Previous Chapter...
"Kenapa ibu hamil berpakaian seperti itu? Mau mengikuti gaya Barat?"
"Tadinya aku tidak mengenalinya karena dia memakai topi, tapi ternyata benar dia ya." Orang-orang di sekitarnya mulai berbisik-bisik dan mengerumuninya.
"Wah, si Ibu Hamil Nasional itu!"
Anak-anak yang berkumpul di tempat itu mulai berteriak-teriak sambil menunjuk ke arah Baekhyun.
"Ah, bukan begitu, Anak-anak..." Baekhyun mengibaskan tangannya dengan panik.
[CHAPTER 3B]
"Tidak apanya? Ibu hamil yang suka berbohong!" anak-anak itu berteriak dengan nada tidak percaya pada Baekhyun.
"Aku mau berfoto dengannya!"
"Tidak boleh, aku dulu! Ayo kita foto!"
Kalau seandainya aku ini benar-benar hamil, bukankah mereka tidak boleh berbuat seenaknya seperti ini padaku? Berarti kalian juga harus memperlakukanku seperti ibu hamil betulan! Baekhyun yang sudah hampir menangis merasa menjadi tontonan seperti monyet di kebun binatang.
"Aku ini sedang bekerja, kalian pergi dulu ya, Anak-anak."
Malu karena ada beberapa orang dewasa yang memandanginya, Baekhyun menyuruh anak-anak itu pergi. Namun rupanya anak-anak itu tidak mau menuruti ucapan Baekhyun begitu saja. Taemin berdiri dengan canggung dan tidak tahu harus berbuat apa melihat situasi itu. Ia hanya menatap Baekhyun dengan wajah menyesal. Lihat saja pembalasanku, batin Baekhyun.
"Ibu Hamil Nasional tukang bohong! Ayo berfoto denganku!"
"Tanda tangan juga! Aku tidak mau pergi kalau kau tidak memberi tanda tangan padaku. Kalau tidak, nanti kau mendapatkan tembakan tenaga langit, kau tahu tidak?"
Seorang anak yang kelihatannya benar-benar bisa berubah menjadi monster, mengacungkan senjata mainan kepada Baekhyun. Kemudian, anak-anak yang lain pun ikut menodongkan senjata mainan mereka kepada Baekhyun. Rasanya ia lebih baik ditembak oleh senata laser sungguhan dan langsung mati di tempat. Atau setidaknya pingsan.
"Anak-anak! Kenapa kalian seperti ini padaku?!"
Terlalu banyak anak yang mengerumuninya. Terlalu banyak orang dewasa yang memandang ke arahnya. Baekhyun yang berteriak karena panik akhirnya membalikkan badannya dan menangis. Tanpa berkata apa pun pada Taemin, ia pergi meninggalkan tempat itu.
.
Hosh. Hosh.
Baekhyun yang berlari meninggalkan tempat kontes itu akhirnya menghentikan langkahnya dengan napas tersengal-sengal. Apakah kini babak kedua di hidupnya sudah dimulai kembali? Baekhyun merasa hidupnya seperti sandiwara dengan ia harus bertahan dan berjuang dari orang-orang yang berusaha menjatuhkannya.
"Maaf, boleh berfoto denganku tidak..."
Ketika Baekhyun sedang menimbang apakah ia harus melanjutkan pekerjaannya ini atau tidak, terdengar suara anak kecil yang berkata padanya. Baekhyun baru saja hendak mengusir anak kecil yang ia kira salah satu dari anak-anak yang tadi mengoloknya itu. Namun ketika ia menoleh, seorang anak perempuan berdiri di dekatnya dan bertanya padanya dengan malu-malu. Tidak beberapa jauh dari anak perempuan itu, terlihat pasangan suami istri yang membawa kamera tersenyum padanya. Sementara itu, jauh dari tempatnya berdiri saat itu, terlihat orang-orang berkostum sedang melakukan parade dan berfoto dengan pengunjung yang datang. Sepertinya mereka mengira aku ini adalah salah satu dari orang-orang berkostum itu. Mungkin aku bisa masuk ke taman bermain dengan gratis karena mengenakan pakaian seperti ini, pikir Bakehyun.
"Baiklah."
