Minna~^^
Kali ini berjumpa lagi dengan saya di acara undian berhadiah!(PLAKKK XD).
...
Ehm... ehem... maaf, maksud saya di ffn doki-doki ini '×'. Chapter dua~^^
Natsu: udah cepet mulai sono! (Natsu tiba-tiba nongol)
Hadaika: Udah diem dulu! Ini juga mau mulai. Udah siap-siap blum?
Natsu: Buat apa?
Lucy: Pesta dansa, Natsu.
Natsu: Oh, hai Luce! Eh, belum sama sekali nih.
Gray: Pilih baju yang bagus sono!
Natsu: Phuhh! Aku dinasehati oleh orang yang hobinya nggak pake baju. Sayang dia nggak ngaca
Gray: Geh... Ngajak berantem?
Natsu: Ayo saja! Siapa takut?
Lucy: Gray, pakaianmu...(Lucy nunjuk ke Gray)
Gray: Astaga!? Sejak kapan?!
Natsu: Tuh, kan! Baru juga aku bilangin.
Hadaika: Astaga, diem dulu napa! Ini cerita udah mau mulai, nih!
Natsu: Oke. Ini gara-gara Luce, nih!
Lucy: Loh kok aku?
Doki-doki Love
Chapter 02
Hadaika Kazama present
Suasana di dalam ruangan ini tampak luar biasa megah.
Suasana ramai karena banyak orang ini sedikit membuatnya tak nyaman.
Ia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh arah. Tak ada satu pun yang ia kenal.
Seluruh ruangan dipenuhi oleh orang-orang yang asing baginya. Sebenarnya ia sendiri tak tahu mengapa ia memijakkan kakinya di ballroom sebesar ini. Ia hanya mengikuti apa yang ada di surat yang seminggu yang lalu ia terima. Entah dari siapa surat itu berasal. Yang jelas, surat itu untuk dirinya.
Ia memegang erat bahunya ketika merasakan suhu udara yang dingin mengenai kulit putih miliknya. Suhu ruangan ini cukup dingin karena AC yang dihidupkan sedikit berlebihan.
"Dinginnya..." Gerutunya.
Ia kemudian merapikan surai biru laut bergelombang miliknya yang sengaja ia tata untuk acara pesta dansa ini. Gaun biru laut yang ia pesan dari temannya juga sengaja ia pesan untuk acara ini.
"Hei, nona manis. Kau bersama siapa?" Tanya seorang lelaki yang kurang lebih berusia dua puluh tahunan.
Mendengar hal itu, Ia kemudian berbalik dengan cepat ke arah lelaki yang mengajaknya berbicara.
"A... anu, Juvia tidak bersama siapa pun di sini. Ada apa?" Jawab wanita bersurai biru laut bergelombang bernama Juvia itu.
"Mau ikut bersamaku tidak, nona manis? Ada tempat yang lebih asyik." Ujar laki-laki itu.
"Ti...tidak terima kasih. Juvia di sini saja." Jawab Juvia ragu.
"Oh, jangan begitu. Ayolah ikut saja!" Pinta pria itu seraya menarik paksa tangan Juvia.
Juvia lantas meronta dan meminta untuk dilepaskan.
Juvia Lockser. Wanita berusia dua puluh tahun ini adalah seorang pengasuh anak yang ada di sebuah tempat penitipan anak di Jepang. Ia tergolong wanita yang misterius. Tak mudah ditebak.
Tidak mudah untuk jatuh cinta karena sering disakiti oleh laki-laki lain yang ia cintai sebelumnya.
Juvia menerima surat undangan itu melalui kotak pos di apartemen tempat ia menginap. Ibu pemilik apartemen itu mengatakan bahwa ada surat khusus untuknya.
Itulah alasan mengapa ia berdiri di ballroom dansa sebesar ini. Dan bersama seorang laki-laki bermuka mesum di sampingnya ini yang sedang menarik-tarik tangannya walau ia terus meronta.
"Sudahlah, ikut saja sama aku~"
"Lepaskan! Juvia tidak mau ikut bersamamu! Lepas!" Bentak Juvia. Tetapi laki-laki mesum itu terus memaksanya.
