Previous Chapter...

"Aku harus pergi melihat pasien yang dulu dititipkan oleh Dokter Wu."

"Masih ada pasien?" Chanyeol pun ikut menegakkan tubuhnya.

"Ya." Tao mengangguk lalu berjalan menuju pintu teras. Chanyeol dan Tao berjalan beriringan di koridor rumah sakit itu. Chanyeol melirik sekilas ke wajah Tao yang sejajar dengan pundaknya, kemudian merentangkan tangannya di belakang punggung Tao dan memegang sebelah tangan Tao yang jauh dari dirinya. Tao yang terkejut kemudian menatap punggung tangan Chanyeol yang memegang tangannya dan memukulnya pelan. Kemudian ia menoleh pada Chanyeol yang tertawa.

"Kemarin ibumu menyuruhku untuk main ke rumah. Kau sudah cerita tentang aku?"

[Chapter 1B]

Wajah Chanyeol yang tadinya penuh canda mendadak menjadi serius. Hubungannya dengan Tao masih terbilang baru, namun pasti ibunya sudah diam-diam mulai memperhatikan Tao. Tidak salah lagi. Ia tidak ingin hubungannya dengan Tao berubah menjadi hubungan yang kaku, hubungan yang terlalu diarahkan oleh kemauan ibunya. Ia ingin memiliki hubungan yang normal dan wajar dengan Tao, tanpa ada campur tangan ibunya.

"Aku kan sudah kenal denganmu sejak kuliah, ibuku bilang kau ini cantik. Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan. Paling dia hanya iseng saja."

Kalau sudah membicarakan tentang ibunya, nada suaranya mendadak dingin. Chanyeol selalu merasa tidak nyaman. Mendengar sebutan 'ibu' saja bisa membuat darahnya terasa dingin. Ia tidak ingin terlihat tidak nyaman seperti ini, tetapi sepertinya itu sulit.

"Wah, berarti aku sudah diperhatikan oleh ibumu ya? Dan harus lebih menjada sikap?"

Tao membuka matanya lebar dan memasang senyum dengan gaya imut andalannya. Seolah memahami raut wajah Chanyeol yang murung, ia kemudian menepuk-nepuk pundak Chanyeol. Ia lantas mengedipkan matanya kepada Chanyeol sembari membuka pintu ruang praktiknya. Itulah sebabnya Chanyeol suka dan nyaman dengan wanita ini. Sewaktu kuliah, ketika Chanyeol tanpa sadar bercerita tentang dirinya sendiri kepada Tao, wanita itu menanggapinya dengan santai dan tenang. Ia dapat merasakan sosok seorang ibu dari diri wanita itu.

"Ya, begitulah."

Chanyeol tersenyum pada Tao. Tao melemparkan seulas senyum hangat pada Chanyeol kemudian memasuki ruang praktiknya. Begitu wanita itu menutup pintu ruangannya, Chanyeol berjalan beberapa langkah menuju ruang praktiknya yang berada di sebelah ruang praktik Tao. Tiba-tiba, dari pintu darurat di ujung koridor itu, kembali terdengar suara seorang perempuan.

"Aku tidak akan menghapusnya!"

Suaranya terdengar tinggi dan melengking seolah seperti orang yang tersambar listrik tegangan tinggi. Rupanya ada lagi seorang wanita yang menjadi korban keegoisan laki-laki. Chanyeol memandang wanita yang sibuk berbicara di telepon itu dengan tatapan prihatin.

"Aku tidak mau! Lantas kenapa?"

Dilihat dari penampilannya, wanita itu sepertinya berwatak keras.

"Itu kan kesalahanmu. Aku tidak akan melakukannya! Kau juga harus ikut bertanggung jawab, kan? Memangnya kau saja yang punya urusan di kantor?"

Apa suaminya tidak boleh punya anak oleh kantornya? Laki-laki egois seperti itu memang harus ditangkap dan diberi pelajaran. Seperti kata Tao, seandainya ini masyarakat matriarkal, pasti sudah banyak laki-laki seperti itu yang ditahan.

