Warning! HUNHAN GS! DLDR

Sehun memacu motor putihnya membelah jalanan. Sepanjang jalan pulang ke rumah neneknya, tak henti-hentinya ia tersenyum. Ia terus mengucap syukur pada Tuhan atas segala nikmat yang ia dapatkan hari ini.

.

.

Sehun memberhentikan motornya di depan pintu gerbang kediaman Tan, mengklakson beberapa kali sampai pintu gerbang membuka otomatis. Dan ia memarkirkan motor –yang ia pastikan akan jadi kesayangannya- di depan pintu garasi. Ia berhenti untuk sekedar membuka pintu garasinya sendiri dan memarkirkan motornya di daerah yang kosong. Menutup pintu garasi dan berlalu masuk ke dalam rumah.

.

.

Di ruang makan, sudah ada sang Nenek, Kakek, dan seseorang yang tidak ia kenali.

"Aku pulang." Sapa Sehun agak keras.

"Selamat datang Sehuuuunn~~~" sambut sang nenek yang memang bakatnya heboh, menyambutnya dengan menggiringnya ke meja makan.

"Ayo duduk." Ajak sang nenek. Sehun mengikuti ajakannya. Sehun duduk diikuti keheningan.

"Ehm." Sang kakek memecahkan keheningan dengan batuk kecil berwibawanya.

"bagaimana kabarmu, cucuku?" sapa sang pria berusia 65 tahun tersebut. Walaupun sudah lumayan tua, Hangeng Tan masih aktif untuk memantau anak perusahaannya yang bergerak di bidang property. Sedangkan perusahaan pusatnya yang bergerak di bidang perhotelan dan restoran sudah di merger dengan milik keluarga Oh. Dia juga tak bisa menghilangkan hobinya untuk memasak.

"Baik, Harabeoji. Bagaimana dengan anda?" Sehun tersenyum manis sembari menuangkan teh untuk sang nenek.

"tentu saja aku baik. Apalagi malam ini adalah malam pertama kau tinggal disini. Beoji punya teman sekarang." Sang kakek balas tersenyum.

"Oh, pasti Sehun heran ini siapa. Ini bibimu, Taemin. Anak dan suaminya sedang menjalani bisnis di luar kota, dan bibimu tidak mau ikut katanya. Malah kemari. Kau pasti jarang melihatnya kan?" si nenek mengenalkan wanita paruh baya yang duduk di sebelahnya.

"halo, Sehun. Kau sudah besar, ya? Dulu kau kecil sekali. Bibi menjengukmu waktu bayi." Entah mengapa wajah sang bibi serasa familiar di mata Sehun.

"selamat malam, Imo. Aku bahkan tidak tahu kalau aku lebih kecil dari Hyung."

"Jujur saja, Imo tak suka dengan kakakmu. Dia selalu mengajak Jonginku menjadi anak nakal. Kau berteman dengan Jongin, kan?"

"Maafkan Hyungku, ya. Aku tidak terlalu dekat dengan hyung. Jadi tidak tahu bagaimana dia."

"Jongin bilang kau pendiam sekali. Dia ingin berteman denganmu." Sang bibi terus mempromosikan sang putra.

"Jongin? Maksudnya Kim Jongin kelas B? Teman kencannya Kyungsoo?" Sehun memastikan.

"iyaaa... eh, apa tadi kau bilang? Jongin sudah berkencan? Kyaaa, dia tak pernah bilang-bilang padaku." Sehun menggeleng pelan. Ternyata semua turunan neneknya sama saja, sangat ramai. Dan ia merasa lebih hidup dengan begitu.

.

.

.

"THE BOY'S STORY"

.

.

.

Hari Senin selalu menjadi hari yang akan berlangsung sangat lama. Bahkan jam pelajaran berlangsung selama 10 jam. Para kutu buku pun akan merasa sangat bosan.

Sehun datang jam 7 pagi –walaupun jam pelajaran dimulai pukul 8:30.

Motor putihnya ia parkirkan di tempat yang benar-benar tidak berpenghuni, karena di sekolah ini ada aturan untuk landmark kendaraan yang para siswa bawa. Ia memiliki sedikit perubahan hari ini, rambut hitamnya ia tata menjadi sebuah jambul dan dengan gaya sedikit acak-acakan, ulah neneknya tentu saja. Ia dengan santai melenggang memasuki kawasan sekolah, menuju kelasnya di lantai 2.

