.

~Chapter 1~

~Birthday Gift~

.

.

.

.

.

Sehun kecil mengulurkan tangan kecilnya. Di tangannya ada selembar surat yang ia buat untuk sahabat kecilnya, Luhan. Ia ingin Luhan membacanya dan menerima isinya. Tapi tanggapan Luhan sangat jauh dari yang ia kira. Dan itu cukup menyakitkan untuk anak berusia 5 tahun sepertinya.

"Tak mau! Sehun jelek! Pasti suratnya juga jelek! Aku tak mau bermain dengan Sehun lagi! Sejoon lebih tampan! Aku akan bermain dengan Sejoon saja!" Luhan menepis tangan Sehun dan berlari meninggalkannya. Meninggalkan Sehun kecil yang terpaku dan tersenyum miris.

Tak memperdulikan bahwa Luhan sudah pergi jauh dari tempatnya berdiri, Sehun membuka suratnya. Membacanya dengan lantang. Mungkin jika ada orang dewasa yang mendengarnya, isi suratnya terdengar sangat lucu, tapi baginya, itu sangat menyedihkan dan penuh pengharapan.

12 tahun kemudian...

Ini tahun kedua Sehun dan Sejoon –kembaran sehun- di sekolah menengah atas. Sejoon di idolakan banyak siswa-siswi di sekolah. Kemampuannya dapat diperhitungkan. Dan dimanja oleh sang orangtua. Jika Sejoon termasuk murid yang pintar, maka Sehun adalah pribadi yang jenius. Namun pendiam. Sehun jadi pribadi yang sulit didekati. Kehidupan keluarganya kurang beruntung dari sang kakak. Kelahiran Sehun dianggap pembawa sial. Harusnya Sejoon lahir sendiri kala itu, tapi ternyata Sehun ikut lahir. Menjadikan dia dikucilkan dari keluarga sendiri. Ia tinggal di paviliun sendiri, mencari makan sendiri –sejak kelas 6-, dan sekolah dari usahanya sendiri. Sehun bersekolah di sekolah yang sama dengan sang kakak berkat beasiswa yang ia dapatkan dari Olimpiade Fisika.

Malam itu, di kediaman keluarga Oh sedang diselenggarakan pesta ulang tahun sang putra Oh Sejoon yang ke 17. Yang otomatis adalah ulang tahun Sehun juga. Tidak banyak yang tahu kalau Sejoon dan Sehun adalah saudara kandung. Mereka selalu menganggap bahwa Sehun dan Sejoon tidak memiliki ikatan apa-apa.

Ketika taman belakang penuh dengan teman-teman sang kakak, Sehun hanya bisa memandangnya dari loteng paviliun. Ia memakai jas lusuh dan celana kain yang dibelinya murah dari pasar, baju terbaiknya, apabila pakaian yang dibuang Sejoon tidak masuk hitungan. Sehun juga ingin merayakan bersama kedua orangtuanya layaknya sang kembaran. Tak terasa ada cairan bening mengaliri pipi putih pucat Sehun. Ia tak diijinkan masuk ke rumah utama sejak dulu. Dan sekarang ia tak diperbolehkan menghadiri pesta kakaknya hanya untuk sekadar mengucapkan selamat.

Saat riuh-rendah para tamu undangan menyanyikan lagu ulang tahun, sehun mengikutinya dengan lirih. Di hadapannya terdapat sebuah lilin putih besar dengan api menyala di puncaknya. Sehun menahan sesak di dadanya. Entah berapa kali ia merayakan ultahnya bersama orang lain. Ingatan mengenai pesta berputar di kepalanya. Tidak pernah. Ternyata sekalipun ia tak pernah merayakan ulang tahun bersama orang lain. Sehun tersenyum miris. Ia juga ingin merayakan ulang tahunnya. Ia ingin orang lain menyanyikan lagu ulang tahun bersamanya. Ia ingin meniup lilin bersama kedua orang tuanya. Kesimpulannya, ia ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya.