Baekhyun mendudukkan anak perempuan yang berwajah lugu dan benar-benar memercayai bahwa Baekhyun adalah tuan putri itu di sebuah kursi panjang yang ada di dekat mereka. Kemudian ia duduk dengan anggun di sebelah anak itu. Saat itu juga, Baekhyun mendengar teriakan seseorang bersamaan dengan matanya yang silau karena lampu kilatan kamera di hadapannya itu. Ketika ia bertanya-tanya "ada apa ini?", ia merasakan sesuatu yang sejuk di bagian bawah tubuhnya. Baekhyun menjulurkan tangannya ke bawah untuk memastikan apa yang terjadi pada dirinya. Sekilas ia melihat ayah dari anak perempuan itu malu dan ibunya panik. Orang-orang yang lewat di depannya terdiam kaku dan terdengar suara jepretan kamera. Ternyata, begitu Baekhyun duduk, panier kaku yang ada di dalam gaunnya itu terangkat dan membuat roknya terangkat ke atas sampai celana dalamannya terlihat jelas.
Baekhyun yang wajahnya memerah, menoleh pada anak kecil yang duduk di sebelahnya. Anak itu balas menatapnya dengan wajah senang dan gembira. Terima kasih karena masih tersenyum manis padaku, batin Baekhyun kesal. Kemudian kembali terlihat kilatan kamera, disusul dengan suara anak-anak yang terdengar familier di telinganya.
"Ibu Hamil Nasional itu ada di sana!"
Kurang ajar! Baekhyun tersenyum sedih kepada anak perempuan itu, membuka topinya untuk menutupi wajahnya, mengangkat gaunnya dan mulai berlari lagi. Tiba-tiba, 'gubrak!', Baekhyun terjatuh di lantai taman yang keras itu. Ia melihat darah merembes di bagian lutut celananya. Benar-benar. Berkat julukan ibu hamil itu, sepertinya ia juga harus sampai membawa plester setiap ia pergi.
"Itu dia, di sana!"
Suara serangan anak-anak yang membawa senjata mainan mereka semakin mendekat. Baekhyun segera berdiri dan kembali berlari tanpa memperhatikan luka di kakinya. Kakinya terasa sangat pedih. Namun yang paling berat baginya adalah shock secara psikologis yang ia terima hari itu. Ia sampai merasa bersyukur karena ia bukan ibu hamil betulan. Baekhyun tidak kuasa menahan air matanya. Rasanya ia ingin pergi ke sebuah pulau tidak berpenghuni. Dan tidak akan kembali ke Korea lagi!
.
Keesokan harinya, setelah melewati satu hari panjang yang rasanya seperti empat hari tiga malam, Baekhyun mengecek Internet hanya untuk berjaga-jaga. Di bawah kata kunci 'ibu hamil nasional' ternyata foto kejadian sore itu, ketika rok Baekhyun terangkat sampai dalamannya terlihat sudah tersebar di Internet. Judul artikelnya adalah "Ibu Hamil Nasional Episode 2". Foto itu hanya memperlihatkan roknya yang terangkat membentuk lingkaran dan memperlihatkan celana dalamannya, wajahnya tidak terlihat. Lalu, di bawah foto itu, ada foto ketika Baekhyun sibuk menurunkan roknya dengan panik.
Ibu Hamil Nasional ini semakin lama semakin menarik.
Setelah menjadi reporter, sekarang beralih menjadi komedian?
Jujur deh, kau ini sebenarnya gagwoman[23], kan?
Kau mengidam ingin bertingkah seperti itu karena sedang hamil?
Berbagai komentar yang sudah tidak terhitung jumlahnya juga muncul di Internet. Tangan Baekhyun yang sudah dikuasai emosi rasanya gatal ingin melakukan sesuatu.
Reporter itu, saat itu dia sedang syuting acara "Manusia Luar Biasa". Jadi...
Tangan Baekhyun yang sedang mengetik balasan untuk komentar-komentar itu tiba-tiba lemas kehilangan tenaga. Ia mengehela napas. Toh tidak ada gunanya juga ia berbuat seperti ini. Seluruh penjuru negeri ini sudah terlanjur mengira bahwa dirinya adalah ibu hamil. Seperti lingkungan sekitarnya kini memaksanya untuk menjadi seorang ibu hamil sungguhan...
