ORANG GILA DI BAGIAN SPESIALIS KANDUNGAN.


.

Kemarahan yang memuncak terkadang

Membuat keajaiban

-Stanislaw Jercy Lac-

.


[CHAPTER 2A]

Bruk!

Mendengar suara tumpukan dokumen yang dibanting oleh direktur bagian presenter ke atas meja, Baekhyun diam tertegun. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya di antara kedua bahunya.

"Kau belum menghapusnya? Kau pikir kolom situs jejaring kantor adalah buku harianmu, atau buku coret-coretanmu?"

Dari hidung direkturnya itu sepertinya keluar asap panas karena emosi. Berbagai alasan mulus yang sudah ia siapkan sepertinya menghilang begitu saja dari kepalanya, sehingga Baekhyun tidak bisa berkata apa-apa. Dalam hati, ia merasa hampir gila dan ingin berteriak "Ini semua gara-gara komputer tua itu. Saya hanya menulis asal-asalan saja. Tolong hancurkan komputer yang pura-pura eror lalu membuat pemiliknya dimaki-maki seperti ini". Namun, setelah dipikir-pikir, itulah awal mula dari kesalahan yang ia perbuat kali ini. Sepertinya, sebelum komputernya itu dibersihkan, jari-jari tangannya yang mengetik tulisan itulah yang harus dipotong terlebih dahulu.

"Memangnya kau pikir kolom itu seperti tembok kamar mandi SD?! Kau sadar tidak kalau membeberkan masalah percintaan sepele seperti ini dapat menjatuhkan citra kantor ini? Kau ingin berbuat seperti itu? Cepat hapus tulisan itu! Mengerti?"

Baekhyun tidak bertanya siapa yang menegur atasannya itu sampai ia marah dan berteriak sekuat tenaga seperti itu. Apakah CEO perusahaan ini juga ikut membuka-buka situs jejaring perusahaan? Sepertinya dia terlalu sibuk untuk melakukan hal itu.

"Baiklah, saya minta maaf." Baekhyun menyahut dengan suara pelan.

"Dan cepat tulis surat permohonan maaf!"

Permohonan maaf. Boleh tidak kalau aku menulis 'mulai saat ini saya tidak akan memakai komputer tua, jadi tolong ganti komputer saya dengan yang baru'? kemampuannya beralasan boleh juga ternyata.

Direkturnya yang tadi berteriak-teriak kini duduk di kursi putarnya dan membelakanginya. Baekhyun membungkukkan badannya menghadap ke punggung kursi itu, memberi salam lalu keluar dari ruangan itu. Orang-orang yang lewat di depan ruangan itu terdiam ketika melihat Baekhyun keluar dari ruangan direktur. Semua dengan ekspresi wajah yang sama-"ternyata kau yang membuat ulah".

Baekhyun kembali ke tempatnya dan menatap komputernya yang bermasalah itu. Fiuh... ini memang bukan salahmu. Tentu saja sepenuhnya salah orang yang mengetik tulisan itu. Baekhyun menyalakan komputernya dengan lemas sambil menghela napas. Kemudian menghela napas sekali lagi ketika melihat tulisannya sendiri terpampang di situs jejaring perusahaan itu. Kini, semua orang tahu apa yang ia lakukan dengan komputer itu. Apalagi prestasi kerjanya pun selama ini dianggap tidak memuaskan. Komputer yang telah membuatnya berada dalam masalah kini beroperasi dengan lancar, mungkin ia puas telah memberi pelajaran pada pemiliknya.

Hah! Ternyata tulisannya masuk di kolom itu lebih dari sepuluh kali. Kenapa komputer ini tidak merespons tombol lain dan hanya merespons tombol 'unggah' sih? Atau, jangan-jangan ini sudah termasuk dengan tombol 'hapus' yang beberapa kali ia tekan? Tanpa sadar ia mengagumi kemampuan aneh mouse komputernya. Namun, di saat yang sama, ia merasa dirinya terlihat sangat menyedihkan setelah tidak mendapat satu program apa pun, ia malah menulis hal-hal seperti ini di komputernya. Baekhyun menghela napas panjang dan mulai mengklik tulisannya yang berjudul "Kim Kai Si Tukang Selingkuh Berengsek" satu per satu.