Lagu yang ia nyanyikan selesai. Ketika terdengar MC menyuruh pemilik pesta meniup lilin ulang tahunnya, Sehun ikut meniup lilin dapur di hadapannya. Ikut meniupkan harapan dan doa bersamaan dengan lilin padam. Lalu bertepuk tangan pelan. Sesegera mungkin ia mengusap airmatanya. Tersenyum kecil dan masuk ke dalam ruangan paviliunnya. Dalam hatinya ia berterimakasih pada Tuhan dan kedua orangtuanya karena membiarkan dia terlahir dengan fisik utuh sempurna dan sehat sampai ia berusia 17 tahun ini.

"Tolong bawa buku-buku ini ke ruang guru, Sehun."

Keesokan harinya, Sehun kembali ke rutinitasnya yang semula. Menjadi salah satu murid beasiswa di Korean International High School. Barusan, ia diminta bantuan oleh Guru Han untuk membawa buku-buku tugas Biologi anak kelasnya. Bila kalian bertanya apakah Sehun dan Sejoon berada satu kelas? Jawabannya adalah tidak. Sehun berada di kelas A dengan rata-rata anak yang berbakat dalam bidang MIPA, sedangkan Sejoon yang lebih berminat di bidang Sosial masuk kelas B. Keduanya sama-sama kelas unggulan di sekolah tersebut.

Sehun mengikuti Guru Han menuju ruang guru. Di sepanjang koridor, Sehun disambut dengan pekikan kecil para siswi. Walaupun pendiam dan sangat anti-sosial, Sehun nyatanya memiliki cukup banyak penggemar.

Sesampainya di ruang guru, Sehun menunggu perintah selanjutnya dari Guru Han.

"Sehun, bulan depan ada Olimpiade Fisika di Korean University. Saya ingin kau yang mewakili sekolah kita ini." Sehun mengangguk.

"Mengapa anda memilih saya, pak? Saya rasa, ada siswa atau siswi lain yang lebih ingin mengikuti olimpiade tersebut, pak."

Guru Han terkekeh.

"tapi pihak sekolah memilihmu, Sehun. tidakkah kedua orangtuamu akan bangga mendengar kabar bahwa kau ikut lagi Olimpiade? hadiahnya akan menjaminmu masuk ke Perguruan tinggi manapun di Korea dengan beasiswanya."

Sehun masih mencoba menimbang keputusannya. Mungkin yang dikatakan Guru Han benar, kecuali bagian kalau kedua orang tuanya akan ikut senang. Bagaimana mereka akan ikut senang, sedangkan melihatnya masih hidup di dunia saja seperti melihat malaikat maut.

"Baiklah. Kurasa tidak ada salahnya mengikutinya sekali lagi." Sehun tersenyum tipis. Lalu membungkuk dan meninggalkan ruang guru. Ia berjalan menuju ruang perpustakaan. Tempat dimana Sehun menghabiskan waktunya menunggu sore hari ataupun di waktu istirahat sekolahnya.


Sehun duduk di sebuah kursi di pojok perpustakaan. Di tangannya terdapat buku notes tebal dan buku novel lama. pikirannya melayang ke pesta semalam. Pesta ulang tahun yang diselenggarakan orangtuanya untuk kakaknya.

flashback

sehun memakai pakaian terbaiknya malam ini. Malam ini kakaknya –dan dirinya tentu saja- berulang tahun. Semua orang di undang. Dan ia berniat untuk mengucapkan selamat pada orang yang lebih tua darinya beberapa menit tersebut.

Di depan rumahnya sudah banyak bodyguard yang menerima tamu dan memeriksa tamu undangan. Sehun ikut berbaris. Ketika tiba bagianny a diperiksa, para bodyguard tersebut membungkuk hormat, dan mulai memeriksa Sehun. Tapi tak lama, ia diperbolehkan masuk.

"Terima kasih" Sehun berterimakasih dan tersenyum.

Tapi baru saja ia menginjakan kakinya di taman tempat pesta berlangsung, seseorang yang selalu ia beri hormat setiap bertemu berdiri di hadapannya. Sontak Sehun langsung memberinya hormat dengan membungkuk rendah sekali.

