ORANG GILA DAN PENGARUHNYA DI DUNIA INI.
.
Takdir dapat mengetuk pintu dengan kuat,
Atau dengan lembut. Tergantung dari
Terbuat dari apakah pintu itu
-Mary von Ebner-
.
[CHAPTER 3A]
Larut malam, Baekhyun duduk di kursi di depan sebuah convenient store. Luhan yang hanya memakai sandal jepit duduk di hadapannya dan meletakkan bir, cumi kering, dan jus di meja mereka.
Ckrek.
"Minum."
Luhan menyodorkan kaleng bir yang sudah ia buka. Baekhyun mengucapkan "thank you" dengan lemas dan segera menenggak bir itu. Trak! Baekhyun lalu meletakkan kaleng birnya di atas meja dan menyeka mulutnya. Hatinya sedikit lebih lega setelah meminum bir itu dan semangatnya mulai muncul.
"Masa di usiaku ini, aku punya jam malam? Dasar dokter gila, lihat saja, akan kuhancurkan!"
Baekhyun menggenggam cumi kering yang sudah disobek tipis-tipis dan disusun di atas meja oleh Luhan dengan tangan bergetar.
"Seharusnya aku juga melihat tayangan itu. Sayang sekali, kemarin aku ada deadline. Bisa lihat di YouTube, tidak?"
Luhan kembali menyobek-nyobek cumi kering dan meletakkannya di atas meja sambil merasa menyesal karena tidak melihat tayangan acara itu.
"Kalau kau download, beritahu aku ya. Aku juga ingin mengoleksinya." Baekhyun berkata dengan lemas karena sudah berteriak-teriak seharian.
"Jadi, sekarang kau sudah mulai tidak peduli lagi? Tidak peduli apa kata orang? Mau mengoleksi juga?"
"Masih banyak jalan yang harus kulewati di hidupku ini. Fokusku adalah apa yang ada di hadapanku saat ini, sementara hal-hal yang lainnya rasanya ingin kubuang jauh-jauh saja ke luar angkasa. Fiuh..."
Baekhyun mendadak merasa menua. Ia menggigit cumi keringnya dengan susah payah. Kemudian, seolah terlintas di pikirannya, ia menatap Luhan lalu menatap perut Luhan.
"Anak itu, bisa saja menjadi anak yang sangat tidak sabaran. Atau anak yang mudah emosi."
Ia berkata secara tidak langsung bahwa dokter gila itu mungkin saja salah satu dokter yang menjadi donor sperma atas anak yang dikandung Luhan saat ini.
"Kenapa? Kau sekarang punya kekuatan sakti, ya? Bisa melihat hal-hal seperti itu?"
Luhan mengelus perutnya dan mendekat pada Baekhyun dengan mata bersinar-sinar.
"Iya, iya, kelihatan semuanya."
Baekhyun yang merasa lelah fisik dan mental menghela napas lalu perlahan memejamkan matanya. Seketika itu juga, Luhan menggenggam tangannya erat-erat dan bertanya, "Anak laki-laki atau perempuan?"
Hah, apa-apaan wanita ini. Baekhyun tak mengacuhkan pertanyaan itu. Ia baru saja hendak menghela napasnya ketika tiba-tiba seseorang datang dan mengambil bir yang ada di hadapannya.
"Nuna[16]! Ibu hamil kan tidak boleh minum bir!"
Ternyata yang datang adalah BamBam, junior adiknya, Taehyung, di SMA dulu. Baekhyun mengerutkan keningnya dan mendongak menatap Taehyung. Kebetulan aku sedang kesal, apa kupukul saja anak ini? Tetapi, malas juga rasanya melakukan hal itu.
"Kau sudah lihat? Memangnya kau tidak belajar saat itu? Tidak mungkin kan sekolah memutar acara itu saat jam pelajaran sekolah."
Baekhyun semakin memerosotkan dirinya di sandaran kursinya dan menatap BamBam. BamBam hanya menghela napas panjang.
"Kurikulum pendidikan di Korea ini sepertinya belum cukup untuk memuaskan rasa ingin tahuku. Aku masih lapar dengan ilmu-ilmu yang lain, Nuna."
Dari mana anak ini mendengar ucapan seperti itu. Bambam mengelus-elus perutnya dan menatap Baekhyun dengan tatapan anak kecil yang kelaparan. Kemudian ia meminum bir milik Baekhyun.
Anak ini benar-benar tidak sopan ya."
Baekhyun akhirnya memukul kepala BamBam dan merebut kaleng birnya kembali.
"Sebaiknya kau belajar yang benar di sekolah. Setiak melihatmu, aku hawatir dengan masa depan Korea nanti. Membayangkannya saja membuatku pusing seperti habis memakai kacamata 3D!"
Baekhyun mengangkat tangannya dan menatap BamBam tajam.
"Penasihat psikologisku, Taehyung Hyungnim[17] saja, persentase kehadirannya hanya tiga puluh persen selama tiga tahun sekolah. Jadi aku juga..."
BamBam meletakkan tangannya di dada dan menatap ke langit. Lalu, ia mendapat satu pukulan lagi dari Baekhyun..
"Benar. Makanya dia juga menerima pukulanku, seratus kali lebih banyak daripada kau. Kau juga mau? Mau dipukul sekaligus atau dicicil? Tapi cicilannya tidak boleh lebih dari sepuluh hari ya."
"Aduh, Nuna ini..."
BamBam memegangi kepalanya yang terkena pukul dengan wajah yang hampir menangis. Apa ia memukulnya terlalu keras dengan segala emosinya hari ini? Biarlah, anak ini memang pantas dipukul.
