Previous Chapter...
"Ibu baru saja sampai di rumah sakit, bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
Sepertinya sekarang kepala rumah sakit yang ada di sebelahnya.
"Tidak apa-apa. Makan saja duluan." Chanyeol berkata singkat tanpa basa-basi. Ia dapat merasakan ibunya tertegun mendengar ucapannya itu. Namun, suara yang menyahutnya masih terdengar ceria.
"Kau sibuk, ya? Ayolah kita makan bersama, Tao sudah meluangkan waktunya."
Seperti itulah ibunya. Ia tahu pasti kartu rahasia yang membuat Chanyeol tidak bisa menolak permintaannya. Atau mungkin lebih tepat disebut sandera? Chanyeol merasa lehernya tercekik karena menahan emosi.
"Kau sudah lihat wajah Tao yang terlihat kuyu? Ibu jadi ingin memberinya makan sesuatu."
[CHAPTER 2B]
Entah apakah mengira kartu rahasianya itu benar-benar ampuh, ibunya kembali menegaskan tentang Tao. Kalau sudah seperti ini, terpaksa Chanyeol mengalah meskipun ia sangat marah.
"Pergilah dulu bersama Tao. Aku segera menyusul."
"Oh, begitu? Baiklah. Love you, anakku."
Terbayang wajah ibunya yang puas menikmati kemenangannya. Chanyeol menutup telepon genggam dan memasukkannya ke saku bahkan sebelum ibunya selesai berbicara. Kemudian, ia buru buru mengeluarkan telepon genggamnya kembali. Ia baru saja akan menekan tombol shortcut untuk menelepon Tao, tetapi lantas terdiam sesaat, lalu memasukkan kembali telepon genggam itu ke sakunya dengan putus asa. Ia tadinya ingin menyuruh Tao untuk membatalkan janji dengan ibunya. Namun, ia merasa seperti pengecut jika melakukan hal itu. Toh ia juga harus makan siang meskipun tidak ingin makan saat ini, meskipun ia tidak suka dengan teman makan siangnya saat ini.
.
Chanyeol mendapat SMS dari Tao yang berisi nama restoran Korea tradisional, tempat, dan juga pesan yang menyuruhnya untuk cepat datang. Dengan terpaksa, akhirnya ia tiba di tempat itu. Di lapangan parkir restoran itu terlihat banyak kendaraan dari salah satu stasiun TV. Di salah satu ruangan yang cukup luas di restoran itu terlihat ramai oleh orang-orang yang tengah mengatur kamera. Ternyata restoran ini cukup terkenal juga, pikir Chanyeol. Namun, haruskah mereka makan di restoran yang penuh dan berisik seperti ini? Alasannya datang ke tempat ini saja sudah tidak menyenangkan, ditambah lagi suasana yang seperti ini. Terserah mau ada Tao atau tidak, Chanyeol rasanya ingin menghilang saja dari tempat itu.
Ketika ia sibuk memperhatikan orang-orang yang sibuk mempersiapkan syuting, ia melihat ibunya dan Tao sedang duduk berhadapan dan melambaikan tangan padanya dari kejauhan.
"Sepertinya restoran ini masuk TV. Memang sih tempat ini cukup terkenal," kata Tao pada Chanyeol yang duduk di sebelahnya dengan wajah tidak nyaman sambil menyodorkan tisu basah dan secangkir teh hangat. Melihat tingkah mereka berdua, ibu Chanyeol tersenyum senang. Sementara Chanyeol sama sekali tidak senang melihat ibunya seperti itu.
"Aku tidak tahu apakah makanannya bisa masuk lewat mulut atau malah lewat hidung."
Chanyeol mengabaikan tatapan ibunya dan meneguk tehnya, lalu kembali memperhatikan orang-orang yang sedang menyiapkan syuting. Di antara kerumunan orang itu, ia melihat seorang wanita sedang berbicara seorang diri dengan penuh semangat.
"Sudah lama kita tidak makan bersama seperti ini. Kau ini, sering-seringlah pulang ke rumah." Ibunya berkata dengan lembut pada Chanyeol yang tidak pernah pulang ke rumah sejak ia tinggal seorang diri di rumah yang disewakan oleh ibunya. Barulah Chanyeol mengalihkan pandangannya dari tim syuting itu dan menatap ibunya. Ibunya yang bertatapan langsung dengan Chanyeol semakin tersenyum lebar. Chanyeol memalingkan wajahnya dengan dingin melihat ibunya yang seperti itu. Tao yang berada di sebelah mereka kemudian membuka mulut berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ibu berkata kalau dia ingin kita punya anak sesuai rencana. Supaya kau juga tidak terganggu."
"Memangnya anak itu seperti barang, semaunya saja." Chanyeol menyahut dengan kasar. Ia semakin tidak suka dengan situasi ini, ketika wanita yang tahu pasti bagaimana hubungannya dengan ibunya dan berusaha memperbaiki suasana malah terlihat menyedihkan. Tao tertawa kaku mendengar ucapan Chanyeol, sementara ibunya yang bertatapan dengan Tao tersenyum seolah berkata "tidak apa-apa".
Chanyeol yang memang tidak biasa berbicara dengan lembut kepada Tao kembali mengalihkan tatapannya dengan dingin ke arah tim yang sedang syuting. Wanita yang tadi bergumam seorang diri itu kini duduk di depan sebuah cermin berukuran sebesar wajahnya sendiri sambil membenahi dandanannya. Ia tetap menggumamkan sesuatu sambil sesekali melemaskan otot-otot wajahnya dengan membuat ekspresi-ekspresi aneh. Di tengah kerumunan orang seperti itu, hebat juga dia tetap berbuat seperti itu dengan cueknya.
"Kau lihat apa, sih?" Tao bertanya sambil ikut memandang ke arah yang di lihat oleh Chanyeol.