'Ya Tuhan, tolonglah Juvia dari pria mesum ini . Juvia sangat tidak suka.' , Ucap Juvia dalam hati.
"Hei..."
Suara baritone itu menghentikan aktivitas tarik-menarik(?) Kedua orang itu
Mereka berdua menoleh ke sumber suara. Laki-laki berambut raven dengan pakaiannya yang rapi seperti tamu lainnya sedang berdiri di depannya dengan wajah seram.
"Kau itu laki-laki bukan, sih?" Tanyanya
"Hah?!"
Sementara Juvia hanya mengamati pria yang kira-kira berusia dua puluh tahunan sambil bertanya-tanya siapa pria tampan ini
Apakah dia seorang pangeran?
Greb!
"Kalau laki-laki, harusnya kau tidak sekasar itu padanya, bukan?" Ucapnya searaya melepas paksa tangan Juvia dan menariknya pergi dari laki-laki mesum itu.
Juvia hanya mengikuti langkah kaki pria itu. Ia tidak bisa pergi karena tangannya digenggam kuat oleh pria yang menolongnya tadi.
Juvia sedikit melirik ke wajah pria itu.
"A... arigatou.." Ucap Juvia dengan suara lirih tapi masih bisa didengar oleh pria itu.
"Hn? Tidak masalah." Balasnya lalu tersenyum cool.
Wajah Juvia sedikit memerah melihat senyuman itu.
"Eh, anu...tangannya..." Ucap Juvia sambil menunjuk tangannya yang sedang digenggam pria itu.
Sontak pria itu langsung melepas pegangannya dan tergagap-gagap.
"Ma...maafkan aku!", Ujar pria itu kelabakan lalu membungkuk di depan Juvia.
Buru-buru Juvia ikut membungkuk lalu tegak kembali menatap wajah pria itu.
"Te.. terima kasih atas pertolonganmu. Juvia permisi dulu." Ucap Juvia lalu pergi meninggalkan pria itu.
"Kyaaa!"
Namun belum jauh dari tempat pria itu, ia tersandung oleh gaunnya sendiri dan jatuh di hadapan banyak orang.
Malu sekali. Wajahnya memerah padam karena malu. Ia menundukkan kepalanya berusaha menahan rasa malu karena jatuh di hadapan banyak orang. Ia berusaha berdiri tapi kemudian terjatuh kembali.
"Ittai..." Rintih Juvia. Mungkin kakinya terluka.
Ia berusaha berdiri lagi. Ia nyaris menangis karena malu dan heran kenapa tidak ada orang yang mau membantunya berdiri.
Juvia terduduk. Ia gagal lagi untuk berdiri.
"Bagaimana ini?" Ucap Juvia bingung.
"Biar kubantu kau berdiri, nona."
Juvia mendongak dan melihat ada tangan yang terulur di depan wajahnya. Ia melihat wajah orang itu. Pria yang tadi menolongnya.
Pipi Juvia bersemu merah. Kali ini ia blushing.
'Baik sekali orang ini...' Ucap Juvia dalam hati.
Ia mengangguk pelan lalu berusaha berdiri dengan dibantu pria itu. Ia merapikan gaunnya kemudian membungkuk di depan pria itu.
"Terima kasih banyak sudah menolongku lagi. A... apa yang bisa Juvia lakukan untukmu?" Ucap Juvia spontan.
"Ah...tidak perlu seperti itu. Aku tulus, kok."
"Tapi..."
"Tak masalah"
Juvia mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan pria yang bak pangeran itu.
"Arigatou, pangeranku..." Gumam Juvia
XoXoXo
[ Gray POV ]
Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah. Gawat, aku terpisah dari Natsu rupanya.
Aah, ini buruk
Aku hendak berjalan mencari Natsu sebelum sebuah benda di lantai menarik perhatianku.
Sebuah gantungan telepon. Gantungan boneka teru-teru bozu? Aneh.
"Milik wanita itu, kah?" Tanyaku pada diriku sendiri
"Yah, kalau ketemu nanti akan kukembalikan."
"Oooiii! Grayyy!" Teriak Natsu dari tempat yang tidak jauh dariku. Ia melambai-lambaikan tangannya ke arahku sementara sebelah tangannya lagi sudah membawa makanan sepiring penuh.
