Warning! HUNHAN GS! DLDR
.
~Chapter 2~
~GRANDMA~
.
.
.
.
.
Saat malam tiba, Sehun bekerja di Cafe milik Chanyeol. Chanyeol adalah senior Sehun yang keluar tahun lalu.
"Akhirnya kau datang juga!" Sehun membalasnya dengan senyum masam.
"Maaf, aku terlambat. Aku dapat tambahan untuk persiapan Olimpiade. Padahal kupikir guru Han akan memberikannya pada Min Yoongi. Nyatanya dia malah menumpukkan beban itu padaku." Sehun sulking alias merajuk sembari memakai apronnya. Ngomong-ngomong soal cafe. Chanyeol membuat Cafe ini sangat pas dijadikkan tongkrongan remaja. Setiap weekends night akan ada live music. Tapi hanya buka sampai tengah malam. Menunya juga bervariasi, seperti cupcake, muffin, icecream cake, dan masih banyak lagi. Untuk minumannya, dari kopi semacam americano sampai bubble tea pun tersedia. Sebenarnya pemilik sebenarnya adalah Noona dari chanyeol, Yoora. Dan sehun mengambil Shift malam dari hari rabu sampai sabtu.
"Kau ini! Ibuku saja selalu membandingkanku denganmu dulu. Dia akan selalu memujimu dan membicarakanmu terus menerus sampai kupingku panas." Sekarang Chanyeol yang menggerutu.
Sehun hanya ber-smirk ria. Entah siapa yang mengajarkannya tersenyum secara kurang ajar seperti itu.
"Eh, Hyung. Kudengar kau sudah resmi jadi pacarnya Baek Noona. Kau bilang kau tak suka padanya." Suara cibiran Sehun terdengar. Dan Sehun menambahkan mimik wajah mengejek pada Chanyeol.
"ya, ya, ya! Tau darimana kau? Siapa yang memberitahumu!" Seru Chanyeol sembari berusaha memiting leher Sehun. Sehun menggeliat seperti ulat di antara badan Chanyeol.
"ah, Hyung!" Sehun memukul-mukul kecil bahu Chanyeol sembari tertawa kecil. Setelah Chanyeol melepaskannya, Sehun kembali ke meja kasir.
"Warnai rambutmu, Hun. Aku yakin para pelanggan akan sangat bertambah karena para remaja wanita ingin melihatmu. Hahaha." Ujar Chanyeol. Niatnya sih melucu, tetapi gagal lucu.
"Berikan aku uangnya. Anggap saja itu royalti untukku." Okey, walaupun Chanyeol aneh, Sehun lebih aneh karena menanggapinya.
Nada bicaranya lebih ketus dari sebelumnya, Sehun akui itu tak sopan. Tapi, ia heran pada seniornya itu. Tingkahnya berubah-ubah. Pernah ia bersikap sangat manly dan dewasa. Tapi dia lebih sering terlihat seperti anak hyperactive yang kelebihan nutrisi.
"Gajimu besar begitu masih minta bonus. Dasar bocah kekurangan pigmen."
"Hyung! Bisakah kau berhenti menggerutu. Pelangganmu terganggu disini!" ucapan Sehun barusan dibalas oleh pukulan kecil di kepalanya.
"Aish... Hyung! Aku salah apa lagi? Kalau aku bodoh bagaimana?" dan kini, Sehunlah yang melayani pelanggan sambil menggerutu.
Kediaman Tan
Kediaman Tan, alias kediaman Tan Hangeng dan dan Tan Heechul –orangtua ibunya Sehun- hening. Sang nyonya yang masih berada di umur 60-an nya sedang berkonsentrasi pada drama siang langganannya.
Tak lama berselang, terdengar suara nyaring dari telepon rumah. Seorang pelayan mengantarkan telpon nirkabel tersebut pada tangan si nyonya.
Terdengar laporan dari seseorang di sebrang telepon.
(italic mean talk on the phone)
"Nyonya, kami telah menemukan dimana dan kapan Tuan Muda Sehun bekerja paruh waktu."
"Berikan aku informasi selengkap-lengkapnya."
"Tuan muda bekerja di cafe milik Park Yoora dan Park Chanyeol. Park Chanyeol adalah salah satu senior serta orang terdekat Sehun."
"Lalu, kapan dia bekerja?"
"Tuan Muda bekerja di shift malam dari hari Rabu sampai hari Minggu malam. Beliau tak pernah pulang lebih dari pukul 11."
"Cucuku hanya bekerja di satu tempat?"
"benar, nyonya. Selain hari hari yang saya sebutkan tadi, Sehun selalu berada di rumah."
"terimakasih. Kututup."
Heechul tersenyum.
"Ini saatnya aku mengambil dirimu, cucuku."