"Sepertinya aku pernah melihat wanita itu, dimana ya?" Chanyeol memandang wanita yang sedang bercermin itu sambil menajamkan penglihatannya.
"Bukankah dia seorang reporter? Pasti kau melihatnya di TV."
TV? Setelah masuk fakultas kedokteran, ia tidak ingat kapan terkahir kali ia menonton televisi. Namun, ia merasa familier dengan wajah wanita itu.
"Aku kan tidak menonton TV, entahlah, sepertinya aku melihatnya di suatu tempat."
Chanyeol yang berpikir keras untuk mengingat wanita itu akhirnya menyerah dan memiringkan kepalanya.
"Tapi aku juga familier dengan wajahnya. Apa karena wajahnya biasa-biasa saja, ya?"
Tao pun ikut memandang wanita itu dengan penasaran.
"Begitu, ya?" Chanyeol menyahut sambil termenung
"Makanan apa yang paling enak di sini?"
Ibu Chanyeol tiba-tiba membuka papan menu ke hadapan mereka berdua. Tao langsung mendekat ke arah ibu Chanyeol dan bersama-sama melihat menu restoran itu.
"Yang ini, ibu..."
Sementara ibunya dan Tao asyik membicarakan menu di restoran itu, Chanyeol memandang ke arah wanita yang sedang melemaskan otot-otot wajahnya itu dengan serius. Kemudian wanita itu mengeluarkan telepon genggam dari sakunya. Kelihatannya ada seseorang yang meneleponnya. Setelah mengenali siapa yang meneleponnya, ia menjawab telepon sambil mengernyitkan dahi. Chanyeol membaca gerak bibirnya yang berkata "kenapa kau meneleponku terus? Aku sedang sibuk". Tiba-tiba, Chanyeol yang sedang menempelkan gelas di bibirnya tersentak seolah teringat sesuatu. Wanita itu, ia adalah wanita yang kemarin berteriak-teriak di sebelah lobi rumah sakit bagian kandungan.
"Pantas saja aku familier dengannya."
Tanpa sadar Chanyeol bergumam seorang diri. Jadi, dia adalah seorang reporter? Apa suaminya juga bekerja di stasiun TV?
"Apa?" Tao melihat Chanyeol bergumam seorang diri dan bertanya kepadanya.
"Ah, tidak. Sudah pesan makanan?"
Setelah itu, barulah Chanyeol mengalihkan pandangannya dari wanita itu dan menoleh ke arah Tao. Ketika Chanyeol sedang mendengarkan Tao yang menjelaskan menu yang mereka pesan, suasana di restoran itu mendadak sunyi. Sepertinya tim yang sedang syuting itu sudah mulai mengambil gambar dan hanya suara wanita itu saja yang terdengar jelas. Orang-orang yang berada di restoran itu mulai mengalihkan pandangan mereka pada wanita itu. Sementara, wanita itu tersenyum lebar di depan kamera dan mulai mengucapkan dialognya.
"Waah, coba lihat berbagai makanan yang ada di sini. Sepertinya ini adalah menu favorit yang ada di restoran ini, ya?"
Chanyeol hanya mendengus pelan melihat ekspresi dan gaya wanita itu yang berlebihan, seolah air liurnya sudah mengalir seperti air terjun. Sementara, disebelah wanita itu terlihat seorang laki-laki yang kelihatannya seperti pemilik restoran ini, duduk dengan kaku layaknya seorang anggota parlemen yang akan mengadakan konferensi pers resmi. Ia menjawab pertanyaan wanita itu dengan gugup seolah sedang diinvestigasi tentang kasus penggeapan uang.
"Ya. Menu ini adalah yang paling digemari oleh tamu kami di setiap musim; baik musim semi, musim panas, musim gugur, maupun saat musim dingin."
Tamu-tamu di restoran itu terkikik mendengar jawaban yang terdengar seperti orang yang sedang membaca buku pelajaran bahasa. Namun, tim yang sedang syuting itu terlihat sangat serius.
"Wah, ini dia appetizer-nya ya. Ini bubur kacang merah, kan?"
Reporter itu mengangkat sebuah mangkuk keramik berwarna putih yang terletak di hadapannya. Tiba-tiba saja Chanyeol yang sedang meminum airnya tersedak dan terdiam. Dia tidak akan memakannya, kan? Chanyeol mengawasi wanita yang sudah mengangkat sendoknya itu dengan tatapan tajam, sementara wanita itu mulai mengaduk bubur kacang merahnya. Sepertinya memang acara wisata kuliner.
"Wanita itu gila ya?"
Chanyeol yang mulai panik terus memandang wanita itu dengan wajah tidak percaya. Tao dan ibunya yang juga tengah mengaduk bubur kacang mereka memandang Chanyeol dengan heran. Namun, Chanyeol tidak memedulikan tatapan mereka dan terus mengawasi wanita itu. Wanita itu berkata dengan wajah puas kepada pemilik restoran yang terlihat kaku seperti mayat,
"Pasti rasanya lezat. Hm, aromanya pun sedap sekali."
Reporter itu mendekatkan hidungnya pada makanan yang tersaji di hadapannya dan mencium aromanya. Kemudian, ia mengambil sesendok penuh bubur yang tadi sudah ia aduk dan mulai menyantapnya. Harus kuhalangi atau tidak, ya? Kacang merah adalah makanan yang berbahaya bagi ibu hamil dan sebaiknya dihindari. Namun, wanita yang ternyata adalah seorang reporter itu malah menyantapnya begitu saja tanpa ragu-ragu.
"Wah, rasanya enak sekali. Lalu, omonaa[8], sepertinya ini adalah minuman alkohol tradisional yang dibuat di restoran ini ya."