"Memangnya cinta di tulis dengan pensil, bisa dihapus seenaknya? Memangnya bayi itu 'coretan', bisa dihapus?" Chanyeol bergumam seorang diri, menggelengkan kepala, dan memasuki ruang praktiknya. Sebagai sesama laki-laki, ia pun ikut merasa malu dan prihatin.

.


.

Baekhyun yang berbicara sambil menempelkan telepon genggamnya ke telinga akhirnya mendekatkan telepon itu ke depan mulutnya dan berteriak kencang.

"Siapa suruh kau selingkuh dariku! Dasar laki-laki berengsek!"

Kemudian ia buru-buru menutup teleponnya. Amarah seolah menyeruak dari dadanya. Begitu pula dari kepalanya. Tadinya ia pikir komputer kantornya itu eror, tetapi ternyata malah memproses tombol 'unggah' yang tidak sengaja ia klik tadi. Pasti tadi ia tidak sengaja mengklik tombol 'hapus' berkali-kali ketika berusaha menghapus tulisannya. Padahal ia tidak bermaksud menyebarkan tulisan itu di Internet, tetapi ternyata komputernya 'berulah' dan menyusahkan pemiliknya.

Komputer yang sepertinya lebih licik dari pemiliknya itu seakan ikut berkata "laki-laki berengsek tukang selingkuh" kepada Kai, dan memenuhi kolom situs jejaring itu sebanyak jumlah klik yang ditekan oleh pemiliknya. Begitu mengetahui hal ini, Kai langsung meneleponnya tanpa henti dan berteriak-teriak menyuruhnya untuk menghapus tulisan tersebut. Entah apakah orang itu sebenarnya menyadari kesalahannya atau tidak. Jelas-jelas kali ini dia yang salah, berani-beraninya dia seenaknya menyuruhku untuk menghapus tulisan itu? Baekhyun pun sebenarnya tidak bermaksud melakukan hal itu, namun Kai terlanjur meluapkan emosinya tanpa mendengarkan penjelasan Baekhyun terlebih dahulu dan hal ini membuat Baekhyun ikut kesal dan berteriak keras pada laki-laki itu. Yah, mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Seharusnya paling tidak hatinya puas.

Akan tetapi, hatinya tidak merasa puas sama sekali. Ia malah merasa aneh dan tidak tenang, karena ia memang tidak ingin melakukan hal ini. Sebenarnya ia ingin segera berlari dan menghapus tulisan itu sebelum ada kepala bagiannya, direktur kantornya, atau siapa pun yang melihat tulisan itu. Namun, ia pun sudah terlanjur marah-marah pada Kai, sehingga ia tidak bisa segera menghapus tulisan itu. Baekhyun yang mendadak diserang rasa panik dan khawatir hanya bisa menggigit-gigit bibirnya dengan cemas sampai kemudian ia menyerah. Ah, terserahlah! Biarlah orang-orang melihat tulisannya itu.

Masih merasa tidak nyaman, Baekhyun menghembuskan napas ke dahinya yang menerbangkan poninya, kemudian melemparkan telepon genggam ke dalam tasnya dan memasuki ruang tunggu di bagian spesialis kandungan. Di salah satu kursi panjang di ruang tunggu itu, terlihat Luhan yang tengah hamil tua dengan perutnya yang besar. Ia terlihat asyik merajut. Baekhyun melangkah dengan gontai dan menghempaskan dirinya duduk di sebelah Luhan. Luhan sedang menggulung benang rajut. Sekilas ia melirik Baekhyun dan kembali melanjutkan rajutannya. Siapa saja ya yang sudah melihat tulisannya? Yang pasti, orang-orang yang ke kolom di situs jejaring itu sudah melihatnya, kan?

Sebagai orang dengan golongan darah triple A[5], tulisan yang tidak sengaja tersebar di Internet itu benar-benar mengusik pikirannya. Baekhyun menggigit-gigit kuku tangannya, kemudian menghela napas panjang dan mulai memainkan benang rajut yang sedang dipakai oleh Luhan. Saat itu, barulah Luhan bertanya padanya.

"Kai?"

"Ya." Baekhyun menyahut dengan nada menggerutu.

"Ada masalah apa lagi?"

"Aku baru saja menyebarkan tulisan di situs jejaring perusahaan kalau dia itu tukang selingkuh."