Minggu pagi adalah hari yang membosankan bagi Sehun. Tak ada yang bisa ia kerjakan. Catatan, sekalipun keberadaan sehun tidak dianggap di keluarganya, ia tidak dituntut menjadi seorang pelayan atau sejenisnya. Ia bahkan masih dilayani oleh beberapa pelayan, walaupun sering ditolaknya.
"Arggg... bagaimana kalau luhan benar-benar akan kencan bersama Sejoon Hyung?" Sehun mengacak rambutnya di atas bantal.
"ANI! Aniya aniya... hyung ada kencan dengan Jung Daeun hari ini."
Kini ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang.
"Ah Molla! Aku tak tau lagi" dan pada akhirnya ia berteriak keras di balik bantal dan merubah posisinya jadi menelungkup dengan bantal di atas kepalanya.
Terdengar suara klakson mobil dari pelataran rumah keluarga Oh. Sungmin yang mengenal suara mobil tersebut berlari ke arah ruang tamu dan ikut menyambutnya.
"Eomma! Eomma tak menelpon kalau mau datang? Aku sedang memasak." Sungmin menyambut eommanya dalam pelukan.
"Mana yang lain?"
"Suamiku masih di Jepang. Baru akan pulang lusa katanya. Sejoon sedang berkencan" Sungmin mempersilahkan sang ibu duduk di sofa ruang tengah.
"Lalu, dimana Sehun?"
"Eh? Sehun? Mm mungkin dia masih di paviliun. Aku belum melihatnya keluar. Ia pulang lebih larut tadi malam." Sehun menerawang.
"Pulang malam juga dia bekerja, kan? Bukan kelayapan." Ujar sang nenek cuek.
"Eomma tahu darimana kalu sehun bekerja?" sungmin membeliak kaget. Selama ini, hanya dia yang tahu Sehun bekerja, itupun tak sengaja karena kebetulan ia bertemu dengan teman di cafe tempat Sehun bekerja. Sungmin dengan bangga mengenalkan Sehun sebagai sang putra bungsu ketika salah satu temannya mengira itu Sejoon. Ia bilang Sehun tidak menerima uang dari orang tuanya. Sungmin tak membenci Sehun sebenarnya. Ia hanya bingung memperlakukan sang putra bungsu dengan sikap sang suami begitu. Dia juga yang menyuruh para pelayan melayani Sehun. Setelah sang suami memukul atau melakukan sesuatu yang buruk pada sang putra, Sungmin akan menelpon sang ibu dan menangis. Ia diam-diam mencari tahu bagaimana Sehun di sekolah, apa yang Sehun sukai, apa yang Sehun benci, dan apa yang Sehun kerjakan.
"Kau merindukannya, kan? Sehun kecilmu?" Sungmin perlahan menunduk dan menangis.
"pelayan, suruh sehun masuk! Jangan pedulikan bahwa tuanmu akan tahu! Aku yang bertanggung jawab!" pelayan tersebut mengangguk dan membungkuk, dan pergi menjemput Sehun.
"ayo lanjutkan acara masakmu dan makan siang bersama. Sehun juga pasti mau mencoba masakan ibunya." Heechul beranjak menuju dapur dan Sungmin mengekorinya.
.
Suara ketukan pintu mengakhiri kegiatan mari-meratapi-kesendirian-Sehun.
"Ada apa?"
"Tuan Muda, Nyonya Besar menunggu anda di rumah utama. Beliau memperbolehkan anda masuk dan mengajak makan siang bersama."
"Ne? Kau serius?"
"Ye. Saya tidak berani membohongi anda."
"tunggu, aku akan bersiap-siap dulu."
Seketika itu, Sehun langsung membuka lemarinya dan berganti pakaian
Sehun sedikit mendongak ketika baru masuk ke rumah utama.
"Lewat sini, tuan." Sang pelayan yang membimbing jalan memanggil sang tuan ketika Sehun salah berbelok.
Di ruang dapur, Sungmin menantinya bersama sang nenek.
"Aigoo, Sehun! Sungmin-ah, dia mengaku seorang pelayan sebelumnya." Heechul tersenyum.
"Duduklah Sehun. Ikut makan siang bersama Eomma."
Sehun ingin menangis, ia ingin memeluk sang ibu, tapi ia juga takut yang dipeluk akan marah.
"dia sepertinya ingin memelukmu dulu, sayang." Heechul mengompori.
"ne? Kemarilah Sehun, peluk eomma."
"anda... tidak membenciku?"
"Untuk apa aku membencimu, kau juga putraku kan? Maafkan Eomma, ya? Harusnya eomma membelamu dari dulu."