Glek, dasar tukang buat onar
Awalnya aku mengacuhkan panggilannya. Pura-pura tidak mendengarnya. Namun begitu aku berbalik badan ke arah Natsu, ia sudah hilang lagi.
"Ya ampun, Flame brain." Gerutuku kesal lalu mencari dokter tukang buat onar satu itu.
xOxOxO
[ Normal POV, Erza slide ]
Berkilauan. Sungguh berkilauan
Matanya berbinar-binar melihat deretan penuh kue yang bak permata di depannya.
Ia mungkin sedang bermimpi, tidak! Ini kenyataan. Semua kue yang selalu menjadi favoritnya ada di hadapannya dan diberikan secara gratis.
"Astaga... aku sampai bingung harus mulai makan dari kue apa?" Ucapnya kebingungan.
Penggemar kue satu ini adalah Erza. Ya, ia sudah sampai di Jepang dua hari lebih awal dari jadwal pesta dansa. Alasannya sederhana, ia hanya ingin pulang ke negara asalnya dan melihat-lihat suasana di Jepang.
"Shortcake saja, deh!" Seru Erza yang langsung menyambar kue segitiga bertabur strawberry lezat di atasnya.
Ia melahap kue itu dengan perlahan dan menikmati lezatnya shortcake strawberry di mulutnya.
"Oishiii..." Ucap Erza tanpa sadar.
"Maaf?"
Suara bernada baritone itu membuat Erza menghentikan aktivitasnya makan kuenya dan menoleh ke arah suara. Oke, ada laki-laki bersurai biru laut dengan tatto di wajahnya yang sedang mengamati Erza dengan tatapan bingung.
"Ya?"
"Apakah kue itu enak?" Tanya orang itu seraya menunjuk kue yang dipegang Erza.
'Fyuuhh, kukira dia mau tanya apa. Ternyata kue ini yang dimaksud. Nah, aku harus jawab apa?' Batin Erza dalam hati
"Hm..."
"Enak, sih. Cuma sedikit kurang manis dan ketebalan serta tekstur kuenya masih kurang. Terus, krim ini juga kurang manis. Harusnya diberi sedikit susu di dalamnya. Penataan strawberry di atasnya lumayan bagus. Mungkin diberi taburan coklat di atasnya juga bagus dan menambah variasi rasa." Jawab Erza yang hanya dibalas dengan dengan tatapan melongo pria tadi.
'Aduh! Aku mulai lagi.' Pikir Erza.
Ia kebiasaan menjelaskan kelebihan dan kekurangan kue dengan lengkap bila ada yang bertanya 'apa kue itu enak?'. Maklum, dia adalah seorang patissier di Italia.
"Eh, i...intinya kue ini enak, kok!" Sambung Erza.
"Baiklah, aku mau ambil satu." Ucap orang itu lalu menyambar kue yang sama dengan Erza.
Erza pun melanjutkan lagi aktivitas makannya dan mengacuhkan pria itu.
'Eh tapi, aku penasaran juga. Menurutnya kue ini enak nggak, ya?' Batin Erza yang lalu sedikit melirik pria itu.
Mata Erza melotot dan mulutnya menganga melihat apa yang sedang dilakukan pria itu.
"NGGAK USAH DITELITI SEGITUNYA, KALI!" Teriak Erza begitu sadar pria tadi bukannya langsung memakan shortcake itu tetapi justru sibuk meneliti kue tersebut dengan lup yang dibawanya.
Persis seperti detektif.
"Aku hanya meneliti apakah ini beracun atau tidak." Jawabnya singkat dengan tetap meneliti kue itu ala detektif.
Erza langsung merebut lup yang dibawa pria itu dan memasukkannya ke dalam dompet yang ia bawa.
"Ah, tolong kembalikan!"
"KUE INI TAK MUNGKIN BERACUN, TAHU! MANA MUNGKIN KUE YANG DISEDIAKAN UNTUK ORANG SEBANYAK INI BERACUN!" Teriak Erza geram.