"Cepat kau buat daftar nama anak-anak yang hidupnya hancur dan malas-malasan karena anak itu dan berikan padaku. Aku akan mencari mereka satu per satu dan memberitahu bagaimana nasib panutan mereka itu sekarang secara langsung."
Baekhyun khawatir masa depan BamBam akan hancur seperti adiknya. Itu berarti tanggung jawab ada pada Taehyung, dan itu artinya, dirinya sebagai kakak juga ikut bertanggung jawab. Sekarang anak itu pasti sedang keluyuran tanpa tujuan di suatu tempat. Benar-benar anak yang menyusahkan.
Baekhyun meminum kembali bir yang ia rebut kembali dari BamBam. BamBam segera merebut kembali kaleng bir itu.
"Duh, Nuna! Sudah kubilang kan tidak boleh minum bir! Pokoknya aku akan ikut menjaga bayi inii."
Sesaat Baekhyun merasa terharu meskipun anak ini bukanlah siapa-siapa dan ia pun tidak hamil.
"Memangnya kau ini siapa?"
Luhan, yang sejak tadi hanya mengawasi mereka, bertanya dengan wajah tertarik dan ingin tahu. Taehyung kemudian menatap ke langit, meluruskan tangannya membentuk angka sebelas dan berkata,
"Aku ini adalah penjaga yang akan menjaga sang Ibu Hamil Nasional, Baekhyun Nuna!"
"Pmff! Ibu Hamil Nasional? Huahaha!"
Luhan tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Kemudian BanBan menatap Baekhyun masih dengan gaya Ultraman-nya.
"Kau tidak tahu? Sudah tersebar di Internet, lho."
"Apa? Kurang ajar!"
Baekhyun segera berdiri dari kursinya. Saat itu juga, ia mendapat telepon dari kantornya.
"Kau benar-benar tidak akan mengklarifikasi hal ini? Katanya kau tidak hamil!"
Baekhyun yang tadinya ingin marah-marah langsung terdiam mendengar perkataan salah satu karyawan kantornya.
"Kau tahu kan, tidak mudah mengklarifikasi hal ini karena berkaitan dengan dokter kandungan."
Apa-apaan lagi ini, setelah surat permohonan maaf, sekarang ia harus menyerahkan bukti tertulis juga bahwa ia tidak hamil? Rasanya orang-orang itu semua harus terus mengawasinya selama sepuluh bulan ke depan agar tahu fakta yang sebenarnya.
"Pokoknya aku akan membuktikan bahwa aku ini masih tidak hamil!"
Baekhyun menutup telepon itu dan napasnya terengah-engah karena emosi. Lihat saja, sepuluh bulan lagi atau satu tahun lagi. Tidak akan ada bayi atau apa pun yang ia lahirkan! Keterlaluan!
.
Chanyeol baru saja selesai memeriksa pasien-pasiennya dan keluar dari kamar rawat ketika seorang siswi SMP menyodorkan selembar kertas padanya. Ia terkejut dan menatap anak itu dengan bingung.
"Tolong tanda tangan di sini."
"Apa?"
Beberapa dokter dan Suster Lee yang ada di belakangnya diam-diam tertawa.
"Aku melihat Dokter di TV. Keren sekali."
Siswi SMP itu memandang dengan tatapan kagum dan memberikan jempolnya. Barulah Chanyeol teringat dengan kejadian kemarin. Sepertinya ia tidak melakukan hal-hal yang hebat.
"Dokter sudah menjadi 'Dokter Nasional'."
Chanyeol akhirnya memberikan tanda tangannya pada siswi SMP itu dan melangkahkan kakinya. Tiba-tiba Suster Lee berbisik padanya, "Dokter Nasional? Setelah ada 'Atlet Nasional', 'MC Nasional', sekarang ada 'Dokter Nasional'?"
.
Bagaimana orang-orang bisa tahu tempat kerjaku hanya dengan melihat wajahku sekilas di TV, ya? Semua penduduk Korea ini memang seperti detektif, ya. Hebat."
Sehun yang ia temui di teras bertepuk tangan dengan kagum.
"Hebat. Mengingatkan seorang reporter yang sedang syuting acara siaran langsung, mengesankan. Benar-benar jenius! Hebat!"
Dokter-dokter yang berpapasan dengannya juga memberinya tepuk tangan.
"Kau sebenarnya hanya bercanda dengan wanita itu, kan? Lalu kau pergi meninggalkannya bergitu saja."
Chanyeol tersenyum pahit. Kalau sudah urusan bayi, ia memang selalu bertindak cepat seperti ini, tanpa memikirkan bagaimana akibatnya nanti. Kini ia merasa tidak tenang karena sepertinya dialah yang menyebabkan acara siaran langsung itu kacau.
"Bagaimana dengan si Ibu Hamil Nasional itu ya?" Sehun bergumam penasaran sambil melontarkan istilah yang terdengar asing itu.
"Ibu Hamil Nasional?"
"Iya, kalau ada Dokter Nasional, berarti pasiennya adalah Ibu Hamil Nasional, kan?"
"Tapi dia bukan pasienku..."
Aneh rasanya. Chanyeol baru sadar. Saat itu, reporter itu bersikeras mengatakan bahwa ia tidak hamil, berarti bisa saja kalau reporter itu belum menikah. Apa tidak apa-apa jika dia dipanggil 'Ibu Hamil Nasional'?
"Sepertinya identitas pribadi wanita itu sudah tersebar sekarang."
"Oh ya?"
Zaman sekarang, banyak orang yang kondisinya semakin memburuk jika terlibat situasi seperti ini. Chanyeol mulai khawatir, jangan-jangan sebutan ini juga akan merugikan wanita itu.