Setelah Sungmin berkata demikian, Sehun langsung menubruk Sungmin dan memeluknya erat. Sungmin membalas pelukannya dan menepuk-nepuk punggung si bungsu. Terdengar isakan halus dibalik pelukannya. Sehun juga memeluk Heechul setelahnya.
"Ja! Ayo makan siang. Eomma memasak makanan kesukaanmu, udang asam manis!" Sungmin mendudukkan sang putra di kursi yang selama ini dikosongkan.
"kau tidak menyamakan makanan kesukaannya dengan Hyungnya,kan?" tanya Heechul menyelidik.
"aniyo, kakaknya tak pernah menyukai udang." Dan karena kenyataan yang mengharukan itu pula, pertama kalinya Sehun makan bersama ibu dan neneknya. Dia tidak tahu, bahwa inilah awal dari kebahagiannya yang sebenarnya.
"Eomma akan membawanya tinggal bersamaku. Mau, ya Sehun?"
"Ne? Sehun terserah Eomma saja."
"Tapi aku boleh berkunjung, kan? Aku takut, baru-baru ini, Ayahnya entah mengapa jadi berlebihan terhadap Sehun. Padahal kuyakin, diberi pun Sehun tak akan menerima warisannya." Sungmin mengelus punggung Sehun.
"Eomma melihat gambar-gambarmu, lho. Kau ingin jadi arsitek pun Eomma tahu." Sungmin mengusak rambut Sehun.
"Bersiaplah, Sehun. Eomma janji akan sering membawakanmu makanan. Jagalah nenekmu, kakekmu itu sering meninggalkannya." Sungmin merajuk.
"Arraseoyo, Eomma."
"Eomma belum memberikan hadiahmu, ya? Tunggu sebentar." Sungmin meninggalkannya dan masuk ke kamar utama, tak lama ia kembali dengan sebuah kotak kecil.
"Kau harus tahu Eomma tak memberi kakakmu hadiah secara pribadi, kau satu-satunya yang eomma beri hadiah dengan uang Eomma sendiri. Berjanjilah kau menjaganya dengan baik, jangan dipakai oleh perbuatan yang melanggar aturan. Arraseo?"
Sungmin menaruh kotak kecil itu di tangan Sehun.
"bukalah."
Sehun membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah kunci dan kertas-kertas surat penting.
"ini... apa?"
"hadiahmu."
"maksudnya, ini... kunci apa?"
"motor. Tapi eomma tak tahu apa yang cocok untukmu. Warnanya putih, sih. Tapi maaf jika modelnya tak kau sukai. Kau bisa mengendarainya, kan?" memang sebenarnya Sehun dapat mengendarai motor. Chanyeol mengajarinya. Beberapa kali Chanyeol memintanya untuk membawakan motornya jika ia malas. Makanya Sehun hanya bisa mengangguk.
"tapi, eomma tak memberikanmu motor Scooter, kok. Katanya motor ini dapat membuatmu keren." Seketika Sehun tertawa. Padahal Sungmin pikir tidak ada yang lucu dari omongannya.
"Apapun yang eomma berikan padaku akan aku pakai, kok. Apalagi ini hadiah ulang tahun."
Sebenarnya yang sehun tertawai adalah kebiasaan ibunya yang selalu mencebikkan bibirnya ketika berbicara.
"Eomma?"
"Ya, sehun?"
"lalu... hmm.. motornya eomma taruh dimana?" sehun menggaruk tengkuknya tidak gatal.
"Eomma titipkan pada Chanyeollie. Karena tadinya eomma pikir eomma tak akan pernah memberikannya langsung padamu."
"Eomma... kenal pada.. emm ya... bosku?"
"tentu. Eomma tentu harus kenal pada siapa yang memperkerjakan anak-anak Eomma."
Dan hari itu sehun menyadari. Sang eomma, sang halmeoni, dan mungkin masih banyak diluar sana yang sudi menyayangi Sehun.
Sehun dibantu yang lain memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil sang nenek. Ia benar-benar akan dibawa tinggal bersama sang nenek di kawasan gangnam, masih satu wilayah dengan rumahnya sebenarnya. Tapi tetap saja akan ada rasa yang beda.
"Eomma akan sering mengunjungimu, Sehun. Kau tak perlu mengkhawatirkan keadaan eomma. Eomma juga akan sering menelponmu."
"yaksokhae?"
"Sehun. Usiamu sudah 17 tahun dan kau masih bersikap sama seperti kau masih bermain di taman kanak-kanak? Eomma bukan orang yang suka mengingkari janji, anak muda!" sungmin kembali mengusak rambut Sehun.
"arraseo. Last hug." Sehun kembali memeluk sang ibu erat dan masuk ke dalam mobil. Sejak awal sang nenek sudah stay di dalam mobil.
