"Salam kenal namaku Onodera Kosaki. Aku teman sekolah sekaligus sekelas Akashi-kun" jawab Onodera dengan sopan.
"Onodera? Sepertinya nama itu tidak asing" Karma mendekat ke wajah Onodera. Dia menatap tajam cewek itu yang membuat Onodera malah semakin gugup.
"Wah, kalau dilihat dari dekat kamu mirip dengan seseorang yang ku kenal".
Karma memutar otaknya untuk mengingat.
"Ya benar, kamu mirip sekali dengan Ketua Kelasku yang bawel" kata Karma kemudian.
'Ketua Kelas yang bawel?' rutuk Onodera.
"Ah, mungkin yang kamu maksud adalah adikku, Haru?" jawab Onodera menyembunyikan jengkelnya karena baru saja Karma mengatai adiknya.
"Ya benar, Haru-chan. Eh, ngomong-ngomong apa yang sedang Onodera-san lakukan di sini?" tanya Karma.
"Aku ingin menjenguknya, karena kemarin Akashi-kun pingsan. Oh ya, bagaimana keadaannya?" Onodera balik nanya.
"Yah, Sei-niichan masih belum bangun. Kemarin dokter sudah memeriksanya, tenang saja katanya tidak ada yang serius kok" kata Karma menjelaskan.
"Jadi Akabane-kun juga sedang menjenguknya?" tanya Onodera lagi.
"Mulai hari ini aku akan tinggal di sini, karena niichan keras kepala nggak mau tinggal di rumahku. Daripada dia tinggal sendirian karena sering ditinggal ayahnya untuk urusan kerja. Lagipula di sini lebih dekat dengan sekolah dibanding dengan rumahku. Eh, ngomong-ngomong kamu tau namaku?"
"Tentu saja, kamu kan jadi trending topic saat penerimaan murid baru kemarin. Akabane Karma-kun anak baru dengan nilai tertinggi yang mejadi perwakilan murid baru" kata Onodera ramah.
"Ah, aku tak sehebat itu kok. Jangan berlebihan Onodera-san. Kalau begitu salam kenal" kata Karma sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau begitu Akabane-kun karena kamu juga tinggal di sini, bisakah tolong berikan ini pada Akashi-kun?" kata Onodera sambil menyerahkan sekotak bubur ayam spesial yang dibalut kain berwarna pink pada Karma.
"Tidak mau, berikan saja sendiri pada orangnya. Lagi pula Onodera-san sudah jauh-jauh datang ke sini. Bagaimana kalau kita ke dalam dulu sambil menunggu Sei-niichan bangun" usul Karma dengan wajah jahil mode on. Tapi tentu saja hal itu tak diketahui Onodera.
"Ah, baiklah" dasar Onodera memang penurut.
Onodera menerima ajakan dari Karma. Mereka memasuki rumah yang megah itu. Onodera terkesan bagaimana perasaan Akashi tinggal sendirian di rumah yang begitu besar seperti ini. Pasti dia sangat kesepian. Di sisi lain, tampaknya Karma sedang memikirkan sesuatu untuk menjahili teman kakak sepupunya itu. Dia mempersilakan Onodera duduk dan berkata ingin mengambil beberapa cemilan dan minuman di dapur. Tak berapa lama kemudian Karma muncul.
"Maaf, membuat Onodera-san menunggu" kata Karma sambil membawa minuman dan nampan yang diberi penutup.
"Terima kasih"
Onodera terkejut saat melihat minuman yang dibawa Karma berwarna merah seperti darah. Dia mengambil gelas itu dan akan meminumnya, tapi nyalinya menciut saat mencium baunya yang aneh.
Dengan polosnya Onodera bertanya,"Ano, Akabane-kun. Minuman apa ini kok baunya aneh sekali?".
"Wah, pertanyaan yang bagus. Itu adalah darah babi special dari Pulau Jeju di Korea" kata Karma dengan tenangnya.