"Aku sudah tahu kau akan membuat masalah karena sifatmu yang tidak sabaran itu. Sikapmu saat itu memang benar-benar berlebihan." Sehun berkata dengan terus terang pada Chanyeol. Benar juga... Apa sifatnya yang tidak sabaran itu termasuk salah satu penyakit? Ia sering kali marah-marah pada pasien yang ia anggap keterlaluan. Apakah pada akhirnya ia malah menghancurkan hidup pasiennya itu? Namun bagaimana caranya mengubah sikap yang tidak sabaran ini? Chanyeol memandang ke arah gunung jauh di hadapannya dan menghela napas. Saat itu, Suster Lee melongokkan kepalanya ke teras dan memanggil Chanyeol.
"Dokter Park!"
Chanyeol segera menoleh ke arah perawat itu.
"Kepala rumah sakit ingin bertemu dengan Anda."
"Menemuiku?"
Chanyeol terkejut dan bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Perawat itu mengangguk. Sepertinya ia tidak ada urusan dengan kepala rumah sakit. Chanyeol panik dan menoleh ke arah Sehun yang membuat gerakan memotong lehernya sendiri dengan wajah cemas. Mana mungkin...
.
Chanyeol mengetuk pintu ruangan kepala rumah sakit dan terdengar jawaban "Ya" dari dalam ruangan itu. Chanyeol membuka pintu itu dengan gugup. Kemudian, beberapa anggota komite rumah sakit yang duduk di ruangan itu langsung memandang ke arahnya. Chanyeol membungkuk sembilan puluh derajat untuk memberi salam kepada mereka dan semakin tegang. Ia menarik napas panjang.
"Duduk."
Kepala rumah sakit itu menunjuk ke arah tempat duduk Chanyeol. Chanyeol duduk di tempat yang sudah ditentukan itu dengan hati-hati. Ini bukan pertemuan untuk membahas masalah etika kedokteran atau sejenisnya, kan? Chanyeol duduk dengan wajah gugup dan sekilas melirik ke arah anggota komite yang lain. Mereka memandang wajah Chanyeol dengan wajah puas. Sepertinya bukan sesuatu yang buruk.
"Kemarin kami melihat aksi beranimu di TV."
Aksi berani? Ah, masalah itu? Chanyeol merasa semakin panik.
"Saya mohon maaf apabila mencemarkan nama rumah sakit..."
"Tidak. Justru citra bagian spesialis kandungan di rumah sakit ini jadi semakin membaik berkat kau. Rasanya aku ingin ikut memajang nama rumah sakit di samping wajahmu. Hahaha."
Kepala rumah sakit itu tersenyum puas.
"Ya?"
"Banyak orang yang mengenali wajahmu dan memuji-mujimu. Katanya kau ini adalah dokter yang memperhatikan setiap pasiennya sampai ke hal-hal sepele seperti itu. Meskipun semua dokter di bidang lain pun bersikap begitu, namun karena kau dokter kandungan, jadi kesannya lebih mendalam."
"Ah, begitu rupanya."
Chanyeol masih tetap panik.
"Bahkan reputasi dokter kandungan juga ikut membaik. Oleh karena itu, kesempatan yang tadinya akan diberikan ke bagian spesialis bedah, sekarang akan diberikan ke bagian spesialis kandungan."
Chanyeol sekilas dapat melihat wajah ketua dokter spesialis bedah yang terlihat tidak senang. Ada apa lagi ini? Selama ini Chanyeol selalu berhati-hati agar jangan sampai orang lain memperlakukannya secara khusus karena ibunya adalah direktur yayasan ini. Namun, sekarang malah ada satu rencana yang sampai berubah hanya karena dirinya dan ia tidak suka dengan hal ini.
"Beberapa waktu yang lalu, ada tawaran dari stasiun TV untuk membuat acara dokumenter kedokteran. Tadinya akan kita fokuskan ke bagian spesialis bedah, sekalian untuk mempromosikan rumah sakit ini. Kau juga pernah lihat, kan? Semacam serial drama kedokteran seperti itu."
"Ya."
"Sekarang kita akan memfokuskan pada bagian spesialis kandungan. Dokter kepala di bagian kandungan dan kau sebagai dokter muda yang memegang peranan utama. Mohon kerja samanya."
Kepala rumah sakit itu memandang Chanyeol dengan penuh rasa percaya.
"Bagaimana saya bisa melakukan..."
Ketua dokter spesialis kandungan itu melanjutkan ucapan Chanyeol yang terdiam dan bingung.
"Daripada dokter tua seperti kami yang memegang peranan utama, lebih baik dokter muda seperti kau yang memegang peranan utama tersebut. Lagi pula, pasti akan lebih enak dilihat. Kalau ada masalah atau sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, langsung katakan saja. Aku akan selalu berdiskusi dengan kepala rumah sakit dan membantumu menghasilkan suatu karya yang hebat."
Keinginan ketua dokter spesialis kandungan itu terlihat berapi-api. Sepertinya ia senang sekali karena ada kesempatan yang tadinya akan diberikan ke bagian bedah kini jatuh ke tangannya.
"Tapi saya tidak pernah melakukan hal seperti itu..."
Meskipun ini semua karena acara siaran langsung itu, ia masih merasa ada pengaruh ibunya dalam masalah ini. Ia mulai curiga jangan-jangan ibunya sudah merencanakan ini semua sejak kemarin.
"Memang siapa yang sudah pernah mencobanya? Orang dari stasiun TV akan datang membantumu, kau cukup berdiskusi dengan mereka sambil tetap menjalankan proyek ini. Bagaimana, kau bisa, kan?"