Setelah berkata seperti itu, barulah ia menyadari bahwa tindakannya itu keterlaluan. Seharusnya ia tidak melampiaskan kekesalannya di situs jejaring kantor seperti itu. Harusnya ia menulis di buku catatan atau diari saja. Entah mengapa tadi kolom di situs jejaring itu terlihat begitu menggoda.

"Itu saja?"

Luhan melirik ke Baekhyun dengan tatapan "tidak mungkin kau hanya berbuat seperti itu". Baekhyun tertunduk.

"Aku bilang dia itu tukang selingkuh berengsek dan..."

Sesaat, gerakan tangan Luhan yang sedang merajut terhenti.

"Jadi, kau memaki-makinya melalui situs jejaring kantor?"

Melihat Luhan yang terkejut dan mulai emosi, Baekhyun merasa seolah disiram air selokan. Ia pun berteriak dengan kesal.

"Lalu apa yang harus kulakukan?!"

Seketika itu juga, para ibu hamil yang berada di ruang tunggu dan para perawat yang berada di balik meja pendaftaran terkejut dan saling berpandangan. Baekhyun merasa panik dan segera menundukkan kepalanya meminta maaf kepada mereka. Lalu, ia berbisik pada Luhan, "Ada kesalahan kecil. Aku tidak tahu kalau tulisan itu akan tersebar di Internet. Padahal aku sudah mengklik tombol 'hapus'. Entah kenapa, saat itu komputerku tiba-tiba error... Tapi, laki-laki itu lebih kurang ajar lagi. Dia malah menyuruhku menghapus tulisan itu, sama sekali tidak sadar kalau dia sebenarnya yang bersalah. Biar tahu rasa dia."

Baekhyun mengepalkan tangannya dengan marah dan menghantamkannya pada gulungan benang rajut yang ia pegang. Luhan pun segera mengambil gulungan benang itu dari tangan Baekhyun.

"Sekarang ini sudah tahun 2012, kau bisa tidak sih hidup lebih tenang sedikit di abad ke-21 ini? Kau ini terlalu mudah kesal dan marah di setiap masalah." Luhan memperhatikan sekelilingnya dan memarahi Baekhyun dengan suara pelan.

"Jadi, selama ini Eonni juga hidup tenang sambil diam-diam membuat anak?"

"Memang kenapa?" Luhan berlagak tenang seolah hal itu memang sudah ia rencanakan sejak dari awal.

"Kau kan juga sama. Setelah melihat pria baik-baik seperti Kai berselingkuh, lantas langsung mengelompokkan laki-laki sebagai 'bukan makhluk hidup'."

Mau bagaimana lagi. Di hari ketika Baekhyun tahu bahwa Kai berselingkuh darinya, ia langsung mencari Luhan, meminum alkohol yang tidak pernah ia minum, dan saat ini marah-marah di depan para ibu hamil.

"Coba kau pikirkan lagi."

"Apanya?" Baekhyun menyahut seenaknya karena kesal.

"Mengurus satu anak dengan sepenuh hati saja sudah susah, apalagi kalau sampai harus mengurus laki-laki yang ibaratnya bisa berubah menjadi serigala kalau bulan purnama. Apa perlu hidup seperti itu?"

"Jadi, maksud Eonni, aku juga harus mengikuti Eonni menjadi wanita single selamanya? Eonni mau membuat perkumpulan single mom lalu mau jadi ketuanya?"

"Kau ini. Kalau iya, memang kenapa? Aku akan membesarkan anak ini dengan bangga, lalu pergi jalan-jalan berdua, makan makanan yang enak, dan hidup dengan menyenangkan bersama anak ini. Perkumpulan? Hm, ide yang bagus. Bagaimanapun, pasti lebih baik jika ada tempat untuk saling berbagi cerita tentang membesarkan anak seorang diri."

Mendengar nada suaranya, rasanya seolah perempuan itu benar-benar akan mendirikan perkumpulan single mom dan menjadi ketua perkumpulannya.

"Semoga saja hal itu tidak menjadi keinginan Eonni semata. Anak di dalam perut itu, meskipun Eonni bisa membuatnya seenaknya, tapi anak itu pasti ingin punya kehidupan sendiri." Baekhyun berdecak pelan. Luhan menggerakkan jarumnya kuat-kuat seolah akan menjahit bibir Baekhyun.