"untuk apa kau ada disini? Kau tidak diundang dan tidak diinginkan di sini!" bentak sang tuan rumah. Tak jauh dari tempat Tuan Oh berdiri, berdirilah Sejoon yang tersenyum remeh padanya.

"Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada kakak, ayah." Sehun sedikit menunduk. Bagaimanapun sikap ayahnya terhadap dirinya, Sehun tetap menghormatinya.

"Sejoon tidak butuh ucapan selamat darimu, sampah! Aku bukan ayahmu! dan Sejoon bukan saudaramu. Jadi pergilah dari sini dan diam di tempat seharusnya kau berada!"

Tangan sehun terkepal. matanya memanas. Tapi ia tak boleh menangis. Tiba – tiba ia merasa sakit di bagian pipinya. Sang ayah memukulnya. Keras sekali. sampai terdengar bunyi BUGH dari radius 5m. Sehun jatuh tersungkur diiringi tawa dari Sejoon. Sehun menatapnya nanar.

"Pengawal! Bawa dia ke tempatnya!"

Tak lama 2 orang berpakaian hitam yang sama dengan yang bertugas memeriksa para tamu membawa sehun ke arah paviliun.

"Maaf Tuan Muda, ini perintah." salah satu dari dua bodyguard tersebut berbisik.

Sehun tersenyum lirih. Sungguh, ia tak berbohong ketika ia berkata bahwa pipinya sangat sakit saat ini.

"Sudah kubilang panggil aku Sehun. Aku bukan tuan kalian. Dan terimakasih untuk membantuku kembali."

Dua pengawal itu tersenyum miris. Betapa malangnya putra bungsu keluarga Oh ini. Sudah hidup diabaikan masih saja mau berbaik hati ramah pada semua orang.

"Selamat ulang tahun yang ke-17, tuan muda. Semoga anda selalu diberi kesehatan dan umur panjang." Salah satu dari pengawal tersebut mengucapkan ulang tahun sekaligus mendoakannya. yang diamini juga oleh temannya yang lain.

Mata Sehun membulat. Ini mungkin ucapan selamat yang pertama untuknya dari sekian lama.

"Terima kasih sudah mau mendoakanku." Sehun membungkuk 90 derajat. Sehun ingin menangis sekarang.

"Ye, Kami undur diri. Tolong segera obati luka anda, tuan."

Flashback end


Ketika waktu pulang sekolah tiba, Sehun memacu sepedanya menuju kediaman Oh. Di perjalanan pulang, ia berpapasan dengan Sejoon yang sedang membonceng pulang Luhan dengan motor Ducati nya. Sehun berbisik lirih.

"Hati-hati di jalan, kak, Lu." Sehun tersenyum tiris. Lalu memacu sepedanya berbeda arah dengan Sejoon.

Luhan memeluk pinggang Sejoon erat. Kini ia tengah diantar pulang oleh pria idamannya, Oh Sejoon, yang juga teman semasa kecilnya.

Pria tersebut memacu motornya meninggalkan sekolah. Saat lampu merah, Luhan dapat melihat Sehun, pemuda yang tinggal di rumah Sejoon mengendarai sepeda. Sudah jelas pengendara sepeda itu akan menuju rumah, Luhan dapat melihatnya s sedang menatap dirinya dan Sejoon, karena itu dia memalingkan pandangannya kembali kedepan setelah memberi pandangan jijik. Luhan masih ingat perbuatan Sehun dulu yang membuatkannya surat. Luhan tidak suka pada Sehun karena melihat Sejoon serta keluarganya juga membenci Sehun. Luhan takut karena ia sering bermain dengan Sehun, ia akan dijauhi dan tak boleh bertemu Sejoon lagi.

"Lu? Sudah sampai. Cepatlah turun, aku harus menjemput teman kencanku!" Sejoon berkata ketus. Luhan terkejut dan turun dengan cepat. Secepat luhan turun, secepat itu juga Sejoon memacu motornya pergi.