Kepala rumah sakit itu tertawa senang. Chanyeol terlihat ragu. Bukankah sebaiknya ia menolak tawaran ini?
"Jangan menolak kesempatan ini. Kalau kau menolak, proyek ini terpaksa dialihkan ke bagian lain."
Kepala rumah sakit itu berkata dengan tegas, seolah bisa membaca pikiran Chanyeol. Kemudian, dokter kepala bagian kandungan memberinya tatapan penuh makna, tatapan yang menyuruhnya untuk segera menerima tawaran itu. Chanyeol yang panik hanya menundukkan kepalanya.
"Ba, baiklah. Saya akan melakukannya."
"Bagus. Aku benar-benar percaya padamu."
Kepala rumah sakit itu menepuk-nepuk pundak Chanyeol dengan wajah puas. Sementara dokter kepala bagian kandungan menatapnya dengan bangga.
.
Chanyeol yang keluar dari ruangan kepala rumah sakit berjalan beriringan dengan ketua dokter spesialis kandungan ke arah ruangan dokter itu.
"Ini benar-benar kesempatan yang bagus. Kalau peminat bagian kandungan rumah sakit ini semakin banyak, maka gedung yang baru dibangun itu nanti bisa dipakai oleh bagian kita ini."
Itu artinya Chanyeol harus bersungguh-sungguh dalam proyek ini.
"Tadinya aku sudah kecewa karena proyek ini, gedung baru, dan sepertinya semuanya diberikan kepada bagian bedah. Tapi syukurlah, berkat kau, kita bisa mendapat kesempatan ini."
Dokter itu ikut menepuk-nepuk pundak Chanyeol seperti kepala rumah sakit tadi. Ia tidak menyangka kecelakaan di siaran langsung itu malah membuatnya dipuja-puja seperti ini. Kemudian, ia terngingat dengan reporter yang identitas pribadinya itu sudah tersebar. Bagaimana dengan wanita itu ya? Yang pasti dia tidak akan mendapat keuntungan seperti ini.
"Semoga acara dokumenter ini sukses dan kita nanti bisa pindah ke gedung baru."
Dokter itu tersenyum bangga pada Chanyeol dan masuk ke ruangannya. Chanyeol menatap pintu ruangan yang tertutup itu dan semakin tidak tahu harus berbuat apa. Baginya, kejadian kemarin sudah cukup untuk memberinya pengalaman 'masuk TV'.
Selama ini ia hidup dengan bendera 'anak dari ketua yayasan' di atas kepalanya dan ia paling tidak suka apabila tatapan orang-orang tertuju padanya karena hal ini. Ia ingin dilihat oleh orang lain karena kemampuannya. Namun sepertinya, penilaian orang terhadap dirinya tetap dipengaruhi oleh pandangan bahwa ia adalah anak ketua yayasan rumah sakit itu. Itulah sebabnya ia ingin mendapat penilaian sama seperti orang-orang yang lain. Itu saja. Namun, sekarang ia malah diminta tampil di sebuah acara dokumenter. Benar-benar jauh dari keinginannya.
.
Baekhyun terlambat pergi ke kantor. Ia berlari tergesa-gesa menuju halte bus. Ketika ia hampir sampai di halte bus itu, terlihat bus yang harus ia naiki hampir berangkat meninggalkan halte.
"Tunggu! Bus!" Baekhyun berlari sekuat tenaga dan berteriak ke arah bus itu. Ia mengetuk-ngetuk pintu bus yang sudah setengah jalan itu sampai bus itu berhenti dan pintunya terbuka kembali.
"Terima kasih!" Baekhyun berkata kepada sopir bus itu dengan napas tersengal-sengal dan menyeruak ke dalam bus yang cukup penuh itu.
"Permisi, maaf. Saya mau lewat sebentar."
Baekhyun meminta maaf ke kanan-kirinya da berjalan di antara orang-orang yang berdiri di bus itu. Orang-orang di bus itu sekilas melirik ke arah Baekhyun. Kemudian, salah seorang mahasiswa yang sedang asyik tertawa sambil menatap smartphone-nya sekilas menoleh pada Baekhyun dan menatap smartphone-nya lagi. Kemudian ia terkejut dan segera berdiri dari duduknya.
"Silahkan duduk di sini." Mahasiswa itu buru-buru memberikan tempat duduknya pada Baekhyun.
"Ya? Ah, tidak apa-apa. Terimakasih."
Rasanya ia masih terlalu muda untuk diberi tempat duduk seperti itu, pikir Baekhyun. Kemudian mahasiswa itu kembali mengecek smartphone -nya dan kembali berkata dengan sopan pada Baekhyun.
"Tidak apa-apa. Anda kan sedang kurang enak badan juga, silahkan duduk."
"Ya?" Baekhyun menatap mahasiswa itu dengan bingung, sementara mahasiswa itu memaksa Baekhyun untuk duduk.
"Barusan aku lihat di Internet. Si Ibu Hamil Nasional, benar, kan?"
"Apa?"
Sial! Baekhyun baru saja hendak berkata "tidak" tapi orang-orang di sekelilingnya sudah mulai berbisik-bisik dan memandanginya.
"Wah, benar."
"Iya, aku juga lihat kemarin."
"Dia makan segala macam, padahal sedang hamil. Mungkin sedang ngidam, ya."
"Kelihatannya sih biasa saja, tapi coba dong belajar sedikit. Ckckck."
"Meskipun begitu, harusnya dia tahu kan kalau ibu hamil itu tidak boleh minum alkohol?"
"Bukan salahnya juga sih kalau dia tidak tahu."