Hapus tulisan ini?

Ya. Batal.

Klik.

Hapus tulisan ini?

Ya. Batal.

Klik.

Setiap menghapus satu tulisannya, Baekhyun mengerucutkan bibirnya dengan sebal.

Setelah menghapus tulisan terakhirnya di kolom itu, Baekhyun menyandarkan dirinya di kursi. Kalau dipikir-pikir, bisa saja komputernya yang membalaskan dendamnya pada Kai. Demi pemiliknya yang pengecut, komputernya itu berpura-pura eror dan siap-siap dibuang oleh pemiliknya...

Kurang ajar. Siapa yang berbuat salah, siapa yang menerima akibatnya. Baekhyun engepalkan tangannya dengan geram menahan amarah. Kemudian, tiba-tiba seseorang memegang tangannya yang mengepal itu. Ia mendongak karena terkejut dan ternyata orang itu adalah Kai. Kai menatap Baekhyun dengan sangat marah dan penuh dendam seolah ia akan mengunyah Baekhyun sampai habis.

"Jangan banyak tanya, cepat ikuti aku."

Ucapannya mirip malaikat pencabut nyawa yang seolah akan memisahkan tulang dan daging manusia tanpa rasa sakit. Baekhyun berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kai agar tidak terlihat seperti sedang diseret oleh laki-laki itu, tetapi rupanya genggaman Kai cukup kuat sehingga ia pun mau tidak mau terseret oleh Kai.

.

Brak! Suara pintu besi yang tertutup di tangga darurat membuat telinganya tidak nyaman. Baekhyun pasrah ketika Kai mendorongnya sampai menempel tembok.

"Ah! Apa-apaan kau ini?"

Baekhyun menatap Kai dengan kesal. Kai yang sehari sebelumnya memohon-mohon padanya untuk menghapus tulisan itu kini berdiri di hadapannya dengan wajah dingin. Baekhyun ikut mengangkat kepalanya membalas tatapan Kai.

"Siapa yang kau maksud dengan tukang selingkuh?"

Kai membelalakkan matanya. Kelihatannya dia benar-benar marah. Yah, kalau posisinya dibalik, tentu saja dia marah besar. Tetapi aku tidak peduli dengan hal itu.

"Kau tidak sadar?"

Tiba-tiba, Kai memukulkan tangannya ke tembok di sebelah wajah Baekhyun. Baekhyun terkejut dan diam. Namun, ia tetap membelalakkan matanya dan mengatur napasnya, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Singkirkan lenganmu." Baekhyun memperingatkannya dengan tajam. Kai semakin meluapkan amarahnya.

"Sudah kubilang kalau itu bukan apa-apa, kan?"

"Jadi, setelah senior wanita itu memutuskanmu, kau bilang tidak ada apa-apa? Aku ini memang bodoh, tapi, sebagai laki-laki, kau tidak mau melepasku dan pergi begitu saja? Mungkin dengan begitu aku bisa sedikit merasa bersalah padamu." Baekhyun menyahut dengan nada sarkas sambil memiringkan kepalanya. Ia tidak ingin menjelaskan kejadian sebenarnya kepada si laki-laki ini. Toh pada akhirnya ia tetap harus menulis surat permohonan maaf. Sekalian saja ia bersikap seolah ia sengaja membuat tulisan itu.

Ketika Baekhyun menatap dengan pandangan penuh dendam, Kai menundukkan kepalanya sejenak lalu mengangkatnya kembali. Tatapan matanya yang dingin berubah menjadi tidak sabar.

"Bukan senior itu yang menyelesaikan semua ini. Aku! Aku yang memutuskannya!"

Kai memukul-mukul dadanya sendiri dengan kesal.

"Lalu, itu bukan selingkuh namanya? Keterlaluan!"