'Memang kamu kira aku ini vampir apa?' batin Onodera. (Penggemar orange marmalade pasti tahu)
Onodera hanya tersenyum masam. Dia letakkan kembali gelas berisi minuman menjijikkan itu. Dia tak menyangka rumor bahwa Akabane Karma adalah orang yang super jahil ternyata benar adanya. Pantas adiknya, Haru sangat membencinya.
"Onodera-san kau tidak mau meminumnya? Padahal aku sudah repot-repot membawakannya untukmu" Karma mulai menunjukkan wajah manjanya.
"Ah, mungkin karena tidak haus, kalau begitu bagaimana dengan ini?" Karma membuka penutup yang ada di nampan.
Tak kalah terkejut saat Onodera tahu bahwa nampan yang dikiranya berisi makanan malah berisi beberapa kecoak. Karma yang melihat reaksi terkejut Onodera semakin tersenyum puas.
'Tenang Onodera. Ini bukan apa-apa. Kalau kamu takut kamu cukup menutupi kelemahanmu itu. Simpan ketakutanmu di dalam hatimu dan tunjukkan keberanianmu di depan musuhmu. Yakin deh mereka nggak akan menjahilimu lagi' Onodera berkata pada dirinya sendiri.
Dengan segenap kekuatan dan wajah yang stay calm Onodera berkata,"Wah, kecoaknya lucu sekali. Apa Akabane-kun sendiri yang menangkapnya? Apa kamu juga menamai mereka satu per satu?".
Mendengar perkataan Onodera, Karma mulai jengkel. Bukan Karma namanya kalau dia tak mempunyai ide cadangan. Dia bergegas menuju ke kamar untuk mengambil sesuatu. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa tikus putih piaraannya.
"Bagaimana dengan ini Onodera-san?" tanya Karma seolah berharap bahwa dia berhasil membuat gadis di hadapannya itu ketakutan.
"Wah, kawaii! Lucu sekali! Siapa namanya?" kata Onodera dengan poker facenya.
"Shiro" jawab Karma ketus.
Karma mulai menyerah,"Wah, sepertinya Onodera-san bukanlah orang penakut".
Onodera bernapas lega. Dia tersenyum puas mendengar ucapan Karma tadi. Padahal sebenarnya dia takut dengan semua binatang itu. Tapi itu bukanlah apa-apa asal jangan yang satu itu, yup ulat. Itu adalah binatang yang bisa membuat Onodera hilang kendali. Dan tiba-tiba...
"Ulat! Onodera-san ada ulat di pundakmu!" teriak Karma tiba-tiba.
"Hah? Mana? Di mana?" Onodera langsung hilang kendali. Dia meraba-raba ke pundaknya mencari binatang yang dibencinya itu. Dan mengibaskan rambutnya, takut kalau ulat itu merayap ke rambutnya.
Karma mulai menyadari kelemahan gadis itu. Dia membuang ulat mainannya ke bawah sofa tempat Onodera duduk.
"Itu, di kakimu!" pekik Karma.
"Argh!" teriak Onodera. Tanpa pikir panjang dia langsung naik ke atas sofa sambil ketakutan nggak jelas. Dia loncat-loncat di atas sofa itu.
Karma yang melihat tingkah ketakutan Onodera tak bisa menahan tawanya. Tak menyangka bahwa kelemahan gadis itu adalah ulat. Tiba-tiba muncul Akashi di ruang tamu tersebut. Mungkin dia terbangun karena teriakan Onodera tadi.
"Ada apa ini? Onodera?" dia mengucek-ucek matanya memastikan bahwa ia tak salah lihat.
Onodera terpaku melihat Akashi sudah bangun dan melihatnya seperti ini.
Lalu pandangan Akashi beralih ke Karma,"Karma, apa yang kau lakukan di sini? Dan apa yang kau lakukan pada Onodera?".
Tanpa menjawab pertanyaan Akashi, Karma malah tertawa terbahak-bahak.