"Kalau perutnya seperti itu, sudah berapa bulan, ya?"
"Hm, tiga bulan?"
Tiba-tiba tatapan orang-orang tertuju pada perutnya. Baekhyun sangat kesal dan marah sampai ia tidak bisa berkata apa-apa. Seenaknya saja melihat perut orang seperti itu... Lalu ia tidak sengaja bertatapan dengan seorang tua yang menatapnya tajam.
"Ikan fugu dan kacang merah itu tidak baik. Apalagi alkohol!"
Orang tua itu mengangkat jari telunjuknya dan menggoyang-goyangkannya di depan Baekhyun. Meskipun ia merasa bersalah pada orang tua itu, tetapi sepertinya sudah saatnya ia mati. Bukannya orang tua itu, melainkan dirinya sendiri. Baekhyun yang dipermalukan banyak orang di dalam bus itu tidak bisa berkata apa-apa dan ia hanya bisa mengalihkan pandangannya ke luar jendela sambil memeluk tasnya. Kemudian ia bertatapan dengan mahasiswa yang tadinya memberikan tempat duduk padanya. Ia sedang memandang ke arah Baekhyun dengan wajah ramah. Baekhyun tersenyum kaku pada mahasiswa itu dan kembali menyandarkan kepalanya ke jendela bus itu.
Baekhyun akhirnya tiba di kantor setelah diperlakukan seperti ibu hamil di sepanjang perjalanan. Disambut dengan tatapan dingin dari rekan kerjanya, ia duduk di mejanya dan menyalakan komputernya.
Ibu Hamil Nasional. Biar kami yang menjaga anak itu. Seluruh Korea menjadi penjaga wanita itu.
Di bawah artikel itu, terpampang foto orang-orang mulai dari usia SD sampai setengah baya dengan berbagai pose pahlawan. Ada juga foto orang yang bahkan sampai memakai kostum warna warni seperti pahlawan yang berpose di depan patung ibu sebagai lambang kesuburan.
Baekhyun menggigit-gigit jarinya dengan kesal sambil memperhatikan layar komputernya. Akhirnya, ia menemukan foto wajah dokter gila dari cuplikan acaranya itu da menusuk-nusuk foto itu dengan ujung pensilnya. Tiba-tiba terdengar suara ketua bagian reporter memanggilnya.
"Hai! Sang Ibu Hamil Nasional!"
"Ya!" Baekhyun langsung berdiri dan menjawab karena terkejut.
"Huahaha!"
Seketika itu juga, satu ruangan itu dipernuh dengan gelak tawa rekan-rekannya. Lagi-lagi dipermalukan seperti ini. Ketua reporter yang menatapnya dengan prihatin memberikan isyarat dengan tangannya.
"Ke ruanganku sekarang."
"Baik."
Baekhyun yang sudah siap mati, berjalan ke arah ruangan atasannya itu."
"Kau pindah dulu ke kantor cabang, ya?"
"Apa?"
Akhirnya, apa ini artinya ia dipecat? Baekhyun menunduk karena tidak berani menatap mata atasannya. Atasannya terlihat benar-benar menyeramkan saat itu.
"Kalau kantor cabang, di..."
"Bukankah tempatnya tidak terlalu penting?"
Baekhyun semakin takut dan gugup, apalagi karena ia tidak pernah melihat atasannya semenyeramkan ini sebelumnya.
"Kau telah merusak nama baik kita sebagai presenter. Kau tahu itu, kan?"
Ucapan yang sama terulang kembali. Kalau ini dianggap sebagai kesalahannya, sebenarnya ia hanya pergi ke dokter kandungan bersama Luhan. Apa itu termasuk suatu kesalahan yang benar-benar tidak termaafkan? Seandainya ada gendang shinmun-go[18] rasanya ia ingin membunyikan gendang itu berkali-kali, bahkan rasanya ia ingin membenturkan dirinya sendiri ke gendang itu.
"Kalau ada kantor cabang tertentu yang kau inginkan pun, aku tidak berniat mengirimmu ke sana, jadi sekarang cepat kemasi barang-barangmu. Kau masih beruntung karena masalah ini juga tidak sepenuhnya disebabkan oleh dirimu sendiri, jadi kita tuntaskan urusan ini sampai di sini saja. Hati-hati, jangan sampai kau membawa masalah lagi di sana."
Rupanya ia akhirnya tersingkirkan seperti ini. Baekhyun sadar bahwa meskipun mudah baginya untuk turun, tetapi sangat susah baginya untuk naik dalam dunia kerjanya ini dan hal ini membuat dadanya sesak. Apalagi selama ini ia belum menunjukkan kemampuannya yang maksimal. Tanpa sadar, hidungnya memerah karena dilanda rasa sedih yang luar biasa. Ia menegarkan tatapan matanya untuk menahan tangis yang rasanya hampir keluar dari matanya. Ini semua gara-gara dokter gila itu.
.
Begitu selesai praktik, Chanyeol iseng menyalakan Internet. Ia tidak pernah iseng-iseng membuka artikel gosip di Internet sebelumnya, sehingga saat melihat tulisan-tulisan itu, ia tidak tahu apakah semua itu berita betulan atau hanya omong kosong belaka.
Si Ibu Hamil Nasional yang merusak citra baik reporter.
Ibu Hamil Nasional 'menggali' status reporter. Mau digali sampai mana? Lalu apa yang didapat? Rasa malu?
Saya juga ibu hamil. Kenapa malu untuk mengakuinya?