Kemudian ia berbisik pelan sambil membelalakkan matanya, "Kalau sampai ketahuan, bisa gawat. Ini adalah hadiah spesial dari Dokter Wu karena dia dikirim ke Jerman. Kalau sampai dia dipanggil ke Korea kembali karena hal ini, aku bisa mati."

Luhan memasang wajah ketakutan dan membuat gerakan memotong lehernya sendiri dengan tangannya, seandainya hal itu benar-benar terjadi.

"Jujur saja, apa itu bisa dikatakan hadiah? Itu sama saja tindak kriminal yang disertai ancaman."

Suatu hari, Luhan baru saja selesai menonton film berjudul Mama bersama Baekhyun, lalu memutuskan untuk melahirkan seorang anak. Saat itu, Baekhyun mengira bahwa Luhan sedang hamil.

"Jadi, siapa ayahnya?" tanya Baekhyun yang ditanggapi oleh Luhan dengan santai.

"Entahlah, aku baru akan memikirkannya."

Meskipun melahirkan anak itu butuh perencanaan, bagaimana mungkin orang yang tidak menikah bisa memutuskan untuk melahirkan anak? Menurut Baekhyun, keputusan Luhan yang kesannya mengharukan itu adalah efek samping dari film yang baru saja mereka tonton, dan setelah menonton beberapa film perang atau action, keinginan itu pasti akan hilang. Namun, keinginan Luhan itu ternyata sangat kuat, ia bahkan sampai menyusun strategi yang matang. Ia tidak akan membuat pria dengan gen berkualitas mabuk lantas menidurinya, melainkan mengatakan terus terang bahwa ia ingin menerima donor sperma dari gen yang berkualitas.

"Ada salah seorang kenalanku yang bekerja sebagai dokter kandungan. Entah apakah ia bekerja di bagian bank sperma atau apa, tapi begitu aku menceritakan rencanaku, ia terlihat sangat antusias. Aku disuruh datang ke rumah sakit tempatnya bekerja. Katanya ia akan memberiku gen berkualitas dari para dokter itu. Bayangkan saja, aku bisa mendapat gen salah satu dokter yang pintar dan cerdas itu. Belum lagi kalau sifatnya bagus, benar-benar sempurna." Luhan bercerita dengan antusias.

"Sebelumnya kau membuat dokter itu mabuk, kan?"

"Tentu saja. Mana ada dokter yang mau berkata seperti itu kalau sepenuhnya sadar."

Luhan sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. Dia bukannya membuat mabuk pria dengan gen yang baik, melainkan membuat mabuk dokter yang bisa menyeleksi gen yang baik.

"Dasar penjahat."

Luhan hanya menanggapi perkataan Baekhyun dengan polos, "Penjahat apanya. Aku ini hanya ingin memilih gen yang baik untuk anakku, anggap saja ini hadiah kecil dari Dokter Wu untukku."

Luhan kemudian melanjutkan rajutannya dengan santai.

"Kalau nanti ketahuan pun, paling Dokter Wu saja yang hancur. Iya, kan?"

Dunia memang semakin aneh. Benar-benar 'bangga' rasanya bisa akrab dengan orang seperti ini.

"Ah, entahlah. Semoga saja tidak ketahuan. Toh aku juga tidak akan meminta orang seperti itu untuk bertanggung jawab atas anak ini. Aku hanya ingin melahirkan anak dengan gen yang aku inginkan."

Luhan sepertinya kehilangan konsentrasinya, ia membuka kembali rajutannya beberapa senti, lalu mengulanginya lagi.

"Kalau begitu, harusnya sekalian saja memutuskan mau anak laki-laki atau perempuan."

"Memangnya... bisa?" Luhan terkejut dan terdiam mendengar perkataan Baekhyun. Wajahnya terlihat sangat serius dan menyesal karena tidak melakukan itu.

"Memangnya apa yang akan kau pilih? Anak laki-laki sempurna seperti ayahnya, atau anak perempuan seperti Eonni?"

"Ah, tapi kalau anak perempuan sepertiku sepertinya biasa-biasa saja." Luhan berkata sambil mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala.