Reporter itu kemudian menuangkan minuman itu di gelasnya dan memasang ekspresi bahagia. Melihat wajahnya yang seperti itu, Chanyeol mengerutkan keningnya.
"Kyaaa."
Wanita itu membalikkan gelasnya yang sudah kosong di atas kepalanya. Keterlaluan sekali wanita itu. Baiklah, hanya satu sendok bubur kacang merah dan satu gelas kecil alkohol. Tidak akan terjadi apa-apa, kan? Chanyeol berusaha menenangkan dirinya sambil mengaduk-aduk bubur kacang merah yang terletak di hadapannya. Entah apa karena ia terlalu mengkhawatirkan bayi yang ada di perut wanita itu, kini ia tidak terlalu berselera makan.
"Makanlah. Enak lho," bisik Tao yang duduk di sampingnya.
"Ah, aku sedang tidak selera."
Chanyeol mendorong mangkuk di hadapannya dengan malas. Kemudian suara reporter itu terdengar kembali.
"Nah, berikutnya ada menu apa lagi? Wah, ini ikan fugu, kan!"
Hah! Sekarang dia mau makan ikan beracun itu? Wanita itu sebenarnya memedulikan janin yang ada di perutnya tidak sih? Setelah bersikeras tidak mau kehilangan bayi itu, dia malah sama sekali tidak menjaga makanan seperti orang bodoh. Chanyeol mengerutkan keningnya seolah ikan fugu yang beracun itu mengembang di dalam lehernya sendiri. Reporter yang bodoh itu mengambil sepotong daging ikan itu, menyuapkan ke dalam mulutnya, dan memasang wajah puas. Chanyeol merasa sangat kasihan terhadap anak yang ada di dalam perut wanita itu.
"Kyaa."
Mendengar reaksinya, jelas ia baru meminum segelas alkohol lagi. Trak! Seketika itu juga, Chanyeol meletakkan sendoknya ke atas meja. Meskipun ia sudah berusaha untuk bersabar, tekanan darahnya semakin lama semakin memuncak.
"Ada apa? Ayo makan."
Tao memberikan sendok itu ke tangan Chanyeol dengan sabar.
"Minuman alkohol ini rasanya benar-benar nikmat, seperti madu. Katanya ini baik untuk mengembalikan stamina ya? Lezat dan tidak memabukkan. Kyaa."
Keterlaluan. Chanyeol tidak bisa lagi menahan dirinya yang sudah terbakar emosi. Sementara reporter itu terus meneguk minuman beralkohol itu gelas demi gelas. Empat, lima, enam... meskipun ia berkali-kali memerintahkan dirinya untuk mengabaikan hal itu, tangan Chanyeol yang memegang sendok di atas meja bergetar sambil tetap menghitung berapa gelas yang diminum oleh wanita itu.
"Dari minuman ini tercium aroma bunga. Sampai tidak bisa membedakan apakah ini air sari bunga atau minuman alkohol. Nah, satu gelas lagi!"
Reporter itu kembali menuangkan minuman alkohol itu ke gelas beningnya yang kosong.
Benar-benar gila! Detik itu juga, Chanyeol membanting sendoknya sambil berdiri dan berlari ke arah wanita itu. Tepat ketika bibir wanita itu menyentuh gelas minumannya, Chanyeol yang meluncur bak roket menarik tangan wanita itu dan menyentakkannya.
"Omooo[9]!"
Reporter itu terkejut dan berseru, sementara gelas itu terlempar dan tumpah mengenai PD yang duduk di depannya. Seketika itu, suasana syuting menjadi kacau dan tidak terkendali.
"Apa-apaan pria itu! Cepat singkirkan dia!"
PD yang terkena tumpahan minuman itu berteriak sambil menunjuk ke arah Chanyeol. Beberapa kru langsung berlari ke arah Chanyeol. Namun, Chanyeol malah berteriak kepada wanita itu sambil tetap memegang tangannya erat-erat.
"Kau gila ya? Bubur kacang merah, ikan fugum sampai alkohol. Kenapa kau makan seenaknya seperti itu..."
Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu dan berkata dengan tegas, "Ibu hamil?"
"Apa? Ibu hamil?" Reporter itu berteriak dengan tidak kalah kuatnya.
"Apa?" PD itu pun terkejut mendengar perkataan reporter itu. Semua orang memandang ke arah mereka. Sesaat, wanita itu sepertinya sadar ia berbicara terlalu keras lalu menutup mulutnya. Kemudian ia mengibaskan tangannya ke arah PD dan orang-orang di sekitarnya sambil membantah dengan panik.
"Tidak! Aku tidak hamil!"
"Tidak hamil bagaimana?" Sahut Chanyeol dengan kecewa. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi, toh ini adalah kesalahan wanita ini jika sekarang semua orang tahu bahwa ia sedang hamil.
"Mungkin kau adalah wanita yang tahu bagaimana menjaga bayimu sendiri, tapi ternyata kau sengaja berbuat seperti ini karena ada dihadapan orang-orang?"
Chanyeol mengangkat mangkuk bubur kacang merah yang terletak di atas meja.
"Kacang merah itu tidak hanya bisa memperlambat perkembangan janin, tapi juga menimbulkan kontraksi di uterus. Bisa juga meningkatkan produksi hormon yang dapat menimbulkan kelainan pada bayi! Kau tahu tidak?"
Kemudian ia kembali menatap ke atas meja dan melanjutkan,
"Lalu, ikan fugu, pada dasarnya adalah ikan yang beracun, dasar wanita gila! Sampai minum alkohol bergelas-gelas lagi! Benar-benar!"
Orang-orang menatap reporter itu dengan tidak percaya. Sementara reporter itu tetap menbantah tuduhan pria itu.
"Tidak! Aku benar-benar tidak hamil!"
.
.