Baekhyun akhirnya berhasil menenangkan diri dan memejamkan matanya. Ia tidak ingin tertangkap basah menangis di kantor seperti seorang pengecut yang payah. Ia tidak ingin terlihat lemah, terpuruk di mata sesama rekan reporternya yang telah malu karena dirinya. Ia tidak ingin dikasihani oleh orang-orang di sekelilingnya. Bekhyun dengan susah payah menahan air matanya yang hendak mengalir dan membuka matanya. Kemudian, ia menghapus kembali tulisannya di layar komputernya.
Di kantor stasiun TV ini, apakah melakukan pekerjaan kecil-kecilan pun termasuk suatu kemewahan? Di kantor yang kekurangan tenaga kerja ini, pekerjaan kecil-kecilan itu sama saja seperti pekerjaan serabutan. Apalagi bagi Baekhyun yang sudah membuat kesalahan, ia harus bekerja keras tanpa protes apa pun. Saat ini, yang menjadi tugas Baekhyun adalah membantu para staf, mengikuti para senior dan memuji-muji mereka, bahkan sampai melakukan pekerjaan seperti OB: fotokopi dokumen, membuat minuman.
Beberapa hari kemudian, telepon genggamnya yang kini berfungsi sebagai perantara ketika ia menerima perintah ini-itu dari seniornya berbunyi. Baekhyun menjawab telepon dengan nada lelah sambil menduga-duga. Pekerjaan remeh-temeh apa lagi yang harus ia lakukan.
"Ya, Baekhyun di sini."
"Baekhyun Ssi? Ini aku, PD Nam. Dulu kita pernah kerja bersama, ya kan?"
"Ya? Ah, iya, benar..." Baekhyun menyahut dengan gugup. PD Nam adalah PD yang bekerja di kantor pusat di Seoul, bisa dikatakan ia setingkat CP[24]. Jangan-jangan, ia disuruh memakai kostum aneh-aneh lagi dan syuting di kantor Seoul, yang benar saja?
.
Keesokan harinya, Baekhyun berangkat ke kantor dengan wajah tidak percaya. Bukan ke kantor di Wonju, melainkan kantor pusat di Seoul. PD Nam berkata bahwa ada meeting hari ini di kantor pusat dan menyuruhnya datang.
Baekhyun memasuki kantor dengan wajah bingung ketika atasannya memanggilnya. Baekhyun masuk ke ruangan atasannya, berjalan mendekat dengan hati-hati tanpa berani menatap matanya langsung.
"Kau jujur saja, kau sengaja kan berbuat seperti itu?" tanya atasannya dengan dengan curiga.
"Ya?" Baekhyun mengangkat kepalanya dengan ekspresi tidak mengerti.
"Gosip ibu hamil nasional itu maksudku. Aku tanya, apakah kau sengaja berbuat seperti itu agar wajahmu dikenal oleh masyarakat?"
Benar-benar gila. Tidak masuk akal.
"Hal seperti itu, sengaja?"
"Apa kau sengaja bersekongkol dengan dokter apalah itu dan bertingkah seperti ini?"
"Memangnya saya ini gila?" Baekhyun menyahut dengan kasar.
"Jadi, maksudmu kau tidak kenal dengan dokter itu?"
Memangnya masalah ini ikut diungkit-ungkit jika ada pemeriksaan korupsi pada atasannya itu? Sampai-sampai ia mencurigai Baekhyun seperti ini. Sesaat, Baekhyun sempat teringat akan Luhan ketika mendengar tentang dokter itu. Namun, Baekhyun segera menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak kenal dengan dokter, orang gila itu."
"Dan kau yakin tidak hamil?"
"Tentu saja!" Baekhyun berteriak dengan geram.
"Baiklah. Oke."
Barulah atasannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan menyodorkan proposal pada Baekhyun. Baekhyun mengambil proposal itu dengan bingung dan membacanya.
"Proposal acara dokumenter kedokteran. Kau yang jadi reporternya."
"Apa? Sa, saya?" saking terkejutnya, baekhyun langsung bertanya tanpa pikir panjang.
"Anggap saja itu harga yang harus kau bayar karena telah membuat masalah seperti ini."
Unbelieveable! Meskipun langitnya telah runtuh, ternyata masih ada celah baginya untuk menyelamatkan diri. Atau, apa ini yang namanya kejatuhan durian runtuh? Tidak salah lagi, ini adalah kesempatan baginya untuk mengembalikan nama baiknya. Jadi, ini sebabnya mengapa Tuhan memberinya berbagai cobaan selama ini?
