Akashi Love On! part 4
*Mulai chapter ini aku akan menggunakan nama "Oreshi" untuk menyebut Akashi asli karena dia menyebut dirinya "Ore" dan "Bokushi" untuk pemilik emperor eye dengan mata heterochromenya karena dia menyebut dirinya "Boku"*
Percakapan antara Oreshi dan Bokushi Akashi di pagi hari saat sedang duduk di meja makan.
Bokushi: "Ku harap kau tidak lupa dengan obrolan kita kemarin."
Oreshi: "Apa?"
Bokushi: "Huh, mungkin benar kata Karma, obat yang Dr. Kimura berikan padamu membuatmu jadi amnesia."
Oreshi: "Hei, kau ini benar-benar! Padahal aku hanya bercanda!"
Bokushi: "Kau tahu candaanmu itu nggak lucu, dan berhentilah mencoba jadi pelawak."
Obrolan terakhir mereka adalah setelah Dr. Kimura memeriksa keadaan Akashi. Mungkin memang benar tidak ada yang serius dengannya. Tapi Dr. Kimura mengatakan kalau Akashi harus mengistirahatkan tubuh dan pikirannya untuk sementara ini. Dan obat tradisional yang diberi oleh Onodera itu cukup manjur untuk pereda otot yang kejang. Tak lupa Dr. Kimura juga memberinya obat penenang.
"Aku tahu kamu tertekan setelah kekalahan yang telah lalu. Sehingga kau seakan menyalahkan dirimu sendiri. Kau terlihat baik-baik saja dan tidak peduli. Tapi tanpa sepengetahuan orang lain kau berusaha dan berjuang sendiri. Bahkan hampir mencederai tanganmu. Itu tampak seperti kau tidak percaya lagi pada teman-temanmu. Lalu apa bedanya kau dengan aku yang dulu?" kata Bokushi pada Oreshi.
"Kau benar!" jawabnya singkat.
"Untuk sementara ini biarlah aku yang menggantikanmu di klub basket. Untuk menenangkan pikiranmu mungkin kau bisa mencarinya di tempat lain," saran dari Bokushi.
"Sei-niichan!" kata Karma yang duduk di hadapannya mengagetkan Akashi yang sedari tadi terlihat tak nafsu dengan makanan yang ada di hadapannya. Biasanya dia akan dengan senang hati melahap makanan yang sudah Bibi Mai siapkan untuknya. Baginya masakan Bibi yang sudah merawatnya sejak kecil itu adalah masakan terlezat di dunia setelah ibunya wafat. Karena sebelum itu masakan ibunya adalah makanan favoritnya. Barangkali menu pagi hari ini yang tak ia sukai atau memang dia sedang tak nafsu makan.
"Ugh, tak kusangka Akashi Seijuro adalah orang yang suka melamun, amnesia, kelainan di indra pengecap, dan..." ejek Karma tak tanggung-tanggung. Mungkin dia belum tahu kemarahan dari seorang Akashi Seijuro. Padahal dia sudah mengenalnya sejak kecil.
"Hey! Berani sekali kau berkata seperti itu. Ah, kau tidak lupa punya hutang 2 permintaan saat kau kupermalukan di penerimaan murid baru kemarin kan, Karma-kun?" Akashi mulai memojokkan Karma.
"Ku..kupikir niichan lupa. Terus kau ingin aku melakukan apa?" kata Karma dengan nada yang bagaikan seekor rusa yang terdesak oleh cengkeraman sang singa.
"Kenapa kau terlihat ketakutan begitu? Kau pikir aku akan menyuruhmu bunuh diri?"
"Itu jauh lebih baik mengingat permintaanmu yang selalu hampir membunuhku saat aku kalah darimu, niichan!" kata Karma pasrah.