Baekhyun yang menatap Kai dengan tajam tiba-tiba mengangkat sebelah tangannya. Kai tersentak. Baekhyun dalam hati tertawa konyol melihat respons Kai. Ia kemudian memukul lengan Kai yang bersandar di tembok dengan keras. Seketika itu juga, Kai kehilangan keseimbangan dan terhuyung mundur. Baekhyun mendorongnya menyingkir dari hadapannya.

"Kenapa kau berpisah dengannya? Kenapa kau tidak terus berkencan dengannya dan mengabaikan perempuan sepertiku yang tidak membiarkan orang lain menyentuh dirinya, yang menutup dirinya rapat-rapat seperti gembok?"

"Fiuh... seharusnya aku menahan diri saat itu. Sekarang aku mengerti kenapa lelaki bisa kehilangan wanita dan dipermalukan karena alkohol."

Kai menghela napas dengan wajah menyesal. Benar. Kau memang sudah cukup bersabar. Aku mengakuinya. Namun, aku tetap tidak berniat membiarkan kau menyentuhku meskipun kau berkata seperti itu. Sama sekali. Lagi pula, aku tidak bisa memaafkannya karena telah berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri, orang yang nantinya pun masih akan tetap berhubungan dengannya.

"Kau tahu tidak, aku pikir kau sengaja menghukumku dengan tulisan itu lalu memaafkanku." Kai yang tadi terhuyung kemudian mengutarakan kekesalannya dengan gontai.

"Aku melakukan hal itu untuk menunjukkan bahwa hubungan kita benar-benar sudah berakhir. Awas saja kalau kau berani mengganggu hidupku lagi! Tahu rasa kau!" Baekhyun berkata dengan galak sambil menunjukkan kepalan tangannya.

"Sekali saja! Maafkan aku sekali ini saja!"

Kai menggoyangkan badannya dan memohon pada Baekhyun. Sesaat, laki-laki itu terlihat remeh dan kecil di mata Baekhyun. Sudah tahu seperti ini kenapa masih berani selingkuh juga? Dasar laki-laki. Tiba-tiba Baekhyun merasa dirinya sendiri yang tanpa sengaja menulis makian-makian di Internet dan laki-laki yang terseret nafsunya sendiri sampai kehilangan kekasihnya itu sama-sama menyedihkan.

"Kalau kau ingin mengejar wanita yang telah meninggalkanmu, jangan berbuat seperti itu di hadapanku. Pergilah kepada senior wanitamu itu. Aku sekarang sudah tidak tahan melihat dirimu lagi."

Baekhyun yang tetap menatap Kai dengan penuh emosi membuka pintu tangga darurat dan memasuki koridor kantor. Ia dapat mendengar suara pintu besi itu berdebam keras di belakangnya. Bersamaan dengan suara itu, hati Baekhyun terasa lebih ringan. Menyenangkan juga rasanya mencampakkan laki-laki. Baekhyun menepuk-nepuk kedua tangannya seolah ia usai membereskan sampah-sampah yang menumpuk dan berjalan menuju ruang announcer. Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara seseorang yang memanggilnya.

"Baekhyun Ssi[7]! Kau kemana saja? Aku mencarimu dari tadi."

Ketika ia menoleh, tenyata PD Choi sudah berdiri di hadapannya sambil menggerakkan tangan menyuruhnya agar mendekat. Ia adalah PD untuk bagian 'aneka rasa' di acara "Berburu Informasi, LIVE". Pasti ada kesempatan untuk menjadi reporter bagi dirinya. Yesss! Meskipun ia harus menulis surat permohonan maaf, tetapi sepertinya keberuntungan mulai menghampirinya setelah ia menyingkirkan Kai.


.

Melihat ekspresi seorang ibu yang sedang berjuang sekuat tenaga dalam persalinan, Chanyeol terlihat serius dan ikutt memberikan semangat.

"Terus! Terus! Terus! Terus!"