"Hey, apa yang sedang kau tertawakan?" tanya Akashi kesal karena pertanyaannnya diabaikan.
"Tanya saja pada Onodera-san!" usul Karma yang masih menahan tawanya.
Akashi menatap Onodera lagi. Kali ini dia melihat gadis itu juga sedang menahan tawanya.
Akhirnya Onodera berkata,"Akashi-kun bedhead-mu sungguh lucu sekali".
"Kau benar Onodera-san, baru kali ini aku melihat seorang Akashi Seijuro yang seperti ini. Walau mulai hari ini aku harus terbiasa dengan hal itu. Haha" tutur Karma.
"Ini style baruku tahu!" Akashi ngeles, tapi dia malah merapikan rambutnya dengan tangannya. Pertanda bahwa dalam hatinya dia malu sekali ditertawakan oleh Onodera dan Karma.
"Dan lagi, Karma! Apa maksudmu mulai hari ini? Kenapa kau bisa di sini?
"Wah Sei-niichan apa obat yang diberikan Dr. Kimura membuatmu jadi amnesia? Apa niichan lupa tadi malam ayahmu...?".
Akashi mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam setelah pulang dari rumah Onodera.
Kriing... telepon genggam Akashi berbunyi. Di sana tertulis nama "AYAH". Dengan berat hati dia mengangkat panggilan tersebut.
"Seijuro, bagaimana keadaanmu? Tadi temanmu menelpon Ayah. Katanya kamu pingsan di sekolah" terdengar suara dari seberang.
"Iya Ayah, aku baik-baik saja" suara Akashi terdengar parau.
"Ayah, sudah menelpon Dr. Kimura. Tak lama lagi beliau akan datang ke rumah untuk memeriksamu. Ayah sudah berikan kamu kesempatan untuk bermain basket lagi setelah kekalahanmu di Winter Cup kemarin, karena Ayah tahu bahwa Karma hendak masuk ke sekolah yang sama denganmu. Jadi jangan kecewakan Ayah lagi, apalagi kalau sampai Ayah mendengar kamu cedera".
"Iya Ayah, aku tahu" jawab Akashi singkat.
"Satu hal lagi. Untuk sementara ini Ayah sibuk dan tidak bisa pulang ke rumah. Jadi sebaiknya kau tinggal dengan keluarga Pamanmu, Kazuhiro".
(Akabane Kazuhiro adalah Ayah Akabane Karma. Dia adalah adik dari Akashi Suichiro Ayah Akashi Seijuro).
"Tidak Ayah, aku lebih senang tinggal di rumah".
"Baik, kalau kamu tetap keras kepala. Ayah akan meminta Karma untuk menemanimu. Lagipula kalian sekarang satu sekolah. Sudah dulu, Ayah sedang sibuk sampai jumpa. Jaga diri baik-baik".
"Tunggu, Ayah!".
Tiit.. Tiit..
Tanpa mendengar penjelasan Akashi, Suichiro menutup teleponnya.
"Huh, Karma ya? Lebih baik aku tinggal sendirian daripada harus ditemani bocah itu" gerutu Akashi.
Dan begitulah ceritanya. Jadi mulai hari ini Karma akan tinggal bersama Akashi.
"Menyebalkan" gerutu Akashi setelah ingat kata Ayahnya.
"Apa niichan tidak suka aku tinggal di sini? Padahal aku ke sini untuk menemani dan merawatmu lho?" kata Karma dengan wajah manja mode on.
"Apanya yang menemani dan merawat? Justru kebalikannya tahu! Tak sadarkah kalau kau itu merepotkan?"
"Jahat!" kata Karma mulai menangis. Tapi hanya pura-pura.
"Sudah-sudah kalian berdua jangan bertengkar!" Onodera mencoba menengahi mereka.
Akashi baru ingat bahwa ada Onodera di sini. "Oh ya, apa yang kamu lakukan di sini Onodera?" tanyanya.