"Baca proposal itu baik-baik, lalu kemasi barangmu dan pergilah ke rumah sakit."
"Apa? Barang?"
"Kau harus menunggu di sana selama 24 jam, bersama PD Nam. PD Nam belum memberitahumu?"
"Maksudnya, saya harus tidur di rumah sakit...?"
Tidak mungkin kan ia disuruh berperan sebagai reporter hamil?
"Pihak rumah sakit sudah menyediakan rumah sewaan yang biasanya ditempati oleh dokter-dokter di sana. Kau bisa tinggal di sana selama syuting acara ini."
"Oh~."
Baekhyun dapat merasakan otot wajahnya kencang kembali. Ia sangat gembira sampai memeluk proposal itu erat-erat.
"Jadi, jadi saya benar-benar menjadi pembawa acara satu-satunya? Untuk seterusnya?"
Atasannya menjawab dengan pahit, "Tadinya aku ingin menyuruh Seo Joo Hyun, tapi tiba-tiba!"
Atasannya tiba-tiba meninggikan nada suaranya sampai Baekhyun tersentak kaget.
"Karena timbul gosipmu sebagai Ibu Hamil Nasional. Karena tidak ada yang lebih hebat dari gosip untuk meningkatkan rating acara. Ini kesempatan khusus bagimu, lakukan dengan sungguh-sungguh!"
Baekhyun tidak mengerti mengapa atasannya kelihatannya tidak terlalu senang. Namun yang paling penting adalah bahwa Baekhyun bisa kembali pada pekerjaannya yang dulu.
"Terima kasih! Sekali lagi, terima kasih!"
Baekhyun yang diliputi rasa haru memberi salam dengan semangat sambil membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan itu dengan wajah berseri-seri. Yahoo! Baekhyun mengepalkan tangannnya sambil melangkah gembira. Tiba-tiba ia bertatapan dengan PD Nam yang sedang mengawasinya dari kejauhan.
"Senang bertemu denganmu lagi." PD Nam berjalan mendekati Baekhyun dan mengulurkan tangannya.
"Ah, PD Nam! Terima kasih!"
Baekhyun menjabat tangan PD itu dengan kedua tangnnya. PD itu dulu pernah memuji kondisi fisiknya yang bagus saat mereka syuting di sebuah pasar tradisional di luar kota.
"Kau sudah susah payah sampai ke sini lagi. Kalau ada kesalahan, maka tidak ada ampun lagi."
"Baiklah. Saya akan berhati-hati!" Baekhyun membungkukkan badannya sembilan puluh derajat dan memberi salam pada PD itu.
"Nanti malam ada rapat di rumah sakit. Kau sudah harus sampai di rumah sakit pukul delapan malam, ya."
PD Nam menepuk pundak Baekhyun lalu meninggalkan ruangan presenter. Baekhyun tetap menghadap arah perginya PD Nam dan berkali-kali membungkukkan badan.
"Baik! Terima kasih! Saya akan bersungguh-sungguh!"
Baekhyun lalu membalikkan badannya dengan wajah semangat dan hati gembira bukan kepalang. Kemudian, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang tertinggal, yang membuat senyumnya sesaat hilang dari wajahnya. Sepertinya ada satu hal penting yang terlupakan. Apa ya? Tiba-tiba ia terbelalak.
"Rumah sakitnya di mana ya?"
Baekhyun kemudian teringat dengan proposal yang belum sempat ia baca dan bernapas lega.
.
Baekhyun berjalan menuju rumahnya. Kini, topi dan masker merupakan perlengkapan wajibnya jika bepergian dengan bus. Ia senang karena bisa mendapat tempat duduk, tetapi terkadang kesal juga dengan orang-orang yang berkata macam-macam tentang perutnya. Entah mengapa orang-orang itu senang sekali ikut campur urusan pribadinya.
Sesampainya di rumah, ia melihat bibinya sedang mondar-mandir dengan khawatir.
"Bibi kenapa?"
"Nenek menghilang lagi. Kemarin dia pergi ke kantor polisi, tapi hari ini dia tidak ada di sana."
Bibi terus berjalan ke sana-kemari dengan cemas sambil mengawasi di depan rumah.