Pepatah berkata langit akan selalu menolong orang yang menolong dirinya sendiri. Lalu, apakah itu berarti orang yang berusaha menghancurkan orang lain akan menghancurkan dirinya sendiri? Namun, untuk urusan Kai, karena laki-laki itu sudah memberikan pengaruh secara mental pada dirinya, Baekhyun merasa balas dendam pada laki-laki itu masih terhitung cukup baik. Lagi pula, sembilan puluh persen penyebabnya adalah komputer itu. Namun ini agak keterlaluan. Ini bukan hanya kesialan yang bertubi-tubi, tetapi seperti mendapat kesialan seumur hidup dalam satu hari. Ia tidak pernah mengira akan mengalami masalah yang serius dengan faktor keberuntungannya seperti ini. Ketika PD Choi menghampirinya setelah ia mencampakkan Kai dengan kasar, tadinya ia pikir itu adalah pertanda baik dan kesempatan baru yang diberikan oleh Tuhan.
"Kau tahu kan kalau saat ini tidak ada orang yang mengisi tempat reporter di acara kuliner ini? Kalau bagus, kau bisa jadi reporter tetap, lho."
PD Choi mengedipkan matanya kepada Baekhyun seolah menegaskan kembali tentang posisi tetap di acara itu. Reporter tetap? Tentu saja, dengan senang hati. Belakangan Baekhyun mendengar bahwa reporter yang sebelumnya mengisi tempat ini tiba-tiba dipindahkan ke acara dokumenter alam. Baekhyun menunjukkan tatapan yang berapi-api dan semangat yang kuat kepada PD Choi.
Tempat yang menjadi lokasi syuting pertamanya adalah restoran yang terkenal dengan makanan kesehatan. Karena acara ini akan ditayangkan secara live, maka sedikit kesalahan akan berakibat fatal.
"Appetizer-nya adalah bubur kacang merah, makanan utamanya ikan fugu, dan terakhir adalah minuman alkohol tradisional yang khusus dibuat di restoran ini. Lalu, kau bertanya pada pemilik restoran itu tentang khasiat dari makanan-makanan itu. Jadi, sekali lagi, bubur kacang merah, ikan fugu, dan minuman alkohol. Oke?"
PD Choi menjelaskan isi acara itu dengan ramah. Dengan wajah gugup, Baekhyun kemudian melatih senyumnya sambil menatap ke kamera yang bahkan belum menyala.
"Lalu, apa khasiat dari bubur kacang merah ini? Bagaimana dengan ikan fugu? Lalu, ini adalah minuman alkohol tradisional itu, ya?" Baekhyun melatih pelafalannya dengan serius sambil bergumam seorang diri.
"Memangnya ini siaran di Korea Utara? Yang lebih natural, dong."
Baekhyun malah semakin tegang melihat wajah PD Choi yang khawatir. Kemudian ia kembali menatap ke kamera dan berlatih dengan lebih serius.
"Lalu, apa khasiat dari bubur kacang merah ini? Bagaimana dengan ikan fugu? Lalu, ini adalah minuman alkohol tradisional itu, ya?"
Baekhyun terus menggumamkan perkataan yang sama berkali-kali. Sesekali melihat ke cermin dan memperlihatkan tekad yang kuat untuk menjadi reporter tetap di acara itu. Tiba-tiba, ia mendapat telepon dari Kai. Meskipun ia malas menjawab telepon itu, tapi ia tetap menjawab singkat karena sepertinya orang ini akan terus mengganggunya. Ia hanya berkata jangan meneleponnya lagi dan segera menutup telepon itu. Apa telepon itu yang menjadi pembawa sial? Bukannya ia ingin menyalahkan orang lain, tetapi ia benar-benar tidak tahan lagi.
Syuting dimulai dengan lancar. Siaran yang sudah diterima oleh stasiun TV dan begitu mendapat tanda 'shoot' dari PD, Baekhyun berhasil mengatur napasnya dan mewawancarai pemilik restoran itu dengan santai dan natural. Meskipun ia sempat berpikir seharusnya pemilik restoran itu juga latihan dulu bersamanya tadi karena sikap dan ucapannya sangat kaku, seperti sedang membaca buku pelajaran Bahasa Korea. Namun, Baekhyun tidak menyerah. Ia mengajak pemilik restoran itu untuk lebih santai, karena kalau tidak, maka akan terlihat lebih mencolok. Kemudian Baekhyun mulai mencicipi bubur kacang merah, ikan fugu, dan beberapa gelas minuman alkohol di restoran itu... itu saja.
Tiba-tiba, seorang laki-laki datang berlari menghampirinya seperti orang kesetanan, memegang pergelangan tangannya kuat-kuat sampai membuat gelas itu terlempar mengenai dahi PD, mengatakan kalau dirinya adalah 'ibu hamil' dan berkata macam-macam. Seandainya itu semua hanya mimpi. Hal itu seharusnya tidak pernah terjadi. Tidak boleh terjadi. Ini kan siaran langsung! Yang lebih penting daripada masalah 'ibu hamil' itu adalah bahwa acara ini disiarkan secara langsung. Namun, karena dirinya pun belum menikah, ia pun tidak bisa diam begitu saja mendengar tuduhan itu.
"Tidak. Aku tidak hamil!" Baekhyun membantah tuduhan itu dengan tegas, tapi tidak seorang pun mempercayainya.
"Cepat tayangkan gambar yang lain!" PD itu berteriak kepada salah seorang staf yang seketika terdengan suata helaan napas putus asa dari berbagai penuru lokasi syuting. Dunia benar-benar jungkir balik rasanya!
"Hei! Sebenarnya yang kau maksud ibu hamil itu siapa?" Baekhyun berteriak kepada laki-laki yang tadi memegang tangannya itu dengan geram.
