ALASAN PERGI KE DOKTER KANDUNGAN.
.
Orang-orang menyebutnya takdir,
Yang sebenarnya merupakan gabungan dari
Kesalahan tiap individu
-Oliver Hervord-
.
[CHAPTER 1A]
Jadwal tugas yang baru telah diumumkan!
Baekhyun menenangkan hatinya yang berdebar-debar dan menatap jadwal pembagian tugas baru yang ditempel di papan pengumuman di ruang presenter. Tidak ada yang berbeda. Seandainya ia mendapat tugas sebagai presenter tetap, ia pasti sudah diberi tahu sebelumnya. Sementara, Baekhyun sama sekali tidak mendapat tawaran untuk program apa pun. Jadi, ia tahu sekali kalau pengumuman ini sama sekali bukan untuk dirinya. Meskipun demikian, sekadar 'siapa tahu' saja... dan 'ternyata' memang sesuai dugaannya.
Ia pun tidak bisa menundukkan kepalanya. Ia seharusnya memasang wajah seolah melihat pengumuman itu karena rasa penasaran saja dan pergi meninggalkan ruangan itu. Lagu pula, tidak ada orang lain yang memedulikan bagaimana perasaannya saat itu. Namun karena merasa harga dirinya jatuh, kepalanya yang terangkat tegak pun terlihat kaku. Rasa kesal perlahan mulai merasuki dadanya. Beginilah jadinya bila terlalu banyak memikirkan sesuatu.
"Oh, tidak ada apa-apa rupanya." Baekhyun bergumam seorang diri dan berusaha mengangkat ujung bibirnya. Ia lantas membalikkan badan. Saat itulah ia bertatapan dengan Kai yang sejak tadi memandangnya dengan tatapan kasihan. Si berengsek yang selingkuh dengan wanita lain ketika dinas ke luar negeri...!
["Aku tidak serius dengan senior wanita itu. Kami hanya minum bersama dan terbawa suasana saja..."]
Alasan para lelaki yang berselingkuh memang memiliki stereotip yang sama. Mengaku sudah melakukan kesalahan yang fatal, atau menyangkal bahwa itu bukan kesalahan mereka. Awalnya, laki-laki ini juga termasuk kelompok yang kedua, yang sama sekali tidak berniat untuk berselingkuh.
["Memangnya kau minum sampai lupa batasan? Lalu, kalau aku berbuat seperti itu, apa kau mau memahamiku?"
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Seperti itu apanya? Memangnya laki-laki saja yang boleh terbawa suasana dan wanita tidak boleh? Maksudmu kau hanya main-main dengan wanita itu, dengan senior wanita rekan kerjamu itu"]
Kai dan Baekhyun bukanlah topstar, dan orang-orang pun tak tertarik dengan kisah percintaan mereka. Meskipun demikian, sebagai seorang presenter, Baekhyun juga tidak bisa heboh mengumumkan hubungannya kepada orang lain sehingga selama ini, tidak banyak orang yang mengetahui hubungan mereka. Namun, senior wanita yang diajak Kai 'bermain-main' itu adalah seorang PD[1] dikantor stasiun TV yang sama tempat mereka bekerja, sehingga Baekhyun mulai khawatir bagaimana jika ia harus bekerja sama dengan wanita itu. Meskipun senior wanita itu tidak tahu, tetapi Baekhyun tahu bahwa hubungannya dengan Kai hancur karena senior wanita itu. Namun, semakin besar amarah Baekhyun, laki-laki itu malah mulai melemparkan alasannya berselingkuh pada senior wanita itu.
["Kita ini hanya namanya saja 'pacaran', tetapi sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa, kan?"
Omong kosong macam apa lagi ini?
"Kau tidak pernah mengizinkanku memegang ujung tanganmu walau hanya sebentar, kan? Apa sih mahalnya dan hebatnya kau ini sampai tidak ada kemajuan dalam hubungan kita selama satu tahun ini?"
Ini bukan saja sekedar amarah, tetapi ia memang sudah melewati batas.
"Lalu kenapa? Apa aku harus mengikuti tahap-tahap pacaran seperti orang lain pada umumnya? Kalau begitu, lakukan saja dengan wanita lain!"