Luhan terdiam. Walaupun sekarang ia lebih dekat dengan si Sulung, nyatanya kata-kata sinis dan ketus sering ia dapatkan. Ditambah teman kencan Sejoon yang berganti setiap hari.

"Joon-ah, tak bisakah kau melihat ke arah diriku sekali saja? Aku juga menyukaimu." Bisiknya sendu sembari memasuki pekarangan rumahnya.


Sehun memarkirkan sepedanya di depan paviliun. Dan sedikit berlari ke dalam. Ayahnya dirumah. Ia ingin melihatnya dari balkon. Satu-satunya tempat yang dapat ia gunakan sebagai alternatif menghilangkan rindu pada keluarganya. Karena di balkon tersebut dia dapat melihat ke arah ruang terbuka di samping dan belakang rumah utama.

Terlihat ayah dan ibunya sedang minum teh, sepertinya, di ruang terbuka. Mereka entah sedang membicarakan apa, yang pasti mereka tertawa lepas karenanya. Sehun ikut menaikan sudut bibirnya. Terlihat juga seorang wanita yang lebih tua dibandingkan keluarganya.

"Nenek juga disini!" Sehun tersenyum gembira. Padahal ia tahu, ia hanya dapat melihatnya dari sini. Ia tak bisa ikut tertawa bersama mereka. Kalaupun ia ada disana, itu adalah saat yang sama dia akan dipukul dan tawa diantara mereka hilang digantikan rasa amarah dan jijik.

"setidaknya beritahu mengapa aku harus dibenci oleh kalian." Lalu sehun teringat kebiasaannya. Ia melakukan hormat pada keluarganya. Membungkuk dan bersujud untuk memberi hormat pada kedua orangtuanya.

Sejoon memasuki ruang terbuka, memberi hormat 90 derajat pada kedua orangtuanya dan juga sang nenek.

"Apakah ini Sehun?" tanya Heechul, sang nenek.

"Ini Sejoon, bu. Anak kami satu-satunya. Tidak ada yang bernama Sehun di rumah ini." Kyuhyun, alias Tuan Oh menjawab dengan agak keras.

"Ah, jinjja. Jadi kalian benar-benar menamainya sendiri,ya? Kau sudah besar sekarang. Berapa umurmu? Kemarin kau berulang tahun kan?" tanya Heechul lagi.

"Iya, Nek. Semalam aku mengadakan pesta ulang tahunku yang ke-17. Tentu saja aku sudah besar. Aku bisa menggendong nenek sekarang." Sejoon sedikit menyelipkan candaan di dalam jawabannya. Membuat sang nenek terkekeh.

"Ibu benar-benar tidak mau menginap? Aku bisa membereskan satu kamar untuk ibu beristirahat." Sungmin, selaku ibu Sejoon dan juga putri sang nenek menawarkan.

"Tidak, Sungmin-ah. Ibu mau pulang saja. Supir Kang pasti sudah menungguku." Nyonya Oh membantu ibunya berdiri dan mengantarkan ke depan.

"Minggu depan, aku akan berkunjung lagi." Sungmin tersenyum.

Sehun memasang ekspresi sedih. Semua anggota keluarganya masuk ke dalam rumah.

Karena tidak ada yang bisa ia kerjakan, ia memutuskan untuk menyiram tanaman karena hari sudah sore.

Ketika ia sedang menyiram tanaman, ia melihat supir Kang kerepotan memasukkan barang-barang dari dalam.

"Biar aku membantumu, paman." Sehun mengangkat beberapa bingkisan dan tas ke dalam mobil.

Supir Kang membungkuk sekilas. Dan membiarkan si Bungsu melakukan apa yang ia kehendaki.

Sehun selesai meletakkan barang dan menutup pintu kap mobil.

"Aigoo! Siapakah pemuda ini? Terimakasih telah membantu Supir Kang."