"Lagi?"
Bibi juga tidak bisa disalahkan. Nenek memang cepat sekali menghilang dari rumah kalau tidak diawasi sebentar saja. Selama ini, Bibi pun tinggal di rumah saja, tidak bisa menikmati waktu untuk dirinya sendiri karena mengurus Nenek yang sudah pikun.
"Tae sedang pergi mencari Nenek."
"Kalau begitu, Bibi tenang saja. Pasti mereka segera datang. Tae kan sangat ahli mencari Nenek."
Meskipun adiknya itu terkenal nakal dan suka membuat ulah di lingkungan mereka, untuk urusan Nenek, ia termasuk anak yang bisa diandalkan. Ia tidak suka jika ada orang yang mengatakan neneknya adalah orang gila. Apalagi kalau ada yang berani mengolok-olok Nenek, saking sayang dan pedulinya ia pada Nenek. Bisa dikatakan, itulah satu-satunya kelebihan yang dimiliki oleh anak bengal itu.
Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dan Taehyung yang mandi keringat masuk sambil menggendong Nenek yang tertidur.
"Ibu, Ibu!" Bibi segera menghampiri Nenek yang tertidur di punggung Taehyung.
"Ah, aku lelah sekali, cepat buka selimut Nenek!" Taehyung berteriak dengan nada kelelahan pada Bibi.
"Oh, iya, iya."
Bibi segera masuk ke kamar dan menyiapkan tempat tidur untuk Nenek. Tangan Nenek yang sedang tidur memegang es krim yang sudah meleleh dan menetes-netes, meninggalkan bekas dengan warna yang sama di baju di pundak Taehyung.
"Aduh, apa ini?"
Bibi berusaha melepaskan plastik es krim itu dari tangan Nenek. Namun rupanya Nenek tetap menggenggam erat plastik es krim itu sambil tidur.
"Pasti dia bilang es krim ini dari 'si manis'."
Bibi mendecakkan lidahnya. Kemudian, ia menoleh ke arah pundak Taehyung. "Kau tidak apa-apa?"
Barulah Taehyung menoleh ke arah bajunya yang basah dan menepisnya santai.
"Tidak apa-apa, tinggal ganti baju saja. Memangnya siapa sih 'si manis' yang suka dibicarakan Nenek itu?" Taehyung bertanya dengan kesal. Bibi menoleh ke arah Nenek yang tertidur lalu menghela napas.
"Kuberitahu juga kau tidak tahu. Dia itu perempuan yang membawa kabur harta warisan rumah ini, atau yang memiliki utang dengan rumah gubuk ini."
"Aku pikir nama sapi peliharaan. Bibi tidak pernah kehilangan sapi[25]?" Taehyung memiringkan kepalanya dengan heran.
"Waktu kau kecil, keluarga ini hidup makmur. Kehilangan sapi saja tidak masalah." Bibi kembali menghela napas panjang.
"Sudahlah, jangan bicara yang aneh-aneh."
Taehyung segera bangun dan meninggalkan bibinya.
"Sewaktu aku kecil, kita bahkan tidak tahu kalau punya sapi. Karena semuanya sudah diurus oleh para pembantu. Sungguh. Memakai pakaian sutra, makan daging setiap hari," ucapan bibi itu semuanya terdengar seperti mimpi.
"Bibi juga pikun, ya? Kapan keluarga kita pernah seperti itu? Wah, gawat. Ternyata penyakit pikun itu menular, ya." Taehyung berkata dengan nada prihatin lalu menatap ke arah Baekhyun. Ekspresi wajahnya langsung berubah marah.
"Kau ini, kau ini bisanya apa sih?"
"Hei, hei, kenapa kau tiba-tiba berkata kasar seperti itu padaku?" Baekhyun balas menatapnya tajam dan memukul kepala Taehyung.
"Kau ini sebenarnya bisa jaga sikap tidak sih?"
Sepertinya anak ini sudah melihat video 'si Ibu Hamil Nasional' saat ia sedang makan jjajangmyon[26] di tempat bermain biliar atau entah di mana.
"Sudah kubilang kan, semua itu hanya salah paham. Kau urus saja kelakuanmu sendiri. Kau tidak sadar sudah membuat Ayah susah?"
"Diam! Berisik kalian!" Bibi akhirnya mengusir Baekhyun dan Taehyung yang bertengkar keluar dari kamarnya.