"Makanya aku menemui wanita itu, kan!" Kai berteriak putus asa.
"Ya sudah!"
"Ya sudah apanya?!" Kai menarik tangan Baekhyun yang hendak pergi meninggalkannya.
"Kalau saja kau tidak memperlakukanku seperti itu, kejadian ini tidak akan terjadi. Menurutmu ini semua karena kesalahanku?"
"Apa maksudmu? Jangan asal bicara, ya! Laki-laki memang menyebalkan!"]
Rasanya kini ia tahu mengapa Luhan sangan membenci laki-laki. Luhan, seorang eonni yang tinggal di sekitar rumahnya, hamil seorang diri dan muak terhadap laki-laki.
["Kau yang terlalu tertutup juga menyebalkan, tahu tidak! Memangnya sekarang ini zaman kerajaan Joseon[3] apa?"]
Memangnya selama ini ia memakai pakaian tertutup seperti pakaian besi prajurit? Mereka kan belum menikah, dan ia tidak ingin menuruti permintaan laki-laki itu begitu saja. Ibunya telah meninggal, dan walaupun ia hanya dididik dan dibesarkan oleh ayahnya, ia tidak ingin dikenal sebagai anak yang tidak tahu aturan. Ia tidak ingin disamakan dengan adiknya yang ugal-ugalan. Meskipun keluarganya tidak mampu dan ia hanya dibesarkan oleh ayahnya, ia ingin ayahnya mendapat pujian karena dapat membesarkan putrinya dengan baik. Itu saja. Menurutnya, pemikiran bahwa kemajuan suatu hubungan yang ditentukan oleh ukuran skinship[4] adalah salah.
["Karena otakku ini bukan made in Korea, tapi made in Joseon. Kau puas?"]
Awalnya ia berpikir Kai berbeda dengan laki-laki lain pada umumnya. Namun ternyata, ia sama saja. Baekhyun menatapnya dengan tatapan muak.
["Baekhyun, aku mohon. Maafkan aku sekali ini saja. Aku benar-benar menyesal saat ini. Kejadian itu benar-benar di luar kendaliku."
"Sudahlah. Tidak usah banyak alasan. Sekarang kuberitahu, ya. Lebih baik kita putus!"
"Semudah itu?" Kai bertanya dengan putus asa.
"Kau sendiri, memangnya tidak mudah bagimu?" Baekhyun berkata dengan dingin dan menatapnya tajam.]
Baekhyun sebenarnya tidak senang menerima tatapan kasihan dari laki-laki itu, apalagi di depan papan pengumuman kantor. Setidaknya, laki-laki itu mendapat satu program tetap. Mungkin ia mengumpulkan banyak rezeki sambil berselingkuh. Begitu kembali dari dinas, ia langsung memegang dua acara, bahkan salah satunya sebagai program tetap. Atau mungkin, laki-laki itu bukan mengumpulkan rezeki sambil berselingkuh, melainkan keberuntungan tiba-tiba datang menghampirinya karena putus dengan dirinya. Begitulah Baekhyun. Ia merasa dirinya benar-benar sial dan malang. Kalau tidak, mana mungkin selama lebih dari dua tahun bekerja sebagai presenter, ia belum pernah mendapat program tetap sekali pun. Ia tidak menyangka hidupnya diusia 27 tahun harus dilewati layaknya seorang pengangguran di kantor. Namun, meskipun menyadari bahwa dirinya sangat tidak beruntung, yang muncul dari dalam dirinya adalah semangat untuk menang dan semangat 'fighting!"
Baekhyun tak mengacuhkan Kai yang menatapnya dalam-dalam dan kembali ke tempat duduknya. Kemudian, ia pura-pura sibuk mengetik di komputernya. Sebenarnya tidak ada situs jejaring yang ia buka, tidak ada data yang ia cari. Yah, paling tidak ia harus punya tugas supaya setidaknya bisa mencari dara di internet. Namun, ia tidak ingin terlihat duduk diam dengan wajah bosan setengah mati di ruang kerja presenter yang terlihat sibuk itu. Baekhyun lantas membuka situs jejaring kantor stasiun TV mereka dengan malas. Setelah beberapa saat keluar masuk tanpa tujuan ke berbagai menu yang ada disana, gerakan tangannya terhenti pada salah satu kolom 'pertanyaan dan keluhan'. Kolom 'keluhan'...