"Aku sudah lihat sendiri. Kau kemarin datang ke dokter kandungan, kan? Siapa sih dokter yang menanganimu?" laki-laki itu menatap Baekhyun dengan tatapan prihatin tanpa memedulikan orang-orang di sekitarnya yang memandanginya.
"Dokter kandungan?"
Saat itu, barulah ia ingat akan wajah laki-laki itu. Laki-laki ini adalah dokter yang paling menarik perhatiannya ketika ia berkunjung ke rumah sakit dengan Luhan!
"Kau ini, dokter di bagian kandungan..."
"Hah! Rupanya kau pernah melihatku? Benar, aku ini dokter kandungan!"
Sekarang rasa percaya diri laki-laki itu semakin tinggi. Sementara itu, tatapan orang di sekitar mereka pada Baekhyun semakin tajam, seolah berkata "begitu rupanya". Mendapat tatapan seperti itu, Baekhyun semakin panik.
"Tidak, sungguh!" Baekhyun berseru sampai hampir menangis. Rasanya ia ingin naik ke atap restoran itu dan terjun dari sana.
"Kubilang aku tidak hamil!" Baekhyun akhirnya berteriak sambil terduduk lemas.
.
"Cepat tulis surat permohonan maaf!"
Begitu sampai di kantor, ia langsung dipanggil oleh atasannya dan kembali mendapat teguran keras. Surat permohonan maaf seperti apa yang harus ia tulis? 'Saya berusaha agar tidak salah paham dikira sebagai ibu hamil'. Seperti itu? Padahal ini semua karena ulah dokter gila itu.
Baekhyun geram dan merasa diperlakukan tidak adil. Setelah menyeka air mata dan hidungnya, ia duduk di mejanya sambil terisak pelan. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah pulpen dari tempat pensilnya dengan kesal.
"Tiba-tiba datang orang gila entah dari mana."
Tangan Baekhyun yang memegang pulpen itu bergetar hebat dan pulpen itu patah di tangannya. Beberapa rekan kerja yang melewatinya menoleh sejenak, berbisik lalu pergi menghilang. Baekhyun mendadak berdiri dari tempat duduknya dan berteriak, "Aku benar-benar tidak hamil! Bukan aku!"
Tiba-tiba kai datang di hadapannya, memegang tangannya dan menariknya keluar ruangan.
"Yaaa[10]!" Baekhyun berteriak sekuat tenaga pada Kai.
.
Brak!
Suara pintu besi yang terbanting tertutup memenuhi ruangan tangga darurat itu. Lagi-lagi telinganya merasa tidak nyaman. Kai mendorong Baekhyun sampai menempel dinding. Kebiasaan sekali orang ini.
"Apa-apaan kau?" Kai bertanya dengan menakutkan. Apa maksudnya?
"Kau ini kenapa sih?" Teriak Baekhyun.
"Kau, dari kemarin heboh berkata kalau aku selingkuh. Sekarang kau bilang kau hamil? Kau bahkan tidak pernah membiarkanku menyentuhmu sedikit pun!"
Tiba-tiba saja emosinya memuncak. "Kau pikir aku sama denganmu?"
"Siapa laki-laki yang kau selingkuhi itu?!" Kai berteriak keras dengan wajah geram atas perlakuan Baekhyun pada dirinya selama ini.
"Aku tahu sepertinya kau masih kesal karena perbuatanku, tapi aku tidak berbuat salah padamu. Jadi berhentilah meneriakiku seperti itu!"
Baekhyun mendorong Ka dari hadapannya.
"Kau merasa hebat karena aku memohon-mohon padamu?"
Kai mendengus kesal. Seketika itu juga, otaknya seolah tidak bisa berpikir secara rasional. Baekhyun mengepalkan tangannya dan tanpa pikir panjang melayangkan pukulannya ke dagu Kai.
Buk!
"Minggir kau! Kini aku benar-benar muak dengan laki-laki!"
Baekhyun berjalan menuju koridor kantor, meninggalkan Kai yang terkejut sambil memegangi dagunya yang menerima pukulan tidak terduga itu. Kali ini tidak ada yang memanggil dirinya. Baekhyun benar-benar ingin menangis sekuat tenaga. Rasanya tidak ada yang bisa membuat suasana hatinya membaik kembali, meskipun seandainya ia bisa menangkap dokter gila itu dan memutilasi tubuhnya.
[Artikel terkait]
Reporter "Berburu Informasi, LIVE", kehamilannya terungkap di tengah siaran langsung!
Pertemuan antara Nona B dan dokter kandungan di tengah siaran langsung, siapa wanita itu?
Reporter yang memaki kekasihnya yang selingkuh melalui situs jejaring perusahaan, ternyata hamil?
Reporter B, hamil oleh mantan kekasihnya.
Seketika, berbagai artikel mengenai Baekhyun muncul di berbagai media massa termasuk surat kabar. Baekhyun pucat dan panik melihat berbagai artikel tidak masuk akal yang berkaitan dengan dirinya. Bahkan, kata kunci 'makanan yang harus dihindari saat hamil' sampai ikut dibicarakan di internet. Kalau tadi ia tidak melayangkan pukulannya, hampir saja ia kalah total, K.O.
"Baekhyun Ssi! Wajahmu ternyata tidak berubah ya?" Tiba-tiba seseorang menyapanya dengan nada mengejek.
"Ya?" Baekhyun yang sedang tertunduk di mejanya mengangkat kepala dengan berat hati.
"Waktu zaman sekolah kau jadi ketua geng, ya? Teman-temanmu gayanya menyeramkan juga, ya."
"Coba kau urus mini hompy[11]-mu itu. Masa tidak ada yang update sejak dua tahun yang lalu."
"Kau tidak berpacaran sewaktu kuliah dulu? Masa tidak ada foto lain selain foto mabuk-mabukan?"
Senior dan rekan-rekan kerjanya terus mengatakan sesuatu yang aneh pada Baekhyun.