Sebagai seorang patissier, ia merasa kue tidak perlu diperlakukan seperti itu. Hal itu sama saja merendahkan kami para patissier. Kue enak seperti ini pasti tidak mengandung racun.
Kalau ada sekalipun, ia pasti sudah sekarat dari tadi. Memangnya ini apa? Pembunuhan berencana? Pembunuhan massal?
Kue beracun? Yang benar saja!
Pria yang diteriaki hanya dapat terdiam lalu tertawa pelan.
"Ahaha... maaf maaf. Itu kebiasaanku dari dulu, sih. Jadinya tanpa sadar..."
"Atau jangan-jangan..." Erza menggantungkan kalimatnya.
"Kau ini beneran detektif ya? Mungkin intel?" Tanya Erza dengan tatapan matanya yang tajam.
Pria itu terdiam. Ia tidak bisa menjawab apa-apa. Tebakan Erza tepat sekali sesuai keadaannya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bahaya bagi dirinya bila identitasnya sebagai seorang intel sekaligus detektif itu diketahui oleh orang lain.
Keringat dingin mulai jatuh dari pelipisnya. Ia harus cari alasan.
"Eh, ng.. itu..."
"Bukan, kok! A...aku cuma polisi biasa yang tersesat masuk ke acara pesta ini." Jawabnya kelabakan.
"Tersesat?"
"Ya."
"Kok bisa?" Tanya Erza.
"Emm, gimana jelasinnya, ya? Oh, ngomong-ngomong namaku Fernandez. Namamu?" Tanya pria bernama Fernandez a.k.a Jellal itu lalu mengulurkan tangannya di depan Erza .
Awalnya Erza bingung dengan pria satu ini. Awalnya pria ini meneliti kue, bilang kalau ia tersesat di pesta ini, dan sekarang, mengajaknya berkenalan.
Apa maksudnya, sih? Orang aneh!
Erza membalas uluran tangannya lalu tersenyum.
"Aku Erza Scarlet. Salam kenal." Jawab Erza santai.
"Pekerjaanmu?" Tanya Jellal.
"Patissier. Tapi di Italia."
"Oh, pantas saja kau begitu mengerti tentang kue, ya."
"Benar sekali."
Skip Time, pria bersurai biru laut serta memiliki tatto di wajahnya ini bernama lengkap Jellal Fernandez. Seorang detektif sekaligus intel di kepolisian pusat di Jepang. Sebagai seorang intel, ia tidak boleh sembarangan membocorkan identitasnya kepada orang lain. Walaupun usianya sudah dua puluh tiga tahun, ia belum memiliki gadis yang ia sukai. Mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Jellal sendiri datang ke pesta ini juga karena sebuah surat dengan amplop cantik yang membungkusnya. Yang juga berasal dari Mrs. X itu. Awalnya, Jellal menganggap ini hanyalah guyonan. Namun kalimat terakhir dalam surat itu menarik perhatiannya.
' Tuan Jellal, datang dan sambungkan kembali dua benang berbeda. Benang ingatan dan satu benang merah yang manis.' Begitulah kalimat terakhir dari surat itu.
Begitulah, ia pun datang ke pesta dansa ini dan entah kenapa ia langsung tertarik pada wanita bersurai merah scarlet a.k.a Erza yang sedang asyik melahap kue yang dibawanya. Rasanya wanita itu tidak asing bagi dirinya. Tapi... siapa?
xOxOxO
[In Other Place in Party]
Sementara Erza dan Jellal sedang asyik bercakap-cakap berdua, tanpa mereka sadari seseorang sedang serius mengamati mereka berdua dari tempat yang tidak jauh dari mereka sambil senyum-senyum sendiri.
Ia membuka notesnya dan menulis sesuatu di dalamnya.
"Hihi, sudah dua pasangan. Nah, dua pasangan lagi bagaimana, ya?" Gumamnya sembari memainkan pena miliknya.
Ia terkekeh pelan.
"Nah, selanjutnya akan jadi bagaimana, ya?"
Chapter 02 End
To be continued...
Nee... Minna, gimana? Chapter dua ini rasanya agak... Gimana gitu -3-
Ada saran nggak buat adegan pertemuan pairing selanjutnya di chap 3?
Oke, RnR please~^^