Awalnya Baekhyun ragu-ragu, tetapi akhirnya ia mulai menulis huruf demi huruf di bagian kolom 'keluhan' itu untuk menghilangkan rasa bosan.
Kim kai, presenter yang suka selingkuh...
Tiba-tiba, tangannya mengetik dengan kecepatan yang semakin tinggi. Tanpa disadari, satu kolom 'keluhan' sudah terisi penuh dengan makian yang ditujukan kepada Kai. Setelah menulis satu kolom, barulah Baekhyun merasa tenang kembali. Ia mengarahkan kursor mouse-nya ke tombol 'unggah' dan terdiam sejenak. Suasana hatinya sedang buruk sehingga tulisannya pun terlihat kasar dan asal-asalan. Lagi pula, sepertinya tidak masuk akal jika ia mengunggah tulisan seperti ini di situs jejaring kantornya.
Baekhyun menghela napas dan mengklik tombol 'hapus'. Namun, tidak terjadi respons apa-apa di layar komputernya. Baekhyun mengerutkan dahi dengan wajah panik dan mulai mengklik terus menerus. Tampilan di layar komputernya tetap bergeming. Sepertinya error. Sama seperti pemiliknya.
Baru saja ia hendak mematikan komputernya, telepon genggamnya berbunyi. Telepon itu dari seorang eonni yang tinggal di dekat rumahnya, seorang fashion designer terkenal, yang memasukkan laki-laki ke kelompok 'bukan makhluk hidup'; Lu Han.
"Oh, eonni[2]. Ada apa?"
Baekhyun menjepit telepon genggamnya di antara bahu dan telinganya, kemudian membungkukkan badannya untuk menekan tombol 'power' di komputernya.
"Aku harus pergi ke dokter kandungan hari ini. Temani aku, ya."
"Huh, mentang-mentang kau tidak menikah, lantas tidak bisa pergi ke dokter kandungan sendirian?" Baekhyun tertawa sambil mendengus pelan.
"Aku bosan kalau sendirian. Aku pun lapar, nanti aku traktir makan siang."
Begitu Luhan selesai bicara, layar komputer Baekhyun mati dan ia tersenyum lebar.
"Baiklah!"
.
Suasana pagi itu sangat sibuk. Baru saja terjadi kesus kecelakaan beruntun dari lima kendaraan yang salah satu korbannya adalah seorang ibu hamil. Seorang suami yang kepalanya berlumuran darah tetap berlari mengikuti istrinya yang terbaring di tempat tidur periksa dan dibawa menuju kamar operasi. Sang suami tetap menempel di sisi istrinya, seolah tidak ingin meninggalkannyan sedikit pun. Menyedihkan sekali melihat pemandangan seperti itu.
"Air ketubannya sudah pecah saat kecelakaan terjadi, dan ketika sampai diruang UGD, detak jantung bayi tidak terdeteksi!" seorang perawat berkata kepada Chanyeol yang berjalan dengan tergesa begitu mendapat panggilan.
"Kondisi ibuny?" Chanyeol bertanya sambil ikut berlari kearah ruang operasi dan memegangi pinggir tempat tidur pasiennya.
"Detak jantungnya sangat lemah! Pendarahannya juga parah!"
"Golongan darahnya!"
Begitu Chanyeol bertanya, sang suami yang sejak tadi meratap memanggil nama istrinya seketika berteriak, "Golongan darahnya O! Saya juga O! Ambil saja darah saya!"
"Tidak bisa, Anda juga mengalami pendarahan!" Chanyeol balik berteriak kepada suami pasien itu dan segera memerintahkan perawatnya, "Cepat cari golongan darah O!"
Namun, suami itu tidak menyerah dan memegang lengan Chanyeol erat-erat.