"Apa maksudnya sih?" Baekhyun bergumam seorang diri.
"Identitas pribadimu sudah tersebar." Ken, salah seorang rekan kerja yang duduk di seberangnya, berbisik padanya.
"Apa?"
Memangnya apa hebatnya aku ini? Baekhyun yang memiringkan kepalanya karena bingung tiba-tiba membelalakkan matanya. Jangan-angan, apa karena pernyataan itu? Baekhyun yang panik kemudian segera mengetikkan namanya di salah satu situs di internet. Benar saja. Berbagai artikel mengenai dirinya yang disertai dengan foto-foto lamanya, identitas lengkapnya, sampai berbagai julukan untuk dirinya sudah tersebar di dunia maya.
"Apa-apaan ini...!"
Rasa kalut seketika menyelimuti pikiran Baekhyun. Dengan sedikit kesadaran yang tersisa, ia membaca tulisan yang tertera di monitornya dan mengklik ke sana-kemari dengan cepat. Ternyata berbagai cerita mengenai dirinya. Yang bahkan tidak ia ingat, sudah tersebar di internet. Termasuk cerita ketika tahun pertama di universitas, saat ia dan teman-temannya pesta makkeolli[12] dan tidak sadarkan diri selama tiga puluh menit di lantai. Foto-foto yang hampir ia lupakan pun tersebar dimana-mana. Napas Baekhyun semakin tidak teratur dan matanya panas. Benar-benar penghinaan. Melalui penglihatannya yang semakin kabur, ia menemukan pertanyaan 'katanya ia berpacaran dengan seorang presenter juga?'.
"Memangnya kau pacaran dengan siapa? Dengan presenter yang sudah dua tahun kerja di sini itu?"
Salah satu seniornya yang telah bekerja selama tiga tahun di kantor itu dan kemarin baru datang dari pelatihan di luar negeri bertanya dengan nada sinis. Lalu senior yang lain yang berdiri di sebelahnya menjawab pertanyaan itu.
"Pantas kau tidak tahu, kau baru sampai kemarin sih. Coba kau sampai beberapa hari yang lalu."
"Beberapa hari yang lalu?"
"Iya, satu kantor stasiun TV ini heboh karena hal yang satu itu."
Senior yang menjawab pertanyaan itu melirik Baekhyun dengan tatapan prihatin. Baekhyun menggigit bibirnya. Tiba-tiba, senior yang telah bekerja selama lima tahun di kantor itu memanggilnya.
"Baekhyun Ssi, bisa bicara sebentar?"
Ia adalah senior yang membawakan program berita pukul sembilan pagi di akhir pekan, senior wanita yang terkenal sebagai orang yang mendisiplinkan presenter-presenter lainnya.
Mendengar perkataan senior wanita itu, kedua senior yang ada di hadapan Baekhyun hanya menatapnya dengan tatapan kasihan. Apa ini benar-benar kenyataan? Meskipun ia tidak bisa mencari jawabannya, yang pasti ini adalah mimpi buruk. Mimpi buruk yang benar-benar tidak ingin ia alami lagi.
.
Senior itu mengajak Baekhyun masuk ke ruang rapat.
Cklik.
Suara pintu yang dikunci itu terdengar seperti suara pintu peti mati yang ditutup, yang membuat seluruh badannya dingin.
"Kau telah merusak nama baik dan harga diri bagian presenter ini. Kau tahu? Bagaimana kau bisa dituduh sebagai ibu hamil di tengah siaran langsung seperti itu? Apalagi kau belum menikah. Dan apa benar itu hanya tuduhan belaka? Ibu hamil betulan saja tidak pernah membuat masalah seperti ini di tengah siaran langsung, bagaimana mungkin orang yang belum menikah bisa sampai salah paham dikira ibu hamil yang menyebabkan kecelakaan siaran seperti ini? Bila terkena flu saja, seorang reporter harus tetap terlihat prima dan menyembunyikan flunya itu! Sebenarnya apa yang telah kau perbuat sampai seorang dokter kandungan bisa menimbulkan kecelakaan fatal ini?"
Senior wanita itu berteriak dengan nada dingin yang menyeramkan. Seketika itu juga, air mata mengalir di pipi Baekhyun. Meskipun selama dua tahun ia tidak pernah mendapat program tetap, ia tidak pernah sampai dipermalukan seperti ini.
"Ini bukan salah dokter itu. Ini adalah kesalahanmu. Seratus persen."
Mendengar kata "seratus persen" dari seniornya itu, hatinya terasa seperti ditusuk-tusuk oleh pisau belati. Baekhyun yang menundukkan kepalanya dapat melihat jejak air matanya yang jatuh ke lantai di bawahnya. Ia benar-benar merasa menyedihkan. Tidak lama lagi, ujung sepatunya yang polos dan pola kerikil di lantai itu akan terlihat kabur di matanya. Genangan air mata telah memenuhi pelupuk matanya dan menutupi pandangannya.
"Dengan kata lain, masalah ada di perilakumu. Apalagi sampai kisah percintaanmu tersebar ke mana-mana seperti itu. Sebenarnya kau ini punya otak tidak sih, Baekhyun Ssi?"
Baekhyun tidak bisa menjawab apa-apa. Ia benar-benar malu pada dirinya sendiri sampai tidak bisa menyalahkan siapa pun.
"Kau tahu kan, akan sangat fatal akibatnya jika seorang presenter terlibat skandal? Sebaiknya kau introspeksi diri dan angan sampai menjatuhkan nama baik presenter. Mengerti?"
"...Iya."