"Sebaiknya Nuna yang jaga sikap baik-baik. Nuna kan tinggal menikah, lalu selesai semuanya."
"Nah, kau, memangnya mau tetap bermain biliar dan keluyuran ke sana-kemari setelah menikah?"
"Ini semua ada alasannya. Kau tidak pernah dengar? Di mana ada kemauan, pasti ada jalan."
Bukan sekali ini mereka beradu mulut seperti ini, dan Taehyung selalu berbicara panjang lebar seperti biasanya, sesuai keahliannya.
"Kapan kau dengar perkataan seperti itu? Di saat tiga puluh persen kehadiranmu waktu SMA itu? Kau tidak pernah belajar tentang cara mencari jalan itu? Coba kau hadir tiga puluh persen lebih banyak lagi, setidaknya supaya kau tahu di mana membeli kompas untuk penunjuk jalan."
Baekhyun berdecak kesal.
"Aku juga pasti akan bekerja. Kalau aku menemukan pekerjaan yang cocok untukku."
"Dan selama kau buang-buang waktu mencari pekerjaan idealmu itu, kau jangan macam-macam denganku sampai kau menemukan pekerjaan, mengerti?" Baekhyun mengancam adiknya. Toh ia tidak akan lepas tangan sepenuhnya terhadap urusan rumahnya setelah ia menikah, dan rasanya khawatir melihat anak laki-laki satu-satunya di rumah itu yang tidak bisa dipercaya seperti adiknya itu.
"Memangnya temanmu tidak ada yang bekerja? Di antara gengmu yang seperti berandalan itu."
Baekhyun memandang adiknya dengan heran. Saat itu, tiba-tiba pintu depan terbuka dan ayah mereka masuk dengan tergesa-gesa.
"Nenek?"
"Ayah tahu dari mana? Memangnya beritanya sampai ke tempat kerja Ayah?" Taehyung bertanya kepada ayahnya sambil berjalan ke arah wastafel dan mengambil sebaskom kecil air untuk cuci muka ayahnya. Ayah tidak menjawab pertanyaan Taehyung dan menoleh ke arah Baekhyun.
"Tae tadi sudah membawa Nenek pulang lagi."
Begitu Baekhyun menyelesaikan ucapannya, Bibi muncul dari kamarnya dengan wajah lesu.
"Oh, sudah pulang?"
"Tadi Nenek kembali mencari 'si manis' itu?" Ayah bertanya dengan nada khawatir pada Bibi.
"Ayah, memangnya kita pernah memelihara sapi?" tiba-tiba Taehyung menyela sambil menyeka wajah ayahnya dengan handuk.
"Sapi?"
"Memangnya 'si manis' itu bukan nama sapi?"
"Sembarangan saja kau ini." Ayah mengerutkan alisnya mendengar Taehyung yang berkata asal.
"Lalu, betul nama orang?"
Begitu Taehyung bertanya lagi, ayahnya yang memasang ekspresi murung itu hanya masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Sepertinya benar-benar ada, ya? Mungkin sapi yang umurnya sudah cukup tua?" Taehyung membelalakkan matanya dengan kaget dan menoleh pada Baekhyun.
"Aku tidak ingat kalau di rumah ini pernah ada sapi yang punya nama."
Bibi yang berada di sebelahnya pun ikut memiringkan kepalanya dengan bingung. Kemudian ia memandang Baekhyun dan mendengus pelan.
"Tumben kau pulang cepat? Ternyata kau benar-benar takut denganku, ya?"
Rasa kesal yang sesaat sempat hilang kini kembali menghampiri Baekhyun.
"Jadi, benar-benar ada jam malam?" protes Baekhyun.
"Bagus, Bi. Anak perempuan seperti ini memang harus dikurung di rumah seharian. Ibu Hamil Nasional? Aku sampai malu terhadap teman-temanku."
Taehyung berdecak keras seolah menunggu-nunggu kesempatan untuk membalas Baekhyun. Baekhyun meninju adiknya yang mengoloknya seperti itu.
"Aku yang seharusnya malu, dasar anak ini! Adikku satu-satunya malah menjadi preman di lingkungan ini, mengajarkan yang tidak benar ke anak orang. Kau yang harusnya dikurung!"