"Tidak apa-apa! Ambil saja darah saya! Saya tidak merokok, tidak pernah minum alkohol!"
"Anda kan sedang berlumuran darah seperti ini! Seandainya terjadi apa-apa, bukankah setidaknya Anda harus sehat untuk menjaga bayi ini nanti? Sebaiknya Anda obati dulu luka Anda!" Chanyeol berteriak dengan tegas. Ia paham sepenuhnya perasaan suami pasien itu. Meskipun hatinya sakit berada dalam situasi seperti ini, tetapi maaf saja... apa boleh buat. Ia harus dapat menyelamatkan ibu dan bayinya, meskipun demi si suami itu.
Chanyeol keluar dari ruang operasi mengenakan baju operasi yang penuh keringat. Suasana di luar ruang operasi cukup tenang, berbeda saat ia masuk tadi.
"Suami pasien mana?"
Langkah Chanyeol berhenti di depan ruang operasi. Ia melepas salah satu ujung maskernya dan menoleh ke arah perawat yang berjalan mengikutinya.
"Baru saja mendapat delapan jahitan di dahinya, sekrang sedang transfusi darah untuk didonorkan."
Tersungging senyum di wajah Chanyeol mendengar betapa hebatnya ikatan keluarga itu.
"Hebat sekali. Ibu dan bayi yang jantungnya berdetak kembali, dan ayah yang mendonorkan darahnya dengan jahitan dikepalanya. Semoga anak itu kelak berbakti kepada orangtuanya."
Kembali muncul di benak Chanyeol saat jantung bayi itu berdetak kembali, saat bayi itu menangis untuk pertama kalinya di dunia ini. Meskipun badannya terasa letih, tetapi perasaannya seolah melayang ke angkasa.
"Masih ada satu pasien lagi yang sedang menunggu."
"Oh, ya?"
Chanyeol melirik jam tangannya mendengar perkataan perawat itu. Kemudian, ia memberikan masker yang ia pakai kepada perawat itu dan bergegas melangkahkan kakinya.
Begitu selesai melakukan tes USG pada pasiennya, Chanyeol keluar dari ruang periksa, mencuci tangannya, dan melihat kembali grafik hasil tes tersebut. Sementara itu, seorang pasien wanita keluar dari ruang periksa sambil merapikan bajunya. Ia duduk di kursi yang terletak dihadapan Chanyeol dan menatap wajah Chanyeol dengan cemas.
"Untuk pemeriksaan berikutnya, Anda bisa datang bersama ayah bayinya, kan?" Chanyeol bertanya sambil memperhatikan ekspresi wanita itu.
"Ya? Ba... bayi?"
Wajahnya terlihat terkejut. Chanyeol sudah menduganya. Perlahan tekanan darahnya mulai meningkat. Di awal tahun ini, memasuki usianya yang ke-31, ia sudah berjanji untuk tidak marah dalam menghadapi ibu-ibu hamil seperti ini. Meskipun ia tahu hal itu tidak mudah, apalagi di musim gugur seperti ini, tetapi ia tetap berusaha setidaknya sampai tahun ini berakhir. Lalu, ia akan membuat janji itu lagi. Janji untuk lebih bersabar lagi tahun depan.
"Situasi anda cukup sulit rupanya. Anda belum menikah, ya?"
Entah apakah karena wanita itu takut melihat Chanyeol yang bertanya padanya sambil mengernyitkan dahi, ia langsung mengangguk dengan wajah yang hampir menangis.
"Apa Anda akan menikah dengannya?"
Ekspresi wajah Chanyeol semakin serius. Mendengar perkataan itu, barulah wanita itu berhasil menenangkan dirinya di tengah situasi yang kalut itu dan menarik kursinya mendekati meja di hadapannya.
"Apa maksud Anda dengan 'situasi yang sulit'? Toh usia janin ini juga masih sangat dini."
Seketika itu juga, tekanan darah Chanyeol seolah menanjak tajam, menembus ubun-ubunnya, dan membuat kepalanya panas. Ia benar-benar merasa kesal di saat-saat seperti ini.