"Aku tidak mau membicarakan hal ini lagi, tidak baik untuk anak di dalam perut ini."

Barulah muncul sikap keibuannya yang luar biasa. Baekhyun memandang Luhan dengan heran sambil mendecakkan lidah lalu melirik ke arah rajutannya. Benar-benar jauh dari sempurna.

"Masa buatan seoang fashion designer seperti itu?" Baekhyun berkata dengan prihatin sambil menatap hasil rajutan Luhan. Tidak jelas apakah itu gendongan bayi atau hanya selimut bayi.

"Warna-warna dasar seperti ini baik untuk bayi. Supaya mata mereka 'ddarr!' terbuka lebar dan daya kreativitas mereka pun 'ddarr!' ikut berkembang." Luhan menggoyang-goyangkan hasil karyanya di depan Baekhyun dan menjelaskan padanya sambil membelalakkan matanya. Kemudian ia berbalik menatap Baekhyun dengan prihatin.

"Kau ini, bagaimana mau menjadi presenter kalau pengetahuanmu sempit seperti itu? Pantas saja kariermu tetap begitu-begitu saja."

Setelah aku mengkritiknya, rupanya sekaranng dia balas dendam kepadaku.

"Eonni! Mulai besok aku tidak mau menemanimu lagi!" Baekhyun akhirnya berteriak kesal pada Luhan.

.

Luhan berbaring dengan gugup di tempat tidur di ruang USG. 'Deg deg' suara degub jantung janin terdengar di ruangan itu.

"Kelihatan kan bayinya?"

Dokter Wu yang tadinya menangani Luhan sedang menghadiri pelatihan di sebuah rumah sakit di Jerman sehingga sekarang ia ditangani oh Dokter Huang Zi Tao yang kini menunjuk ke layar monitor. Luhan menatap layar monitor itu tajam-tajam dengan wajah penuh harap.

"Suara degub jantungnya normal, perkembangannya juga normal. Lalu, apa ada masalah dengan makanan?"

Mendengar pertanyaan dokter itu, Luhan menjawab dengan cemas,"Saya mengalami sembelit."

Sontak dokter itu tersenyum kecil mendengarnya.

"Wanita hamil memang seperti itu. Banyak mengonsumsi serat akan sangat membantu. Apa ada keluhan lain?"

"Sampai saat ini masih baik-baik saja. Ibu saya dulu mengalami mual yang parah di pagi hari, tapi untungnya saya baik-baik saja."

Apa jadinya kalau wanita sensitif itu juga mual-mual di pagi hari? Baekhyun tanpa sadar menggelengkan kepalanya.

"Sebenarnya itu pengaruh dari kondisi fisik, bukan gen. Sebaiknya anda makan dengan baik." Dokter wanita itu menjelaskan dengan ramah. Mendengar penjelasan dokter itu, Luhan yang tadinya menatap monitor dengan wajah bahagia kini memandang ke arah Baekhyun yang sejak tadi mengawasinya dari balik dokter itu.

"Baekhyun, anak ini cantik sekali, kan? Iya, kan?"

Bagaimana aku harus menjawabnya? Baekhyun kemudian menatap monitor itu tajam-tajam dan berkata dengan suara gemetar, "Eonni... bisa melihatnya? Bagiku itu hanya kelihatan seperti layar buram saja. Mukanya yang mana? Yang itu?" Baekhyun menunjuk ke bagian yang berwarna putih di layar itu.

Seketika Luhan menyahut dengan sebal, "Itu pantatnya, dasar kau ini."

"Oh~." Barulah Baekhyun mengangguk-angguk dengan serius.

"Kau ini bagaimana sih? Sudah setiap hari melihat kamera, tapi tetap saja tidak bisa membedakan mana pantat dan mana muka bayi. Nanti kau mau mencium pantat bayi?" Luhan menggerutu pada Baekhyun begitu keluar dari ruang periksa.

"Memangnya aku memakai kamera untuk USG? Memang di mana letak perbedaannya?"

Benar-benar perempuan ini.

Baekhyun tetap menggeleng-geleng di depan pintu ruang periksa yang memiliki papan nama dokter tergantung di depannya. Tiba-tiba sekelompok dokter lewat di samping mereka dan berjalan menuju ke meja perawat. Melihat hal itu, langkah Luhan terhenti dan memandang mereka dengan wajah puas.