Baekhyun sudah ingin menangis dan menjawab dengan susah payah. Melihat Baekhyun seperti itu, senior yang tadinya ingin mengatakan sesuatu terdiam sejenak dan menghela napas. Kemudian ia melanjutkan dengan suara berat,
"Kau mungkin merasa diperlakukan tidak adil, tapi kau tidak boleh larut dalam situasi ini. Kalau kau ingin tetap menjadi presenter, kau jangan menumpahkan perasaanmu saat ini di twitter atau jejaring sosial lainnya, dan jangan sampai terpancing oleh wartawan yang ingin mengorek tentang hal ini. Kalau kau melihat beberapa presenter yang hidupnya hancur karena skandal, kau pasti mengerti maksudku."
"Iya..."
Baekhyun tau seniornya itu mengkhawatirkannya. Namun ia juga sadar bahwa dirinya adalah junior yang memalukan. Seniornya itu kembali menghela napas dan menatap Baekhyun tanpa berkata apa-apa. Baekhyun tetap menundukkan kepalanya.
"Benar-benar menyebalkan..."
Akhirnya seniornya itu melontarkan ucapan terakhirnya dan pergi meninggalkan ruang rapat.
Brak! Kali ini, suara pintu yang tertutup rapat rasanya terdengar seperti suara peti mati yang dipaku rapat-rapat dari luar. Baekhyun ketakutan dan terdiam. Ia seolah jatuh terperosok ke bawah bangunan kantor itu. Hanya lantai tempatnya berpijak yang rasanya amblas dan jatuh. Akhirnya, Baekhyun menjatuhkan badannya dan duduk berlutut dengan lemas. Sesuatu yang sejak tadi mengganjal tenggorokannya seolah melesak keluar. Tangisannya terpecah bersamaan dengan air matanya. Ia menyandarkan kepalanya di pinggir meja dan berusaha untuk menahan tangisnya. Namun, suara tangisnya itu tetap melesak keluar dari sela-sela bibirnya yang tidak tertutup rapat.
Selama ini, Baekhyun tidak pernah sepayah dan sehina ini karena telah mengotori nama baik reporter, bahkan ketika ia menjadi reporter cadangan di beberapa acara. Oleh karena itu, sangat sulit dan menyakitkan bagi Baekhyun untuk menerima masalah ini. Memakai kostum-kostum yang konyol dan ditertawakan orang pun sepertinya lebih menyenangkan. Memakai bunga di kepalanya pun sepertinya bukan apa-apa[13]. Ia sudah merasa bahagia asalkan bisa beraksi di depan kamera. Namun, sepertinya dalam beberapa waktu ini, tidak akan ada pekerjaan untuknya. Tidak, mungkin setelah beberapa saat, pekerjaan ini akan hilang dari tangannya untuk selamanya. Merasa takut akan dibuang dari dunia penyiaran, Baekhyun memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar. Ia merasa malu karena terduduk dan menangis seperti ini, tapi sekeras apapun ia berusaha, air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Baekhyun akhirnya menelan tangisannya karena rasanya ia akan mati bila menangis terus seperti ini.
Setelah bersusah payah mengendalikan emosinya, Baekhyun akhirnya keluar dari ruang rapat dengan wajah tegang. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berkata,
"Berkat Baekhyun, semua orang penasaran ingin menonton lagi acara 'Berburu Informasi, LIVE' itu, sampai server situs jejaringnya eror. Ini baru pertama kalinya kan untuk acara ini?"
Orang yang tidak tahu bahwa Baekhyun ikut mendengarkan semua ucapannya itu menggelengkan kepala dan mendecakkan lidahnya. Setelah dipikir-pikir, ternyata hebat juga. Selama ia menjadi reporter, ia tidak pernah menjadi isu seperti ini. Namun karena hal ini, ia sampai membuat situs jejaring kantornya eror. Apa tayangan itu diputar dan terpampang di layar besar di pusat keramaian seperti Gang Nam. Itu saja? Program "Berburu Informasi, LIVE" ini adalah program yang paling sering diputar di rumah makan atau di tempat umum di depan stasiun. Belum lagi orang-orang yang menontonnya melalui smartphone mereka atau orang-orang yang menonton dengan nyaman di rumah. Termasuk ayah dan bibinya.
.
Cklek.
Baekhyun membuka pintu pagar rumahnya tanpa tenaga. Baru saja ia memasuki halaman rumah ketika bibinya tiba-tiba muncul di hadapannya dan memegang kepala Baekhyun.
"Benar-benar perempuan ini!"
Baekhyun yang terkejut berusaha untuk melarikan diri, namun tangan bibinya yang kuat karena sudah lebih dari tiga puluh tahun mencuci baju secara manual itu memegang erat kepala dan baju Baekhyun sehingga ia pun tidak bisa lari ke mana-mana.
"Lepaskan dan bicara baik-baik dengannya! Kita dengarkan penjelasannya dulu!"
Ayah Baekhyun yang juga tidak bisa mengalahkan kekuatan bibinya itu memohon kepadanya.
"Hentikan. Jangan sakiti anak gadisku."
Sampai neneknya yang sudah terkena gejala alzheimer[14] pun ikut menahan bibinya. Namun, tatapan mata bibinya seolah berkata tidak ada yang bisa menghalanginya.
"Mana laki-laki itu! Anak siapa itu yang ada di perutmu?!" Bibinya berteriak keras seakan-akan bisa memecahkan keramik yang ada di rumah itu.
"Sudah kubilang tidak! Dokter itu orang gila!"
Baekhyun akhirnya meluapkan emosinya yang sejak tadi ia tahan. Air matanya sudah habis ia tumpahkan di kantor, sehingga sekarang ia tidak bisa menangis lagi. Yang ada hanya rasa putus asa.
"Katanya dia adalah dokter kandungan! Bagaimana dia bisa mengenalimu kalau kau tidak pergi ke dokter kandungan? Hah? Sini kau, benar-benar membuat malu keluarga!"