"Kalau Anda bisa menghitung bahwa usia janin itu masih dini, apa Anda sama sekali tidak pernah memperhitungkan kalau Anda bisa saja hamil dengan perbuatan Anda?"
Ia sudah berusaha untuk menahan amarahnya, tetapi tekanan darahnya semakin meningkat membuatnya melontarkan perkataan itu begitu saja.
"Apa?" Wanita itu terkejut.
"Anda tahu apa yang benar-benar sulit? Orang-orang yang 'membuat anak' tanpa pikir panjang seperti Anda ini. Itulah masalah yang paling sulit si zaman sekarang ini!"
Chanyeol yang tadinya bersabar akhirnya meluapkan rasa kesalnya pada wanita itu. Seketika itu juga, wanita itu gemetar dan mulai menangis sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Pedih rasanya melihat seseorang menangisi kehidupan baru yang sangat berharga yang ada di dalam tubuhnya. Chanyeol menghela napas perlahan dan membuka mulutnya kembali.
"Pada dasarnya, hadirnya sebuah kehidupan baru memiliki makna yang sangat penting. Anda tidak boleh menyambut kehidupan janin di tubuh anda dengan rasa panik dan kalut seperti itu. Tidak baik untuk janin di dalam perut Anda."
Di luar dugaan, wanita itu menganggukkan kepalanya sambil tetap tertunduk. Untung saja wanita itu tidak menangis terus-menerus.
"Anda tahu tidak, berapa jumlah pasien saya yang mandul? Mereka ingin sekali mendengar kabar bahwa mereka hamil, meskipun hanya di dalam angan-angan mereka. Tetapi Anda malah bingung dan kalut saat mengetahui Anda hamil. Dunia ini memang tidak adil, ya." Chanyeol berdecak pahit.
"Saya tahu apa yang menjadi beban pikiran para ibu hamil."
"I... ibu hamil?" wanita itu terkejut mendengar panggilan baru yang belum pernah ia dengar seumur hidupnya.
"Wanita yang sudah pernah melahirkan atau belum, asalkan ada bayi di dalam perutnya, itu ibu hamil namanya. Itu adalah panggilan yang bisa didapatkan oleh wanita yang memuat tanggung jawab tinggi. Sebaiknya Anda pikirkan kembali baik-baik dan datanglah dengan ayah dari janin ini saat pemeriksaan berikutnya. Jangan mendengar perkataan seperti ini seorang diri."
Wanita itu diam terpaku selama beberapa saat dan kehilangan kata-kata sebelum akhirnya menyahut pelan, "Baiklah..."
Raut wajah wanita itu terlihat semakin serius. Ia lalu membungkuk mengucapkan salam pada Chanyeol dan meninggalkan ruang konsultasi dokter.
Setelah wanita itu keluar, Chanyeol membereskan data grafiknya dan keluar dari ruangannya.
"Aku akan melahirkannya! Aku akan tetap akan melahirkannya terserah apa katamu!"
Dari ujung lobi bagian kandungan, di depan pintu darurat, terdengar suara teriakan seorang wanita. Langkah Chanyeol terhenti dan ia sekilas melihat ke arah pintu darurat itu. Di luar sana, terlihat wanita yang baru saja berkonsultasi dengannya sedang berteriak di telepon.
"Iya! Meskipun aku belum pernah melihatnya, tapi aku akan mempertahankan nyawa janin di perutku ini! Awas kalau kau menyuruhku menggugurkannya! Tidak baik bagi bayi ini!"
Mendengar suara wanita yang berbicara dengan tegas itu, Chanyeol tersenyum pahit. Masalah memang biasanya ada pada pihak laki-laki. Chanyeol merasa salut pada jiwa keibuan yang dimiliki setiap wanita dan juga hewan betina yang ada di dunia ini.
.
"Kadang aku geram melihat kebutuhan biologis para laki-laki."
Chanyeol bersandar di pagar teras sebuah coffeeshop dan berkata pada Tao sambil menghela napas pelan.