Mereka berdua mengenang masa lalu. Karma sangat mengagumi sosok Akashi Seijuro. Dia ingin jadi sepertinya bahkan melampauinya. Karma selalu meminta Akashi untuk mengajarinya main basket. Tapi Akashi selalu tidak punya waktu untuk itu karena Ayahnya yang tegas tak hanya membiarkannya bermain basket untuk bersenang-senang, tapi untuk kemenangan. Selain basket Akashi dituntut untuk bisa melakukan semuanya seperti bidang akademis yang harus jadi juara, bidang olahraga lainnya selain basket, bidang musikpun harus digelutinya. Sejak dini Akashi juga harus belajar mengurus perusahaan Ayahnya. Karena Akashi Seijuro adalah pewaris tunggal perusahaan Akashi Corporation.
Itulah sebabnya Karma berlatih sendiri. Terkadang dia meminta bantuan dari teman-teman Akashi di SMP dulu yang disebut "Generation of Miracles" a.k.a "Kiseki no sedai". Karma sering mengetes kemampuannya dengan menantang Akashi one-on one, tapi dia selalu dikalahkan dengan mudahnya. Dan setelah itu Karma harus melakukan permintaan Akashi yang terbilang konyol. Seperti makan nasi dengan satu sumpit selama 1 menit. Karma hampir mati tersedak kalau Akashi tak cepat-cepat menepuk-nepuk pundaknya dan memberikan air. Makan cabe satu mangkok yang membuatnya diare selama seminggu. Pernah juga Akashi meminta Karma memanjat pohon di depan rumahnya yang membuat seluruh tubuhnya digigit serangga. Dan permintaan konyol tapi berbahaya lainnya. Tapi itu tak menyurutkan semangat Karma untuk menantangnya dan suatu hari pasti dia bisa melampaui seorang Akashi Seijuro.
"Tenang saja kali ini aku sudah bosan mengerjaimu. Ini juga bukan permintaan yang sulit," kata Akashi santai.
"Lalu apa?" tanya Karma.
"Aku hanya ingin kau mencari tahu nomor HP Onodera!" titah Akashi pelan kali ini.
"Hah?" Karma hampir saja memuntahkan susu strawberry favoritnya yang sedang diminumnya. Apa dia nggak salah dengar?
"Buat apa?" tanya Karma keheranan.
"Tak usah banyak tanya. Apa kau keberatan?"
"Tentu tidak, tapi rasanya agak aneh. Baiklah akan ku coba," jawab Karma ragu.
Mereka pun menyelesaikan sarapan pagi dan berangkat sekolah bersama. Dengan mobil yang dikendarai Honda-san, dengan cepat mereka sampai di sekolah, yaitu SMA Rakuzan. Sesampainya di sana mereka pun berpisah untuk menuju kelas masing-masing. Gedung sekolah Rakuzan berlantai 3. Lantai 3 untuk anak kelas 1, lantai 2 untuk anak kelas 2, dan lantai 1 untuk anak kelas 3. Terdapat lapangan basket untuk outdoor dan 3 gymnasium. Gymnasium 1 untuk klub basket, gymnasium 2 klub voli, dan 3 untuk futsal. Ada juga lapangan rumput untuk bermain sepak bola dan baseball. Dan masih banyak lagi fasilitas lainnya. Memang Rakuzan adalah sekolah elit yang mensejajarkan akademis dan non akademis. Jadi fasilitas di sana sangat lengkap dan memadai.
Di kelas 1A, Karma masuk dengan santainya. Dan duduk di salah satu kursi di ruangan tersebut.
"Pagi Karma-kun!" sapa seorang laki-laki dengan tubuh mungil, wajah yang imut, suara yang rendah mirip dengan perempuan, tapi ingat dia cowok lho!
"Pagi juga Nagisa!" jawab Karma.
Namanya adalah Shiota Nagisa. Dia teman Karma sejak SMP dan juga sekelas dengannya di kelas 3E SMP Kunugigaoka. Sekarang ini dia juga teman satu kelas Karma, bahkan tempat duduknya bersebelahan.
Haru yang baru saja datang dengan cerianya menyapa teman-temannya, "Pagi semuanya!" Matanya membelalak lebar ketika dia melihat Nagisa sedang ngobrol dekat dengan Karma membuatnya langsung menghampiri mereka.
"Karma, sudah kubilang berkali-kali jangan ganggu Nagisa!" kata Haru sambil merentangkan kedua tangannya di hadapan Nagisa.