Bahkan ada artikel yang memastikan kalau nama wanita itu adalah Baekhyun. Banyak juga tanggapan dari masyarakat mengenai hal ini. Entah apa karena wajah mereka tidak terlihat, mereka berani mengungkapkan pendapat mereka dengan lebih bebas dan blakblakan. Sampai ada video dan foto tentang pahlawan pelindung ibu hamil nasional itu. Bahkan ada foto sekelompok laku-laki yang memakai kostum dokter dan bergaya seperti tokoh animasi Gatchaman. Chanyeol tertawa melihatnya. Kemudian ia membaca sebuah artikel.
Ibu Hamil Nasional, si mesin pembuat surat permohonan maaf. Tugasnya di kantor saat ini adalah menulis surat permohonan maaf. Beberapa waktu yang lalu, ia juga disuruh menulis surat permohonan maaf karena memaki-maki mantan pacarnya melalui situs jejaring kantor, dan sekarang...
Hah? Jadi dia wanita seperti itu? Ternyata ada reporter yang sikapnya seperti ini? Tadinya ia merasa bersalah pada wanita itu, tetapi setelah mengetahui bahwa sikap dan pandanganan orang-orang tentang wanita itu juga tidak terlalu baik, rasa bersalahnya langsung berkurang setengahnya. Seandainya saja masalah ini tidak melibatkan dirinya, mungkin ia bisa dengan mudah melupakan wanita itu. Namun, sebagai tipe orang yang tidak bisa tidur tenang apabila berbuat salah atau merugikan orang lain, Chanyeol tetap teringat akan wanita itu dan hatinya tidak tenang. Apa boleh buat, ini memang kesalahannya. Padahal, sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal ini pada satu pun pasiennya. Bagaimana ini?
Saat jam pulang kantor, Chanyeol keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai. Ia berjalan menuju tempat parkir dan melihat Tao berjalan di depannya. Merasa senang melihat Tao, ia segera berlari menghampirinya dan berjalan di sampingnya. Tao sempat terkejut, namun kemudian tertawa setelah mengetahui bahwa Chanyeol yang datang menghampirinya.
"Katanya acara dokumenter itu mau dibuat di bagian kita ya?" Tao bertanya dengan penuh rasa ingin tahu. Namun, Chanyeol tidak terlalu gembira mendengar pertanyaan itu. Ia membayangkan sesibuk apa dirinya nanti, mengurus setiap pasiennya saja sudah membuatnya pusing, kini seolah beban tugasnya bertambah satu. Belum lagi masalah reporter itu...
"Katanya begitu. Tapi menurutku, proyek ini hanya akan mengganggu aktivitas di rumah sakit saja," suaranya benar-benar terdengar kesal.
"Bukankah kau yang mendapat spotlight, setelah ketua dokter kita?"
"Spotlight apanya. Mereka hanya ingin menjual wajahku saja, makanya disuruh banyak muncul di depan kamera."
"Meskipun begitu, kau harus sungguh-sungguh di proyek ini. Sebentar lagi ketua dokter itu akan naik pangkat, mungkin saja dia sudah berencana menunjukmu untuk menggantikan dirinya."
Ternyata benar, otak wanita itu memang bekerja lebih cepat.
"Begitukah?"
Chanyeol menggigit bibirnya. Kemudian ia mengernyitkan keningnya.
"Entahlah. Aku hanya ingin serius menjalankan tugasku."
Yang penting adalah kemampuanku. Aku tidak terlalu menginginkan jabatan atau apa pun itu.
"Itu sebabnya dia senang denganmu."
Tao menggandengkan lengannya pada Chanyeol. Chanyeol terkejut karena tidak biasanya Tao melakukan skinship seperti ini. Meskipun begitu, hatinya senang.
"Sayang sekali kita tidak bisa pulang bersama hari ini." Tao berkata dengan sedih. Sampai kemarin pun, Tao tinggal di sebuah rumah sewaan di sebelah rumah Chanyeol. Namun karena ayahnya sakit, kini ia kembali tinggal di rumah orangtuanya.
"Benar juga. Padahal selama ini kita selalu berangkat dan pulang bersama. Bagaimana kondisi ayahmu?" Chanyeol menatap Tao dengan khawatir.
"Sepertinya beliau kesepian karena ibu meninggal."
Tao tersenyum hampa pada Chanyeol. Chanyeol tidak tega melihat Tao seperti itu.
"Kapan-kapan, ajaklah ayahmu datang ke tempatku. Kusiapkan makan malam yang lezat."
"Benarkah?"
Wajah Tao langsung cerah seketika. Ia senang dengan gadis yang tidak pernah basa-basi ini, seperti "sudah, tidak apa-apa" atau "tenang saja". Ia iri dengan sifat Tao yang selalu bisa mengutarakan dengan jujur apa yang ia rasakan. Meskipun dirinya juga bisa bersikap ramah pada pasiennya –walaupun terlalu ramahna sampai menimbulkan masalah –sepertinya ia bersikap lebih dingin di kehidupan pribadinya. Bukan sekali dua kali ia kesal karena sulit mengutarakan perasaannya sendiri. Hubungannya dengan ibunya yang semakin menjauh sepertinya karena sifatnya itu.
Begitu Tao mengendarai mobilnya dan pergi, ia merasa semakin kesepian. Chanyeol berdiri sambil merogoh sakunya, mencari kunci mobilnya dan setelah terdiam sejenak, ia menaiki mobilnya dengan wajah murung dan pergi ke rumah sewaannya.
.
Baekhyun dipindahkan ke kantor stasiun TV Wonju. Waktu yang ia perlukan untuk pulang-pergi saja lebih dari dua jam. Baik Baekhyun maupun pihak Wonju sama-sama terkejut mendengar keputusan ini.