"Ada kenalanmu?" Baekhyun memandang datar wajah Luhan yang terpana melihat dokter-dokter itu.

"Entahlah..." Luhan memicingkan matanya dan menatap mereka dengan wajah penuh kagum dan rasa ingin tahu.

"Mau kuberitahu satu rahasia?"

Wajahnya terlihat tidak sabar ingin segera membagi rahasianya itu. Tanpa kujawab juga dia akan membuka mulut terlebih dahulu.

"Di antara dokter-dokter itu..."

"Dokter-dokter itu..." Baekhyun meniru ucapan Luhan sambil perlahan mengalihkan pandangannya kepada para dokter itu. Mereka terlihat sedang mendiskusikan suatu masalah yang sepertinya cukup serius. Di tengah-tengah mereka, terlihat seorang pria yang mencuri perhatiannya. Padahal ia berada di tengah-tengah sama seperti dokter yang lain, padahal ia mendapat cahaya lampu yang sama dan tingginya pun tidak menonjol dari yang lainnya, tetapi entah kenapa, pria itu terlihat paling jelas di mata Baekhyun dan benar-benar mencuri perhatiannya. Kalau pria setampan itu menjadi dokter kandungan, apa para ibu hamil itu bisa tenang saat diperiksa olehnya?

Memang sih tidak ada aturan khusus yang mengatakan bahwa dokter kandungan harus jelek, tetapi mungkin dokter tampan seperti itu perlu juga untuk mengatur adrenalin para ibu hamil yang diperlukan untuk menghasilkan hormon-hormon tertentu. Penampilannya membuat Baekhyun berpikir seperti itu dan sesaat ia seperti tersihir melihat pria itu.

"Dokter Wu yang mengatakan ini padaku, katanya yang memberiku donor sperma ini adalah salah satu dari mereka."

"Benarkah?" tanpa sadar Baekhyun bertanya sambil setengah berteriak. Luhan segera menutup mulut Baekhyun dengan tangannya.

"Ini benar-benar rahasia. Karena aku sangat penasaran dengan orang yang menjadi donorku, jadi Dokter Wu memberitahuku hal ini." Luhan meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya dan membelalakkan matanya.

Saat itu, dokter-dokter yang berkumpul di meja perawat mengangguk-anggukkan kepalanya seolah telah mengambil keputusan dan kembali berjalan mendekat ke arah Luhan dan Luhan berdiri. Baegitu para dokter itu melewati mereka, Luhan segera menyembunyikan wajahnya di balik punggung Baekhyun. Ketika para dokter itu masuk ke dalam ruangan mereka masing-masing, Baekhyun melihat dokter yang tadi mencuri perhatiannya itu masuk ke sebuah ruangan dengan papan nama 'Park Chanyeol".

"Toh tidak ada yang tahu perbuatan Eonni, kenapa sembunyi seperti itu?" Baekhyun menatap Luhan yang sembunyi di balik punggungnya.

"Entahlah, kenapa ya? Tanpa kusadari, gerak refleks?" Luhan berdecak pelan dengan wajah kaku.

"Itulah psikologis seorang kriminal."

"Begitukah?"

Luhan kembali melangkahkan kakinya dengan berat. Tiba-tiba, 'ugh!', Luhan memegangi perutnya. "Setelah tiga hari, 'keinginan' ini datang juga. Tunggu ya, aku mungkin agak lama."

Luhan memberikan tasnya kepada Baekhyun dan bergegas menuju toilet. Baekhyun menatap wanita itu menjauh sambil mengerutkan dahi.

"Memangnya simpanan yang ada di perutnya selama tiga hari itu tidak tertangkap oleh USG ya?"

Kemudian ia menatap perutnya sendiri. Coba juga? Baekhyun mengelus perutnya yang berat karena belum ke belakang itu dan mengangkat kepalanya. Kemudian, ia menatap pintu ruang-ruang periksa yang dimasuki oleh para dokter itu.

"Saat menjadi donor, apa mereka saadar bahwa bisa saja anak mereka tumbuh besar tanpa sepengetahuan mereka? Yah, laki-laki seperti itu memang bukan satu dua saja."