"Ah, Bibi ini, keterlaluan!" Baekhyun berteriak sambil menghentakkan badannya. Barulah ayah Baekhyun memeluk bibinya itu dan menariknya menjaduh.
"Aku hanya mengantar Luhan saat itu! Dokter gila itu yang salah paham!" Baekhyun hampir gila rasanya.
"Anak gadis sepertimu kenapa ikut-ikutan pergi ke tempat itu? Pantas saja kau dikira ibu hamil! Sekarang mau bagaimana, kau sudah membuat keluarga kita malu!" Bibinya itu kembali berteriak semakin kencang.
"Berita ini kan tidak benar. Kenapa harus malu?" Ayah Baekhyun berkata sambil berdiri di antara Baekhyun dan adiknya.
Kemudian Bibi langsung menyahut dengan ketus, " Kau tidak tahu bagaimana gosip itu cepat menyebar? Kau pikir ada yang percaya kalau kau bilang gosip itu tidak benar? Orang-orang sudah bertanya padaku, 'hamil berapa bulan', 'siapa ayahnya'. Aku benar-benar malu!"
Mata bibinya terbelalak lebar. Benar juga ucapan Bibi. Meskipun ia bersikeras berkata bahwa ia tidak hamil, orang orang sudah terlanjur mengiranya hamil. Apalagi dengan perkembangan Internet seperti ini, gosip saja yang tersebar dengan cepat, tetapi kebenaran di balik gosip itu terkubur dalam-dalam.
"Kalau begitu, katakan saja kalau Bibi tidak mengenalku! Kalau Bibi malu, katakan saja kalau aku ini bukan keponakan Bibi! Mudah, kan!"
"Kau pikir bisa semudah itu, dasar perempuan gila!"
Bibi melayangkan pukulannya pada Baekhyun. Tiba-tiba, neneknya datang kehadapan Baekhyun dan menghalanginya sehingga pukulan bibinya itu mengenai mata neneknya.
"Aiguuu[15]!" Nenek berteriak memegangi matanya dan jatuh terduduk.
"Nenek!" Baekhyun yang terkejut segera menangkap tubuh neneknya.
"Ibu!" Ayah Baekhyun juga panik dan segera berlari menghampiri Nenek.
"Ibu, Ibu! Maafkan aku!"
Bibinya pun terkejut dan memukul-mukul tangannya sendiri sambil mendekat ke arah Nenek. Kemudian Nenek berkata dengan tenang sambil tetap memegangi matanya, "Tidak apa-apa. Nenek baik-baik saja. Sekarang jangan pukul anak gadisku ini lagi."
Mendengar perkataan Nenek, Bibi duduk di sebelah Nenek sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Aiguuu, Ibu. Padahal kita sudah susah payah membesarkan anak ini. Ya ampun!"
Bibi kemudian memeluk tubuh Nenek. Hati Baekhyun sakit melihat pemandangan ini. Sementara ayahnya hanya mendecakkan lidah dengan wajah sedih dan kesal.
"Dulu aku yang membersihkan kalau dia buang air dan menyuapinya, tapi sekarang dia malah balik membentakku, anak itu. Hidupku benar-benar menyedihkan!"
Mendengar ucapan bibinya itu, Baekhyun seketika merasa dirinya menua sepuluh tahun lebih cepat. Tadinya ia ingin cepat sukses dan membuat keluarganya hidup dengan nyaman. Namun kenyataannya, gara-gara dokter gila itu, kini ia seolah terkena badai yang tiba-tiba datang ke dalam hidupnya.
"Jangan khawatir, jangan khawatir."
Nenek yang sudah pikun itu mengelus-elus anak perempuannya yang menangis tersedu-sedu. Melihat hal itu, hati Baekhyun semakin pedih.
"Kau mulai besok, batas jam malammu adalah jam sembilan malam!"
Bibinya yang sedang menangis itu tiba-tiba membelalakkan matanya menatap Baekhyun dan berteriak padanya.
"Benar-benar gila. Kalau ada jadwal syuting bagaimana?" Baekhyun menyahut dengan tidak kalah ketus.
"Bisa saja itu hanya alasanmu untuk berbuat macam-macam di luar sana, kan? Kalau ada jadwal, bawa surat perintah kerja dari atasanmu!"
Gila, gila. Masa ia harus meminta surat perintah kerja pada atasan yang selalu menyuruhnya membuat surat permintaan maaf? Prestasi kerjanya selama ini saja buruk, bisa-bisa ia langsung disuruh mengundurkan diri dari kantor.
"Sekarang aku tanya, siapa yang paling diperlakukan tidak adil di sini?"
Kali ini Baekhyun memukul-mukul dadanya sendiri. Melihat Baekhyun seperti itu, bibinya semakin kesal dan berteriak padanya, "Anak ini masih belum sadar juga rupanya! Pergi kau, bawa ayah dari bayi itu ke hadapanku!"
"Ah, benar-benar! Aku harus berbuat apa lagi untuk membuktikan ucapanku ini?!"
Pantas saja perempuan-perempuan yang gila biasanya meninggalkan rumah dengan rambut kusut. Dasar dokter kandungan gila! Awas kau ya!
-TBC-
Keterangan;
[8]Omonaa = kata seruan, sepadan dengan 'wow, wah'.
[9]Omo = ungkapan rasa terkejut, seperti 'aduh'.
[10]Ya = kata seruan
[11]Mini Hompy = situs jejaring sosial di Korea, disebut cyworld atau mini hompy (singkatan dari mini homepage).
[12]Makkeolli = minuman beralkohol khas korea yang terbuat dari beras.
[13]Di Korea, memakai bunga di kepala akan dianggap sebagai orang gila.
[14]Alzheimer = suatu gangguan otak atau demensia (pikun) yang menahun, terus berlanjut, dan tidak dapat kembali seperti semula lagi.
[15]Aiguu = ungkapan penyesalan atau komplain.