Pertama, Baekhyun tidak sanggup membiayai tempat tinggalnya di sana, sementara officetel[19] yang disiapkan khusus untuk karyawan sudah penuh. Mau tidak mau, Baekhyun terpaksa pulang-pergi selama beberapa saat sambil mencari kamar dengan harga murah. Namun, sepertinya ia juga tidak memiliki banyak waktu sampai bisa mencari rumah seperti itu. Dari hari pertamanya saja, Baekhyun sudah mendapat cobaan. Kakinya gemertar dengan keringat mengucur di seluruh tubuhnya karena disuruh pergi ke sana-kemari seharian. Jadi, seperti ini cara mereka menyambut karyawan baru?
PD yang bahkan tidak ia kenal tiba-tiba menyodorkan gaun ala tuan putri kepadanya.
"Untuk program daerah kami, 'Manusia Luar Biasa'. Syutingnya hari ini dan tiba-tiba asisten reporter yang biasa membawakan acara ini tidak bisa hadir karena sakit. Pembawa acara utamanya adalah Lee Taemin. Kau cukup memakai pakaian ini dan berdiri di sebelahnya."
Begitu mendengar nama acaranya, Baekhyun berharap kalau PD itu hanya bercanda. Ia tahu kalau setiap daerah memiliki acara masing-masing. Tentu saja ia juga tahu kalau acara ini termasuk acara utama di daerah Wonju ini. Acara yang berada di antara garis batas antara 'acara aneh' dan 'acara layanan masyarakat' yang sepertinya tidak mendapat keuntungan. Sesuai namanya, acara ini mencari hal-hal aneh yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh manusia, mungkin bisa dikatakan semacam acara kumpulan uji coba? Pernah ada seorang komedian yang membawakan acara ini dan mengundurkan diri karena muak dengan isi acaranya. Saat itu, katanya ia hampir ditusuk oleh seorang anti-fan-nya saat sedang makan. Meskipun begitu, untuk skala TV daerah, acara ini termasuk acara yang digemari dan dapat bertahan sampai sekarang.
Untungnya, Baekhyun tidak ditunjuk untuk menjadi reporter tetap di acara itu. Namun, inilah awal mula cobaannya hari itu. Setelah berkali-kali mendapat teguran karena tidak memakai kostum itu dan hanya menentengnya ke sana-kemari, akhirnya Baekhyun memakai kostum itu di kamar mandi yang sempit. Baekhyun menyadari bahwa jika ia berada di tempat ini terus-menerus, maka ia tidak akan pernah kembali ke pekerjaannya yang dulu. Baekhyun teringat akan dirinya yang membawakan acara berita pukul sembilan pagi dan menggertakkan giginya dengan geram di tempat yang dipenuhi bau amonia itu.
"Sepertinya dia berpacaran dengan calon suaminya itu, tapi malah terlanjur hamil. Apa gunanya presenter seperti itu, seharusnya dipecat saja..."
Suara PD yang bertanggung jawab atas acara itu tanpa sengaja terdengar oleh Baekhyun. Ia rasanya ingin segera berteriak dan membantah semua perkataan itu. Namun, ia memutuskan untuk bersabar. Sepertinya, ia harus menanamkan kata 'sabar' dalam-dalam di otaknya untuk bertahan melewati satu hari ini.
Baekhyun menatap cermin dan berusaha menarik otot-otot wajahnya untuk tersenyum. Kemudian ia memakai topi yang sejak tadi ia bawa. Ia mengikatkan bentuk pita dari tali topi itu di bawah dagunya dan seketika ia terlihat seperti boneka tuan putri dari zaman perang seratus tahun yang lalu. Ditambah lagi, ia harus mengenakan panier[20] berbentuk lonceng besar di dalam gaunnya, yang membuatnya terpaksa duduk di bagian paling belakang van selama perjalanan ke lokasi syuting.
Lokasi syuting hari itu adalah sebuah taman bermain yang sedang mengadakan festival bunga. Dalam perjalanan, PD itu memberikan pengarahan singkat bahwa festival itu ada acara cosplay.
Setelah tiba di lokasi, Baekhyun merasa bersyukur karena ia hanya mengenakan gaun. Orang-orang di sekelilingnya terlihat seperti makhluk dari planet lain atau alien yang sedang mengunjungi bumi.
"Kita akan meliput suasana lokasi kontes cosplay ini, jadi kau ikuti saja Taemin baik-baik." PD itu sekali lagi mengingatkan Baekhyun.
"Baiklah." Baekhyun mengangguk patuh. Syuting pun dimulai.
"Pemirsa, sekarang kami telah tiba di lokasi kontes cosplay yang diadakan setiap tahun di tempat ini. Kabarnya banyak peserta yang dulu tampil di acara 'Manusia Luar Biasa' dan sekarang ikut menjadi peserta kontes cosplay ini. Suasananya benar-benar ramai ya, Baekhyun Ssi?" Taemin yang memakai kostum seperti pangeran itu bertanya sambil tersenyum pada Baekhyun.
"Iya, benar..."
"Nah, sekarang mari kita lihat ada siapa saja di kontes ini. Let's go!" Taemin langsung berseru "Let's go!" bahkan sebelum Baekhyun menyelesaikan ucapannya dan segera membalikkan badannya. Baekhyun hanya tertawa kaku "hohoho" dan mengikuti rekannya itu. Setelah sekitar dua jam tidak berkata apa-apa dan hanya mengikuti pembawa acara itu ke sana-kemari, kakinya mulai lemas dan keringat mulai mengucur deras di tubuhnya. Gaun berlapir yang ia kenakan mulai menempel di tubuhnya dan panier yang ia pakai di pinggangnya itu selalu terayun-ayun setiap ia berjalan, membuatnya tidak nyaman.