Karena Kai, kini pandangan Baekhyun mengenai laki-laki menjadi buruk, sesuai dengan pendapat Luhan. Saat itu, seorang dokter bersin ketika lewat di belakang Baekhyun. Baekhyun mengerutkan keningnya. Jangan-jangan bersinnya itu menempel di bajunya, pikirnya. Kemudian ia bergegas menuju toilet.

.


.

Chanyeol keluar dari ruangannya setelah menulis sesuatu di catatannya. Ia bersin si depan pintu dan berpapasan dengan Sehun.

"Hei, Park Doc!"

"Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu, kan?" Chanyeol menatap Sehun tajam sambil berjalan ke arah meja perawat.

"Margamu kan Park, jadinya ya Dokter Park, kan?" Sehun mengelus hidungnya lalu merangkulkan tangannya di pundak Chanyeol.

"Kau sebenarnya hanya ingin mengolokku, kan?"

Ini bukan hanya masalah marga, namun panggilan antara marga Park dan 'Dokter terdengar seperti sapi dan ayam[6]. Ketika jari tangan Sehun mulai mencengkeram pundak Chanyeol, ia melirik tangan Sehun dan menatapnya dengan pandangan prihatin. Kemudian, ia memberikan papan catatan yang dari tadi ia pegang kepada salah satu perawat itu.

"Tadi kalian berdua bergandengan tangan kan di koridor rumah sakit?" Sehun mendekatkan wajahnya ke telinga Chanyeol dan berbisik pelan. Mendengar hal itu, Chanyeol seketika memperhatikan sekelilingnya lalu menatap Sehun tajam.

"Siapa yang berkata seperti itu?"

"Siapa lagi. Meskipun kau tidak mau mengaku, yang pasti ada yang melihatnya."

Chanyeol kemudian menatap ke arah para perawat yang ada di sana. Para perawat itu bersikap seolah tidak tahu dan menghindari tatapan mata Chanyeol. Padahal selama ini dia sudah merahasiakannya rapat-rapat, apa kini semua orang sudah tahu? Sehun tersenyum puas melihat Chanyeol panik.

"Kau tahu kan kalau Tao itu lumayan banyak penggemarnya di rumah sakit ini? Bahkan pernah ada adik laki-laki dari salah satu ibu hamil ada yang mengajaknya berkencan?"

Orang ini benar-benar mau mempermainkanku rupanya. Chanyeol mengambil papan catatannya kembali dengan kasar dan mengalihkan pandangannya.

"Gosip itu masih ada juga? Padahal aku tidak berpacaran dengannya."

"Kau pikir hanya itu saja? Dokter Hong dari bagian bedah, Direktur Shin dari bagian sekretariat, lalu Dokter Wu yang sedang pergi ke Jerman..."

Seketika itu juga, Chanyeol meletakkan papan catatannya dengan keras, seolah menggebrak meja itu. Sehun terkejut dan terdiam.

"Jadi maksudmu, aku ini tidak lebih baik daripada mereka? Atau, kau menyuruhku untuk mundur dan mengalah?" Chanyeol menatap Sehun seolah menunggu kesempatan.

"Apa maksudmu?! Siapa lagi yang lebih cocok dengan Tao di dunia ini daripada Park Chanyeol? Tentu saja tidak ada!"

Sehun tiba-tiba langsung memijat-mijat bahu Chanyeol dengan gerakan yang berlebihan.

"Kau mau green tea latte? Mau aku traktir? Atau kau yang mau mentraktirku?"

Melihat wajah Sehun yang tersenyum riang itu, Chanyeol akhirnya mengalah dan berjalan ke arah teras.

"Aku yang traktir. Sini kau."

Chanyeol melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri, diikuti Sehun yang menempel dibelakangnya.

"Ah... apa aku pindah departemen, ya?" Sehun yang sedang berdiri di teras tiba-tiba menghela napas dan menyandarkan dirinya di pagar teras itu.

"Kenapa? Katanya kau menikmati sekali perasaan ketika memegang bayi yang baru lahir di bumi ini, yang terasa lembut dan menakjubkan itu."