"Apa hubungannya denganmu? Lagipula aku lebih dulu kenal Nagisa daripada kamu," kata Karma sinis.
"Memang, tapi Nagisa bisa saja tertular virus bandelmu. Dan aku nggak mau itu terjadi."
"Hah! Mana ada virus seperti itu? Lagipula seburuk itukah aku di matamu?" tanya Karma.
"Iya, ngomong-ngomong tumben sekali kamu pagi-pagi sudah datang mengingat saat masa orientasi kamu selalu datang terlambat," jawab Haru ketus.
'Tunggu, satu-satunya cara mendapatkan nomor HP Onodera-san adalah melalui adiknya, karena pasti sulit untuk mendekati Onodera-san secara langsung setelah kejadian kemarin,' batin Karma.
"Yah bukan apa-apa sih, itu karena aku ingin cepat bertemu denganmu. Bolehkah aku meminta nomor HPmu?" kata Karma dengan wajah datar.
"Kau mau merayuku? Jangan harap, karena itu mustahil. Maaf saja aku sudah punya seseorang yang kusuka," Haru menolaknya dengan cepat tanpa pikir panjang. (Oh,, poor Karma!)
'Cewek ini terlalu PD,' batin Karma.
"Huh, maaf saja tadi aku hanya bercanda!" kata Karma nggak mau kalah.
'Mungkin aku harus cari cara lain ' lanjutnya dalam hati.
"Sudah-sudah kalian berdua," Nagisa mencoba melerai mereka.
"Lagipula Haru-san, Karma-kun nggak melakukan apa-apa padaku kok. Kita cuma ngobrol biasa. Juga Karma-kun nggak seburuk apa yang kamu pikirkan," kata Nagisa membela Karma.
"Tapi..." potong Haru, tapi dia tak jadi melanjutkan kata-katanya karena terlanjur melihat senyum Nagisa yang menurutnya terlalu manis untuk dilihat. Bisa-bisa Haru terkena diabetes jika sering melihat senyum itu.
"Ah, sudahlah," kata Haru menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Lalu Haru pun meninggalkan mereka berdua menuju tempat duduknya. Dia bersikap seperti tadi karena tahu Karma adalah anak yang bandel dan usil. Dan dia nggak mau sampai Karma menjahili anak yang polos dan baik hati seperti Nagisa. Sebagai ketua kelas cuma dia yang berani melawan Karma. Tapi bagi Nagisa, Karma sudah jadi sahabatnya. Dia kenal betul sifat Karma. Walau Karma terlihat seperti anak yang bandel dan susah diatur, tapi sebenarnya dia adalah anak yang baik. Dia juga sangat peduli pada teman-temannya.
Sementara itu di kelas 2A terlihat sejak tadi Onodera mencoba menghindar dari Akashi. Saat Akashi mencoba menyapanya, dia ngobrol dengan temannya. Saat Akashi mencoba menatapnya dia mengalihkan pandangannya.
'Sudah kuduga akan terjadi hal seperti ini,' batin Akashi.
Lain Onodera lain pula Kirisaki yang juga sekelas dengan mereka. Dia terlihat lebih senang sekarang dengan Akashi yang baik, sopan, dan lembut. Ternyata Akashi yang seperti ini nggak buruk juga. Meskipun nggak bisa disangkal bahwa dia menikmati saat adu mulut dengan 'Bokushi Akashi'. Walau terdengar seperti pertama berkenalan dengan Akashi yang baru.
"Sei, hari ini kau hadir di latihan basket kan? Kita harus menyapa junior-junior kita lho!" kata Kirisaki memulai percakapannya.
"Tentu saja!"
"Bagaimana dengan adik sepupumu itu?" tanya Kirisaki.
"Ya, aku sudah memberitahunya."
"Aku tak sabar melihat gaya permainan junior-junior kita dan menjadi member baru di klub basket."
"Ah tentu, aku juga menantikannya."
Kriiing! Bel tanda pelajaran berbunyi. Pelajaran untuk hari ini pun dimulai.