"Benar-benar. Aku heran kenapa keponakan-keponakanku tidak ada yang benar seperti ini. Mungkin ini semua gara-gara aku. Untung saja aku tidak menikah. Mana mungkin aku bisa meninggalkan keluarga ini seperti ini?" Bibi menghela napas sambil melihat ke arah Baekhyun dan Taehyung yang sedang bertengkar.
"Sudah, jangan bertengkar lagi kalian ini. Dan kau, jangan beralasan ada syutinglah, apalah..."
"Habisnya mau bagaimana? Bahkan mulai hari ini aku harus tidur di luar, bagaimana?" Baekhyun menyeringai dengan puas.
"Apa?" Bibi dan Taehyung terkejut dan berseru bersamaan pada Baekhyun.
.
Baekhyun akhirnya meninggalkan rumah setelah meminta izin pada ayahnya dan mengemasi barangnya. Ia bergegas berjalan ke halte bus dan berangkat menuju Rumah Sakit Taejo. Ia mulai lelah dengan hidupnya yang seperti ini. Ia harus memakai topi dan masker setiap akan naik bus, padahal bukan selebritas. Untung saja ia tidak lantas menjadi selebritas.
Baekhyun mulai merasa cemas ketika turun dari bus yang berhenti di depan rumah sakit itu.
"Jangan-jangan nanti aku bertemu dengan dokter gila itu lagi."
Membayangkan akan bertemu dengan dokter itu membuat Baekhyun merasa cemas. Ia memang masih menaruh dendam pada dokter itu, tetapi belum siap untuk membalasnya. Namun, ia juga tidak bisa melepaskan pekerjaan ini hanya gara-gara orang itu. Yang pasti, aku tidak akan tinggal diam jika bertemu dengan dokter itu, batin Baekhyun. Setelah dipikir-pikir, ini semua adalah kesalahan dokter itu, ia hanya sebagai korban.
Baekhyun mengepalkan tangannya dengan geram dan memasuki rumah sakit. Tiba-tiba ia melihat PD Nam dan beberapa staf yang datang dari arah berlawanan. Baekhyun segera berlari menghampiri PD Nam.
"Sudah selesai?"
"Dokter-dokter itu tiba-tiba harus melakukan operasi, jadi rapatnya diundur sampai besok pagi."
"Oh..."
Apa aku harus bersyukur dengan situasi ini?
"Kita lihat-lihat lokasi di rumah sakit ini saja dulu. Rental house-nya ternyata cukup jauh juga, lho."
PD itu mulai melangkahkan kakinya.
"Oh ya, apa kita akan meliput tentang seluruh rumah sakit? Atau hanya satu departemen saja?" Baekhyun bertanya pada PD Nam sambil menyamakan langkah kaki dengannya.
"Ah, Pak Direktur belum memberitahumu, ya? Kita syuting di bagian spesialis kandungan."
"Spe, spesialis kandungan?"
Baru saja Baekhyun bisa tenang dan bernapas lega, kini ia merasa seperti tersambar petir!
"Menurutmu kau diberi tugas ini dengan Cuma-Cuma, Ibu Hamil Nasional?" PD Nam memandang Baekhyun dengan tatapan penuh arti. Tidak mungkin. Lalu, berarti dokter itu...?
"Nah, sekarang kita keliling rumah sakit ini sebentar, lalu segera ke rental house."
PD Nam tidak memedulikan Baekhyun yang terserang shock dan melanjutkan langkahnya dengan santai. Baekhyun tidak tahu harus berbuat apa. Dokter gila yang sudah membuatku tercebur di 'lumpur' seperti ini? Membuat orang itu tenggelam di lumpur ini saja tidak mudah, dan sekarang ia malah harus bekerja sama dengan orang itu? Apa program tetap perdana yang kudapat dengan susah payah ini harus segera kulepas begitu saja? Baekhyun hanya bisa terdiam dengan berbagai pikiran di otaknya.
.
.
Chanyeol pulang dari rumah sakit dengan wajah lelah setelah menyelesaikan operasi terakhirnya malam itu. Ia berjalan di koridor rental house dan berhenti sejenak sebelum sampai di depan rumahnya. Pintu rumah yang dulu ditempati Tao terbuka. Kemarin rumah itu masih kosong, apa sekarang ada penghuni baru?