"kajja! Aku yakin harabeoji sudah menunggu kita."
Mobil berjalan keluar dari pelataran. Sehun terus memandangi sang ibu yang melambai di belakangnya. Sehun balik melambai. Sehun terus memandangi sang ibu dari kejauhan hingga sosok sang ibu tak terlihat lagi di pandangannya.
"Nah, ini kamarmu sehun! Dan taruhlah pakaianmu dalam lemari itu."
Kamar yang sekarang sehun tempati lumayan besar. Tapi yang pasti kamar yang ini lebih besar dari kamarnya yang dulu. Di dalam kamar terdapat tempat tidur queensize ditutupi cover bed biru muda dan putih, sebuat flat tv, sesuatu –yang banyak jumlahnya- dalam buffet di bawah flat tv, dan komputer di sebrang jendela besar dengan tirai warna biru langit. Sebuah lemari 3 pintu terletak sejajar dengan pintu, lalu ada sebuah pintu kaca yang sepertinya adalah sebuah kamar mandi. Ada juga rak kosong yang mungkin kelak kan penuh oleh action figure, miniatur rumah dan kumpulan komik-komik sehun. Meja komputer menyatu dengan sebuah meja belajar yang luas, pas untuk menggambar. Di bawah tempat tidur terdapat karpet yang tergelar sampai bawah buffet yang terletak di sebrang tv. Jika dilihat lagi, bentuk kamar sehun adalah sebuah segilima, di balik jendela besar itu ada balkon yang cukup luas.
Sehun memeluk sang nenek untuk berterimakasih. Dan mulai menata barang-barangnya di kamar barunya itu. Di dalam hati ia terus mengucap syukur pada yang maha kuasa.
Sehun teringat akan motor barunya yang ada di tempat Chanyeol. Ia akan naik taksi untuk menjemput motornya. Setelah ini selesai. Ia akan menjemput hadiah dari sang eomma. Dan ia akan senantiasa menjaga janjinya pada sang eomma untuk menjaga hadiah sang eomma dengan baik.
Tempat chanyeol ramai. Ditambah hari ini hari minggu. Untung saja sehun libur hari ini.
"Oy, Sehun. Kukira kau tak sudi datang kemari kalau sedang libur." Itu Baekhyun. Alias kekasih Chanyeol.
"hey, noona. Seharusnya aku yang bertanya. Tumben kau sudi datang kemari. Katanya tak mau melihat Chan Hyung lagi." Sehun meledek yang lebih tua.
"yak! Neo! Berhentilah mengingat masa itu... Kau benar, benci dan cinta itu beda tipis!"
"ngomong-ngomong dimana Chan hyung?" yang ditanyakan terlihat muncul dari balik pantry. Dan berjalan menghampirinya. Dan kemudian mencium kening sang kekasih.
"HEY! Aku masih ada disini!" sehun menggerutu.
"oh, hey Sehun. Ada apa kau kemari? Kalau kau lupa, ini hari minggu dan kau libur hari ini." Jawab chanyeol cuek. Tangannya menggenggam tangan sang kekasih yang sudah mulai merona.
"aku mau mengambil-NYA. Mana? Hadiah ibuku?" sehun sangat tidak suka basa basi.
"kau tau darimana? Aku rasa aku belum memberitahumu tentang motor keren itu. Sungguh sehun, kau beruntung mendapatkan motor itu."
"tentu saja ibu ku yang memberi tahu. Kan hadiah itu darinya. Cepat mana!"
"ish kau tak sabaran sekali. Di belakang. Motor putih. Helmnya juga putih. MASIH MULUS."
"Masih mulus tapi hyung menaruhnya di belakang. Aish! Gomawooo"
Sehun akan mengingat hari ini. Hari bahagianya. Hari yang ia bersumpah, takkan ia lupakan.
.
.
.
.
.
.
~T.B.C~
Writer's Note
Haiiii! Aku comeback dengan Chapter 2 dari TBS.
Chapter ini memang lebih pendek dari chapter sebelumnya. Dan bahagianya, aku rasa, chapter ini Sehunnya bahagiaaaaa banget. Buat yang nanya ini mau sampai berapa chapter, aku belum tau ya, karena jujur aja aku masih belum kepikiran sama ending dari cerita ini. Yang pasti aku akan mematok paling banyak ya belasan lah.
Terus, untuk alasan kenapa kyuhyun gasuka sama sehun, akan terungkap seiring bertambahnya chapter. Sungmin ga ikut-ikut yaa gasuka sehun. Tapi kalo sejoon itu gasuka sehun karena merasa tersaingi aja.
Thanks buat viewers, readers, followers, dan semuanya.. terimakasih banget udah mau baca cerita abal aku..
Regards, fansyie
