Nana : ini Epilog atau chapter penutup *tampil dengan muka bonyok akibat dikeroyok oc Fuyu-neesan*
.
Present
.
Title : Focus On Me 7
Author : Nana Luna or Diana032
Cast : Miku Hatsune
Kaito Shion
Other cast : Luka MeguRine
Warning (s) :OOC, typos bertebar ria, Gaje, abal de le le
Rated : T
Pair(s): this is MiKai
Leght : sepanjang jalan lintas kereta api
D isclaimer : All Characters belong to god, their parents and anime agency :v . But this fanfic belong to me and Beruang nee-chan
.
.
Happy reading
.
Just enjoy okay ;)
.
Please, Focus On Me Kaito-Kun
.
'aku adalah Miku Hatsune, cinta tak akan membuatku lemah'batinnya menyemangati diRinya sendiri, lalu memasang kacamata hitamnya menyamarkan mukanya yang akan terlihat acak acakan akibat menangis. Persetanan dengan ucapan Rin tadi
.
Chapter 7
Miku menatap baju bridal yang cantik dan indah didepannnya dengan pandangan kosong. Matanya tak menunjukkan ekpresi apapun bagaikan pemiliknya tak ada dalam jasad itu, kosong dan hampa.
Krieeet
"nona, anda di minta turun kebawah oleh tuan"ujar Len berdiri agak jauh dari tempat Miku, Len menatap iba ke nonanya. Sudah genap 2 hari ini ia menyiksa dirinya didalam rumah, len sebenarnya bingung kenapa Miku berubah seperti ini ? apakah ada hubungannya dengan anak tunggal keluarga shion itu?
"well, bilang dengan Ayah tunggu sebentar."jawab Miku setelah memikir sekian lama, lalu menatap manik len.
"Ha'i, saya permisi dulu"pamitnya dengan pelan menutup pintu besar terukir indah itu mengerti.
'aku harus siap menghadapi ini semua'ujarnya setelah beberapa detik kerpegian Len.
.
Siang itu, Miku yang memakai baju terusan berwarna putih sampai diatas lutut, dan flat shoes membungkus kakinya jangan lupa pita pink cerah mengikat rambut Miku. Miku terlihat sangat manis.
Miku melihat kertas kecil itu dan memandang pintu cafe didepannya. Nekoffe itu terpampang disana. Ia memandang lurus, jika ia maju ia akan melihat calon suaminya. Disisi lain Miku ingin lari dari ini semua, ia belum siap. Sungguh. Pertunangannya dengan semua tetek bengeknya yang menyesak rongga dada seakan tak bisa bernapas dan persedian udara minim sekali.
Satu lah keinginannya, hanya ingin kaito berfokus padanya, itu bagaikan punuk merindukan bulan sungguh sangat mustahil.
Miku memantapkan hatinya lalu memutar gangang pintu itu –mebukanya- pelan. Baru pertama menginjak masuk bangunan minimalis itu, aroma kental kopi memasukki indra penciumannya. Miku mengedarkan pandangannya mencari seorang yang ia tuju maksudnya calon suaminya, walau tidak pasti jika Miku bisa menentukannya yang mana. Padahal orang tersebut terbilang sedikit, sekitar 5 orang termasuk pelayan. Mata berhenti ke pemuda berbahu lebar nan kekar mendudukki meja no 2, miku tak akan salah mengenalinya orang itu. Kaito Shion.
Dengan langkah gugup tercampur ragu ia mendekati nya. Tangannya terangkat menyentuh bahu itu pelan sontak pemiliknya memutar badannya kebelakang.
"hay"sapa Miku tersenyum, karena ia tak akan pernah salah menebak dia. Tak akan.
"hay, Miku"sapanya balik lalu Miku mendudukki kursi didepannya tanpa meminta izin terlebih dulu.
"pesan coffe epresso satu"ujar Miku memesan minuman ke pelayan yang mengantarkan minuman ke pemuda didepannya.
"sedang apa?"tanya Kaito berbasa basi sedikit, menatap Miku dari pantulan coffe nya. "menunggu ... c-calon suami..ku"ungkap Miku pelan sangat, bahkan jika suasana tidak hening mungkin kaito tak akan tahu apa yang miku ucapkan. Miku merasa sakit, mengucapkan kalimat itu ke cinta pertamamu.
"hmn,"gumam Kaito singkat membuat Miku mendesah kecewa. Kaito mengesap minumannya, sedangkan Miku melihat ekpresi Kaito.
Sungguh seharusnya ia tak disini bertemu kaito, ia merasa menghianati tunangannya sejak ia memandang kaito di cafe ini. Hatinya masih berharap untuk kaito berfokus padanya.