Sehun selalu menjadi siswa yang paling pagi hadir ke sekolah. Ketika sampai di kelas, ia duduk di bangku paling belakang baris dekat jendela yang menghadap ke lapangan. Lalu menelungkupkan kepalanya dan memejamkan matanya. Menunggu bel masuk yang baru akan berbunyi satu jam lebih lagi. Dan menunggu teman-temannya yang mungkin baru berdatangan 45 menit kemudian. Setelah sebelumnya ia melakukan suatu kebiasaannya di loker siswa sesampainya ia ke sekolah.

OoO

Baru seperempat jam ia memejamkan mata, terdengar langkah kaki mendekatinya. Ia membuka matanya sedikit untuk mengintip. Ia melihat seseorang yang cukup familiar dan ia ingat baru baru ini.

"Hai, sepupu! Ayo temani aku sarapan! Karena eomma menginap di rumah nenek, aku jadi belum sarapan." Seseorang yang baru baru ini ia ingat namanya mengguncang tubuh Sehun dan menarik tangannya

"Aih, wait..wait. biarkan aku mengumpulkan nyawaku." Sehun merenggangkan tubuhnya sembari berdiri.

"Hah, aku tak mengerti darimana mereka menyebutmu nerd. Kau. Sama. Sekali. Tidak. Terlihat. Culun! Kau bahkan seperti idiot br*ngsek."

"Jaga ucapanmu, kau tidak menyadari siapa yang sebenarnya br*ngsek disini. Kau! Sepupu, aku baru bangun tidur dan kau membangunkanku karena perutmu perlu diisi?" Kedua pemuda tersebut berjalan beriringan menuju kantin. Sehun yang memang aslinya cerewet dengan mudahnya akrab dengan sang sepupu, Kim Kai. Karena ia pikir, tak mungkin sang sepupu mau melakukan hal yang buruk terhadapnya. Lagipula, sang nenek berkata, sepupunya ini berada di pihaknya. Dan sekilas dipikirannya, mungkin di masa kecilnnya, ia sering bermain bersama Kai.

"Oh, ayolah! Kau harus bertanggungjawab!" mereka duduk di salah satu kursi kantin setelah memesan menu sarapan.

"Kenapa aku harus bertanggung jawab? Aku tidak merasa telah menghamilimu!"

"sepupu ku yang tampan... ibuku terlalu bersemangat bertemu dengan keponakan yang telah lama hilang dan anaknya yang tak kalah tampan ini ia lupakan. Huft." Oke, mungkin satu hal yang ia lupakan dari perkataan sang bibi. Kim. Jongin. Selalu. Berlebihan.

"dan darimana kata pendiam itu berasal? Kau selalu membalas perkataanku?"

"aku juga bisa memukulmu kalau mau. Tapi aku tak ingin. Malas saja melakukannya. Melawan mereka tak akan membuat ayahku datang dan membelaku, kok." Dan Sehun tak menyadari bahwa ia mengangkat topik kesedihannya kembali.

"kau punya orang seperti kami di belakang mu. Jangan ditanggung sendirian" Kai menepuk pundak sehun guna menghiburnya.

OoO

Luhan pergi ke kantin juga pagi itu bersama Kyungsoo. Gadis bermata bulat itu memintanya untuk menemaninya bertemu dengan sang kekasih.

"kau sudah janji mau mentraktirku, kan?" goda Luhan dengan sulking stylenya.

"Lu, Jongin bilang ia sedang bersama sepupunya. Aku tak tahu kalau Jonginnie memiliki sepupu." Bukannya membalas godaan Luhan, Kyungsoo malah mengalihkan pembicaraannya.

"Lalu aku harus bagaimana? Dia tak akan setampan Sejoon, Soo."

Kyungsoo menatap Luhan jengah. Dan mengalihkan pandangannya ke sekeliling kantin, mencari sang kekasih.

"Ketemu. Kajja, Lu, Kajja!" kyungsoo menarik lengan Luhan ketika melihat Kai melambaikan tangan terhadapnya.

"kau ikut, luhan? Duduk lah." Kai menepuk kursi di sebelahnya. Luhan melihat kursi kosong tepat di sebelah pemuda yang sedang menundukkan wajahnya. Ralat. Menelungkupkan wajahnya, diatas meja kantin.

"Oh, Lu. Kau bisa duduk disana. Si albino tak akan menggigitmu, kujamin." Ujar Jongin enteng.

"kenapa dia tidur disini?" bisik Kyungsoo.

"Oh... tadinya dia tidur di kelasnya, tapi aku menariknya kemari untuk menemaniku sarapan. Aku tak tahu bahwa dia benar-benar mengantuk. Dan akhirnya disinilah ia tertidur." Jelas Jongin.