Chanyeol khawatir ibu itu akan kehilangan kesadarannya sehingga ia terus berteriak sekuat tenaga padanya. Si ibu yang sudah berlumuran keringat memegang erat tangan suaminya dan mengerutkan wajahnya untuk mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Si suami yang menatap istrinya dengan rasa kasihan ikut memberi semangat sampai wajahnya memerah.

"Dorong!"

Mata Chanyeol yang terlihat dari balik masker wajahnya terlihat membelalak penuh karisma.

"Hmmmpph."

Suara si ibu yang mengerahkan seluruh tenaganya itu berbeda dari yang sebelumnya.

"Kalau Anda berhenti, nanti napas bayi ini akan tersumbat. Lebih kuat lagi...!"

Chanyeol menguatkan suaranya dengan harapan agar kekuatannya itu bisa tertular kepada ibu hamil itu. Mendengar hal itu, si ibu yang sudah kewalahan mulai menguatkan dirinya kembali.

"Hmmmpph...!"

"Oooekkk...!"

Akhirnya suara tangis bayi memenuhi seluruh ruang bersalin. Seketika itu juga, semua orang yang berada di tempat itu berseru dengan lega.

"Anda sudah punya nama yang cantik untuk putri Anda ini, kan?"

Chanyeol menerima bayi itu sambil menatap si ibu dengan tatapan penuh haru.

"Se... Seu Ri."

Si ibu yang terharu menjawab dengan tersenggal-senggal namun tetap tersenyum bahagia. Chanyeol menatap ibu itu dengan puas.

"Mama Seu Ri, selamat! Putri Anda lahir dengan selamat!"

Chanyeol memberikan bayi itu kepada perawat itu membawa bayi yang baru lahir itu kepada si ibu dengan hati-hati. Si suami yang terharu dan ibu bersalin itu hanya menatap bayi mereka yang baru lahir dengan wajah bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Chanyeol meninggalkan ruang bersalin dengan wajah lega. Setiap berhasil menmbantu persalinan dengan selamat, ia merasa seperti melayang ke angkasa dan menggapai bintang-bintang disana.

Chanyeol terlihat lelah. Ia baru saja melepaskan maskernya ketika seorang perawat datang menghampirinya dan menyodorkan telepon genggamnya. Chanyeol menatap perawat itu sambil berkata, "Siapa?"

"Ibu Lee," bisik perawat itu. Seketika itu juga, Chanyeol merasa seolah awan gelap menutupi langit penuh bintangnya dan ia menerima telepon itu dengan wajah murung.

"Halo," suaranya terdengar lesu. Namun, suara ibunya di seberang sana terdengar sangat ceria.

"Anakku, kau tadi sedang ada operasi ya?"

Mendengar suara ibunya yang terlalu ceria dan dibuat-buat, pasti ada orang lain yang ikut mendengarkan di sebelahnya saat ini.

"Iya."

Chanyeol selalu tidak suka dengan sikap ibunya yang seperti ini.

"Ibu baru saja sampai di rumah sakit, bagaimana kalau kita makan siang bersama?"

Sepertinya sekarang kepala rumah sakit yang ada di sebelahnya.

"Tidak apa-apa. Makan saja duluan." Chanyeol berkata singkat tanpa basa-basi. Ia dapat merasakan ibunya tertegun mendengar ucapannya itu. Namun, suara yang menyahutnya masih terdengar ceria.

"Kau sibuk, ya? Ayolah kita makan bersama, Tao sudah meluangkan waktunya."

Seperti itulah ibunya. Ia tahu pasti kartu rahasia yang membuat Chanyeol tidak bisa menolak permintaannya. Atau mungkin lebih tepat disebut sandera? Chanyeol merasa lehernya tercekik karena menahan emosi.

"Kau sudah lihat wajah Tao yang terlihat kuyu? Ibu jadi ingin memberinya makan sesuatu."

-TBC-


Keterangan;

[7]Ssi= akhiran yang digunakan untuk menunjukkan penghormatan pada lawan bicara (biasanya digunakan kepada orang sebaya yang belum dekat).