"kau sedang apa kaito-kun?"tanya Miku agak malu malu, ia menundukan kepalanya singkat ketika pelayan mengantarkan minuman yang ia pesan. "hanya menikmati hari"jawab Kaito santai sambil meletakkan minumannya kemeja.
"apa kau sudah berpacaran ?"tanya Miku "ah maksudku hanya ingin tahu saja iya hehe"ujarnya baru sadar apa yang ia ucapkan, lali pandangannya beralih menatap ke luar jendela. Ugh, kenapa pertanyaan begitu keluar ? runtuknya dalam hati.
"sungguh? Aku tak memiliki pacar .."jawab Kaito jeda untuk meminum coffenya. Entah mengapa Senyum Miku berkembang sangat tipis dibibirnya. "..tapi aku langsung melamarnya."lanjutnya mematahkan senyuman itu.
"o-oh s-selamat ya Kaito-kun, kuharap kau menjaganya"ujar Miku menatap kaito lalu meminum bringas coffenya yang sudah sedikit dingin. "ah tampaknya aku harus pergi sekarang. Aku sangat sibuk, maaf ya"pamit Miku yang berusaha menahan nadanya agar terlihat ceria. Kaito mengangguk ringan.
"oh, ya besok adalah hari pernikahanku jadi kumohon datanglah, Kaito-kun"ujar Miku berbalik badan sebentar lalu berlari keluar. 'dan selamatkan aku!' itu adalah sambungan yang ingin Miku ucapkan tetapi itu sangatlah tak mungkin bukan ?
Miku berlari menjauh dari cafe itu. Menggunakan kaki mungilnya melewati jalanan trotoar, ia banyak menabrak orang tapi ia tak perduli.
Miku berhenti, ia mengadah menatap langit. 'apa yang harus kulakukan ?'tanya tak tahu lagi, liqiud yang Miku tahan sejak cafe tadi mengalir membasahi pipinya.
"kenapa aku tak bisa berhenti berharap padamu Kaito-kun?"tanya entah pada siapa.
Drrt drrt
Smartphonenya bergetar, tangan Miku meronggoh tasnya. "moshi moshi" sapanya lalu mendekatkan smatphonenya ketelinga, "ya tolong jemput aku sekarang, Len"ujarnya lalu memutuskan sambungan telepon.
.
Focus On Me
.
Miku kini menatap pantulan bayangannya dicermin, cantik sangat cantik dan anggun. Busana putih dan bergaya berenda itu membalut tubuh Miku, ditambah rambut Miku yang disanggul dibelakangnya dengan menyelipkan beberapa bunga.
"oh cantiknya"pujinya sendiri seraya tersenyum simpul. Namun senyuman itu hilang, mengingat karena seharusnya ini untuk Kaito bukan orang yang lain.
"Miku"panggil Mr Hatsune di dekat pintu ruang rias, semua penata rambut dan perias berhenti. Mereka langsung segera mempersilakan Miku keluar.
"ayo"ajak Mr Hatsune sambil mengulurkan tangannya keMiku. Denga ragu ragu Miku menyentuh tangan Ayahnya lalu menjatuhkanya. Mr hatsune mengenggam tangan putrinya.
"percayalah orang itu orang yang baik dan akan menjagamu selalu, kuyakin itu"ujar Mr Hatsune Miku tegas. "aku dulu mengenggam tanganmu yang mungil untuk mengantarkan kedunia luar, sekarang kau akan menjadi milik orang lain berbahagia lah puteriku"ujar sambil mengelus rambut Miku. Miku menatap Mr Hatsune sedikit ragu. "ayo acaranya akan dimulai"uja sambil membawa Miku keluar.
.
Dengan gelisah bercampur takut, ia menatap pintu gereja didepannya.
Krieet
Pintu terbuka
Miku langsung menundukkan kepalanya menatap kekarpet merah yang ia lewati, hingga ia rasa kaki Mr hatsune berhenti. Miku mengangkat kepala pelahan, ia melihat dari ujung kaki lalu ia menatap wajah calon suaminya.
Deg
Mata miku membola sempurna
Mustahil
Orang itu tersenyum tampan seakan mengarti seribu makna, tangan miku perlahan menjatuhkan tangannya di tangan orang itu. Miku berjalan pelan dengan orang mengenggam tangannya.
"apa kau bersedia menerima Miku Hatsune sebagai istrimu dalam keadan suka maupun duka, sehat maupun sakit hingga ajal memisah?"tanya pendeta itu menatap Kaito. "saya bersedia"jawab kaito mantap.