Penuh rasa ingin tahu, Chanyeol menjulurkan kepalanya ke pintu yang terbuka itu.
"Enak ya, kau bisa memakai rumah ini seorang diri."
Terdengar suara laki-laki.
"Aku jadi merasa seperti dokter sungguhan karena tinggal di tempat seperti ini. Fiuh, seandainya aku juga menjadi dokter."
Terdengar suara perempuan yang menyesal menyahuti ucapan laki-laki itu.
"Memangnya dulu nilaimu bagus?"
Laki-laki itu kembali menyahut sambil terkekeh.
"Ah, yoghurt ini untukku, ya?"
"Kau dapat dari mana itu?"
"Di depan pintu..."
"Jangan-jangan itu sudah kedaluwarsa? Cepat buang!"
Terdengar suara orang lain dalam percakapan itu. Padahal dirinya sangat kesepian, tetapi sepertinya orang yang baru datang ini banyak penggemarnya. Merasa seperti tengah memata-matai rumah orang lain, Chanyeol menarik tubuhnya dari depan pintu yang terbuka itu dan berjalan menuju rumahnya.
.
Begitu membuka mata, Chanyeol segera menjulurkan tangannya ke arah alarmnya. Tepat saat alarm itu bersiap-siap mengeluarkan suaranya dan berseru 'ppip–,' Chanyeol segera mematikan alarmnya itu.
Sinar matahari bersinar cerah seperti biasanya. Chanyeol mengusir kantuk dengan mengusap-usap wajahnya dengan tangan dan beranjak menuju kamar mandi. Hari itu, suasana tenang di pagi hari terasa menyenangkan baginya, memberinya rasa nyaman lebih daripada musik apa pun. Chanyeol menikmati perasaan nyaman itu sambil mengeluarkan pasta gigi ke sikat giginya.
Ketika ia tengah menyikat giginya sampai mulutnya dipenuhi busa, ia samar-samar mendengar suara dari dinding di sebelahnya. Chanyeol merasa bulu kuduknya meremang dan sesaat ia terdiam, berusaha mendengarkan suara itu dengan lebih jelas. Chanyeol memutar matanya ke sana-kemari dan menatap dinding di sebelahnya. Tembok ini. Berarti dari rumah sebelah. Sepertinya ada orang baru yang tinggal di rumah itu sekarang. Yang pasti orang itu adalah seorang wanita.
Chanyeol perlahan mendekatkan badannya ke arah dinding. Kemudian ia menempelkan telinganya ke dinding itu dengan sikat gigi di mulutnya.
"Hmmm–."
Hah! Mata Chanyeol membelalak mendengar suara erangan wanita.
"Hmm... hmmm–."
Suara itu semakin terdengar jelas. Bersamaan dengan itu, mata Chanyeol semakin terbelalak dan ia menjauhkan diri dari dinding itu sampai menempel di dinding di seberangnya. Mulutnya ternganga lebar dan sikat giginya masih tergantung di mulutnya.
"Apa-apaan perempuan itu, pagi-pagi seperti ini..."
Berbagai imajinasi berkelebat di pikiran Chanyeol seperti iklan di sebuah bioskop murahan. Chanyeol merasa wajahnya memerah. Tiba-tiba ia terbatuk seolah tersedak sesuatu dan kembali memegang sikat giginya. Ia membuang jauh-jauh pikiran '19+' itu dari otaknya dan menyikat giginya dengan lebih serius, sampai-sampai gusinya berdarah.
Sial, apa selama ini ia terlalu 'kelaparan'? Chanyeol tiba-tiba merasa kesal karena ketenangan di pagi hari yang tadinya ia nikmati kini berubah menjadi rasa kesepian dan kacau akibat pikiran anehnya tadi. Ia kemudian meletakkan sikat giginya dengan kasar di wastafel di hadapannya.
-TBC-
Keterangan;
[23]Di Korea, komedian disebut 'gagman', sehingga 'gagwoman' artinya komedian wanita.
[24]CP (Chief Producer)= ketua dari para PD di stasiun TV.
[25]Dalam bahasa Korea, 'so' (= si manis) merupakan nama panggilan/ julukan yang digunakan orang-orang tua untuk memanggil anak perempuan atau binatang ternak/peliharaan kesayangan.
[26]Jjajangmyeon = mi dengan saus kacang kedelai warna hitam.