Luhan tak henti-hentinya memandangi 'sepupu'nya Jongin yang sedang menelungkup itu. Entah mengapa rasanya ia sangat familiar tehadap sosok itu.

"Lagipula aku merindukannya, semenjak ia SMP aku jarang bermain dengannya. Dia berkerja untuk uang jajannya. Padahal nenek kami kaya."

"sepertinya aku mengenal sepupumu, deh, Kai." Ujar Luhan.

"Tentu saja kau harus mengenalnya. Ia sering berada di sekelilingmu" jawab Jongin.

"Cha! Ini waktunya dia bangun. Tak lucu kalau ia selalu kesiangan karena tertidur di tempat yang bukan kelasnya." Jongin mengguncangkan tubuh Sehun pelan.

"Mwoya tto?" gumam sosok itu pelan.

"kelasmu masuk 5 menit lagi!" seru Jongin.

"OH! KAU HARUS MEMBANGUNKANKU LEBIH AWAL, HITAM!" sosok itu mendengus keras sambil panik. Luhan yang duduk di sebelahnya ikut kaget.

"Oh, maaf. Aku tak tahu kau duduk di sampingku. Emm, Luhan-ssi. Tapi bisakah..euhh.. kau berdiri? Aku sedang terburu-buru." Dengan sedikit gugup Sehun bicara pada Luhan.

"Jangan laporkan itu pada nenek, Sehunnie~" goda Jongin yang ternyata dipukuli pelan oleh kyungsoo karena telah menggoda sang sepupu.

Luhan terkejut. Seakan teringat sesuatu, ia berpikir. Sehun adalah sepupu Jongin, dan yang ia tahu, Sehun hidup bertumpu pada keenceran otaknya dan keluwesan ia bekerja. Tapi ia tak pernah mengira kalau Sehun punya hubungan dengan salah satu Most-Wanted-Boy di sekolahnya. Dan sehun yang tadi itu, agak berbeda. Mengingatkannya pada sosok yang sering mengajaknya bermain di masa kecil.

OoO

Matahari sudah berada di sisi barat bumi. Sekolah sudah bubar dan tinggal beberapa murid lagi yang tersisa di sekolah, termasuk Sehun yang baru saja mendapat tambahan untuk Olimpiadenya. Ia berjalan menuju motor putihnya sembari terburu-buru. Ia lupa akan membawa pesanan kue untuk neneknya.

Di halte dekat sekolah, ia menemukan sosok yang ia kenali dan ia yakini sedang menunggu bus.

TIN TIN

Sehun membunyikan klaksonnya. Dia pun membuka kaca helm yang menutupi matanya.

"Kau tidak dijemput?"

"siapa kau?" Luhan yang tersadar bahwa ia sendirian di halte itu mendadak waspada. Sehun terkekeh kecil dan membuka helmnya.

"kau benar-benar sedang menunggu jemputan atau menunggu bus? Sebentar lagi hujan."

"oh, Sehun. aku... aku dijemput, ya dijemput."

"kau tidak dijemput, ya? Mau kuantar tidak? Aku yakin kau aman. Karena tahun lalu aku menjadi tukang antar keramik." Ajak Sehun.

"kau pikir aku porselen?"

"yasudah kalau tidak mau. Kalau kau menunggu Oh Sejoon mengantarmu pulang sampai kapanpun tidak akan terjadi pada hari ini."

DUAR

Kini yang terdengar adalah suara petir bersahutan. Luhan menatap Sehun yang hendak memakai kembali helmnya dan siap untuk tancap gas.

"Tunggu, Sehun. Aku ikut." Dan luhan memilih membuang gengsinya demi pulang sebelum hujan.

"naik dan pakailah." Sehun memberikan satu helm cadangannya.

"Pegangan." Setelah memastikan Luhan aman di boncengannya, Sehun memacu si kuda putih.

.

.

.

Di kawasan kafe milik chanyeol, sehun berhenti sebentar.

"tunggu sebentar, ya. Aku mengambil pesanan nenekku dulu." Sehun yang tak mau luhan menunggu lama langsung berlari dan kembali tak lama kemudian dengan sekotak kue di tangannya. Sehun memasukkan kue ke bagasi joknya setelah ia bungkus memakai tas pelastik. Dan kembali menyuruh Luhan naik.

Setelah itu mereka menembus jalan menuju rumah Luhan dan secepat mungkin menghindari air yang sudah siap tumpah dari langit.

TBC