Hah?
.
"Lee Jihoon, menikahlah denganku"
Aku mengatakannya dengan mantap. Menatap Jihoon yang beraut datar dan bibir yang terkatup rapat. Sial, aku sudah degeun-degeun dari tadi tapi si mungil tidak menjawab bahkan menyahut.
...atau aku ditolak?
Tidak tidak! Bagaimana mungkin ada seseorang yang menolak Kwon Soonyoung– eh kecuali itu Lee Jihoon. Ingat bagaimana aku mengejarnya mati-matian tapi di tolak mentah-mentah olehnya. Kita sudah menjalin hubungan selama tiga tahun tujuh bulan duapuluhdua hari dan Jihoon tidak mungkin menolakku begitu saja. Aku yakin sekali.
Tapi keyakinanku pergi seiring Lee Jihoon berbalik dan pergi dari hadapanku begitu saja. Tanpa sepatah kata.
Hatiku hancur.
.
.
Malam harinya aku tidak bisa tidur. Mataku tidak bisa tertutup, hanya menatap langit-langit kamar yang rasanya membosankan. Aku sudah mencoba menghitung domba. (Bahkan sampai tujuhpuluhsembilan) tapi tidak ada rasa kantuk sedikitpun.
Ah sial Lee Jihoon membuatku gila.
Tepat pukul satu dinihari ponselku berkedip, aku terduduk lalu langsung mengangkatnya panggilan tanpa melihat layar.
"Ha–"
"Aku hanya ingin punya satu anak"
Loh?
"Kalau bisa secepatnya, aku tidak suka berlama-lama"
"E-eh?" Dia ngomong apa sih?
"Oh iya sudah disiapkan di Hotel Bintang Lima"
"O-oh iya Hote–"
"Aku mau punya rumah yang ada studionya"
Tunggu, sebenarnya ada apa sih?
Aku masih berusaha mencerna sampai tiba-tiba aku sudah berdiri di depan altar.
Berdiri didepan altar. Eh lalu aku harus apa? Aku menatap sekeliling, orang-orang menatapku aneh. Mingyu, Woonwoo, Junghan dan sohib-sohibku memberikode. Tapi aku tidak mengerti.
"Apa pemuda itu tidak mau menikah?"
Pemuda itu?
"Soonyoung hyung tidak mau menikah?"
Kwon Soonyoung?
"Soonyoungiee~ Cepat berjalan dan hampiri Jihoon!"
Lee Jihoon?
"Astaga! Resepsi pernikahan ini hampir batal!"
Pernikahan?
Oh iya aku ingat, Kwon Soonyoung dan Lee Jihoon akan menkah hari ini. Ah bahagianya mereka.
Eh-
Sebentar
HAH?!
.
.
END
Note: Aku gatau nulis apa ahahahhaha. Ini hanya kegilaan sementara-