"sekarang apakah bersedia menerima Kaito Shion sebagai suamimu dalam keadaan suka maupun duka sehat maupun sakit hingga memisahkan ?tanya pendeta ke miku. Miku terdiam mencerna perkataan pendeta dan semua kejadian ini. Para hadirin sudah menunggu jawaban miku dengan sabaran.
"saya .. bersedia"jawab miku dengan rona merah. Hari ini adalah hari mengejutkan baginya.
"sekarang anda boleh mencium pasangan anda"ujar pendeta.
Kini Miku dan Kaito berhadapan. Miku memejam matanya, kaito merundukkan kepalanya lalu menyatukan bibir mereka kedalam satu ciuman lembut.
Puk puk puk
Suara tepuk tangan para hadirin yang hadir meriahkan suasana gereja tersebut.
.
Setelah menikah mereka merayakan pernikahan Miku dengan Kaito di mashion keluarga hatsune. Semua tampak bahagia sedangkan miku menatap kaito dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Miku Hatsune eh Shion" panggil seseorang membuat miku membalikkan badan kearah sumber. Luka berdiri disana, "hey"
"oh hey"balas Miku canggung, "selamat ya"ucapnya dengan senyuman tulus.
"kau tidak marah ?"tanya Miku memiringkan kepalanya bingung.
"untuk apa aku marah?"tanya Luka terkekeh ringan "kau benar benar lucu Mi-can"pujinya membuat Miku agak gugup.
"maksud dari pertanyaanku, apa kau rela memberikan kaito untukku"ujar Miku menundukkan kepalanya, luka mengelus rambut miku sepertinya Luka sudah menganggap Miku adiknya.
"aku tak punya perasaan apapun padanya walau ia pernah menyatakan cinta padaku, sungguh itu dulu. Hey jangan berpikiran aneh aneh"ujar bergurau melihat raut muka Miku berubah.
"dia sungguh mecintaimu"jujur luka lalu ia berdeheman singkat agar tenggorokkannya tak terasa kering, "maafkan aku mengenai suaramu waktu Miku come back kemarin, aku telah mengacau acaranya. Tapi aku ada tujuan sebenarnya, karena aku ingin kau gagal dan menikah dengan kaito, sebenarnya itu juga permintaan kaito kkk~"ujar luka tergelak diujung penuturannya saat mengingat kaito memohonnya di cafe.
Miku mencerna perkataan luka. Lalu menatap luka lurus, jadi ini kegagalan yang dibuat ya ? padahal miku meruntukkan kesalahannya dan menyalahkan tuhan yang tak pernah adil padanya.
Tampaknya miku menyadari kesalahannya kemarin, miku tersenyum ke Luka. "tak apa"
"hey, honey"panggil Kaito sambil memegang pundak Luka, Miku tiba tiba melotot tak suka. "eh maksudku Lu-can"ralat Kaito cepat saat merasakan aura tak mengenakkan menguar dari pandangan Miku seakan membelahnya menjadi dua saat itu juga.
"makasih atas bantuanmu ya, hingga aku mendapat iblis ini"ujar Kaito tanpa dosa, ia melingkarkan tangannya dipinggan Miku. Miku mencubit kecil pinggang kaito membuat Kaito meringis pelan merasakannya.
"tak apa kok, aku pergi dulu ya dan selamat atas pernikahan kalian"ucap luka di ahkiri senyuman yang dibalas pasangan suami istri baru itu.
"Miku-sama"panggil seseorang membuat miku menoleh cepat, reflek ia berlari dan memeluk tubuh Len. "arigato Len"ucap Miku ditelinga Len, len tersenyum simpul lalu membalas. Namun baru beberapa detik tubuh mungil Miku ditarik Kaito.
"tak ada yang boleh memeluk Miku kecuali aku"ujar Kaito memeluk tubuh Miku. Sedangkan Miku memasang raut muka datar, lalu menatap Len lagi.
"selamat ya atas pernikahannya"ujar Len diiringi senyuman manis, lalu diangguk miku dan kaito.
Setidaknya ini ahkir yang indah bukan?
.
REAL END :V
.
Hoho gue kemarin mau menipu Fuyu-neesan :'V asek ketipu dan reader yang lain juga ketipu aseek *ditimpuk batu*
.
Maaf atas typo yang bertebaran, alur yg kencang, dan bahasa yang sulit dipahami d lele. Lalu terima kasih dengan Fuyu neecan yang membuatku jadi semangat nge endkan nih fanfict dan yang lain yang fav n follows terima kasih sebesar besarnya Nana mencintai kalian :* :*
Sampai bertemu lagi
\(^.^)/
.