"Saya Sehun, nyonya besar. Salah satu pelayan di rumah ini. Saya pamit undur diri karena pekerjaan saya belum selesai." Sehun tersenyum dan membungkuk. Sesegera mungkin ia pergi menjauhi keluarga bahagia tersebut. Ia tak ingin dipukuli ketika hatinya sedang berbahagia seperti saat ini. Sehun tak melihat kalau Heechul membalas senyumannya itu.

Di mobil

"Supir Kang. Yang tadi itu Sehun cucuku, kan?" tanya Heechul. Tujuannya mengunjungi rumah sang putri tercapai. Ia ingin melihat sang cucu bungsu, Sehun. Bayi yang dulu ia buatkan susu karena sang ibu tak ingin memberinya. Balita yang ia ajari bicara dan berjalan. Bayi yang paling jarang menangis.

"Benar, nyonya. Itu tuan Sehun."

"Bagaimana sekolahnya?"

"Sehun adalah Juara Umum untuk tahun lalu, nyonya. Dan baru-baru ini dia ditawari lagi untuk mengikuti Olimpiade Fisika setelah memenangkannya di Olimpiade sebelumnya."

"Nenek bangga padamu, sayang." Heechul tersenyum sepanjang jalan. Andai Sehun mendengar apa yang sang nenek katakan. Dapat dipastikan dia akan sangat senang. Sehun, di luar sana, masih banyak yang membanggakanmu.


Luhan tengah terdiam di hadapan televisi yang menyala. Siaran tv tersebut diabaikannya. Yang menjadi perhatiannya kini adalah sebuah permen cokelat dari lokernya. Luhan penasaran siapa kira-kira yang dengan rajin memberinya permen cokelat, yang membuatnya takut akan gagalnya program diet yang ia jalani. Bersama permen tersebut, ada sebuah note menyertainya.

'Kau tak perlu diet, kau sudah cantik, kok!'

Luhan membuka ingatannya mengenai masa kecilnya. Masa dimana ia dan Sehun sering bermain bersama, walaupun nyatanya adalah masa di mana Sehun dijaili dan dibuat menjadi bahan tertawaan.

Flashback.

"Sehun, ambilkan makanan untukku dan bonekaku!" Luhan kecil berkata layaknya putri yang serang memberi titah pada pengawalnya.

"baik, tuan putri." Dan bagi Sehun, Luhan benar-benar putri di hatinya.

"Sehun. Belikan aku permen coklat!"

"Tapi aku tak punya uang, Lu" jawab Sehun lirih. Si bocah kecil itu meraba-raba kantong celananya.

"Huh! Sejoon pasti punya uang. Dan dia akan membelikan aku sebuah permen coklat!" luhan menggerutu.

"Eh, tunggu jangan pergi! Aku akan membawakanmu permen coklat! Tunggu sebentar, mainlah lagi denganku." Sehun berlari menuju paviliunnya. Ia ingat ada pelayan yang mengisi toples dengan permen coklat. Membawanya satu dan kembali pada Luhan.

Mulai sejak itu sampai kejadian dimana ia memberi Luhan surat, Sehun selalu mengantongi satu buah permen cokelat agar Luhan mau bermain dengannya.

Flashback end

Luhan menggeleng keras.

"Tidak mungkin! Tak mungkin kan kalo Sehun yang memberiku permen cokelat. Dia saja selalu datang kesiangan! Haha mungkin hanya kebetulan."

Luhan tertawa garing dengan hipotesanya. Sekarang biar waktu saja yang menjawab segalanya.

~T B C~


.

.

Author's Note

Aaa! Tadi diatas itu apa, wkwkwk

Mungkin reader merasa kalo alurnya aneh. Maklum aja ya, saya masih terbilang jarang nulis, dan sering dapat writer's block.

Cerita diatas mengandung sebagian besar adalah monolog alias narasi. Karena author bingung, cerita diatas belum butuh banyak dialog. Maaf aja kalo gak suka. Aku gak maksa suka juga kan , ya?

Thanks semua yang mau fav, follow dan juga review cerita gaje dan pendek dariku ini. Thanks juga yang udah mau baca.

Regards. fansyie