"Ano, aku ke sini untuk itu memberi ini dan Akabane-kun melakukan itu dan ini. Dan..." Onodera gelagapan ngomong nggak jelas.
"Tenanglah Onodera-san, sebenarnya tidak ada ulat. Yang di bawah kakimu itu cuma ulat mainan. Minuman itu juga bukan darah babi, itu cuma jus tomat" jelas Karma.
Onodera terperangah mendengar penjelasan Karma. Dia langsung turun dari sofa dengan wajah merah seperti jus tomat itu. Malu pada Akashi dan Karma. Sedangkan Akashi tak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi antara mereka berdua. Betapa bodohnya Onodera yang berhasil dikerjai oleh Karma. Dan ulat? Dari dulu dia tak berubah.
"Jadi?" tanya Akashi lagi.
"Ini untukmu" kata Onodera sambil memberikan kotak makanan kepada Akashi.
Bukan Karma namanya kalau nggak usil. Dia langsung merebut dan membuka kotak makanan berbalut kain pink itu. Dan setelah terbuka dia tercengang melihat hiasan makanannya yang sangat indah.
"Wow, keren!" Karma terkesan.
Dan tanpa basa-basi dia mencicipinya. Akashi hanya melihatnya dengan tatapan kesal karena makanan untuknya telah direbut oleh Karma.
'Bocah ini' batinnya.
"Bhhuah,, makanan apa ini? Rasanya aneh sekali padahal hiasannya tadi sungguh indah" kata Karma setelah mengetahui rasa makanan tersebut.
Karma kena karma deh. Memang Onodera ahli dalam membuat garnish alias hiasan untuk makanan. Tapi untuk rasa nilainya zero alias dia buta rasa. Lol
Onodera yang mendengarnya tampak menahan tangisnya. Pipinya memerah karena malu. Padahal dia sudah susah payah untuk membuatnya. Tapi dia terkejut saat Akashi tiba-tiba merebut kotak makanan itu dari tangan Karma lalu memakannya.
"Nggak terlalu buruk. Ini enak kok. Mungkin karena kamu sering makan makanan cepat saji. Jadi lidahmu itu punya kelainan" kata Akashi sambil menatap tajam Karma.
Onodera yang merasa malu setengah mati langsung pamit pulang,"Kalau begitu Akashi-kun, Akabane-kun. Aku pamit pulang dulu".
Onodera langsung pergi meninggalkan dua pria itu yang masih terpaku melihatnya yang tiba-tiba pamit pulang. Dia berlari tanpa menoleh ke belakang. Mengambil sepeda dan mengayuhnya dengan cepat agar bisa lekas sampai di rumahnya. Tak apa walau rencana menjenguk Akashi berantakan. Asalkan dia mengetahui bahwa keadaan Akashi baik-baik saja itu sudah membuatnya lega.
"Ini semua gara-gara kamu Karma" Akashi mulai menyalahkan Karma.
"Apa-apaan? Memang rasa makanan itu aneh sekali. Apa niichan tidak merasakannya? Jangan-jangan lidah niichan yang punya kelainan. Aku akan telepon Dr. Kimura untuk memeriksamu lagi" kata Karma khawatir.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja" jawab Akashi ketus sambil meninggalkan Karma menuju kamar mandi.
Makanan dari Onodera tadi memang rasanya buruk sekali, tapi Akashi tetap berusaha untuk menghabiskannya. Setelah makanan itu habis dia tersenyum.
"Jadi ini masakan pertamamu untukku. Benar-benar menyedihkan. Tapi kenapa aku mau menghabiskannya ya? Apa mungkin benar kata Karma bahwa aku punya kelainan?" gumam Akashi.
(Ya benar, itu adalah kelainan. Tapi kelainan itulah yang orang biasa sebut cinta. Mungkin?)
#TBC#
~Penasaran apa yang terjadi selanjutnya? Tunggu di part berikutnya! Maaf kalau cerita kurang menarik, OOC, dan banyak typo! Thank's for reading!