*skip*
Bel berbunyi untuk ke sekian kalinya. Kali ini menandakan waktunya untuk istirahat makan siang. Setelah menyelesaikan catatan di papan tulis, Onodera merapikan bukunya. Memang dia suka sekali mencatat, bahkan sekecil apapun itu. Karena dia salah satu dari sedikit orang yang mempunyai daya ingat yang pendek, terutama soal pelajaran. Setelah itu dia bergegas menuju ruang OSIS untuk mengahabiskan bekal makan siangnya. Itu memang sudah menjadi kebiasaannya untuk menghabiskan jam istirahat makan siang di ruang OSIS. Dia membuka pintu ruangan tersebut. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat sesosok Akashi Seijuro di sana.
"Kenapa hanya berdiri di sana? Kau tidak ingin masuk?" tanya Akashi.
"Etto, mungkin aku ke kelas saja," Onodera hendak pergi.
"Aku minta maaf atas kejadian kemarin," Akashi berkata dengan cepat. Karena jarang sekali Akashi meminta maaf. Walau begitu Onodera masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Onodera menghentikan langkah kakinya. Dia berbalik dan duduk di kursi sebelah Akashi.
"Ah, kemarin ya? Memang kenapa? Akashi-kun nggak bersalah kok," kata Onodera sambil tersenyum.
"Lalu kenapa kau mengacuhkanku dari tadi?"
Onodera tersentak, sambil malu-malu berkata, "Itu karena... Aku malu sudah melakukan hal yang bodoh di rumahmu. Tapi, aku senang melihatmu sekolah hari ini. Karena itu berarti cederamu nggak serius."
Tiba-tiba ada seseorang membuka pintu ruangan tersebut.
"Maaf aku terlambat Onodera-san," kata pemuda yang baru memasuki ruang OSIS.
Pemuda itu adalah Yamada Akira dari kelas 2F. Dia adalah wakil ketua OSIS. Dia yang biasanya menangani urusan OSIS kala Akashi sibuk dengan klub basket. Walau begitu Akashi selalu bisa memberikan ide-ide brilliant-nya untuk kepengurusan OSIS. Segala keputusan juga atas persetujuan Akashi, kecuali saat rapat penerimaan murid baru kemarin. Akashi menyerahkan sepenuhnya kepada Yamada.
"Etto, Akashi-san?"
"Iya."
"Wah, senang sekali melihatmu di sini. Aku kira sedang bermimpi. Tapi ini beneran Akashi-san," kata Yamada sambil menjabat tangan Akashi. Sedangkan Akashi hanya keheranan dengan tingkah laku cowok di hadapannya itu.
"Tak perlu sebahagia itu kan Yamada-kun? Oh ya Akashi-kun, tumben kamu ada di ruang OSIS. Biasanya kamu menghabiskan jam istirahat di ruang klub basket atau latihan basket di lapangan?" tanya Onodera kemudian.
"Mulai hari ini aku akan meluangkan waktuku di OSIS, karena nggak enak kalau sebagai Ketua OSIS harus meninggalkan semua tanggung jawabku."
'Apa gara-gara kata-kata Chi-chan tempo hari,' batin Onodera.
(Obrolan Onodera dengan Kirisaki yang membahas Akashi yang tidak ikut rapat OSIS)
Akashi yang melihat Onodera dan Yamada terdiam tak berkomentar bertanya, "Bagaimana?".
"Ehm, tidak masalah sih. Tapi jika klub basketmu itu lebih penting..."
"Serahkan saja semuanya pada kami," Yamada memotong kata-kata Onodera.
'Aku baru saja mau mengatakan itu,' gumam Onodera.
Mereka bertigapun memakan bekal makan siangnya di ruang OSIS dan setelah itu membicarakan kegiatan seputar OSIS. Yamada tampak senang dengan adanya Akashi diantara mereka. Karena Onodera tak henti-hentinya tersenyum. Biasanya dia akan menghabiskan makan siangnya dengan tatapan kosong Onodera saja. Karena anggota OSIS yang lain juga punya klub masing-masing. Hanya Onodera dan Yamada yang tak punya kegiatan lain selain OSIS. Kalau Onodera, tak perlu ditanya perasaan apa yang saat ini tengah ia rasakan. Senangnya nggak ketulungan hingga hampir menagis karenanya.