Chanyeol menyandarkan punggungnya pada Sehun yang berdiri di sampingnya dan menyedot habis minuman latte-nya.

"Memangnya aku terdengar seperti orang cabul ya?" tiba-tiba Sehun langsung berdiri tegak dan berkata dengan kesal.

"Yah, mungkin saja kau memang terharu dan berseru 'waaah' ketika memegang bayi yang baru lahir itu." Chanyeol menyahut sambil tetap menggigit sedotan minumannya.

"Bukan begitu maksudku, waktu itu aku hanya ingin menjelaskan dengan tenang kepada seorang ibu yang takut melahirkan dan membesarkan anak, bagaimana rasanya pertama kali menyentuh kulit bayi, memegang kepalanya. Makanya begitu kujelaskan, dia langsung minta ganti dokter yang menanganinya, kan?" Sehun beralasan karena merasa tidak adil.

"Menjelaskan dengan tenang?"

Entah apakah orang ini tahu arti kata 'tenang atau tidak.

"Jelas-jelas ekspresimu tadi seperti orang yang baru mendapat hadiah game terbaru. Atau seperti orang yang sudah lama mencari senjata rahasia di dalam game dan akhirnya berhasil menemukannya. Aku pun percaya kalau kau berseru 'waaah' dengan heboh di depan ibu hamil itu."

Orang ini adalah orang yang menganggap bayi yang lahir sama dengan game terbaru edisi terbatas. Tanpa melihatnya pun, terbayang bagaimana ekspresi ibu-ibu hamil itu saat pertama melihat orang ini. Malah bisa saja mereka langsung menyumpah "dasar dokter cabul".

"Masa... aku seperti itu?"

Barulah saat itu Sehun terlihat seolah larut dalam pikirannya sendiri, seolah sedang menginstrospeksi dirinya sendiri saat sedang berbicara dengan para ibu hamil yang menjadi pasiennya. Chanyeol hanya tertawa kecil melihat Sehun seperti itu. Ia tahupasti bagaimana rasanya memegang bayi yang baru lahir, bagaimana aromanya yang sedikit amis namun wangi. Hanya orang aneh yang mengatakan tidak suka dengan hal itu.

Bayi...

Sesaat, si kepala Chanyeol terlintas bayangan seorang ibu yang tidak pernah memeluk anaknya, tidak pernah menyentuh jemari anaknya. Ternyata... ada juga, seorang ibu yang seperti itu.

-TBC-

.


.

[!]Sebelumnya mau njelasin. Gini, karena ini remake-nya ada yang agak nggak sesuai sama bahasa koreanya, jadi ini author-nim kasi teks aslinya.

.

Yoon Pyo keluar dari ruangannya setelah menulis sesuatu di catatannya. Ia bersin si depan pintu dan berpapasan dengan Dae Joon.

"Hei, So Doc!"

"Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu, kan?" Yoon Pyo menatap Dae Joon tajam sambil berjalan ke arah meja perawat.

"Margamu kan So, jadinya ya Dokter So, kan?" Dae Joon mengelus hidungnya lalu merangkulkan tangannya di pundak Yoon Pyo.

"Kau sebenarnya hanya ingin mengolokku, kan?"

Ini bukan hanya masalah marga, namun panggilan antara marga So dan 'Dokter terdengar seperti sapi dan ayam[6]. Ketika jari tangan Dae Joon mulai mencengkeram pundak Yoon Pyo, ia melirik tangan Dae Joon dan menatapnya dengan pandangan prihatin. Kemudian, ia memberikan papan catatan yang dari tadi ia pegang kepada salah satu perawat itu.

.

Itu teks aslinya, dan remake-an itu karena kalo pake 'So Chanyeol' aneh, tetep author-nim buat 'Park Chanyeol' dan otomatis teks aslinya kerubah artinya juga kan ya, tapi lebih nggak mungkin kalo dihapus adegannya, jadi mohon maaf sebesar-besarnya. Selanjutnya bakal author-nim usahain yang terbaik dah. Ini keterangan tentang "So Doc";

[6]Dalam bahasa korea, So = Sapi. 'Doc' [ddak] singkatan dari 'doctor'. Dalam bahasa korea 'ddak' berarti ayam.