Saat jam istirahat, Baekhyun duduk di sebelah Taemin sambil membuka topinya dan sibuk mengipasi dirinya sendiri. Tiba-tiba sekelompok anak kecil datang menghampiri mereka.
"Taemin Ajossi[21], minta tanda tangannya, ya."
"Kau benar Taemin Ajossi, kan? Nenekku adalah penggemar berat Ajossi."
"Ajossi, minggu depan Ajossi syuring tentang apa?"
Sepertinya Taemin ini cukup terkenal sampai anak-anak ini mengenalinya dan menyodorkan selembar kertas untuk tanda tangan sambil bertanya macam-macam. Otomatis Baekhyun menyingkir beberapa senti dari sebelah Taemin. Jujur saja, ia bukannya sama sekali tidak menganggap kantor TV ini satu level lebih rendah karena berada di daerah, melainkan setelah melihat pembawa tetap di daerah seperti ini. Meskipun kedudukannya mungkin akan semakin kecil di tempat ini, apa sebaiknya ia menunjukkan kembali semangatnya yang berapi-api seperti dulu? Baekhyun hanya tersenyum kecil melihat anak-anak yang mengantre meminta tanda tangan.
"Hari ini tidak ada Na Eun Ajumma[22] ya? Ke mana dia?" tanya seorang anak kepada Taemin.
"Iya, ajumma itu sedang sakit, jadi sekarang ada ajumma baru yang menggantikannya."
Memangnya dia kira aku ini suku cadang? Ajumma baru? Baekhyun yang merasa dirinya bukan seorang ajumma mendengus pelan. Ya sudahlah, toh ia sudah pernah dipanggil 'Ibu Hamil Nasional' juga.
"Wah, ada ajumma baru. Tapi aku sebal. Kenapa selalu ajumma seperti ini yang masuk ke TV daerah? Aku tidak suka!"
Meskipun yang mengatakan hal itu adalah anak sekolah dasar yang asal bicara tanpa memedulikan perasaan lawan bicaranya, tetap saja Baekhyun merasa kesal.
"Lho, ajumma ini sangat terkanal lho di Seoul."
Entah apa karena Taemin tidak suka kalau TV daerah diolok-olok, ia berbicara sambil membelalakkan matanya ke arah anak-anak itu."
"Seoul? Tapi aku tidak pernah melihatnya di acara lain." Seorang anak perempuan berkata dengan ketus.
"Anak-anak, coba lihat. Kalian tidak tahu ajumma ini? Padahal kemarin dia sering muncul di TV, lho?" Taemin berkata dengan bangga kepada anak-anak itu. Sementara Baekhyun mulai merasa cemas. Kejadian itu kan bukan sesuatu yang patut dibanggakan.
"Di mana?"
"Acara 'Berburu Informasi, LIVE'."
"Berburu... Informasi?"
Kini anak-anak itu beralih menatap Baekhyun dengan tajam. Baekhyun merasa seperti boneka voodoo yang ditusuk-tusuk oleh jarum. Di saat-saat seperti ini, ia baru menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengalihkan pembicaraan. Sementara sensor di dalam tubuhnya sudah memerintahkan untuk berbalik dan melarikan diri dari tempat itu. Baekhyun segera membalikkan wajahnya menghadap ke arah lain.
"Ajumma ini kan punya julukan terkenal. Ibu..."
"Ah iya! Si Ibu Hamil Nasional! Benar, kan?"
Tiba-tiba siswa SMP dari belakang kerumunan anak-anak itu berteriak, seolah meneriakkan jawaban dalam kuis. Ya Tuhan! Harusnya ia tidak menoleh ke arah anak itu. Mungkin karena sudah terbiasa dengan panggilan itu, tanpa sadar Baekhyun menoleh ke arah yang meneriakkan panggilannya itu. Seketika itu juga, anak-anak lain serta orang dewasa yang ada di tempat itu berkumpul di sekitar mereka.
"Kenapa ibu hamil berpakaian seperti itu? Mau mengikuti gaya Barat?"
"Tadinya aku tidak mengenalinya karena dia memakai topi, tapi ternyata benar dia ya." Orang-orang di sekitarnya mulai berbisik-bisik dan mengerumuninya.
"Wah, si Ibu Hamil Nasional itu!"
Anak-anak yang berkumpul di tempat itu mulai berteriak-teriak sambil menunjuk ke arah Baekhyun.
"Ah, bukan begitu, Anak-anak..." Baekhyun mengibaskan tangannya dengan panik.
"Tidak apanya?...
-TBC-
Keterangan;
[16]Nuna = panggilan laki-laki kepada perempuan yang lebih tua.
[17]Hyungnim/ hyung = panggilan laki-laki kepada laki-laki yang lebih tua.
[18]Shinmun-go adalah gendang besar pada masa Kerajaan Joseon, tergantung di menara di depan pintu istana sebagai sarana rakyat untuk mengutarakan protes atau keluhan mereka pada pihak kerajaan.
[19]Officetel = singkatan dari office + hotel; kantor yang mempunyai fasilitas sederhana untuk tempat tinggal. Dapat digunakan sebagai kantor sekaligus tempat tinggal.
[20]Panier berarti 'keranjang'. Dalam bidang fashion, digunakan untuk menyebut petticoat atau rok dalam yang dipakai di pinggang untuk melebarkan rok.
[21]Ajossi = panggilan untuk pria setengah baya, sepadan dengan om atau paman.
[22]Ajumma = panggilan untuk wanita paruh baya, sepadan dengan tante atau bibi.