Di lain tempat Karma yang saat ini ada di kantin bersama Nagisa sedang menikmati bakso dan es jeruk di hadapan mereka.
"Ngomong-ngomong Nagisa, kelihatannya Ketua Kelas berisik itu peduli sekali denganmu. Memang ada apa diantara kalian berdua?" tanya Karma.
"Maksudmu Haru-san?" tanya Nagisa yang kemudian diikuti oleh anggukan Karma.
"Oh, mungkin karena saat pertama kali aku bertemu dengannya. Itu terjadi saat tes masuk sekolah Rakuzan. Aku menyelamatkannya dari orang-orang jahat yang mengganggunya," kata Nagisa sambil sesekali menyeruput es jeruknya.
"Kau menggunakan jurus andalanmu itu?" kali ini Nagisa yang mengangguk.
(Yang pernah nonton Ansatsu Kyoushitsu pasti tahu jurus tersebut)
"Oh begitu, pantas saja dia kelihatan sangat mengagumimu."
"Padahal aku sudah bilang padanya nggak usah terlalu berlebihan."
"Nagisa, boleh nggak aku minta tolong padamu?"
Karma pun meminta Nagisa untuk mencari tahu nomor HP Onodera lewat adiknya, yaitu Haru. Nagisa menyetujuinya, tapi dengan syarat Karma juga harus membantunya. Mereka pun setuju. Setelah menghabiskan makanannya, mereka kembali masuk ke kelas, karena pelajaran akan segera dimulai kembali. Karma berpisah dengan Nagisa, karena dia ingin ke toilet terlebih dahulu. Sedangkan Nagisa langsung menuju ke kelas. Haru terkejut melihat bibir Nagisa yang merah saat dia memasuki kelas. Sontak dia menghampiri Nagisa yang sudah duduk di bangkunya.
"Darimana saja Nagisa?" tanya Haru.
"Baru dari kantin dengan Karma," jawab Nagisa.
"Bibirmu terlihat merah. Kalian habis makan apa?" tanya Haru lebih detail.
Nagisa tak langsung menjawab pertanyaan Haru. Dia berpikir sejenak. Jadi ceritanya, tadi Karma ingin mentraktir Nagisa makan bakso. Nagisa disuruh duduk menunggu di kursi, sedangkan Karma yang memesankan semuanya. Karma mengerjai Nagisa dengan memberikan banyak saos dan sambal di salah satu mangkok. Dia beralasan sedang melamun dan tak sengaja kebanyakan memasukkannya. Dia juga meminta pada Nagisa untuk memakannya, karena Karma trauma dengan masakan pedas. Akhirnya dengan terpaksa Nagisa memakan bakso saos pedas ala Karma yang membuat bibirnya kini terlihat merah seperti tomat. Kini teman satu kelas menyadari perubahan wajah Nagisa. Mereka tertawa sambil mengejek Nagisa.
"Si Nagisa itu cowok tulen kan?" kata salah seorang cewek teman sekelas Nagisa.
"Entahlah jangan-jangan dia cowok jadi-jadian."
"Dia lebih pantas jadi seorang cewek."
"Iya, andaikan dia cewek pasti aku pacarin," kata cowok yang ikut nimbrung di obrolan cewek.
"Hentikan semuanya! Berhenti mengejek Nagisa! Dia cowok tulen kok," kata Nagisa. Walau dalam hati sebenarnya dia memuji Nagisa manis sekali dengan bibir merah di wajahnya.
Tak lama kemudian Karma masuk ke kelas. Mendengar kasak-kusuk di kelas. Dia juga ingin ikut tertawa, tapi tertahan karena melihat wajah murka Ketua Kelasnya yang siap menghardik ke arahnya.
"Karma, apa yang kamu lakukan pada Nagisa?" tanya Haru.