"Pada dasarnya, dulu manusia hidup di masyarakat matriarkal. Berbeda dengan makhluk lainnya, banyak wanita yang meninggal karena melahirkan anak sehingga para lelaki harus melindungi wanita demi memenuhi kebutuhan reproduksi mereka. Oleh sebab itu, wanita yang memegang kuasa. Seiring berjalannya waktu, karena alasan perbedaan kekuatan fisik laki-laki dan perempuan, posisi perempuan memang sempat ditekankan kembali, tetapi sepertinya sekarang sudah tidak lagi, ya?"
Tao memandang Chanyeol dan tersenyum penuh arti, seolah tidak lama lagi masa kehidupan suku Amazon kembali datang.
"Tadi pagi katanya ada kondisi gawat darurat ya?"
"Hampir saja berakhir dengan tragedi. Ada seorang suami yang tidak mau meninggalkan istrinya meskipun dahinya bercucuran darah... Untung saja tidak berkahir dengan tragedi."
Chanyeol mengambil cangkir kopi Tao dan meneguknya.
"Biasanya, dokter laki-laki di bagian kandungan tidak memiliki penggemar. Aneh juga, ya?"
Tao tersenyum menatap Chanyeol dengan tatapan kosong yang membuatnya tersenyum kecil.
Selain karena kemampuan dan penampilanku, pasti juga karena rasa sayang dan perhatianku yang mendalam pada anak-anak, kan?"
Chanyeol mengangkat dagunya dan membentuk huruf 'V' menggunakan ibu jari dan jari telunjuk di bawah dagunya. Melihat Chanyeol seperti itu, Tao hanya mendecakkan lidah.
"Kalau saja kata-kata itu tidak keluar dari mulutmu sendiri, pasti tidak akan terdengar menyebalkan. Mereka belum tahu saja kalau kau ini tidak sabaran dan menyebalkan seperti itu."
"Haha!" Chanyeol tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tidak jarang tangannya tersiram kopi panas dari mesin penjual kopi karena tidak sabar menunggu kopi itu selesai dituang.
"Cuaca musim gugur ini enak sekali. Aku jadi ingin pergi ke Gunung Jiri dengan cuaca seperti ini." Chanyeol membalikkan badan dan memandang ke arah langit.
"Benar. Kau dulu anggota klub pendaki gunung di kampus, kan? Sekarang juga sering mendaki gunung?"
"Tidak, aku tidak punya waktu. Oh ya, ngomong-ngomong tentang Dokter Wu, dia sedang apa di Jerman sekarang?"
Di langit terlihat awan putih yang memanjang seperti garis, menyerupai jejak sebuah pesawat jet.
"Pasti sedang mengurusi bayi-bayi yang baru lahir di Jerman."
Tao mengikuti Chanyeol menyandarkan lengannya di pagar teras dan memandang langit. Wajahnya terlihat bosan. Ia lalu menegakkan badannya yang tadi bersandar di pagar itu.
"Aku harus pergi melihat pasien yang dulu dititipkan oleh Dokter Wu."
"Masih ada pasien?" Chanyeol pun ikut menegakkan tubuhnya.
"Ya." Tao mengangguk lalu berjalan menuju pintu teras. Chanyeol dan Tao berjalan beriringan di koridor rumah sakit itu. Chanyeol melirik sekilas ke wajah Tao yang sejajar dengan pundaknya, kemudian merentangkan tangannya di belakang punggung Tao dan memegang sebelah tangan Tao yang jauh dari dirinya. Tao yang terkejut kemudian menatap punggung tangan Chanyeol yang memegang tangannya dan memukulnya pelan. Kemudian ia menoleh pada Chanyeol yang tertawa.
"Kemarin ibumu menyuruhku untuk main ke rumah. Kau sudah cerita tentang aku?"
-TBC-
Keterangan;
[1]PD = Program Director.
[2]Eonni = Kakak perempuan (disebutkan oleh perempuan)
[3]Joseon = Dinasti terakhir di Korea, tahun 1392-1897.
[4]Skinship = Kedekatan dalam hubungan persahabatan atau percintaan yang disampaikan melalui sentuhan fisik, misalnya; berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dan lain-lain.
[!] Baekhyun-Tao;Genderswitch.| [!] Chanyeol-Kai;Normal.