"Apa yang aku lakukan? Kami hanya makan di kantin dan aku mentraktirnya makan," Karma menjawab dengan datar seolah tak terjadi apa-apa.
"Jangan berlagak tidak terjadi apa-apa? Kamu yang membuat bibir Nagisa menjadi merah kan?" kali ini Haru bertanya dengan sedikit membentak.
Seluruh kelas yang mendengarnya malah berpikir yang aneh-aneh.
"Apa? Karma yang membuat bibir Nagisa jadi merah?"
"Jangan-jangan dia menciumnya?"
"Apa mereka homo?"
"Ah, tidak mungkin."
Seluruh kelas ricuh gara-gara gosip tersebut. Tak lama kemudian guru mereka memasuki kelas yang membuat seluruh kelas berubah jadi tenang.
"Apa kamu sengaja melakukan ini, Karma-kun?" tanya Nagisa berbisik pada Karma yang duduk di sebelahnya.
"Maaf, aku cuma mau mengerjaimu sedikit. Tak kusangka malah jadi gosip murahan seperti ini."
"Baikalah aku memaafkanmu. Tapi jangan diulangi lagi," Nagisa memang baik hati. Walau dia bilang jangan diulangi lagi, tapi saat Karma mengerjainya lagi dia akan berkata hal yang sama.
*skip*
Pelajaran untuk hari ini telah usai. Murid-murid beranjak pulang, kecuali yang ada kegiatan ektrakurikuler setelah jam pelajaran. Tak terkecuali Karma yang langsung berlari menuju gym tempat diadakannya kegiatan klub basket. Sedangkan Haru yang belum memilih kegiatan ekstrakurikulernya langsung cabut pulang ke rumah. Di lorong dia dikejutkan dengan sapaan dari Nagisa.
"Haru-san, mau langsung pulang?" sapa Nagisa.
"Iya, Nagisa sendiri?"
"Aku juga. Rumah kita searah kan? Mau pulang bareng?"
"Tentu."
Mereka pun berjalan menuju halte bus. Berjalan beriringan sambil ngobrol. Sesekali Haru tertawa dengan tingkah Nagisa yang polos. Dan Nagisa hanya tersenyum kecil melihat wajah Haru yang ekspresif.
"Ngomong-ngomong Nagisa. Kenapa kamu masih mau temenan sama Karma? Padahal dia bandel, usil, dan suka mengganggumu," tanya Haru di sela-sela obrolan mereka.
"Karena dia teman pertamaku sejak di SMP. Sebenarnya dia anak yang baik dan suka menolong temannya. Dulu aku adalah anak yang lemah dan suka di-bully di kelas. Tapi Karma tak peduli. Dia membelaku dan mau berteman denganku. Aku sangat mengaguminya. Dia keren, jenius, pemberani..."
"Sudah-sudah, jangan berlebihan membelanya," kata Haru.
'Aku mual seakan mau muntah,' lanjutnya dalam hati.
"Oh ya, Haru-san. Kau punya seorang kakak perempuan kan?" tanya Nagisa.
"Bagaimana kau tahu?"
"Bukankah kau sudah memberitahuku saat penerimaan murid baru? Dia anggota OSIS kan?"
"Oh ya, maaf aku lupa."
"Etto, Haru-san. Boleh aku meminta nomor HP kakakmu?" kata Nagisa terbata-bata sambil memberikan ponselnya.
"Ehm, boleh," kata Haru yang langsung mencatat sebuah nomor HP di ponsel yang diberikan Nagisa.
"Terima kasih," kata Nagisa kemudian.
'Kukira bakal susah dan dia akan bertanya macam-macam. Tak ku sangka akan semudah ini,' batin Nagisa.
"Baiklah, kita berpisah di sini," kata Nagisa.
"Baik, sampai jumpa besok."
"Iya, sampai jumpa."
Mereka berpisah kali ini. Karena rumah Nagisa memasuki gang yang berbeda dari Haru.
#TBC#
~Penasaran apa yang terjadi selanjutnya? Tunggu di part berikutnya! Maaf kalau cerita kurang menarik, OOC, dan banyak typo! Thank's for reading!
